• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendidikan Rahmah El Yunusiyah

BAB III PROFIL RAHMAH EL YUNUSIYAH

B. Pendidikan Rahmah El Yunusiyah

Ayah Rahmah El Yunusiyah, Syekh Haji Muhammad Yunus meninggal dunia pada tahun 1906M, ketika itu Rahmah El Yunusiyah masih kanak–kanak sehingga ia tidak banyak mendapatkan pendidikan dari ayahnya. Ia dibesarkan oleh ibu dan diasuh oleh kakaknya yang telah berumah tangga. Sejak kecil, Rahmah El Yunusiyah tidak pernah bersekolah di Sekolah Dasar (Sekolah Desa, Sekolah Gubernemen) yang memang telah ada juga di Minangkabau pada masa kanak-kanaknya dulu. Meskipun begitu, ia banyak belajar dari lingkungannya. Pada usia enam tahun beliau mulai belajar membaca Al-Qur’an kepada Engku Uzair gelar Malim Batuah, salah seorang dari murid Syekh Haji Muhammad Yunus.13

Rahmah El Yunusiyah dituntun tulis–baca huruf latin oleh kakaknya Zainuddin Labay dan Muhammad Rasyad yang pernah belajar di Sekolah Desa. Umi Rafi’ah, ibunya juga ikut mengajari Rahmah El Yunusiyah berhitung dengan angka–angka Arab (angka Melayu). Kepandaian membaca dan menulis ini, kemudian hari sangat menolongnya dalam menambah ilmu pengetahuannya, karena ia termasuk salah seorang anak yang senang membaca.

Sejak 10 tahun Rahmah El Yunusiyah aktif mengunjungi pengajian–pengajian yang sangat banyak diadakan di lingkungan masyarakat sekitarnya. Pada saat itu telah ada di lingkungan masyarakat Minangkabau sekitar delapan surau yang melakukan kegiatan pengajian secara bergiliran dari satu surau ke surau yang lain. Dengan cara demikian ia banyak memperoleh pengetahuan agama dan memilih guru-guru yang dapat memuaskan hatinya. Walaupun usianya masih sangat muda untuk mengikuti pengajian tersebut, namun bagi Rahmah El Yunusiyah

13

Panitia penerbitan buku Peringatan 55 tahun Diniyyah Puteri,Peringatan 55 tahun Diniyyah Puteri Padang Panjang ,(Jakarta: CV Ghalia Indonesia,1978)h.177

mengunjungi pengajian ini nampaknya merupakan kesenangan tersendiri pula bagi dirinya.14

Setelah Diniyah School yang didirikan kakaknya pada tanggal 10 Oktober 1915 berdiri, ia ikut belajar di Perguruan ini. Ia banyak memperoleh pengetahuan praktis yang berkenaan dengan pergaulan, terutama pergaulan antara murid-murid perempuan dan laki-laki serta watak manusia yang berbagai ragam. Dahulunya ia jarang atau tidak diperkenankan bergaul dengan anak laki-laki, tapi setelah ia bersekolah di Perguruan ini, ia dapat bergaul dengan murid laki-laki. Ia dapat bertukar fikiran dengan mereka baik mengenai hukum Islam, sosial, budaya dan pergaulan (muamalah). Dari pengenalan berbagai macam watak manusia ini ia mulai menyadari dirinya dan keadaan masyarakat lingkungannya, terutama masyarakat wanita, yaitu mereka yang tidak memperoleh kesempatan menuntut ilmu sebagaimana yang dialaminya.15

Selama ia menjadi siswa Diniyah School, ia dapat menuntut ilmu dengan baik dan dengan kecerdasannya Rahmah El Yunusiyah mendorong dirinya untuk bersikap kritis, tidak puas dengan sistem koedukasi pada Diniyah School yang kurang memberikan penjelasan terbuka kepada siswa puteri mengenai persoalan khusus perempuan. Rasa ketidak-puasannya ini dibicarakan dengan tiga temannya sesama wanita, yaitu Rasuna Said dari Maninjau, yang kemudian hari namanya diabadikan sebagai Pahlawan Nasional, Nanisah dari Bulaan Gadang Banuhampu, dan Jawana Basyir (Upik Japang) dari Lubuk Alung. Mereka berempat bersepakat untuk membentuk kelompok belajar. Rahmah El Yunusiyah mengajak ketiga

14

Ibid.h.177

15

temannya ini untuk menambah ilmu agama secara mendalam di luar perguruan di antaranya di Surau Jembatan Besi.

