• Tidak ada hasil yang ditemukan

Intersepsi hujan merupakan bagian hujan yang tertahan di permukaan vegetasi dan dievaporasikan ke atmosfier sebelum mencapai permukaan tanah. Pada beberapa literatur proses hidrologi ini sering juga disebut interception loss. Penelitian tentang intersepsi hujan telah lama mendapat perhatian bagi ahli hidrologi seperti yang dilakukan oleh Horton (1919) pada tanaman Fagus grandifolia diacu dalam Price dan Moses (2003), Delf (1955) dan Molchanov (1966) pada hutan di kawasan Eropa (diacu dalam Monteith 1975), Zinke (1967) pada hutan alam, semak dan rumput (diacu dalam Ramirez dan Senarath 1999 dan Xiao et al. 2000), Solo (1980, diacu dalam Kaimuddin 1994) pada tegakan tusam dan puspa di Gunung Walat Sukabumi, Di kawasan yang sama, Kaimuddin (1994) melakukan kajian intersepsi pada tegakan pinus, agathis dan schima. Ruslan (1983) pada tegakan tusam, sungki dan hutan alam DAS Riam kanan Kalimantan Selatan, Secara umum penelitian ini berorientasi pada penentuan besaran kuantitatif curah hujan yang tiba di permukaan tanah dan atau curah hujan yang diintersepsi vegetasi.

Monteith (1975) dan Xiao et al. (2000) mencatat hasil penelitian intersepsi hujan pada hutan alam yang dilaksanakan oleh Zinke (1967) yaitu 15 - 40 % dari curah hujan tahunan. Bruijnzeel dan Critchley (1994) mendapatkan intersepsi hujan pada hutan tropis adalah 10-25 %. Intersepsi hujan pada hutan alam di Kalimantan adalah 11% dari total hujan, nilai ini mengalami pengurangan menjadi 6 % pada hutan yang telah diolah (Asdak et al.1998). Chappell et al. (2001) melaporkan bahwa intersepsi hujan pada hutan alam di Sabah mencapai 19 % dari total hujan. Price dan Moses (2003) pada penelitiannya di Canada mendapatkan nilai intersepsi hujan dari 28 kejadian hujan adalah 18,6 % atau 48,3 mm dari total hujan 259,3 mm. Di Taman Nasional Lore Lindu tepatnya di Desa Nopu, doperoleh nilai intersepsi pada skunder adalah 23,5 % dari total hujan dan berkurang mejadi 8,8 % pada perkebunan kakao umur 8 - 12 tahun (Anwar, 2004). Salah satu informasi penting dari hasil-hasil penelitian di atas adalah nilai intersepsi hujan bervariasi beradasarkan objek vegetasi, tempat dan waktu pengukuran. Variasi dari hasil-hasil tersebut meng-idikasikan adanya faktor yang mengendalikan intersepsi hujan.

Hall (2003) mencatat ketergantungan intersepsi hujan karakter tajuk dan tipe hujan. Wells and Blake (1972) melaporkan bahwa, intersepsi hujan mengalami peningkatan pada awal hujan dan kemudian berkurang dengan bertambahnya

intensitas hujan, Jauh sebelumnya secara tegas oleh Horton (1919, diacu dalam Ramirez dan Senarath 1999; Price dan Moses 2003) mengemukakan bahwa intersepsi hujan berkaitan erat dengan kapasitas intersepsi tanaman yang ditentukan oleh luas daun dan indeks luas daun, intensitas hujan dan tegangan permukaan air. Ketiga pandangan di atas mengindikasikan bahwa, untuk mengenali mekanisme intersepsi hujan sekaligus menentukan besaran kuantitatif curah hujan yang tiba di tanah dan atau yang diintersepsi, pendekatannya harus terintegrasi antara sifat hujan dengan karakter vegetasi. Pandangan di atas secara tidak langsung meng-gambarkan faktor penyebab dari variasi nilai intersepsi hujan adalah sifat hujan dan karakter vegetasi.

