• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendidikan Islam Di Sekolah

BAB II PEMBAHASAN

C. Pendidikan Islam Di Sekolah

Sejak awal kemerdekaan republik indonesia, pendidikan agama telah dilaksanakan di sekolah sekolah . pelaksanaan pendidikan agama itu adalah implementasi dari landasan filosofis bangsa yang tertera dalam sila pertama pancasila, yakni ketuhanan yang maha esa. Landasan konstitusional undang-undang dasar 1945 pasal 29, yang menjelaskan tentang kedudukan agama di indonesia , dan landasan sosial religius masyarakat indonesia sebagai masyarakat yang beragama.

Tujuan terpenting dari pendidikan agama di lingkungan sekolah adalah agar terbentuknya peserta didik yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan YME berakhlak mulia serta mengamalkan ajaran agamanya dengan sebaik baiknya dan juga dapat menghargai dan menghormati penganut agama lain sesuai dengan keberadaan indonesia yang pluralis yang trediri dari berbagai etnis , ras , bahasa , budaya , daerah dan agama di tuntut tetap untuk senantiasa dapat menjaga kesatuan bangsa.

Pendidikan agama di sekolah telah dilaksanakan sejak tahun 1947, sampai sekarang telah terjadi dinamika seputar pendidikan agama. Setidaknya telah terjadi tiga fase perkembangan pendidikan agama di sekolah

Fase pertama (pada tahun 1946 – 1965) pada fase ini pendidikan agama kelihatannya masih bersifat fluktuatif dengan indikasinya bahwa ada statemen dalam undang undang tentang dasar dasar pendidikan dan pengajaran di

sekolah ( UU No. 4 tahun 1950) bahwa orang tua menetapkan apakah anaknya ikut atau tidak dalam pendidikan agama begitu juga orang dewasa berhak menentukan apakah di amengikuti pendidikan agama atu tidak , selain itu dicantumkan juga bahwa pendidikan agama tidak mempengaruhi kenaikan kelas . hal ini tertera pada Bab XXII pasal 20 UU No. 4 tahun 1950 yang berbunyi “Menetapkan Pendidikan Agama menjadi mata pelajaran di sekolah-sekolah mulai dari Sekolah Rakyat sampai dengan Universitas-Universitas Negeri, dengan pengertian bahwa murid-murid berhak tidak ikut serta, apabila wali murid/murid dewasa menyatakan keberatan.”

Fase kedua ( 1966 – 1989 ), pada fase ini adalah orde baru .PKI ( partai komunis indonesia ) di bubarkan dan sekaligus juga melarang ideologi komunis di indonesia. Untuk menghilangkan ideologi komunis di indonesia salah satu alat yang ampuh adalah dengan meningkatkan peranan pendidikan agama. Maka sejak di gelarnya sidang MPRS pada tahun 1966 , di tetapkan bahwa pendidikan nasional bertujuan antara lain mempertinggi mental , moral-budi pekerti dan memperkuat keyakinan agama. Dengan demikian , posisi pendidikan agama bertambah kuat dibanding dengan posisi fase pertama, tertuang juga keputusan sidang MPRS nomor XXII/MPRS/1966 Bab I pasal 1 yang berbunyi: “Menetapkan pendidikan agama menjadi mata pelajaran di sekolah-sekolah mulai dari Sekolah Rakyat sampai Universitas-Universitas Negeri.”

Fase ketiga ( 1990 sampai dengan sekarang ) setelah diberlakukannya undang undang No. 2 tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional .pada fase

ini status pendidikan agama semakin kuat , pendidikan agama masuk dalam sistem pendidikan nasional lewat undang undang tentang sistem pendidikan nasional lewat undang undang tentang sistem pendidikan UU No. 2 tahun 1989 yang berbunyi “Diusahakan supaya terus bertambah sarana-saran yang diperlukan bagi pengembangan pendidikan keagamaan dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa termasuk pandidikan agama yang dimasukkan ke dalam kurikulum di sekolah-sekolah mulai dari Sekolah Dasar samppai dengan Universtas-Universitas Negeri.”

