BAB VI HASIL PENELITIAN
5. Pendidikan
Hukuman itu harus adil (sesuai dengan kesalahan). Anak harus mengetahui mengapa ia di hukum. Selanjutnya hukuman itu harus membawa anak kepada kesadaran akan kesalahannya.
Kemudian dalam kondisi tertentu kadang-kadang orang tua merasa perlu memberikan hukuman fisik pada anak dan harus diperhatikan tujuan memberikan hukuman adalah mendidik
anak. Oleh sebab itu, hukuman harus diberikan dengan cara-cara yang baik.39
b. Orang Tua sebagai Manajer
Orang tua dapat berperan penting sebagai manajer terhadap peluang-peluang yang dimiliki remaja usia pubertas, mengawasi relasi sosial, sebagai inisiator dan pengatur dalam kehidupan sosial.
Salah satu peran orang tua yang penting adalah menjadi menajer yang efektif, yang menemukan informasi, yang memuat kontak, membantu menyusun pilihan-pilihannya, dan memberikan bimbingan. Orang tua yang memenuhi peran manajerial yang penting ini akan membantu remaja usia pubertas terhindar dari perangkap dan membiarkan mereka menyelesaikan tugasnya dengan membuat berbagai pilihan dan keputusan.
Aspek penting dari peran manajeril pengasuhan orang tua adalah mengawasi anak dengan efektif. Pengawasan ini dapat dilakukan dengan cara mengawasi pilihan-pilihan anak terhadap situasi sosial, aktivitas-aktivitasnya, serta kawan-kawan.
Kurangnya pengawasan yang memadai dari orang tua merupakan aspek pengasuhan yang paling sering berkaitan dengan kenakalan anak.40
39 TB. Aat Syafaat, Dkk, Peranan Pendidikan Agama Islam,... h. 44-50
40 John W. Santrock, Remaja, (Jakarta: Erlangga, 2007), h. 13-14
c. Orang Tua sebagai Pendamping
Orang tua wajib mendampingi anak mereka, agar mereka tidak terjerumus kedalam bahaya pubertas dan tindakan yang merugikan diri sendiri. Pendamping hendaknya dilakukan dengan bersahabat dan lemah lembut. Sikap curiga dari orang tua justru akan menciptakan jarak antara anak dan orang tua serta kehilangan kesempatan untuk melakukan dialog terbuka dengan remaja usia pubertas.
d. Orang Tua sebagai Pengasuh
Orang tua perlu memberikan asuhan atau bimbingan kepada anak seperti membiasakan untuk memakai pakaian sendiri, memelihara kebersihan diri dari lingkungan, membimbing anak cara-cara berhubungan sosial dengan teman disekolah.41
e. Orang Tua sebagai Konselor
Peran orang tua sangat penting dalam mendampingi remaja usia pubertas ketika menghadapi masa-masa sulit dalam mengambil keputusan. Sebagai konselor orang tua dituntut untuk tidak menghakimi tetapi dengan jiwa besar justru harus merangkul remaja bila sedang mengalami masalah dan membantu menyelesaikan masalah tersebut.
41 Syamsu Yusuf, Perkembangan Peserta Didik, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2011), Cet. Ke-2 h. 25
f. Orang Tua sebagai Teman atau Sahabat
Peran orang tua sebagai teman atau sahabat anak akan menjadi terbuka dalam menyampaikan permasalahan yang di dampingi sebagai orang tua hendaknya mampu berperan seperti pohon yang kuat dan rindang, akarnya menunjang ketanah sehingga bisa memberikan makan pada batang dan daun, sang pohon dapat menghasilkan buah yang segar, tidak busuk dan tidak berulat.42
Orang tua yang baik adalah ayah dan ibu yang pandai menjadi sahabat sekaligus sebagai teman bagi anaknya sendiri.