Bagi Rahmah El Yunusiyah pengajian dan pelajaran yang diterimanya di surau ini pun, juga belum memuaskan hatinya, karena banyak masalah-masalah yang berkaitan dengan wanita yang ditanyakannya tidak memperoleh jawaban yang memuaskan sebagaimana yang dialaminya di Diniyah School. Karena itu Rahmah El Yunusiyah akhirnya meminta kepada Syekh Abdul Karim Amrullah untuk berkenan memberikan pengajian secara privat di rumahnya di Gatangan. Di sini ia memperdalam pengajian mengenai masalah agama dan wanita, di samping itu juga ia mempelajari bahasa Arab, fiqih dan ushul fiqih. Ia baru merasakan adanya kepuasan dan telah menemukan apa yang dicarinya selama ini. 16

Semangat Rahmah El Yunusiyah dalam mempelajari ilmu selain agama dan bahasa Arab, terus berkobar. Sekitar tahun 1931-1935, ia mengikuti kursus ilmu kebidanan di RSU Kayu Tanam dan mendapat izin praktek/ijazah bidan dari dokter. Dalam bidang kebidanan ini ia juga mendapat bimbingan yang mula-mula diberikan dari kakak ibunya Kudi Urai, seorang bidan yang menolong kelahiran dirinya dan Sutan Syahrir (Mantan Perdana Menteri RI). Selain itu, ia belajar ilmu kesehatan dan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K) dari enam orang dokter yang juga gurunya dalam kebidanan: dokter Sofyan Rasyad dan dokter Tazar di Rumah Sakit Umum Kayu Tanam (mendapat izin praktek dan ijazah dengan kedua dokter ini), dokter A. Saleh di RSU Bukittinggi, dokter Arifin dari Payakumbuh, dan dokter Rasjidin dan dokter A. Sani di Padang Panjang. Untuk

16

Aminuddin Rasyad.dkk, H.RAHMAH EL YUNUSIYYAH DAN ZAINUDDIN LABAY EL

YUNUSY Dua Tokoh Bersaudara Tokoh Pembaharu Sistem Pendidikan di Indonesia Riwayat Hidup, Cita-Cita, dan Perjuangannya,(Jakarta: Pengurus Perguruan Diniyyah Puteri Perwakilan Jakarta,1991)h.38

mendalami praktek kebidanan dan ilmu kesehatan ini ia belajar sambil praktek di RSU Kayu Tanam.17

Rahmah El Yunusiyah juga belajar gymnastik (olahraga dan senam) dari seorang guru pada Meisjes Normal School (sebuah pendidikan guru) di Guguk Malintang yaitu Mej. Oliver (nona Olvier). Kemudian ia juga mempelajari cara bertenun tradisional, yakni: bertenun dengan menggunakan alat tenun bukan mesin yang pada masa itu banyak dilakukan oleh masyarakat Minangkabau. Ia mendatangi beberapa pusat pertenunan rakyat seperti Pandai Sikat, Bukittinggi dan Silungkang. Ilmu bertenun ini ia lengkapi dengan belajar jahit-menjahit. Kedua ilmu ini yakni: bertenun dan jahit-menjahit dimasukkannya kedalam kurikulum perguruannya. Mengenai ilmu–ilmu umum seperti ilmu hayat, ilmu alam, ilmu bumi dan lainnya, ia pelajari sendiri dari buku. Kemudian semua ilmu yang ia peroleh dengan kursus atau belajar sendiri ini ia ajarkan kepada murid– muridnya, kelak setelah ia mendirikan sekolah Diniyah Puteri tahun 1923.18

Tempaan pengalaman kehidupan telah membentuk kepribadian Rahmah El Yunusiyah menjadi seorang yang tabah, penuh toleransi dan teguh pendirian, serta berkeimanan yang kuat, akidah yang tangguh dan ketakwaan yang kokoh. Untuk mewujudkan cita–citanya dan bila menghadapi kesulitan, dia semakin

ber-taqarrub dan meningkatkan diri kepada Allah dengan melakukan Sholat Tahajjud dan bermunajat di kesunyian malam.