Dari sejarah itu maka pendidikan agama disekolah di indonesia merupakan mata pelajaran yang wajib untuk di ikuti di oleh semua anak. Dengan melihat sejarah dan alasan munculnya pendidikan agama di indonesia maka kita bisa mendapatkan bebrapa tujuan adanya pendidikan agama di sekolah bagi anak yaitu :

1. Membentuk moral dan akhlak anak indonesia sejak kecil 2. Membentuk kecintaan tanah air yang berlandaskan agama 3. Menerima kebhineka tunggal ikaan di indonesia

4. Mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa

5. Mengembangkan potensi didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada tuhan yang maha esa, berakhlak mulia , dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Sedangkan pengertian pendidikan agama Islam (PAI) adalah usaha sadar untuk menyiapkan siswa dalam meyakini, memahami, menghayati, dan mengamalkan agama Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau

latihan dengan memperhatikan tuntutan untuk menghormati agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional

Masyarakat yang beragam membutuhkan ikatan keadaban yang dapat dibangun dari nilai-nilai universal ajaran agama. Oleh karena itu guru harus bisa mampu membelajarkann pendidikan agama yang difungsikan sebagai panduan moral, mengangkat dimensi-dimensi konseptual ajaran agama seperti kejujuran, keadilan, kebersamaan, kesadaran akan hak dan kewajiban, musyawarah dan sebagainya untuk diaktualisasikan dalam kehidupan sesungguhnya.

Dalam islam juga memuat pandangan universal yaitu bahwa manusia diciptakan oleh Allah sebagai makhluk tertinggi/termulia (Q.S At-Tin:4 dan Al-Isra’: 70). Di sisi lain manusia juga diiciptakan sebagai makhluk dhoif (Q.S An-Nisa’:28) sehingga setiap manusia mempunyai potensi salah.

Tujuan pendidikan agama islam di sekolah menurut Standar Isi Badan Standar Pendidikan Nasional adalah: menumbuhkebangkan akidah melalui pemberian, pemupukan, dan pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, pembiasaan, serta pengalamanpeserta didik tentang agama islamsehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT; mewujudkan manusia yang taat beragama dan berakhlak mulia yaitu manusia yang berpengetahuan, rajin beribadah, cerdas, produktif, jujur, adil, etis, berdidiplin, bertoleransi (tasamuh), menjag a keharmonisan secara personal dan sosial serta mengembangkan budaya agama dalam komunitas sekolah.

Untuk mencapai tujuan tersebut maka ruang lingkup pendidikan agama Islam meliputi lima aspek pokok, yaitu Al Quran dan AL Hadist, Aqidah, Akhlak, Fiqih, Tarikh dan Kebudayaan Islam. Al Quran dan Al Hadist merupakan sumber utama ajaran islam artinya merupakan sumber aqidah, akhlak, Fiqih dan tarikh, aqidah merupakan akar atau pokok agama. Fiqih dan akhlak merupakan manifestasi dari dari aqidah. Akhlak merupakan aspek sikap hidup manusia artinya bagaimana sistem norma mengatur hubungan manusia dengan Allah dan antar sesama manusia.

Pembelajaran berhubungan dengan bagaimana membuat siswa dapat belajar dengan mudah dan terdorong oleh kemauannya untuk belajar sendiri untuk mempelajari apa yang teraktualisasi dalam kurikulum sebagai kebutuhan peserta didik.

Dalam pembelajaran terdapat tiga komponen utama yang mempengaruhi pembelajaran pendidikan Agama Islam

1. Kondisi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI)

Kondisi pembelajaran PAI adalah semua faktor yang mempengaruhi penggunaan metode pembelajaran PAI. Kondisi ini berinteraksi dengan pemilihan, penetapan, dan pengembangan metode pembelajaran PAI. Kondisi pembelajaran PAI dapat diklasifikasikan menjadi tujuan pembelajaran, karakteristik bidang studi PAI, karakteristik peserta didik, dan kendala pembelajaran. Secara umum tujuan pembelajaran PAI adalah mengantarkan peserta didik mampu memilih al quran sebagai pedoman hidupnya. Menurut karakakteristiknya, PAI

menuntut adanya fakta, hukum, prinsip dan keimanan yang menyajikan kebenaran Al Quran sebagai pedoman hidup manusia. Peserta didik pasti memiliki perbedaan perkembangan kognitif, sosial, budaya, dan sebagainya. Dilihat dari segi kendala ada lembaga yang memiliki tenaga pendidik dan kependidikan yang memenuhi standar profesional dan ada juga lembaga yang tidak memilikinya. Dilihat dari ketersediaan sarana prasarana ada lembaga yang lengkap memilikinya dan ada juga yang tidak lengkap memilikinya.

