BAB III DESKRIPSI PEMIKIRAN
B. Pendidikan Syari’ah/Ibadah
Adzan artinya pemberitahuan, yaitu kata-kata seruan tertentu untuk
memberitahukan akan masuknya waktu salat fardhu (El-Fati, 2015:25).
Kutipan :“Lembah Lahambay selalu terbungkus kabut di pagi hari,
ketika kehidupan di rumah-rumah mulai menyeruak sejak kumandang adzan shubuh dari surau. Asap putih mengepul dari dapur. Melukis langit-langit lembah. Pertanda kehidupan
sudah dimulai.” (Liye, 2014:41).
“Hanya karena menyadari adzan isya akan segera
berkumandang dari suraulah omelan Mamak akhirnya
terhenti.” (Liye, 2014:71).
“Wak Burhan mengumandangkan adzan shubuh. Meski sudah
sepuh, suara Wak Burhan yang tanpa speaker dari surau terdengar menggema di perkampungan bawah Lembah
Lahambay.” (Liye, 2014:77).
“Dari surau, Wak Burhan mengumandangkan adzan. Baiklah.
Mamak menyuruhnya mencari. Itu artinya cari sampai dapat.”
(Liye, 2014:103).
“Dari tadi siang ia di kebun. Menatap kegagalannya. Sengaja belum pulang meski adzan maghrib sebentar lagi terdengar.”
(Liye, 2014:178).
“Empat bulan berlalu lagi, hari-hari dihabiskan dengan kerja keras, pagi-sore di kebun, bahkan Kak Laisa baru pulang saat adzan maghrib terdengar, telaten merawat satu-demi-satu batangnya. Mencurahkan seluruh perhatian ke kebun satu
hektar itu.” (Liye, 2014:184).
“Shubuh yang menyenangkan. Udara pagi terasa sejuk. Di surau entahlah siapa yang sedang mengumandangkan adzan.
Tidak ada lagi suara keras Wak Burhan.”(Liye, 2014:238).
“Saat adzan terdengar dari suaru (entahlah siapa yang mengumandangkan adzan tersebut sekarang.” (Liye, 2014:259).
“Menunggu saat adzan magrhib setengah jam lagi.” (Liye, 2014:354).
Beberapa kutipan novel di atas Tere Liye menunjukkan hakikat
sebenarnya dari adzan. Apabila telah terdengar suara adzan, menandakan
43
2. Wudhu
Wudhu artinya mengalirkan atau mengenakan air untuk anggota
badan yang ditentukan yang dimulai dengan niat (Abdurrahman dan
Bakhri, 2006:14).
Kutipan :“Hanya karena menyadari adzan isya akan segera
berkumandang dari suraulah omelan Mamak akhirnya terhenti. Menyuruh mereka ambil wudhu. ” (Liye, 2014:71).
“Cie Hui menyerahkan tiga mukena kecil. Ketiga gadis kecil
itu sudah kembali dari kamar mandi. Wudhu. Biasanya setiap jadwal pulang, paling susah membangunkan Juwita dan
Delima.” (Liye, 2014:238).
Kutipan novel di atas Tere Liye menggambarkan bersuci sebelum
melaksanakan shalat. Dalam keadaan marah Mamak Lainuri menyuruh
mereka mengambil wudhu. Ketiga gadis kecil yang juga sudah kembali
dari kamar mandi untuk wudhu.
3. Salat
Menurut bahasa, salat adalah doa. Menurut istilah syara’, salat ialah ibadah kepada Allah dalm bentuk perkataan dan perbuatan yang
dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam yang dilakukan menurut
syarat-syarat yang telah ditentukan oleh syara’ (El-Fati, 2015:35).
Tere Liye mencoba menyampaikan pesan tentang kewajiban
melaksanakan salat.
Kutipan :“Hanya karena menyadari adzan isya akan segera berkumandang dari suraulah omelan Mamak akhirnya
terhenti. Menyuruh mereka ambil wudhu. Shalat
maghrib!”(Liye, 2014:71).
