Pasal 31
(1) Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan (2) Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya (3) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang. (4) Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional. (5) Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradapan serta kesejahteraan umat manusia
Lebih diperhatikannya pendidikan warga negara setelah amandemen keempat. Tapi pada prakteknya banyak warga negara yang sulit mengenyam pendidikan. Tidak hanya terjadi kesenjangan antara warga yang kaya dan miskin, juga kesenjangan antara yang pintar dan yang kurang. Tentunya ini sudah bertentangan dengan UUD kita ini.
Pasal 32
(1) Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya. (2) Negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional.
BAB XIV
PEREKONOMIAN NASIONAL DAN KESEJAHTERAAN SOSIAL
Pasal 33
(4) Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam undang-undang.
Pasal 34
(1) Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara (2) Negara mengembangkan sistem jaringan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan. (3) Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam undang-undang.
Pasal 37
(1) Usul perubahan pasal-pasal Undang-Undang Dasar dapat diagendakan dalam sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat apabila diajukan oleh sekurang-kurangnya 1/3 dari jumlah anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat. (2) Setiap usul perubahan pasal-pasal Undang-Undang Dasar diajukan secara tertulis dan ditunjukkan dengan jelas bagian yang diusulkan untuk diubah beserta alasannya. (3) Untuk mengubah pasal-pasal Undang-Undang Dasar, sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat dihadiri oleh sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat. (4) Putusan untuk mengubah pasal-pasal Undang-Undang Dasar dilakukan dengan persetujuan
sekurang-kurangnya lima puluh persen ditambah satu anggota dari seluruh anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat. (5) Khusus mengenai bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak dapat dilakukan perubahan.
ATURAN PERALIHAN
Pasal I
Segala peraturan perundang-undangan yang ada masih tetap berlaku selama belum diadakan yang baru menurut Undang-Undang Dasar ini.
Pasal II
Semua lembaga negara yang ada masih tetap berfungsi sepanjang untuk melaksanakan ketentuan Undang-Undang Dasar dan belum diadakan yang baru menurut Undang-Undang Dasar ini.
Pasal III
Mahkamah Konstitusi dibentuk selambat-lambatnya pada 17 Agustus 2003 dan sebelum dibentuk segala kewenangannya dilakukan oleh Mahkamah Agung.
ATURAN TAMBAHAN
Pasal I
Majelis Permusyawaratan Rakyat ditugasi untuk melakukan peninjauan terhadap materi dan status hokum Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat untuk diambil putusan pada sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat tahun 2003.
Pasal II
Dengan ditetapkannya perubahan Undang-Undang Dasar ini, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 terdiri atas Pembukaan dan pasal-pasal.
Perubahan tersebut diputuskan dalam Rapat Paripurna Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia ke-6 (lanjutan) pada tanggal 10 Agustus 2002 Sidang Tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia, dan mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 10 Agustus 2002 MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA, Ketua Prof. Dr. H.M. Amien Rais
G.
Substansi Hasil dari Amandemen UUD 1945
Sebelum dilakukannya perubahan, dibentuklah dahulu kesepakatan dasar dalam
melakukan perubahan UUD 1945 yang diantaranya meliputi :
a. Tidak mengubah Pembukaan Undang-Undang Dasar1945, sistematika, aspek kesejarahan dan
orisinalitasnya.
b. Tetap mempertahankan NKRI.
c. Mempertegas sikap pemerintahan presidensial.
d. Penjelasan UUD 1945 yang memuat hal-hal normatif akan dimasukkan ke dalam pasal-pasal.
e. Perubahan dilakukan dengan cara “adendum”.
Perubahan terhadap UUD 1945, dilakukan melalui mekanisme sidang MPR yaitu : a. Sidang Umun MPR 1999 tanggal 14-21 Oktober 1999
b. Sidang Tahunan MPR 2000 tanggal 7-18 Agustus 2000
c. Sidang Tahunan MPR 2001 tanggal 1-9 November 2001
d. Sidang Tahunan MPR 2002 tanggal 1-11 Agustus 2002
1. Amandemen Pertama
Perubahan pertama terhadap UUD 1945 disahkan pada tanggal 19 oktober 1999 dapat
dikatakan sebagai tonggak sejarah yang berhasil mematahkan semangat yang cenderung mensakralkan atau menjadikan UUD sebagai sesuatu yang suci yang tidak boleh disentuh oleh ide perubahan.
Melalui : SU MPR tangga 14-21 Oktober1999, oleh 25 orang Panitia Ad Hoc
Perubahan : 9 pasal (Ps.5; Ps.7; Ps.9; Ps.13; Ps.14; Ps.15; Ps.17; Ps.20 ; dan Ps.21)
· 5 ayat 1 : Hak Presiden untuk mengajukan RUU kepada DPR · Pasal 7 : Pembatasan masa jabatan Presiden dan Wakil Presiden
· Pasal 9 ayat 1 dan 2 : Sumpah Presiden dan Wakil Presiden · Pasal 13 ayat 2 dan 3 : Pengangkatan dan Penempatan Duta · Pasal 14 ayat 1 : Pemberian Grasi dan Rehabilitasi · Pasal 14 ayat 2 : Pemberian amnesty dan abolisi
· Pasal 15 : Pemberian gelar, tanda jasa, dan kehormatan lain · Pasal 17 ayat 2 dan 3 : Pengangkatan Menteri
· Pasal 20 ayat 1-4 : DPR
· Pasal 21 : Hak DPR untuk mengajukan RUU
Inti Perubahan :
a) Pergeseran kekuasaan legislasi yang berada di tangan eksekutif beralih ke legislatif
b) Membatasi kekuasaan presiden yang otoriter yang dipandang terlampau kuat (executive heavy)
Dua substansi pokok pada amandemen pertama disebut dengan istilah check and balance.