Karena sikap bersahabat dengan anak mempunyai peranan dalam mempengaruhi jiwanya sebagai sahabat, tentu saja orang tua harus menyediakan waktu untuk anak, menemani anak dalam suka maupun duka, memilih teman yang baik untuk anak dan bukan membiarkan anak memilih teman sesuka hatinya tanpa petunjuk bagaimana cara memilih teman yang baik.43
3. Tanggung Jawab Orang Tua
Al-Quran dan Al-Hadis mewajibkan umat Islam mencari ilmu dan membangun lembaga pendidikan Islam. Kemudian ajaran Islam juga mewajibkan kepada umatnya untuk mendidik. Sehingga kewajiban mendidik diarahkan pada ruang lingkup objek pendidikan antara lain:
42 Indra Widhana dan dkk, Pegangan Kader Tentang Pembinaan Anak Remaja, (Jakarta:
BKKBN,2012) h.83
43 Syaiful Bahri Djamarah, Pola Komunikasi Orang Tua Dan Anak Dalam Keluarga, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2004), h. 2
pendidikan keluarga, pendidikan sekolah dan pendidikan di lingkungan masyarakat.44
Berbagai tanggung jawab yang menonjol dan mendapat perhatian besar dalam islam adalah tanggung jawab orang tua terhadap anak-anaknya yang berwenang memberikan pengarahan, pengajaran, dan pendidikan. Hal ini terbukti dengan banyaknya ayat dan hadis yang memerintahkan kepada orang tua untuk memikul tanggung jawabnya serta memberikan peringatan jika meremehkan kewajiban mereka.
Adapun ayat Al-Quran yang menjelaskan tanggung jawab orang tua yang terdapat dalam surat At-Taha ayat 132:
“Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan sabar dalam mngerjakannya....”45
Nabi Muhammad SAW bersabda:
ْمٌُ ُُْبِّدَا ََ َشْيَخْنا ُمُكْيِهٌَْأ ََ ْمُك َدَلا ََْاا ُُْمِّهَع
Artinya :
“Ajarkanlah kebaikan kepada anak-anak kamu dan keluargamu dan didiklah mereka.”
Ayat diatas menjelaskan bahwa orang tua berkewajiban mendidik anak-anaknya, baik ibu maupun ayah wajib mengajarkan kebaikan kepada anak-anaknya serta menyuruh mereka melaksanakan shalat. Dalam pandangan Islam anak adalah amanat yang dibebankan
44 Beni Ahmad Saebani dan Hendra Akhdhiyat, Ilmu Pendidikan Islam,... h. 201
45 Departemen Agama, Al-Quran Tajwid dan Terjemahan, (Bandung: CV Diponegoro, 2010), h. 321
oleh Allah SWT kepada orang tuanya. Oleh karena itu orang tua harus menjaga, memelihara, dan menyampaikan amanah itu kepada mereka.
Ilmu pendidikan Islam telah menunjukkan pada tataran konseptual proses pendidikan dalam keluarga sebagai realisasi tanggung jawab orang tua terhadap pendidikan anaknya, antara lain aspek-aspek pendidikan Islam yang harus di perhatikan oleh orang tua dalam mendidik anaknya. Aspek-aspek tersebut mencakup Aspek pendidikan ibadah, pokok-pokok ajaran Islam dan membaca Al-Quran, aspek pendidikan akhlak karimah dan aspek pendidikan akidah islamiyah.46
Adapun tanggung jawab pendidikan yang perlu disandarkan dan dibina oleh kedua orang tua terhadap anak antara lain:
a. Memelihara dan membesarkannya. Tanggung jawab ini merupakan dorongan alami untuk dilaksanakan kerena anak memerlukan makan, minum, dan perawatan agar dapat hidup secara berkelanjutan
b. Melindungi dan menjamin kesehatannya, baik secara jasmani maupun rohani dari berbagai gangguan penyakit atau bahaya lingkungan yang dapat membahayakan dirinya
c. Mendidik dengan berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan yang berguna bagi kehidupannya kelak sehingga apabila ia dewasa mampu berdiri sendiri dan membantu orang lain.
