• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendukung Proses Pembelajaran Gitar di Chandra Kusuma School Proses Awal Pembelajaran Gitar di Chandra Kusuma School berbentuk

TINJAUAN PEMBELAJARAN MUSIK DAN PRAKTIK INSTRUMEN GITAR DI CHANDRA KUSUMA SCHOOL

2.8 Pendukung Proses Pembelajaran Gitar di Chandra Kusuma School Proses Awal Pembelajaran Gitar di Chandra Kusuma School berbentuk

Kinestetik yang merupakan tahapan pembelajaran musik yang pertama, tipe pembelajaran ini memungkinkan anak didik untuk melihat, mendengarkan, dan meniru permainan yang diperagakan oleh pengajar/instruktur/guru musik. Pada tahap ini murid masih belum diajarkan untuk belajar mandiri, sama halnya dengan bayi, mereka menirukan apa yang mereka lihat, dengar dan rasakan. Tipe pembelajaran ini disarankan untuk diberikan kepada murid pemula, atau yang belajar dari “nol”.

Kemudian mengenalkan anak pembelajaran teori sebelum memasuki praktik instrumen gitar dalam proses pembelajaran praktik instrumen gitar secara akademisi dibutuhkan anak dapat menulis dan membaca sebuah notasi dalam memainkan instrumen gitar, hal tersebut yang membuat pentingnya teori dalam permainan instrumen gitar diawali dengan mengenalakan anak nilai notasi dan nilai istirahat (rest)

Mengenalkan siswa-siswi macam-macam dinamik adalah pp (pianissimo) yaitu sangat lembut, p (piano) yaitu lembut, mp (mezzopiano) yaitu agak lembut, mf (mezzoforte) yaitu agak keras, f (forte) yaitu keras, ff (fortissimo) yaitu sangat keras, crescendo yaitu bertambah keras, decrescendo yaitu bertambah lembut, dan dimin yaitu bertambah lemah

Lambang artikulasi yang dimaksudkan adalah lambang-lambang notasi pada not balok maupun not angka. Prier (1991) menjelaskan bahwa notasi musik secara umum dikenal sekitar abad XI dengan tokohnya Guido Arezzo (1995-1050) yang menemukan cara membaca dengan menggunakan suku kata do, re, mi, fa, sol, la, si. Suku kata ini berasal dari syair lagu Santo Yohannes. Lambang artikulasi pada notasi musik antara lain:

Staff adalah sangkar nada atau paranada yaitu tempat penulisan not. Staff terdiri dari lima garis dan empat spasi. Spasi sebagi ruang garis juga berfungsi untuk penulisan not-not. Not-not yang ditulis pada garis disebut not garis sedangkan not yang ditulis pada spasi disebut not spasi. Contoh staff sebagai berikut:

Kepala not dan tangkai not ada yang terbuka da nada yang tertutup. Besarnya kepala not harus disesuaikan dengan sangkar nada. Jika kepala not terletak dibawah garis ketiga, tangkai not mengarah keatas, jika kepala not berada diatas garis ketiga, tangkai not mengarah kebawah, sedangkan not yang terletak pada garis ketiga notnya boleh ke atas atau ke bawah sebagaimana tertera berikut ini

Bendera not, bendera not arahnya kekanan, baik tangkai yang keatas maupun kebawah.Ujung bendera not tetasp mengarah ke kepala not.

Tanda kunci, untuk mengetahui nama-nama not pada sangkar nada dibuatlah tanda kunci.Tanda kunci selalu dituliskan pada awal paranada.Terdapat tiga macam tanda kunci, yaitu:

 kunci G,

 kunci F,

 kunci C.

kunci G disebut juga treble clef yaitu staff untuk penulisan not-not tinggi. Dalam staff kunci G menunjukkan letak not “g” yaitu pada garis kedua, kunci G disebut juga kunci gitar dan semua not yang terletak pada garis kedua bernama not G. dibawah garis kedua adalah spasi satu yaitu not F sedangkan dibawah spasi kesatu adalah tempat untuk not E. kunci F disebut juga kunci bass atau bass cleft dimana dalam staff, kunci F berfungsi untuk tempat penulisan not-not rendah dan kunci F berpusat pada garis ke empat, apabila letak not F sudah diketahui maka

letak not-not lain dapat pula diketahui. Kunci C dipergunakan untuk penulisan suara menengah (alto dan tenor) dimana letak kunci C menunjukkan letak not C. kunci C boleh juga diletakkan pada sembarang tempat, apabila demikian halnya kunci C mempunyai berbagai kunci do dan sumbunya selalu menunjukkan do.