Petikan dialog di atas menggambarkan walau dalam keadaan marah
44
“Musim kemarau, dinginnya semakin terasa menusuk tulang. Tapi Dalimunte semangat shalat di surau.” (Liye, 2014:78). Musim kemarau tidak menjadi halangan bagi Dalimunte untuk
tetap semangat salat di suaru.
“Wak Burhan menyuruh mereka makan siang. Istirahat hingga
satu jam ke depan. Beberapa selepas makan beranjak ke
surau. Shalat dzuhur.” (Liye, 2014:102).
Sesibuk pekerjaan dan aktifitas yang dilakukan, apabila telah tiba
waktu untuk salat lebih baik segera dilaksanakan. Seperti Wak Burhan
yang menyuruh mereka istirahat dan beranjak ke surau untuk
melaksanakan salat dzuhur.
“Bagaimana tidak? Lima belas jam lalu, tepatnya saat ia
shalat shubuh sambil duduk tadi pagi, ia baru saja membangunkan adiknya. Membelai lembut dahi Yashinta yang
cemerlang.” (Liye, 2014:294).
Orang sakit masih memiliki kewajiban untuk melaksanakan salat,
tetapi salatnya mendapat keringanan. Apabila tidak bisa berdiri maka
duduk, apabila tidak bisa duduk maka tiduran/ berbaring. Kak Laisa
dengan sakit parahnya tetap tidak meninggalkan salat. Kak Laisa
melaksanakan salatnya dengan cara duduk.
“Dia yang selalu meneriaki rekan kerjanya untuk shalat.”
(Liye, 2014:321).
Mengingatkan sesama muslim untuk melaksanakan ibadah salat
merupakan suatu kewajiban. Seperti yang dilakukan oleh Goughsky yang
45
4. Salat Berjama’ah
Salat berjamaah adalah salat yang dikerjakan bersama-sama
dengan paling sedikitnya adalah imam dan seorang makmum
(Abdurrahman dan Bakhri, 2006:142).
Kutipan :“Tadi selepas shalat shubuh jamaah, persis saat
perkampungan masih gelap, selepas belajar mengaji
Juz’amma dengan Mamak, Kak Laisa akhirnya bilang akan
menemani Yashinta pergi melihat berang-berang.” (Liye, 2014:41).
“Dia mengenal sekali anak Lainuri yang satu ini. Rajin shalat
berjamaah di surau. Masih anak-anak.” (Liye, 2014:81-82).
“Ikanuri dan Wibisana ternyata tidak pulang-pulang. Juga saat mereka sudah bersiap-siap shalat berjamaah. Dua sigung
itu tetap tidak kelihatan batang hidungnya.” (Liye, 2014:114).
“Shalat dzhuhur (Dalimunte yang jadi imam). Kemudian
Dalimunte meneriaki Ikanuri dan Wibisana agar buruan
menyusul Mamak.” (Liye, 2014:155).
“Malam tiba untuk ke sekian kalinya di lembah itu. Hujan gerimis turun sejak maghrib. Mereka sudah shalat berjamaah (kecuali Juwita dan Delima yang memaksa ikut shalat gaya
duduk Wawak Laisa).” (Liye, 2014:293).
“Selepas shubuh, meski penat karena dua jam memasak gula
aren di dapur, seusai shalat bersama, mengaji bersama, Mamak akan menyempatkan diri lima belas menit hingga
setengah jam bercerita.” (Liye, 2014:335).
Dari beberapa kutipan di atas, Tere Liye ingin menggambarkan
tentang salat berjamaah.
5. Salat Tahajud
Salat tahajud adalah salat sunah pada malam hari setelah tidur.
Bilangan rakaatnya paling sedikit dua rakaat dan banyaknya tidak terbatas
(Abdurrahman dan Bakhri, 2006:206).
