Riswan Dwi Djatmiko Jurusan Pendidikan Teknik Mesin
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) Bentuk Modul Teori Pengelasan Logam, 2) Kualitas Modul Teori Pengelasan Logam dan 3) Kelayakan Modul Teori Pengelasan Logam yang sesuai Kurikulum Jurusan Pendidikan Tekni Mesin FT UNY.
Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan dengan obyek pengembangan adalah modul Teori Pengelasan Logam. Prosedur penelitian yang digunakan berdasarkan prosedur penelitian pengembangan yang dikenalkan oleh Borg & Gall. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif.
Hasil Penelitian menunjukkan bahwa: 1) Modul berbentuk self content terdiri 12 buah. Modul 1 s.d 3 berisi kompetensi dasar Konsep dasar pengelasan. Modul 4-6 berisi kompetensi dasar Proses, Parameter, dan Prosedur las SMAW. Modul 7-9 berisi kompetensi dasar Proses, Parameter, dan Prosedur las GMAW. Modul 10-12 berisi kompetensi dasar Proses, Parameter, dan Prosedur las GTAW, 2) Kualitas modul ditinjau dari materi dan bentuk termasuk kategori sangat berkualitas, dan 3) Kelayakan modul dilihat dari kemudahan penggunaan dalam kategori sangat layak dan efektivitas termasuk kategori layak.
Kata kunci: Pengembangan modul, Peningkatan prestasi.
Pendahuluan
Pengelasan logam merupakan pekerjaan yang mempunyai prospek yang sangat bagus di dalam dunia industri. Seorang Ahli Madya di bidang las yang biasanya menduduki
Supervisor pekerjaan las di industri mendapatkan gaji minimal 5 juta rupiah setiap bulannya, namun untuk melakukan pekerjaan tersebut tidaklah mudah, untuk melakukan tugasnya dengan baik, dia harus menguasai pengetahuan bahan dasar, bahan tambah, prosedur pengelasan, prosedur pemeriksaan sambungan las, repair, dan trampil melakukan pengelasan.
Jurusan Pendidikan Teknik Mesin FT UNY, khususnya option Fabrikasi merupakan lembaga yang mencetak
Guru dan Ahli Madya di bidang Fabrikasi Logam yang di dalamnya terdapat keahlian pengelasan logam. Peran yang strategis ini harus diselenggarakan dengan serius, dosen dan instruktur wajib memiliki pengetahuan dan ketrampilan di bidang pembentukan bahan & pengelasan logam, peralatannya harus bekerja dengan baik, bahan harus cukup tersedia untuk keperluan praktik, dan yang tak kalah penting adalah strategi, metode, dan media pembelajaran yang handal agar penyerapan materi dapat diwujudkan dengan baik.
Kondisi di atas merupakan keadaan yang ideal, kenyataannya beberapa faktor sudah terpenuhi dengan baik, misalnya ada beberapa dosen yang sudah memiliki sertifikat las international dan sejumlah peralatan las
sudah memenuhi standar peralatan. Kendati demikian masih banyak kendala di lapangan ketika proses pembelajaran berlangsung, diantaranya adalah raw input (mahasiswa sebagai subyek pembelajaran) belum mempunyai kemampuan dasar yang sama, sangat heterogen, karena berasal dari SMU dan SMK, bahkan ada yang berasal dari MA sehingga menyulitkan pemberian materi pembelajaran.
Di samping permasalahan di atas, karakter mahasiswa yang cenderung kurang aktif, walaupun dosen dalam mengajar sudah menggunakan media digital yang cukup bagus, namun mahasiswa jarang yang memberikan respon yang baik, mereka jarang bertanya, hanya beberapa orang yang mencatat penjelasan dosen, dan ketika diuji dengan test, nilainya kurang bagus. Berdasarkan data nilai semester 2 tahun 2010 khususnya mata kuliah Teori Pengelasan Logam, rerata nilai
midtest hanya sebesar 63. Hal ini sangat memprihatinkan.
Berdasarkan observasi awal, terungkap bahwa rendahnya prestasi mata kuliah Teori Pengelasan Logam tersebut dikarenakan konsep-konsep materi pembelajaran tidak dikuasai dengan baik, akibat mereka tidak memiliki catatan atau bahan perkuliahan yang lengkap dan mereka cenderung tidak berusaha untuk melengkapinya. Hasil observasi ini menunjukkan bahwa motivasi, minat, dan kemandirian belajar mereka sangat rendah.
Berkaitan dengan permasalahan tersebut, diperlukan strategi pembelajaran yang dapat memotivasi mahasiswa agar mau belajar mandiri dari materi pembelajaran yang sudah
disiapkan secara lengkap. Jika dilihat beberapa hasil penelitian strategi pembelajaran dengan modul dapat meningkatkan prestasi belajar dan aktifitas siswa sebagaimana hasil penelitian Suryaningsih (1999:46), menyimpulkan bahwa pengajaran dengan menggunakan modul dapat membuat prestasi belajar menjadi lebih baik. Sehubungan dengan hal itu untuk mengatasi prestasi belajar mahasiswa yang rendah pada mata kuliah Teori Pengelasan sebagaimana disebutkan di atas, diperlukan pengembangan modul mata kuliah tersebut melalui penelitian.
