II TINJAUAN PUSTAKA
2.5. Penelitian Terdahulu
2.5.2. Penelitian Mengenai Pendapatan Usahatani Padi
Jumlah produksi kelapa sawit yang dihasilkan petani peserta KKPA lebih besar daripada petani non KKPA. Ini dapat dilihat dari rata-rata produksi kelapa sawit yang dihasilkan petani peserta KKPA untuk luasan rata-rata satu hektar per tahunnya sebanyak 27.757 kilogram. Sedangkan produksi kelapa sawit yang dihasilkan oleh petani non peserta KKPA untuk luasan rata-rata satu hektar per tahunnya sebanyak 17.432 kilogram. Kemudian berdasarkan analisis pendapatan usahatani dapat diketahui nilai R/C rasio petani peserta KKPA lebih besar dari petani non KKPA, masing-masing sebesar 5,06 dan 4,17. Hal ini menunjukkan bahwa usahatani kelapa sawit petani peserta KKPA yang dijalankan cukup baik dan layak, namun kelayakan ini harus didukung pelaksanaan teknis, pembinaan lebih lanjut dan diperlukan tingkat produksivitas yang lebih meningkat lagi serta memberikan harga yang berlaku dipasaran sehingga tercipta kestabilan harga.
2.5.2. Penelitian Mengenai Pendapatan Usahatani Padi
Basuki (2008) meneliti tentang Analisis Pendapatan Usahatani Padi dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Petani Untuk Menanam Padi Hibrida (Studi Kasus Kecamatan Cibuaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat), dengan menggunakan metode analisis usahatani dan regresi logistik. Hasil penelitian tersebut menjelaskan bahwa usahatani padi hibrida yang dilaksanakan oleh petani padi Kecamatan Cibuaya, Kabupaten Karawang pada Musim Rendeng 2006/2007 memberikan keuntungan (pendapatan) yang lebih kecil daripada usahatani padi inhibrida pada waktu dan tempat yang sama. Pendapatan atas biaya dibayarkan usahatani padi inhibrida dan padi hibrida adalah Rp 6.152.080,57 dan Rp 4.384.536,55. Kemudian hasil R/C rasio usahatani padi inhibrida lebih besar daripada R/C rasio usahatani hibrida masing-masing sebesar 2,10 dan 1,62 menandakan bahwa usahatani inhibrida lebih efisien daripada usahatani hibrida.
Hasil analisis regresi logistik untuk menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi adopsi benih padi hibrida menunjukkan bahwa ada empat variabel yang mempunyai pengaruh signifikan terhadap penerapan benih padi hibrida di Kecamatan Cibuaya yaitu luas lahan, status lahan, rasio pendapatan usahatani padi terhadap pendapatan total dan umur. Semakin luas lahan yang digarap maka
kemungkinan petani untuk mengadopsi benih padi hibrida juga semakin tinggi. Petani penggarap bukan pemilik tanah memiliki kemungkinan yang lebih tinggi untuk menggunakan benih padi hibrida. Semakin tinggi rasio pendapatan usahatani padi terhadap pendapatan total, semakin kecil kemungkinan petani untuk menggunakan inovasi benih padi hibrida. Semakin tua petani maka kemungkinan petani untuk menanam inovasi padi hibrida semakin kecil.
Riyanto (2007) menganalisis Pendapatan dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Usahatani Padi Ladang Di Kabupaten Purwakarta (Kasus : Kelompok Tani Jaya Desa Sukatani, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat). Penelitian tersebut menggunakan metode analisis berupa analisis imbangan penerimaan dan biaya (R/C ratio), pendekatan fungsi produksi Cobb-Douglas dan analisis efisiensi ekonomi dengan rasio Nilai Produk Marjinal (NPM) dan Biaya Korbanan Marjinal (BKM). Hasil penelitian menjelaskan bahwa pendapatan atas biaya tunai usahatani padi ladang Kelompok Tani Jaya Desa Sukatani per hektarnya adalah sebesar Rp 3.245.465,00, sedangkan pendapatan atas biaya total sebesar Rp 981.765,00. Kemudian dengan analisis imbangan penerimaan dan biaya (R/C ratio) diperoleh nilai rasio R/C atas biaya total sebesar 1,19 dan rasio atas biaya tunai sebesar 2,07. Dari nilai tersebut dapat terlihat bahwa usahatani padi ladang kelompok tani Jaya di Desa Sukatani menguntungkan untuk dilaksanakan.
