• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Seting Lokasi Penelitian

1. Profil Rumah Sakit Umum Daerah dr. Raden Soedjati Purwodadi

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. R. Soedjati Purwodadi Kabupaten Grobogan dengan status kepemilikan pemerintah daerah yang dipimpin oleh seorang direktur dr. Iman Santoso, MM, M.Kes dan tergolong dalam kelas rumah sakit tipe B Non Pendidikan. Luas tanah RSUD dr. R. Soedjati Purwodadi 32.180 m2, luas bangunan lama 15.749 m2 dan bangunan baru 975 m2 dengan jumlah bangunan 33 buah gedung ( Profil RSUD dr. R. Soedjati Purwodadi, 2010 ).

2. Visi dan misi Rumah Sakit Umum Daerah dr. Raden Soedjati Purwodadi ( profil RSUD dr. R Soedjati Purwodadi, 2010)

a. Visi

Menjadi Rumah Sakit rujukan yang mampu memberikan pelayanan kesehatan secara manusiawi, simpatik untuk kepuasan pelanggan. b. Misi

1) Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang bermutu, terjangkau dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

2) Mengutamakan upaya penyembuhan, pemulihan, peningkatan

commit to user 46 c. Budaya kerja

1) BERSEMI

Bersih : Meliputi kebersihan lingkungan perseorangan baik badan, pakaian maupun perilaku serta kebersihan lingkungan dan tempat kerja

Sehat : Meliputi kesehatan jiwa dan raga serta memberikan

kateladanan perilaku hidup sehat

Mantap : Dalam arti profesional, mantap administrasi dan kerjasama antar pribadi dan bagian

Indah : Menciptakan keindahan baik penampilan fisik

tempat kerja maupun pribadi selaku pelayanan masyarakat

2) SIMPATIK

a) Selalu senyum dan bertegur sapa b) Integrasi pelayanan ( cepat, tepat, baik )

c) Mantap administrasi termasuk rekam medisnya

d) Profesional SDM nya

e) Akurat diagnosan dan therapinya f) Tanggap terhadap keluhan dan situasi g) Ikhlas karena tugas merupakan ibadah

h) Kepuasan pelanggan di utamakan

commit to user 47

1. Kualitas Lulusan Progdi D-III Keperawatan STIKES An – Nur Purwodadi

Secara umum ruangan rawat inap RSUD dr. R. Soedjati Purwodadi Kabupaten Grobogan terdapat 14 rawat inap dan 1 ruang IGD merupakan ruang pelayanan kesehatan yang tergolong dalam pelayanan penunjang. Dalam bidang jadwal pelayanan untuk pendaftaran Instalasi Rawat Darurat dan Rawat Inap buka selama 24 jam. Jumlah tenaga tenaga di ruang inap maupun IGD kurang lebih 16 perawat 2 dokter jaga ruangan dan dokter spesialis. Jumlah perawat di RSUD dr. R. Soedjati Purwodadi Kabupaten Grobogan terdapat 228 perawat, 18 perawat madya lulusan dari program studi D-III keperawatan An – Nur Purwodadi yang tersebar dalam 13 ruangan. Prestasi Perawat lulusan yang mempunyai prestasi akademik yang bagus hanya sebagian kecil yaitu yang mempunyai IPK lebih dari 3.00 terdapat 5 perawat, dengan IPK tertinggi 3.34. Sedangkan IPK terendah 2.74, dengan nilai IPK rata- rata 2.94 ( dengan kategori memuaskan) Untuk Lebih memberikan gambaran secara jelas dalam tabel sebagai berikut :

Tabel 1. Hasil angket pendahuluan kualitas perawat lulusan progdi D-III Keperawatan STIKES An – Nur Purwodadi yang bekerja di RSUD Purwodadi. No Nama Ruang J K IPK Tahun Lulus Mulai Bekerja Ket 1. Ira S Anggrek P 2.95 2000 2002

commit to user 48 2. Wartini Bougenv il P 2.60 2000 2010 3. Yeni R Cempaka P 2.83 2003 2004