Tanda titik ditempatkan dibelakang not. Tanda titik berfungsi untuk memperpanjang nilai not di depannya. Hal ini berlaku untuk notasi balok maupun notasi angka. Namun demikian nilai titik pada notasi balok tidak sama dengan nilai titik pada notasi angka. Pada notasi balok jika tanda titik ditempatkan dibelakang not atau tanda diam maka nilainya setengah dari nilai not yang di depannya. Jika dalam satu partitur dijumpai pemakaian dua titik sekaligus dibelakang not maka nilai titik yang kedua adalah setengah dari nilai titik yang pertama. Sedangkan pada notasi angka, nilai satu titik adalah satu ketukan, dua titik maka nilainya dua ketukan.

Tanda tempo, Largo (besar sangat lambat), adagio (tenang, tentram, lebih lambat dari andante, lebih cepat dari largo), lento (menunjukkan tempo lambat), moderato (menunjukkan tempo sedang), andante (sedang, menunjukkan sifat seperti berjalan), andantino (lebih cepat dari andante), allegro (senang, gembira, tempo cepat sesuai dengan karakter atau sifat dari gembira), vivace (tempo cepat), presto (tempo cepat)

Tanda accidental, yaitu: (1) kreis (memindahkan letak dan bunyi nada setengah ke atas). Tanda kreis hanya berlaku untuk letak dan bunyi nada yang mengikutinya dalam birama yang bersangkutan, (2) mol (memindahkan letak dan bunyi nada setengah laras ke bawah). Tanda mol harus berlaku untuk letak dan

bunyi nada yang mengikutinya dalam birama yang bersangkutan, dan (3) pugar (mengembalikan letak dan bunyi nada ke asalnya).

Legato tanda yang menghubungkan dua nada atau lebih sedangkan ligature yaitu tanda yang menghubungkan dua nada yang sama secara berturut.

Pembelajaran membaca notasi dan menyanyikan nada-nada bukanlah persoalan sederhana, tetapi memiliki prosedur yang kompleks. Mursell (1995) menjelaskan untuk belajar notasi musik adalah sama halnya dengan bagaimana mengerti tentang musik itu sendiri. Nilai seluruh lambang-lambang membantu mengerti musik lebih baik lagi. Tanpa sebuah pengertian dari lambang tersebut maka pengertian akan musik akan ketinggalan, sama halnya dengan angka-angka, maka pengertian akan aritmatika juga akan ketinggalan. Maka pelajaran tentang membaca musik adalah program yang harus dilakukan dalam perencanaan untuk memajukan pendidikan musik.

Solfeggio merupakan suatu pengetahuan musik yang mempelajari teknik membaca dan menulis notasi musik yang mencakup notasi irama dan notasi melodi. Notasi melodi dibaca atau dinyanyikan secara solmisasi sedangkan notasi irama dimainkan dengan tepukan. Menulis notasi musik mencakup aplikasi sence of music terhadap melodi yang diperdengarkan melalui instrument musik piano, melodi tersebut kemudian ditulis dengan tepat sesuai dengan frekuensi setiap nada (pitch).

Jarak-jarak tertentu pada tangga nada ditandai dengan pola jarak: 1-1-1/2-1-1-1-1/2. Tangga nada demikian disebut tangga nada mayor. Dalam bentuk asli (netral) deretan nada-nadanya adalah: c d e f g a b c’. setiap susunan tangga

nada mayor jika dinyanyikan dengan solmisasi berbunyi: do re mi fa sol la si do. Nada pertama dari tangga nada disebut root.

Hartoyo (1994) menjelaskan interval adalah perbedaan tinggi nada (pitch) antara dua nada. Cara mempelajarinya biasanya lebih mudah melalului tangga nada yaitu dengan cara menyebutkan perbedaan tinggi nada antara nada do (C) dengan nada-nada sesudahnya dan dihitung dari do (C) sebagai nada pokok dalam tangga nada C.

Movable do adalah pembelajaran solfeggio dengan menggunakan “do” yang dapat berpindah-pindah sesuai dengan nada yang di pergunakan. Dalam movable do ada sebutan tambahannyaitu untuk nada-nada kromatis yaitu: (1) nada kromatis naik dan (2) nada kromatis turun. Untuk nada kromatis naik seperti nada-nada : di, ri, fi, sel, dan li. Sedangkan untuk nada kromatis turun seperti nada-nada : sa, le, sal/fi, ma dan ra.

Selanjutnya dijelaskan rangkaian nada untuk tangga nada mayor selalu 1-1-1/2-1-1-1-1/2, maka ditemukan: (1) dalam tangga nada D mayor, muncul kreis kedua yang berlaku untuk setiap nada do (C), di samping kreis pertama yang sudah lebih muncul pada tangga nada G mayor. Pada tangga nada A mayor, muncul kreis yang ketiga yang berlaku untuk setiap nada sol (G), disamping kreis pertama dan kedua yang sudah lebih dulu muncul pada tangga nada G mayor dan D mayor, dan (2) dalam tangga nada Bes mayor, muncul mol kedua yang berlaku untuk setiap nada mi (E), disamping mol pertama yang sudah lebih dulu muncul pada tangga nada F mayor, dan pada tangga nada Es, muncul mol ketiga yang berlaku untuk setiap nada La (A) disamping mol pertama dan kedua yang sudah lebih dulu muncul pada tangga nada nada F mayor dan tangga nada Bes mayor.

