C. Prosedur Penelitian
3. Penelitian Eksperimen (Tahap III)
Penelitian eksperimen ini bertujuan untuk menguji efektivitas model operasional bimbingan yang telah diperoleh dari penelitian pengembangan dengan menggunakan One-Group Pretest-Posttest Design.
Subyek penelitian eksperimen ini dibatasi pada anak tunagrahita jenjang SDLB Kelas 1 dari ketiga SLB, yaitu SLBN Gedangan Sidoarjo 7 (tujuh) anak tunagrahita, SLB A/C Dharma Wanita Sidoarjo 4 (empat) anak tunagrahita, dan SLB-C AKW II Surabaya 3 (tiga) anak sehingga jumlah keseluruhan 14 anak tunagrahita. Pemilihan subyek pada Kelas tersebut dengan pertimbangan bahwa Kelas I merupakan Kelas awal masuk sekolah dengan kondisi perilaku apa adanya yang diperoleh dari hasil pengaruh dari rumah orang tua/keluarga dan belum banyak dipengaruhi oleh sikap perilaku dari teman sebayanya di masyarakat yang umumnya memandang anak tunagrahita dari segi kekurangannya. Subyek penelitian dimaksud selengkapnya disajikan dalam tabel 3.3 berikut.
Idris Ahmad, 2014
No Nama I.Q. Tpt./Tgl.lahir Kelamin
1 Ws 70 Malang, 13-9-2003 L 2 Dn 60 Surabaya, 16-8-2000 P 3 Af 70 Surabaya, 5-5-2003 L 4 Mh 70 Sidoarjo, 26-3-2003 L 5 Rk 70 Sidoarjo, 20-3-2002 L 6 Kk 70 Madiun, 28-2-2003 L 7 Fd 69 Sidoarjo, 23-9-2006 L 8 Ss 70 Sidoarjo, 19-1-2001 P 9 Ra 60 Garut, 1-10-2005 L 10 Sr 49 Lumajang, 28-10-2001 P 11 Hi 35 Sidoarjo, 28-5-2003 L 12 Bi 55 Sidoarjo, 13-4-2004 L 13 Am 40 Surabaya, 23-5-2004 P 14 Na 65 Sidoarjo, 28-7-2002 L
Rincian tugas menjadi instrumen utama dalam implementasi model, pada awal pertemuan layanan bimbingan berfungsi sebagai pretest untuk menemukan keterampilan sosial aktual masing-masing anak, sedangkan pada akhir pertemuan layanan berfungsi untuk menemukan keterampilan sosial potensial. Jumlah data perolehan pretest maupun postest dari masing-masing sub indikator pencapaian tugas dihitung persentasenya dengan rumus:
Persentase nilai =
atau = Nlai ideal adalah 30
Efektivitas model dapat diketahui dengan membandingkan rerata skor pretest dan posttest. Model dikatakan efektif bila nilai posttest lebih besar dari nilai pretest. Untuk menemukan keefektifan model dalam penelitian ini menggunakan One-Group
Idris Ahmad, 2014
Teknik analisis data statistik yang digunakan adalah statistik non parametrik. Statistik non parametrik adalah prosedur pengujian hipotesis tidak terpenuhi atau sering disebut dengan metode bebas distribusi (Furqon, 2008, hlm. 235). Subyek penelitian (14 orang) ini tidak besar atau kurang dari 30 orang, maka statistik nonparametrik menjadi alasan digunakan untuk analisis data.
Pengujian dilakukan dengan uji statistik Wilcoxon matched pairs karena bentukan data yang diperoleh adalah ordinal yaitu termasuk ke dalam statistik non parametris, sehingga tidak memerlukan adanya pengujian statistik klasik atau syarat statistik parametris (uji normalitas dan homogenitas). Penerapan model bimbingan pengembangan behavioral dengan motode ini mengikuti pola One-Group
Pretest-Posttest Design, diberikan kepada anak tunagrahita berjumlah 14 orang anak SLB C
AKW II Surabaya, SLB Negeri Gedangan dan SLB A/C Dharma Wanita Sidoarjo. Nilai persentase masing-masing sub aspek tersebut kemudian dijumlahkan menjadi jumlah persentase aspek indikator (Aspek bina diri, komunikasi, sosialisasi, dan okupasi), dan menjadi jumlah persentase nilai keterampilan sosial secara umum baik pretest maupun posttest.