2. Metode Pembelajaran agama Islam

Metode pembelajaran dapat diklasifikasikan menjadi: (1) strategi pengorganisasian, (2) strategi penyampaian, (3) strategi pengelolaan pembelajaran. Strategi pengorganisasian meliputi pengorganisasian bidang studi PAI yang mengacu pada kegiatan pemilihan isi, penataan isi, pembuatan diagram, skema, format dan sebagainya. Strategi penyampaian pembelajaran PAI adalah metode-metode penyampaian pembelajaran PAI yang dikembangkan untuk membuat siswa dapat merespon dan menerima pelajaran PAI dengan mudah, cepat dan menyenangkan. Komponen komponen yang mempengaruhi strategi penyampaian ini yaitu media pembelajaran dan interaksinya dengan peserta didik serta pola atau bentuk belajar mengajar.

Strategi pengelolaan pembelajaran adalah metode untuk menata interaksi antara peserta didik dengan komponen-komponen pembelajaran lain. Empat hal yang harus diperhatikan dalam strategi pengelolaan

pendidikan yaitu: (1) penjadwalan kegiatan pembelajaran yang menunjukan tahap-tahap kegiatan yang harus ditempuh peserta didik dalam pembelajaran, (2) pembuatan catatan kemajuan belajar psereta didik melalui peneilaian berkala dan komprehensif dan berkala, (3) pengelolaan motivasi motivasi peserta didik.

Menurut Mujib dan Mudzakkir (2008) menyatakan bahwa bentuk metode pendidikan islamyang relavan dan efektif dalam pembelajaran pendidikan agama Islam adalah:

(1) Metode Diakronis

Metode Diakronis adalah metode mengajar islam yang menonjolkan aspek sejarah, memberi pemahaman terhadap suatu metode pemahaman terhadap suatu kepercayaan, sejarah atau kejadian dengan melihatnya sebagai suatu kenyataan yang memliki kesatuan yang mutlak dengan waktu, tempat, kebudayaan, golongan, dan lingkungan tempat kepercayaan, sejarah, dan kejadian itu muncul.

Metode ini menyebabkan peserta didik ingin megetahui, memahami, menguraikan, dan meneruskan ajaran-ajaran islam dari sumber-sumber dasarnya, yakni Al Quran dan Al Hadist serta latar belakang sejarahnya. (2) Metode Sinkronis-Analitis

Metode Sinkronis-Analitis adalah metode yang memberikan kemampuan analisis, teoretis yang teknnik pengajarannya meliputi diskusi, lokakarya, seminar, kerja kelompok, resensi buku, lomba karya ilmiah dan sebagainya.

Metode ini merupakan pelatihan peserta didik yang dihadapkan pada berbagai masalah suatu cabang ilmu pengetahuan dengan solusinya. Metode ini dapat dikembangkan melalui teknik simulasi, micro-teaching,

critical incident. (4) Metode Empiris

Metode empiris adalah suatu metode mengajar yang memungkinkan peserta didik mempelajari ajaran Islam melalui proses realisasi, aktualisasi, serta internalisasi norma-norma dan kaidah islam melalui proses aplikasi yang menimbulkan suatu interaksi sosial.

(5) Metode Induktif

Metode induktif adalah metode yang dilakukan oleh pendidik dengan cara mengajarkan materi yang khusus menuju kepada kesimpulan yang umum.

(6) Metode Deduktif

Metode deduktif adalah metode yang dilakukan oleh pendidik dalam pengajaran ajaran Islam melalui cara menampilkan kaidah yang umum kemudian menjabarkannya dengan berbagagai contoh masalah sehingga menjadi terurai

3. Hasil Pembelajaran pendidikan Agama Islam

Hasil pembelajaran dapat diklasifikasikan menjadi keefektifan, efisiensi dan daya tarik. Keefektifan dapat diukur dengan kriteria: kecermatan penguasaan kemampuan atau perilaku yang dipelajari, kecepatan untuk kerja sebagai bentuk hasil belajar, kesesuaian dengan prosedur kegiatan belajar mengajar yang ditempuh, kuantitas dan kualitas

hasil kerja, tingkat alih belajar dan tingkat retensi belajar. Efesiensi belajar dapat diukur dengan rasio antara keefektifan dengan jumlah waktu yang digunakan dengan jumlah biaya yang dikeluarkan.