Faktor-faktor produksi yang berpengaruh nyata terhadap produksi padi ladang adalah tenaga kerja, benih dan pupuk area. Ketiga faktor tersebut signifikan pada taraf kepercayaan 90 %. Sedangkan faktor pestisida, pupuk TSP dan pupuk kandang tidak berpengaruh nyata pada taraf kepercayaan yang telah ditetapkan. Kemudian, penggunaan faktor produksi tenaga kerja dan benih di daerah penelitian masih kurang, sedangkan penggunaan pupuk urea sudah berlebihan sehingga perlu dikurangi.
Damayanti (2007) meneliti tentang Analisis Pendapatan dan Efisiensi Produksi Usahatani Padi Sawah (Kasus di Desa Purwoadi, Kecamatan Timurjo, Kabupaten Lampung Tengah, Propinsi Lampung). Dalam penelitiannya, peneliti
27 menggunakan metode analisis pendapatan usahatani. Hasil penelitiannya menjelaskan bahwa hasil analisis pendapatan usahatani padi sawah di daerah penelitian secara umum dikatakan menguntungkan dan layak untuk diusahakan. Petani memperoleh R/C rasio atas biaya tunai sebesar 2,89 dan nilai R/C rasio atas biaya total sebesar 1,70. Hal ini berarti penerimaan yang diperoleh petani dapat menutupi seluruh biaya usahatani. Selanjutnya dari hasil uji-t student memberikan hasil bahwa faktor-faktor seperti luas lahan, benih, pupuk urea, dan tenaga kerja berpengaruh terhadap produksi padi sawah di daerah penelitian.
Hasil analisis efisiensi ekonomi terhadap faktor-faktor produksi usahatani padi sawah di Desa Purwoadi menunjukkan bahwa kondisi usahatani di daerah tersebut tidak efisien. Sementara untuk faktor produksi seperti luas lahan, pupuk urea, pupuk SP-36, pupuk ZA, pestisida dan tenaga kerja menunjukkan bahwa rasio NPM dan BKM-nya lebih dari satu. Hal ini berarti jumlah dari penggunaan masing-masing faktor produksi tersebut harus ditambah untuk mendapatkan hasil yang optimal. Sedangkan faktor produksi benih dan pupuk KCL tidak dapat diramalkan secara tepat penggunaan rata-rata efisiennya karena perbandingan NPM dan BKM-nya bernilai negatif.
Hasil penelitian terdahulu yang mengkaji mengenai evaluasi program pemerintah memberikan hasil yang positif atau baik terhadap petani. Pada penelitian ini mengkaji mengenai apakah dampak program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) juga memberikan dampak yang positif terhadap petani. Pengkajian dilakukan dengan melihat kinerja organisasi Gapoktan dalam menyalurkan BLM-PUAP kepada anggota yang membutuhkan dana tersebut. Selain itu juga dikaji mengenai pengaruh program PUAP terhadap perubahan pendapatan petani (anggota Gapoktan). Penelitian ini menggunakan metode analisis yang hampir sama dengan penelitian sebelumnya yakni metode analisis pendapatan usahatani. Namun pada penelitian ini tidak menggunakan metode regresi logistik multinominal seperti yang digunakan pada metode penelitian sebelumnya dengan pertimbangan bahwa tujuan yang ingin dicapai dari penelitian
adalah untuk melihat perbedaan pendapatan anggota Gapoktan sebelum dan setelah adanya program PUAP.
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah penelitian ini menganalisis program pemerintah yakni program dari Departemen Pertanian RI yang baru dilaksanakan satu tahun lalu, sehingga penelitian ini dapat dikatakan sebagai kajian ilmiah baru yang belum pernah dilakukan oleh orang lain atau pada penelitian sebelumnya.