• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skills)

BAB III KEADAAN PENDIDIKAN DI ACEH

3.3. Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skills)

Istilah Kecakapan Hidup (life skills) diartikan sebagai kecakapan yang dimiliki seseorang untuk mau dan berani menghadapi problema hidup dan penghidupan secara wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta menemukan solusi sehingga akhirnya mampu mengatasinya (Dirjen PLSP, Direktorat Tenaga Teknis, 2003). Penyelenggaraan pendidikan selama ini lebih berorientasi kognitif (akademik) dan telah melahirkan lulusan lembaga pendidikan yang memiliki pengetahuan tetapi kurang atau tidak memiliki keterampilan vokasional yang justru lebih diperlukan, baik untuk bekerja maupun berusaha mandiri.

Dengan adanya Pendidikan Kecakapan Hidup (PKH) diharapkan mampu memberikan pendidikan yang lebih memberikan keterampilan (vocational skill) kepada penduduk usia 15 tahun ke atas, khususnya siswa putus sekolah atau yang tidak melanjutkan. Lulusan perguruan tinggi yang tidak bekerja dan penduduk usia produktif baik laki-laki maupun perempuan yang masih belum memiliki pekerjaan. Dengan demikian program PKH ini dapat juga dijadikan sebagai salah satu strategi bagi pemerintah Provinsi Aceh untuk mengurangi kemiskinan dan penanggulangan pengangguran.

3.4. Pendidikan Keaksaraan dan Pendidikan Berkelanjutan

Pendidikan keaksaraan merupakan program pendidikan dalam rangka memberantas penduduk buta aksara supaya menjadi melek aksara (huruf). Seseorang dikatakan melek huruf jika orang tersebut

BPS Provinsi Aceh

Indikator Pendidikan Provinsi Aceh 2014 29

94.14 96.75

95.88 98.25 5.86 3.25 4.12 1.75

Indonesia Aceh Indonesia Aceh

Gambar 3.4

Perbandingan Angka Melek Huruf dan Buta Huruf Provinsi Aceh dan Indonesia,

Tahun 2013 - 2014

Buta Huruf Melek Huruf

mampu membaca dan menulis huruf latin atau huruf lainnya. Pendidikan keaksaraan ini diperuntukkan bagi orang dewasa (adult

education) untuk penduduk usia dewasa (15 tahun ke atas).

Indikator-indikator yang biasa dijadikan ukuran keberhasilan program pendidikan keaksaraan diantaranya angka melek huruf, rata-rata lama sekolah dan pendidikan yang ditamatkan penduduk.

3.4.1

Angka Melek Huruf (AMH) Penduduk Usia 15 Tahun Ke atas Ukuran yang

sangat mendasar dari tingkat pendidikan adalah kemampuan membaca dan menulis penduduk berumur 15 tahun ke atas. Kemampuan ini dipandang sebagai kemampuan dasar minimal yang harus dimiliki oleh setiap individu, agar paling tidak memiliki peluang untuk terlibat dan berpartisipasi dalam pembangunan. Tinggi rendahnya

2013 2014

Sumber : BPS Provinsi Aceh

angka buta huruf suatu masyarakat mencerminkan kualitas masyarakat tersebut.

Berdasarkan Susenas 2014, sekitar 98,25 persen penduduk 15 tahun ke atas di Provinsi Aceh telah bebas buta huruf, dengan kata lain terdapat 1,75 persen penduduk yang masih belum dapat membaca dan menulis huruf latin atau buta huruf. Dibanding dengan tahun sebelumnya, terdapat peningkatan penduduk usia 15 tahun ke atas yang bisa baca tulis.

AMH penduduk usia 15 tahun ke atas dari tahun 2013 – 2014 mengalami kenaikan sebesar 1,50 persen. Dibanding dengan AMH Indonesia, AMH Aceh di atas nilai AMH Indonesia.

Dengan demikian upaya pemerintah untuk terus meningkatkan pembangunan disektor pendidikan sudah bisa dikatakan berhasil sehingga kedepan penduduk Aceh bisa lebih maju lagi dan tidak tertinggal bila dibandingkan dengan Provinsi lainnya di Indonesia.

Hasil Susenas 2014 juga mengindikasikan adanya disparitas angka melek huruf antar-kabupaten/kota. Kota Banda Aceh merupakan daerah yang penduduknya bisa baca tulis terbanyak atau angka melek hurufnya tertinggi yaitu sebesar 99,99 persen atau hampir semua penduduknya bisa baca tulis. Selain Kota Banda Aceh, penduduk Kabupaten Simeulue, Kota Langsa dan Kota Lhokseumawe merupakan kabupaten/kota yang angka melek hurufnya tinggi atau di atas 99 persen.

