BAB I PENDAHULUAN
1.7. Metodologi Penelitian
1.7.1. Jenis Penelitian
23 Hadari Nawawi. Metodologi Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta : Gajah Mada University Press. 1987.
hal. 63
24 Lexy J. Moleong. 2000. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung : Remaja Rosdakarya.. hal. 5
kemanusiaan.25
Untuk mendeskripsikan pengaruh anggota legislatif perempuan dan fungsi anggota legislatif perempuan di Kota Medan maka dalam penelitian ini yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif yaitu suatu metode yang bertujuan menggambarkan, meringkas berbagai kondisi situasi berbagai variabel yang timbul dalam masyarakat yang menjadi objek penelitian.
Penelitian kualitatif ini akan mengeksplorasi masalah dengan cara mengumpulkan data dari tema yang bersifat khusus menuju kepada tema yang bersifat umum dengan tujuan akhir menafsirkan makna data. Data tersebut diharapkan mampu untuk memberikan gambaran mengenai penelitian ini serta didukung oleh data-data tertulis maupun data-data wawancara
26
Untuk mengumpulkan data dan informasi yang dibutuhkan , maka penulis dalam hal ini menggunakan teknik wawancara langsung dengan narasumber. Ada 2 cara dalam pengumpulan data yaitu teknik data sekunder dan teknik data primer.
1.7.2 Lokasi Penelitian
Dalam melakukan penelitian ini guna untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan, lokasi penelitian adalah DPRD Kota Medan.
1.7.3 Teknik Pengumpulan Data
27
25 Lihat John W. Creswell. 2014. Research Design Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif dan Mixed Yogyakarta:
Pustaka Pelajar. Hal. 4
26 Burhan Bungin, Metode Penelitian Sosial: Airlangga University Press, Surabaya 2001, hal 48
27 Ibid, hal.51
1. Data Sekunder
Data yang didapat dari tinjauan pustaka (library research), yaitu dengan mempelajari jurnal-jurnal, laporan penelitian, dokumen lembaga, buku-buku dan dokumentasi yang relevan untuk data yang dibutuhkan pada penelitian. Data juga diperoleh dari browsing dan clipping print yaitu untuk pencarian bahan yang lengkap, penulis menggunakan media internet.
2. Data Primer
Untuk mengumpulkan data dilakukan dengan mengadakan wawancara terstruktur ialah dengan mengadakan pembicaraan langsung dengan informan yang terlibat dalam masalah dan mengetahui benar tentang masalah. Adapun narasumber dalam penelitian ini diantaranya adalah:
1. Ketua Pansus Tentang Trafficking di DPRD Kota Medan
2. Salah satu anggota legislatif perempuan dalam Perancangan Peraturan Kota Medan tentang Trafficking
3. Pemerintahan Kota Medan
4. Aktivis Perempuan di Kota Medan.
1.7.4 Teknik Analisis Data
Teknik Analisa Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa deskriptif kualitatif. Penelitian ini menggunakan data-data primer dan data-data sekunder. Analisa data kualitatif memberikan hasil penelitian untuk memperoleh gambaran terhadap proses yang diteliti dan juga menganalisis makna yang ada dibalik informasi data dan proses tersebut. Analisis data dilakukan secara
deskriptif berdasarkan data-data primer maupun sekunder yang selanjutnya akan ditarik kesimpulan sesuai dengan permasalahan yang telah dirumuskan.
1.8 Sistematika Penulisan.
Untuk memperoleh gambaran yang lebih terperinci, serta untuk mempermudah pemahaman maka penulis membagi dalam empat bab. Sistematika penulisannya antara lain
BAB I : PENDAHULUAN
Bab ini berisikan tentang latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, kerangka teori, metodologi penelitian dan sistematika penulisan
BAB II : DESKRIPSI PROFIL ANGGOTA LEGISLATIF
PEREMPUAN DAN SUSUNAN DPRD KOTA MEDAN
Bab ini membahas gambaran secara umum tentang profil anggota legislatif perempuan, serta kedudukan, fungsi, tugas, anggota legislatif perempuan DPRD Kota Medan
BAB III : ANALISIS PERANAN ANGGOTA LEGISLATIF PEREMPUAN DALAM PERANCANGAN PERATURAN DAERAH KOTA MEDAN TENTANG TRAFFICKING
Bab ini menguraikan hasil dari penelitian mengenai analisis deskriptif peranan anggota legislatif perempuan dalam perancangan Peraturan Daerah Kota Medan tentang Trafficking di DPRD Kota Medan.
