• Tidak ada hasil yang ditemukan

3.2. Bahan dan Metode

3.2.4. Pendugaan Laju Dekomposisi Serasah

Laju dekomposisi serasah diperoleh dengan menggunakan Rumus (1) (Olson, 1963) :

Xt = Xo . e –k t (1) ln (Xt/X0) = -k t

Adapun penentuan lama masa serasah terdapat (resiedence time) di lantai hutan

digunakan Rumus (2) : 1/k (2)

dengan pengertian :

Xt = bobot kering serasah setelah waktu pengamatan ke – t (g)

X0 = bobot serasah awal (g)

e = bilangan logaritma natural (2,72)

k = laju dekomposisi serasah

t = waktu pengamatan (hari)

A

B

3.3. Hasil

Bobot kering sisa serasah daun A. marina yang telah mengalami beberapa

lama masa dekomposisi pada berbagai tingkat salinitas dapat dilihat pada

Gambar 5. Data dasar tiap 15 hari bobot kering sisa serasah daun A. marina

yang telah mangalami proses dekomposisi selama 165 hari dapat dilihat pada Lampiran 1.

Gambar 5. Bobot kering sisa serasah daun A. marina yang telah mengalami

proses dekomposisi selama 165 hari di lingkungan dengan berbagai tingkat salinitas

Berdasarkan data pada Gambar 5 dapat diketahui bahwa sisa serasah

daun A. marina terbanyak terdapat pada salinitas > 30 ppt yaitu sebesar 8,44 g

bobot kering. Antar bobot kering sisa serasah daun A. marina yang mengalami

proses dekomposisi pada tingkat salinitas yang lebih kecil dari 30 ppt tidak

menunjukkan perbedaan yang besar. Adapun sisa bobot kering serasah daun A.

marina terkecil (hilangnya terbesar), yaitu sebesar 2.34 g didapatkan pada serasah daun yang mengalami proses dekomposisi pada salinitas 20 – 30 ppt.

Persentase sisa serasah daun A. marina yang telah mengalami proses

dekomposisi selama 15 sampai dengan 165 hari pada berbagai tingkat salinitas

dapat dilihat pada Gambar 6. Adapun persentase sisa serasah daun A. marina

tiap ulangan pada berbagai tingkat salinitas dan lama masa dekomposisi disajikan pada Lampiran 2.

5.33 3.53 2.34 8.44 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Bobot kering sisa serasah

(Gram)

<10 ppt 10-20 ppt 20-30 ppt >30 ppt

Gambar 6. Persentase sisa serasah daun A. marina yang telah mengalami proses dekomposisi 15 sampai 165 hari di lingkungan dengan berbagai tingkat salinitas

Dari Gambar 6 dapat dijelaskan bahwa kehilangan bobot kering serasah yang besar terjadi setelah serasah mengalami proses dekomposisi selama 15, 30, 45, 60, 75 dan 90 hari. Kehilangan bobot kering serasah yang mengalami proses dekomposisi dari 105, 120 sampai dengan 135 hari adalah konstan. Selanjutnya setelah serasah terdekomposisi selama 150 dan 165 hari terjadi kehilangan bobot kering yang relatif besar. Kehilangan bobot kering serasah tersebut lebih besar dibandingkan dengan sisa bobot kering serasah daun yang mengalami dekomposisi selama 105, 120 dan 135 hari. Penyusutan bobot kering serasah

daun A. marina yang mengalami dekomposisi pada semua tingkat salinitas

menunjukkan pola yang sama. Perubahan bentuk serasah daun A. marina dari

yang belum mengalami proses dekomposisi di lapangan, dan perubahan bentuk yang telah mengalami proses dekomposisi selama 15 hari sampai 165 hari pada tingkat salinitas 10 – 20 ppt disajikan pada Gambar 7.

