PENDIDIKAN DI INDONESIA PADA MASA REFORMASI
A. DESKRIPSI SINGKAT ISI BAB V
2. Pendidikan Islam pada Masa Reformasi a. Pendidikan Madrasah
1) Perkembangan Madrasah Sebelum Lahirnya Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS.
296 Panduan Pengembangan Kurikulum Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan, loc. cit. Hlm. 8.
Setelah keruntuhan Orde Baru dan bangkitnya Orde Reformasi, maka arus demokratisasi demikian derasnya dalam kehidupan masyarakat saat ini.
Inti dan hakekat arus demokratisasi itu adalah pemberdayaan masyarakat, pemberdayaan arus bawah. Indonesia setelah era Reformasi ini merealisasikan kehendak sebagian besar masyarakat Indonesia untuk adanya Otonomi Daerah. Berkenaan dengan itu lahirlah Undang-Undang no. 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No. 25 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pusat dan Daerah dan diiringi pula PP No. 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom.297
Adapun pengertian daerah otonomi secara umum mengandung pengertian “sendiri”, ada juga memberi arti kemandirian ini dalam konteks bebas wujud memilih yang disertai adanya kemampuan. Penyelenggaraan otonomi daerah dilaksanakan dengan memberi kewenangan yang luas, nyata dan bertanggung jawab kepada daerah secara proporsional yang diwujudkan dalam peraturan, pembagian dan pemanfaatan sumber daya nasional yang berkeadilan serta perimbangan antara keuangan pusat dan daerah.298
Selanjutnya, menurut Abdul Rachman Shaleh, pelaksanaan Desentralisasi dan Otonomi Daerah menggambarkan hal-hal sebagai berikut:
a) Keputusan politik ditentukan oleh rakyat melalui DPRD.
b) Kekuasaan ditangan Kepala Daerah Tingkat II.
c) Daerah Tingkat II diberi wewenang untuk mengurus kepentingan masyarakat.
d) Mengatur kebijaksanaan wilayah bersama DPRD Tingkat II.
e) Meliputi aspek ekonomi, politik dan sosial budaya serta semua sektor pembangunan.
f) Kewenangan bidang agama dapat ditugaskan ke daerah.
g) Penggunaan sumber daya ditentukan oleh daerah berimbang.
h) Otonomi daerah dalam rangka ikatan Negara Kesatuan RI.
i) Ketergantungan Daerah ke Pusat secara politis semakin kecil.
j) SD/MI-SLTP/MTs-SMU/MA pengelolaannya dilakukan dalam satu tahap mengingat Madrasah adalah jenis pendidikan umum, sedangkan pendidikan keagamaan seperti Pesantren, Diniyah dan majelis taklim tetap menjadi kewenangan pusat. Visi dan misi keagamaan harus tetap memberi nuansa dalam pembinaan yang dilakukan.299
297 Ramayulis, Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia, 2012, Hlm. 361-362.
298 Ibid: 362.
299 Ibid: 362-363.
2) Perkembangan Madrasah Sebelum Pelaksanaan Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS.
Dengan adanya Otonomi daerah dan Disentralisasi pendidikan pada masa reformasi, terjadilah berbagai perubahan pada Madrasah yaitu:
a) Perubahan dalam aspek pengelolaan Madrasah.
Perubahan dalam aspek pengelolaan Madrasah ada dua bentuk:
(1) Pengelolaan Daerah Kabuapten Kota
Dengan adanya desentralisasi dan otonomi dalam bidang pendidikan terjadi perubahan kewenangan dalam penyelenggaraan pendidikan agama pada sekolah dan penyelenggaraan MI, MTs, MA diserahkan kepada Kabupaten/Kota sesuai azas desentralisasi pemerintah yang meliputi: (a) operasional penyelenggaraan (b) penjabaran kurikulum (c) penyediaan tenaga kependidikan (d) penyediaan sarana dan prasarana dan (e) penyediaan anggaran.300
(2) Pengelolaan Pemerintah Pusat
Sesuai dengan pembagian kewenangan dalam Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah dan Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom yang mengatur desentralisasi pendidikan, di mana pengaturan mengenai pendidikan oleh Pemerintah Pusat hanya berfokus di antara pada:
Penetapan standar kompetensi siswa dan warga belajar serta pengaturan kurikulm nasional dan penilaian hasil belajar secara nasional serta pedoman pelaksanaannya.
