11. KEWAJIBAN-KEWAJIBAN PENYEDIA JASA
4.7 Pendidikan
Pembangunan pendidikan harus diarahkan selaras dengan orientasi pembangunan nasional agar pendidikan berkontribusi secara nyata. Andai kata Provinsi Jawa Barat menghendaki poros pembangunan agrobisnis sebagai sentral pembangunan pendidikan, maka sudah saatnya dipikirkan untuk menciptakan sumber daya manusia yang benar-benar menguasai agrobisnis. Atau sektor jasa? Semua ini harus dipikirkan secara matang. Apabila lembaga pendidikan sanggup melakukan semua itu, baru akan terasa kehadiran pendidikan dalam masyarakat. Dan jangan lupa bahwa dalam kerangka otonomi daerah, pembangunan
Kajian Ketahanan Ekonomi Dalam Masa Pandemi Covid-19 di Provinsi Jawa Barat
pendidikan pun hendaknya diarahkan pada pengembangan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan karakter daerah. Maka sangat mungkin daerah Jawa Barat menambah atau mengurangi standar kurikulum nasional sesuai dengan kebutuhan daerah. Apa yang hendak dilestarikan dan ditransformasikan sekali lagi perlu dipikirkan secara masak-masak.
Di luar itu semua, seluruh program pendidikan Jawa Barat hendaknya memiliki target-target yang jelas baik jangka panjang maupun jangka pendek. Dan sudah semestinyalah Provinsi Jawa Barat menghindarkan proyek-proyek rutin yang tidak jelas sasaran dan hasilnya. Dengan melihat kenyataan IPM Jawa Barat, maka seluruh program pendidikan hendaknya selaras dengan pembentukan sumber daya manusia sehingga bisa mengangkat angka IPM. Setrut dengan itu, maka Tabel 4.10 di bawah ini menjelaskan mengenai partisipasi masyarakat di Provinsi Jawa Barat dalam Pendidikan, baik partisipasi kotor (APK) maupun partisipasi murni (APM). Tabel di bawah ini menunjukkan tingkatan Pendidikan serta tahun.
Tabel 4. 10 APK Jawa Barat Menurut Kab./Kota Tahun 2017-2019
Wilayah Jawa Barat
Angka Partisipasi Kasar
SD/MI/Paket A SMP/MTs/Paket B SMA/MA/Paket C 2017 2018 2019 2017 2018 2019 2017 2018 2019
Kajian Ketahanan Ekonomi Dalam Masa Pandemi Covid-19 di Provinsi Jawa Barat
Tabel 4.10 di atas memperlihatkan tingginya angka partisipasi kotor siswa di Jawa Barat. Merujuk pada tingkat SD/MI/Paket A saja, angka partisipasi tiap tahunnya (2017 hingga 2019) selalu berada di atas 100%. Misalnya pada tahun 2017, APK di Jawa Barat di angka 107,54%, demikian pula dengan 2018 dan 2019 di angka 106,24% dan 105,52%.
Namun ada kecenderungan yang selalu terjadi, dan bukan hanya di Jawa Barat tetapi di provinsi-provinsi lainnya, ketika merujuk pada tingkatan yang lebih tinggi. Pada tingkat SMP/MTs/Paket B contohnya, pada tahun 2019, di tingkat SD/MI/Paket A berada di tingkat 105,52% tapi beranjak ke level yang lebih tinggi angka partisipasinya merosot menjadi 90,75% dan turun kembali di tingkat SMA/MA/Paket C di angka 77,82%. Realitas di Jawa Barat ini terjadi juga di wilayah-wilayah (kabupaten/kota) di Jawa Barat (lihat Tabel 4.10) – hal ini juga terjadi pada angka partisipasi murni. Kondisi ini menunjukkan prioritas keluarga yang semakin menurun tiap tingkatannya untuk menyekolahkan anak. Dan semakin menjadi pada masa pandemi 2020 dan 2021 ini. Jika merujuk pada tabel di bawah
Kajian Ketahanan Ekonomi Dalam Masa Pandemi Covid-19 di Provinsi Jawa Barat
(Tabel 4.11), maka terjadi kesinambungan kondisi antara angka partisipasi di tingkat dasar yang tinggi berangsur menurun di tingkat menengah dan atas.