Gash (1979) menganalisis intersepsi hujan dengan mengintegrasikan antara komponen fisik (hujan) dan komponen biologi (vegetasi). Apa yang dilakukan oleh Gash memiliki nilai strategis untuk menemu kenali faktor-faktor yang mengendalikan agihan hujan yang diterima oleh vegetasi. Terdapat dua hal penting pada kajian Gash yakni: (i) porsi curah hujan yang tiba di tanah ditentukan oleh kapasitas tajuk yang merupakan fungsi dari penutupan permukaan dan intensitas hujan dan (ii) porsi curah hujan yang diintersepsi berbeda menurut jeluk hujan. Terkait dengan hubungan antara intersepsi hujan dengan sifat hujan dan karakter vegetasi maka Gash (1979) membagi jeluk hujan menjadi dua yaitu : (i) curah hujan yang lebih kecil dari kapasistas tajuk, P<Pg dan (ii) curah hujan yang lebih besar dari kapasitas tajuk, P>Pg. Sesungguhnya penetapan kapasitas tajuk yang dilakukan oleh Gas (1979) bukanlah hal yang pertama karena parameter intersepsi ini sudah diper-hitungkan oleh beberapa peneliti lain jauh sebelumnya seperti yang dicatat oleh Monteith (1975), antara lain Stoltenberg and Wilson (1950), pada tanaman jagung; Burgy and Pomeroy (1958) pada rumput bercampur legum, Leyton (1967) pada hutan deceduous dan Merriam (1961) pada Lolium perenne.

Dibandingkan dengan kajian intersepsi sebelumnya, kajian intersepsi yang di laksanakan oleh Gash (1979) adalah lebih maju karena mengintegrasikan antara komponen fisik (sifat hujan) dan komponen biologi (karakter vegetasi) sebagai satu kesatuan pada proses intersepsi hujan. Model Gash 1979 sesungguhnya merupa-kan penyederhanaan dari model analitik pendugaan intersepsi hujan yang di-kembangkan oleh Rutter dengan memanfaatkan laju evaporasi rata-rata dan intensitas hujan rata-rata harian dengan asumsi kejadian hujan hanya sekali sehari. Karena itu asumsi dasar yang dipergunakan pada model Gash adalah kejadian hujan pada hari hujan hanya dianggap satu kali.

Aplikasi model Gash pada pendugaan intersepsi hujan memerlukan beberapa variable tentang tajuk dan struktur tegakan yang direpresentasikan menjadi menjadi empat parameter yaitu kapasitas tajuk (S) dan kapasistas batang (St), porositas tajuk (p) dan koefisien input batang (pt). Keempat parameter ini menjadi data utama yang dibutuhkan untuk menentukan besaran curah hujan yang dibutuhkan untuk men-jenuhkan tajuk. Penggunaan data porositas tajuk sebagai elemen utama pada penentuan fraksi penutupan tajuk dinilai memiliki kelemahan karena secara tidak langsung, tajuk dinilai hanya satu lapis sehingga intersepsi hujan hanya dipengaruhi oleh bagian tajuk yang menerima langsung curah hujan. Kelemahan ini semakin nyata jika memperhatikan mekanisme terjadinya curahan tajuk yakni bagian hujan yang diterima pada puncak tajuk yang kemudian menjadi curahan tajuk, selanjutnya menjadi input pada lapisan tajuk di bawahnya. Proses ini akan berlangsung terus-menurus sampai air hujan mencapai tanah sebagai curahan tajuk. Kelemahan dari model Gash 1979 berdampak pada hasil prediksi intersepsi hujan yang kurang akurat terutama pada ekeosistem seperti hutan karena secara akutual terjadi pengurangan akibat pengaruh individu tajuk pohon.

Calder (1996) mengembangkan model stokhastik dua lapis (Gambar 1) sebagai pengembangan dari model stokhastik satu lapis. Model stokhastik dua lapis ini selain memperhatikan lapisan tajuk teratas juga mempertimbangkan lapisan di

bawahnya yang menerima tumbukan dari butir hujan yang dihasilkan oleh curahan tajuk di atasnya. Pengembangan dan kalibrasi model intersepsi hujan stokastik dua lapis dan hubungannya dengan butir hujan yang dilakukan Calder (1996) walau di-komentari oleh Uijlenhoet dan Stricker (1999) yang menyatakan bahwa asumsi yang dipergunakan dengan mengabaikan variasi ukuran butir hujan berakibat pada tidak

Gambar 1. Model fungsi intersepsi hujan stokhastik dua lapis (a) tajuk jarang dan (b) tajuk rapat

konsistennya model yang dikembangkan dan pada akhirnya berdampak serius ter-hadap out put model.

Dokumen terkait