Rata-rata laju dekomposisi dan lama masa serasah daun A. marina

terdapat di lingkungan dengan berbagai tingkat salinitas disajikan pada Tabel 3. Dapat dijelaskan bahwa laju dekomposisi terbesar terjadi pada serasah daun

A. marina yang mengalami proses dekomposisi pada tingkat salinitas 20 – 30 ppt dengan nilai k sebesar 6.8/ tahun. Hal ini juga ditunjukkan oleh lama masa serasah terdapat di lingkungan dengan tingkat salinitas 20 – 30 ppt, yaitu 0.15 tahun. 0 10 20 30 40 50 60 70 80 15 30 45 60 75 90 105 120 135 150 165

Lama masa dekomposisi (hari)

Sisa serasah (%)

Tabel 3. Rata-rata laju dekomposisi dan lama masa serasah terdapat di lingkungan dengan berbagai tingkat salinitas

No. Tingkat Salinitas k

(tahun-1)

Lama masa serasah terdapat (tahun)

1. < 10 ppt 4.98 0.20

2. 10 – 20 ppt 5.89 0.16

3. 20 – 30 ppt 6.80 0.15

4. > 30 ppt 3.95 0.25

Gambar 7. Bentuk serasah daun A. marina yang mengalami proses dekomposisi

selama 15 sampai dengan 165 hari pada tingkat salinitas 10 – 20 ppt. Kontrol (A), 15 hari (B), 30 hari (C), 45 hari (D), 60 hari (E), 75 hari (F), 90 hari (G), 105 hari (H), 120 hari (I), 135 hari (J), 150 hari (K) dan 165 hari (L)

A B C

D E F

G H I

3.4. Pembahasan

Pada tingkat salinitas > 30 ppt didapatkan sisa serasah daun A. marina

terbesar dibanding dengan sisa serasah daun A. marina yang mengalami

dekomposisi pada tingkat salinitas < 10 ppt, 10 – 20 ppt dan 20 – 30 ppt. Hal ini

dapat disebabkan oleh populasi bakteri pada serasah daun A. marina yang

terdapat pada tingkat salinitas > 30 ppt yang lebih kecil (8,22 x 107 cfu/ ml)

dibanding dengan populasi bakteri pada serasah daun A. marina yang

mengalami dekomposisi pada tingkat salinitas < 10 ppt (51,08 x 107 cfu/ml), 10 –

20 ppt (77,90 x 107 cfu/ml) dan 20 – 30 (8.23 x 107 cfu/ ml). Karena populasi

bakteri yang kecil pada serasah daun A. marina yang mengalami proses

dekomposisi pada salinitas > 30 maka kemampuan bakteri untuk manguraikan

serasah daun A. marina juga lebih kecil. Akibatnya sisa serasah daun A. marina

yang mengalami dekomposisi pada tingkat salinitas > 30 ppt lebih banyak dibanding sisa serasah yang mengalami dekomposisi pada tingkat salinitas yang lebih kecil. Populasi bakteri yang kecil pada tingkat salinitas > 30 ppt diduga karena tingkat salinitas ini bukanlah merupakan kondisi optimal yang dapat mendukung bakteri untuk dapat tumbuh dan berkembang. Diperkirakan jenis- jenis bakteri tertentu saja yang dapat hidup pada kondisi seperti ini. Jenis bakteri yang kecil diduga juga berpengaruh terhadap populasi bakteri yang terdapat pada tingkat salinitas > 30 ppt. Diasumsikan bahwa dengan makin kecil jumlah jenis bakteri yang ada pada tingkat salinitas > 30 ppt maka populasi bakteri juga akan makin kecil.

Laju dekomposisi serasah dapat dilihat berdasarkan kecepatan penyusutan

bobot kering serasah daun A. marina yang mengalami dekomposisi selama 15

sampai dengan 165 hari pada semua tingkat salinitas, ini disebabkan oleh proses-proses fisik berupa kehancuran serasah yang besar. Selain itu faktor yang menyebabkan terjadi penurunan bobot kering serasah yang besar diperkirakan juga disebabkan oleh jenis organisme lain yang hidup pada lokasi tempat serasah mengalami dekomposisi. Jenis organisme yang ditemui dan yang

diperkirakan ikut berperan dalam proses dekomposisi serasah daun A. marina

adalah cacing (Nereis sp.) (Gambar 8), yang dijumpai pada serasah daun A.

marina yang telah mengalami dekomposisi selama 45 hari pada semua lokasi

dengan berbagai tingkat salinitas yang dipelajari. Pada serasah daun A. marina

15 cacing, pada 10 – 20 ppt terdapat rata-rata 4 cacing, pada 20 – 30 ppt rata- rata 18 cacing, dan pada tingkat salinitas > 30 ppt terdapat rata-rata 9 cacing.