BAB IV : PENUTUP
Bab ini berisikan tentang kesimpulan yang diperoleh dari hasil pembahasan pada bab-bab sebelumnya, serta berisikan saran-saran yang berguna dan mendung bagi penyusunan hasil penelitian.
BAB II
DESKRIPSI PROFIL ANGGOTA LEGISLATIF PEREMPUAN DAN SUSUNAN DPRD KOTA MEDAN
2.1 Profil Anggota Legislatif Perempuan di DPRD KOTA MEDAN 2.1.1 Ratna Sitepu
Ratna Sitepu merupakan anggota legislatif di DPRD Kota Medan Periode 2014-2019. Ratna Sitepu merupakan anggota legislatif terpilih dari Partai Hati Nurani Rakyat (Partai Hanura) dari daerah pemilihan Medan III yang meliputi Kecamatan Medan Baru – Medan Helvetia – Medan Petisah – Medan Barat. Ratna Sitepu yang lahir pada tanggal 26 Desember 1977 merupakan kader dari Partai Hanura yang lolos menjadi anggota legislatif perempuan satu satunya dari Partai Hanura. Ratna Sitepu yang juga merupakan anak dari tokoh masyarakat sekaligus anggota legislatif DPRD Kota Medan periode 2014-2019, Bangkit Sitepu. Ratna Sitepu juga merupakan anggota legislatif perempuan yang tergabung dalam Panitia Khusus Pembahasan Rancangan Peraturan Daerah Kota Medan tentang Trafficking. Ratna Sitepu memiliki visi misi untuk memajukan Kota Medan
menjadi kota yang lebih humanis dan menjadi Kota Metropolitan terbaik yang ada di Indonesia. Jalan yang ditempuhnya untuk mencapai visi misinya adalah menjadi anggota legislatif. Menjadi anggota legislatif dapat menjadi jalan untuk lebih membangun Kota Medan. Masalah Kota Medan yang sangat kompleks membuatnya ingin menjadi anggota legislatif agar bisa merubah wajah Kota
Medan. Harapannya, kedepan dengan adanya dia menjadi anggota legislatif dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat Kota Medan terkhusus kepada wilayah daerah pemilihannya berasal.
2.1.2 Hj. Umi Kalsum, S.H
Hj. Umi Kalsum, S.H merupakan anggota legislatif di DPRD Kota Medan periode 2014-2019. Hj. Umi Kalsum, S.H merupakan anggota legislatif perempuan dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dari daerah pemilihan Medan V yang meliputi Kecamatan Medan Deli – Medan Belawan – Medan Labuhan – Medan Marelan. Hj. Ummi Kalsum, S.H merupakan anggota legislatif kelahiran Belawan, 20 November 1967 merupakan anggota legislatif yang besar dan tinggal di daerah pemilihannya sangat lama. Hj, Ummi Kalsum, S.H merupakan anggota legislatif perempuan yang ikut serta dalam panitia khusus pembahasan rancangan peraturan daerah Kota Medan tentang Trafficking perwakilan Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Alasan utama Hj. Ummi Kalsum, S.H untuk menjadi anggota legislatif di DPRD Kota Medan adalah untuk meningkatkan kualitas Kota Medan. Kualitas menurutnya adalah Kota Medan sebagai kota besar dan ibukota provinsi memiliki banyak sumber daya yang ada namun tidak dimanfaatkan dengan baik. Ia bercita-cita untuk lebih mengeluarkan sumber daya yang ada agar kota Medan menjadi kota yang sejahtera, dan menjadi kota yang ramah bagi masyarakatnya maupun dengan masyarakat secara keseluruhan, seperti mengurangi angka kemiskinan,
meningkatkan pariwisata dan sumber daya, serta menjadikan Kota Medan menjadi kota pendidikan bagi masyarakatnya.
