BAB II. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
2.7 Mata Pencaharian
2.7.3 Penduduk Berdasarkan Pekerjaan
Berdasarkan penjelasan tentang jenis mata pencaharian penduduk di desa Pematang Tengah Kecamatan Limapuluh berikut adalah jumlah penduduk berdasarkan mata pencaharian tersebut :
Tabel 2.5 Jumlah Penduduk berdasarkan Mata Pencaharian No. Jenis Mata Pencaharian Laki-laki Perempuan
1. Petani 500 jiwa 70 jiwa
2. Buruh Tani 80 jiwa 5 jiwa
3. Wiraswata/pedagang 12 jiwa 2 jiwa
4. PNS 3 jiwa 11 jiwa
5. Pensiunan 2 jiwa 2 jiwa
Sumber : Data Perangkat Desa Pematang Tengah 2018
Dapat kita lihat dari tabel tersebut masyarakat desa Pematang Tengah tersebut adalah mayoritas sebagai petani kebun dan buruh tani. Dan kebanyakan yang bekerja adalah berjenis kelamin laki-laki.
BAB III
PERUBAHAN POLA TANAM YANG TERJADI DI DESA PEMATANG TENGAH
3.1 Kehidupan Sosial Ekonomi Petani Desa Pematang Tengah 3.1.1 Teknologi
Teknologi yang digunakan masyarakat petani di Pematang Tengah ini juga sudah terbilang modern yaitu membajak sawah dengan menggunakan traktor.
Walaupun tidak semua masyarakat menggunakan traktor untuk membajak sawah mereka, masih ada juga sebagian yang menggunakan kerbau untuk membajak sawah tersebut. Begitu juga untuk lahan pertanian cabai, masyarakat juga masih menggembur tanahnya dengan menggunakan cangkul dan membentuk jalur untuk penanaman cabai tersebut dengan menggunakan cangkul.
3.1.2 Masa Panen
Panen merupakan masa yang sangat dinanti-nantikan oleh setiap petani sebagai wujud keberhasilan kerja keras mereka. Petani akan sangat merasa senang bila tanamannya tumbuh dengan subur dan terbebas dari hama serta penyakit, apalagi tanamannya berbuah banyak dan harga jualnya pun tinggi. Inilah merupakan impian setiap petani.
Lamanya waktu panen tergantung pada jenis tanaman petani. Tanaman Padi umumnya dapat dipanen setelah berumur enam bulan, lain halnya dengan tanaman palawija yaitu Cabai. Tanaman palawija dapat dipanen setelah berumur
tiga atau empat bulan. Lain halnya dengan tanaman Padi yang dipanen hanya sekali saja , tanaman palawija atau cabai dapat dipanen berkali-kali.
3.1.3 Tenaga Kerja
Bila petani memiliki lahan yang cukup luas maka tidak mungkin untuk mengerjakan lahannya sendiri, mereka akan membutuhkan tenaga kerja untuk membantunya. Tenaga kerja ini disebut dengan “pangula”. Arti dari pangula yaitu pekerja. Pengertian pangula ini adalah tenaga kerja yang tenaga kerjanya tersebut harus diganti dengan upah atau uang. Upah yang diberikan pada pangula ini adalah sebesar Rp. 75.000,- per hari. Pangula ini terdiri dari beberapa orang.
Mereka akan mengerjakan lahan pertanian sesuai dengan kemampuan maksimal mereka karena mereka harus mengejar target. Biasanya upah mereka tidak dibayar perhari tetapi sebelum mengerjakan lahan telah terjadi kesepakatan antara si pemilik lahan dengan pangula ini. Pangula ini biasanya akan mendapat sarapan jam 10 dan makan siang dari si pemilik tanah . Pangula yang menerima bayaran perhari mulai bekerja jam 08:00 wib sampai dengan jam 17:00 wib. Jasa pangula ini dibutuhkan ketika penyiangan tanaman dan juga waktu panen atau
“menyabit”. Tetapi jasa pangula ini lebih sering digunakan ketika musim panen
tiba, karena waktu penyabitan bisa dikerjakan secara perlahan-lahan oleh pemilik lahan sendiri. Berbeda halnya ketika musim panen tiba, pemilik lahan tidak mungkin mengerjakannya sendiri karena hasil tanamannya bila terlalu lama dipanen akan menjadi busuk
.