Analisis data dalam penelitian disesuaikan dengan rancangan atau model instrumen penelitian yang digunakan, sehingga dapat diketahui jenis data yang terkumpul. Menurut Moleong (2000) dalam Hasan (2002, hlm. 97), “analisis data
adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis
kerja seperti yang disarankan oleh data”.
Bentuk analisis data dalam penelitian ini adalah analisis kuantitatif dengan menggunakan alat analisis metode statistik dalam bentuk analisis komparatif.
Analisis komparasi atau perbedaan merupakan prosedur statistik untuk menguji
perbedaan di antara dua kelompok data (variabel) atau lebih”. Analisis
Idris Ahmad, 2014
Analisis komparasi dibedakan atas komparasi antara dua sampel yang saling berhubungan atau tidak berhubungan dan komparasi antara lebih dari dua sampel yang saling berhubungan atau tidak berhubungan. Berdasarkan uraian tersebut, maka dalam penelitian ini jenis data yang diperoleh termasuk ke dalam data ordinal dengan analisis komparasi antara dua sampel yang saling berhubungan, karena subyek yang diteliti adalah kelompok awal atau sebelum dilakukan treatment dan dipakai kembali dalam mengumpulkan data setelah dilakukan treatment, sehingga sampel masih saling berhubungan.
Analsis statistik yang dipergunakan untuk keperluan hipotesis dari penelitian ini adalah analisis Wilcoxon matched pairs. Menurut Sugiyono (2009, hlm. 134) “teknik
ini merupakan penyempurnaan dari uji tanda”. Karena dalam uji tanda besarnya
selisih nilai angka antara positif dan negatif tidak diperhitungkan, sedangkan dalam Wilcoxon diperhitungkan.
Adapun rumus dari Wilcoxon matched pairs adalah:
T =
T = √ Z =
Di mana T adalah jumlah jenjang/rangking yang kecil Hipotesisnya adalah:
(Ho) : tidak terdapat perbedaan keterampilan anak tunagrahita sebelum dan sesudah mengikuti treatment.
(Ha) : terdapat perbedaan keterampilan anak tunagrahita sebelum dan sesudah mengikuti treatment.
113 Idris Ahmad, 2014
Setelah melalui proses penelitian dan pengembangan yang terdiri atas penelitian pendahuluan, pengembangan model, validasi rasional model, dan validasi empirik. simpulan hasil penelitian adalah sebagai berikut.
1. Profil keterampilan sosial anak tunagrahita di SLB Negeri Gedangan Sidoarjo, SLB A/C Dharma Wanita Sidoarjo, dan SLB-C AKW II Surabaya tahun akademik 2012 secara umum berada pada katagori “dapat melakukan” pada aspek binadiri dan aspek okupasi.
Kenyataan ini menunjukkan bahwa sebagian besar anak tunagrahita lebih mengenal dan menghayati dalam kehidupan sehari-hari seperti sub aspek makan, berpakaian, mobilitas, dan toileting dari aspek binadiri. Begitu juga sub aspek kecekatan motorik halus dan kecekatan motorik kasar dari aspek okupasi. Dalam kehidupan sehari-hari kedua aspek tersebut lebih mendekati dalam memenuhi kebutuhan dasar biologis yang menuntut anak untuk melakukan sejak awal kehidupannya. Adapun kategori “dapat melakukan dengan bantuan” pada aspek komunikasi dan aspek sosialisasi. Kategori ini dapat diartikan bahwa anak tunagrahita dapat melakukan bila dibantu dan bila tidak ada bantuan tidakakan dapat melakukannya. Kondisi ini menunjukkan belum nampak kemandirian dalam berkomunikasi dan bersosialisasi. Komunikasi memiliki sub aspek bahasa ekspresif dan reseptif, kegiatan yang berkaitan dengan jumlah, dan kegiatan yang menggunakan kertas dan pensil. Sedangkan sub aspek dari sosialisasi meliputi bermain, adaptasi, dan keterampilan berumah tangga. Kedua aspek ini mengalami hambatan bagi anak dalam perilaku sehari-hari sehingga lebih banyak membutuhkan bimbingan menuju keterampilan potensial.
Idris Ahmad, 2014
menjadi program tersendiri. Program layanan bimbingan didasarkan pada kurikulum SLB-C 2006, mengacu pada hasil test kecerdasan dari psikolog, dan hasil asesmen guru hingga saat ini masih manual serta belum terarsip dalam koordinasi layanan bimbingan. Sarana dan prasarana untuk keperluan layanan bimbingan keterampilan sosial berbentuk perangkat pengumpul data seperti kuesioner dalam penelitian pendahuluan ini, alat untuk mengungkap kemampuan keterampilan sosial aktual, pedoman pelaksanaan asesmen, dan perangkat untuk melakukan kegiatan evaluasi proses seperti rincian tugas belum tersedia.
