• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendugaan Cadangan Karbon Bawah Permukaan

Dalam dokumen Sebaran Gambut dan Kandungan Karbon (Halaman 38-43)

2. Metode Pendekatan

2.6 Pendugaan Cadangan Karbon Bawah Permukaan

Untuk menduga kandungan cadangan karbon (C ) di bawah permukaan, pada suatu lahan gambut data yang diperlukan adalah : (1) ketebalan lapisan gambut (2) luas wilayah lahan gambut (3)tingkat kematangan gambut (4) bobot isi (bulk density) dan % C organic. Data ketebalan gambut diperoleh dari pengamtan lapangan. Luas lahan gambut dapat diketahui dari hasil pengukuran langsung di lapangan atau dari peta sebaran gambut yang batas atau poligonnya didapat dari hasil analisis citra satelit dan peta topografi. Tingkat kematangan/ pelapukan gambut didapatkan dari pengamatan lapangan. Sedangkan data bobot isi (bulk density) dan %-C-organik diperoleh dari hasil analisis contoh tanah gambut di laboratorium atau dengan merujuk kepada data penelitian sebelumnya. Prosedur selengkapnya untuk memperoleh data tersebut adalah sebagi berikut:

2.6.1 Pengukuran Luas Lahan

Pengukuran luas lahan tidak bisa dilakukan dengan langsung mengalikan panjang kali lebar, tetapi harus memperhatikan bentuk dan topografi lahan. Penghitungan luas lahan gambut untuk Sumatera dan Kalimantan dilakukan secara otomatis dengan menggunakan komputer berdasarkan

2.6.2 Pengukuran Ketebalan Gambut

Pengukuran ketebalan gambut dilakukan pada sebuah titik/lokasi pengamatan (boring, minipit, profil tanah) yang dilakukan pada beberapa plot (Gambar 2). Tahapan-tahapan yang harus dilakukan adalah sbb:

Masukkan bor gambut atau bor Ejkelkamp yang dimodifikasi (gambar 3) secara bertahap. Angkat bor untuk dicatat kedalamannya dan diambil contoh tanahnya. Sambungkan batang bor berikutnya bila bor belum mencapai tanah mineral,. Lakukan pencatatan kedalaman dan pengambilan contoh tanah setiap penyambungan bor. Ulangi langkah tersebut sampai bor mencapai tanah mineral.

Selain pencatatan ketebalan gambut juga dilakukan pengamatan dan pencatatan sifat-sifat tanah gambut. Pengamatan dilakukan untuk mendapatkan data tingkat kematangan gambut, perubahan warna, kelembaban lapisan atas (dengan pengamatan visual) dan konkresi arang untuk mengetahui ada tidaknya gambut bekas terbakar.

Untuk keperluan analisis kematangan tanah gambut, bobot isi (Bulk Density) dan kandungan C organik dilakukan pengambilan contoh tanah seberat 1 – 1.5 kg. Contoh diambil secara komposit, yaitu dengan mencampur tanah gambut dari berbagai lapisan kedalaman pada titik pengeboran yang sama. Contoh tanah gambut disimpan dalam kantung plastik dan diberi label agar tidak keliru dengan contoh tanah gambut yang lain.

Gambar 2. Lokasi pengamatan dengan tiga plot permanen berada pada tiga zona kedalaman gambut yang berbeda Bab 2. Metode Pendekatan

2.6.3 Penentuan Tingkat Kematangan

Dalam key to Soil taxonomy (Soil Survey staff, 1998) tingkat kematangan atau pelapukan tanah gambut dibedakan berdasarkan tingkat dekomposisi dari bahan (serat) tumbuhan asalnya. Tingkat kematangan terdiri atas 3 kategori yaitu fibrik, hemik dan saprik. Untuk keperluan pengamatan tingkat kematangan, serat didefinisikan sebagai “potongan-potongan dari jaringan tumbuhan yang sudah mulai melapuk tetapi masih memperlihatkan adanya struktur sel dari tumbuhan asalnya, dengan ukuran diameter kurang dari atau sama dengan 2 cm”. Dengan ukuran kurang dari 2 cm serat akan mudah diremas dan diceraiberaikan dengan jari. Potongan potongan kayu yang berdiameter > 2 cm dan belum melapuk – sehingga sulit diceraiberaikan dengan jari – seperti potongan-potongan cabang kayu besar, batang kayu dan tunggul tidak digolongkan sebagai serat tetapi digolongkan sebagai fragmen kasar. Akar pohon yang masih hidup juga tidak digolongkan sebagai serat.

Untuk penetapan tingkat kematangan / pelapukan tanah gambut di lapangan dilakukan dengan mengambil segenggam tanah gambut dari hasil pengeboran, kemudian diperas dengan menggunakan telapak tangan secara

Gambar 3. Bor Eijkelkamp untuk menduga ketebalan gambut dan mengambil contoh gambut

••

Bila kandungan serat yang tertinggal dalam telapak tangan setelah pemerasan adalah tiga perempat bagian atau lebih (> ¾), maka tanah gambut tersebut digolongkan kedalam jenis fibrik.