3.2 Sistem Pengetahuan Petani Tentang Tanah, Bibit, Musim, Pasar, Hama, Penyakit
3.2.1 Sistem Pengetahuan Petani Tentang Tanah
Bagi masyarakat Batak secara umum tanah merupakan salah satu wujud dari kekayaan yang dimiliki. Tanah yang dimiliki biasanya didapatkan dari warisan dan hal tersebut telah mendarah daging dan telah berlaku secara turun temurun.
Tanah yang dimiliki seseorang mencerminkan identitasnya pada orang. Bagi masyarakat Batak tanah sangat dianggap berharga karena hanya tanah yang dapat dan lebih sering terwariskan, karena tidak semua keluarga yang memiliki kekayaan seperti emas, atau benda lain yang dapat diwariskan kepada anak-anaknya. Selain nilai tanah seperti yang telah dijelaskan diatas, dengan bermata pencaharian bertani pengalaman-pengalaman bertani pun dimiliki oleh petani di Desa Pematang tengah.
Pengetahuan-pengetahuan atau pengalaman-pengalaman yang dimiliki oleh petani didapatkan secara turun-temurun dan juga dari orang-orang yang terlebih dahulu telah berhasil. Petani mengharapkan hasil yang baik dari setiap tanaman yang mereka tanam, meskipun hal tersebut tidak selalu tercapai. Masyarakat mengakui tanahnya yang subur sehingga cocok untuk pertanian. Tanah yang subur menurut para petani adalah tanah yang memiliki warna hitam kecokelatan dan juga gembur. Tanah hitam kecokelatan dan juga berpasir juga dianggap baik.
Tanah yang seperti ini sangat cocok untuk tanaman Padi dan juga untuk tanaman palawija.
Selain itu tanah yang juga dianggap baik adalah tanah yang berminyak.
Tanah yang demikian adalah tanah yang agak lembab dan pada tanah yang seperti ini rumput mudah dicabut karena tanahnya yang gembur. Tanah yang kering adalah tanah yang kurang baik bagi petani di Desa Pematang Tengah. Selain itu tanah liat juga dianggap tidak baik karena tidak akan menghasilkan apa-apa. Di tanah liat tersebut akan tumbuh ilalang yang sangat mengganggu pertumbuhan tanaman yang ditanam oleh petani atau di tanah liat tersebut akan dibangun gubuk untuk tempat berlindung bagi petani atau sering disebut dengan istilah “sopo”.
3.2.2 Sistem Pengetahuan Petani Tentang Bibit
Untuk mendapatkan tanaman yang baik dan subur maka masalah yang sangat penting untuk diperhatikan adalah bibitnya. Bibit yang akan digunakan hendaknya sudah terpilih kualitasnya karena bibit sangat menentukan perkembangan, pertumbuhan serta hasil tanaman. Penggunaan bibit yang baik diyakini menjadi kunci utama dalam keberhasilan tanaman yang ditanam oleh petani. Dalam penggunaan bibit petani dapat membeli atau membuat bibit yang digunakan sendiri. Tetapi petani mengakui lebih baik membuat sendiri bibit yang digunakan karena akan memberikan hasil yang lebih baik.
Petani memilih tanaman yang berkualitas baik untuk dijadikan sebagai bibit. Bibit ditentukan menurut ukuran, warna, bentuk dan juga umur tanaman yang dijadikan bibit. Selain itu petani harus memastikan bahwa bibit yang dipilih tersebut bebas dari penyakit dan juga hama. Tidak jarang bila petani ingin mendapatkan bibit yang baik, mereka membelinya dari petani lain yang
tanamannya dianggap lebih baik. Setelah pemilihan bibit, maka bibit tersebut disemai terlebih dahulu hingga beberapa waktu. Waktu penyemaian disesuaikan dengan bibit yang ditanam. Setelah disemai kemudian bibit-bibit tersebut masih dipilih yang baik lagi, karena tidak semua bibit-bibit tersebut tumbuh dengan baik. Biasanya bibit yang siap tanam berumur berkisar antara 30 sampai 40 hari.
Sebelum bibit dipindahkan dari tempat penyemaian terlebih dahulu disiapkan lahan untuk menanamnya. Setelah cukup umur bibit dipindahkan ke tempat yang sudah ditentukan. Bila tanaman tersebut sudah berumur 3 minggu, tiba waktunya untuk pemberian pupuk.