46 Hasan Basri dan Beni Ahmad Saebani, Ilmu Pendidiksn Islam,... h. 74-76
d. Membahagiakan anak untuk dunia dan akhirat dengan memberikannya pendidikan agama sesuai dengan ketentuan Allah SWT sebagai tujuan akhir hidup muslim.47
Kesadaran akan tanggung jawab mendidik dan membina anak secara terus menerus perlu di kembangkan kepada setiap orang tua sehingga pendidikan yang di lakukan tidak berdasarkan kebiasaan yang dilihat dari orang tua tetapi sudah didasari oleh teori-teori pendidikan modren yeng sesuai dengan perkembangan zaman.48
Adapun tugas-tugas yang harus dilakukan oleh orang tua secara garis besar sebagai berikut :
a. Memenuhi kebutuhan fisik yang paling pokok b. Memberikan ikatan dan hubungan emosional c. Memberikan suatu landasan yang kukuh d. Membimbing dan mengendalikan perilaku
e. Memberikan berbagai pengalaman hidup yang normal f. Mengajarkan cara berkomunikasi
g. Membantu anak menjadi bagian dari keluarga.
h. Memberi teladan. 49
47 Hamdani, Dasar-Dasar Kependidikan, (Bandung: Pustaka Setia, 2011), h. 56
48 Hasbullah, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan,... h. 88-89
49 Yundrik Jahja, Psikologi Perkembangan, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2011), Cet.
Ke-1 h. 228-229
B. Menanamkan Nilai Akhlak pada Anak 1. Pengertian Akhlak
Penanaman adalah proses, perbuatan dan cara menanamkan.50 Nilai adalah suatu yang bersifat abstrak dan ideal.51 Nilai menurut Zakiah Daradjat merupakan suatu perangkat keyakinan atau perasaan yang diyakini sebagai identitas yang memberikan ciri khusus pada pemikiran, perasaan, kriteria maupun perilaku.52 Nilai adalah kriteria atau tujuan yang diurutkan berdasarkan kepentingan sebagai prinsip yang memandu dalam kehidupan.53 Nilai merupakan sifat-sifat atau hal-hal yang penting atau berguna bagi kemanusiaan.54
Menurut istilah etimology (bahasa) perkataan akhlak berasal dari bahasa arab yaitu Al- Khuluq yang mengandung arti budi pekerti, tingkah laku, perangai dan tabiat. Dalam Lisan Al-„Arab makna akhlak adalah perilaku seseorang yang sudah menjadi kebiasaannya, kebiasaan atau tabiat tersebut selalu terjelma dalam perbuatannya secara lahir. Pada umumnya sifat atau perbuatan yang lahir tersebut akan mempengaruhi batin seseorang.55 Akhlak secara terminologi berarti tingkah laku seseorang yang didorong oleh sesuatu keinginan
50 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta:
Balai Pustaka, 1990), h. 895
51 Chabib Thoha, Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000), h.60
52 Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta: Bulan Bintang, 1996), h. 59
53 Sri Lestari, Psikologi Keluarga, ( Jakarta: Kencana, 2012), Cet. Ke-1 h. 73
54 W J S Purwadaminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1999), h. 677
55 Muhammad Abdurrahman, Akhlak, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2016), Cet.
Ke-1 h. 6
secara sadar untuk melakukan suatu perbuatan yang baik.56 Jadi pada hakikatnya akhlak ialah suatu kondisi atau sifat yang telah meresap dalam jiwa dan menjadi kepribadian. Dari sini timbullah berbagai macam perbuatan dengan spontan tanpa di buat-buat dan tanpa memerlukan pikiran.