Tabel 4. 11 APM Jawa Barat Menurut Kab./Kota Tahun 2017-2019
Wilayah Jawa Barat
Angka Partisipasi Murni
SD/MI/Paket A SMP/MTS/Paket B SMA/MA/Paket C 2017 2018 2019 2017 2018 2019 2017 2018 2019
Kajian Ketahanan Ekonomi Dalam Masa Pandemi Covid-19 di Provinsi Jawa Barat
Tabel di atas memberikan penjelasan bahwa Angka Partisipasi Murni (APM) siswa sekolah dasar (SD/MI), menengah (SMP/MTs), dan atas (SMA/SMK/MA) selalu mengalami penurunan tiap tahunnya. Ini dapat dilihat pada tahun 2017 misalnya, APM SD/MI/Paket A berada di angka 98,05%, beranjak ke SMP/MTs/Paket B APM tersebut menurun ke angka 80,29%, dan APM tersebut Kembali turun untuk tingkat SMA/MA/Paket C di angka 57,22%. Penurun APM di tiap tingkatan pun terjadi pada tahun 2018 dan 2019.
Sementara tabel di bawah ini semakin memperjelas mengenai perbandingan angka partisipasi murni (APM) dan kotor (APK) di Jawa Barat antara tahun 2016 hingga tahun 2018.
Tabel 4. 12 APM dan APK Jawa Barat (tahun 2016-2018)
Jenjang Pendidikan
APM dan APK
APM APK
2016 2017 2018 2016 2017 2018 SD/MI 97.82 97.99 98.25 108.09 107.54 106.24 SMP/MTs 79.76 80.24 81.01 89.58 88.80 90.96 SMA/SMK/MA 56.92 57.04 57.33 70.56 76.48 75.31
Sumber: (BPS JABAR, 2018)
Merujuk pada Tabel 4.12 tergambar bahwa Angka Partisipasi Murni (APM) siswa sekolah dasar (SD/MI), menengah (SMP/MTs), dan atas (SMA/SMK/MA) selalu mengalami penurunan. Misalnya pada tahun 2016, APM SD/MI berada di angka 97,82%
dan ketika beranjak ke SMP/MTs angka partisipasi itu menurun drastis menjadi 79,76%
begitu pula dengan APM di tingkat SMA/SMK/MA tahun 2016 yang turun kembali ke angka 56,92%. Penurun angka ini berlaku juga pada tahun 2017 dan 2018. Ini menjadi trend umum di Indonesia karena prioritas keluarga berubah pada tiap jenjangnya.
Kajian Ketahanan Ekonomi Dalam Masa Pandemi Covid-19 di Provinsi Jawa Barat 4.8 Tenaga Kerja
Menteri Ketenagakerjaan pada beberapa media mengungkapkan bahwa Provinsi Jawa Barat menjadi provinsi dengan tenaga kerja yang terdampak imbas dari Covid19 paling banyak.
Data yang dihimpun Kementerian Ketenagakerjaan (hingga 31 Juli 2020) menjelaskan bahwa pekerja formal maupun informal yang terdampak Covid-19 di Provinsi Jawa Barat mencapai lebih dari 342.772 orang pekerja. Sementara total pekerja formal maupun informal secara nasional yang terdampak Covid19 mencapai lebih dari 3,5 juta orang. Tabel di bawah ini menunjukkan angka partisipasi kerja di Jawa Barat tiga tahun terakhir (dari tahun 2018 hingga tahun 2020).
Tabel 4. 13 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Jawa Barat Menurut Kab./Kota Tahun 2018-2020 Wilayah Jawa Barat
Kajian Ketahanan Ekonomi Dalam Masa Pandemi Covid-19 di Provinsi Jawa Barat Kota Tasikmalaya 62.63 65.26 66.54 Kota Banjar 64.93 67.59 67.35
Sumber: (BPS JABAR, 2020)
Tabel di atas menunjukkan fluktuasi Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) di Jawa Barat; misalnya pada tahun 2018, TPAK berada di angka 62,84%, sementara tahun berikutnya naik ke angka 64,99%, namun pada saat pandemi terjadi angka tersebut turun ke angka 64,53%. Kendati masa pandemi dianggap sebagai hambatan dan kendala bagi daerah untuk meningkatkan TPAK, tetapi beberapa daerah justru berhasil meningkatkannya.