Demikianlah dilihat dari usaha Rahmah El Yunusiyah menuntut ilmu, nampak bahwa hal tersebut merupakan menifestasi dari ketidakpuasannya terhadap pengetahuan yang diperolehnya dalam masalah kewanitaan. Ia juga merasa

17

Ibid.h.39

18

kecewa melihat kaumnya tidak bisa memperoleh pendidikan yang memadai sebagaimana yang dialaminya. Padahal Rahmah El Yunusiyah meyakini pentingnya peranan pendidikan sebagai salah satu jalan untuk mengangkat derajat kaum perempuan.

Hampir seluruh hidupnya ia berikan untuk mengembangkan dan membesarkan perguruan ini. Pada tanggal 26 februari 1969, Rahmah El Yunusiyah menemui Gubernur Sumatra Barat Harun Zain untuk membicarakan usaha memajukan perguruannya khususnya dan Sumatra Barat umumnya. Hari itu gubernur mengantarkannya hingga halaman kantornya, melepas Rahmah El Yunusiyah menaiki mobil yang akan membawanya kembali ke Padang Panjang.

Keesokan harinya, Harun Zain menerima kabar bahwa Syeikhah Rahmah El Yunusiyah meninggal dunia. Rahmah El Yunusiyah meninggal pada hari Rabu tanggal 9 Zulhijjah 1388H atau tanggal 26 Februari 1969M pada pukul 19.30 di rumahnya sendiri di Padang Panjang, dalam usia 68 tahun lewat 2 bulan. 19

Jenazahnya dikuburkan di perkuburan keluarga disamping rumahnya yang juga di samping Perguruan yang ia dirikan. Setiap orang yang melewati rumah dan perguruannya akan dapat melihat nisan kuburannya di pinggir jalan Lubuk Mata Kucing.

C. Kiprah Rahmah El Yunusiyah di Bidang Pergerakan Sosial, Keagamaan, dan Politik

Selain mengasuh Diniyyah Puteri, Rahmah El Yunusiyah juga aktif di bidang pergerakan sosial, keagamaan, dan politik yang ada pada tahun 1930-an di Padang Panjang. Rahmah El Yunusiyah ikut dalam pergerakan Permi (Persatuan

19

Muslimin Indosesia) yang berdiri pada tahun 1930-an. Ia juga dekat dengan kalangan Muhammadiyyah, serta bekerjasama dengan tokoh wanita Rasuna Said yang juga mengajar di Perguruannya.20

Rahmah El Yunusiyah juga aktif dalam pergerakan menentang praktik-praktik penindasan ataupun pergerakan oleh penjajah Belanda. Hal itu Etek lakukan antara lain dengan mendirikan Perserikatan Guru-Guru Poetri Islam di Bukittinggi, menjadi ketua panitia penolakan Kawin Bercatat, dan ketua Penolakan Organisasi Sekolah Liar. Pada tahun 1933 Rahmah El Yunusiyah memimpin rapat umum kaum ibu di Padang Panjang, hal ini menyababkan dia didenda pemerintah Belanda 100 gulden karena dituduh membicarakan politik.21

Rahmah El Yunusiyah juga pernah menjadi anggota pergurus Serikat Kaum Ibu Sumatra (GKIS) Padang Panjang, organisasi yang itu berjuang menegakkan harkat kaum wanita dengan menerbitkan majalah bulanan. Aktivitasnya yang lain adalah mendirikan Khuttub Khannah ( taman bacaan) untuk masyarakat.

