• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian

3. Pendidikan non formal

Tingkat pendidikan non formal dalam bentuk pelatihan pada umumnya sangat berpengaruh terhadap kemampuan fasilitator di lapangan. Semakin tinggi tingkat pelatihan-pelatihan yang diikuti oleh fasilitator tentang bagaimana tugas dan wewenang fasilitator dalam menciptakan partisipasi kelompok binaan maka semakin tinggi perilaku komunikasi partisipatif dalam kelompok binaan. Pendidikan non formal yang semakin banyak diikuti oleh fasilitator semakin tinggi diharapkan dapat semakin mudah mencapai tujuan-tujuan kelompok.

Pada penelitian ini diperoleh sebesar 26 faslitator memiliki tingkatan tinggi yang pernah mengikuti pelatihan fasilitator selama lebih dari 6 hari dengan persentase sebesar 68,6% dari seluruh sampel. Artinya sebagian besar fasilitator di PNPM perkotaan pernah mengikuti pendidikan nonformal, hal ini dikarenakan fasilitator memiliki pengalaman waktu berbeda-beda, semakin lama menjadi fasilitator maka semakin sering mengikuti pendidikan non formal, sehingga sebagian besar mereka mengikuti pendidikan nonformal sebagai dasar dalam megembangkan kapasitas kemampuannya.

Menurut hasil pengamatan di lapangan, perbedaan lamanya jumlah hari dalam mengikuti pelatihan lanjutan berbeda-beda, hal ini dipengaruhi oleh metode-metode dan dana yang dimiliki oleh PNPM Mandiri perkotaan. Secara umum seluruh sampel fasilitator dalam program PNPM Mandiri Perkotaan pernah mengikuti pelatihan- pelatihan fasilitator dari berbagai tingkatan- tingkatan pelatihan. Semakin tinggi dan lama seorang fasilitator mendapatkan pendidikan non formal dalam bentuk pelatihan maka akan mempengaruhi fasilitator tersebut untuk menciptakan komunikasi partisipatif dalam mensukseskan tujuan- tujuan

kelompok binaan, hal ini dikarenakan fasilitator mengerti tentang tugas- tugas serta wewenang dalam kelompok binaan.

Peran Fasilitator

Peran fasilitator yang di amati dalam penelitian ini berupa tingkatan dan persentase peran fasilitatif fasilitator dalam kelompok binaan PNPM Mandiri Perkotaan. Tingkatan dan persentase peran fasilitatif fasilitator ini disajikan dalam Tabel 10.

Tabel 10. Tingkatan dan persentase fasilitator menurut peran fasilitatif program PNPM Mandiri Perkotaan Bandar Lampung

Tingkat Peran Fasilitatif Fasilitator Jumlah (%) Tinggi 8 21,2 Sedang 25 65,7 Rendah 5 13,1 Jumlah 38 100

Berdasarkan tabel di atas diperoleh urutan terbesar tingkat peran fasilitatif fasilitator berada di tingkat sedang. Peran fasilitatif fasilitator tersebut yaitu membantu anggota komunitas agar berpartisipasi dalam program pengembangan masyarakat, dengan memberikan inspirasi, semangat, rangsangan, inisiatif, energi dan motivasi sehingga mampu bertindak. Peran ini ini juga berupa memberikan dukungan kepada orang-orang yang terlibat dalam struktur dan kegiatan komunitas. Hal ini terlihat fasilitator membantu tim refleksi kemiskinan dalam persiapan dan pelaksanaan simulasi refleksi kemiskinan, membantu dalam persiapan dan pelaksanaan pelatihan LKM (lembaga keswadayaan masyarakat) serta KSM (kelompok swadaya masyarakat).

Perilaku Komunikasi Partisipatif Fasilitator

Perilaku komunikasi partisipatif fasilitator yang diamati dalam penelitian ini adalah (1) tingkatan fasilitator dalam memberikan akses kepada kelompok binaan PNPM Mandiri, (2) tingkatan fasilitator dalam menciptakan dialog untuk menyelesaikan tugas kelompok dan dialog untuk memelihara interaksi dalam kelompok binaan dan (3) tingkatan fasilitator dalam melakukan kegiatan refleksi-aksi dalam kelompok binaan.

Tingkatan dalam memberikan akses kepada kelompok binaan ialah sejauh mana fasilitator memberikan ruang dan kesempatan kelompoknya secara

bersama-sama untuk berpartisipasi (melakukan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi) dalam sebuah kegiatan penanggulangan kemiskinan di daerah mereka. Pemberian akses ini juga melibatkan pihak-pihak yang mempunyai peran penting, hal ini dimulai dengan memberikan akses ke RT, RW, Lurah sampai kepada pemerintah setempat di setiap kegiatan-kegiatan kelompok.

Tingkatan fasilitator dalam menciptakan dialog penyelesaian masalah kelompok ialah sejauh mana fasilitator dalam kelompok selalu melakukan dialog bersama sebagai media untuk menyelesaikan masalah-masalah kelompok dalam tahap perencanaan pelaksanaan dan evaluasi kegiatan, sedangkan tingkatan fasilitator dalam memelihara interaksi kelompok ialah sejauh mana fasilitator menciptakan rasa saling menghargai dan menghormati dalam dialog-dialog kelompok.

Tingkatan fasilitator dalam melakukan kegiatan refleksi-aksi ialah sejauh mana fasilitator bersama-sama dengan kelompok binaan untuk melihat kondisi sosial, lingkungan dan mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kemiskinan di daerah mereka.

Hasil penelitian di lapangan tentang tingkatan dan persentase perilaku komunikasi partisipatif fasilitator disajikan dalam tabel 11.