4. Dwi Anita Dahlia P 3.15 2004 2010

5. Dwi ari W Flamboy

an

L 3.10 2008 2010

6. Bambang S Gladiol L 2.75 2000 2001

7. Habibi Gladiol L 2.96 2004 2009 Lama

pendidi kan 4 tahun

8. Ali Sholikin Hemodia

lisa L 3.34 2001 2002 9. Ahmad Yani Kemunin g L 3.04 2004 2007 10. Yoyok Mawar L 2.93 2005 2007 11 Endang Sri w Mawar P 2.87 2001 2002 12. Fuk Zahrotun Mawar P 2.85 1999 2002 13. Karlina Nusa Indah P 2.78 2002 2007

14. Tri Tunggal Seroja P 3.05 2004 2007

15. Cicih Seroja P 3.03 2004 2007 16. Ulfa M Teratai I P 2.74 2000 2007 17. Isnin Teratai I P 2,93 2002 2009 18. Yupri Tamtomo Teratai II L 2.95 1999 2002 Keterangan :

commit to user 49

JK : Jenis Kelamin

P : Perempuan

L : Laki – laki

IPK : Indeks Prestasi Kumulatif

2. Kualitas pelayanan

Kualitas pelayanan lulusan Hasil dari angket pendahuluan pada para lulusan progdi D-III Keperawatan STIKES An – Nur Purwodadi yang bekerja di RSUD dr. Raden Soedjati Purwodadi didapatkan hasil sebagai berikut :

Tabel 2. Hasil angket pendahuluan kualitas pelayanan perawat lulusan progdi D-III Keperawatan STIKES An – Nur Purwodadi yang bekerja di RSUD Purwodadi

No Nama Ruang Kualitas kinerja ( scoring ) Jml

Tangibl es Reabil ity Respo nsiven ess Assuranc e Emph aty 1. Ira S Anggrek 3 3 3 3 3 15 2. Wartini Bougenvil 3 3 3 3 3 15 3. Yeni R Cempaka 3 3 3 2 3 14

commit to user 50

4. Dwi Anita Dahlia 3 3 3 3 4 16

5. Dwi Ari W Flamboyan 3 3 3 3 3 15

6. Habibi Gladiol 3 3 3 3 3 15

7. Bambang S Gladiol 3 3 3 3 3 15

8. Ali Sholikin Hemodialisa 3 3 4 3 3 16

9. AhmadYani Kemuning 3 3 3 3 3 15 10. Yoyok Mawar 3 3 3 3 3 15 11 Endang Sri W Mawar 3 1 4 3 3 14 12. Fuk Z Mawar 3 3 3 3 3 15

13. Karlina Nusa Indah 3 3 3 3 3 15

14. Tri Tunggal Seroja 3 3 4 4 4 18

15. Cicih Seroja 3 3 3 3 3 15 16. Ulfa M Teratai I 3 3 3 3 3 15 17. Isnin Teratai I 3 3 3 3 3 15 18. Yupri Tamtomo Teratai II 3 4 3 4 4 18 Keterangan :

Penilaian 1 : Sangat kurang 2 : Kurang 3 : Baik 4 : Sangat baik

Kualitas kinerja didapatkan garis besar bahwa para lulusan terhadap kualitas perawat D-III keperawatan secara umum mencakup dimensi kualitas sesuai dengan SERVQUAL, sebagai berikut :

commit to user 51

Merupakan penilaian dari penampilan dari fasilitas fisik, peralatan, personal dan alat komunikasi, penilaian jika dinilai oleh diri merupakan penilaian yang berorientasi pada diri sendiri, tetapi penilaian ini kita hubungkan dengan alat bukti terhadap perawat tersebut. Tabel 2 diatas menunjukkan bahwa penilaian terhadap

Tangibles adalah baik. Dengan dasar tabel 2 tersebut dilakukan

wawancara, dan hasil wawancara dengan informan dapat disimpulkan para lulusan menilai penampilan dirinya baik dan tidak mau dikatakan sangat baik, para lulusan menyadari masih terdapat kebiasaan yang kurang baik, penampilan mereka kadang tidak sesuai dengan ketentuan atau aturan yang ada dan menjadi kebiasaan yang tidak disadari oleh para lulusan, sebagai contoh para lulusan kadang tidak membawa sepatu dalam menjalankan tugas para lulusan di rumah sakit. Perbaikan yang penting untuk para lulusan adalah dengan menambahkan mata kuliah etika keperawatan.