2. Dasar Hukum Akhlak
Sumber ajaran akhlak ialah Al-Quran dan Hadis. Dalam menanamkan akhlak kepada anak pubertas, diperkenalkan tingkah laku Nabi Muhammad SAW yang merupakan contoh suri tauladan untuk penyempurnaan akhlak manusia.57 Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Ahzab ayat 21:
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharapkan (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”58
Ayat di atas menjelaskan bahwa setiap mukmin dapat mencontoh Nabi Muhammad SAW yang merupakan pedoman yang dapat menuntun manusia kepada akhlakul karimah. Termasuk juga membina anak usia pubertas, karena pembinaan anak melalui akhlak
56 Mukniah, Materi Pendidikan Agama Islam, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2011), h. 105
57 Yatimin Abdullah, Akhlak dalam perspektif Al-Quran, (Jakarta: Amzah, 2007), Cet.
Ke-1 h.4
58 Departemen Agama, Al-Quran Tajwid dan Terjemahan, (Bandung: CV Diponegoro, 2010), h. 421
pada usia pubertas ini sangat penting mengingat bahwa akhlak merupakan pokok dalam pembinaan kearah yang baik.
3. Menanamkan Nilai akhlak pada Anak
Islam telah mengarahkan para orang tua dan pendidik untuk memperhatikan anak-anak secara sempurna. Terutama sekali pada masa perkembangan pubertas, sehingga mereka benar-benar mengetahui siapa yang menemani dan kemana saja mereka pergi.
Kemudian islam juga memberikan petunjuk untuk memilihkkan teman yang baik untuk anak-anak mereka, agar dapat menyerap akhlak, adab dan adat yang mulia. Di samping itu islam juga memberikan petunjuk kepada mereka supaya memperingatkan anak mereka terhadap teman-teman yang jahat dan buruk sehingga mereka tidak tersesat dalam kenakalan-kenakalan.59
Menurut Zakiah Daradjat ada beberapa dasar dalam pendidikan akhlak yang perlu diterapkan pada anak sebagai berikut:
1. Menumbuh kembangkan dorongan dari dalam diri anak yang bersumber pada iman dan takwa. Untuk ini perlu pendidikan agama.
2. Meningkatkan pengetahuan anak tentang akhlak Al-Quran tentang ilmu pengetahuan, pengalaman, dan latihan agar dapat membedakan mana yang baik dan mana yang jahat.
59 Abdullah Nashih Ulwan, Pendidikan Anak Dalam Islam, (Jakarta: Pustaka Amani, 1999), Cet. Ke-2, Jilid 1, h. 132
3. Orang tua hendaknya melakukan pembiasaan yang baik sehingga perbuatan baik itu menjadi keharusan moral dan perbuatan akhlak terpuji yang tumbuh dan berkembang secara wajar dalam diri anak.60
Menurut Syekh Khalid bin Abdurrahman ada beberapa dasar pendidikan akhlak yang harus di tanamkan pada anak sebagai berikut:
1. Menanamkan rasa cinta cinta dan kasih terhadap sesama anak, anggota keluarga, dan orang lain.
2. Menyadarkan anak bahwa nilai-nilai akhlak muncul dari dalam diri manusia dan bukan berasal dari peraturan dan undang-undang karena akhlak adalah nilai-nilai yang membedakan manusia dengan binatang.
3. Membudayakan akhlak pada anak sehingga akan menjadi kebiasaan dan watak pada diri mereka. Jika pedoman akhlak sudah merasuk kedalam diri jiwa seseorang maka anak tersebut menjadi manusia yang berakhlak.61
C. Masa Pubertas
1. Pengertian Pubertas
Pubertas berasal dari bahasa latin yang artinya dewasa. Dapat diartikan pula bahwa pubertas berasal dari kata pubescere yang artinya mendapat pubes atau rambut kemaluan.62 Pubertas adalah periode
60 Beni Ahmad Saebani dan Hendra Akhdiyat, Ilmu Pendidikan Islam,... h. 220
61 Syekh Khalid bin Abdurrahman, Cara Islam Mendidik Anak, (Yogyakarta: Ad-Dawa‟), h. 345