Permasalahan yang mendasar dalam penelitian ini adalah mahasiswa sebagai raw input proses pembelajaran mempunyai karakter kurang mandiri, motivasi rendah, minat kurang, dan kurang aktif sehingga prestasi mereka kurang bagus, oleh karenanya diperlukan pengembangan Modul Teori Pengelasan. Rumusan masalah penelitian ini adalah: 1) Bagaimanakah bentuk Modul Teori Pengelasan Logam yang sesuai Kurikulum Jurusan Pendidikan Tekni Mesin FT UNY?, 2) Bagaimanakah kualitas Modul Teori Pengelasan Logam yang sesuai Kurikulum Jurusan Pendidikan Tekni Mesin FT UNY?, dan 3) Bagaimanakah Kelayakan Modul Teori Pengelasan Logam yang sesuai Kurikulum Jurusan Pendidikan Tekni Mesin FT UNY?
Permasalahan yang mendasar yang terjadi pada mata kuliah Teori Pengelasan Logam adalah mahasiswa sebagai raw input proses pembelajaran mempunyai karakter yang kurang mandiri, motivasi rendah, minat kurang, dan kurang aktif sehingga prestasi mereka kurang bagus, oleh karenanya diperlukan strategi pemberian materi
perkuliahan yang dapat mengatasi hal tersebut. Alternatif yang cukup bagus dalam mengatasi masalah tersebut adalah mengembangkan modul perkuliahan Teori Pengelasan Logam yang disampaikan kepada mahasiswa melalui kaidah-kaidah pemberian modul.
Proses pembelajaran dipengaruhi oleh Instrumental input dan
environmental input. Environmental input berkaitan dengan lingkungan di mana mahasiswa berada, sedangkan
instrumental input adalah masukan yang berhubungan dengan sarana dan prasarana yang meliputi: kurikulum, metode, media, strategi pembelajaran, dan lain-lain.
1. Modul Teori Pengelasan Logam Bahan ajar yang berbentuk modul memiliki karakteristik tersendiri jika dibandingkan dengan bahan ajar jenis lain. Modul disusun berdasarkan konsep mastery learning. Konsep ini menekankan penguasaan bahan ajar secara tuntas, oleh karenanya pencapaian ketuntasan setiap individu dimungkinkan berbeda dengan lainnya. Vembriarto berpendapat bahwa modul merupakan pemberian bahan ajar secara mandiri (individual) dan dimungkinkan peserta didik menguasai materi ajar sebelum beralih kepada materi ajar berikutnya (1976: 22).
Modul yang merupakan salah satu jenis media pembelajaran mempuyai dua bentuk, yaitu self contain dan non self contain. Bentuk
self contain berisi semua informasi yang dibutuhkan dalam pembelajaran, sedangkan non self contain isi modul masih harus dilengkapi oleh mahasiswa melalui tugas yang diberikan oleh dosen.
Dari beberapa pendapat, isi modul terdiri dari: 1) Tujuan pembelajaran, 2) Diskripsi modul, 3) Petunjuk penggunaan modul, 4) Materi pembelajaran, 5) Soal, dan 6) kunci jawaban.
2. Pengaruh Modul Terhadap Prestasi Belajar
Proses pembelajaran mempunyai peran yang sangat penting
dalam pembentukan dan perubahan perilaku peserta didik. Pembentukan aspek kognitif, affektive, dan psikomotor di pengaruhi oleh berbagai faktor. Menurut Purwanto, proses pembelajaran dipengaruhi oleh
instrumental input dan evironmental input (2003:106). Instrumental input
merupakan masukan yang berasal dari sarana dan prasarana yang meliputi kurikulum, metode pembelajaran, dan media termasuk modul.
Modul sebagai media mempunyai beberapa kelebihan, diantaranya adalah: 1) Hasil belajar dapat diketahui secara cepat dan sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik, 2) Beban materi yang dipelajari oleh peserta didik merata di setiap tatapmuka, 3) Dapat meningkatkan motivasi peserta didik, dan 4) Modul merupakan media pembelajaran yang efektif dan efisien (Setyosari, 1990: 10).
Berdasarkan landasan teori di atas diduga dengan pengembangan modul dan penerapannya pada mahasiswa yang mengikuti mata kuliah Teori Pengelasan dapat meningkatkan prestasi belajar mereka.