Penetapan standar ,ateri pelajaran pokok.
Penetapan persyaratan perolehan dan penggunaan gelar akademik.
Penetapan pedoman pembiayaan penyelenggaraan pendidikan.
Penetapan persyaratan penerimaan, perpindahan, sertifikasi siswa, warga belajar dan mahasiswa.
Perubahan dalam Aspek Pemberdayaan Madrasah, perubahan akan terlihat dalam pemberdayaan Madrasah berupa: (1) pemberdayaan manajemen, meliputi pemberdayaan SDM, pengelola pendidikan, kepala sekolah, guru, tenaga administrasi, pengawas dan lain sebagainya (2) siap memasuki era Manajemen Berbasis Sekolah.301 b) Perubahan dalam Aspek Pemberdayaan Madrasah.
Perubahan akan terlihat dalam pemberdayaan Madrasah berupa:
300 Ibid: 363.
301 Ibid: 363-364.
Pemberdayaan manajemen, meliputi pemberdayaan SDM, manusia pengelola pendidikan, kepala sekolah, guru, tenaga administrasi, pengawas dan lain sebagainya dan siap memasuki era manajemen berbasis sekolah.
Pemberdayaan sistemnya dari sistem top down ke bottom up, sentralisasi ke desentralisasi.
Pemberdayaan kebijakan, yaitu kebijakan yang memarjinalkan Madrasah kepada kebijakan yang membawa Madrasah ke center of excelent.
Pemberdayaan masyarakat, dengan melibatkan unsur-unsur masyarakat untuk ikut serta di dalam pemberdayaan Madrasah dengan cara meningkatkan peran serta stakeholder dan akuntabilitas.302
c) Perubahan Partisipasi Masyarakat
Perubahan partisipasi masyarakat dilihat dari aspek:
Penampungan aspirasi masyarakat dan memberdayakan masyarakat daerah pada Madrasah.
Adanya partispasi masyarakat dalam memilih dan menetpakan visi, misi dan skala prioritas dalam rangka pelaksaan Madrasah.
Adanya peluang untuk masuk nilai-nilai adat dan budaya lokal ke dalam kurikulum Madrasah.303
3) Perkembangan Madrasah dalam Pelaksanaan Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS.
Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, ini lebih banyak mengatur tentang kedudukan, fungsi, jalur, jenjang dan bentuk kelembagaan Madrasah. Sebagaimana tercantum dalam pasal 17 ayat (2) dan (3), Madrasah merupakan jenis pendidikan umum. Madrasah Ibtidayah dan Madrasah Tsanawiyah ditempatkan sebagai bentuk pendidikan dasar (sama dengan SD dan SMP). Madrasah Aliyah sebagai bentuk pendidikan menengah (sama dengan SMA) dan Madrasah Aliyah kejuruan sebagai bentuk Pendidikan Menengah Kejuruan (sama dengan SMK).304
Pada pendidikan Anak Usia Dini, jalur pendidikan formal sebagai bentuk Taman Kanak-Kanak, terdapat bentuk Raudhatul Athfal, yaitu menanamkan nilai Pendidikan Agama Islam, yang menanamkan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan pada peserta didik untuk mengembangkan potensi diri seperti pada taman kanak-kanak. Mengenai Pendidikan
302 Ibid: 364-365.
303 Ibid: 365.
304 Ibid: 365-366.
Keagamaan dalam ketentuan per-undangan SISDIKNAS dinyatakan berfungsi untuk mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memahami dan mengamalkan niali-nilai ajaran agamanya dan menjadi ahli ilmu agama (pasal 30 ayat 2). Dalam pelaksanaannya diperlukan dengan memperhatikan ketentuan tentang wajib belajar yang menjadi tanggung jawab pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat (pasal 34). Pendidikan keagamaan dapat diselenggarakan pada jalur pendidikan formal, nonformal dan infromal baik diselenggarakan oleh pemerintah dan kelompok masyarakat (pasal 130 ayat 1).305
Adapun bentuk pendidikan keagamaan adalah: (1) Pendidikan Diniyah (2) Pesantern (pasal 30 ayat 4) dan (3) Majelis Taklim sebagai salah satu nama dari jenis pendidikan non formal (pasal 26 ayat 4). Pendidikan Keagamaan dapat merupakan pendidikan Dasar, Menengah dan Tinggi (penjelasan pasal 15 alinea 6) sesuai dengan ketentuan-ketentuan seperti yang dimaksud di atas.
