Penelitian ini dilakukan di RSGM USU dengan menggunakan data sekunder melalui pengambilan data rekam medis berupa model studi dan radiografi panoramik pada subjek penelitian. Subjek penelitian berjumlah 31 orang, dari seluruh sampel dilakukan pengukuran radiografi panoramik menggunakan metode Kjellberg dan ditemukan anomali crossbite posterior pada seluruh sampel. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kesimetrian lengkung rahang pada subjek kondilus hiperplasia.
Tabel 2. Distribusi frekuensi berdasarkan jenis kelamin
Jenis kelamin N (%)
Laki-laki 13 41,9 %
Perempuan 18 58,1 %
Jumlah 31 100%
Tabel 2 menunjukkan distribusi sampel berdasarkan jenis kelamin. Jumlah subjek penelitian ini adalah 31 orang dengan distribusi sampel laki-laki sebesar 41,9% dan perempuan sebesar 58,1%.
Tabel 3. Rerata Pengukuran Angular pada subjek Kondilus hiperplasia Pengukuran Angular N Rerata±SD (o)
MD* (RA) 31 -0,84±2,68
MD (RB) 31 -1,76±5,30
PC** KANAN (RA) 31 39,75±4,43
PC KIRI (RA) 31 39,95±5,90
PC KANAN (RB) 31 33,24±6,05
PC KIRI (RB) 31 37,30±8,35
*MD = Midline deviation; **PC = Position of canines
Berdasarkan tabel 3, diketahui rerata pengukuran deviasi midline pada rahang atas adalah -0,84o dan pada rahang bawah adalah -1,76o. Pada perhitungan deviasi midline (MD), deviasi ke arah sisi kiri ditandai dengan tanda negatif (-) dan deviasi ke arah kanan ditandai dengan tanda positif (+). Hasil rerata deviasi midine menunjukkan deviasi ke arah sisi kiri baik pada rahang atas maupun rahang bawah.
Rerata pengukuran posisi kaninus, pada rahang atas untuk sisi kanan adalah 39,75o dan sisi kiri adalah 39,95o serta pada rahang bawah untuk sisi kanan adalah 33,24o dan sisi kiri adalah 37,30o.
Tabel 4. Rerata Pengukuran Linear pada subjek Kondilus hiperplasia
Pengukuran Linear N Rerata±SD (mm)
DC*** KANAN (RA) 31 16,83±2,37
***DC = Distances of canines; ****ICD = Intercanines distances
Tabel 4 menunjukkan rerata perhitungan jarak kaninus terhadap sutura mid palatal, pada rahang atas untuk sisi kanan adalah 16,83 mm dan sisi kiri adalah 17,35 mm serta pada rahang bawah untuk sisi kanan adalah 13 mm dan sisi kiri adalah 14 mm.Rerata perhitungan jarak interkaninus, pada rahang atas adalah 34 mm dan pada rahang bawah adalah 27 mm.
Tabel 5. Persentase Proporsi Asimetri Lengkung Gigi Asimetri Lengkung
Gigi
Rahang Atas Rahang Bawah
(n) (%) (n) (%)
Berdasarkan tabel 5, asimetri lengkung gigi pada rahang atas dan rahang bawah mengalami deviasi midine ke sisi kiri yaitu 87,1% dan 64,5%.
BAB 5 PEMBAHASAN
Kondilus hiperplasia (CH) merupakan kelainan yang terjadi pada daerah kondilus mandibula, ditandai dengan pertumbuhan secara berlebihan dan terjadi pada satu sisi (unilateral). Keadaaan ini menyebabkan terjadinya perubahan oklusi dan asimetri wajah. 8-11 Obgeweser dan Makek mengklasifikasikan asimetri yang berhubungan dengan CH menjadi 3 tipe, tipe pertama hemimandibular elongation, yang ditandai dengan deviasi dagu dan deviasi midline mandibula ke sisi yang tidak terlibat, hal ini mengakibatkan terjadinya crossbite posterior pada sisi tersebut, tipe kedua hemimandibular hyperplasia yang ditandai dengan openbite atau kompensasi perkembangan vertikal yang berlebihan dari maksila pada sisi yang terlibat dengan adanya kemiringan pada dataran oklusal, serta tipe ketiga yang merupakan gabungan dari keduanya (Obwegesser, 1986). Diagnosis dari CH dapat dibuat dengan menggabungkan gambaran klinis, analisis model studi dan radiografi panoramik.
(Wolford, 2014)2,13,14,15,16
Penelitian ini dilakukan pada subjek yang merupakan pasien RSGM USU sebanyak 31 orang dan memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi yang ditetapkan.
Distribusi frekuensi sampel berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel 2. Pada tabel tersebut dapat dilihat bahwa sampel berjenis kelamin perempuan sebanyak 18 sampel (58.1%) dan pada laki-laki sebanyak 13 sampel (41.9%). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kesimetrisan lengkung rahang pada subjek kondilus hiperplasia.
