BAB II BIOGRAFI HARUN Al RASYID
B. Pendidikan Harun Al Rasyid
Harun memperoleh pendidikan awalnya di istana, baik ilmu agama maupun ilmu pemerintahan. Ia di didik oleh keluarga Barmaki, Yahya bin Khalid salah seorang anggota keluarga Barmak yang beperan dalam masa pemerintahan Bani Abbasiyah. Sehingga Ia menjadi orang yang terpelajar, cerdas, fasih berbicara dan berkepribadian kuat.
Harun mempelajari Sejarah, Geografi, dan Retorika (kefasihan); musik dan syair; serta ekonomi dalam bentuk pelajaran keuangan. Pelajaran keagamaan mewarnai semua mata pelajaran, dan dibawah kepengawasan Ali bin Hamzah Al Kisa‟i, seorang teolog terkemuka, energi terbesar Harun digunakan untuk menguasai hadis atau sunah nabi dan teks Al Qur‟an. Latihan fisiknya sebagai calon tentara tuhan juga ditekankan dan memadukan latihan militer seperti permainan pedang, panahan, dan pertempuran berkuda dengan pelajaran seni perang (Bobrick,2012:58-59).
Harun Al-Rasyid adalah seorang cendekiawan yang memiliki wawasan sangat luas yang berkaitan dengan semua yang berbau Arab (sejarah, bahasa, kesusastraan dan lain-lain). Dia juga memiliki citra rasa yang tinggi terhadap syair dan bahasa sehingga sebagian orang ada yang berkata, “Pengetahuan Al-Rasyid adalah pengetahuan semua ulama” (Khalil,1997:57).
Dalam buku Harun Ar Rasyid, Amir para Khalifah dan Raja Teragung Di Dunia disebutkan bahwa guru-gurunya adalah:
1. Al Mufadhal Adh Dhabbi, seorang sastrawan besar yang mengajarinya sya‟ir, sastra dan Sejarah Arab.
2. Al Kisa‟i mengajarinya Nahwu, Bahasa Arab, Sejarah dan Fiqih 3. Al Ashmui telah mengajarinya tentang banyak kisah. Ia adalah salah
satu sarjana kesukaanya dan kadang muncul di Istana bersama Abu Ubaidah, juga seorang sarjana yang serba bisa.
4. Imam Malik adalah gurunya dalam Fikih dan Hadits.
Kecintaanya terhadap fikih dan para fukaha sangat mendalam, begitu juga penghormatan dan kecenderungan dirinya terhadap ilmu pengetahuan dan para ulama (ilmuwan). Dia juga sangat menyukai syair, bahkan menghafalnya. Dia sering menerima kunjungan para penyair dan mendengarkan bait-bait mereka. Selain itu, ia juga menyukai sastra dan para sastrawan dan sangat membenci debat dalam masalah agama (Khalil,1997:3).
C. Pernikahan Harun Al-Rasyid
Memiliki fisik yang menarik, kecakapan dan juga kedudukannya, tidak mustahil Harun menjadi pemuda yang membuat banyak wanita jatuh cinta. Dia jatuh cinta kepada saudara sepupunya sendiri yang bernama Zubaidah dan menjadikannya seorang permaisuri.
Zubaidah adalah seorang ibu yang agung, banyak melibatkan dirinya dalam diskusi-diskusi peadaban dan pengetahuan, berlaku lemah lembut kepada para sastrawan, penyair dan dokter. Memiliki intelektualitas yang tinggi, penuh gagasan, fasih dan balighah . Al-Rasyid menikahinya pada tahun 165 H di Baghdad (Khalil,1997:19).