Diperkirakan cacing-cacing ini sudah ada sejak serasah daun A. marina

mengalami dekomposisi selama 15 – 30 hari, karena cacing-cacing yang ditemukan relatif besar yaitu panjangnya 5 sampai 6 cm dengan diameter badan 3 sampai 4 mm. Cacing-cacing ini diperkirakan untuk hidupnya memerlukan

serasah daun A. marina sebagai bahan makanannya. Adapun pada serasah

daun A. marina yang telah mengalami proses dekomposisi selama 60 hari pada

semua tingkat salinitas tidak ditemukan lagi cacing. Menurut Dix dan Webster (1995) kecepatan dekomposisi serasah dipengaruhi oleh kecepatan serasah

tersebut terpecah-pecah (fragmented). Pemecahan ini sebagain besar dilakukan

oleh banyak hewan tanah seperti siput, cacing, larva serangga dan lain-lain. Selanjutnya Kuter (1986) mengemukakan bahwa keberadaan cacing pada

serasah daun menyebabkan pemecahan (fragmented) serasah daun tersebut

lebih cepat berlangsung. Selain itu Benner dkk., (1986 diacu oleh Twiley dkk., 1997), menyatakan bahwa kecepatan dekomposisi serasah daun pada perairan mangrove berhubungan dengan kualitas kimia serasah daun.

Selain cacing, jenis organisme lain yang ditemukan pada serasah daun

A. marina adalah siput (Gambar 9). Jenis siput besar (Gambar 9A) ditemukan hanya pada serasah yang mengalami dekomposisi selama 75 sampai 165 hari

Gambar 8. Cacing yang ditemukan pada serasah daun A. marina yang telah

mengalami dekomposisi selama 45 hari pada tingkat salinitas < 10 ppt, 10 – 20 ppt, 20 – 30 ppt dan > 30 ppt

pada salinitas 20 – 30 ppt. Diperkirakan siput-siput ini juga ikut berperan dalam

proses dekomposisi serasah daun A. marina. Hal ini dapat dilihat dari hasil

penelitian yang menunjukkan bahwa sisa serasah daun yang berada pada salinitas 20 – 30 ppt lebih sedikit dibanding dengan sisa serasah yang mengalami dekomposisi pada tingkat salinitas < 10 ppt, 10 – 20 ppt dan > 30 ppt. Pada tingkat salinitas 20 – 30 ppt ditemukan siput besar pada serasah daun yang telah mengalami dekomposisi selama 75, 90, 105, 120, 135, 150 dan 165 hari berturut-turut dengan jumlah rata-rata 7, 29, 52, 92, 65, 81 dan 162 siput. Pada

serasah daun A. marina yang mengalami dekomposisi pada salinitas < 10 ppt, 10

– 20 dan > 30 ppt juga ditemukan siput yang tubuhnya lebih kecil (Gambar 9 B), dibanding tubuh siput yang didapatkan pada serasah yang mengalami dekomposisi pada salinitas 20 – 30 ppt. Dalam hal ini jumlah tiap jenis siput tersebut tidak dicatat. Diperkirakan siput ini juga ikut berperan dalam proses

dekomposisi serasah daun A. marina.

Dengan makin berkurangnya ukuran-ukuran partikel serasah atau bahan tumbuhan maka kehilangan bobot kering makin cepat karena diikuti penyerangan oleh fungi (Asiedu dan Smith, 1973). Makin luas lingkungan daerah pasang surut makin besar keheterogenan faktor-faktor seperti salinitas, cahaya (celah kanopi) dan sedimen (unsur hara dan ruang), yang semuanya akan berpengaruh terhadap keberadaan dan ketahanan organisme (Clarke dan Allaway, 1993).

Gambar 9. Siput yang ditemukan pada serasah daun A. marina yang mengalami

dekomposisi. Siput yang besar ditemukan pada serasah yang mengalami dekomposisi selama 75 hari sampai 165 hari (A) pada salinitas 20 – 30 ppt dan siput kecil yang ditemukan pada serasah

daun A. marina yang mengalami dekomposisi pada salinitas < 10 ppt,

10 – 20 ppt dan > 30 ppt (B)

Peningkatan salinitas dapat menyebabkan terjadi penghambatan aktivitas mikroorganisme tanah yang direfleksikan dalam bentuk perubahan kandungan

CO2, aktivitas selulase dan humifikasi residu tumbuhan (Malik dkk., 1979).

