• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendidikan Karakter di Islamic Full Day School

Dalam dokumen Pendidikan Karakter di Islamic Full Day School (Halaman 101-109)

Grand theory yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada

teori pendidikan karakter dan moral menurut Thomas Lickona dan Ki Hadjar Dewantara, yang selanjutnya dirumuskan teori pendidikan karakter dan moral menurut kedua tokoh tersebut yang meliputi; konsep pendidikan informal, formal, dan nonformal.

Menurut Thomas Lickona, ada tiga elemen inti yang harus terlibat dalam pendidikan karakter, yaitu: lingkungan keluarga, sekolah, dan komunitas.

a. Menjadikan pendidikan karakter sebagai prioritas utama b. Menjadi orang tua yang “otoriter”

c. Mencintai anak-anak d. Mengajar dengan contoh e. Mengelola lingkungan moral

f. Gunakan pengajaran langsung untuk membentuk hati nurani dan kebiasaan

g. Mengajarkan keputusan yang baik h. Kedisiplinan secara bijaksana i. Memecahkan masalah dengan adil

j. Memberikan kesempatan untuk mempraktikkan kebajikan k. Mendorong pengembangan spiritual.165

2. Sekolah

a. Keterlibatan staf

1) Memiliki motto berbasis karakter

2) Mencari dukungan kepala sekolah untuk membuat karakter menjadi prioritas

3) Memperkenalkan konsep pendidikan karakter kepada seluruh staf

4) Memilih duaprioritas untuk meningkatkan kebudayaan sekolah

5) Bertanyalah, “Haruskah kita berkomitmen untuk menjadi sekolah berkarakter?”

b. Keterlibatan peserta didik

1) Melibatkan peserta didik dalam merencanakan dan melaksanakan program pendidikan karakter.

2) Menggunakan pertemuan kelas untuk memberikan anak-anak suara dan tanggung jawab.

3) Memberikan kesempatan informal bagi masukan peserta didik

4) Membentuk sistem mentoring

5) Menghargai kepemimpinan peserta didik.166

c. Keterlibatan orang tua

1) Menegaskan keluarga sebagai pendidik karakter yang paling utama

2) Bentuk kelompok orang tua sebaya yang saling mendukung 3) Melibatkan orang tua dalam perencanaan program

pendidikan karakter

4) Membuat perjanjian moral dengan orang tua.167

3. Komunitas

a. Memperkuat kemitraan sekolah dan komunitas b. Memperkuat keluarga

c. Menciptakan kelompok kepemimpinan d. Buatlah pebisnis terlibat

e. Memberikan anak-anak peran kepemimpinan f. Menghargai karakter baik.168

Ki Hadjar Dewantara menggunakan istilah tri pusat pendidikan yang terlibat dalam pendidikan karakter, yaitu: alam keluarga, alam perguruan, dan alam pemuda.169

Alam keluarga merupakan pusat pendidikan pertama dan

terpenting, oleh karena ita sejak timbulnya adab kemanusiaan hingga kini, kehidupan keluarga selalu mempengaruhi bertumbuhnya budi pekerti dari tiap-tiap manusia. Berhubungan dengan adanya naluri yang asli (oer instinet), yang mengenai kekalnya keturunan, maka setiap manusia berusaha mendidik anaknya sesempurna mungkin baik secara jasmani maupun rokhani.170

166 Ibid., 307. 167 Ibid., 92. 168 Ibid.,36.

169 Gunawan, Aktualisasi Konsep Pendidikan Ki Hadjar Dewantara, 36.

Alam perguruan merupakan pusat pendidikan teristimewa yang

bertugas mengembangkan intelektual beserta pemberian ilmu. Sistem sekolahan selama masih ditujukan pada pencarian dan pemberian ilmu dan kecerdasan pikiran, akan selalu bersifat za-kelifk (tak berjiwa), dan oleh karenanya akan terus sedikitlah pengaruh pendidikannya atas kecerdasan budi pekerti dan budi kesosialan. Teori dalam ilmu pendidikan yang menyebutkan: “Pendidikan sosial itu adalah tugas sekolahan.” Sungguh menyalahi keadaan yang nyata. Sekolah model Barat seperti sifatnya sekarang tak akan dapat berdiri sebagai ‘pendidik kesosialan’. Bilamana balai wiyata berpisah dengan hidup keluarga, maka usaha pendidikan budi pekerti dan budi kemasyarakatan di ruang keluarga akan selalu sia-sia belaka.171

Alam pemuda merupakan pergerakan pemuda yang pada

jaman ini sudah jelas adanya, harus kita akui dan kita pergunakan untuk menyokong pendidikan. Pergerakan pemuda pada waktu ini, merupakan tiruan dari Eropa, sebagian tiruan saudara-saudara tua bangsa, dan sebagian kecil timbul dari angan-angannya sendiri. Pergerakan pemuda jaman ini terlihat memisahkan anak-anak dengan alam keluarganya, ini akan selalu membahayakan, apalagi terbawa oleh pendidikan jaman sekarang (Sistem Barat) yang cenderung mengesampingkan pendidikan budi pekerti, dan pendidikannya dengan sifat kepribadian anak-anak. Artinya dalam upaya mencapai kepribadian seseorang atau karakter seseorang, maka adab kemanusiaan adalah tingkat yang tertinggi.172

Pengertian jiwa dalam budaya bangsa meliputi “ngerti, ngrasa,

lan nglakoni” (cipta, rasa, dan karsa).173kalau digunakan dalam istilah psikologi, ada kesesuaiannya dengan aspek atau domain kognitif, domain emosi, dan domain psikomotorik.