Selain menikahi Zubaidah, Ia juga menikahi wanita merdeka dengan mahar yang tinggi diantaranya yaitu:
1. Ummatul Aziz Ummu Walad Musa 2. Ummu Muhammad binti Shalih Al Miskin 3. Al Abbasah binti Sulaiman
4. Al Juraisyiyyah Al Ustmaniyyah
Dalam buku Harun Ar Rasyid, Amir Para Khalifah Dan Raja Teragung Di Dunia halaman; 38 disebutkan bahwa Khalifah Harun dikaruniai banyak putera dan puteri dari istri-istrinya yaitu:
1. Muhammad Al Akbar (Al Amin) ibunya adalah Zubaidah 2. Abdullah Al Ma‟mun dan Sakinahibunya adalah bernama Qashf
3. Muhammad bin Ishaq Al Mu‟tashimdan Ummu Habibibunya bernama Maaridah
4. Ali ibunya bernama Ummu Walad Musa Ratsm
5. Muhammad Abu Isa dan Ummul Hasan ibunya bernama „Iraabah 6. Muhammad Abu Ya‟qub ibunya bernama Syadzarah
7. Muhammad Abul Abbas, ibunya bernama Khubts 8. Muhammad Abu Sulaiman ibunya bernama Rawaah 9. Muhammad Abu Ali ibunya bernama Dawaaj 10.Muhammad Abu Ahmad ibunya bernama Kitman. 11.Arwa ibunya bernama Halub
12.Fatimah, ibunya bernama Mushaffa 13.Ummu Abiha ibunya bernama Sakkar 14.Ummu Salamah ibunya bernama Rahiq 15.Khadijah ibunya bernama Syajar
16.Ummu Qasim ibunya bernama Khazaq 17. Ramlah Ummu Ja‟far ibunya bernama Halyun
18.Ummu Ali ibunya bernama Aniq
19.Ummu Al Ghaliyah ibunya bernama Samandal 20.Rithah ibunya bernama Zainah.
Diantara sekian banyak putera dan putri yang dimiliki oleh Khalifah Harun Al-Rasyid, hanya Muhammad Al Amin dan Abdullah Al Ma‟mun yang paling berpengaruh dalam masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah. Mereka berdua menjadi khalifah selanjutnya menggantikan posisi ayahnya.
Harun Al-Rasyid mengangkat puteranya Muhammad Al Amin sebagai putera mahkota pada hari kamis, bulan Sya‟ban tahun 173 H. Kemudian ia mengangkat Abdullah Al Ma‟mun untuk menjadi khalifah setelah Al Amin di Riqqah pada tahun 183 H, dan mengangkatnya menjadi gubernur mulai dari wilayah Hamdzan hingga ke ujung Masyriq (Khalil, 1997:39).
Pada tahun 186 H, Al-Rasyid melaksanakan ibadah haji dengan Al Amin dan Al Ma‟mun beserta para pimpinan pasukannya. Setelah ia menyelesaikan manasik haji, ia menulis dua dokumen untuk anaknya. Pertama, untuk mengingatkan Al Amin untuk memenuhi syarat yang telah ditetapkan baginya, yaitu menyerahkan kekhilafahan setelahnya kepada Abdullah Al Ma‟mun. Kedua, salinan naskah yang telah bai‟at yang telah disetujui oleh orang-orang dekat khalifah maupun publik. Kedua dokumen itu diletakkan di Baitul Haram, setelah sebelumnya memberikan bai‟at kepada Al Amin dan mempersaksikannya kepada Allah, para malaikat-Nya dan semua orang yang ada di sekeliling Ka‟bah, seperti anak-anaknya,
keluarganya, mawalinya, para menterinya, sekretarisnya dan lain-lain (Khalil,1997:41).
Al Amin adalah putera Khalifah Harun Al-Rasyid yang memiliki keturunan darah Arab, ayah dan ibunya berasal dari bani Hasyim. Al-Amin menduduki kursi khilafah pada usia 23 tahun. Masa kekhalifahannya hanya berlangsung sebentar, dan dipenuhi pertikaian dengan saudaranya, al-Ma‟mun.
Perang saudara antara Al Amin dan Al Ma‟mun dimenangkan oleh Al Ma‟mun. Al Amin akhirnya menyetujui untuk menyerah ditangan panglima Al Ma‟mun, yang bernama Harsama. Kemudiania terbunuh pada malam hari (September 813 H) ditangan sekelompok orang yang fanatik. Kekalahan Al Amin dan pengukuhan Al Ma‟mun sebagai khalifah membawa era baru dalam sejarah Islam (Karim,2009:151).