3. Rumusan model bimbingan behavioral untuk mengembangkan keterampilan sosial anak tunagrahita di SLB-C terdiri komponen: rasional, tujuan, target intervensi, asumsi model, langkah-langkah model, pelaksanaan, kompetensi pembimbing, struktur dan intervensi, serta evaluasi.
4. Menghasilkan model bimbingan behavioral yang efektif untuk mengembangkan keterampilan sosial anak tunagrahita di SLB-C.
Hasil penelitian menunjukkan pretest dan posttest terdapat perbedaan yang signifikan. Dengan hasil uji coba ini maka model bimbingan behavioral untuk mengembangkan keterampilan sosial anak tunagrahita layak untuk digunakan sebagai salah satu bentuk strategi penunjang kegiatan pelaksanaan layanan bimbingan pengembangan keterampilan sosial di SLB-C.
B. Saran
Berdasarkan pembahasan hasil dan simpulan penelitian, saran utama penelitian ini adalah mengimplementasi temuan penelitian tentang bimbingan behavioral untuk mengembangkan keterampilan sosial anak tunagrahita. Saran ditujukan kepada berbagai pihak terkait, Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan khususnya konselor sekolah, kepala sekolah, guru Kelas dan peneliti selanjutnya. Saran untuk masing-masing pihak dipaparkan berikut ini.
Idris Ahmad, 2014
memfasilitasi berbagai keperluan dalam upaya tercapainya tujuan pendidikan melalui keterampilan sosial, (b) mewujudkan kelengkapan sarana dan prasarana untuk keperluan layanan bimbingan yang berbentuk perangkat lunak seperti alat pengumpul data, alat untuk mengungkap kemampuan keterampilan sosial aktual, pedoman pelaksanaan dan perangkat asesmen, dan perangkat untuk melakukan kegiatan evaluasi proses seperti rincian tugas, (c) dan kegiatan layanan bimbingan behavior ini lebih teradministrasi sehingga akan lebih bermanfaat bagi sekolah khususnya untuk waktu sekarang dan yang akan datang.
2. Konselor sekolah (pembantu kepala sekolah bidang bimbingan) yang berfungsi membantu kepala sekolah salah satunya layanan bimbingan keterampilan sosial. Disarankan hendaknya lebih fokus terhadap upaya keberhasilan program bimbingan sekolah dan lebih aktif melakukan koordinasi dengan kepala sekolah, antara lain dalam hal: (a) mengupayakan program layanan bimbingan yang efektif di sekolah, (b) membangun interaksi aktif dengan orang tua atau wali murid dengan mengadakan pertemuan secara rutin dan berkala untuk mensosialisasikan dan mengkoordinasilkan program bimbingan dan layanan bimbingan anaknya, dan (c) membangun hubungan keluar baik dengan instansi maupun pakar, dan pada saat tertentu menghadirkan sebagai nara sumber dalam pertemuan dengan orang tua/wali muridterkait bimbingan keterampilan sosial.
3. Guru Kelas sebagai mitra kerja konselor sekolah, disarankan untuk mendukung dan bekerja sama dengan konselor untuk mulai melaksanakan bimbingan behavioral dalam kegiatan belajar mengajar, baik di Kelas maupun di luar Kelas di mana perilaku maladaptif anak dijumpai yang berhubungan dengan masalah keterampilan sosial.
4. Orangtua. Melalui pertemuan orangtua murid secara berkala dan terencana di bawah koordinasi kepala sekolah agar program bimbingan yang telah dicapai di
Idris Ahmad, 2014
pencapaian menuju kemandirian anak diharapkan akan lebih cepat terwujud secara efektif.
5. Peneliti selanjutnya. Penelitian ini merupakan salah satu upaya mencari solusi melalui keterampilan sosial agar anak tunagrahita dapat menyesuikan diri dan dapat diterima di masyarakat. Adapun keterampilan sosial merupakan salah satu dari keterbatasan sepuluh perilaku adaptif yang dirumuskan dalam batasan anak tunagrahita, sehingga dapat dikatakan bahwa penelitian ini dilakukan masih dalam setting yang terbatas. Upaya untuk memandirikan anak tunagrahita masih membuka peluang yang lebih luas, baik dari segi wilayah, data, teoritis, model, metodologi maupun analisisnya. Oleh karena itu diharapkan kepada peneliti lainnya yang ingin mengembangkan penelitian lebih lanjut hendaknya membuat
117 Idris Ahmad, 2014
Ditjen Dikti. Proyek Pemberian Tenaga Kependidikan.