Beberapa daerah tersebut di antaranya: Kabupaten Ciamis dari 67,39% pada tahun 2019 menjadi 71,41% di tahun 2020; Kabupaten Pangandaran dari 75,08% pada tahun 2019 menjadi 76,79% di tahun berikutnya; demikian juga dengan Kota Tasikmalaya, Kota Cirebon, serta Kabupaten Cianjur. Sedangkan wilayah lainnya mengalami imbas dari pandemi Covid19.
Tabel 4. 14 Tingkat Pengangguran Terbuka Menurut Kab./Kota Tahun 2018-2020
Wilayah Jawa Barat
Kajian Ketahanan Ekonomi Dalam Masa Pandemi Covid-19 di Provinsi Jawa Barat
Data pada Tabel 4.14 mengkonfirmasi bahwa pandemi Covid19 telah mendorong tingkat pengangguran terbuka di Jawa Barat. Angka pada tahun 2019 yang sudah menurun dari tahun sebelumnya, dengan pasti melonjak pada tahun 2020 di angka 10,46%. Ada beberapa wilayah yang menunjukkan angka lebih tinggi dari rerata Jawa Barat (10,46%), di antaranya: Kabupaten Bogor (14,29%), Kota Cimahi (13,30%), dan Kota Bogor (12,68%), Kabupaten Bandung Barat (12,25%). Sementara itu, ada beberapa daerah lainnya tingkat pengangguran terbuka cukup kecil, di antaranya: Kabupaten Pangandaran (5,08%), Kabupaten Ciamis (5,66%), dan Kabupaten Majalengka (5,84%). Pandemi ini tentu berpengaruh terhadap banyak sektor mulai pariwisata, UMKM, hingga perniagaan lainnya.
Kajian Ketahanan Ekonomi Dalam Masa Pandemi Covid-19 di Provinsi Jawa Barat
Dari gambaran umum di atas, dapatlah tergambar bahwa data tahun 2020 yang menukik bukan disebabkan kinerja yang buruk, tetapi ada penyebab utama yakni imbas Covid19 yang berimplikasi pada ketahanan social secara umum. Oleh sebab itu, Kajian Ketahanan Sosial menjadi sangat penting dan urgun dalam rangka memahami persoalan sekaligus juga mencoba mencari jalan keluar terbaik yang tersedia dari alternatif yang ada.
Kajian Ketahanan Ekonomi Dalam Masa Pandemi Covid-19 di Provinsi Jawa Barat 57
BAB V
PEMBAHASAN
Bab ini menyajikan gambaran hasil dan pembahasan mengenai situasi dan kondisi ketahanan ekonomi di Jawa Barat terutama di sektor Pertanian, UMKM dan Pariwisata.
Kondisi dan situasi ini menggambarkan beberapa aspek diantaranya adalah penghitungan analisis Lq (Location Quotient) dan analisis tipologi klasssen, dimana Lq ini nantinya akan mencoba melihat besarnya peranan suatu sektor di suatu daerah terhadap besarnya peranan suatu sektor tersebut secara nasional terutama tiga sektor tadi dimana hal ini mampu menunjukan apakah ketiga sektor tadi menjadi sektor basis atau unggulan di Jawa Barat atau sebaliknya sektor itu adalah sektor non-basi atau sektor non-unggulan di Jawa Barat.
kemudian tipologi klassen dimana analisis ini akan menunjukan laju pertumbuhan dan kontribusi pendapatan perkapita sektor di daerah Jawa Barat terhadap pendapatan perkapita di Nasional. Sehinga dari dua analisis tadi dapat dirumuskan kebijakan atau intervensi yang tepat sasaran.