Tabel 11. Tingkatan dan porsentase fasilitator menurut perilaku komunikasi partisipatif program PNPM Mandiri Perkotaan Bandar Lampung

Perilaku komunikasi partisipatif fasilitator

Tingkatan Jumlah (%)

Pemberian akses Rendah 9 23,6

Sedang 13 34,3

Tinggi 16 42,1

Jumlah 38 100

Dialog (penyelesaian Rendah 14 36,9

Tugas kelompok) Sedang 9 23,7

Tinggi 15 39,4

Jumlah 38 100

Dialog (pemeliharaan Rendah 15 39,4

Sedang 4 10,6

Interaksi kelompok) Tinggi 19 50

Jumlah 38 100

Refleksi - aksi Rendah 12 31,6

Sedang 9 23,7

Tinggi 17 44,7

Berdasarkan tabel di atas sebanyak 42,1% atau sejumlah 16 responden fasilitator memiliki tingkatan paling tinggi dalam memberikan akses kepada kelompok binaannya untuk bersama-sama berpartisipasi dalam perencanaan pelaksanaan dan evaluasi kegiatan kelompok binaan. Dapat dikatakan hampir setengahnya dari responden memiliki tingkatan yang baik dalam memberikan akses kepada kelompok binaannya. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan fasilitator memiliki metoda yang baik dalam menciptakan partisipasi bersama melalui pemberian akses kelompoknya hal ini terlihat fasilitator mengundang para relawan dan perwakilan kelompok miskin untuk hadir dalam rembug warga pembentukan FGD, melakukan simulasi refleksi kemiskinan, melaksanakan refleksi kemiskinan, melakukan sosialisasi pemetaan swadaya, serta menjadi mediator - mediator bagi kelompok didalam program PNPM Mandiri

Tingkatan tertinggi fasilitator dalam menciptakan dialog dalam menyelesaikan tugas-tugas kelompok sebesar 39,4% atau sejumlah 15 responden, sedangkan terendah sebesar 36,9% atau sejumlah 14 responden. Untuk tingkatan sedang sebesar 23,7% atau sejumlah 9 responden. Dapat dikatakan sebesar 63% atau hampir tiga perempat responden fasilitator memiliki tingkatan yang baik dalam menciptakan dialog untuk menyelesaikan tugas-tugas kelompok. Hasil pengamatan dilapangan fasilitator mengakui bahwa dialog merupakan media yang tepat untuk menyelesaikan tugas-tugas yang menjadi tujuan bersama dalam kelompoknya. Hal ini terlihat fasilitator memberi saran, memberi informasi, memberi pendapat, mencari informasi di setiap rangkaian kegiatan refleksi kemiskinan, pemetaan swadata, pembentukan LKM (lembaga keswadayaan masyarakat), pembentukan KSM (kelompok swadaya masyarakat)

Tingkatan tertinggi fasilitator untuk menciptakan pemeliharaan interaksi kelompok dalam dialog kelompok binaan sebesar 50% atau hampir setengah responden fasilitator dengan jumlah 19 resonden. Berdasarkan wawancara dilapangan dengan fasilitator bahwa hampir separuhnya, fasilitator menyadari bahwa sangat penting dalam membina dan memelihara interaksi di dalam kegiatan dialog kelompok karena dengan terciptanya interaksi yang baik, segala sesuatu permasalahan kelompok dapat diselesaikan dengan mudah, walaupun pada pelaksaannya banyak menemui kesulitan. Secara umum fasilitator selalu membina

dan memelihara interaksi dengan kelompok binaannya pada saat melakukan dialog. Hal ini terlihat fasilitator sering membuat lelucon dalam dialog, menerima dan meminta saran kepada setiap anggota kelompok

Sejumlah 17 responden atau sebesar 44,7% responden fasilitator memiliki tingkatan yang tinggi dalam melakukan kegiatan refleksi-aksi dengan kelompoknya, sedangkan sebesar 23,7% atau sejumlah 9 responden fasilitator memiliki tingkatan sedang. Dapat dikatakan hampir tiga perempat responden atau sebesar 68,3% melakukan kegiatan refleksi-aksi dengan baik bersama kelompok binaannya, secara umum seluruh fasilitator melakukan kegiatan refleksi-aksi, karena mereka menyadari dengan melakukan kegiatan refleksi-aksi dapat menyadarkan kelompok binaan untuk mengerti kondisi sosial, lingkungan mereka serta dapat mengidentifikasi faktor penyebab kemiskinan yang terjadi di daerah mereka secara mandiri. Hal ini terlihat fasilitator bersama-sama engan anggota kelompok membentuk tim pemetaan swadaya, merencanakan dan melaksanakan refleksi kemiskinan.

Hubungan Karakteristik Fasilitator terhadap Perilaku Komunikasi Partisipatif Fasilitator

Hipotesis penelitian ini adalah terdapat hubungan nyata antara karakteristik fasilitator terhadap perilaku komunikasi partisipatif fasilitator. Adapun variabel karakteristik fasilitator yaitu pengalaman, pengetahuan nonteknis, pengetahuan teknis dan pendidikan nonformal. Variabel perilaku komunikasi partisipatif fasilitator, yaitu pemberian akses, dialog penyelesaian tugas, dialog pemeliharaan kelompok dan refleksi aksi. Untuk mengetahui tingkat hubungan antara kedua variabel tersebut, dilakukan pengujian statistik dengan menggunakan uji korelasi Spearman dengan program SPSS 17.0 for windows.

1. Hubungan antara pengalaman terhadap perilaku komunikasi partisipatif