62 Sri Rumini dan Siti Sundari, Perkembangan Anak dan Remaja,... h. 63
dalam rentang perkembangan ketika anak-anak berubah dari makhluk aseksual menjadi makhluk seksual. Seperti diterangkan oleh Root bahwa masa puber adalah suatu tahap dalam perkembangan dimana terjadi kematangan alat-alat seksual dan tercapai kemampuan reproduksi. Tahap ini disertai dengan perubahan-perubahan dalam pertumbuhan somatis dan perspektif psikologis.63
Masa pubertas merupakan tahap akhir bagi individu dalam mempersiapkan dirinya untuk menjadi manusia dewasa yang berdiri sendiri. Pada fase ini anak banyak mengalami krisis namun krisis itu tidak akan dirasakan berat jika sejak awal anak-anak dan remaja telah hidup dalam keluarga yang menempatkan ajaran Islam sebagai penuntunnya. Jika dalam diri anak telah tertanam nilai-nilai religi maka sebagai orang yang beriman ia akan selalu mampu menyikapi permasalahan hidup baik muncul dari dalam maupun dari luar dirinya.64
Dalam konsep Islam tidak mengenal istilah pubertas dan yang ada hanyalah “Alhuluma” yang atinya balig, istilah tersebut terdapat dalam Al-Quran Surat An-Nur ayat 59 :
63 Elizabeth B. Hurlock, Psikologi perkembangan , (Jakarta: Erlangga, 1999), h. 184
64 Bukhari Umar, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Amzah, 2017), Cet. Ke-3 h. 121-122
hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta izin. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayatnya dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.”65Dalam ayat diatas “Alhuluma” dikaitkan dengan mimpi basah dan menstruasi yang pertama pada anak perempuan yang dalam hukum Islam mereka sudah diwajibkan melaksanakan syariat Islam dalam kehidupan sehari-hari sebagaimana diperintahkan kepada orang dewasa.
2. Ciri-Ciri Pubertas
Pubertas (puberty) ialah suatu periode dimana kematangan kerangka dan seksual terjadi dengan pesat terutama pada awal masa remaja. Kematangan seksual merupakan suatu rangkaian dari perubahan-perubahan yang tejadi pada masa remaja yang di tandai dengan perubahan pada ciri seks primer dan perubahan pada ciri-ciri seks sekunder.66
65 Departemen Agama, Al-Quran Tajwid dan Terjemaha, (Bandung: CV Diponegoro, 2010), h. 358
66 Desmita, Psikologi Perkembangan, (Bandung: PT Rmaja Rosdakarya, 2006), Cet. Ke- 2 h. 192
a. Perubahan Ciri-Ciri Seks Primer
Seks primer merupakan organ yang butuhkan untuk reproduksi. Pada perempuan, organ kelamin meliputi ovarium, rahim, klitoris, vagina dan lain sebagainya sedangkan pada laki-laki meliputi testis, penis, dan lain sebagainya.67
Jadi Ciri-ciri seks primer berbeda antara laki-laki dan perempuan. Bagi anak laki-laki perubahan ciri-ciri seks primer yang sangat penting di tunjukkan dengan pertumbuhan yang cepat pada batang kemaluan (penis) dan kantong kemaluan (scrotum).
Sedangkan pada perempuan, perubahan ciri-ciri seks primer ditandai dengan munculnya periode menstruasi.68
b. Perubahan Ciri-Ciri Seks Sekunder
Ciri-ciri seks sekunder adalah tanda-tanda jasmaniah yang tidak langsung berhubungan dengan proses reproduksi.69 Namun merupakan tanda-tanda yang membeda antara laki-laki dan perempuan. Diantaranya tanda-tanda jasmaniah yang terlihat pada anak laki-laki adalah tumbuh kumis dan jenggot, jakun, bahu dan dada melebar, suara berat, tumbuh bulu di ketiak, didada, dikaki, dilengan dan di sekitar kemaluan serta otot-otot menjadi kuat.