Sebelum pemberian pupuk dilakukan baiknya dilakukan penyiangan terlebih dahulu. Hal ini bertujuan untuk menghindari rumput yang dapat memakan pupuk yang hendak diberi ke tanaman. Pupuk diberi tidak terlalu dekat dengan tanaman, alasannya karena pupuk dapat membuat batang tanaman menjadi panas hingga tanaman tersebut dapat mati. Selain pemberian pupuk tanaman juga membutuhkan beberapa kali penyemprotan. Tujuannya adalah untuk menghindari atau mengusir penyakit atau hama yang menyerang tanaman tersebut. Penyemprotan yang dilakukan petani menggunakan pestisida. Biasanya petani akan menyemprot tanaman mereka 2 sampai 3 kali dalam seminggu.
Sebaiknya jangan menggunakan pestisida yang terlalu banyak karena akan berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman. Selain itu penggunaan pestisida juga dapat menimbulkan penyakit bagi yang mengkonsumsi tanaman yang menggunakan pestisida. Dampak negatif lain yang ditimbulkan oleh pemakaian pestisida adalah menimbulkan penyakit atau hama lain yang mengganggu
tanaman. Hal ini disebabkan oleh pemakaian pestisida yang berlebihan. Oleh karena itu petani janganlah menggunakan pestisida berlebihan.
3.2.3. Sistem Pengetahuan Petani Tentang Musim
Secara umum pengetahuan petani tentang musim sama dengan pengetahuan masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Musim dikenal ada dua, yaitu musim hujan dan musim kemarau. Begitu juga dengan para petani di Desa Pematang Tengah. Menurut pandangan dan berdasarkan pengalaman petani di Desa Pematang Tengah musim hujan berlaku mulai dari bulan September sampai dengan bulan Maret tahun berikutnya dan musim kemarau berlaku mulai dari bulan April sampai dengan bulan Agustus. Akan tetapi kini musim hujan dan musim kemarau tidak dapat lagi diprediksikan masa berlangsungnya. Untuk menghindari kerugian para petani di Desa Pematang Tengah kini mulai menanam tanaman yang dianggap sesuai dengan musim yang sedang berlangsung.
Ketika itu musim kemarau sudah berlangsung selama 7 bulan. Hasil tanaman petani pun banyak yang tidak berhasil. Sungai irigasi yang ada di desa tersebut pun perlahan-lahan debet airnya mulai berkurang, hingga menimbulkan kekeringan pada lahan pertanian petani.
3.2.4. Sistem Pengetahuan Petani Tentang Pasar
Tanaman yang akan ditanam oleh petani di Desa Pematang Tengah tidak ditentukan dengan sembarangan. Biasanya mereka menentukannya dengan musim yang sedang berlangsung dan juga dengan permintaan pasar. Mereka akan memulai menanam ketika harga pasar sedang turun. Harga yang rendah sudah berlangsung beberapa waktu ketika petani mulai melakukan masa penanaman.
Dengan demikian mereka yakin ketika masa panen tiba maka harga sudah mulai tinggi lagi. Hal ini sering dilakukan oleh petani di Desa Pematang tengah, bahkan hal tersebut masih berlaku hingga sekarang. Namun tidak jarang juga dugaan mereka ini tidak tepat. Terkadang mereka juga mengalami kerugian dari hasil panen yang didapatkan.
3.2.5. Sistem Pengetahuan Petani Tentang Hama dan Penyakit
Masalah lain yang tidak kalah pentingnya dan yang kini menjadi salah satu hal utama yang harus dihadapi oleh para petani adalah masalah hama dan penyakit yang menyerang tanaman mereka. Hama dan penyakit yang muncul tidak sama pada setiap tanaman, tetapi ada juga penyakit atau hama yang sama menyerang tanaman yang berbeda. Hal ini disebabkan oleh musim yang sedang berlangsung.
3.2.5.1. Hama a. Hama Tikus
Bicara mengenai hama tanaman, ada satu hama yang cukup unik kehadirannya di tengah-tengah masyarakat Desa Pematang Tengah. Hama tersebut adalah hama tikus. Hama tikus biasanya menyerang tanaman Padi dan juga tanaman Jagung. Namun tanaman yang paling banyak dirugikan adalah tanaman Padi. Banyak petani yang harus mengalami kerugian bila hama tikus ini telah menyerang, bahkan ada juga petani yang tidak panen Padi sama sekali karena tanaman Padi yang dimilikinya habis diserang tikus. Hama tikus ini biasanya menyerang batang dan juga buah Padi. Banyak usaha yang telah diusahakan oleh petani untuk mengusir hama ini dari tanaman mereka, tetapi usaha yang mereka lakukan belum maksimal, masih ada saja hama tikus yang menyerang tanaman Padi mereka.