“Baik, dalam artian tidak kurang, tidak terlalu baik, kenapa saya memilih baik karena kadang saya berangkat kerja tidak membawa sepatu, semestinya kan harus memakai sepatu, kalau tidak memakai sepatu itu terasa lebih luweslah, ini biasanya pada piket siang atau pada piket malam, kalau pada piket pagi yang wajib memakai sepatu” CL1

” Karena saya juga mempunyai pekerjaan sambilan didesa, jadi sering rapat sampai malam, jadi waktu saya habis, sebagi contoh saya piket siang pulang kantor jam 21.00 WIB malam, sampai rumah jam 21.45 WIB, terus kalau ada rapat nanti bisa sampai jam 02.00 WIB, padahal besuk saya harus kerja piket pagi, jadi kadang saya tidak sempat mandi di rumah, kadang juga saya

commit to user 52

piket mblabas dari piket siang mblabas ke piket malam, jadi untuk penampilan fisik saya menyadari masih kurang” CL2

“Karena sangat baik berarti penampilannya harus klimis, rambut slalu berminyak, potongan rambut yang selalu rapid an bagus. Kenapa baik karena saya merasa peampilan saya sudah rapi, dilihat sudah enak, tetapi kadang pakaian saya kurang rapi, potongan rambut saya tidak minyakan, biasanya pada saat piket siang, malah tidak memakai sepatu” CL4.

“Kalau pas hujan, dari rumah tidak membawa sepatu karena takut basah, jadi biar simpel tetapi juga kalau ketahuan petugas control dimarahi juga” CL4.

b. Realibility

Realibility merupakan kemampuan perawat untuk

menunjukkan pelayanan yang dijanjikan dengan baik dan akurat, yang meliputi ketepatan waktu, kedisiplinan terhadap aturan, kemampuan perawat dalam melakukan asuhan keperawatan / tindakan keperawatan yang sesuai dengan kebutuhan, terampil dan mampu bekerja dengan cepat dan tepat. Tabel 2 diatas menunjukkan bahwa penilaian terhadap

Realibility secara umum adalah baik, tetapi terdapat satu lulusan yang

melakukan penilaian tersebut adalah sangat kurang. Untuk memperjelas tabel diatas dilakukan wawancara, dan dari wawancara dengan sejumlah lulusan dari D-III Keperawatan An - Nur Purwodadi ini dalam menunjukkan pelayanannya terhadap klien atau pasien. Dari hasil wawancara didapat hasil bahwa lulusan ini dalam memberikan pelayanan sudah baik, bisa tepat waktu, kurang dalam melaksanakan

commit to user 53

displin terhadap aturan, dalam memberikan tindakan keperawatan sudah baik dan sudah mampu dalam bekerja dengan cepat dan tepat. Wawancara yang dilakukan kepada lulusan yang menilai kemampuan perawat dalam menunjukkan pelayanan kurang baik dan akurat dikarenakan kurangnya keinginan untuk belajar dan memperbaharui ilmu yang telah didapatkan, sehingga merasa kurang percaya diri.

“Kalau telat biasanya kalau memang ada acara yang sangat penting dan terlebih dahulu ijin pada kepala ruang jika piket pagi atau konfirmasi pada teman apabila sedang piket siang atau piket malam. Kalau saya berangkat waktunya saya tepatkan pada jam dinas seumpama piket siang jam 14.00 saya biasanya tepat jam 14.00 , paling kurang 2 menitan, sebenarnya sih diharapkan datang sebelum jam piket nantikan bisa operan jaga terlebih dahulu dengan tim yang sebelumnya” CL 1

“Saya selalu mengikuti dan menjalankan peraturan, walaupun katanya aturan itu dibuat untuk dilanggar”CL1. “Dalam bekerja sehari – hari kadang saya terlambat masuk kerja biasa orang yang bekerja di institusi pemerintah selalu banyak yang terlambat, tetapi terlambat saya tidak lebih dari 15 menit, biasanya saya calling terlebih dahulu dengan teman jaga saya bahwa saya terlambat, nanti gantian kalau waktu pulang teman saja kalau mau pulang dahulu tidak apa – apa asal pasien diruangan itu dalam kkondisi yang bagus” CL2

“Kalau masalah tindakan saya selalu bekerja sama dengan tim yang lain karena kita berada di ruang inap jadi perawat yang jaga pasti lebih dari satu dan kita membagi tugas”CL2.