2.1.3 Hj. Hamidah.
Hj. Hamidah merupakan anggota legislatif di DPRD Kota Medan periode 2014-2019. Hj. Hamidah merupakan anggota legislatif perempuan dari Partai Persatuan Pembangunan dari daerah pemilihan Medan IV yang meliputi Kecamatan Medan Perjuangan – Medan Tembung – Medan Timur. Hj Hamidah merupakan anggota legislatif kelahiran 23 Mei 1962. Hj. Hamidah juga merupakan anggota legislatif perempuan yang ikut panitia khusus dalam pembahasan rancangan peraturan daerah Kota Medan tentang Trafficking perwakilan Fraksi Partai Persatuan Pembangunan. Tujuan utama Hj. Hamidah menjadi anggota legislative adalah menjadikan Kota Medan menjadi kota yang bermartabat dan menjadi kota yang layak ditinggali bagi masyarakatnya dari berbagai aspek, seperti pendidikan, lapangan kerja, pariwisata, dan pengentasan kemiskinan. Menjadi anggota legislatif membuatnya akan punya ruang dan wewenang untuk mewujudkan tujuannya. Pembangun yang merata juga menurutnya akan membuat Kota Medan menjadi kota maju yang selalu bergerak maju. Harapannya, ia bisa merubah kota Medan menjadi kota yang sesuai dengan tujuan utamanya, atau minimal bisa membuat daerah pemilihannya menjadi daerah yang memiliki kemajuan dan menjadikannya wakil rakyat yang disenangi masyarakat.
2.1.4 Modesta Marpaung, A.mkeb., S.K.M
Modesta Marpaung, A.mkeb., S.K.M merupakan anggota legislatif di DPRD Kota Medan periode 2014-2019. Modesta Marpaung, A.mkeb., S.K.M adalah anggota legislatif perempuan dari Partai Golongan Karya (Golkar) dari daerah pemilihan Medan IV yang meliputi Kecamatan Medan Perjuangan – Medan Tembung – Medan Timur. Modesta Marpaung, A.mkeb., S.K.M merupakan anggota legislatif perempuan kelahiran Sidikalang, 22 Februari 1974 juga merupakan anggota legislatif yang masuk dalam panitia khusus pembahasan rancangan peraturan daerah Kota Medan tentang Trafficking. Alasannya untuk maju dan terpilih untuk menjadi anggota legislatif di DPRD Kota Medan adalah untuk mengentaskan kemiskinan yang ada di Kota Medan yang meningkatkan sektor kesehatan, yang sesuai dengan pendidikan dan pengalamannya dengan kesehatan. Baginya, dengan mengentaskan kemiskinan yang ada di Kota Medan juga akan memberikan peningkatan kesehatan bagi masyarakatnya, secara keseluruhan. Kemiskinan dan kesehatan juga harus saling sejalan agar kota Medan menjadi kota yang dapat bersaing dengan kota kota maju lainnya. Harapannya, Kota Medan dapat menjadi kota yang aman dan nyaman, dan juga kota yang bersih.
2.1.5 Dame Duma Sari Hutagalung
Dame Duma Sari Hutagalung merupakan anggota legislatif di DPRD Kota Medan periode 2014-2019. Dame Duma Sari Hutagalung merupakan anggota
legislatif perempuan di DPRD Kota Medan dari Partai rakan Indonesia Raya (Partai Gerindra) dari daerah pemilihan Medan III yang meliputi Kecamatan Medan Baru – Medan Helvetia – Medan Petisah – Medan Barat. Dame Duma Sari Hutagalung yang merupakan anggota legislatif perempuan kelahiran Medan, 8 Agustus 1968 adalah anggota legislatif perempuan yang tidak ikut dalam pembahasan rancangan peraturan daerah Kota Medan tentang Trafficking.