Kutipan :“Membuat Yashinta mengomel dalam hati, sejak kecil Yash
sudah terbiasa shalat malam bersama Kak Lais dan Mamak, tidak perlu diteriaki, mentang-mentang muslim Uzbek,
46
“Laisa sejak umur dua belas tahun, terbiasa bangun jam tiga
shubuh. Shalat malam bersama Mamak, lantas membantu di dapur. Sejak kecil Mamak mengajarkan ritus agama yang indah kepada mereka. Shalat malam salah-satunya. “Lais,
seandainya kita bisa mengukurnya seperti timbangan beras,
shalat malam yang baik seharga seluruh dunia dan seisinya.”
(Liye, 2014:336).
“Dengan teladan yanag ada di depan mata, maka Yashinta
kecil saat usianya menjejak belasan tahun, tidak perlu disuruh-suruh untuk shalat malam, gadis kecil itu melihat Mamak dan Kakak-kakaknya, maka otomatis ia ikut.
Kebiasaan yang terus ada hingga mereka tumbuh besar.”
(Liye, 2014:336).
Beberapa kutipan novel di atas Tere Liye menggambarkan rutinitas
salat malam yaitu salat tahajud. Seperti yang dilakukan oleh Mamak
Lainuri, yang mengajarkan kepada Kak Liasa dan Yashinta untuk terbiasa
melaksanakan salat tahajud.
6. Berdoa
Doa berasal dari bahasa Arab, yaitu du’a yang bermakna suatu permohonan atau permintaan secara sungguh-sungguh yang datangnya
dari bawah kepada sesuatu yang paling atas kedudukannya (Abdurrahman,
2002:174).
Kutipan :“Wibisana menepuk-nepuk bahu Ikanuri. Tersenyum.
Berbisik, “Tidak akan terjadi apa-apa, Ikanuri. Kita akan tiba tepat waktu. Berdoalah, Kak Laisa akan baik-baik saja....”
(Liye, 2014:95).
“Ya Allah, sekali ini tolong baiklah dengan kami, tolong....
Laisa menggigit bibr. Lantas melangkah menuruni anak
tangga. Diikuti langkah Dalimunte.” (Liye, 2014:122).
“Untuk Mamak, yang setiap malam berdoa buat Yash dan
kami.... Yang doanya mungkin saja telah membuat langit diaduk-aduk....” (Liye, 2014:240).
“Itu juga doa Laisa ketika menerobos hujan badai saat
Yashinta sakit, ke kampung atas, ketika kakinya bengkak menghantam tunggul kayu. Ketika sendi mata kakinya bergeser. Itu juga doanya saat di Gunung Kendeng. Itulah doa
47
yang paling disukai Laisa. Doa-doa itu mengukir langit.”
(Liye, 2014:288).
“Semoga Laisa terus membaik.... Begitu masing-masing berdoa dalam hati.” (Liye, 2014:294).
“Kak Laisa jatuh tertidur, dengan sungging senyum dan satu
kalimat doa: Ya Allah, jadikan Lais salah satu
bidadari-bidadari surga....” (Liye, 2014:338).
Beberapa kutipan di atas Tere Liye memaparkan sebuah nilai
pendidikan Islam tentang pendidikan ibadah yaitu berdoa memohon
sesuatu hanya kepada Allah.
7. Membaca Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah sumber utama petunjuk seluruh aspek kehidupan manusia, baik kehidupan jasmani maupun rohani (Subandi, 2009:25).
Kutipan :“Anak-anaknya tumbuh dan akrab dengan kehidupan sekitar. Tadi selepas shalat shubuh jamaah, persis saat perkampungan
masih gelap, selepas belajar mengaji Juz’amma dengan
Mamak, Kak Laisa akhirnya bilang akan menemani Yashinta pergi melihat berang-berang.” (Liye, 2014:41).
“Hei! Kalian bantulah bawa koper-koper Dalimunte dari mobil. Jangan macam anak uwa, sibuk menonton saja. Atau seperti kubilang tadi, ikut mengaji yasin di surau sana!— Bang Jogar meneriaki pemuda-pemuda tanggung di kursi bambu.”
(Liye, 2014:150).