Pada tahun 1935 Rahmah El Yunusiyah mewakili kaum ibu Sumatra Tengah ke kongres perempuan di Jakarta. Dalam kongres ini Rahmah El Yunusiyah bersama Ratna Sari memperjuangkan kaum wanita Indonesia memakai selendang. Sehabis kongres ia agak lama tinggal di Jakarta untuk mendirikan pendidikan untuk kaum putri di Gang Nangka, Kwitang, Kebon Kacang, Tanah Abang, Jatinegara, dan jalan Johar di Rawasari.22

20

Hasil wawancara dengan Faridah Saleh Keponakan Rahmah El Yunusiyah. Sabtu 12 Maret 2011.

21

Aminuddin Rasyad.dkk, H.RAHMAH EL YUNUSIYYAH DAN ZAINUDDIN LABAY EL

YUNUSY Dua Tokoh Bersaudara Tokoh Pembaharu Sistem Pendidikan di Indonesia Riwayat Hidup, Cita-Cita, dan Perjuangannya,(Jakarta: Pengurus Perguruan Diniyyah Puteri Perwakilan Jakarta,1991)h.59.

22

Hasril Chaniago.101 Orang Minang di Pentas Sejarah,(Padang:Citra Budaya Indonesia, 2010) h.427.

Pada zaman Jepang, selain menjalankan sekolahnya yang sudah maju, Bunda juga aktif dalam berbagai organisasi dan gerakan sosial maupun politik. Salah satunya melalui organisasi Anggota Daerah Ibu (ADI) yang bertujuan menetang Jepang menggunakan wanita-wanita Indonesia, khusunya Sumatra Tengah, sebagai penghibur untuk melayani tentara Jepang. ADI juga menuntut pemerintah militer Jepang menutup semua rumah kuning (rumah bordil) karena bertentangan dengan kebudayaan Indonesia dan agama yang dipeluk penduduknya. Gerakan ADI boleh dikatakan berhasil, sehingga Jepang terpaksa mendatangkan wanita-wanita penghibur dari Korea dan Singapura.23

Waktu itu Bunda Rahmah juga pernah menjadi ketua Haha Nokai (Organisasi Kaum Ibu) di Padang Panjang dan menjadi pengurus organisasi yang sama untuk tingkat Sumatra Tengah. Menjelang akhir pendudukan Jepang, Bunda Rahmah juga menjadi anggota peninjau yang dipimpin Mohammad Sjafei. Di samping itu Etek juga menjadi anggota Mahkamah Syari’at Bukittinggi dan anggota Majelis Islam Tinggi Sumatra Tengah.24

Karena Bunda orangnya aktif, nama Bunda Rahmah cepat dikenal secara luas dikalangan pergerakan di Jawa. Sampai-sampai setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, Presiden Soekarno memasukkan nama Bunda sebagai Anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Namun Bunda Rahmah batal pergi ke Jakarta karena tak bisa meninggalkan ibunya yang sedang sakit di Padang Panjang.25

23

Hasil wawancara dengan Faridah Saleh Keponakan Rahmah El Yunusiyah. Sabtu 12 Maret 2011.

24 Ibid 25

Bunda Rahmah juga tercatat sebagai salah seorang pendiri partai Masyumi di Minangkabau. Bunda juga akif mengembangkan Masyumi. Sampai-sampai pemilu tahun 1955, Bunda Rahmah dicalonkan partainya dan terpilih menjadi anggota Parlemen (DPR) mewakili Sumatra Tengah (1955-1958).26

Walaupun aktivitas politik Bunda menonjol juga, tetapi nama Bunda Rahmah lebih diidentikkan dengan Perguruan Diniyyah Puteri. Kaharuman namanya sebagai tokoh pendidikan malampaui batas negaranya. Pada tahun 1955, Diniyyah Puteri mendapat kunjungan Rektor Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir, yang amat mengagumi sistem pendidikan yang dikembangkan Bunda Rahmah. Bahkan kemudian menginspirasi Universitas Al-Azhar membuka pula fakultas khusus untuk wanita yang diberi nama Kuliyyatul Banat.27

Pada tahun 1956 Universitas Al-Azhar mengundang Bunda Rahmah berkunjung ke Kairo. Dalam kunjungannya itu, oleh rapat Senat Guru Besar Universitas Al-Azhar, Bunda dianugrahi gelar Syeikhah. Menurut Buya Hamka, gelar yang diberikan kepada Bunda Rahmah ini adalah gelar tertinggi yang sebelumnya belum pernah diberikan kepada seorang wanita”.28