Kecepatan dekomposisi dipengaruhi oleh tipe daun, aktivitas mikroorganisme,

kecepatan air (water velocity) dan lama masa terendam di bawah permukaan air

(Eichem dkk., 1993). Kecepatan degradasi serasah daun berhubungan dengan frekuensi pasang surut air laut dan kualitas bahan kimia serasah daun tersebut (Benner dkk., 1986 diacu Twiley dkk., 1997). Selain itu menurut Jensen (1974), konsentrasi unsur-unsur hara yang terdapat pada serasah berpengaruh terhadap kecepatan proses dekomposisi serasah dan jumlah unsur hara yang terlepas selama proses dekomposisi.

3.5. Kesimpulan

Laju proses dekomposisi serasah daun A. marina terbesar didapatkan

pada serasah daun A. marina yang berada pada tingkat salinitas 20 – 30 ppt.

Hal ini dapat diketahui dari bobot kering sisa serasah daun yang tertinggal pada kantong serasah yaitu rata-rata 2,34 g. Adapun bobot kering sisa serasah terbesar didapatkan pada lingkungan dengan tingkat salinitas > 30 ppt, yaitu

rata-rata 8.44 g. Nilai laju dekomposisi serasah daun A. marina yang telah

mengalami proses dekomposisi dalam lingkungan dengan tingkat salinitas > 30

ppt, adalah 3.95/th (residence time = 0.25 th). Nilai laju dekomposisi ini lebih kecil

dibanding dengan nilai laju dekomposisi serasah yang ditempatkan pada tingkat salinitas < 10 ppt, 10 – 20 ppt dan 20 – 30 ppt, yang berturut turut adalah, 4.98,

5.89, dan 6.80 dengan residence time berturut-turut 0.20 th, 0,16 th dan 0.15 th.

Dengan demikian dapat diketahui bahwa proses dekomposisi serasah berlangsung lebih lambat pada tingkat salinitas > 30 ppt dibanding dengan pada tingkat salinitas yang lebih kecil.

4.1. Pendahuluan

4.1.1. Latar Belakang

Bakteri memainkan peran penting dalam sejumlah proses yang terjadi di lingkungan mangrove. Beberapa jenis bakteri dapat hidup bersimbiosis dengan organisme lainnya. Sebagai contoh bakteri bentuk batang umumnya terdapat pada usus detrivor mangrove (Harris, 1993) dan pada cabang serta batang mangrove terdapat bakteri pengoksidasi yang hidup sebagai endosimbion dengan suku Lucinacea yang tumbuh pada lumpur mangrove. Bauer-Nebelsick dkk., (1996) dan Ott dkk., (1998) menemukan bakteri pengoksidasi sulfur hidup

sebagai ektosimbion obligat pada Zoothamnium niveum yang hidup di hutan

mangrove Belizian.

Bakteri memainkan peran penting dalam penguraian serasah mangrove. Juga diketahui bahwa sedimen bakteri merupakan bahan penting dalam proses aliran karbon pada hutan mangrove. Pada bagian atas sedimen mangrove

dengan ketebalan 2 cm dapat ditemukan 3,6 x 1011 sel bakteri/gram bobot kering

sedimen (Hogarth, 1999). Sebagian besar peran bakteri dalam proses dekomposisi serasah secara langsung sebagai pengurai bagian-bagian serasah dan sebagian lagi secara tidak langsung pada bahan-bahan organik yang terakumulasi sebagai hasil dekomposisi serasah. Dalam peran tidak langsung ini

bakteri dikenal sebagai agens mikolitik (mycolytic agent) (Gyllenberg dan

Eklund, 1974).

Mangrove adalah suatu lingkungan ekologi yang unik sebagai tempat

berkembang komunitas bakteri. Bakteri mengisi sejumlah relung (niche) dan

merupakan komponen dasar fungsi lingkungan ini. Bakteri terutama penting untuk mengontrol bahan-bahan kimia di lingkungan mangrove. Sebagai contoh

bakteri pereduksi sulfat Desulfovibrio, Desulfotomaculu, Desulfosarcina dan

Desulfococcus (Chandrika dkk., 1990) adalah pengurai utama pada sedimen mangrove. Berbagai jenis bakteri ini berperan dalam perubahan bentuk senyawa Besi, Fosfor dan Sulfur dan berkontribusi dalam pelepasan senyawa-senyawa ini

ke dalam tanah, serta dalam penentuan pola vegetasi (Sherman dkk., 1998). Jumlah bakteri metanogenik berlimpah pada sedimen yang didominasi oleh jenis

mangrove Avicennia (Ramamurthy dkk., 1990 ; Mohanraju dan Natarajan,1992).