“Mereka lagi-lagi berisik saat naik ke rumah panggung. Ribut soal siapa yang duluan salaman dengan Eyang Lainuri dan Wawak Laisa. saling dorong saat masuk kamar. Tidak
mempedulikan tatapan tetangga yang sedang mengaji yasin.”
(Liye, 2014:207).
“Malam beranjak semakin tinggi. Pengajian Yasin di ruang
depan dan surau dihentikan, besok disambung lagi.” (Liye, 2014:237).
“Berkali-kali bilang ke anak-anak yang belajar ngaji di surau
soal pentingnya sekolah, ‘Biar kalian bisa jadi Oom
Dalimunte yang hebat. Sering masuk tipi’—“ Kak Laisa
tersenyum, menatap langit cerah, mengenang masa-masa lalu
itu.” (Liye, 2014:257).
“Selepas shubuh, meski penat karena dua jam memasak gula
48
Mamak akan menyempatkan diri lima belas menit hingga
setengah jam bercerita.” (Liye, 2014:335).
“Ikanuri jauh lebih pandai mengaji. Suara dan tartil-nya lebih
baik. Meski dialah yang paling bandel belajar mengaji dulu.”
(Liye, 2014:336-337).
“Suara orang mengaji di suarau terdengar. Menunggu saat
adzan magrhib setengah jam lagi. Ayat-ayat itu terdengar menyenangkan. Seperti mengalir bersama angin lembah yang
segar.” (Liye, 2014:354).
Beberapa kutipan novel di atas Tere Liye menampilkan kosep
pendidikan ibadah yaitu tentang membaca Al-Qur’an. Islam mengajarkan kepada umatnya untuk senantiasa membaca Al-Qur’an, karena merupakan pedoman hidup bagi manusia. Seharusnya membaca Al-Qur’an ditanamkan sejak dini kepada anak, agar dewasa nanti anak tersebut akan
terbiasa dengan membaca Al-Qur’an. 8. Zakat
Secara literal zakat bermakna membersihkan. Tetapi, secara teknis
zakat merupakan sesuatu amaliah di mana seorang Muslim memberikan
sebagian dari harta bendanya kepada orang miskin (Subandi, 2009:31).
Kutipan :“Panen bersama sebulan lalu sukses besar. Mamak Lainuri tak kurang dapat empat puluh kaleng padi. Setelah dipotong zakat, juga padi cadangan untuk lumbungkampung, juga delapan belas kaleng untuk persediaan beras mereka selama setahun, sisanya masih lumayan, yang seluruhnya dijual ke
kota kecamatan.” (Liye, 2014:154).
Kutipan novel di atas Tere Liye menceritakan tentang zakat. Saat
panen tiba Mamak membagi-bagi hasilnya panennya salah satunya untuk
49
9. Pernikahan/Perkawinan
Perkawinan adalah suatu aqad atau perikatan untuk menghalalkan
hubungan kelamin antara laki-laki dan perempuan dalam rangka
mewujudkan kebahagiaan hidup berkeluarga yang diliputi rasa
ketentraman serta kasih-sayang dengan cara yang diridlai Allah SWT.
(Daradjat, 1995:38).
Kutipan :“PERNIKAHAN Dalimunte-Cie Hui berlangsung satu bulan kemudian.
Pernikahan yang meriah, halaman luas rerumputan itu dipasang dua tenda besar. Penduduk empat desa di Lembah Lahambay ramai memenuhi kursi-kursi.” (Liye, 2014:229).
“Pernikahan kedua dan ketiga di keluarga itu terjadi sebulan
kemudian. Mamak pulang dari rumah sakit setelah dirawat empat hari lagi. Meski masih lemah, tapi wajah Mamak sudah
segar kembali.” (Liye, 2014:282).
“Lima menit kemudian pernikahan itu dilangsungkan.
Dalimunte yang menjadi wali pernikahan. Bang Jogar dan salah satu penduduk kampung lainnya menjadi saksi.
Pernikahan terakhir di lembah indah mereka.” (Liye, 2014:360-361).
Beberapa kutipan novel di atas Tere Liye menampilkan tentang
pernikahan.