Metode Penelitian
Penelitian dilakukan di Jurusan Pendidikan Teknik Mesin UNY yang
pelaksanaannya pada bulan April sampai dengan September 2011. Waktu tersebut merupakan waktu pelaksanaan pembelajaran mata kuliah Teori Pengelasan Logam yang diberikan pada Semester 2.
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan modul pengelasan. Desain yang digunakan adalah desain konseptual yang dikembangkan oleh Borg & Gall. Adapun tahapan penelitian pengembangan ini adalah sebagai berikut: 1) Studi pendahuluan dan pengumpulan data; 2) Perencanaan; 3) Mengembangkan produk awal; 4) Validasi produk; 5) Revisi produk awal; 6) Uji coba terbatas; 7) Revisi tahap ke dua; 8) Uji coba luas; 9) Revisi produk final; dan 10) Desiminasi dan implementasi produk hasil pengembangan (1983:775).
1. Prosedur Penelitian
Langkah penelitian yang dilakukan sesuai dengan prosedur penelitian dan pengembangan yang direkomendasikan oleh Borg dan Gall sebagai berikut: 1) Studi pendahuluan,
2) Perencanaan, 3) Validasi produk awal, 4) Revisi produk awal, 5) Uji coba terbatas, Revisi tahap ke dua, 6) Uji coba luas, 7) Revisi produk final, dan 8) Desiminasi dan implementasi produk. 2. Instrumen Penelitian
Instrumen dalam penelitian berfungsi untuk mendapatkan data tentang kualitas dan kelayakan modul Teori Pengelasan Logam yang diteliti dan dikembangkan. Instrumen ini terdiri dari instrumen untuk ahli materi, instrumen untuk ahli media, instrumen untuk uji terbatas, dan instrumen untuk uji luas.
3. Kriteri Kelayakan Modul
Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif, sedangkan untuk menjawab rumusan masalah digunakan analisis kualitatif yang memaparkan bentuk modul Teori Pengelasan Logam dengan kriteria sebagai berikut:
Tabel 1 Kriteria Kelayakan Modul
No Rerata Sekor Kriteria 1 81 – 100 Sangat Layak 2 61 – 80 Layak 3 41 – 60 Cukup Layak 4 21 – 40 Kurang Layak 5 0 – 20 Tidak Layak Hasil Penelitian 1. Kualitas Modul
Kualitas modul dilihat dari kualitas materi dan bentuk modul Teori
Pengelasan. Kualitas materi yang diukur dalam penelitian ini meliputi: 1) Kesesuaian modul dengan silabi mata kuliah Teori Pengelasan, 2) Kesesuaian modul dengan ilmu pengelasan logam, 3) Keruntutan materi modul, dan 4)
Kesesuaian soal/tugas dengan materi modul. Kualitas bentuk modul diukur berdasarkan 1) Kelengkapan modul, 2) Kejelasan tujuan pembelajaran, 3) Kejelasan pengorganisasian materi, dan 4) Kualitas tampilan.
Hasil penelitian menunjukkan secara keseluruhan sekor kualitas
modul sebesar 103. Jika tabel tersebut ditampilkan dengan skala 100 pada diagram batang dapat dilihat pada Gambar 1. Rerata sekor kualitas modul sebesar 89,56. Rerata dengan nilai ini menunjukkan bahwa modul Teori Pengelasan merupakan modul yang layak digunakan untuk bahan ajar.
Gambar 1. Diagram Batang Kualitas Modul 2. Kelayakan Modul
Kelayakan modul dalam penelitian ini diukur dari kemudahan penggunaan dan kemenarikan modul serta efektivitas modul. Kemudahan penggunaan dan kemenarikan modul dilihat dari pendapat mahasiswa yang menggunakan modul Teori Pengelasan secara langsung.
Efektivitas modul diungkap dengan quasi ekperimen dengan desain posttest only non equivalent controll group desain. Desain ini diterapkan pada dua kelompok/kelas. Kelompok pertama diberi perlakuan dengan modul, sedangkan kelompok kedua tidak diberikan modul atau proses pembelajaran konvensional sebagaimana biasa diterapkan di
Jurusan Pendidikan Teknik Mesin, khususnya pada mata kuliah Teori Pengelasan.
a. Kemudahan dan Kemenarikan Modul
Kemudahan dan kemenarikan modul Teori Pengelasan diukur melalui empat indikator, yaitu: 1) Kemudahan melaksanakan petunjuk modul, 2) Kemudahan mempelajari modul, 3) Keterbacaan gambar, tabel, dan huruf, dan 4) Kemenarikan modul. Gambar 2 menjelaskan bahwa secara keseluruhan kemudahan penggunaan modul masuk kategori layak karena sekor rerata total sebesar 89,6 yang berarti modul sangat mudah digunakan / sangat layak digunakan.
Rerata Sekor Kriteria 81-100 Berkualitas Sangat 61-80 Berkualitas 41-60 Cukup Bekualitas 21-40 Kurang Berkualitas 0-20 Tidak Bekualitas