BAB IV : PENGEOLAAN DANA WAKAF TUNAI PADA TW
2. Pendistribusian Dana Wakaf Tunai Tabung Wakaf
Tabung Wakaf Indonesia memiliki strategi pendayagunaan dalam mendistribusikan dan mendayagunakan dana wakaf yang berhasil dihimpun. pendayagunaan dan penyaluran hasil pengumpulan wakaf untuk dihimpun dan dilakukannya pemberdayaan serta pemanfaatan berdasarkan dengan undang- undang No. 41/2004 Tentang Wakaf.
Tujuan akhir dari program wakaf produktif yang TWI kelola adalah bagaimana surplus wakaf dapat dirasakan manfaatnya oleh para mauquf „alaih (penerima manfaat). berikut perolehan surplus wakaf dari beberapa asset yang dikelola Tabung Wakaf Indonesia pada tahun 2010, yang mana surplus dari asset tersebut di salurkan untuk para mauquf „alaih.4
4
Media Tabung Wakaf Indonesia, Edisi 05, tahun III 1431 H.
TAHUN BII BSM BNI DANAMON TOTAL
2005 2.000.000 294.636.420 220.423.174 - 517.059.594 2006 - 708.166.191 82.809.000 245.618.500 1.036.593.691 2007 3.560.000 739.377.500 180.689.174 254.690.000 1.178.316.674 2008 8.340.000 1.384.465.445 291.514.032 339.970.959 2.024.290.436 2009 2.550.000 623.779.250 329.525.730 341.098.000 1.296.952.980 2010 16.450.000 3.750.424.806 1.104.961.110 1.181.377.459 6.053.213.375
LAPORAN PEROLEHAN SURPLUS WAKAF TWIS/D APRIL 2010
NO ASET WAKAF JUMLAH SURPLUS
1 Wakaf Saham Rp 1.300.000,-
2 Ternak Kambing Rp 4.972.600,-
3 Wakaf Rumah Bapak Hirawan Rp 4.000.000,-
4 Kopontren Nusya Rp 9.781.689,-
5 Kebun Coklat & Kelapa Rp 14.175.000,
6 Ruko Mekarsari Rp 20.000.000,-
JUMLAH Rp 54.229.289,-
Pengaliran surplus wakaf TWI kepada mauquf „alaih meliputi beberapa program, selain untuk pendidikan diantaranya untuk program kesehatan, dengan bekerjasama dengan Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC), dan untuk bidang sosial (Wisma Muallaf, Rumah Cahaya, dan Pembangunan Masjid dan lain sebagainya).
a. Bidang Kesehatan
Melihat tingginya kebutuhan kaum dhuafa akan layanan kesehatan yang brmutu dan memadai, TWI menyalurkan surplus wakaf untuk program kesehatan yang bekerja sama dengan Layanan Kesehatan Cuma- Cuma (LKC)-Dompet Dhuafa Republika.
Layanan kesehatan gratis ini didirikan tanggal 6 November 2001 bertempat di Ciputat Tanggerang Banten. Klinik kesehatan ini dibangun Dompet Dhuafa bertujuan untuk membantu kaum dhuafa di bidang layanan kesehatan tanpa memungut biaya sepersen pun. Tercatat pada periode 2007-2008, LKC telah melakukan layanan medis kepada 56.000 jiwa atau 11.000 kepala keluarga. Sejak berdiri tahun 2001, klinik
58
kesehatan yang dibeli dari wakaf uang ini sampai bulan Mei 2009 LKC sudah mempunyai peserta lebih dari 11.638 kepala keluarga yang memperoleh layanan kesehatan gratis. Setiap harinya, LKC melayani 70- 200 orang perhari. Sumber dana LKC ditanggung sepenuhnya oleh Dompet Dhuafa yang bersumber dari zakat, infak, dan sedekah serta wakaf uang menghabiskan biaya operasional sebesar 4,8 milyar rupiah untuk tahun 2007 dan 5,5 milyar rupiah untuk tahun 2008. Unit kesehatan gratis ini dibantu oleh 5 unit ambulan yang merupakan sumbangan dari beberapa perusahan, laboratorium, ruang rawat inap di gedung yang berlantai empat. Untuk dapat menjadi anggota di LKC adalah orang miskin yang dibuktikan dengan surat keterangan miskin dari RT dan Kantor Lurah. Kemudian LKC akan melakukan Survei ke lapangan membuktikan apakah calon anggota memenuhi standar dhuafa yang ditetapkan LKC. Lembaga ini sudah melayani pasien dari kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang, dan Bekasi bahkan dari Tasikmalaya.