Pendidikan Diniyah hanya dapat diselenggarakan pada tingkat menengah.
Majelis taklim dikembangkan sesuai dengan keikhlasan dalam pengelompokkannya, seperti majelis taklim anak-anak, remaja, kaum ibu dan seterusnya.306
Sistem Pendidikan Nasional menghendaki peningkatan mutu pendidikan yang dilaksanakan secara berencana dan berskala, peningkatan mutu pendidikan tersebut didasarkan atas standar nasional yang dipergunakan sebagai acuan untuk pengembangan kurikulum, tenaga pendidikan, sarana, pengelolaan dan pembiayaan pendidikan (pasal 35 ayat 92) dalam hal ini termasuk mutu Madrasah. Suatu perubahan yang sangat momentum ialah suatu manajemen yang pada awalnya sentralistik diubah menjadi disentralisasi dan menempatkan otonomi pendidikan pada tingkat sekolah. pasal 36 ayat 2 dinyatakan kurikulum semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah dan peserta didik dalam suatu tatanan Manajemen Berbasis Sekolah (pasal 41 ayat1). Tentu saja Madrasah bertanggung kawab pula terhadap peningkatan mutu kelembagaan baik dalam bentuk proses pembelajaran amupun mutu lulusan.307
305 Ibid: 366.
306 Ibid.
307 Ibid: 367.
b. Pesantren pada Masa Reformasi
Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam paling awal di Indonesia. 308Pada masa sebelum kemerdekaan dimana pondok Pesantren dianggap sebagai lembaga pendidikan tradisional yang tertutup dan statis.
Sesuai dengan kemajuan dan perkembangan zaman terutama setelah Indonesia merdeka, telah timbul perubahan-perubahan dalam dunia Pesantren. Telah banyak diantara Pesantren yang menyesuaikan diri dengan kemajuan zaman tersebut, kendatipun di sana masih ditemukan juga Pesantren yang masih bersifat konservatif.309
Memasuki era 70-an, Pesantren mengalami perubahan cukup signifikan dan mengalami perkembangan kuantitas luar biasa dan menakjubkan, baik di wilayah pedesaan, pinggiran kota maupun perkotaan. Selian itu, terlihat pada Pesantren adanya tingkat keragamaan dan orientasi pimpinan Pesantren dan idependensi kyai/ ulama. Hal ini memperkuat argumantasi bahwa Pesantren merupakan lembaga pendidikan swasta yang sangat mandiri yang merupakan lembaga pendidikan berbasis masyarakat.310
Pesantren diperkirakan mengalami pertumbuhan pesat sebagai lembaga pendidikan Islam pada abad ke-19.311 Pesantren mulai berubah diri dengan melakukan berbagai inovasi untuk pengembangan sistem pendidikan baik oleh masyarakat maupun pemerintah. Dalam aspek kurikulum yaitu dengan masuknya pengetahuan umum dan keterampilan ke dalam Pesantren adalah sebagai upaya untuk memberikan bekal tambahan agar para santri bila telah menyelesaikan pendidikannya dapat hidup layak dalam masyarakat.
Terjadinya perubahan sistem pembelajaran dengan sistem klasikal yang menggunakan sarana dan peralatan pengajaran Madrasah sebagaimana yang berlaku di sekolah-sekolah. adanya Pesantren yang membuka, membina dan mengelola Madrasah-Madrasah atau sekolah umum baik tingkat dsar, menengah maupun perguruan tinggi.312
Menurut Haidar Putra Danlay, akhir-akhir ini timbulnya polaritasi Pesantren. Pesantren ini dapat dilihat dari dua aspek yaitu: (1) berdasarkan bangunan fisik dan (2) berdasarkan kurikulum.313
308 Arief Subhan, log. cit. Hlm. 75.
309 Ibid: 376.
310 Ibid.
311 Arief Subhan, log. cit: 80.
312 Ibid.
313 Ibid: 377.
1) Berdasarkan Bangunan Fisik
POLA I Keterangan
Masjid atau Rumah Kyai
Pesantren ini masih bersifat sederhana, di mana Kyai menggunakan Masjid atau rumahnya sendiri untuk tempat mengajar. Dalam pola ini santri hanya datang dari daerah Pesantren itu sendiri, namun mereka telah memperlajari ilmu agama secara kontinu dan sistematis.