Pada masa pemerintahan Al Ma‟mun perkembangan ilmu mengalami kemajuan yang pesat. Dia sering mengumpulkan para fukoha dari berbagai penjuru negeri. Dia memiliki pengetahuan yang sangat luas dalam masalah Fiqih, Bahasa Arab, dan Sejarah. Saat ia dewasa, ia banyak mempelajari filsafat dan ilmu-ilmu yang pernah berkembang di Yunani sehingga membuatnya menjadi seorang pakar dalam bidang ilmu ini. Ilmu filsafat yang telah ia pelajari telah membawanya kepada pendapat yang menganggap bahwa Al Qur‟an adalah makhluk (As Suyuthi,2012:369).
Diantara jasa-jasanya dalam buku Reorientasi Wawasan Sejarah Islam dari Arab Sebelum Islam Hingga Dinasti Islam; halaman 96, antara lain :
1. Mendirikan Baitul Hikmah, meneruskan dari masa pemerintahan ayahnya, yaitu perpustakaan besar yang berfungsi sebagai perguruan tinggi dan kantor penerjemahan.
2. Perluasan wilayah membentang luas dari timur (tembok besar Cina) sampai ke barat (Pantai Atlantik).
D. Jabatan yang pernah di duduki
Sebelum menjadi seorang khalifah, di usia yang masih remaja ia telah menunjukan ketangkasan dan kecerdasannya. Sehingga dalam pemerintahan ayahnya Al Mahdi, dia dipercaya menjadi panglima pasukan dan membantu para panglima senior. Dalam ekpedisi peperangan Ia mampu menakhlukan musuhnya dan membuat bangga ayahnya.
Pada saat itu Mahdi, meluncurkan dua ekspedisi besar (pada 779 dan 781-782) dibawah kepemimpinan puteranya (Harun). Dalam hal ini Mahdi mendidik puteranya untuk memimpin, seperti dulu ayahnya mendidik dirinya. Pada saat itu, Byzantium diduduki oleh seorang bernama Konstantinus VI yang ibunya, Irene memerintah sebagai wali atas namanya. Kekuasaanya rapuh dan kemudian terjadi pertikaian dalam negeri. Dibawah bimbingan para jenderal, negarawan, dan ajudan berpengalaman, Harun yang belum genap dua puluh tahun berhasil merebut benteng Samalu setelah pengepungan 38 hari (Bobrick,2012:38-39).
Pada pemerintahan ayahnya, Al-Rasyid juga turut berperang melawan Ash Shaa‟ifah beberapa kali; mengadakan gencatan senjata dengan Romawi, setelah ia berhasil mengepung Konstantinopel; mengadakan perjanjian damai dengan istri Leon yang bergelar Agusthah,
dengan syarat mereka harus membayar jizyah kepada kaum muslimin setiap tahun (Khalil,1997:158).
Dia di daulat ayahnya (Mahdi) menjadi gubernur di Assafah tahun 779 M dan di Maghrib pada tahun 780 M. Dua tahun setelah menjadi gubernur, dilihat dari kualitas yang dimiliki Harun jauh lebih baik daripada kakaknya (Al Hadi), kemudian sang ayah mengukuhkannya sebagai putra mahkota setelah saudaranya.
E. Setting Sosial
Harun sebagai putra mahkota yang hidup dalam lingkungan kerajaan Islam, menjadikan ia menguasai ilmu pemerintahan dan ilmu tentang agama. Kecerdasan dan ketangkasannya yang dimiliki dalam berbagai hal, ia dapat dipercaya dalam ekpedisi-ekpedisi melawan musuh pada masa pemerintahan ayahnya.
Harun berasal dari keturunan Abbasiyah yang didirikan oleh Assafah seorang dengan darah Arab, namun Harun Al-Rasyid sangat dekat dengan keluarga Barmaki dari Persia. Pendiri keluarga Barmak adalah Khalid Al Barmaki, ayahnya menjabat sebagai ketua Bhiksu biara Budha. Ia masuk Islam saat kawasan Asia Tengah ditakhlukan oleh Qutaibah ibn Muslim. Keluarga Barmak memiliki kecerdasan dan kesetiaan untuk mengabdi kepada Abbasiyah. Usaha mereka menghasilkan peningkatan kesejahteraan, kebahagiaan rakyat, serta memperkokoh dinasti Abbasiyah sehingga kekayaan negara meningkat, dan adanya banyak usaha meningkatkan berbagai macam budaya yang membawa dinasti Abbasiyah pada zaman keemasan (Karim,2009:149).