Sedangkan pada perempuan terlihat payudara dan pinggul yang
67 Diane E Papalia dan Ruth Duskin Feldman, Perkembangan Manusia,... h. 8
68 Desmita, Psikologi Perkembangan,... h. 192-193
69 Sri Rumini dan Siti Sundari, Perkembangan Anak dan Remaja,... h. 64
membesar, suara menjadi halus, tumbuh bulu di ketiak dan di sekitar kemaluan.70
c. Perubahan Ciri-Ciri Seks Tertier
Adapun tanda-tanda tertier biasanya diwujudkan dalam perubahan sikap dan perilaku contoh bagi laki-laki ada perubahan mimik jika bicara, cara berpakaian, cara mengatur rambut, bahasa yang diucapkan, aktingnya dan lain-lain. Sedangkan pada perempuan ada perubahan cara berbicara, cara tertawa, cara pakaian, jalannya dan lain-lain.71
Diantara perubahan-perubahan fisik itu, yang terbesar pengaruhnya pada perkembangan jiwa anak adalah pertumbuhan tubuh (badan menjadi makin panjang dan tinggi), mulai berfungsi alat-alat reproduksi (haid pada wanita dan mimpi basah pada anak laki-laki) dan tanda-tanda seksual sekunder yang tumbuh. Secara lengkap Muss membuat urutan perubahan-perubahan fisik sebagai berikut:
a. Pada Anak Perempuan
1) Pertumbuhan tulang-tulang 2) Pertumbuhan payudara
3) Tumbuh bulu yang halus dan lurus berwarna gelap dikemaluan
4) Ketinggian badan yang maksimal setiap tahun
70 Desmita, Psikologi Perkembangan,... h. 193-194
71 Abu Ahmadi dan Munawar Sholeh, Psikologi Perkembangan, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2005), h. 122-123
5) Bulu kemaluan menjadi kriting 6) Haid
7) Tumbuh bulu-bulu ketiak b. Pada Anak Laki-Laki
1) Pertumbuhan tulang-tulang 2) Testis (buah pelir) membesar
3) Tumbuh bulu kemaluan yang halus, lurus, dan berwarna gelap
4) Awal perubahan suara 5) Ejakulasi (keluarnya mani) 6) Bulu kemaluan menjadi kriting
7) Tinggi badan mencapai tingkat maksimal setiap tahun 8) Tumbuh rambut-rambut halus di wajah (kumis,jenggot) 9) Tumbuh bulu ketiak
10) Akhir perubahan suara
11) Rambut-rambut di wajah mulai bertambah tebal dan gelap 12) Tumbuh bulu di dada.72
3. Tahap Pubertas
a. Tahap Prapuber (Usia 12-14 tahun)
Tahap ini bertunpang tindih dengan satu atau dua tahun terakhir masa kanak-kanak pada saat di anggap sebagai “prapuber”
yaitu bukan lagi seorang anak tetapi belum juga seorang remaja.
72 Sarlito Wirawan Sarwono, Psikologi Remaja, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2012), Cet. Ke-15 h. 62-63
Dalam tahap prapuber (tahap pematangan), ciri-ciri seks sekunder mulai tampak tetapi organ-organ reproduksi belum sepenuhnya berkembang.
b. Tahap Puber (Usia 14-18 tahun)
Tahap ini terjadi pada garis pembagi antara masa kanak-kanak dan masa remaja, dimana kriteria kematangan seksual muncul haid pada anak perempuan dan pengalaman akan basah pertama kali di malam hari (tahap matang), ciri-ciri seks sekunder terus berkembang dan sel-sel reproduksi dalam organ-organ seks.
c. Tahap Pascapuber (Usia 17-21 tahun)
Tahap ini bertumpang tindih dengan tahun pertama atau kedua masa remaja. Selama tahap ini, ciri-ciri seks sekunder telah berkembang baik dan organ-organ seks mulai berfungsi dengan matang.73
Perbedaan karakteristik diantara tiga fase pra pubertas, pubertas dan pubertas akhir sebagai berikut:
a. Pada masa pra pubertas anak sering merasa bingung, cemas, takut, gelisah, gelap hati, bimbang, ragu, risau, sedih hati, rasa-rasa minder, rasa-rasa tidak mampu melaksanakan tugas-tugas dan lain-lain.
b. Pada masa pubertas anak mudah menginginkan atau mendambakan sesuatu dan mencari-cari sesuatu. Namun apa sebenarnya “sesuatu”
73 Yundrik Jahja, Psikologi Perkembangan,... h. 222
yang diharapkan dan dicari itu dia tidak tahu. Anak merasa sunyi di hati, dan merasa tidak bisa mengerti dan tidak mengerti.