Metode pengajaran: Wetonan dan Sorogan.
Pesantren ini telah memiliki sistem klasikal, dimana santri yang mondok mendapat pendidikan di Madrasah.
Ada kalanya murid Madrasah itu datang dari daerah sekitar Pesantren itu sendiri. Di samping sistem klasikal juga pengajaran sistem Wetonan dilakukan ileh Kyai.
POLA IV kegiatana memiliki tempat-tempat keterampilan. Misalnya:
perternakan, pertanian, kerajinan rakyat, toko, koperasi dan sebagainya. bisa digolongkan Pesantren mandiri. Pesantren seperti ini telah memiliki perpustakaan, dapur umum, ruang makan, kantor administrasi, toko, rumah penginapan tamu, ruang operation room, dan sebagainya. Di samping itu, Pesantren ini mengelola SMP, SMA dan SMK.314
314 Ibid: 377-378.
2) Berdasarkan Kurikulum
Berdasarkan kurikulum dapat dipolakan menjadi lima pola yaitu:
Pola I, materi pelajaran yang dikemukakan di Pesantren ini adalah mata pelajaran agama yang bersumber dari kitab-kitab klasik. Metode penyampai an adalah wetonan dan sorogan, tidak memakai sistem klasikal.
Santri dinilai dan diukur berdasarkan kitab yang mereka baca. Mata pelajaran umum tidak diajarkan, tidak mementingkan ijazah sebagai alat untuk mencari kerja. Yang paling dipentingkan adalah pendalaman ilmu-ilmu agama semata-mata melalui kitab-litab klasik.315
Pola II, pola ini hampir sama dengan Pola I di atas, hanya saja pada Pola II proses belajar mengajar dilaksanakan secara klasikal dan non klasikal, juga diajarkan pendidikan keterampilan dan pendidikan berorganisasi. Pada tingkat tertentu diberikan sedikit pengetahuan umum. Sabtri dibagi jenjang pendidikan mulai dari tingkat Ibtidayah, Tsanawiyah, Aliyah. Metode:
wetonan, sorogan, hafalan dan musyawarah.316
Pola III, pada pola ini mata pelajaran telah dilengakapi dengan mata pelajaran umum dan ditambah pula dengan memberikan aneka macam pendidikan lainnya, seperti keterampilan, kepramukaan, olahraga, kesenian dan pendidikan berorganisasi dan sebagian talah melaksanakan program pengembangan masyarakat.317
Pola IV, pola ini menitikberatkan pelajaran keterampilan di samping pelajaran agama. Keterampilan ditujukan untuk bekal kehidupanbagi seorang santri setelah tamat dari Pesantren ini. Keterampilan yang diajarkan adalah pertanian, pertukangan dan peternakan.318
Pola V, pada pola ini materi yang diajarkan di Pesantren adalah sebagai berikut:
a) Pengajaran kitab-kitab klasik seperti pada pola I.
b) Madrasah, di Pesantren ini diadakan pendidikan model Madrasah, selain mengajarkan mata pelajaran agama juga mengajarkan mata pelajaran umum. Kurikulm Madrasah pondok dapat dibagi kepada dua bagian, yaitu: (1) kurikulum yang dibuat oleh pondok sendiri dan (2) kurikulum pemerintah dengan memodifikasi materi pelajaran agama.
c) Sekolah umum, di Pesantren ini dilengkapai dengan sekolah umum.
Sekolah umum yang ada di Pesantren, materi pelajaran umum seluruhnya berpedomana kepada kurikulum Departemen Pendidikan Nasional.