Peran pentingnya yaitu menjadi penasihat Khalifah Manshur, dan setelah itu keluarga Barmak mulai berpengaruh besar dalam pemerintahan Abbasiyah. Keturunan Barmak selanjutnya juga diberi kepercayaan penting untuk mengasuh dan memberikan pendidikan dasar untuk putera mahkota.
Pada masa pemerintahan Harun, Baghdad mampu menjadi pusat peradaban. Baghdad memiliki sejuta pesona, dipinggir kota terdapat banyak wilayah dengan taman, kebun, vila; beberapa dihiasi dengan lukisan dinding yang dipernis berwarna biru cerah dan merah terang, atau panel tembikar berlapis kaca dan lukisan ubin keramik. Sebuah lapangan yang sangat luas di depan istana utama digunakan untuk turnamen dan balapan, pemeriksaan dan apel militer. Sebuah hutan menara mendominasi cakrawala dan seratus lima puluh jembatan menyebrangi kanal-kanal (Bobrick,2012:100).
Kota Baghdad padasaat itu muncul menjadi pusat dunia dengan tingkat kemakmuran dan peraninternasional yang luar biasa. Dinasti Abbasiyah memasuki tatanan yang sangat besar di dalam pemerintahan terutama dalam sistem perpajakan dan administrasi peradilan. Kejayaan ini berjalan seiring dengan kemakmuran kerajaan terutama ibukotanya. Istana kerajaan dengan bangunan-bangunan seperti ruang pertemuan yang dilengkapi dengan karpet, gorden, dan bantal terbaik dari Timur (Ismiyati dkk, 2015: 12)
Keindahan kota Baghdad dan istana pada masa itu, membuktikan bahwa perkembangan ilmu bidang arsitektur telah mengalami kemajuan pesat hingga menjadi kota dengan daya tarik nilai seni yang tinggi.
Khalifah Harun juga mencintai olahraga. Dia adalah khalifah pertama yang bermain hoki dan bola. Dia juga khalifah yang melemparkan anak panah ke lilin yang diletakan diatas kuda dan dia juga khalifah Abbasiyah pertama yang bermain catur (As Suyuthi,2012:355).
Sebagai seorang khalifah, Harun sangat perduli terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Baik dalam bidang ilmu agama, sains, seni maupun olahraga. Ia akan mendukung siapa saja yang membutuhkan bantuan dalam perkembangan ilmu dan menyediakan fasilitas yang memadai. Ia juga tak segan memberikan hadiah bagi para penerjemah kitab-kitab, syair, dan membiayai para sufi.
Tokoh penting dalam Islam di sekitar Al-Rasyid yang mendukung pada masanya yaitu diantaranya, Abu Yusuf (Penulis kitab “Al-Kharaj”), Muhammad bin Al Hasan (Qadhi Al Qudhat-Hakim tertinggi), Abdullah bin Mubarak (Ilmuwan Timur dan Barat), fudhail bin Iyadh (seorang yang zuhud dan penasehat ulung), Imam Malik (Imam Dar Al Hijrah), dan Imam Asy Syafi‟i (Khalil, 1997:165).
Ilmu pengetahuan dan kebudayaan telah tumbuh dan berkembang dan penulisan kitab-kitab dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan, maka berdirilah toko-toko kitab. Saudagar-saudagar buku tersebut bukan hanya mencari keuntungan, akan tetapi kebanyakan dari mereka adalah sastrawan yang cerdas, agar mereka dapat kesempatan yang baik untuk membaca dan menelaah, serta bergaul dengan para ulama dan pujangga-pujangga. Mereka juga menyalin kitab-kitab yang penting dan menyodorkan kepada orang yang memerlukan dan mendapat imbalan (Zuhairini dkk,1986:94).
Seperti kekuasaan sebelumnya, Khalifah Harun juga mengalami pemberontakan, penghianatan serta pembangkangan rakyat di berbagai daerah yang mewarnai masa pemerintahaanya. Pada pemerintahan Al-Rasyid, pemimpin Khawarij yang mencoba melakukan pemberontakan adalah Al Walid bin Tharif Asy-Syaibani di pinggiran kota Nushaiban pada tahun 178 H, dan berhasil ditumpas oleh Yazid bin Mazid Asy Syaibani, yaitu anak dari saudara Ma‟an bin Zaa‟idah pada tahun 179 H (Khalil,1997:139).