Pemeriksaan kesimetrisan lengkung gigi dapat dilakukan dengan berbagai metode yaitu analisis Scanavini, symmetograph, metode tiga jarak titik referensi dan analisis Maurice. Pada penelitian ini digunakan metode Scanavini dimana pengukuran asimetri lengkung pada model gigi menggunakan alat pengukuran khusus. Alat pengukuran tersebut berupa sebuah penggaris dan busur yang terbuat dari logam dan disesuaikan dengan lengkung gigi. Model studi diposisikan pada basis
delineator. Midline pada maksila ditandai dengan membuat titik sepanjang sutura mid palatal yang diukur dari papilla insisivum sampai posterior dari model gigi. Dengan menghubungkan semua titik diperoleh aksis simetri pada maksila. Kemudian titik tersebut diproyeksikan ke mandibula untuk mendapatkan garis midline pada mandibula. Busur logam digunakan untuk melihat posisi gigi kaninus dan deviasi midline pada lengkung gigi. Namun, pada penelitian ini, alat pengukuran dimodifikasi dengan menggunakan protractor plastik.30
Penelitian Scanavini dkk., pada sampel dengan oklusi normal dan maloklusi kelas II divisi I dan divisi II didapatkan nilai masing-masing rerata deviasi midline untuk rahang atas -0,24o; -0,28o ; 0,53o serta pada rahang bawah -0,13o; 0,81o; 0,32o. Berdasarkan hasil penelitian ini, tabel 3 menunjukkan adanya asimetri lengkung rahang pada pasien kondilus hiperplasia, dimana rerata deviasi midline pada rahang bawah lebih besar dibandingkan dengan rahang atas (-1,76o > -0,84o). Nilai rerata deviasi midline pada sampel penelitian ini lebih besar dibandingkan dengan sampel penelitian Scanavini dengan mengabaikan klasifikasi oklusi pada sampel penelitian.
Berkaitan dengan posisi kaninus yang diukur dalam derajat, pada rahang atas menunjukkan perbedaan kecil antara sisi kanan dan sisi kiri menyatakan derajat asimetri yang rendah pada rahang tersebut. Pada rahang bawah terlihat perbedaan besar antara sisi kanan dan sisi kiri, menyatakan derajat asimetri yang tinggi. Hal ini sejalan dengan analisis deviasi midline dimana rahang bawah menunjukkan derajat asimetri yang lebih tinggi dibandingkan dengan rahang atas. Tanda negatif (-) menyatakan frekuensi deviasi lebih besar pada sisi kiri dibanding sisi kanan.
Berdasarkan pada rerata deviasi midline dapat dilihat bahwa nilai deviasi midline lebih besar di sisi kiri baik pada rahang atas maupun rahang bawah. Penelitian sebelumnya oleh Al-Zubair dkk., menyatakan bahwa posisi insisivus sentral dan kaninus adalah faktor penting dalam menentukan asimetri lengkung rahang.17
Rerata jarak kaninus kanan dan kaninus kiri dari sutura mid palatal ditunjukkan pada tabel 4. Pada rahang atas dan rahang bawah terlihat perbedaan kecil antara sisi kanan dan sisi kiri yang menyatakan derajat asimetri yang rendah pada kedua rahang. Nilai rerata yang lebih besar pada sisi kiri dibandingkan dengan
sisi kanan juga ditemukan pada kedua rahang tersebut. Berkenaan dengan jarak interkaninus, nilai rerata pada rahang atas lebih besar dibandingkan dengan rahang bawah. Hasil ini sejalan dengan penelitian Al- Zubair yang menyatakan bahwa lengkung rahang atas lebih besar dibandingkan dengan rahang bawah, yang konsisten dengan prinsip bahwa lengkung rahang atas overlap dengan rahang bawah.17
Pada tabel 5, asimetri lengkung rahang pada pasien kondilus hiperplasia mengalami deviasi midline ke sisi kiri pada rahang atas dan rahang bawah dengan persentase masing - masing sebesar 87,1% dan 64,5%. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Allaban dkk., pada pemeriksaan kesimetrisan lengkung gigi rahang atas, sisi kiri lebih besar daripada sisi kanan pada pengukuran angular. Hal ini mungkin terjadi karena sisi kanan pada rahang atas lebih sempit sehingga sudut pengukuran lebih kecil dibandingkan dengan sisi kiri. 21 Penelitian oleh Sharma dkk., menemukan deviasi midline pada rahang bawah lebih besar pada sisi kiri (52%) daripada sisi kanan (48%).35
Pada penelitian ini, seluruh sampel mengalami crossbite posterior dan deviasi midline pada sisi kiri dan kondilus hiperplasia tipe 1 atau hemimandibular elongation pada sisi kanan. Hasil ini sejalan dengan klasifikasi kondilus hiperplasia menurut Obgewesser dan Makek, dimana hemimandibular elongation (tipe 1) berhubungan dengan deviasi dagu dan deviasi midline mandibular ke sisi yang tidak terlibat sehingga mengakibatkan crossbite posterior pada sisi tersebut.6
BAB 6