5.1. Gambaran Hasil
Seperti yang sudah diuraikan sebelumnya bahwa dalam perumusan kebijakan ekonomi untuk mencapai tujuan peningkatan kesejahteraan masyarakat Jawa Barat khususnya perlu adanya satu analisis yang mampu menggambarkan kondisi dan situasi keadaan sektor perekonomian di Jawa Barat. Berangkat dari pemahaman prioritas pengembangan perekenomian hari ini di Jawa Barat menitik beratkan pada 3 sektor yakni Pertanian, UMKM dan Pariwisata makan gambara hasil yang dapat digambarkan melelui dua pendekatan tadi dan juga dari hasil Focus Group Discussion kami adalah bahwa ketiga sektor ini mengalami ketidakstabilan pertumbuhan dan juga naik turunnya peranan sektor
Kajian Ketahanan Ekonomi Dalam Masa Pandemi Covid-19 di Provinsi Jawa Barat
itu sendiri teradap peranan sektor di tingkat nasional yang diakibatkan oleh beberapa faktor diantaranya adalah pandemi Covid-19 dan juga pemanfaatan teknologi.
Grafik 5. 1 LQ (Location Quotient) 17 Sektor Ekonomi Jawa Barat
Sumber : diolah oleh tim Peneliti
Dari grafik diatas bisa dilihat bahwa dari 17 sektor yang hari ini menjadi bahan analisis hanya ada 4 sektor di Jawa Barat yang nilai LQ > 1 dan juga peranan sektornya lebih besar dari peranan sektor di tingkat nasional. 4 sektor tersebut adalah Industri pengolahan, Perdagangan besar dan eceran, transportasi dan pergudangan dan yang terakhir adalah jasa lainnya. Dari grafik diatas bisa dilihat bahwa terjadi pemusatan ekonomi di 4 sektor tersebut atau dengan kata lain hanya ada 4 sektor yang hari ini menjadi sektor basis Lq > 1 dimana ini menunjukan sektor tersebut mampu memenuhi kebutuhan didaerahnya sedangakan yang lainnya Lq < 1 yang artinya sektor lainya belum mampu menjadi sektor basis dan belum mampu memenuhi kebutuhan didaerahnya.
Kajian Ketahanan Ekonomi Dalam Masa Pandemi Covid-19 di Provinsi Jawa Barat
Tabel 5. 1 Tipologi Klassen Sektor Perekonomian Jawa Barat
Sumber : Diolah oleh tim peneliti
Melihat data tipologi klassen diatas kita dapat melihat bahwa dari 17 sektor perekonomian Jawa Barat hari ini 9 sektor diantaranta berada pada posisi kuadran IV atau kuadran terbelakang dengan sektor yang laju pertumbuhan dan kontribusinya lebih kecil dibandingkan dengan tingkat nasional. Hal ini menunjukan bahwa 9 sektor tersebut terimbas oleh beberapa faktor yang hari ini terjadi diantaranya adalah pandemi covid-19 yang mau tidak mau memberikan dampak buruk pada perekonomian di Jawa Barat. Namun disisi lain terdapat 5 sektor perekonomian yang hari ini berada pada posisi kuadran I atau Kuadran prima dimana kuadran ini hari ini menggambarkan laju petumbuhan yang tinggi dan juga kontribusi sektor yang tinggi melebihi tingkat nasional.