Usaha sekeras apapun sampai sekarang yang dilakukan oleh petani belum menampakkan hasil yang maksimal. Usaha-usaha yang dilakukan oleh petani untuk mengusir hama tikus dari tanaman mereka antara lain adalah dengan menjebak tikus menggunakan perangkap. Biasanya alatnya ini dibuat sendiri oleh petani dan dapat juga dibeli. Perangkap tersebut dipasang di tengah-tengah Padi atau di tempat kemungkinan hama tikus akan menyerang. Usaha ini belum dapat memberikan hasil yang maksimal.
Usaha lainnya yang juga dilakukan oleh petani adalah dengan menebar racun pada tanaman Padi mereka. Namun usaha ini masih jarang dilakukan petani
karena dapat menimbulkan dampak negatif. Dampak negatif tersebut antara lain adalah tanaman Padi petani pun dapat ikut terkena racun.
b. Hama Siput atau Keong
Hama siput atau keong ini akan banyak menyerang tanaman ketika berlangsungnya musim hujan karena pada musim ini juga hama tersebut berkembang biak dengan cepat. Pada musim hujan ini hampir keseluruhan tanaman masyarakat akan diserang oleh hama ini. Hama ini biasanya akan menyerang daun dan juga batang tanaman, dan sebagian kecil menyerang buah juga. Hama ini akan membuat tanaman menjadi tidak tumbuh dengan subur dan juga membuat daun menjadi kuning. Keong mas umumnya menyerang tanaman Padi. Padi yang baru ditanamlah yang sering menjadi korban dari keong mas ini.
Keong mas akan memakan habis batang Padi yang baru ditanam, apalagi ketika musim hujan sedang berlangsung keong mas ini semakin banyak berkembang biak dan meresahkan petani.
Usaha untuk mencegah Keong ini petani biasanya menyemprot tanaman mereka dengan menggunakan pestisida. Pestisida yang digunakan seperti Sepitok, pestisida ini dapat dibeli di toko pupuk yang ada di desa ini sendiri.
3.2.5.2. Penyakit
a. Penyakit Yang Menyerang Batang
Penyakit yang menyerang batang tanaman membuat tanaman tidak tumbuh dengan baik, bahkan dapat juga membuat tanaman menjadi mati. Bila penyakit ini sudah menyerang maka batang tanaman akan menjadi kering dan kemudian mati.
Penyakit ini akan menghambat pertumbuhan tanaman. Bila penyakit sudah menyerang maka batang tanaman menjadi kering. Akibatnya, daun serta buah pun ikut menjadi kering pula hingga kemudian mati.
b. Penyakit Yang Menyerang Daun
Penyakit yang menyerang daun tanaman biasanya akan membuat daun menjadi kuning dan kering. Contohnya pada tanaman Cabai, daunnya menjadi keriting dan juga “meseng”. Bila sudah demikian tanaman tidak dapat lagi tumbuh dengan baik lagi dan juga tidak bisa menghasilkan buah yang maksimal.
Daun Cabai yang menjadi keriting dan juga “meseng” ini dapat juga diakibatkan karena musim kemarau yang berkepanjangan.
c. Penyakit Yang Menyerang Buah
Penyakit yang menyerang buah misalnya pada tanaman Padi. Bila penyakit sudah menyerang buahnya sering buah Padi tidak berisi atau kosong. Padi yang tidak berisi ini disebut dengan “lapong”. Sehingga panen tidak semua padi berisi.
3.3 Sistem Pengetahuan Petani Tentang Penggunaan Pupuk dan Pestisida 3.3.1. Sistem Pengetahuan Petani Tentang Penggunaan Pupuk
Umumnya petani di Desa Pematang Tengah menggunakan pupuk anorganik atau pupuk ilmiah untuk tanaman mereka. Pupuk tersebut antara lain adalah seperti Urea (PUSRI), Paten Kali (KCL), Garam (ZA), Amapos (SS), dan NPK.