D. Cita-Cita, Dasar, Tujuan dan Sistem Pendidikan Rahmah El Yunusiyah dengan Diniyyah Puterinya

1. Cita-Cita Rahmah dengan Didirikan Diniyyah Puteri

Rahmah adalah orang yang sangat idealist, cita-citanya tinggi, cakrawala pandangannya jauh ke depan. Beliau menginginkan kedudukan kaum wanita dalam masyarakat tidak hanya sebagai istri yang akan melahirkan anak-anak

26 ibid 27 Ibid 28 Ibid

dan keturunan semata, akan tetapi lebih dari itu dia menginginkan terangkatnya derajat kaum wanita ke tempat yang lebih wajar dan pantas. Merekapun harus mengerti hak dan kewajibannya sebagai istri, sebagai ibu dan sebagai anggota masyarakat. Kaum wanita harus dapat menjalankan perananya sebagaimana yang telah digariskan oleh agama Islam.

Semua yang harus diketahui oleh kaum wanita itu tidak bisa terjadi secara serta-merta. Semuanya harus melalui pendidikan dan pengajaran, dituntut dan dipelajari, serta harus dipahamkan dan dirasa-rasakan kepada kaum wanita itu. Selama mereka berselimutkan kebodohan dan kejahilan, maka nasib kaum wanita itu tidak akan berubah. Oleh karena itu Rahmah berpendapat bahwan wanita itu harus bersekolah, sebagaimana kaum pria bersekolah. Hak untuk mempunyai ilmu pengetahuan dan pendidikan antara pria dan wanita adalah sama.

Bertahun-tahun perasaan seperti ini terpendam di dalam jiwa Rahmah, sejak ia mulai menjadi murid dari Diniyyah School yang didirikan abangnya Zainuddin Labay El Yunusy. Meskipun sekolah itu menerima pelajar puteri, namun Rahmah El Yunusiyah tidak puas dengan belajar secara ko-edukasi itu, sebab menurutnya banyak masalah-masalah kewanitaan yang tidak dapat dipecahkan dalam belajar secara bersama itu.

Di dalam lubuk hatinya terpendam cita-cita ingin mendirikan sekolah sendiri khusus untuk anak-anak puteri, meskipun belum terpikirkan olehnya apakah sudah tepat waktu pada masa itu (1923). Sudah bersediakah mayarakat menerima himbauan agar mau menyekolahkan anaknya yang perempuan.

Sudah maukah para orang tua melepaskan kungkungan anak-anak gadisnya dari pingitan untuk segera dikawinkan dalam usia yang muda ?.

Apapun yang terjadi, hambatan apapun yang akan dihadapinya tampaknya tidak dapat menggeser dan tidak bisa menghambat munculnya cita-cita itu kepermukaan. Maka pada suatu hari beliau sampaikanlah niat dan cita-cita ini kepada abangnya Zainuddin Labay El Yunusy, yang ternyata mendapat tanggapan positif dan dorongan dari beliau, dan mendapat sambutan dan sokongan moril pula dari teman-teman puteri sesama pengurus dan anggota PMDS (Persatuan Murid-Murid Dinyiyyah School), suatu organisasi pelajar yang didirikan pada tanggal 22 Februari 1922, dan beliau sendiri adalah ketua bagian puterinya.

Dengan langkah pasti dan motivasi yang kuat seraya membaca Bismillahir Rahmanir Rahhim pada tanggal 1 November 1923 diremikanlah berdirinya sekolah puteri yang diidam-idamkan Rahmah dengan diberi nama : “Al madrasatut diniyyah”.

Rahmah tidak menginginkan puteri-puteri Indonesia itu hanya mendapatkan pendidikan sekolah rendah saja, akan tetapi dia mengharapkan agar kaum wanita juga diberi kesempatan melanjutkan studinya ke tingkat yang lebih tinggi, semua dengan jenjang pendidikan yang ada. Oleh karena itulah dari tahun ke tahun Rahmah selalu memikirkan peningkatan dan penyempurnaan mutu Perguruannya.