Pada tahun 183 H, orang-orang Khazar melakukan pemberontakan di Armenia. Peristiwa ini memberikan pukulan yang sangat memilukan bagi kaum muslimin karena pada saat itu kaum muslimin banyak menjadi korban, bahkan lebih dari seratus ribu penduduk ditawan. Satu peristiwa yang menoreh goresan sejarah yang dalam, karena peristiwa seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya (As Suyuthi,2012:344).
Kondisi masyrakat di masa Al-Rasyid, mengalami kesejahteraan meliputi seluruh penjuru negeri. Begitu juga ketenangan, ia selalu menghadapi permasalahan rakyatnya dan ia tidak pernah tergesa-gesa dalam mengambil keputusan sebelum mempertimbangkannya kepada para penasehat dan ahli ilmu.
BAB III
PERAN KHALIFAH HARUN AL RASYID
A. Pengembangan Pendidikan Islam
Dinasti Abbasiyah yang berdiri setelah jatuhnya kekuasaan Dinasti Umayah. Dinasti Abbasiyah dikenal dengan masa kebangkitan pendidikannya, terutama di bawah kepemimpinan khalifah yang kelima yaitu Khalifah Harun Al-Rasyid dan puteranya Khalifah Al Makmun.
Pada masa pemerintahannya, Harun ar-Rasyid banyak berperan dalam bidang pengembangan ilmu pengetahuan dengan memperbesar departemen studi ilmiah dan penerjemahan yang didirikan kakeknya, Al-Mansur. Kemurahan hati Al-Rasyid, para menteri dan anggota istana yang berbakat terutama keluarga Barmak, yang membantu ilmu pengetahuan dan kesenian, membuat Baghdad menjadi pusat yang menarik orang-orang terpelajar dari seluruh dunia (Syalabi, 2003: 110).
Istana Al-Rasyid merupakan tempat berkumpulnya para ahli bijak dan ulama; pasar bagi para balaghah, syair,sejarah, fikih, kedokteran, musik dan berbagai ilmu dan kesenian lainnya. Di istananya, ia sering menemui mereka dengan penuh penghormatan dan kemuliaan, bahkan ia memberikan hadiah yang melimpah kepada masing-masing ahli dalam bidangnya. Masa kepemimpinannya adalah masa kemegahan peradaban Islam yang tidak ada tandingannya (Khalil,1997:101)
Dibawah pemerintahan Harun, Baghdad juga terkenal dengan toko-toko bukunya, yang berkembang pesat setelah produksi kertas
diperkenalkan. Para perajin dari China, yang terampil membuat kertas, termasuk mereka yang ditangkap oleh pasukan Arab dalam Perang Talas pada 751. Sebagai tawanan perang, mereka dkirim ke Samarkand, disana pabrik kertas pertama Arab didirikan. Pada akhirnya kertas menggantikan perkamen sebagai media yang biasa digunakan untuk menulis, dan produksi bukupun meningkat sangat pesat. Semua ini memberi dampak intelektual dan kultural yang dapat dibandingkan dengan pengenalan percetakan di Barat. Harun memfasilitasi dan mendorong korespodensi dan pembuatan buku-buku catatan. Hal ini membawa kesibukan baru dalam perdagangan, perbangkan, dan kerja administrasi. Pada 794-795, Ja‟far al Barmak mendirikan pabrik kertas pertama di Baghdad, dan dari sinilah teknologi menyebar. Harun berusaha keras agar kertas digunakan dalam catatan pemerintah, karena sesuatu yang tertulis di kertas tidak dapat diubah atau dihapus dengan mudah. Kemudian sebuah jalan di kawasan komersial kota disediakan untuk penjualan kertas dan buku (Bobrick, 2012:120).
Pada masa kepemimpinannya ada Jabir bin Hayyan, Al Khuwarizmi dan Al Kindi, yang telah meninggalkan peninggalan bagi khazanah keilmuan dunia dengan muatan ilmiah yang tiada banding. Ia sering berkunjung ke berbagai wilayah kerajaan bersama perawi, ulama dan qadhi (Khalil,1997:xvii).