BPS Provinsi Aceh

Indikator Pendidikan Provinsi Aceh 2014 31

Gambar 3.5

Persentase Angka Melek Huruf Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Aceh, Tahun 2014

Sumber : BPS Provinsi Aceh

Sementara itu, Kabupaten Gayo Lues, merupakan wilayah dengan tingkat angka melek huruf terendah yaitu sebesar 91,42 persen. 86.00 88.00 90.00 92.00 94.00 96.00 98.00 100.00 Banda Aceh Simeulue Langsa Lhokseumawe Aceh Tengah AcehTenggara Bireuen Bener Meriah Aceh Besar Sabang Aceh Utara Aceh Timur Aceh Barat Aceh Tamiang Aceh Jaya Nagan Raya Pidie Aceh Timur Aceh Singkil Pidie Jaya Aceh Barat Daya Subulussalam Gayo Lues

3.4.2

Rata-Rata Lama Sekolah

Rata-rata lama sekolah digunakan untuk mengidentifikasi jenjang kelulusan pendidikan penduduk suatu daerah. Rata-rata lama sekolah merupakan lamanya pendidikan yang telah ditempuh oleh seseorang. Sebagai gambaran, seseorang yang telah menamatkan pendidikan sampai tingkat SD maka ia telah memiliki lama sekolah sebanyak 6 tahun. Rata-rata lama sekolah dapat juga digunakan untuk monitoring pelaksanaan Program Wajib Belajar (Wajar) 9 tahun yang dicanangkan. Artinya untuk melewati target program tersebut maka rata-rata lama sekolah harus sudah mencapai 9 tahun.

Angka Rata-rata Lama Sekolah di Provinsi Aceh pada tahun 2014 sebesar 8,71 tahun. Dengan kata lain penduduk di Provinsi Aceh baru bisa menikmati pendidikan rata-rata sampai kelas 2 SMP. Angka ini masih sedikit dibawah target program Wajar yang dicanangkan pemerintah. Rata-rata lama sekolah gabungan seluruh provinsi di Indonesia juga masih di bawah wajib belajar, yaitu 7,5 tahun. Namun secara angka penduduk Indonesia sudah dapat menikmati pendidikan sampai tingkat 1 SLTP yaitu setahun lebih rendah dari rata-rata lama sekolah penduduk Aceh.

Rata-rata lama sekolah di Provinsi Aceh cukup lambat peningkatannya. Selama kurun waktu 5 tahun terakhir, secara keseluruhan dalam 3 tahun berturut-turut mengalami peningkatan, yaitu sebesar 8,36, 8,44 dan 8,71 persen di tahun 2012-2014. Hal ini bisa disebabkan karena faktor ekonomi atau faktor fasilitas pendidikan yang ada.

BPS Provinsi Aceh

Indikator Pendidikan Provinsi Aceh 2014 33

Pada tahun 2014, rata-rata lama sekolah mengalami peningkatan sebesar 0,27 persen. Ditinjau secara spasial, rata-rata lama sekolah tertinggi berada di Kota Banda Aceh (12,37 tahun) dan terendah di Kota Subulussalam (6,77 tahun).

Berkaitan dengan wajib belajar 9 tahun, Kota Banda Aceh, Sabang, Langsa dan Kota Lhokseumawe, begitu

pula dengan Kabupaten Aceh Tengah, Aceh Besar dan Bener Meriah merupakan Kabupaten/Kota yang sudah memenuhi target tersebut.

3.4.3

Pendidikan yang Ditamatkan

Komposisi penduduk menurut tingkat pendidikan yang ditamatkan memberikan gambaran terhadap kualitas sumber daya manusia. Semakin banyak penduduk yang berpendidikan tinggi menunjukkan keadaan kualitas penduduk yang semakin baik

8.71 8.44 8.36 8.28 8.32 8 8.1 8.2 8.3 8.4 8.5 8.6 8.7 8.8 2010 2011 2012 2013 2014 Gambar 3.6

Perkembangan Rata-Rata Lama Sekolah Provinsi Aceh, Tahun 2010 - 2014

Tabel 3.3.

Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun Ke atas menurut Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan di Aceh,

Tahun 2013-2014 Pendidikan Tertinggi Yang Ditamatkan Tahun 2013 2014 (1) (2) (3) Tdk Tamat SD SD SMP SMA / SMK D-/D-2/D-3 D-4/S-1 + 19,55 27,73 20,10 25,34 2,90 4,38 18,52 26,50 20,43 26,15 3,04 5,36 SMP + Total 52,73 100,00 54,98 100,00

Sumber : BPS Provinsi Aceh

Peningkatan kualitas sumber daya manusia dapat dilihat dari semakin tingginya persentase penduduk 10 tahun ke atas yang menamatkan pendidikan tinggi. Tabel 3.3 menyajikan persentase penduduk 10 tahun ke atas menurut tingkat pendidikan yang ditamatkan. Dari tabel tersebut terlihat persentase penduduk yang berpendidikan SLTP ke atas mengalami kenaikan. Pada tahun 2013 penduduk yang telah menamatkan pendidikannya minimal SLTP sebesar 52,73 persen dan pada tahun 2014 naik menjadi 54,98 persen. Ini menunjukkan keberhasilan dari program wajib belajar yang dicanangkan pemerintah pada tahun ini mengalami kenaikan.