Proses penerapan selanjutnya di sekolah Chandra Kusuma dilakukan seorang murid untuk menerapkan teknik-teknik yang terdapat pada instrumen gitar seperti teknik pada tangan kanan dan tangan kiri. Kemudian dilakukan berbentuk kelas dan dapat dilakukan antara seorang guru dan murid. Dalam Tahapan pembelajaran instrumen gitar. Siswa selalu menginginkan pembelajaran

yang mudah, menarik, menyenangkan, dan bertahap. Tetapi beberapa siswa dan

orangtua menginginkan pembelajaran yang instan (cepat bisa). Hal ini

menunjukan peran seorang guru untuk mengajarkan teknik-teknik lanjutan dalam

pembelajaran gitar sangat dibutuhkan.

Kesabaran, ketekunan, ketelitian, Konsisten terhadap sebuah bahan yang

diberikan sangat penting dilakukan seorang siswa dalam mempelajari instrumen

gitar. Kemudian sekolah Chandra Kusuma melakukan Tahap pembelajaran

instrumen gitar secara visual, tahapan ini adalah sebuah tahapan yang

memfokuskan dengan melihat materi yang disajikan, yaitu mulai mengajarkan

membaca. Mengenal not, tanda baca, dan materi lain yang kaitannya dengan

visual (melihat). Pembelajaran visual mulai mengajarkan kepada murid untuk

belajar mandiri, misalnya pengajar musik tidak ada dan yang ada hanya

partiture/tablature maka murid masih bisa belajar. Dan bahkan murid bisa belajar

lebih dari yang diajarkan pengajar ketika sudah menguasai materi sebelumnya.

Kemudian secara auditory yang merupakan tahapan pembelajaran musik yang berkaitan dengan pendengaran dan pembelajaran adalah tahap paling tinggi

pada pembelajaran musik. Murid yang bisa menguasai pembelajaran Auditory

biasanya mempunyai rasa “FEEL” yang bagus dalam menebak nada dan

siswa mempelajari dasar-dasar awal yang mendukung siswa dalam permainan

gitar.

Setelah melihat anak mampu dalam tahapan-tahapan pembelajaran sekolah

Chandra Kusuma melakukan monitoring dan evaluasi. Monitoring dalam

pembelajaran gitar di Chandra Kusuma School dilakukan seorang guru dengan

cara memantau perkembangan siswa dan memberikan nasehat-nasehat serta

peringatan kepada seorang siswa, jika hal itu penting untuk kebaikan siswa dan

kelancaran proses belajar-mengajar di sekolah Chandra Kusuma.

Terlebih lagi evaluasi yang dillakukan guru kepada seorang siswa untuk

mengambil nilai dari pembelajaran praktik instrumen gitar di sekolah Chandra

Kusuma. Penilaian yang nilai seorang guru dari absensi siswa mengikuti praktik

instrumen gitar, teknik yang baik dalam permainan instrumen gitar, tugas latihan

yang diberikan seorang guru untuk dilatih dirumah kepada siswa, teknik membaca

yang baik dilakukan seorang siswa jika mendapat bahan ajar dari seorang guru.

Kemudian pengambilan nilai yang dilakukan secara ujian kepada seorang siswa

untuk melihat hasil belajar yang baik kepada seorang siswa.

Dalam hal penilaian terdapat beberapa hal yang tidak sesuai dengan dengan yang sudah direncanakan dalam proses pembelajaran (RPP), yaitu penilaian dari jumlah konsultasi setiap kelompok. Penilaian ini tidak terdapat pada RPP akan tetapi guru melakukan penilaian ini dalam pembelajarannya, dengan tujuan agar siswa mampu berlatih dengan rajin serta konsultasi kepada seorang guru untuk mendapat masukan-masukan dari guru agar memperbaiki hasil belajar praktik instrumen gitar dengan menggunakan sebuah metode yang baik dari seorang guru.

Pembelajaran gitar di sekolah Chandra kusuma masih membutuhkan masukan dalam segala aspek pembelajaran hal ini menunjukan untuk perkembangan instrumen gitar disekolah Chandra Kusuma agar semakin pesat, baik dalam proses pembelajaran, ujian maupun sebuah pertunjukan untuk dipertontonkan kepada masyarakat Indonesia khususnya kota Medan.

BAB III

PENERAPAN KURIKULUM ABRSM PADA PEMBELAJARAN