c. Pada masa pubertas Akhir anak mulai merasa stabil, dia mulai mengenal diri sendiri, dan ingin hidup dengan itikad keberanian, dia mulai memahami arah hidangan itikad keberanian, dia mulai memahami arah hidupnya, dan menyadari tujuan hidupnya serta dia mulai mempunyai pendirian berdasarkan pola hidup yang jelas.74
4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Menyimpang pada Anak Kelalaian orang tua dalam mendidik (memberikan ajaran dan bimbingan tentang nilai-nilai agama) sehingga terjadi perilaku menyimpang pada anak antara lain:75
a. Pergaulan negatif (teman bergaul yang sikap dan perilakunya kurang memperhatikan nila-nilai moral).
b. Beredarnya film-film atau bacaan-bacaan porno c. Kehidupan moralitas masyarakat yang buruk d. Hidup menganggur
e. Kehidupan ekonomi keluarga yang morat marit (miskin/fakir) f. Diperjual belikan minuman keras dan obat-obatan terlarang secara
bebas
g. Penjualan alat kontrasepsi yang kurang terkontrol h. Perceraian orang tua
74 Abu Ahmadi dan Munawar Sholeh, Psikologi Perkembangan,... 127-128
75 Yundrik Jahja, Psikologi Perkembangan,... h. 242-243
i. Perselisihan atau konflik orang tua ( antara anggota keluarga) j. Sikap perlakuan orang tuanyang buruk terhadap anak.
Dapat disimpulkan bahwa sangat penting peran orang tua dalam mendidik anaknya dalam suatu keluarga serta memberi perhatian penuh, apalagi pada usia remaja yang rentan terhadap perilaku menyimpang. Orang tua hendaknya menyadari peranannya sebagai orang tua, dimana menjadi orang tua yang baik dengan cara mengerti, memahami anaknya, dan memotivasi serta memberikan perhatian yang cukup dengan cara menanamkan nilai-nilai Islam pada anak sejak usia dini.
5. Akibat Perubahan Masa Puber pada Sikap dan Perilaku Anak
Perubahan fisik pada masa puber mempengaruhi semua bagian tubuh baik eksternal maupun internal, sehingga juga mempengaruhi keadaan fisik dan psikologi anak yang akibatnya menimbulkan perubahan pada pola perilaku, sikap dan kepribadian. Adapun akibat perubahan pada masa pubertas sebagai berikut:76
a. Akibat terhadap Keadaan Fisik
Pertumbuhan yang pesat dan perubahan-perubahan cenderung disertai kelelahan, kelesuhan dan gejala-gejala buruk lainnya. Anak prapuber sering terganggu oleh perubahan-perubahan kelenjar, besarnya dan posisi organ-organ internal.
76 Elizabeth B. Hurlock, Psikologi perkembangan,... h. 191-192
b. Akibat pada Sikap dan Perilaku
Akibat yang luas dari masa puber pada keadaan fisik anak juga mempengaruhi sikap dan perilaku. Namun ada bukti yang menunjukkan bahwa perubahan pada sikap dan perilaku yang terjadi pada saat ini merupakan akibat dari perubahan sosial dari pada perubahan kelenjar yang berpengaruh pada keseimbangan tubuh.
Perubahan masa puber terhadap sikap dan perilaku yang paling umum, paling serius, dan paling kuat sebagai berikut:
1) Ingin Menyendiri
Anak biasanya menarik diri dari teman-teman dan keluarga. Gejala menarik diri ini mencakup ketidakinginan berkomunikasi dengan orang lain.
2) Bosan
Anak yang puber merasa bosan dengan permainan yang sebelumnya digemari. Hal ini disebabkan oleh keadaan fisik yang tidak normal.
3) Emosi yang Meninggi
Pada masa ini anak merasa khawatir, gelisah, cepat marah, kemurungan, merajuk, ledakan amarah, dan kecenderungan untuk menangis.