BPS Provinsi Aceh

Indikator Pendidikan Provinsi Aceh 2014 35

Secara keseluruhan proporsi penduduk yang belum memiliki pendidikan dasar masih rendah. Proporsi penduduk yang tidak tamat SD nilainya mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya, yaitu dari 19,55 persen menjadi 18,52 persen.

Gambar 3.7

Penduduk 10 Tahun Ke atas yang tamat SLTP Ke atas Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Aceh, Tahun 2014

Sumber : BPS Provinsi Aceh

0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00 70.00 80.00 90.00 Ba n d a A ce h La n gs a Sab an g A ce h B es ar Lh o ks eu maw e A ce h T e n gah A ce h Te n gg ara Ben er M er iah Pid ie A ce h B arat Bir e u en Pid ie Jay a Si me u lu e N ag an R aya A ce h Jay a A ce h T amian g A ce h Ut ara A ce h S in gki l A ce h S e latan A ce h Barat D aya G ayo L u es Su b u lu ss alam A ce h T imu r

http://aceh.bps.go.id

Gambar 3.7 memperlihatkan perbandingan antar-kabupaten/kota tentang penduduk yang telah menyelesaikan pendidikannya sampai tamat SLTP atau telah menyelesaikan program wajar. Dari 23 kabupaten/kota yang ada di Provinsi Aceh, hanya Kabupaten Aceh Singkil, Aceh Selatan, Aceh Timur, Aceh Utara, Aceh Barat Daya, Gayo Lues, Aceh Tamiang, Nagan Raya, Aceh Jaya dan Kota Subulussalam yang penduduknya belum menamatkan pendidikannya sampai SLTP di bawah 50 persen. Sedangkan kabupaten lainnya sudah di atas 50 persen.

3.5. Pendidikan Berkeadilan Gender

Dalam rangka mensejajarkan peranan kaum perempuan dan laki-laki pemerintah telah menetapkan kebijakan pendidikan berwawasan gender (Program Pendidikan Berwawasan Gender). Program-program pendidikan yang diselenggarakan diharapkan mampu mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender. Dimana diperlukan adanya kesetaraan peran, partisipasi dan layanan pendidikan yang adil bagi perempuan dan laki-laki.

Seperti yang telah dibahas di atas, partisipasi perempuan di Provinsi Aceh pada sektor pendidikan baik dilihat dari angka melek huruf, ijazah tertinggi yang dimiliki serta angka partisipasi sekolah secara keseluruhan persentasenya sudah hampir seimbang bila dibandingkan dengan persentase laki-laki. Ini berarti hampir tidak ada lagi terjadi gap antara laki-laki dan perempuan dalam bidang pendidikan.

Oleh karena itu peranan pemerintah terutama dinas terkait perlu secara berkesinambungan mengadakan sosialisasi, desiminasi

BPS Provinsi Aceh

Indikator Pendidikan Provinsi Aceh 2014 37

serta terus mengadakan pendidikan yang berwawasan gender. Sehingga diharapkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan bagi anak laki-laki dan perempuan terus meningkat.

3.6. Peningkatan Mutu Pendidikan

Kebijakan mutu pendidikan diarahkan pada pencapaian mutu pendidikan yang semakin meningkat yang mengacu pada Standar Nasional Pendidikan (SNP). SNP meliputi berbagai komponen yang terkait dengan mutu pendidikan mencakup standar isi, standar proses, standar kompetensi kelulusan, standar pendidik dan sarana prasarana, standar pengelolaan dan standar pembiayaan.

3.6.1 Fasilitas Pendidikan

Salah satu standar yang penting dalam meningkatkan mutu pendidikan adalah standar pendidik dan sarana prasarana. Standar ini dapat dipantau dengan melihat jumlah sarana pendidikan yang tersedia beserta rasio tenaga pendidik dengan murid.

Jumlah sarana pendidikan di Provinsi Aceh pada tahun 2013/2014 dapat dilihat pada tabel 3.4. Jumlah sekolah SD sebanyak 3.980 sekolah, SLTP sebanyak 1.414 sekolah dan jumlah sekolah SLTA sebanyak 881 sekolah. Sedangkan jumlah murid yang tercacat di sekolah SD sampai dengan SLTA berturut-turut sebesar 597.781, 286.188 dan 214.655 orang, dengan tenaga pengajar masing-masing seperti yang tercantum pada tabel dibawah ini.