Bermula dari mendirikan pendidikan Al-qur’an, sekolah Diniyyah untuk anak-anak puteri, sekolah menyesal untuk ibu-ibu rumah tangga yang belum sempat mengenyam pendidikan sekolah, Freubel School (taman

kanak-kanak), Junior Institut (setingkat HIS), Diniyyah Puteri yang masa belajarnya selama 7 tahun (Ibtidaiyyah 4 tahun, Tsanawiyyah 3 tahun) kemudian berkembang dengan didirikannya tingkat pendidikan guru yang diberi nama

Kuliyyatul Mu’alimat Al-Islamiyyah dengan masa belajar 3 tahun (1937). Pada tahun 1964 Rahmah mulai merintis terwujudnya cita-cita mendirikan Univesitas Islam Wanita, maka pada tahun 1967 diresmikanlah berdirinya Fakultas Tarbiyyah dan Dakwah dari Perguruan Tinggi Diniyyah Puteri oleh Bapak Harun Zein, Gubernur Sumtera Barat pada waktu itu. Dengan penuh keyakinan akan janji Allah yang berbunyi :

“in tanshurullah yanshurkum wa yutsabbit aqdaamakum.”

Rahmah melangkah terus tanpa akan pernah mengeluhkan : “maksud hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai”.

Senjata perjuangannya menuju cita-cita adalah kekerasan hati, kekuatan iman, bahwa Allah akan menolong siapa yang menolong-Nya (menegakkan agama Islam).

Semuanya sudah dibuktikannya sampai ke akhir hanyatnya.29 2. Landasan Ideal dari Cita-Cita Rahmah

Landasan ideal dari pelaksanaa cita-cita Rahmah itu adalah Al-Qur`an dan As-sunnah.

Untuk menjadikan seorang berimankan Islam, berakidahkan akidah Islam dan berbudi pekerti akhlak Islam, haruslah mendidik dan mengajarkan semua

29

Aminuddin Rasyad.dkk, H.RAHMAH EL YUNUSIYYAH DAN ZAINUDDIN LABAY EL

YUNUSY Dua Tokoh Bersaudara Tokoh Pembaharu Sistem Pendidikan di Indonesia Riwayat Hidup, Cita-Cita, dan Perjuangannya,(Jakarta: Pengurus Perguruan Diniyyah Puteri Perwakilan Jakarta,1991)h.99-100

itu kepadanya melalui pendidikan kitab suci Al-Qu`anul Karim dan Sunnah Nabi Muhammad SAW.

Untuk mencapai cita-citanya itu Rahmah berjuang melalui pendidikan dan dakwah. Pendidikan diberikan melalui lembaga Pendidikan Diniyyah Puteri yang beliau dirikan dan pimpin sejak 1 November 1923. Disamping itu, dakwah pelajar-pelajar yang telah mengikuti latihan-latihan pidato dan dakwah di Perguruan tersebut.30

3. Tujuan Pendidikan Diniyyah Puteri

Memperhatikan landasan ideal dari cita-cita almarhumah dapatlah kita simpulkan, bahwa tujuan pendidikan Diniyyah Puteri adalah sebagai berikut : “membentuk puteri yang berjiwa Islam dan ibu pendidik yang cakap dan aktif serta betanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air atas dasar pengabdian Allah subhanahu wata’ala”.

Membentuk puteri menjadi pribadi yang berjiwa Islam, ini dilaksanakan dalam masa pendidikan 3 tahun pertama.

Setelah jiwa mereka ditempa untuk menjadikan seorang muslimah yang berkahlak mulia, berkepribadian Islam, pada 3 tahun berikutnya kepada mereka lalu diberikan pendidikan untuk membentuk mereka menjadi ibu pendidik yang mencakup tiga pengertian, yaitu :

a. Pengertian primer, adalah ibu pendidik dalam rumah tangga (sesuai dengan fitrah wanita itu menjadi ibu rumah tangga).

b. Pengertian sekunder, ialah ibu pendidik bagi murid-muridnya di sekolah (bagi mereka yang berbakat menjadi guru)

30

c. Pengertian tersier, ialah ibu pendidik dalam masyarakat, yaitu menjadi pemimpin wanita (dalam organisasi atau lembaga-lembaga sosial) dan menjadi mubalighat atau da’iyyat.