2. Amandemen Kedua
Melalui : SU MPR 7-8 Agustus 2000, oleh 47 orang Panitia Ad Hoc
Pengesahan : 18 Agustus 2000
Perubahan : 7 Bab dan 27 pasal: (Ps.18; Ps.18A; Ps.18B; Ps.19; Ps.20; Ps.20A ; Ps.22A ; Ps.22B; Bab IXA, Ps.25E; Bab X, Ps.26 ; Ps.27; Bab XA, Ps.28A; Ps.28B; Ps.28C; Ps.28D; Ps.28E; Ps.28F; Ps.28G; Ps.28H; Ps.28I; Ps.28J; Bab XII, Ps.30; BabXV, Ps.36A; Ps.36B; dan Ps.36C)
· Bab VI : Pemerintahan Daerah · Bab VII : Dewan Perwakilan Daerah · Bab IX A : Wilayah Negara
· Bab X : Warga Negara dan Penduduk · Bab XA : Hak Asasi Manusia
· Bab XII : Pertahanan dan Keamanan
· Bab XV : Bendera, Bahasa, Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan
Inti Perubahan:
a) Pemerintahan Daerah (pasal 18)
- Adanya dasar hukum yang kuat pada Pemda
- Adanya juga kekhususan daerah, seperti : Aceh, D.I. Yogyakarta, dan Papua
b) Lebih mendatailnya aturan mengenai wilayah Negara
c) Dibedakannya warga negara dan penduduk
d) Hak-hak rakyat lebih diperhatikannya dengan dicantumkannya pasal mengenai Hak Asasi
Mnusia
e) Pertahanan dan keamanan negara
f) Bendera, bahasa, lambang negara dan lagu kebangsaan pun tidak luput dari perhatian
g) Diatambahkannya aturan mengenai lembaga DPR, khususnya mengenai keanggotaan, fungsi,
hak, dan prosedur penggantiannya 3. Amandemen Ketiga
Melalui : ST MPR 1-9 November 2001, oleh 51 orang Panitia Ad Hoc
Pengesahan : 10 November 2001
Perubahan : 7 Bab dan 23 Pasal: (Ps.1; Ps.3; Ps.6; Ps.6A; Ps.7A; Ps.7B; Ps.7C ; Ps.8; Ps.11; Ps.17, Bab VIIA, Ps.22C; Ps.22D; Bab VIIB, Ps.22E; Ps.23; Ps.23A; Ps.23C; Bab VIIIA, Ps.23E; Ps.23F; Ps.23G; Ps.24; Ps.24A; Ps.24B; dan Ps.24C)
· Bab I : Bentuk dan Kedaulatan · Bab II : MPR
· Bab III : Kekuasaan Pemerintahan Negara · Bab V : Kementrian Negara
· Bab VII A : DPR
· Bab VII B : Pemilihan Umum · Bab VIII A : BPK
Inti Perubahan :
- Bentuk dan Kedaulatan Negara
- Kedudukan dan kekuasaan MPR. Sebelum amandemen, MPR bisa secara langsung memecat
presiden melalui sidang istimewa.
- Kepresidenan
- Impeachment
- Keuangan Negara
- Kekuasaan Kehakiman
4. Amandemen Keempat
Melalui: ST MPR 1-11 Agustus 2002, oleh 50 orang Panitia Ad Hoc
Pengesahan: 10 Agustus 2002
Perubahan: 2 Bab dan 19 Pasal yang terdiri atas 31 butir ketentuan serta 1 butir yang dihapuskan dalam naskah perubahan keempat: (Ps.2; Ps.6A; Ps.8; Ps.11; Ps.16; Ps.23B; Ps.23D; Ps.24; Ps.31; Ps.32; Bab XIV, Ps.33; Ps.34; dan Ps.37)
Inti Perubahan:
- DPD sebagai bagian MPR,
- Penggantian Presiden,
- pernyataan perang, perdamaian dan perjanjian,
- Dihapusnya DPA melalui Keputusan Presiden Nomor 135/M/2003,
- mata uang, bank sentral, pendidikan dan kebudayaan, perekonomian nasional dan kesejahteraan
sosial,
- perubahan UUD.
-
a. Amandemen UUD 1945 yang dilakukan secara terburu-buru mengakibatkan munculnya
peraturan perundang-undangan yang menyengsarakan rakyat.
b. Munculnya kebijakan otonomi daerah yang dilaksanakan tanpa persiapan sosial yang matang,
sehingga mengganggu keberadaan Indonesia sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
c. Mengakibatkan muncul konflik yang berkepanjangan di banyak daerah, Lemahnya kendali
pemerintah pusat terhadap sektor-sektor strategis di daerah, telah membuat negara kesatuan ini semakin berjalan ke arah sistem semi federal