Keinginan Dame Duma Sari Hutagalung untuk maju dan terpilih menjadi anggota legislatif adalah untuk meningkatkan dan memberikan fungsi legislasi yang baik untuk dijalankan. Dengan menjalankan fungsi legislasinya, peraturan dan kebijakan yang diterapkan di Kota Medan dapat dirasakan dengan baik oleh masyarakat dari berbagai aspek, baik dari aspek pendidikan, pariwisata, peningkatan kesejahteraan masyarakat yang ujung-ujungnya menjadikan Kota Medan menjadi kota maju yang layak dan nyaman ditinggali oleh masyarakat, terkhusus kepada masyarakat Kota Medan. Harapannya, dengan terpilihnya dia menjadi anggota legislatif, dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat kota Medan menjadi lebih baik dan lebih maju dari sebelumnya.
2.2. PROFIL DPRD KOTA MEDAN
2.2.1. Sejarah Singkat DPRD KOTA MEDAN
Keterwakilan masyarakat Kota Medan di Parlemen pada saat Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR GR) berjalan pada tahun 1968 sampai 1971. Pusat perkantoran Parlemen Kota Medan saat itu bertempat di belakang
Balai Kota Lama yang sekarang menjadi Hotel Grand Aston Jalan Balai Kota Medan. Kantor DPR GR saat itu berada di lantai dua berbagi dengan sekretariat daerah Kota Medan, pusat perkantoran masih dilangsungkan di belakang Balai Kota Medan yang berkantor di lantai satu. Pada tahun 1971 ketika DPR GR diubah menjadi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Medan, pusat perkantoran masih dilangsungkan di belakang Balai Kota Medan.
Pada tahun 1975, di masa pemerintahan orde baru, digagas pembangunan Gedung DPRD Medan di Jalan Kapten Maulana Lubis. Dengan restu Gubernur Sumatera Utara saat itu Marah Halim, pembangunan gedung DPRD Medan dimulai dengan peletakan batu pertama tanggal 26 Juni 1975 yang dilakukan oleh Walikota Medan M. Saleh Arifin. Setahun kemudian pada tahun 1976. Gedung DPRD Medan berlantai tiga yang berhadapan dengan gedung Walikota Medan sekarang diresmikan, peresmiannya langsung dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri (Mendagri) pada masa itu Amir Mahmud. Prasasti peresmian gedung DPRD saat itu diletakkan di lantai dua persis di ruang tamu yang kemudian dijadikan ruangan pimpinan DPRD Kota Medan. Secara resmi pada tahun 1976, anggota DPRD Kota Medan berkantor di gedung Baru tersebut setelah Sembilan tahun berkantor di belakang Balai Kota Medan.
Setelah sebelas kali masa kepemimpinan di DPRD Kota Medan, gedung yang dibangun pada masa pemerintahan orde baru diruntuhkan. Pada periode 2004-2009 sejumlah anggota DPRD Medan menggagas renovasi gedung DPRD
Kota Medan. namun rencana itu batal dilakukan dan berujung dengan opsi pembangunan gedung baru. Dan pada tahun 2012 dimasa kepemimpinan Ketua DPRD Kota Medan Drs. Amiruddin, masa bakti 2009-2014, gedung baru dibangun delapan lantai dengan anggaran mencapai 90 miliyar. Saat masa proses pembangunan, DPRD Kota Medan kemudian berkantor dibekas Kantor PT. Pelni di Jalan Gedung Krakatau Medan. selama setahun berkantor disana, DPRD Medan kemudian kembali berkantor di gedung baru hingga saat ini.
2.2.2. Fungsi DPRD KOTA MEDAN
DPRD Kota Medan mempunyai fungsi:
1. Fungsi Legislasi, membentuk Peraturan Daerah ( Perda ) bersama Walikota
2. Fungsi Anggaran, merencanakan, menyusun, dan menetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah ( APBD ) bersama pemerintah.
3. Fungsi Pengawasan, pengawasan terhadap pelaksanaa Undang-undang, Peraturan Daerah, Peraturan Walikota dan Kebijakan yang ditetapkan Pemerintah Daerah.
2.2.3. Hak-hak yang dimiliki DPRD Kota Medan dalam menjalankan kegiatannya.
1. Hak interpelasi; ialah hak DPRD untuk meminta keterangan kepada kepala daerah mengenai kebijakan pemerintah daerah yang penting dan strategis yang berdampak luas pada kehidupan masyarakat, daerah maupun negara.