Pupukpupuk tersebut dapat mereka beli di toko pupuk yang ada di desa ini, namun terkadang mereka membeli pupuk ke kota karena mereka beranggapan harganya akan jauh lebih murah. Akan tetapi sekarang ini ada subsidi pupuk dari pemerintah. Masyarakat dituntut untuk membentuk kelompok masing-masing, biasanya masyarakat membagi kelompoknya menurut letak lahan pertanian yang merekamasing-masing.
Tapi hal ini menjadi masalah baru bagi petani di desa ini. Selain biaya administrasi yang mahal petani pun sering menunggu lama untuk memperoleh pupuk yang mereka butuhkan. Terkadang mereka juga diharuskan untuk memesan terlebih dahulu pupuk yang mereka butuhkan, tak jarang pula pembagian pupuk tersebut tidak merata. Petani yang sanggup membeli lebih mahal yang selalu mendapat pupuk yang lebih banyak. Di samping menggunakan pupuk anorganik atau pupuk ilmiah petani juga menggunakan pupuk organik. Pupuk organik merupakan pupuk buatan dan biasanya berasal dari kotoran hewan peliharaan mereka sendiri. Pupuk organik tersebut antara lain kotoran kerbau atau lembu dan juga kotoran ayam.
3.3.2. Sistem MPengetahuan Petani Tentang Penggunaan Pestisida
Petani di Desa Pematang Tengah menggunakan pestisida untuk membasmi dan mencegah munculnya hama dan penyakit pada tanaman mereka. Jenis pestisida yang sering mereka gunakan adalah racun. Pemakaian pestisida ini biasanya dilakukan dengan penyemprotan dan harus dilakukan secara teratur pula.
Akan tetapi pemakaian pestisida ini dapat menimbulkan dampak yang tidak baik.
Dampak tersebut antara lain tanaman yang disemprot menggunakan pestisida juga ikut terkena racun sehingga sering pula tanaman ikut menjadi mati.
Dampak lainnya adalah dengan pemakaian pestisida yang berlebihan dapat mengakibatkan munculnya hama dan penyakit yang baru. Pestisida jenis racun ini juga digunakan petani untuk membasmi rumput yang mengganggu tanaman mereka. Akan tetapi penyemprotannya jangan terlalu dekat dengan tanaman.
Pestisida yang digunakan untuk membasmi rumput adalah Gramaxson. Pestisida ini diakui petani sangat keras sehingga petani harus berhatihati dalam menggunakannya.
3.4 Pola Tanam Masyarakat di Desa Pematang Tengah
Yunita Winarto (2011:204), petani adalah aktor manusia dalam proses memproduksi benih lokal yang mempengaruhi proses berfungsinya sistem pembenihan lokal melalui pilihan atas varietas, serta praktik-praktik memproduksi dan menyeleksi benih. Mayoritas petani di desa Pematang Tengah ini adalah menanam padi dan cabai. Tetapi sebelum beralih ke cabai masyarakat disini
hampir keseluruhan menanam padi. Namun pola tanam dan proses perawatan kedua jenis tanaman tersebut berbeda.
Proses bertani atau budidaya pertanian dalam hal tanaman padi menjadi hal yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat petani, sehingga dalam proses pola tanamnya pun masyarakat petani akan sangat memperhatikan dari penanaman hingga pada pemanenan. Dan petani disetiap daerah pun berbeda pola tanamnya. Berikut merupakan penjelasan mengenai pola tanam untuk padi dan cabai yang dilakukan oleh masyarakat di desa Pematang Tengah :
3.4.1 Pola Tanam Jenis Tanaman Padi
Komoditas padi adalah salah satu tanaman pangan yang sangat penting dan strategis kedudukannya sebagai sumber penyediaan kebutuhan pangan pokok yaitu berupa beras. Beras berkaitan erat dengan kebutuhan rakyat banyak dan dapat dijadikan sebagai alat politik. Jumlah penduduk yang semakin meningkat menyebabkan kebutuhan akan beras pun semakin meningkat. Namun, produksi padi cenderung stagnan bahkan menurun dan kondisi kesejahteraan petani itu sendiri juga terus mengalami penurunan (Mariyah, 2008).
Mayarakat di desa Pematang Tengah ini sudah cukup lama menekuni bertani dengan menanam padi. Praktek pertanian padi ini telah berkembang secara turun-temurun dari generasi ke generasi yang kemudian membentuk sistem pengetahuan dan tradisi bertani sendiri, seperti :
- menjaga keberagaman jenis benih - persiapan lahan
- persiapan benih
- penanaman dan perawatan
- pemanenan dan sampai pada pola konsumsi.