315 Ibid: 378.
316 Ibid.
317 Ibid.
318 Ibid: 378-379.
Sedangkan materi pelajaran agama disusun oleh pondok sendiri. Di luar kurikulum pendidikan agam yang diajarakan di sekolah pad waktu-waktu yang sudah terjadwal, santri menerima pendidikan agama lewat membaca kitab klasik.
d) Perguruan tinggi, pada beberapa Pesantren yang tergolong Pesantren besar telah membuka Universitas atau Perguruan Tinggi.319
Dengan melakukan berbagai inovasi seperti yang terlihat pada pola di atas, adalah upaya menjawab tantangan zaman dan mengejar ketertinggalan, khususnya dibidang sosial kemasyarakatan. Karena walau bagaimanapun Pesantren pada dasarnya tumbuh dan berkembang dari oleh dan untuk masyarakat. Ini terlihat misalnya dengan masuknya pengetahuan umum dan keterampilan ke dalam Pesantren adalah sebagai upaya untuk memberikan bekal tambahan agar para santri bila telah menyelesaikan pendidikannya dapat hidup layak dalam masyarakat.masuknya sistem klasikal dengan menggunakan sarana dan peralatan pengajaran Madrasah sebagaimana yang berlaku di sekolah-sekolah bukan barang baru lagi Pesantren. Bahkan ada Pesantren yang lebih cenderung membina dan mengelola Madrasah-madrasah atau sekolah umum, baik tingkat dasar, menengah maupun perguruan tinggi.320
Uniknya dengan semua perubahan tersebut Pesantren sama sekali tidak tercabut dari akar kulturnya secara umum. Pesantren tetap memiliki fungsi sebagai: (1) lembaga pendidikan yang melakukan transformasi ilmu-ilmu agama (tafaqquh fi al-din) dan penanaman (internalisasi) nilai-nilai Islam (Islamic values) (2) lembaga keagamaan yang melakukan kontrol sosial dan (3) lembaga keagamaan yang melakukan rekayasa sosial.321
Menilik proses perubahan yang terjadi di Pesantren, tampak bahwa hingga dewasa ini, lembaga tersebut telah memberi kontribusi penting dalam penyelenggaraan Pendidikan Nasional. Keberadaan Pesantren sebagai lembaga pendidikan baik yang masih mempertahankan sistem pendidikan tradisional maupun yang sudah mengalami perubahan, memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Dari waktu ke waktu, Pesantren semakin tumbuh dan berkembang kuantitas maupun kualitasnya.
Dengan melakukan inovasi sistem pendidikan, Pesantren semakin kompetitif.
Meskipun melakukan berbagai inovasi pendidikan, sampai saat ini pendidikan Pesantren tidak kehilangan karakteristiknya yang unik, yang membedakan
319 Ibid: 379.
320 Ibid: 379-380.
321 Ibid: 380.
dirinya dengan model pendidikan umum yang diformulasikan dalam bentuk sekolahan.322
Pondok Pesantren selain mengembangkan aspek pokok yaitu pendidikan Islam dan dakwah juga mengembangkan hampir semua aspek kemasyarakatan terutama yang berkaitan dengan ekonomi dan kebudayaan.
Adapun beberapa contoh aspek kehidupan kemasyarakatan yang berkembang di Pondok Pesantren, adalah:
a) Pendidikan agama dan pengajian kitab
Pendidikan agama melalui pengajian kitab yang diselenggarakan oleh pondok Pesantrenadalah komponen kegiatan utama atau pokok dari pondok Pesantren. Dari segi penyelenggarannya seperti tersebut di atas, diserahkan sepenuhnya kepada kebijakan Kyai atau pengasuh pondok Pesantren. Tujuan kegiatan pengajian kitab ini terutama adalah untuk mendalami ajaran agama Islam dari sumber aslinya (kitab-kitab kuning yang dikarang oleh ulama pada abad pertengahan) sehingga terpelihara kelestarian pendidikan keagamaan, dan juga melahirkan calon ulama sebagimana misi pondok Pesantren.323
b) Pendidikan dakwah
Pendidikan dakwah seperti halnya, pendidikan agama (pengajian) merupakan salah satu pokok penyelenggara pondok Pesantren. Bahkan pondok Pesantren dapat berfungsi sebagai lembaga keagamaan yang menyebarkan agama Islam.324
c) Pendidikan formal
Pendidikan formal diselenggarakan dalam bentuk Madrasah atau sekolah umum, serta sekolah kejuruan lainnya. Dengan mengembangkan dan membina pendidikan formal di pondok Pesantren diharapkan lulusan pondok Pesantren disamping santri memiliki pengetahuan agama dan keterampilan praktis, juga memiliki pengetahuan akademis yang bermanfaat bagi kehidupannya dikemudian hari.325
d) Pendidikan Seni
Pendidikan seni dimaksudkan untuk lebih meningkatkan apresiasi para santri terhadap bermacam-macam bentuk kesenian terlebih kesenian yang berbentuk Islami.326