5.2. Ketahanan Ekonomi di Sektor Pertanian
Sektor pertanian biasanya menjadi sektor unggulan dan sektor basis di beberapa daerahmengingat setiap daerah tentunya mempunyai hasil pertaniannya sendiri, namun hal ini belum tentu juga terjadi di setiap daerah yang meskipun secara geografis daerah tersebut menjadi daerah yang hari ini cocok dan tepat untuk menghasilkan hasil bumi atau sektor
Kajian Ketahanan Ekonomi Dalam Masa Pandemi Covid-19 di Provinsi Jawa Barat
pertanian. Hal ini yang terjadi di Jawa Barat misalnya meskipun secara geografis hari ini Jawa Barat masih terdapat banyak daerah – daerah yang bisa dijadikan untuk menghasilkan produk hasil bumi atau sektor pertanian, hal ini tergambar dari hasil analisi Lq yang dilakukan untuk sektor pertanian (Lihat grafik 5.2)
Grafik 5. 2 LQ (Location Quotient) Sektor Pertanian Jawa Barat
Sumber : diolah oleh tim peneliti
Dari grafik diatas bisa dilihat bahwa selama lima tahun kebelakang sektor pertanian bukan menjadi sektor basis perkonomian di Jawa Barat yang artinya adalah bahwa hari ini sektor pertanian di Jawa Barat belum mampu memenuhi kebutuhan di daerah Jawa Barat sendiri, selain itu juga grafik diatas juga menunjukan bahwa peranan atau kontribusi sektor pertanian sendiri peranannya tidak lebih besar dibandingkan dengan peranan sektor pertanian tingkat nasional secara peranan sektor terhadap perkenonomian dan cenderung tidak bisa mengekspor ke daerah lain atau ke negara lain, bahkan dari data diatas juga menunjukan bahwa terjadi penurunan kontribusi yang terus terjadi dalam rentan waktu lima tahun ini menunjukan bahwa kontribusinya terus merendah dan sektor pertanian cenderung sudah mulai ditinggalkan sehingga secara produksi hasil produk pertanian di Jawa Barat.
0,60
Kajian Ketahanan Ekonomi Dalam Masa Pandemi Covid-19 di Provinsi Jawa Barat
Sektor pertanian cenderung mengalami penurunan selama 3 tahun terakhir meskipun terjadi peningkatan kontribusi secara lapangan usaha dimana pada tahun 2018 secara harga konstan dilihat kontribusi sektor pertanian sebesar 101.752,2 miliar rupiah, kemudian pada tahun 2019 104.596,75 miliar rupiah dan pada 2020 106.991,94 miliar rupiah. namun secara analisis LQ sektor pertanian menunjukan stagnansi laju pertumbuhan atau peranan sektor terhadap PDRB Jawa Barat sendiri dibanding dengan tingkat nasional hasil analisis LQ sektor pertanian stagnan di angka 0,57 yang berarti sektor pertanian bukan menjadi sektor basis hari ini dikarenakan belum mampu memenuhi kebutuhan di daerah Jawa Barat itu sendiri, hal ini terkonfirmasi oleh analisis tipologi klassen dimana sektor pertanian berada pada kuadran potensial yang hari ini secara laju pertumbuhan lebih kecil dibanding dengan tingkat nasional meskipun secara kontribusinya terhitung tinggi.
Dilihat dari analisis tipologi klasssen dimana analisis ini mampu menjadi salah satu dasar pengembangan sektor baik itu secara jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang guna menentukan sektor prima, sektor berkembang, sektor potensial dan berkembang sehingga dapat dirumuskan kebijakan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, untuk sektor pertanian Jawa Barat selama lima tahun terakhir hasil dari analisis tipologi klassen dapat dilihat dari tabel dibawah ini
Jika dilihat dari hasil analisis tipologi Klassen (Tabel 5.1) maka ketika pada tahun 2020 sektor pertanian meningkat ke kuadran II atau kuadran sektor berkembang dengan yang meskipun secara laju pertumbuhan tidak lebih besar dibandingkan tingkat nasional tapi secara kontribusi masih lebih besar dibandingkan sektor pertanian di tingkat nasional, dimana hal ini berarti sektor pertanian masih harus terus dikembangkan secara maksimal sehingga dapat terus meningkat menjadi sektor prima di masa yang akan datang dimana laju pertumbuhan dan kontribusinya lebih besar dibandingkan dengan tingkat nasional hal ini
Kajian Ketahanan Ekonomi Dalam Masa Pandemi Covid-19 di Provinsi Jawa Barat
tentunya mengindikasikan ada pergeakan yang baik secara kontribusi sektor pada tahun 2020 ini yang berarti geliat perekonomian sektor pertanian mulai lagi bergerak. Namun tadi jika dilihat dari analisis LQ sektor pertanian mengalami stagnansi pertumbuhan dan kontribusi dibanding tingkat nasional sehingga perlu beberapa intervensi yang hari ini hadir di sektor pertanian di Jawa Barat, mengingat sektor pertanian masih menjadi salah satu andalah sektor perekonomian Jawa Barat.