Dalam hal wakaf uang, LKC berperan sebagai objek wakaf uang, berapapun nilainya, dikelola untuk membantu kaum miskin di bidang kesehatan. Besarnya wakaf uang yang ditawarkan LKC terdiri dari dua jenis yaitu wakaf uang atas nama dengan nilai 5 juta rupiah, dan wakaf uang atas unjuk dengan nilai nominal 1 juta rupiah. Menurut Ayu Yudistira seperti yang dikutip Muhammad Rofiq, pejabat Hubungan Masyarakat LKC, wakaf uang berfungsi untuk menggerakkan dan mengembangkan LKC. Itu merupakan bantuan alternatif untuk fakir miskin.
Dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, LKC mempunyai program, yaitu Pertama, LKC bermitra dengan masjid untuk mendirikan Pos Sehat (PS). Saat ini sudah ada 14 buah masjid di Jabodetabek yang mempunyai layanan Pos Sehat. Bentuknya adalah pengobatan gratis untuk dhuafa di setiap masjid dengan pihak masjid sebagai penyelenggaranya. Selanjutnya, pemberdayaan Posyandu. Ada empat lokasi yang sudah terbentuk, yakni wilayah Jakarta Barat, Jakarta Utara, Bekasi, dan wilayah Jakarta Timur. Untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, LKC juga melakukan pembinaan RW Siaga. Bantuknya adalah pendampingan masyarakat, menumbuhkan kelembagaan lokal yang peduli kesehatan serta membentuk Nursing Center. Target program ini adalah menumbuhkan semangat kerelawanan di setiap jiwa masyarakat.
Kedua, Kemitraan Korporat, LKC telah membentuk Pusat Kesehatan Jiwa Masyarakat (PKJM) dan Pusat Kesehatan Paru Masyarakat (PKPM) di Aceh Utara. Mitra yang terlibat adalah dinas Kesehatan dan Exxon Mobil Oil. Selain itu, LKC melakukan kapasitas building Puskesmas di Kabupaten Bojonegoro bekerjasama dengan Dinas Kesehatan dan Mobil Cepu Ltd. Ketiga, Pembiayaan pasien penyakit berat, LKC mengajak lembaga-lembaga untuk menjadi donatur bagi pasien penyakit berat dan menerima sumbangan alat medis. Disamping itu, LKC juga bertindak sebagai fundraiser untuk biaya operasional dalam bentuk infak dan program-program lainnya sebagai dana cadangan dan kesejahteraan karyawan. Keempat, Bakti sosial masyarakat, bekerja sama dengan PT PPA, Tip-Top dalam kegiatan poli umum, gigi, gizi, spesialis anak, penyakit dalam, bedah, dan kebidanan.
60
Pada tahap selanjutnya, TWI Dompet Dhuafa merancang program pendirian Rumah Sehat Terpadu (RST) sebagai model pelayanan kesehatan masyarakat dhuafa terpadu. Sehingga dalam jangka panjang, Dompet Dhuafa Republika berencana untuk terus memperluas layanan kesehatan bagi masyarakat miskin di Indonesia.
Investasi wakaf untuk pengadaan sarana layanan kesehatan yang dilakukan TWI ini hampir sama dengan yang dilakukan oleh negara- negara Islam lainnya seperti di Mesir dan Arab Saudi, Yordan, dan Bangladesh, kementrian wakaf di negera-negara ini mendirikan sarana pendidikan, asrama mahasiswa, dan rumah sakit. Semua itu dilakukan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
b. Bidang Sosial
Surplus wakaf dari TWI juga disalurkan dalam bentuk program karitas/ bantuan sosial bagi mereka yang membutuhkan. Untuk pelayanan di bidang sosial, TWI menyalurkan wakaf uang untuk wisma mualaf, rumah cahaya, dan pembangunan masjid.
1) Wisma Mualaf
Wisma Mualaf didirikan di Bintaro Utara, merupakan wakaf nontunai yang dipercayakan seorang wakif kepada TWI. Program ini bertujuan ini untuk membantu para mualaf, yang diresmikan tanggal 30 Agustus 2008 bertepatan dengan tanggal 1 Ramadhan 1429 H. Program ini merupakan kerja sama Dompet Dhuafa dengan TWI dan Yayasan Ariematea. Sejak diresmikan, wisma ini telah berfungsi sepenuhnya sebagai tempat tinggal sekaligus pembinaan bagi para
mualaf. Para mualaf yang tinggal ditanggung kebutuhan rohani dan jasmaninya oleh wisma. Sekeluar dari wisma diharapkan mereka menjadi diri dan da’iyah yang mandiri, kokoh akidah, teguh menegakkan syari’at, dan mulia dalam berakhlak.
