• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KATEKESE KELUARGA BAGI PENDIDIKAN IMAN ANAK

B. Pendidikan Iman Anak

Prasetya (2008:17) menegaskan bahwa pendidikan yang diberikan bagi anak-anak tidak hanya menyangkut perkembangan diri anak, tetapi juga lebih menekankan pada pendidikan iman. Pendidikan iman ini sebaiknya dilaksanakan sejak dini, karena hal tersebut dapat menentukan keberadaan dan kehidupan anak-anak di masa depan, baik yang menyangkut kehidupan pribadi, kehidupan sosial, kehidupan beriman, maupun panggilan hidupnya.

Pendidikan dalam istilah pendidikan iman harus kita mengerti dalam arti khusus yakni usaha manusia untuk menciptakan situasi dan suasana hidup beriman sedemikian rupa, hingga membantu dan mempermudah perkembangan iman. Pendidikan bukan merupakan suatu campur tangan langsung pendidik atas iman, tetapi usaha dari luar untuk membantu dan mempermudah perkembangan iman. Menurut John Roberto & Katie Pfiffner (2007:21), pembinaan iman anak akan lebih efektif jika dilakukan dengan cara menawarkan kegiatan-kegiatan yang bersifat menggali pengalaman, interaktif, dan menarik. John Roberto & Katie Pfiffner juga menyatakan bahwa pembinaan iman yang efektif yaitu dengan memberikan kesempatan bagi anak untuk mengalami dan merasakan pengalaman hidup mereka yang berkaitan dengan Kitab Suci dan tradisi Kristiani.

Pendidikan bagi anak-anak dalam segala bidang kehidupan terutama pendidikan iman, sebaiknya dilakukan sejak ini. Hal tersebut sangat penting dan mendesak untuk dipikirkan dan dilakukan oleh orang tua. Pendidikan iman anak

sejak dini sangat menentukan keberadaan dan kehidupan anak-anak mereka di masa depan, baik menyangkut kehidupan sosial, kehidupan beriman, maupun panggilan hidupnya. Konsili Vatikan II dalam Gravissimum Educationis menegaskan bahwa karena orang tua telah menyalurkan kehidupan kepada anak-anak terkait kewajiban amat berat untuk mendidik mereka. Maka orang tua harus diakui sebagai pendidik mereka yang pertama dan utama. Sebab merupakan kewajiban orang tua untuk dapat menciptakan lingkup keluarga, yang diliputi semangat bakti kepada Allah dan kasih sayang terhadap sesama, sehingga menunjang keutuhan pendidikan pribadi dan sosial anak-anak mereka (GE 3).

Mendidik iman anak sejak dini adalah hal yang sangat mendasar, mendesak dan bersifat hakiki, akibatnya pendidikan itu harus dilakukan sendiri oleh orang tuanya dan tidak dapat diambil alih oleh orang atau pihak lain. Keberadaan orang tua tidak dapat tergantikan (Prasetya, 2008:19). Anak-anak membutuhkan tempat pertumbuhan yang khusus dan berkesinambungan, yaitu keluarga untuk dapat mengembangkan kepribadian iman mereka. Melalui keluarga, anak-anak didampingi untuk tumbuh dan berkembang serta harus disiapkan dengan pendidikan iman yang baik dan memadai demi kehidupannya di masa depan (Prasetya, 2008:21).

Tujuan pendidikan dalam arti sesungguhnya ialah mencapai pembentukan pribadi manusia dalam perspektif tujuan terakhirnya dan demi kesejahteraan kelompok-kelompok masyarakat, di mana ia sebagai manusia adalah anggotanya dan bila sudah dewasa ia akan mengambil bagian menunaikan tugas kewajiban di dalamnya (GE 14). Pernyataan di atas mengungkapkan bahwa pendidikan memiliki tujuan yang mengarah pada pembentukan pribadi manusia yaitu pembentukan pribadi secara nyata dalam mencapai upaya hidup kekal bersama Allah di Surga. Menurut John Roberto & Katie Pfiffner (2007:22) pendidikan iman anak sebagai peluang untuk memelihara iman anak-anak, terutama di dalam keluarga.

Pendidikan iman anak sangat menentukan keberadaan dan kehidupan anak-anak di masa depan, baik yang menyangkut kehidupan pribadi, kehidupan sosial, kehidupan beriman, maupun panggilan hidupnya (Prasetya, 2008:17). Prasetya (2008:21) juga menegaskan bahwa melalui pendidikan iman yang baik, diharapkan kemudian hari anak-anak dapat menjadi pribadi yang matang serta beriman dewasa dan mendalam. Lebih jauh lagi, anak-anak diharapkan akan menjadi orang Katolik yang militan sehingga dapat diandalkan untuk menghidupi dan mengembangkan Gereja serta mewujudkan Kerajaan Allah di masa depan.

Menurut Darminta (2006:31) tanda kedewasaan seseorang terletak pada tindakannya yang selalu didasarkan pada hierarki nilai. Dengan melihat tanda tersebut maka salah satu tujuan pendidikan yang diberikan oleh orang tua adalah membantu anak untuk membangun hierarki nilai. Dalam membangun hierarki

nilai, anak diajak untuk belajar mengenali dan memahami nilai-nilai diri dan cerita hidupnya serta sesama manusia sebagai ciptaan Allah dalam sejarah. Orang tua Kristiani berusaha membantu anak untuk menghormati hidup sebagai pemberian Allah yang harus disyukuri dan dijaga serta dipelihara.

3. Pendidikan Iman dalam Keluarga Kristiani

Orang tua mempunyai tugas utama dan pertama bagi perkembangan iman anaknya untuk berkembang dan menjadikan iman anak secara utuh dan menyeluruh. Dalam membangun sebuah keluarga diperlukan kerja sama yang baik antara suami dan istri, sehingga tercipta suasana yang harmonis untuk bertumbuh dan berkembangnya iman anak. Untuk dapat membangun suasana iman anak dalam keluarga tentunya kedua orang tua memperhatikan dan mengajarkan kepada anak-anak dalam hal berdoa, mengenal Allah, dan belajar menghargai orang lain.

John Roberto & Katie Pfiffner (2007:24) menyatakan bahwa menjadi seorang Kristen merupakan proses seumur hidup, sehingga di setiap usia anak perempuan dan anak laki-laki membutuhkan bantuan orang dewasa dalam hidup mereka yang mau mendorong, memperhatikan, serta membantu mereka menanggapi kehadiran Tuhan di dalam kehidupan. Namun, saat ini sangat disayangkan jika masih ada beberapa orang tua yang mengira bahwa pendidikan iman bagi anak dapat mereka limpahkan dan percayakan seutuhnya kepada para guru agama Katolik atau kepada guru Sekolah Minggu di paroki. Orang tua masih

kurang menyadari bahwa pendidikan di luar rumah hanya sebagai pelengkap dan bukan sebagai pengganti pendidikan iman di rumah.

Nota Pastoral KAS (2007:25) menegaskan bahwa sebuah keluarga Katolik juga disebut Gereja kecil, apabila hidup semua anggotanya dijiwai dengan iman, yang terutama ditandai oleh sikap hormat dan kasih kepada Kristus dan Gereja-Nya. Iman mereka hendaknya diyakini, dipahami, diungkapkan, dirayakan, diwartakan, dan diamalkan secara terus menerus, baik di dalam maupun di luar rumah. Sebelum mendapatkan pendidikan di luar rumah, setiap

Dokumen terkait