METODE DAN TEHNIK PENELITIAN
A. Penegasan Judul
Skripsi ini berjudul “Pola Bimbingan Terhadap Pembentukan Akhlak Anak Usia 6-12 Tahun di Perum. BTN (Bank Tabungan Negara) Lampung Tengah.” Untuk menghindari kesalahpahaman dalam memahami maksud dan tujuan serta ruang lingkup pembahasan, terlebih dahulu akan penulis jelaskan beberapa kata istilah yang terkandung dalam judul tersebut, hal ini selain dimaksudkan untuk mempermudah pemahaman, juga untuk mengarahkan pada pengertian yang jelas sesuai dengan yang dikehendaki penulis.
Adapun istilah-istilah yang perlu dijelaskan adalah:
Pola berarti corak, model, sistem, cara kerja, bentuk (struktur) yang tetap. Keika pola diberi arti bentuk/struktur yang tetap, maka hal itu semakna dengan istilah “kebiasaan.”60
Bimbingan dapat diartikan sebagai suatu bantuan yang diberikan oleh seseorang, laki-laki atau perempuan, yang memiliki kepribadian yang memadai dan terlatih dengan baik kepada individu-individu setiap usia untuk membantunya
60
Syaiful Bahri Djamarah, Pola Asuh Orang Tua dan Komunikasi dalam Keluarga (Upaya Membangun Citra Membentuk Pribadi Anak), (Jakarta: Rineka Cipta, 2014), cet. 1, h. 50.
mengatur kegiatan hidupnya sendiri, mengembangkan pandangan hidupnya sendiri, membuat keputusan sendiri dan menanggung bebannya sendiri.61
Pola bimbingan yang penulis maksudkan di sini adalah pola bimbingan yang dilakukan oleh orang tua kepada anaknya mengenai membimbing terus menerus, membimbing secara bertahap dan memotivasi anak agar individu tersebut dapat mengembangkan potensi atau fitrah beragama yang dimilikinya secara optimal dengan cara menginternalisasikan nilai-nilai yang terkandung di dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam ke dalam dirinya, sehingga ia dapat hidup selaras dan sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah, serta fitrah beragama itu telah berkembang secara optimal maka individu tersebut dapat menciptakan hubungan yang baik dengan Allah
Subhanahu Wa Ta’ala, dengan manusia dan alam semesta sebagai manifestasi dari peranannya sebagai khalifah di muka bumi yang sekaligus juga berfungsi untuk mengabdi kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sehingga penulis hanya berfokus untuk melakukan penelitian terhadap warga Muslim yang terdapat di Perum. BTN (Bank Tabungan Negara) Lampung Tengah.
Pembentukan akhlak dapat diartikan sebagai usaha sungguh-sungguh dalam rangka membentuk anak, dengan menggunakan sarana pendidikan dan pembinaan yang terprogram dengan baik dan dilaksanakan dengan sungguh-
61
Prayitno dan Erman Amti, Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling, (Jakarta: Rineka Cipta, 2013), cet. 3, h. 94.
sungguh dan konsisten.62 Pembentukan akhlak ini dilakukan berdasarkan asumsi bahwa akhlak adalah hasil usaha pembinaan, bukan dengan sendirinya. Potensi rohaniah yang ada dalam diri manusia, termasuk di dalamnya akal, nafsu amarah, nafsu syahwat, fitrah, kata hati, dan hati nurani dibina secara optimal dengan cara pendekatan yang tepat.
Pembentukan akhlak yang penulis maksudkan di sini adalah pembentukan akhlak yang dilakukan oleh orang tua, mencakup ibu dan bapak kepada anaknya dengan cara pembinaan akhlak terhadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan akhlak kepada manusia yang sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, jika orang tua berupaya untuk mendidik dan melatih anaknya dengan sungguh-sungguh, maka akan menghasilkan anak-anak atau orang-orang yang baik akhlaknya. Karena pada pelaksanaannya pembinaan akhlak ini lebih mendahulukan pembinaan jiwa daripada pembinaan fisik, karena dari jiwa yang baik inilah akan menghasilkan perbuatan-perbuatan yang baik yang pada tahap selanjutnya akan mempermudah menghasilkan kebaikan dan kebahagiaan pada seluruh kehidupan seorang anak.
Menurut Supraptini, anak usia 6-12 tahun adalah masa kanak-kanak akhir dan anak sekolah.63 Anak usia sekolah dapat diartikan sebagai anak yang berada dalam rentang usia 6-12 tahun, dimana anak mulai memiliki lingkungan lain
62
Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2012), h. 158.
63
Achmad Juntika Nurihsan dan Mubiar Agustin, Dinamika Perkembangan Anak dan Remaja (Tinjauan Psikologi, Pendidikan, dan Bimbingan), (Bandung: PT Refika Aditama, 2011), cet. 2, h. 19.
selain keluarga. Sedangkan menurut Santrock, anak usia sekolah biasa disebut anak usia pertengahan. Periode usia tengah merupakan periode usia 6-12 tahun.64
Pada fase ini, anak mulai memiliki kemampuan kemandirian ketika berada di luar lingkungan rumah terutama di sekolah akan semakin besar. Beberapa masalah sudah mampu diatasi dengan sendirinya dan anak sudah mampu menunjukkan penyesuaian diri dengan lingkungan yang ada. Rasa tanggung jawab dalam menyelesaikan tugas sudah mulai ada, anak lebih banyak mengembangkan kemampuannya dalam interaksi sosial, belajar tentang nilai moral dan budaya dari keluarga serta mulai mencoba untuk mengambil bagian peran dalam kelompok bermain dan lingkungannya. Oleh sebab itu, ruang lingkup kehidupan bertetangga penulis banyak terdapat anak-anak usia sekolah, baik laki- laki maupun perempuan, sehingga penulis ingin meneliti semaksimal mungkin, bagaimana perkembangan anak usia sekolah di lingkungan perumahan yang penulis tempati saat ini.
Perum. BTN (Bank Tabungan Negara) Lampung Tengah adalah perumahan yang terdapat di Lampung Tengah, berdekatan dengan PT. Humas Jaya Agrotama, dan pada pelaksanaannya penulis lebih menekankan untuk meneliti pada orang tua yang memiliki anak dengan usia 6-12 tahun, dikarenakan sumber data yang akan diteliti tersedia, dan faktor utamanya adalah karena
64“Konsep Anak Usia Sekolah” (On
-line), tersedia di: https://wisuda.unud.ac.id/pdf/1002106034-3-BAB%202.pdf (30 Oktober 2016).
sumber yang akan diteliti masih berada didalam lingkungan dari kediaman penulis saat ini.
Dengan demikian, maksud judul skripsi ini adalah untuk melakukan penelitian mengenai bagaimana proses membimbing terus-menerus, membimbing secara bertahap, dan memotivasi anak agar ia dapat mengembangkan potensi atau fitrah beragama yang dimilikinya secara optimal dengan cara menginternalisasikan nilai-nilai yang terkandung di dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam ke dalam dirinya, sehingga ia dapat hidup selaras dan sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunnah, setelah fitrah beragama itu telah berkembang secara optimal maka individu tersebut dapat menciptakan hubungan yang baik dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dengan manusia dan alam semesta. Yang kemudian akan penulis teliti pada orang tua yang memiliki anak dengan usia 6-12 tahun di Perum. BTN (Bank Tabungan Negara) Lampung Tengah.