Arias, B., dkk. (2012). Factor Structure of the Construct of Adaptive Behavior in Children with and Without Intellectual Disability. International Journal of
Clinical and Health Psychology (2013). No. 13.
Ashman, A., dan Elkins, J. (1994). Educating Children with Special Needs. Prentice Hall of Australia Pty Ltd.
Asrori, M. (2007). Psikologi Pembelajaran (Cetakan pertama). Bandung: Wacana Prima.
Atkinson, R. L., Atkinson, R. C., dan Hilgard, E. R. (2008). Pengantar psikologi
(Edisi kedelapan, Jilid 2. Alih bahasa Agus Dharma). Jakarta: Erlangga.
Bailey, R. D. (1982). Therapeutic Nursing For The Mentally Handicapped. New York Toronto: Oxford University Press.
Beirne-Smith, M., Ittenbach, R.F., dan Patton, J.R. (2002). Mental Retardation (Sixth Edition). New Jersey Columbus, Ohio:Merrill Prentice Hall Upper Saddle River.
Cartledge, G. dan Milburn, J. F. (1992). Teaching Social Skills to Children & Youth:
Innovative Approaches. Edisi kedua. Massachussetts : Allyn and Bacon.
Corey, G. (2007). Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi (Terjemahan E.
Koswara). Bandung: PT Refika Adititama.
Corey, G. (2008). Theory & Practice of Group Counceling, Australia: Thomson Brooks/Cole.
Cresswell, J.W. (2008). Educational Research, Planning, Conducting, and
Evaluating Quantitative Reasearch. Edisi ketiga. University of
Idris Ahmad, 2014
Disabilities, 2004, 39 (4), 301-309 © Division on Developmental Disabilities.
Departeman Pendidikan dan Kebudayaan (1984). Pedoman Bimbingan Anak Luar
Biasa. Jakarta: Depdikbud.
Departeman Pendidikan dan Kebudayaan (1999). Kurikulum Pendidikan Luar
Biasa. Jakarta: Depdikbud.
Dinas Pendidikan Nasional (2006/2007). Rekapitulasi Data Sekolah Luar Biasa
Negeri dan Swasta TKLB, SDLB, SMPLB dan SMALB Seluruh Indonesia Tahun 2006/2007. Jakarta: Depdiknas. Dirjen Manajemen PDM, Direktorat
Pembinaan Sekolah Luar Biasa.
Departemen Pendidikan Nasional (2007). Bimbingan Konseling–Pedoman Khusus Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif. Jakarta: Dirjen Manajemen PDM,
Direktorat Pembinaan SLB.
Dinas Pendidikan (2013/2014). Data dan Informasi Sekolah dan Siswa Sekolah
Pendidikan Khusus Tahun 2013/2014. Pemerintah Propinsi Jawa Timur
Bidang PK-PLK.
Emecen, D., D. (2011). Comparison of Direct Instruction and Problem Solving Approach in Teaching Social Skills to Children with Mental Retardation. Kuram ve Uygulamada Eğitim Bilimleri, Educational Sciences: Theory &
Practice – 11(3). Summer. 1414-1420 ©2011 Egitim Danismantigi ve
Aristirmalari Iletisim Hizmetleri Tic. Ltd Sti
Gall, M. D., Gall, J. P., dan Borg, W. R. (2003). Educational Research &
Development. Boston: Pearson Education, Inc.
Hasan, Iqbal, M. (2002). Pokok-pokok Materi Metodologi Penelitian dan
Aplikasinya. Jakarta: PT. Ghalia Indonesia.
Hurlock, E., B. (1995). Perkembangan Anak (Jilid 1). Alih Bahasa: Tjandrasa & Zarkasih. Jakarta:Erlangga.
Hurlock, E., B. (1978). Assessment, Teaching-Learning Process etc and Decipline [On Line] . Tersedia: www.ncte-india.org/MED (26 Juli 2010)
Idris Ahmad, 2014
Comparative Study. International Journal of Humanities and Social Science
Invention ISSN (Online): 2319–7722, ISSN (Print): 2319–7714 www.ijhssi.org Volume 2 Issue 8 I Agustus 2013I PP.59 – 63
Kartadinata, S. (1998/1999). Bimbingan di Sekolah Dasar. Jakarta: Dirjen Dikti. Kirk, S. A. dan Gallagher, J. J. (1986). Educating Exceptional Children. Boston:
Houghton Mifflin Company.