“Selalu tepat waktu, kebetulan saya di ruang

Hemodialisa, jadi harus tepat waktu, ruang ini terhitung perawatnya kurang” CL3.

“Saya lebih cenderung ke fleksibel, sebagai contoh kadang kalau saya piket sore atau malam saya tidak memakai sepatu atau bahkan tidak memakai pakaian

commit to user 54

resmi perawat, sayang kalau piket malam kalau pake pakaian putih – putih nanti cepat lusuh, tetapi kebetulan saya kan di ruang ICU atau HD jadikan nanti pake pakean dinas ICU” CL3.

“Kemampuan dalam membuat asuhan keparawatan kalau di ICU pada awal –awal masih kesulitan karena saya merasakan diteori dengan protab yang ada di rumah sakit itu berbeda CL3.

“Ketrampilan yang saya miliki setelah lulus saya merasa kurang, saya lebih banyak belajar setelah saya bekerja, untuk saat ini saya harus terampil dan saya kira saya mampu untuk itu” CL3.

“Yang terpenting menurut saya dalam melakukan tindakan harus sesuai dengan prinsip dan mampu melakukan tindakan tersebut sebaik mungkin”CL3

“Saya selalu tepat waktu, saya tidak pernah telat, saya selalu datang sebelum jamnya, maksudnya kalau seumpama jam kantor mulai jam 07.00 saya selalu datang sebelum jam 07.00 CL4.

Kalau aturan secara tertulis saya pasti selalu ikuti, kalau peraturan yang tidak tertulis saya sesuaikan dengan sikon” CL4

“Kalau kemampuan asuhan keperawatan saya merasa kurang, kadang pada kasus – kasus tertentu atau kasus yang jarang ditemui saya masih membuka buku dan biasanya bertanya pada yang sudah senior” CL4.

“Kalau saya menilai diri sendiri ya sudah cukup, tetapi setelah saya mengikuti pelatihan PPGD saya lebih percaya diri’CL4.

“Kalau tepat harus tetapi kalau cepat saya lebih cenderung merasa seperti kemprungsung, jadi saya bekerja tepat dan berhati – hati dalam melakukan tindakan, karena yang kami hadapikan nyawa”CL4. “La itu mas, saya sebenarnya sudah kerja selama 8 tahunan di rumah sakit ini, saya masih merasa harus banyak belajar banyak lagi, karena ilmu yang saya

commit to user 55

dapatkan waktu saya masih kuliah itu menurut saya banyak yang berbeda dengan sekarang, barang kali karena saya malas belajar dan kurang informasi. Karena itu saya merasa kurang mampu” CL5.

“Ya tadi mas, sebenarnya kalau saya menilai lulusan An – Nur secara umum ketrampilannya sudah bagus, tetapi karena saya orangnya malas belajar makanya saya sekarang merasa ketinggalan dengan yang lain” CL5.

c. Responsiveness

Responsiveness merupakan kemampuan perawat dalam

menolong dan memberikan pelayanan yang baik, yang meliputi cepat tanggapnya perawat dalam memberikan pertolongan pada klien dan memberikan pelayanan, kemampuan perawat dalam mengambil keputusan kondisi yang tidak biasa. Tabel 2 diatas menunjukkan bahwa penilaian terhadap Responsiveness dari 18 lulusan yang dengan penilaian baik sebanyak 15 perawat, sedangkan yang melakukan penilaian sangat baik sebanyak 3 perawat. Dari dasar diatas dilakukan wawancara dengan sejumlah lulusan Program studi D-III Keperawatan An – Nur Purwodadi sudah mampu dalam memberikan pertolongan dengan cepat dan tepat, dalam mengambil keputusan pada situasi – situasi yang darurat sudah mampu dalam mengambil keputusan untuk penanganan gawat daruratnya kemudian untuk tindak lanjutnya berkolaborasi dengan tim kesehatanya lainya sesuai dengan kewenanganya.

