II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kedelai sebagai Bahan Baku
2.2. Latar belakang Usaha Tahu dan Tempe 1 Sejarah Tahu
2.3.2. Penelitian Mengenai Analisis Nilai Tambah
Puspitasari (2007) meneliti tentang keragaan usaha industri tahu skala kecil dan rumah tangga dengan mengambil studi kasus industri tahu skala kecil dan rumah tangga di Kecamatan Mampang Prapatan. Penelititan ini menggunakan analisis biaya dan analisis nilai tambah metode Hayami, untuk melihat keragaan objek studinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa industri tahu, khususnya pengrajin tahu skala rumah tangga di Kecamatan Mampang Prapatan mengalami penurunan pendapatan.
Ini terlihat dari penurunan sebesar 6,87 persen pada penerimaan pengrajin dari tahun 2005 sampai dengan 2006, yang juga sekaligus menurunkan keuntungan yang diperoleh sebesar 1,55 persen. Pada pengrajin tahu skala kecil tidak terjadi penurunan kinerja, dimana dari tahun 2005 sampai dengan 2006 terdapat peningkatan pendapatan sebesar 7,77 persen dan keuntungan sebesar
41,75 persen. Dari analisis biaya, selama tahun 2005 sampai dengan 2006 terjadi kenaikan biaya tetap pada pengrajin tahu skala rumah tangga dan skala kecil sebesar 17,04 persen dan 10,49 persen per papan untuk tahu putih, serta 24,71 persen dan 11,33 persen untuk tahu goreng.
Pada pengrajin tahu skala rumah tangga, nilai tambah dari tahu putih pada tahun 2005 dan 2006 masing-masing sebesar Rp 1.555,54 dan Rp 2.041,08, sedangkan untuk tahu goreng sebesar Rp 1.584,22 dan Rp 2.179,55. Sedangkan untuk pengrajin tahu skala kecil nilai tambah dari tahu putih pada tahun 2005 dan 2006 masing-masing sebesar Rp 1.987,02 dan Rp 2.74,26, serta Rp 2.136,35 dan Rp 3.130,05 untuk tahu goreng. Selain itu jika dilihat dari besarnya balas jasa yang diterima pengrajin terdapat penurunan sebesar 8,56 persen dan 8,61 persen dalam memproduksi tahu putih dan tahu goreng, sedangkan balas jasa yang diterima oleh tenaga kerjanya mengalami peningkatan sebesar 41,71 persen dan 34,05 persen.
Sinaga (2008) melakukan penelitian tentang nilai tambah dan dampak kebijakan pemerintah terhadap industri tempe di Kabupaten Bogor menggunakan metode Hayami dan analisis Policy Analysis Matrix. Hasil penelitian menunjukkan nilai faktor konversi industri tempe sebesar 1,6 dimana tiap satu kilogram kedelai yang diolah menghasilkan 1,6 kilogram tempe, dengan nilai tambah yaitu Rp 2.198,91 per kilogram input kedelai dan rasio nilai tambah sebesar 21,14 persen. Tenaga kerja memiliki nilai koefisien sebesar 0,02 yang menandakan bahwa untuk memproduksi satu kilogram kedelai menjadi tempe membutuhkan 0,02 HOK (Hari Orang Kerja).
Berdasarkan analisis kebijakan pemerintah pada sisi output, industri tempe di daerah penelitian memiliki Transper Output (TO) dan Koefisien Proteksi Output Nominal (NPCO) sebesar Rp -1.555,14 dan 0,8699 (NPCO < 1). Pada sisi input memiliki Transfer Input (TI) sebesar Rp 180,25 dan Koefisien Proteksi Input Nominal (NPCI) sebesar 1,0765 dengan nilai transfer faktor sebesar Rp 261,91. Analisis Kebijakan input-output didekati menggunakan indikator Transfer Bersih (TB), Koefisien Efektif Bersih (EPC), Koefisien Keuntungan (PC), dan Rasio Subsidi Produsen (SRP), dengan nilai masing-masing sebesar 0,8192; Rp - 1.997,30; 0,5247; dan -0,2540.