Kirk, S. A. dan Gallagher, J. J. (1989). Educating Exceptional Children. Boston: Houghton Mifflin Company.
Liando, Y. (2003). Kesesuaian antara Pelaksanaan Bimbingan oleh Guru dengan
Harapan Orang Tua. PPs UPI Bandung. tidak diterbitkan (Tesis).
Mahmud, M. (2004). Layanan Bimbingan bagi Anak Tunagrahita di SD. Jurnal Ilmu Pendidikan “Pedagogia”, Vol. 2 No. 1 Tahun 2004. ISSN: 1693-5276. Hal. 33-45.
Moore, D. R. (1982). Childhood Behavior Problems: A Social Learning Perspective dalam Lachenmeyer, J. R. & Gibbs. M. S. Psychopathology in childhood (hal. 211 – 243). USA: Gardner Press, Inc.
Mukminan. (1997). Teori Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta: P3G IKIP.
Natawidjaja, R., (1984). Tingkat Penerapan Bimbingan dalam Proses Belajar Mengajar dihubungkan dengan Kepedulian Guru dan Sikap Siswa Terhadap Bimbingan (Studi Deskriptif Analisis Mengenai Penerapan Bimbingan oleh Guru SPG Negeri di Jawa Barat). Disertasi pada FPS IKIP Bandung, tidak diterbitkan.
Natawidjaja, R. (1987). Pendekatan-pendekatan dalam Penyuluhan Kelompok I. Bandung: CV. Diponegoro.
Payne, J. S., dan Patton, J. R. (1981). Mental Retardation, Charles E. Merrill Publishing Company A Bell & Howell Company.
Peraturan Pemerintah No. 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan pasal 129 ayat (2)
Idris Ahmad, 2014
Sadrossadat, L., Moghaddami, A., dan Sadrossadat, S., J. (2010). A Comparison Of Adaptive Behaviors among Mentally Retarded And Normal Individuals: A guide To Prevention And Treatment. International Journal of Preventive
Medicine, Vol 1, No 1, Winter. Int J Prev Med 2010, 1(1): 34-38
Snell, M. E., (1983). Systematic Insteruction of the Mederately and Severely
Handicapped. Charles E. Merrill Publishing Co. A Bell Howell Company.
Soendari, T. (2002). Pemahaman dan Penerapan Konsep-Konsep Dasar Bimbingan
dalam Proses Belajar Mengajar di SLB-C, PPs UPI: tidak diterbitkan
(Tesis).
Soendari, T. (2011). Model Bimbingan dan Konseling Kolaboratif dalam
Pengembangan Perilaku Adaptif Anak Tunagrahita Ringan di Sekolah Dasar. SPs UPI: tidak diterbitkan (Disertasi).
Sugiyono (2006). Metode Penelitian Kualitatif, Kuantitatif, dan R & D. Bandung: CV. Alfabeta.
Suharsaputra, U. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan Tindakan (Cetakan Kesatu). Band ung: PT. Refika Aditama.
Sujiono, B. (2008). Hakekeat Perkembangan Motorik Halus Anak Usia Dini. [Online]. Tersedia di:
http://melyloelhablogspot.com/2013/05/hakekat-perkembangan [Diakses 2 September 2014].
Sukmadinata, N. S., (2011). Metode Penelitian Pendidikan. Bandug: PT Remaja Rosdakarya
Sunanto, J., Takeuchi, K., dan Nakata, H. (2005). Pengantar Penelitian dengan
Subyek Tunggal. Japan: Criced University of Tsukuba.
Surya, M. (2003). Teori-Teori Konseling. Bandung: C. V. Pustaka Bani Quraisy, Jl. Sukanegara No. 7 Antapani 40291
Surya, M. (2008). Mewujudkan Bimbingan Konseling Profesional. Bandung: Jurusan PPB, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indosesia.
Idris Ahmad, 2014
Sciences: Theory & Practice – 12(4). Autumn. 2783-2788.2012 Educational
Consultancy and Research Center.www.edam.com.tr/estp.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab VI Pasal 32 ayat 1
Willis, S., S. (2004). Konseling Individual. Bandung: Alfabeta
Yusuf, S., dan Nurihsan, A., J. (2010). Landasan Bimbingan dan Konseling. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Zimbardo, P., G. (1985). Psychology and Life – Elevent Edition. United States of