5.3 Ketahanan Ekonomi di Sektor UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah)
Sektor UMKM hari menjadi salah satu sektor penyumbang pertumbuhan ekonomi di Indonesia begitupun di Jawa Barat. Dari 17 klasifikasi sektor perekonomian yang tercantum dalam penghitungan PDRB dan PDB sektor UMKM ini diasumsikan pada 10 sektor, dimana diasumsikan bahwa 10 sektor ini berkaitan langsung dengan sektor UMKM, 10 sektor itu diantaranya :
1. Industri pengolahan 2. Kontruksi
3. Perdagangan besar dan eceran: reparasi mobil dan sepeda motor 4. Transportasi dan pergudangan
5. Penyediaan akomodasi dan penyediaan makan minum 6. Informasi dan komunikasi
7. Real estat 8. Jasa Perusahaan 9. Jasa Pendidikan 10. Jasa Lainnya
Kajian Ketahanan Ekonomi Dalam Masa Pandemi Covid-19 di Provinsi Jawa Barat
Sektor UMKM hari ini menjadi andalan sebagai salah satu sektor yang mampu terus menggerakan roda perekonomian dari level yang paling rendah, banyaknya UMKM hari ini menjadi salah satu tolak ukur kemampuan pergerakan perekonomian daerah, sektor UMKM hari ini sudah merambah ke banyak sektor dimulai dari sektor jasa, sektor kuliner, sektor fashion dan sektor lainnya hal ini mengakibatkan sektor UMKM menjadi roda penggrak perekonomian. Selain itu banyaknya program pemerintah hari ini yang menyasar pelaku UMKM mengakibatkan banyak munculnya UMKM – UMKM baru. Lalu apa yang terjadi dengan keadaan dan situasi sektor UMKM di Jawa Barat
Grafik 5. 3 Kategori Usaha Sektor UMKM di Jawa Barat
Sumber : Opendata.jabarprov.go.id
Data diatas menunjukan bahwa sektor UMKM di Jawa Barat mayoritas bergerak di sektor kuliner hal ini dikarenakan Jawa Barat hari ini menjadi surganya pangana atau kuliner hal ini salah satunya didorong dengan budaya dan kreatifitas masyarakat Jawa Barat dalam melahirkan panganan dan olahan makanan dari 6 tahun terakhir rentan waktu 2016 – 2021 sektor UMKM ini terus berkembang dan bertambah jumlahnya ini menunjukan bahwa
Kajian Ketahanan Ekonomi Dalam Masa Pandemi Covid-19 di Provinsi Jawa Barat
UMKM menjadi salah satu penggerak perekonomian Jawa Barat namun juga perlu dilihat hari ini kontribusi dan pertumbuhan sektor UMKM ini sendiri.
Grafik 5. 4 Jumlah UMKM Jawa Barat Berdasarkan Kategori Sektor
Sumber : Diolah oleh tim peneliti
Dari data diatas berkaitan dengan UMKM di Jawa Barat secara Jumlah memang cukup besar ada sekitar 4 juta UMKM hari ini di Jawa Barat yang tersebar ke beberapa sektor perekonomian dimana sektor perdagangan besar dan eceran hari ini menjadi sektor dengan jumlah tertinggi disusul dengan sektor penyediaan akomodasi dan penyediaan makan minum ini tentunya sangat berkaitan dengan pola kegiatan perekonomian di Jawa Barat yang banyak sektor pariwisata selain disisi lain kekayaan budaya di Jawa Barat hari ini menjadikan sektor UMKM ini juga tumbuh pesat di Jawaw Barat sebagai salah satu penggerak roda perekonomian 4 sektor di UMKM hari ini yang menjadi andalan perekonomian Jawa barat dan melebihi kontribusi atau peranan sektor tersebut di tingkat nasional yakni Industri perngolahan dengan kontribusi PDRB sebesar 614.291,24 miliar rupiah pada tahun 2020, sektor industri pengolahan di Jawa Barat menjadi sektor tertinggi
Kajian Ketahanan Ekonomi Dalam Masa Pandemi Covid-19 di Provinsi Jawa Barat
penyumbang perekonomian Jawa Barat dibandingkan dengan sektor lainnya, selanjutnya sektor jasa lainnya dengan kontribusi PDRB 32.045,37 miliar rupiah di tahun 2020, transportasi dan pergudangan dengan kontribusi PDRB 68.097,41miliar rupiah di tahu 2020, dan perdagangan besar dan eceran kontribusi PDRB 214.374,85 miliar ruiah pada tahun 2020.