••

Bila kandungan serat yang tertinggal dalam telapak tangan setelah pemerasan adalah antara kurang dari tiga perempat sampai seperempat bagian atau lebih (<3/4 - >¼), maka tanah gambut tersebut digolongkan kedalam jenis hemik.

••

Bila kandungan serat yang tertinggal dalam telapak tangan setelah pemerasan adalah kurang dari seperempat bagian (<1/4) maka tanah gambut tersebut digolongkan kedalam jenis saprik.

Untuk mendukung penggolongan tingkat kematangan / pelapukan dengan proses pemerasan, dilakukan pengamatan warna tanah gambut. Tanah gambut tingkat fibrik akan berwarna hitam agak terang, tingkat hemik berwarna hitam agak gekap dan tingkat saprik berwarna hitam gelap.

2.6.4 Estimasi Bobot Isi dan C-organik

Dalam penelitian ini, metode penentuan nilai bobot isi (BD) mengikuti standard dari Puslitbang tanah dan Agroklimat (Staf Laboratorium Kimia, 1998), yaitu dengan mengukur berat volume lembab/basah dan kadar airnya dan menghitung berat volume kering (berat volume basah dikurangi kadar airnya). Bobot isi merupakan perbandingan berat volume kering dengan berat volume basah. Nilai Bobot Isi (BD) akan dipakai dalam penghitungan cadangan karbon lahan gambut (lihat rumus pada sub bab 2.6.5). Nilai kisaran dan rerata Bobot Isi (BD) dan kadar C-Organik pada berbagai tingkat kematangan gambut, yang digunakan untuk menghitung cadangan karbon di Sumatera dan Kalimantan disajikan pada Tabel 2 dan Tabel 3.

Tabel 2. Nilai kisaran dan rerata bobot isi (BD) dan kadar C-organik pada tiap jenis/tingkat kematangan gambut di Sumatera

* nilai ini tidak menggambarkan kondisi gambut dangkal alami yang pada umumnya bersifat fibrik, tapi nilai ini lebih menggambarkan kondisi adanya perubahan ketebalan gambut akibat konversi lahan gambut di Pulau Sumatera.

Tabel 3. Nilai kisaran dan rerata bobot isi/bulk density (BD) dan kadar C-organik pada tiap jenis/tingkat Kematangan gambut di Kalimantan

Catatan : Pada lahan gambut dengan status mineral bergambut (peaty soil) yang umumnya ditemukan pada lahan gambut sangat dangkal atau dengan ketebalan < 50 cm, umumnya tidak dikategorikan sebagai tanah gambut. Tidak dikategorikannya mineral bergambut ke dalam tanah gambut adalah karena mineral bergambut memiliki nilai BD yang tinggi —sebagai akibat dari adanya mineral — dan kandungan C–organik yang rendah. Tetapi, meskipun memiliki kandungan C organic yang rendah, dalam penghitungan cadangan karbom di lahan gambut, kategori ini harus diperhitungkan.

Bobot Isi (BD) (gram/cc)

C-Organik (%) No. Tingkat kematangan

Gambut

Kisaran Rerata Kisaran Rerata

1. Fibrik 0.1012-0.12 0.1028 - 53.31

2. Hemik 0.1325-0.29 0.1716 38.97-51.87 48.00 3. Saprik 0.2492-0.37 0.2794 28.96-53.89 44.95 4. Peaty/mineral bergambut sangat

dangkal * 0.2152-0.6878 0.3402 28.96-39.81 35.12

Bobot Isi (BD)

(gram/ cc) C-Organik (%) No. Tingkat

Kematangan Gambut

Kisaran Rerata Kisaran Rerata

1. Fibrik 0,11-0,33 0,13 35,67-49,69 42,63

2. Hemik 0,15-0,38 0,23 17,52-54,96 36,24

3. Saprik 0,26-0,33 0,27 13,27-57,8 35,53

4. Peaty Soil/ mineral bergambut/

2.6.5 Rumus Perhitungan Pendugaan Cadangan Karbon Bawah Permukaan

Parameter yang digunakan dalam perhitungan tersebut adalah luas lahan gambut, kedalaman atau ketebalan tanah gambut, bobot isi (BD) dan kandungan karbon (C-organik) pada setiap jenis tanah gambut (Ritung, S. dan Wahyunto, 2003).

Persamaan yang digunakan tersebut adalah :

Kandungan karbon (KC) = B x A x D x C

Dimana :

KC = Kandungan karbon dalam ton

B = Bobot isi (BD) tanah gambut dalam gr/cc atau ton/m3

A = Luas tanah gambut dalam m2

D = Ketebalan gambut dalam meter

C = Kadar karbon (C-organik) dalam persen (%)

Semua hasil pengukuran dan pengamatan di atas ditabulasikan dalam Lembar Pengamatan pada Tabel 4.

Cadangan karbon tanah gambut di Sumatera dihitung pada kondisi tahun 1990 dan kondisi tahun 2002, selanjutnya digunakan sebagai dasar untuk mengkaji besarnya penyusutan cadangan karbon selama periode waktu 12 tahun. Sedangkan cadangan karbon di Kalimantan hanya dihitung pada kondisi 2000-2002.

Dalam dokumen Sebaran Gambut dan Kandungan Karbon (Halaman 38-43)