Pembelajaran PAI di sekolah juga bertujuan untuk menciptakan suasana religius di sekolah sehingga sekolah akan mencetak generasi-generasi baru yang islami. Menurut Muhaimin (2008) religiusitas dapat diwujudkan dalam berbagai sisi kehidupan manusia. Aktivitas beragama tidak hanya terjadi saat seseorang beribadah, tetapi saat melakukan aktivitas lain yang didorong oleh kekuatan supranatural.

Menurut islam, religiusitas adalah melaksanakan ajaran agama islam secara menyeluruh (Q.S Al Baqarah: 208). Karena itu setiap muslim, baik dalam berpikir, bersikap, dan bertindak, diperintahkan untuk berislam. Dalam melakukan aktivitas ekonom, sosial, politik, atau aktivitas apapun seorang muslim diperintahkan untuk melakukannya dalam rangka beribadah kepada Allah.

Untuk menciptakan suasana religius di sekolah diperlukan model khusus untuk merealisasikannya. Model penciptaan suasana religius sangat dipengaruhi oleh situasi dan kondisi, tempat model itu akan diterapkan beserta penerapan nilai-nilai yang menyertainya. Terdapat beberapa model untuk menerapkan suasana religiusitas di sekolah antara lain:

1. Model Struktural

Penciptaan suasana religiusitas dengan mode struktural dilakukan dengan penciptaan suasana religius yang disemangati oleh adanya peraturan-peraturan, pembangunan kesan, baik dari dunia luar atas kepemimpinan atau kebijakan lembaga pendidikan. Model ini menerapkan kegiatan

keagamaan yang dibuat atas prakarsa dari instruksi dari pimpinan 2. Model Formal

Penciptaan suasana religius model formal yaitu menciptakan suasana religius yang didasari atas pemahaman bahwa pendidikan agama adalah upaya manusia untuk mengajarkan masalah-masalah kehidupan akhirat atau ruhani saja, sehingga pendidikan agama dihadapkan dengan pendidikan non-keagamaan, pendidikan ke-Islam-an dan non-ke-Islam-an, demikian seterusnya. Model ini berimplikasi terhadap pengembangan pendidikan agama yang lebih berorientasi pada akhirat, sehingga masalah keduniaan dianggap tidak penting dan adanya pemisahan antara sains dan agama.

3. Model Mekanik

Hal yang mendasari model mekanik dalam penciptaan suasana religius di sekolah adalah pemahaman bahwa kehidupan terdiri atas berbagai aspek dan pendidikan dipandang sebagai penanaman dan pengembangan seperangkat nilai kehidupan yang masing-masing bergerak dan berjalan sesuai fungsinya. Model ini berimplikasi terhadap pengembangan pendidikan agama yang lebih menonjolkan fungsi moral dan spiritual atau dimensi afektif dibanding kognitif dan psikomotor.

4. Model Organik

Penciptaan suasana religius dengan model organik yaitu menciptakan suasana religius yang disemangati oleh adanya pandangan bahwa pendidikan agama adalah suatu kesatuan atau suatu sistem yang berusaha mengembangkan pandangan hidup agamis yang diaplikasikan dalam sikap hidup dan keterampilan

hidup yang religius.Implikasi model ini adalah adanya pengembangan pendidikan agama yang dibangun dari fundamental doctrins dan fundamental values yang tertuang dalam Al Quran dan As Sunah.

Menurut Kosim (2010) upaya optimalisasi penerapan pendidikan agama Islam dapat dilakukan dengan: pertama, menerapkan pengintegrasian Pendidikan Agama Islam (PAI) ke dalam mata pelajaran umum. Program ini sebenarnya telah dilakukan sejak pada tahun 1994 dengan program PWKG lalu dikembangkan menjadi program peningkatan Imtaq atau dikenal juga dengan integrasi IMTAQ dan IPTEK. Namun sejak awal tahun 2000, program ini tidak lagi diterapkan dan mendapat perhatian dari pemerintah. Padahal upaya mengintegrasikan PAI ke dalam mata pelajaran umum akan menghilangkan dikotomi antara ilmu dan agama. Peserta didik juga akan mampu memahami dan merasakan bahwa semua ilmu berasal dari Allah sehingga kelak ia menjadi ‘alim (orang yang berilmu) dan dekat dengan al-‘Alim (Yang Maha Mengetahui). Jadi pemerintah daerah diharapkan membentuk tim untuk mendesain kurikulum setiap mata pelajaran umum dengan corak terintegrasi PAI. Adapun kesulitan guru-guru umum dalam mengintegrasikan PAI tersebut dapat diatasi dengan menyusun panduan yang lebih jelas serta mengadakan pelatihan-pelatihan secara berkelanjutan dan terorganisir.