2. Hak Angket; ialah pelaksanaan fungsi pengawasan DPRD untuk melakukan penyelidikan terhadap suatu kebijakan tertentu kepala daerah yang penting dan strategis yang berdampak luas pada kehidupan masyarakat, daerah maupun negara, yang diduga bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.
3. Hak menyatakan pendapat; ialah hak DPRD untuk menyetakan pendapat terhadap kebijakan kepala daerah atau mengenai kejadian luar biasa yang terjadi di daerah disertai dengan rekomendasi penyelesaiannya atau sebagai tindak lanjut pelaksanaan hak interpelasi dan hak angket. Pendapat diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD yang berpedoman pada peraturan perundang-undangan.
2.2.4. Hak Anggota DPRD KOTA MEDAN
• Mengajukan rancangan Perda
• Mengajukan pertanyaan
• Menyampaikan usul dan pendapat
• Memilih dan dipilih
• Membela diri
• Imunitas.
• Protokoler
• Keuangan dan administrasi.28
2.2.5. Kewajiban Anggota DPRD KOTA MEDAN dalam mengemban tugas dan wewenang
a. Memegang dan mengabdi serta mengamalkan Pancasila.
b. Menjalankan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan mentaati peraturan perundang-undangan.
c. Memperjuangkan peningkatan kesejahteraan rakyat.
d. Mentaati prinsip demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah.
e. Menjalankan kode etik yang telah disetujui bersama.
f. Menampung dan memperjuangkan aspirasi masyarakat, seperti melalui kunjungan kerja secara berkala
2.2.6. Alat Kelengkapan DPRD KOTA MEDAN
1. Pimpinan DPRD
Kedudukan Pimpinan dalam Dewan sebagai Juru Bicara Parlemen. Fungsi pokoknya secara umum adalah mewakili DPRD secara simbolis dalam berhubungan dengan lembaga eksekutif, lembaga-lembaga tinggi negara lain, dan
28UU No. 32 Tahun 2004 Pasal 4 ayat 1 tentang Pemerintahan Daerah
lembaga-lembaga internasional, serta memimpin jalannya adminstrasitif kelembagaan secara umum, termasuk memimpin rapat-rapat paripurna dan menetapkan sanksi atau rehabilitasi.
Pimpinan DPRD bersifat kolektif, terdiri dari satu orang ketua dan sebanyak-banyaknya empat orang wakil ketua yang mencerminkan fraksi-fraksi terbesar. Pimpinan DPRD dipilih dari dan oleh anggota. Lima fraksi terbesar secara tertulis mengusulkan calon Ketua dan Wakil Ketua kepada pimpinan sementara untuk dipilih dan ditetapkan dalam rapat paripurna. Apabila terjadi kekosongan jabatan Ketua, DPRD secepatnya mengadakan pemilihan berdasarkan pertimbangan dari Badan Musyarawarah. Pengisian kekosongan untuk jabatan Ketua dilakukan dengan pemilihan ulang terhadap para calon. Sedangkan kekosongan jabatan Wakil Ketua diisi oleh calon dari fraksi yang sama, untuk selanjutnya ditetapman dalam Rapat Paripurna. Pimpinan DPRD Kota Medan sekarang ini terdiri dari:
Ketua DPRD : satu orang dan Wakil Ketua : tiga orang.
2. Komisi
Komisi di DPRD Kota Medan sebanyak empat komisi, yaitu:
• Komisi A : Meliputi bidang pemerintahan umum, Bawasko, Dinas Infokom, Kantor Arsip Daerah, Satpol PP, Balitbang, Badan Kesbang Linmas, Dinas Kependudukan, Badan Pertanahan Nasional, Kepolisian,
Hankam, Kejaksaan, Kehakiman, Imigrasi, Maritim, dan Organisasi kemasyarakatan.