Data taksonomi beberapa jenis bakteri pada komunitas mangrove sudah umum diketahui walau masih terbatas Chou dkk., (1980 diacu oleh Hutching dan Saenger, 1987) mendapatkan 10 jenis bakteri pada mangrove di Singapura. Pada mangrove di Australia tidak terdapat bakteri, namun pada sistem estuarin danau Maquarie di New South Wales terdapat 20 jenis yang terdiri atas bakteri belerang autotrof dan bakteri besi. Jenis-jenis bakteri diperkirakan terlibat dalam proses dekomposisi serasah daun seperti dalam penguraian selulosa dan juga beperan dalam pengurai bahan-bahan fisik serasah daun (Hogarth, 1999).

Komunitas bakteri yang hidup di bawah permukaan air dapat menguraikan unsur hara di dalam lumpur mangrove yang mengandung unsur-unsur hara yang terbatas (Alongi dkk., 1993). Kerapatan populasi bakteri yang terdapat pada permukaan serasah daun yang mengalami dekomposisi pada umur enam hari

dapat mencapai 6 x 108 sel/cm2 dengan kecepatan produksi 8 x 106 sel/cm2/jam

(Benner dkk., 1988).

Bakteri juga merupakan penentu dalam siklus nitrogen pada lingkungan

mangrove. Cyanobacteria laut adalah komponen mikrobiota penting yang

berperan dalam penyusunan sumber nitrogen pada ekosistem mangrove

(Kathiresan dan Bingham, 2001). Fiksasi N2 oleh Cyanobacteria yang diisolasi

dari akar pasak (pneumatophora) Avicennia di Beachwood Mangrove Reserve

Afrika Selatan mampu menyediakan 24,3% nitrogen yang diperlukan lingkungan payau tersebut. Kecepatan fiksasi N ini dipengaruhi oleh intensitas cahaya dan suhu (Mann dan Steinke, 1993). Kecepatan fiksasi bakteri lebih tinggi pada lingkungan mangrove dibanding dengan di media pertumbuhan buatan (Toledo dkk, 1995). Bakteri fiksasi efisien dalam menggunakan berbagai macam substrat mangrove yang berbeda kandungan karbon dan konsentrasi fenolnya (Pelegri dan Twilley, 1998). Akan tetapi jumlah individu yang berlimpah bergantung pada

kondisi fisik dan komposisi komunitas mangrove. Azobacter yang memfiksasi N2

berpotensi sebagai biofertilizer. Jumlah individu Azobacter berlimpah pada habitat mangrove Pichavaram, India Selatan. Sengupta dan Choudri (1991) mempelajari bakteri pemfiksasi N2 di kawasan komunitas mangrove sungai Gangga. Berbagai jenis bakteri ini terdapat dalam jumlah besar pada rizosfer tumbuhan yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut secara teratur, sedang

tumbuhan yang kadang-kadang saja dikenai oleh pasang surut air laut dan pada daerah yang terdegradasi, bakteri rizosfernya lebih kecil populasinya.

Jenis bakteri mangrove ada yang bersifat parasit dan yang patogenik.

Bdellovibrio mempunyai kemampuan memparasit Vibrio spp. yang umumnya terdapat pada habitat mangrove Australia. Populasi bakteri ini berlimpah yaitu sekitar 36,6 cfu/ml lebih banyak dibanding dengan populasi bakteri yang terdapat pada kawasan Great Barrier Reef yang berjumlah 9,5 cfu/ml. Di Australia juga

ditemukan Bacillus thuringiensis yang menunjukkan aktivitas sebagai insektisida

terhadap larva nyamuk Anopheles maculatus, Aedes aegypty dan Culex

quinquefasciatus yang diisolasi dari sedimen mangrove (Lee dan Seleena, 1990). Populasi bakteri juga dapat menunjukkan pola distribusi spasial tertentu. Banyak jenis bakteri yang hidup sebagai epifit pada permukaan batang mangrove, tetapi jenis-jenis yang berbeda terdapat pada bagian-bagian pohon yang berbeda.