Pada masanya hidup tiga pemuka terbesar dalam madzhab hukum yaitu Malik Ibn Anas (wafat 179 H/795M) dan Muhammad Ibn Idris Al
Syafi‟i (wafat 204 H/817 M) dan Ahmad Ibn Hanbal (164-242 H/780-855 M). Juga tokoh-tokoh Iktizal Aliran Basrah Yaitu Abu Huzail Al Allaf (135-236 H) Dan Ibrahim A Nazzaham (160-231 H) dan Amru ibn Bahar Al Jahidz (159-255 H). Bahkan pada masa itulah muncul aliran bagdad dari kalangan iktizal itu dibawah pimpinan Bisyrilibn Mu‟tamir (wafat 210 H/826 M), seseorang pemikir dan pembicara yang tangkas di dalam diskusi-diskusi di depan balai penghadapan khalif (Sou‟yb, 1997:130).
Tokoh ahli bahasa terkenal yang memepelopori penyusunan tata bahasa dan seni bahasa dan nada saja yaitu Khalaf Al Ahmar (wafat 180 H) dan Al Ashma‟i (wafat 214 H) dan Khalil ibn Ahmad Al Farahidi (wafat 180 H) dan Akhfasy Al Akbar (wafat 176 H) dan Akhfasy Al Awsath (wafat 215 H) dan Sibawaihi (wafat 180 H) dan Al Kisai (wafat 189 H) (Sou‟yb, 1997:130).
Tokoh sufi angkatan pertama (daur-al-awwal) yaitu ibrahim ibn idham (wafat 166 H/783 M), seorang pangeran dari kota Balkh yang meninggalkan kebangsawanannya dan kekayaanya dan mengembara sebagai seorang faqir dan hidup dari hasil kerajinan tangan sendiri dan wafat dalam pertempuran lautan sewaktu armada islam menghadapi Armada Byzantium, dan Rabiatul Adawiyah (wafat 185 H/801 M), seorang sufi wanita dari Basrah yang amat terkenal dengan sajak-sajak mistik itu dan Abu Ali Syaqiqq Al Balki (wafat 194 H/ 810 M) seorang tokoh mistik yang menjadi tokoh legendaris pada masa belakangan
dikalangan aliran-aliran mistik (thariqat-thariqat) dalam sejarah Islam (Sou‟yb, 1997:130).
Perkembangan intelektual dimulai dengan menterjemahkan khazanah intelektual Yunani klasik seperti filsafat Aristoteles. Khalifah sendiri mengalokasikan anggaran khusus untuk menggaji para penerjemah dari golongan Kristen, kaum Sabi, dan bahkan juga para penyembah bintang (Didin Saefudin, 2002: 7).
Beberapa upaya yang dilaksanakan terkait dengan kemajuan dan perkembangan peradaban Islam. Peradaban-peradaban tersebut pada dasarnya merupakan akulturasi dari peradaban Islam dengan peradaban lainnya, terutama Persia atau Yunani, di antaranya yaitu:
1. Gerakan Penerjemahan
Kegiatan penerjemahan sudah dimulai sejak masa Umayyah, upaya besar-besaran untuk menerjemahkan manuskrip berbahasa asing terutama bahasa Yunani dan Persia ke dalam bahasa arab mengalami keemasannya pada masa Abbasiyah. Para ilmuwan di utus ke daerah Byzantium untuk mencari naskah-naskah Yunani dalam berbagai bidang ilmu filsafat dan kedokteran. Sedangkan perburuan manuskrip di daerah timur seperti Persia adalah dalam bidang sastra dan tata negara. Para penerjemah tidak hanya dari kalangan Islam tetapi juga dari pemeluk Nasrani di Syiria dan Majusi dari Persia. Biasanya naskah berbahasa Yunani diterjemahkan ke Bahasa Syiria kuno sebelum ke dalam Bahasa Arab. Hal ini di karenakan penerjemah
biasanya adalah para Pendeta Kristen Syiria yang hanya memahami bahasa Yunani dan bahasa mereka sendiri yang berbeda dari Bahasa Arab. Kemudian para ilmuwan yang memahami Bahasa Syiria dan Arab menerjemahkan naskah tersebut kedalam Bahasa Arab (Sodiqin dkk, 2002: 103).