Metode yang tepat dengan sistem pendidikan ini adalah metode pengajaran dan pendidikan yang berdasarkan pada asah, asih, dan

asuh. Metode ini secara teknik pengajaran meliputi “kepala, hati, dan

171 Ibid.

172 Suratman, Pokok-pokok Ketaman Siswaan, 12.

panca indera” (educate the head, heart, and the hand).174 Metode Asah merupakan metode pendidikan yang hanya dikembangkan melalui aspek intelektual. Dalam Sistem Among, maka setiap guru (pamong)175

sebagai pemimpin dalam proses pendidikan diwajibkan bersikap: Ing

Ngarsa sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani.176 Grafik 2.1

Teori Pendidikan Karakter di Islamic Full Day School

96

Grafik 2.1

Teori Pendidikan Karakter di Islamic Full Day School

Berdasarkan uraian di atas, maka pendidikan karakter dilakukan melalui pendidikan formal, nonformal dan informal. Pendidikan formal adalah pendidikan yang terlembagakan, adanya kelas yang bertingkat dan struktur pendidikan yang hirarkhis, yaitu mulai tingkat yang terendah adalah Sekolah Dasar sampai tingkatan yang tertinggi yaitu Perguruan Tinggi. Sedang pendidikan nonformal adalah setiap aktivitas pendidikan yang terorganisir dan sistematis yang berada di luar jalur pendidikan formal yang memberikan pendidikan pada kelompok tertentu, baik orang dewasa, remaja,

Pendidikan Informal Pendidikan Non Formal Pendidikan Formal Pendidikan di

sekolah kemasyarakatan Pendidikan

Pendidikan di rumah

Berdasarkan uraian di atas, maka pendidikan karakter dilakukan melalui pendidikan formal, nonformal dan informal. Pendidikan formal adalah pendidikan yang terlembagakan, adanya kelas yang bertingkat dan struktur pendidikan yang hirarkhis, yaitu mulai tingkat yang terendah adalah Sekolah Dasar sampai tingkatan yang tertinggi

174 Dewantara, Pangkal-pangkal Roh Taman Siswa, 358-365.

175 Sudarto, Pendidikan Modern dan Relevansi…, 43.

176 MLPTS, Peraturan Besar dan Piagam Persatuan Taman Siswa, 19-20. Pendidikan Informal Pendidikan Non Formal Pendidikan Formal Pendidikan di

sekolah kemasyarakatan Pendidikan

yaitu Perguruan Tinggi. Sedang pendidikan nonformal adalah setiap aktivitas pendidikan yang terorganisir dan sistematis yang berada di luar jalur pendidikan formal yang memberikan pendidikan pada kelompok tertentu, baik orang dewasa, remaja, maupun anak-anak, meskipun terkadang pendidikan nonformal ini dilakukan di sekolah, seperti latihan bela diri, kesenian atau kepramukaan. Sedangkan pendidikan informal adalah proses pendidikan sepanjang hidup yang yang dilakukan oleh setiap orang yang mengakumulasi pengetahuan, keterampilan, sikap, dan pemahaman dalam kehidupan sehari-hari yang terjadi di lingkungan rumah, lingkungan pekerjaan, tempat bermain, berasal dari contoh dan sikap keluarga dan teman, dalam perjalanan, dan lain-lain. Pendidikan informal berada pada irisan terluar dan terluas karena anak lebih banyak berada di lingkungan keluarganya dibanding di sekolah.

BAB III

FILOSOFI SDI ULIL ALBAB

DAN SDIT IMAM SYAFI’I KEBUMEN

Pada bab ini penulis akan membahas tentang filosofi pendirian kedua sekolah yang menjadi tempat penelitian secara detail dan mendalam. Fokus kajian dalam bab ini adalah: pertama; filosofi nama,

filosofi berdirinya, filosofi pembelajaran, dan filosofi kurikulum SD

Islam Ulil Albab Kebumen, kedua; filosofi nama, filosofi berdirinya,

filosofi pembelajaran, dan filosofi kurikulum SDIT Imam Syafi’i

Kebumen. Pembahasan ini penting dipaparkan untuk mengantarkan

pembaca memahami kerangka filosofis pendirian kedua sekolah tersebut, dikarenakan kedua sekolah tersebut memiliki basic pemahaman keagamaan yang berbeda. Pemahaman keagamaan SD Islam Ulil Albab adalah “kontekstualisasi ajaran Islam”, dengan konsep ini Islam sebagai sebuah cairan budaya yang merembes ke dalam pori-pori kehidupan masyarakat Indonesia sehingga tercermin pada sikap masyarakat yang berasaskan Islam dengan tidak meninggalkan budaya lokal. Pemahaman keagamaan SDIT Imam Syafi’i adalah “purifikasi ajaran Islam”, konsep ini mengajarkan umat Islam untuk kembali kepada sumber utama yaitu; Al-Qur’an dan Hadits-hadits shahih dan menolak tambahan-tambahan lain yang tidak ada tuntunannya secara syar’i.

Dalam dokumen Pendidikan Karakter di Islamic Full Day School (Halaman 101-109)

Dokumen terkait