322 Ibid.
323 Ibid: 380-381.
324 Ibid: 381.
325 Ibid.
326 Ibid.
e) Pendidikan Kepramukaan
Pendidikan kepramukaan merupakan suatu sistem pendidikan di luar pendidikan rumah tangga, masyarakat dan sekolah yang sangat baik untuk melatih dan meningkatkan kreativitas, disiplin dan dinamika santri.327
f) Pendidikan olahraga dan seni
Pendidikan olahraga besar sekali manfaatnya untuk menjaga keseimbangan kesehatan jasmani, sedangkan pendidikan seni sangat baik untuk memperhalus perasaan.328
g) Pendidikan Keterampilan/kejuruan
Pendidikan keterampilan/kejuruan dikembangkan di pondok Pesantren untuk kepentingan dan kebutuhan para santri sebagai modal untuk menjadi manusia yang berjiwa wiraswasta dan sekaligus menunjang pembangunan masyarakat di lingkungan pondok Pesantren. Jenis pendidikan keterampialan yang ada antara lain: elektronika, menjahit, anyaman, perbengkelan dan lain-lain.329
h) Pengembangan Masyarakat
Pengembangan masyarakat di lingkungan pondok Pesantren diselenggarakan dengan mengingat potensi dan pengaruh pondok Pesantren yang luas dalam masyarakat. Sehubungan dengan hal tersebut, maka pondok Pesantren sangat baik dalam pengembangan dan pembangunan masyarakat sekitar Pesantren.330
i) Penyelenggaraan kegiatan sosial
Penyelenggaraan kegiatan sosial yang diselenggarakan pondok Pesantren merupakan kegiatan yang sangat penting dikembangkan dalam rangka membantu masyarakat di sekitar Pesantren.331
Oleh karena itu, menurut Rusli Karim terdapat kecenderungan-kecenderungan baru dalam rangka inovasi terhadap sistem yang selama ini digunakan, yaitu:
a) Mulai akrab dengan metodologi ilmiah modern.
b) Semakin berorientasi pada pendidikan dan fungsional, artinya terbuka atas perkembangan di luar dirinya.
c) Diversifikasi program dan kegiatan makin terbuka dan sekaligus dapat membekali para santri dengan berbagai pengetahuan di luar mata
327 Ibid.
328 Ibid: 382.
329 Ibid.
330 Ibid.
331 Ibid.
pelajaran agama maupun keterampilan yang diperlukan di lapangan kerja.
d) Dapat berfungsi sebagai pusat pengembangan masyarakat.332
Kendatipun demikian, Pesantren masih tetap mempertahankan suatu sistem pengajaran tradisional yang menjadi ciri khasnya, yaitu metode sorogan, tampak dalam berbagai bentuk bimbingan individual, sedangkan metode bendongan, tampak dalam kegiatan-kegiatan caramah umum yang sekarang kegiatan seperti ini lebih dikenal dengan Majelis Ta’lim.333
Sejalan dengan hal di atas sebagai lembaga indegoneus, menurut Azra, Pesantren memiliki akar sosio historis yang cukup kuat, sehingga membuatnya mampu menduduki posisi yang relatif sentral dalam dunia keilmuan masyarakatnya dan sekaligus bertahan di tengah-tengah gelombang perubahan dengan cara menyesuaikan diri dengan gelombang perubahan tanpa tercabut dari budaya dan komitmen keIslaman.334
c. Perkembangan Perguruan Tinggi Islam
Pendidikan Tinggi (PT) merupakan jenjang pendidikan yang dilakukan setelah Sekolah Menengah Atas. Dalam Undang-Undang No. 20 tahun 2003, disebutkan bahwa yang dimaksud dengan “Pendidikan Tinggi merupakan kelanjutan pendidikan menengah yang diselenggarakan untuk menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik atau profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi atau kesenian.335
Pendidikan Tinggi bisa dijabarkan lagi dalam bentuk Akademik, Politeknik, Sekolah Tinggi, Institut atau Unversitas. Artinya, ada banyak ragam yang bisa dikatakan untuk menyebutkan suatu jenjang Pendidikan Tinggi sebagaimana disebutkan di atas. Di Indonesia semua bentuk lembaga pendidikan itu disebut perguruan tinggi.336
Perguruan Tinggi Islam (PTI) sebenarnya sudah dibuka semenjak sebelum kemerdekaan. Mahmud Yunus sudah mendirikan PTI pertama tanggal 9 Desember 1940 di Padang, Sumatera Barat dengan nama Islamic Colegge. Lembaga tersebut terdiri dari dua fakultas yaitu sayriat/agama dan