• Komisi B : Meliputi Sekretariat Daerah unit kerja, Badan Pemberdayaan Masyarakat, Dinas Tenaga Kerja, Dinass Kesehatan, Badan Pelayanan Kesehatan RSU Pringadi, Dinas Pendidikan, Kantor Sosial, Dinas Pencegah/Pemadam Kebakaran, Dinas pengatur lingkungan hidup energy dan SDM, BKKBN, Dinas Pemuda dan Olahraga, dan bagian pemberdayaan wanita.
• Komisi C : Meliputi Dinas Pendapatan Daerah, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Koperasi dan HAM, Kantor Penanaman Modal, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Badan Pengelolahan Perparkiran, Perusahaan daerah, Perbankan, Perusahaan Patugan, PMA, PMD, Dunia Usaha, PLN, Pertamina dan Tirtanadi.
• Komisi D : Meliputi Badan Perencanaan Daerah, Dinas Pertanian, Dinas Perikanan dan Kelautan, Dinas Tata Kota dan Tata Ruang, Dinas Pemukiman dan Perumahan, Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Kebersihan dan Dinas Pertamanan.
3. Badan Musyawarah
Badan Musyawarah merupakan alat kelengkapan DPRD yang bersifat tetap dan dibentuk oleh DPRD pada permulaan masa keanggotaan DPRD. Panitia Musyawarah terdiri dari wakil setiap fraksi berdasarkan perimbangan jumlah
anggota. Ketua dan Wakil Ketua DPRD karena jabatannya adalah Pimpinan Badan Musyawarah merangkap anggota.
Badan Musyawarah menurut Ketentuan Pasal 47 PP 25/2004 mempunyai tugas:
• Memberikan pertimbangan tentang penetapan program kerja DPRD baik diminta atau tidak.
• Menetapkan kegiatan dan jadwal acara rapat DPRD.
• Memutuskan pilihan mengenai isi risalah rapat apabila timbul perbedaan pendapat.
• Member saran pendapat untuk memperlancar kegiatan.
• Wajib mengadakan konsultasi dengan Fraksi-fraksi sebelum mengikuti rapat Badan Musyawarah.
• Wajib menyampaikan pokok-pokok hasil rapat Badan Musyawarah kepada Fraksi.
• Merencanakan, menjadwaklan seluruh kegiatan DPRD.
Ada tugas-tugas lain yang masih relevan dan terkait dengan kewenangan Badan Musyawarah, yaitu:
a. Memberikan pendapat kepada pimpinan DPRD dalam menentukan garis kebijakan yang menyangkut pelaksanaan tugas dan wewenang DPRD.
b. Meminta dan/atau memberikan kesempatan kepada alat kelengkapan yang lain untuk memberikan keterangan/penjelasan mengenai hal yang menyangkut pelaksanaan tugas tiap-tiap alat kelengkapan tersebut.
c. Mengatur lebih lanjut penanganan dalam hal peraturan perundang-undangan, menetapkan bahwa Pemerintah Daerah atau pihak yang diharuskan untuk melakukan konsultasi dan koordinasi dengan DPRD mengenai maslaah yang terjadi.
d. Mententukan penanganan suatu rancangan atau pelaksanaan tugas DPRD lainnya oleh alat kelengkapan DPRD. Namun Badan Musyawarah tidak boleh mengubah keputusan atas suatu rancangan atau pelaksanaan tugas DPRD lainnya oleh alat kelengkapan DPRD.
e. Melaksanakan hal-hal yang oleh rapat paripurna diserahkan kepada Badan Musyawarah.
4. Badan Anggaran.
Menurut Pasal 55 PP Nomor 16 Tahun 2010 tentang Pedoman Penyusunan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, tugas Badan Anggaran ( Banggar ) DPRD adalah:
• Memberikan saran dan pendapat berupa pokok-pokok pikiran DPRD kepada kepala daerah dalam mempersiapkan rancangan anggaran pendapatan dan belanja daerah paling lambat 5 ( lima ) bulan sebelum ditetapkannya APBD.
• Melakukan konsultasi yang dapat diwakili oleh anggotanya kepada komisi terkait untuk memperoleh masukan dalam rangka pembahasan rancangan KUA dan PPAS.
• Memberikan saran dan pendapat kepada kepala daerah dalam mempersiapkan rancangan peraturan daerah tentang perubahan APBD dan rancagan peraturan daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD.