Menurut Dzulkifli Nur, Kepala Wisma Mualaf, wisma saat ini telah menampung enam mualaf. Selain kebutuhan dasar, para mualaf juga dibekali berbagai ketrampilan (ekstrakurikuler) seperti pelatihan computer, pijat refleksi, dan thibbun nabawi, ketrampilan lain seperti memasak dan menjahit juga diberikan kepada mereka. selain kebutuhan-kebutuha yang bersifat jasmani, para mualaf juga secara intensif dibekali ilmu akidah, akhlak dan syari’at Islam. Saat ini, TWI telah menerima wakaf berupa dua buah sarana usaha yakni sebuah mesin obras dan mesin bordir, yang diserahkan tanggal 22 Januari 2009. Mesin ini disalurkan untuk memperlancar program pelatihan keterampilan usaha konveksi di wisma mualaf.
2) Rumah Cahaya
Rumah Cahaya Depok (RCD) berdiri tahun 2004 atas kerja sama Dompet Dhuafa dengan Forum Lingkar Pena (FLP). RCD didedikasikan bagi masyarakat umum untuk mendapatkan sumber bacaan bermutu dan bermanfaat. Perpustakaan sekaligus pusat karya tulis. Anak-anak dan remaja kaum tak berpunya bisa menikmati bacaan berkualitas sekaligus mengasah kemampuan menulisnya. Sejauh ini, mayoritas pengunjungnya adalah anak-anak pelajar SD, SMP, dan SMU. Awalnya, untuk biaya operasional, RCD
62
menyewakan lantai 2 gedung RCD ke FLP, yang memanfaatkannya sebagai Kantor Redaksi Penerbit Lingkar Pena Publishing House (LPPH). Dengan sewa Rp 500 ribu/bulan (2004), Rp 600 ribu/bulan (2006), dan Rp 750 ribu/bulan (2007). LPPH juga menanggung biaya listrik, air dan telepon. Di samping itu, RCD juga mendapat pemasukan dari program-program yang dibiayai oleh donatur atau sponsor. Namun, sejak LPPH keluar akhir tahun 2007, RCD mulai kesulitan dana. Zaim Saidi, Direktur TWI berpendapat, untuk mendapat dana rutin sebagian lahan dan gedung yang “tidur” dulu disewakan untuk LPPH dan toko buku yang juga tutup, dimaksimalkan untuk program produktif dengan sistem sewa.
TWI menjadikan Rumah Cahaya sebagai salah satu program pengembangan wakaf terpadu. yakni program wakaf dengan memadukan aset sosial dan aset produktif. Aset sosial yakni Rumah Baca yang dikelola oleh FLP yang posisinya berada di lantai dua dan aset produktifnya adalah properti berupa ruko yang disewakan kepada pihak ketiga. Kemudian surplusnya digunakan untuk menyokong aset sosial yang ada di atasnya.
3) Pembangunan Masjid
Program Wakaf untuk masjid di TWI dilakukan dengan menyalurkan dana wakaf yang diterima dari masyarakat yang meminta dana wakafnya disalurkan untuk rumah ibadah. Pada dasarnya, TWI tidak menghimpun dana wakaf secara khusus untuk wakaf masjid karena hal itu dapat dilakukan oleh masyarakat secara mudah. TWI
hanya menyalurkan dana wakaf kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan pembangunan masjid tetapi sangat kesulitan mencari sumber dana. Dana wakaf telah disalurkan TWI untuk pembangunan masjid adalah untuk bantuan pembangunan masjid di Maumere Nusa Tenggara Timur sebesar Rp 37.512.000,00 pada bulan Juli 2008, dan pembangunan Masjid al-Wafa di Yogyakarta, Rp454.767.200,00. Namun, penyaluran dana wakaf untuk pemberdayaan masjid yang sudah ada TWI sudah menyusun program berupa masjid mandiri dalam bentuk pembangunan unit usaha di masjid. Namun, program itu tidak mendapat persetujuan dari Dompet Dhuafa, sehingga program masjid mandiri tidak dapat dilaksankan.