332 Ibid: 382-383.
333 Ibid: 383.
334 Ibid.
335 Ibid: 367.
336 Ibid.
pendidikan serta Bahasa Arab. Tujuan yang ingin dicapai lembaga ini adalah untuk mendidik ulama-ulama.337
Pada tahun 1945 tepatnya 8 Juli 1945 dengan bantuan pemerintah pendudukan Jepang, disaat peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhamad SAW, didirikan Sekolah Tinggi Islam di Jakarta. Tujuan dari pendirian lembaga pendidikan tinggi ini pada mulanya adalah untuk mengeluarkan alim ulama yang intelek, yaitu mereka yang mempelajari ilmu pengetahuan agama Islam secara luas dan mendalam serta mempunyai pengetahuan umum yang perlu dalam masyarakat modern sekarang.338
Sebelum belajar pada lembaga pendidikan ini diberikan program-program (martikulasi). Program matrikulasi ini terbuka bagi pemegang ijazah Sekolah Menengah Hindia Belanda dahulu, dan juga bagi mereka yang telah lulus dari suatu Madrasah Aliyah. Kedua jenis lulusan ini pada umumnya memerlukan kursus pendahuluan selama satu atau dua tahun. Bagi lulusan Sekolah Menengah Hindi Belanda, dimaksud untuk menambah pengetahuan Bahasa Arab dan pengetahuan Agama. Sedangkan bagi alumnus Madrasah Aliyah untuk memperoleh mutu yang lebih tinggi dalam pengetahuan umum.
Sedangkan mengenai karier dimasa depan para lulusan, disebutkan jabatan-jabatan:
1) Sebagi guru agama pada berbagai macam sekolah.
2) Pejabat pada Peradilan Agama.
3) Sebagai Pegawai Negeri dan Dinas Keagamaan.339
Namun, pada bulan Desember 1945, tatkala Jakarta diduduki dan dikuasai oleh pasukan Sekutu di bawah pimpinan Jenderal Cristianson, maka untuk sementara Perguruan Tinggi ini terpaksa ditutup dan baru pada tanggal 10 April 1946, Perguruan Tinggi ini dibuka kembali dengan mengambil tempat di Yogyakarta. Kemudian, pada tanggal 22 Maret 1948 Sekolah Tinggi Islam (STI) diubah menjadi Universitas Islam Indonesia (UII) dengan beberapa fakultas, yaitu:
1) Fakultas Agama.
2) Fakultas Hukum.
3) Fakultas Ekonomi.
4) Fakultas Pendidikan.340
Perguruan Tinggi Islam Negeri terdiri dari fakultas-fakultas keagamaan mulai mandapat perhatian pada tahun 1950. Pada tanggal 12
337 Ibid: 368.
338 Ibid.
339 Ibid.
340 Ibid: 368-369.
Agustus 1950, Fakultas Agama UII dipisahkan dan diambil alih oleh pemerintah. Pada tanggal 26 September 1951, secara resmi dibuka Perguruan Tinggi baru dengan nama PTAIN (Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri) di bawah pengawasan Kementerian Agama. Pada tahun 1957, di Jakarta didirikan pengawasan Akadeni Dinas Ilmu Agama (ADIA). Akademi ini bertujuan sebagai sekolah latihan bagi para pejabat yang berdinas di pemerintahan (Kementrian Agama) dan untuk pengajaran agama di sekolah.
pada tahun 1960, PTAIN dan ADIA disatukan menjadi IAIN, sehingga PTAIN di Yogyakarta berubah nama menjadi IAIN Sunan Kalijaga, sedangkan ADIA Jakarta berubah nama menjadi IAIN Syarif Hidayatullah.341
Nampaknya kedua IAIN ini belum memenuhi kebutuhan umat Islam
Nampaknya kedua IAIN ini belum memenuhi kebutuhan umat Islam