Dilihat dari data (Grafik 5.1) sebenarnya menunjukan dari 10 sektor yang diasumsikan sebagai sektor UMKM 4 sektor didalamnya menjadi sektor basis atau unggulan yang dimana itu menunjukan bahwa hari ini dari 10 sektor hanya ada 4 sektor yang sudah memenuhi kebutuhan regional daerah dan sudah bisa mengekspor ke luar daerah bahkan luar negeri sedangkan sisanya belum mampu memenuhi kebutuhan regional atau daerah, ini menunjukan bahwa adanya ketidak merataan pertumbuhan dan perkembangan di sektor UMKM ini sendiri sehingga perlu adanya intervensi terhadap sektor ini dar pemerintah melalui kebijakan. Meskipun dilihat dari rentan 5 tahun terlihat beberapa sektor mengalami peningkatan.
Kemudian dilihat dari analisis tipologi klassen (tabel 5.1) dimana analisis perlu dilakukan sehingga penentuan kebijakan tadi dapat dilakukan secara efektif dan juga penentuan prioritas sektor yang diintervensi ini bisa tepat sasaran untuk perkembangan jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Sehingga hasil analisis tipologi klassen berupa pengklasifikasian sektor prima, berkembang, potensial dan tertinggal ini dapat menjadi acuan penentuan kebijakan sektor UMKM ini. Hasil analisis tipologi klassen untuk sektor UMKM ini terjadi perubahan baik di tahun 2020 berkaitan dengan sektor UMKM ini dimana pada tahun 2020 ada 4 sektor UMKM yang masuk ke kuadran sektor prima yakni transpotasi dan pergudangan, penyediaan akomodasi dan penyediaan makan minum, jasa pendidikan dan juga jasa lainnya hal ini berarti terjadi laju pertumbuhan dan
Kajian Ketahanan Ekonomi Dalam Masa Pandemi Covid-19 di Provinsi Jawa Barat
juga kontribusi yang baik di sektor tersebut dimana ditahun sebelumnya sektor tersebut berada di kuadran sektor potensial dan tertinggal. Meskipun disisi lain ada juga sektor yang menurun ke kuadran tertingal hal ini dimungkinkan karena di tahun 2019 dan 2020 ini terjadi pandemi sehingga beberapa sektor pasti terimbas dari adanya pandemi Covid-19. Sesuatu yang kami anggap wajar terjadi penurunan hal ini terkonfirmasi oleh FGD (Focus Group Discussion) yang kami lakukan di 2 daerah yakni Kota Cirebon dan Kota Tasikmalaya
bahwa dengan adanya pandemi Covid-19 menjadi penghambat pada ruang gerak perekonomian di sektor UMKM selain dengan proses digitalisasi hari ini yang belum mampu secara maksimal dimanfaatkan para pelaku UMKM. sehingga sebetulnya memang perlu ada intervensi khusus dan juga kebijakan yang tepat terkait dengan UMKM ini jika melihat analisis diatas hal ini memang dikarenakan sektor UMKM ini menjadi sektor yang rentan dan juga sangat terdampak dengan adanya pandemi covid-19.
5.4 Ketahanan Ekonomi Sektor Pariwisata
Sektor pariwisata merupakan salah satu sektor yang menjadi salah satu penggerak roda perekonomian di Jawa Barat, hal ini dikarenakan Jawa Barat yang memiliki jumlah
Sektor pariwisata merupakan salah satu sektor yang menjadi salah satu penggerak roda perekonomian di Jawa Barat, hal ini dikarenakan Jawa Barat yang memiliki jumlah