Pada daun-daun A. marina dan Sesuvium portulacastrum sejumlah besar

terdapat Flavobacterium sedang pada akar dan pada batang banyak ditemukan

Vibrio spp. (Abhaykumar dan Dube, 1991).

Shome dkk., (1995) mengisolasi 38 jenis bakteri dari serasah daun mangrove dan sedimen mangrove di Andaman Selatan. Isolat terbanyak terdiri atas bakteri-bakteri yang mempunyai sifat fisiologi sebagai berikut, Gram Positif (76,3%), motil (87%), fermentasi (6,9 – 82,1%), pigmen (31%) dan antibiotik

(100%). Bakteri fotosintesis meliputi bakteri belerang ungu (Chromatium spp.)

dan bakteri ungu nonsulfur (Rhodopseudomonas spp.) yang diisolasi dari

mangrove di Pichavaram, India Selatan (Vethanayagam, 1991). Sembilan jenis bakteri ungu nonsulfur terdapat pada mangrove Mesir. Pertumbuhan bakteri sulfur ungu di habitat ini dibatasi oleh cahaya dan sulfid yang sedikit. Pada tempat banyak cahaya dan sulfid pertumbuhan bakteri sulfur hijau terbatas (Chandrika dkk., 1990).

Aktivitas bakteri pada karbon organik adalah memineralisasi dan juga memisahkan karbon organik menjadi bentuk biomassa bakteri (Boulton dan

Boon, 1991). Aktivitas bakteri dalam siklus unsur hara pada sedimen adalah

suatu hal yang tidak bisa dipisahkan. Aktivitas bakteri tersebut bergantung pada ketersediaan karbon-karbon organik yang dioksidasi (Cole dkk, 1988 diacu oleh Pollard dan Kogure, 1993).

Didasari oleh hal-hal yang telah diuraikan di atas, maka telah dicoba dilakukan penelitian untuk melihat pengaruh tingkat salinitas dan lama masa dekomposisi terhadap perkembangan jenis-jenis bakteri yang terlibat dalam

dekomposisi serasah daun A. marina. Hasil penelitian ini diharapkan dapat

digunakan untuk menjawab pertanyaan berkut :

1. Apakah tingkat salinitas dan lama masa dekomposisi berpengaruh terhadap

jumlah jenis bakteri yang terdapat pada serasah daun A.marina yang

mengalami proses dekomposisi ?

2. Apakah tingkat salinitas dan lama masa dekomposisi berpengaruh terhadap

perkembangan populasi bakteri pada serasah daun A. marina yang

mengalami proses dekomposisi ?

3. Apakah tingkat salinitas dan lama masa dekompsisi berpengaruh terhadap perkembangan keanekaragaman jenis bakteri yang terdapat pada serasah

daun A. marina yang mengalami proses dekomposisi ?

4. Apakah tingkat salinitas dan lama masa dekomposisi berpengaruh terhadap

frekuensi kolonisasi jenis-jenis bakteri yang terdapat pada serasah daun

A. marina yang mengalami proses dekomposisi ?

4.1.2. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengkaji pengaruh salinitas dan lama masa dekomposisi terhadap :

1. Perkembangan jumlah jenis bakteri yang terdapat pada serasah daun

A. marina yang mengalami proses dekomposisi.

2. Perkembangan populasi bakteri yang terdapat pada serasah daun A. marina

yang mengalami proses dekomposisi.

3. Perkembaangan keanekaragaman jenis bakteri yang terdapat pada serasah

daun A. marina yang mengalami proses dekomposisi.

4. Frekuensi kolonisasi jenis-jenis bakteri pada serasah daun A. marina yang

mengalami proses dekomposisi.

4.1.3. Hipotesis

1. Tingkat salinitas dan lama masa dekomposisi berpengaruh terhadap

perkembangan jumlah jenis bakteri yang terdapat pada serasah daun

A. marina yang mengalami proses dekomposisi.

2. Tingkat salinitas dan lama masa dekomposisi berpengaruh terhadap

perkembangan populasi bakteri yang terdapat pada serasah daun A. marina

yang mengalami proses dekomposisi.

3. Tingkat salinitas dan lama masa dekomposisi berpengaruh terhadap perkembangan keanekaragaman jenis bakteri yang terdapat pada serasah

daun A. marina yang mangalami proses dekomposisi.