Pelopor gerakan penerjemah pada awal pemerintahan Abbasiyah adalah Khalifah Al Manshur yang juga membangun ibukota Baghdad. Dia mempekerjakan orang-orang persia yang baru masuk Islam seperti Nawbaht, Ibrahim Al Fazari, dan Ali ibn Isa untuk menerjemahkan karya- karya berbahasa Persia dalam bidang Astrologi (ilmu perbintangan) yang sangat berguna bagi kafilah dagang, baik melalui darat maupun laut. Buku tentang ketata negaraan dan politik serta moral seperti Kalila Wa Dimna Dab Sindhind dalam Bahasa Persia diterjemahkan kedalam Bahasa Arab. Selain itu, manuskrip berbahasa Yunani seperti Logika karya Aristoteles, Almagest karya Ptolemy, Arithmetic karya Nicomachus dari Gerasa, Geometri karya Euclid juga diterjemahkan (Sodiqin dkk, 2002: 104).
Pada masa Harun al-Rasyid, dikenal Yuhanna Yahya ibn Masawayh (w.857) yang menerjemahkan beberapa manuskrip tentang kedokteran yang dibawa oleh khalifah dari Ankara dan Amorium. Pada masa Makmun dikenal Hunayn ibn Ishaq (Joannitius, 809-873), ia dijuluki “ketua para penerjemah” (sebutan orang Arab), seorang sarjana terbesar dan figur terhormat. Makmun mengangkatnya menjadi
pengawas perpustakaan akademinya yang bertugas menerjemahkan karya-karya ilmiah, dibantu oleh anaknya Ishaq, dan keponakannya Hubaisyib al-Hasan yang telah ia latih (Mahroes,2015:85).
Kegiatan penerjemahan buku-buku ini berjalan kira-kira satu abad, babak penerjemahan itu dalam rentang ±750-850. Diantara cabang ilmu pengetahuan yang diutamakan ialah Ilmu Kedokteran, Matematika, Optika, Geografi, Fisika, Astronomi, dan Sejarah di samping Filsafat (Mahroes,2015:86).
2. Membangun Bait al-Hikmah
Bait al-Hikmah merupakan perpustakaan yang juga berfungsi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan. Instuisi ini merupakan kelanjutan dari instuisi yang serupa di masa imperium Sasania Persia yang bernama Jundi Shapur Academy. Perbedaannya, pada masa Persia institusi ini hanya menyimpan puisi - puisi dan cerita-cerita untuk raja, sedangkan pada masa Abbasiyah (Harun Al-Rasyid) instutusi ini diberi nama Khizanah al-Hikmah yang berfungsi sebagai perpustakaan dan pusat penelitian (Sodiqin, 2002: 105).
Tahun 791, Harun menjadikan persoalan pendidikan sebagai tujuan nasional (yakni, kerajaan) ketika ia menulis surat pada seluruh gubernur provinsi mendesak mereka untuk memajukan pembelajaran, dan mengadakan ujian negara dengan hadiah uang bagi siwa yang berhasil mendapat nilai yang bagus (Bobrick,2012:124).
Perhatiannya yang tinggi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan usaha penting Harun Al-Rasyid, membawa namanya ke puncak kemasyhuran adalah Peradaban Islam dengan taraf yang belum pernah dicapai sebelumnya. Ia mendirikan beberapa lembaga pendidikan, seperti Bait al Hikmah, Majelis al Muzakarah, lembaga pengkajian masalah-masalah keagamaan, rumah-rumah, masjid, istana khalifah dan rumah sakit (Suwito,2005:101).
Dalam buku Sejarah Sosial Pendidikan Islam karya Prof. Dr. Suwito, MA halaman 101; disebutkan bahwa Lembaga-lembaga Pendidikan Islam yang berkembang pada masa Harun Al- Rasyid meliputi: 1. Kuttab atau Maktab
Kuttab atau maktab, berasal dari kata dasar kataba yang berarti menulis atau tempat menulis. Kemudian memiliki pengertian sebagai lembaga pendidikan dasar. Menurut catatan sejarah, Kuttab telah ada