Tabel 3.4.

Jumlah Sekolah, Murid serta Jumlah Guru di Provinsi Aceh Tahun 2013- 2014

SEKOLAH Jumlah Sekolah Jumlah Murid Jumlah Guru 2013 2014 2013 2014 2013 2014

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

SD 3.993 3.980 618.903 597.781 58.836 60.942 SLTP 1.391 1.414 286.880 286.188 30.733 33.118 SLTA 852 881 223.705 214.655 24.901 25.699

Sumber : Dinas Pendidikan Aceh (Aceh Dalam Angka)

Indikator jumlah sekolah, jumlah guru maupun jumlah murid tentu saja tidak cukup mempunyai arti jika hanya berupa penjumlahan. Pada tabel berikut akan ditampilkan rasio sekolah-murid maupun rasio murid guru keadaan tahun 2013/2014.

Dari tabel 3.5 terlihat bahwa setiap sekolah terdapat 15 guru pada jenjang sekolah SD dan sebanyak 23 guru pada jenjang sekolah SLTP serta sebanyak 29 guru pada jenjang SLTA. Jumlah rasio sekolah-murid mengalami penurunan pada setiap jenjang, dimana pada jenjang SD setiap sekolah dapat menampung sebanyak 150 murid, jenjang SLTP setiap sekolah dapat menampung sebanyak 202 murid. Sementara itu rasio sekolah-murid pada jenjang SLTA sebesar 1 : 244.

BPS Provinsi Aceh

Indikator Pendidikan Provinsi Aceh 2014 39

Tabel 3.5.

Rasio Sekolah-Murid, Guru-Murid dan Rasio Sekolah-Guru pada Jenjang SD, SLTP dan SLTA di Provinsi Aceh

Tahun 2013-2014 SEKOLAH Rasio Sekolah - Guru Rasio Sekolah - Murid Rasio Guru - Murid 2013 2014 2013 2014 2013 2014 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) SD 1 : 15 1 : 15 1 : 155 1 : 150 1 : 11 1 : 10 SLTP 1 : 22 1 : 23 1 : 206 1 : 202 1 : 9 1 : 9 SLTA 1 : 29 1 : 29 1 : 263 1 : 244 1 : 9 1 : 8

Sumber : Dinas Pendidikan Aceh (Aceh Dalam Angka)

Penurunan angka rasio sekolah-murid pada setiap jenjang pendidikan terjadi karena adanya peningkatan jumlah sarana. Sementara itu rasio guru-murid menggambarkan beban guru mengawasi murid dalam kegiatan belajar mengajar. Dari tabel tersebut dapat terlihat bahwa setiap guru pada jenjang SD mempunyai beban terhadap 10 murid, begitupun pada jenjang SLTP, 1 guru berbanding 9 murid. Sementara pada jenjang SLTA 1 guru mengajar sebanyak 8 murid.

3.6.2 Pembiayaan Sektor Pendidikan

Pembiayaan sektor pendidikan merupakan salah satu indikator dalam menentukan mutu pendidikan. Pendidikan yang berkualitas dan bermutu di Provinsi Aceh dapat tercapai jika ditunjang dengan anggaran yang cukup. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) harus lebih memprioritaskan kepada sektor pendidikan, yang

secara nasional dialokasikan sebesar 20 persen. Selain anggaran pendidikan dari pemerintah, anggaran yang dikeluarkan oleh rumah tangga untuk keperluan pendidikan anaknya juga dapat mempengaruhi kualitas pendidikan. Tersedianya alat tulis, buku-buku pelajar serta peralatan sekolah lainnya dapat memotivasi siswa untuk terus belajar.

Berdasarkan data Susenas Tahun 2014, rata-rata pengeluaran per kapita penduduk di Provinsi Aceh kebanyakan digunakan untuk bahan makanan (58,38 persen), sedangkan pengeluaran untuk bahan bukan makanan hanya sebesar 41,62 persen. Dimana pengeluaran bahan bukan makanan terbesar digunakan untuk keperluan perumahan (25,40 persen), sedangkan pengeluaran sektor pendidikan persentasenya relatif kecil, hanya 4,52 persen.

Gambar 3.8

Persentase Rata-rata Pengeluaran Per Kapita Bahan Bukan Makanan di Provinsi Aceh, Tahun 2014

Sumber : BPS Provinsi Aceh

25.4 15.97 4.52 14.43 5.32 34.37 Perumahan

Aneka Barang & Jasa Biaya Pendidikan Biaya Kesehatan Pakaian dan Alas Kaki Barang Tahan Lama dan lainnya

BPS Provinsi Aceh

Indikator Pendidikan Provinsi Aceh 2014 41

Dokumen terkait