Gambar 3.1 Salah Satu Ladang milik Petani Pematang Tengah
Sumber : dokumentasi pribadi
Pertanian padi adalah sistem pengetahuan yang hidup dan menghidupi pemiliknya. Benih padi yang dihasilkan petani di Pematang Tengah yang merupakan benih lokal yang mereka hasilkan sendiri. Petani biasanya sudah memisahkan terlebih dahulu antara padi yang akan disimpan sebagai pangan di lumbung dan benih yang akan dipakai dalam musim tanam berikutnya. Padi yang akan digunakan untuk benih dipilih secara teliti biasanya padi yang berisi dan bulirnya besar dan bagus, matang dan tidak tercampur dengan padi yang lain, serta membutuhkan ruang yang tidak lembab, dan disimpan di rumah.
Pola tanaman dan teknologi budidaya oleh masyarakat pematang tengah ini masih sangat sederhana dan mengandalkan tenaga kerja manusia. Kegiatan bersawah normalnya membutuhkan pertolongan dari pihak lain, apakah diberikan dalam sistem tolong-menolong, sistem upah. Dahulu masyarakat pematang tengah dalam kegiatan menanam padi menggunakan sistem gotong-royong. Masyarakat Pematang Tengah sekarang ini kebanyakan menggunakan sistem upah yang merupakaan salah satu jenis mata pencaharian di desa ini. Bagi yang tidak sanggup membayar buruh mereka saling tolong-menolong karena kegiatan bersawah merupakan hal yang berat dilakukan jika seorang diri atau hanya keluarga saja.
Masyarakat di desa Pematang Tengah ini juga nyata mengikuti perkembangan yaitu yang ditujukan dengan kuatnya ketergantungan pada pupuk kimia, sekalipun pupuk organik masih digunakan masyarakat, namun pengetahuan lokal oleh petani di Pematang Tengah ini masih tetap dipelihara dan diterapkan misalnya untuk membasmi hama. Membasmi berbagai hama oleh masyarakat Pematang Tengah dengan menggunakan dedak dicampur minyak tanah, sirabun (abu pembakaran), daun kayu tambisu, orang-orangan, dan plastik yang mengelilingi petak tanaman padi. Yang melindungi tanaman padi hingga pada pemanenan, untuk mendapatkan hasil maksimal.
Masyarakat Pematang Tengah dengan sebaik-baiknya mengelola tanaman padi demi mempertahankan biaya kebutuhan sehari-hari dan mempertahankan kualitas padi mereka sendiri. Namun dalam mempertahankan kualitas dan memenuhi kebutuhan dimana zaman semakin berkembang dan biaya kehidupan
juga semakin meningkat banyak ditawarkan peralatan-peralatan terhadap masyarakat untuk mempermudah pekerjaan mereka namun dengan semua itu timbullah masalah -masalah yang dihadapi masyarakat yang dimana mereka pun beralih jenis tanam tidak padi lagi.
3.4.2 Pola Tanam Jenis Tanaman Cabai
Cabai (Capsicum Annum L) merupakan salah satu jenis sayuran atau tanaman holtikultura yang mudah di budidayakan pada semua lahan sehingga menjadi komoditi unggulan petani di berbagai daerah. Cabai merupakan komoditi yang sering dikonsumsi oleh masyarakat karena manfaatnya yang banyak, salah satunya sebagai bumbu dapur.
Seiring dengan kemajuan zaman yang semakin meningkat ini dengan kebutuhan yang semakin meningkat pelan-pelan masyarakat Pematang Tengah beralih jenis tanaman ke tanaman cabai. Yang dimana menurut masyarakat desa Pematang Tengah ini bertani cabai lebih gampang dan tidak rumit seperti bertani padi yang harus menunggu kurang lebih 6 bulan sementara cabai tidak sampai 6 bulan lamanya.
Petani di desa Pematang Tengah ini mulai melirik penggunaan pola tanam baru jenis cabai ini untuk meningkatkan produksi hasil komoditas pertanian
Petani di desa Pematang Tengah ini mulai melirik penggunaan pola tanam baru jenis cabai ini untuk meningkatkan produksi hasil komoditas pertanian