Sebagai melengkapi ketiga macam pengetian tujuan pendidikan Diniyyah Puteri ini, kepada murid-murid juga diberikan pendidikan keterampilan dan ilmu keasyarakatan serta ilmu-ilmu pengetahuan yang dapat menunjang keikutsertaan mereka bertanggung jawab terhadap tanah airnya selaku warga negara yang baik.

Semua harus dengan motivasi yang didasarkan kepada pengabdiannya kepada Allah SWT, bukan karena mengharapkan apa-apa dari sesama manusia, melainkan karena Allah semata.

Puteri-puteri yang berkepribadian demikianlah yang dicita-citakan oleh almarhumah Rahmah El Yunusiyah.31

4. Sistem Pendidikan Diniyyah Puteri

Adapun sistem pendidikan ini adalah sistem tri tunggal, yaitu kerjasama yang erat antara lingkungan sekolah, asrama dan rumah tangga atau masyarakat.32

Terjadinya kerjasama yang erat antara ketiga unsur dari sistem pendidikan pada perguruan ini akan sangat membantu membentuk anak didik yang sesuai dengan tujuan pendidikan yang ada di Perguruan ini.

Ini berarti bahwa pendidikan formal yang diberikan di Perguruan pada pagi hari, secara informal dipraktekkan di asrama di bawah asuhan dan

31

Ibid.h.102

32

bimbingan ibu asrama dan guru-guru pengasuh yang seluruhnya adalah wanita.

Apabila pelajar-pelajar pulang kerumah orang tua atau kampung halamannya, maka semua materi pendidikan yang diterima oleh pelajar selama mereka berada di Perguruan ini, akan dipraktekkan di lingkungan keluarga masing-masing, sehingga dapat dilihat apakah cita-cita pendidikan di Perguruan ini dapat direalisasi dan dipraktekkan oleh para pelajar dalam kehidupan sehari-hari.

Sebelum meninggalkan anak-anak mereka di Asrama Diniyyah Puteri kepada para wali murid tersebut telah diberikan pengarahan mengenai pentingnya kerja sama Perguruan dengan orang tua murid dalam memberikan pendidikan kepada anak-anak, supaya sistem yang ditargetkan untuk memenuhi keinginan tidak hanya sekedar tertulis di atas kertas saja.

59

ANALISIS PEMIKIRAN DAN AKTIVITAS DAKWAH RAHMAH EL YUNUSIYAH

A. Identifikasi Informan

1. Prof.Dr. Fauzan.MA., dilahirkan di Pitalah Kabupaten Tanah Datar Sumatra Barat pada tanggal 6 Juli tahun 1939. Ia adalah menantu dari Rahmah El Yunusiyah. Setelah menamatkan pendidikan di Thawalib Putra Padang Panjang lalu beliau melanjutkan S1, S2 di Cairo, Mesir dan S3 di UIN Jakarta. Beliau pernah bertugas sebagai staf ahli Menag, Kakanwil Depag Sumatra Barat. Dan sekarang beliau bertugas menjadi Guru Besar Fakultas Usuluddin dan Filsafat UIN Jakarta dan Dosen di STIT Diniyah Puteri Padang Panjang.

2. Hj. Farida Saleh, lahir pada tanggal 10 Desember 1935, ia adalah keponakan dari Rahmah El Yunusiyah. Setelah menamatkan pendidikannya di TK Diniyah Puteri Padang Panjang, SD Diniyah Puteri Padang Panjang, DMP Diniyah Puteri Padang Panjang tamat tahun 1952, KMI Diniyah Puteri Padang Panjang tamat tahun 1955 lalu kuliah di Muhammadiyah. Ia bertugas sebagai guru di Diniyah Puteri selama 11 tahun, tugas terakhirnya yang beliau emban adalah guru Diniyah Puteri Padang Panjang sampai tahun 1968.

3. Fauziah Fauzan El M, SE.Akt., M.Si, dilahirkan di Padang 5 Januari 1971.

Dokumen terkait