Kedua, menerapkan pendidikan al-Qur’an di sekolah. Misalnya melalui Peraturan Daerah, Pendidikan Agama Islam dijadikan mata pelajaran muatan lokal yang dapat diterapkan di SD, SMP, SMA dan SMK.

Ketiga, melanjutkan dan meningkatkan kualitas program keagamaan yang telah ditetapkan oleh pemerintah daerah. Berbagai kegiatan keagamaan yang telah diprogramkan pemerintah mesti dilanjutkan dan dipastikan berjalan dengan baik. Misalnya ada program wirid remaja, subuh mubarakah, berpakaian muslim di sekolah, pesantren Ramadhan dan sebagainya. Semua kegiatan tersebut mesti dievaluasi dan ditindaklanjuti. Tidak saja guru, akan tetapi perangkat kelurahan hingga RT dan RW juga diharapkan bertanggungjawab pelaksanaan kegiatan keagamaan di masyarakat, seperti wirid remaja dan subuh mubarakah tersebut. Demikian pula memakai pakain menutup aurat, termasuk jilbab tidak hanya tanggungjawab sekolah, akan tetapi lembaga kursus seharusnya mendukung kebijakan tersebut dengan membuat aturan setiap siswi muslim juga wajib mengenakan jilbab dan menutup aurat dalam mengikuti kursusu tersebut. Tanpa dukungan masyarakat, maka kebijakan keagamaan yang ditetapkan pemerintah hanya sekedar formalitas belaka.

Keempat, menerapkan model sekolah berwawasan imtaq. Sejak tahun 2007, Ditjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PMPTK) Departemen Agama telah menyusun konsep Sekolah Berwawasan Imtak. Rencananya piloting sekolah tersebut akan diterapkan pada Tahun 2010. Sebenarnya model ini sudah dilakukan di beberapa sekolah umum swasta, semacam sekolah Islam terpadu. Terlepas dari ada tidaknya piloting tersebut, pemerintah daerah sejatinya melakukan inovasi dengan membina sekolah– setidaknya satu sekolah negeri–di setiap kota/kabupaten sebagai model sekolah berwawasan imtaq tersebut. Akan lebih baik lagi jika sekolah tersebut

diasramakan (boarding) sehingga pembinaan agama lebih efektif dilakukan. Model sekolah ini diharapkan dapat dicontoh oleh sekolah lain sehingga akan tercipta kompetisi masing-masing sekolah dalam mendidik generasi yang berkualitas iman, ilmu, dan amal.

Kelima, melengkapi sarana pembinaan agama Islam di sekolah. Untuk mendukung kegiatan pendidikan Islam di sekolah, mesti disediakan sarana yang memadai. Sarana yang terpenting adalah mushalla dan tempat berwudhu’. Banyak sekolah yang tidak memiliki mushalla. Atau memiliki mushalla tetapi tidak bisa menampung seluruh siswa, demikian pula tempat berwudhu’. Mushalla sekolah mesti dijadikan pusat kegiatan Islam di sekolah. Selain itu, sekolah juga perlu memiliki labor agama. Sarana labor agama dimaksud menyiapkan perlengkapan yang menunjang materi pembelajaran, seperti perlengkapan shalat, peralatan shalat jenazah, peralatan ibadah haji, peralatan thaharah, contoh jenis-jenis binatang halal dan haram, dan sebagainya. Labor tersebut juga dilengkapi dengan multimedia, seperti computer, infocus, dan sound system sehingga CD pembelajaran PAI dan terkait dengannya juga dapat disaksikan.

Kelima upaya di atas diharapkan memberikan masukan untuk menghasilkan ide-ide kreatif dalam pelaksanaan pendidikan Islam di sekolah.

Dokumen terkait