Furqanti (2003) melakukan penelitian analisis nilai tambah terhadap pengolahan buah jeruk nipis. Hasil penelitiannya menyatakan bahwa pengolahan tiap satu kilogram buah jeruk nipis pada tahun 2000 mendapatkan nilai tambah sebesar Rp 3.609,87 atau 29,82 persen dari nilai output dan pada tahun 2001 meningkat menjadi Rp 4.433,78 atau 33,54 persen dari nilai output. Sedangkan bagian untuk imbalan tenaga kerja pada tahun 2000 sebesar 22,51 persen atau senilai Rp 812,46 dan pada tahun 2001 meningkat menjadi Rp 1.072,51 atau 24,19 persen dari nilai tambah yang diperoleh.
Asnawi (2003) meneliti tentang nilai tambah ubi kayu menjadi tepung tapioka, menyatakan untuk mengolah satu kilogram ubikayu membutuhkan tenaga kerja per HOK sebesar Rp 13.000. Nilai tepung tapioka yang dihasilkan dari setiap kilogram ubikayu sebesar Rp 218,50 sedangkan nilai tambah pengolahan ubikayu menjadi tepung tapioka adalah Rp 57,91 per kilogram. Rasio nilai tambah terhadap nilai produk yaitu 30,07 persen, yang menunjukkan setiap Rp 100 produk akan diperoleh nilai tambah sebesar Rp 30,07. Keuntungan yang didapat dari tepung tapioka adalah Rp 57,91 per kilogram bahan baku, sedang bagian keuntungan dari nilai tambah sebesar 88,13 persen. Ini jauh lebih baik dibanding bagian keuntungan untuk tenaga kerja sebesar 11,87 persen, yang menandakan keuntungan Rp 57,91 per kilogram bahan baku ubikayu hanya dinikmati pemilik dan pengelola Ittara sedangkan petani belum mendapatkan bagian.
Perbedaan antara penelitian yang dilakukan dengan penelitian-penelitian terdahulu terletak pada objek penelitian dan alat analisisnya. Walaupun terdapat kesamaan alat analisis, namun objek yang dijadikan bahan kajian pada penelitian terdahulu adalah agroindustri kripik tempe. Sedang penelitian yang dilakukan mengambil objek kajian pada salah satu usaha tahu dan tempe yang ada di Kota Bogor. Rincian singkat mengenai penelitian terdahulu dapat dilihat secara mudah pada Tabel 7 berikut.
Tabel 7. Rincian Singkat Penelitian Terdahulu Nama
Penulis
Tahun Judul Alat Analisis
Dessy
Furqanti 2003
Analisis Nilai Tambah dan Kemampulabaan Usaha Pengolahan Buah Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia swingel)
Metode Hayami
Robet
Asnawi 2003
Analisis Fungsi Produksi Usaha Tani Ubikayu dan Industri Tepung Tapioka Rakyat di Provinsi Lampung
Fungsi Produksi Cobb- Douglass, Metode Hayami
Elok
Pratiwi 2003
Analisis Nilai tambah dan Profitabilitas Agroindustri Kripik Tempe
Titik Impas, MIR, MOS, Metode Hayami Aprilia
Ritma Damayanti
2004
Analisis Perubahan Penetapan Harga Pokok Produksi Teh Dalam Kaitannya dengan Titik Impas dan Profitabilitas Perusahaan
Metode Full Costing, Titik Impas
Tiya
Puspitasari 2007
Keragaan Usaha Industri Tahu Skala Kecil dan Rumah Tangga
Analisis Biaya, Metode
Hayami Merika
Sondang Sinaga
2008
Analisis Nilai Tambah dan Daya Saing serta Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Industri Tempe di Kabupaten Bogor
Metode Hayami, Policy Analysis Matrix
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan terhada penelitian- penelitian terdahulu, terlihat bahwa suatu usaha apa pun itu memiliki profitabilitas yang berbeda-bedar. Perbedaan profitabilitas antar usaha ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti skala dan struktur biaya usaha yang bersangkutan. Semakin tinggi total biaya suatu usaha, semakin kecil kemampuan usaha dalam menghasilkan keuntungan atau laba. Begitu pula dengan nilai tambah suatu usaha, ditentukan oleh beberapa faktor, seperti jenis usaha dan skala usaha. Semakin besar skala produksi suatu usaha, maka semakin besar nilai tambah dari usaha yang bersangkutan.