• Melakukan penyempurnaan rancangan peraturan daerah tentang APBD dan rancagan peraturan daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD berdasarkan hasil ebaluasi Menteri Dalam Negeri bagi DPRD provinsi dan gubernur bagi DPRD kabupaten/kota bersama tim anggaran pemerintah daerah.
• Melakukan pembahasan bersama TAPD terhadap rancangan KUA serta rancangan PPAS yang disampaikan kepada kepala daerah.
• Memberikan saran kepada pimpinan DPRD dalam penyusunan anggaran belanja DPRD.
5. Badan Legislasi
Tugas yang dilaksanakan oleh Badan Legislasi adalah:
Menyusun program legislasi daerah yang memuat daftar urutan rancangan peraturan daerah untuk satu masa keanggotaan dan prioritas setiap tahun
anggaran, yang selanjutnya dilaporkan dalam Rapat Paripurna untuk ditetapkan dengan Keputusan Ketua DPRD.
- Menyiapkan rancangan perautran daerah usul inisiatif DPRD berdasarkan program prioritas yang ditetapkan.
- Melakukan pengharmonisan , pembulatan, dan pemantapan konsepsi rancangan perautran derah yang diajukan anggota, komisi, dan gabungan komisi sebelum rancangan peraturan daerah tersebut disampaikan kepada pimpinan dewan.
- Memberikan pertimbangan terhadap pengajuan rancangan perautran daerah yang diajukan oleh anggota, komisi, dan gabungan komisi diluar rancangan peraturan daerah yang terdaftar dalam program legislasi daerah atau prioritas rancangan perautran daerah tahun berjalan.]
- Melakukan pembahsan dan perubahan/penyempurnaan rancangan peraturan daerah yang secara khusus ditugaskan Panitia Musyawarah.
- Melakukan penyebarluasan dan mencari masukan untuk rancangan peraturan daerah yang sedang dan/atau yang akan dibahas dan sosialisasi rancnagan peraturan daerah yang telah disahkan.
- Mengikuti perkembangan dan melakukan evaluasi terhadap materi peraturan daerah melalui koordinasi dengan komisi.
- Menerima masukan dari masyarakat baik tertulis maupun lisan mengenai rancangan peraturan daerah.
- Memberikan pertimbagan terhadap rancangan peraturan daerah yang sedang dibahas oleh Bupati/Walikta dan DPRD
- Menginventarisais maslaah huum dan peraturan perundang-undangan pada akhir masa keanggotaan DPRD untuk dipergunakan sebagai bahan oleh Panitia Legislasi pad masa keanggotaan berikutnya.
6. Badan Kehormatan.
Badan Kehormatan memiliki tugas:
• Mengamati, mengevaluasi disiplin, etika dan moral para anggota DPRD dalam rangka menjaga martabat dan kehormatan sesuai dengan Kode Etik DPRD.
• Meneliti dugaan pelanggaran yang dilakukan anggota DPRD terhadap peraturan Tata Tertib dan Kode Etik DPRD serta sumpah/janji.
• Melakukan penyelidikan, verifikasi, dan klarifikasi atas pengaduan Pimpinan DPRD, masyarakat dan/atau pemilih.
• Menyampaikan kesimpulan atas hasil penyelidikan, verifikasi dan klarifikasi sebagaimana dimaksud pada huruf c sebagai rekomendasi untuk ditindaklanjuti oleh DPRD.
• Menyampaikan rekomendasi keapda pimpinan DPRD berupa rehabilitasi nama baik apabila tidak terbukti adanya pelanggaran yang dilakukan anggota DPRD atas pengaduan pimpinan DPRD, masyarakat dan atau pemilih.
• Menyampaikan laporan atas keputusan badan kehormatan kepada paripurna DPRD
• Dapat menjatuhkan sanksi kepada anggota DPRD yang terbukti melanggar kode etik DPRD.
2.3. Susunan Keanggotaan DPRD KOTA MEDAN.
2.3.1 Partai di DPRD KOTA MEDAN
2.3.1 Partai di DPRD KOTA MEDAN