4. Tingkat salinitas dan lama masa dekomposisi berpengaruh terhadap

frekuensi kolonisasi jenis-jenis bakteri yang terdapat pada serasah daun

A. marina yang mengalami proses dekomposisi.

4.2. Bahan dan Metode

4.2.1. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di kawasan hutan mangrove Perum Perhutani Desa Blanakan Kec. Blanakan BKPH Pamanukan KPH Purwakarta, di Laboratorium Bakteri Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor dan di Laboratorium Bakteri Fakultas Kedokteran Hewan. Penelitian dilakukan mulai bulan Juli 2003 sampai bulan Januari 2005.

Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah : jumlah jenis bakteri, populasi bakteri, keanekaragaman jenis bakteri dan frekuensi kolonisasi berbagai

jenis bakteri pada serasah daun A. marina.

4.2.2. Pengumpulan Serasah Daun A . marina

Serasah daun dikumpulkan dengan menggunakan 5 sampai 10 kain kasa/nilon berukuran 3 x 4 m, yang diletakkan dengan cara mengikatkannya di antara dua pohon pada ketinggian di atas garis pasang tertinggi. Serasah daun

A. marina yang dikumpulkan sebanyak 6600 g (50 g serasah x 11 perlakuan x 3 ulangan x 4 tingkat salinitas).

4.2.3. Penempatan Serasah Daun A. marina di Lapangan

Untuk tiap contoh uji, serasah daun A. marina sebanyak 50 g dimasukkan

dari nilon dengan mesh 1 x 1 mm. Jumlah kantong berisi serasah yang disiapkan sebanyak 132 buah (11 kali pengamatan x 3 ulangan x 4 tingkat salinitas).

Kantong serasah yang sudah berisi serasah daun A. marina ditempatkan di

lapangan yang memiliki berbagai tingkat salinitas.

Pada lokasi dengan tingkat salinitas yang telah ditentukan dibuat empat plot yang masing-masing berukuran 430 cm x 50 cm. Sebanyak 33 kantong

serasah yang masing-masing berisi 50 g serasah daun A. marina diletakkan

secara acak dalam tiap plot. Agar tidak dihanyutkan oleh pasang air laut ke- empat ujung kantong serasah ini diikatkan pada kayu pancang yang dibuat dari bambu dengan panjang masing-masing 50 cm dan diameter 1,5 cm. Ke-empat kayu tempat kantong serasah diikatkan, selanjutnya ditancapkan di tanah sampai pada kedalaman 40 cm. Adapun cara lain yang dapat digunakan adalah pengikatan ke-empat sudut kantong serasah pada akar atau pangkal batang pohon terdekat. Sebanyak 3 kantong (ulangan) serasah diambil untuk dianalisis dari tiap tingkat salinitas tiap lima belas hari sampai hari ke-165 (11 kali pengamatan) setelah serasah diletakkan di lapangan. Sebagai kontrol adalah serasah yang belum mengalami dekomposisi (belum diletakkan di lapangan).

4.2.4. Isolasi Bakteri dari Serasah Daun A. marina

Isolasi bakteri dari serasah daun A. marina yang belum mengalami proses

dekomposisi di lapangan (hari ke-0), dilakukan dengan lebih dahulu menumbuk

secara perlahan 10 gram serasah daun A. marina dalam mortar. Penentuan

populasi bakteri dilakukan melalui metode pengenceran dengan membuat suatu

seri pengenceran (dilution series) contoh. Cara pengenceran serasah daun A.

marina dan isolasi bakteri pada media dalam cawan Petri dijelaskan pada Gambar 10. Adapun tahapan kerja yang dilakukan adalah sebagai berikut :

1. Sebanyak 10 gram serasah daun A. marina yang telah dihancurkan

dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer 250 ml. Selanjunya dibuat suspensi dengan cara menambahkan air yang berasal dari lingkungan serasah mengalami dekomposisi yang telah disterilkan, sampai

mencapai volume 100 ml. Setelah pengenceran serasah daun A. marina

ini mencapai tingkat yang optimal yaitu 10-7, kemudian sebanyak 0,1 ml

nutrisi dalam cawan Petri. Untuk tiap tingkat pengenceran pekerjaan diulang 2 kali.

2. Untuk pembiakan seperti yang disebut pada langkah satu, lebih dulu suspensi bakteri sebanyak 0.1 ml diambil dengan pipet mikro dan

Dokumen terkait