“Bisa, sebagai gambaran kita harus mampu melakukan tindakan yang cepat dan tepat pada yang sedang dalam

commit to user 56

keadaan yang membahayakan maupun cepat datang pada pasien atau keluarga pasien yang memanggil kita kemudian secepatnya melakukan tindakan, jika itu sudah diluar kewenangan kita kita segera konsultasi ke tim yang lain”CL 1.

“Kalau tindakan itu kira – kira kita bisa menyelesaikan mandiri dan masih dalam kewenangan kita akan segera melakukan tindakan, jika sudah diluar kewenangan kita saya segera konsultasi ke tim kesehatan yang lain, sebagai contoh ada pasien yang tiba – tiba sesak saya segera mengambil keputusan untuk segera memberikan oksigen, dan setelah memberikan oksigen kemudian segera konsul ke dokter jaga di UGD” CL 1.

“Kalau dirungan, ini membutuhkan kerjasama tim, saya akan cepat melakukan pertolongan, la coba bayangkan mas jika kita tidak cepat tanggap terhadap kebutuhan pasien, nanti akan pasiene banyak yang meninggal, nanti kita juga yang akan kena masalah, baik masalah hukum maupun beban moral terhadap keluarga maupun Rumah Sakit” CL2.

“Pasti, sebagi perawat yang bekerja untuk orang yang sakit harus mempunyai daya tanggap terhadap situasi , kalau tidak pasien bisa meninggal, apalagi saya bekerja di ruang ICU atau HD, ada perubahan sedikit pada pasien saya harus cepat tanggap karena hubungannya dengan nyawa” CL3.

“Dalam melakukan yang cepat, tergantung, jika menemui kasus – kasus tertentu atau kasus yang jarang saya lebih baiknya bertanya ke senior terlebih dahulu, seperti kasus pada tetanus sewaktu saya masih baru diruang ini saya bertanya ke senior jika ada masalah kejang saya harus bagaimana atau jika ada kegawatan yang lain. Jika pada piket pagi lebih saya utamakan konsultasi ke kepala ruang” CL4.

“Ya saya merasa mampu, tetapi menurut saya karena rutinitas saja, sebagai contoh ada pasien sesak saya

cepat saya berikan oksigen dan kemudian

commit to user 57

d. Assurance

Assurance ( jaminan ) merupakan pengetahuan dan

kemampuan perawat dalam mempertahankan kepercayaan dan kenyamanan meliputi kompetensi perawat, kemampuan perawat dalam mempertahankan kepercayaan klien, tidak menempatkan klien dalam kondisi bahaya, keramahan, kesopanan. Tabel 2 diatas menunjukan bahwa penilaian terhadap Assurance dari 18 lulusan yang melakukan penilaian kurang 1 perawat, yang melakukan penilaian baik sebanyak 15 perawat dan yang melakukan penilaian sangat baik terdapat 2 perawat. Dari dasar diatas dilakukan wawancara dengan para lulusan dari D-III Keperawatan An - Nur Purwodadi ini dalam Assurance, penilaian kognitif masih kurang, ketrampilan sudah bagus, dalam mempertahankan kepercayaan terhadap pasien bagus, para lulusan untuk mempertahankan kepercayaan lulusan dengan keramahan, kesopanan dan berusaha menghindari rasa trauma pada pasien dengan melayani pasien sebaik mungkin.

“Kalau waktu saya lulus kompetensi menurut saya masih kurang, dengan berjalanya waktu saya sambil belajar dilapangan, untuk saat ini saya sudah bekerja 8 tahun ya InsyaAllah saya sudah merasa kompetensi saya sudah cukup. Tetapi kadang teori yang saya dapat dulu barangkali bayak yang kurang komplet sebagai contoh, kalau kita memasang transfusi darah, dulu

yang saya tahu setelah suhu darah hangat

ditransfusikan, tidak tahu kalau dalam transfuse ini tidak boleh dari 4 jam misalnya, nanti struktur darahnya menjadi rusak dan bisa memfagosit sel darah yang lain, kan ini sangat berbahaya” CL1.

commit to user 58

“Yang pasti dengan komunikasi, kalau mau

melakukan tindakan selalu melakukan komunikasi terlebih dahulu, namany di rumah sakit pemerintah kalau pasien tidak puas nanti bisa komplain ke mana – mana” CL1.

“Saya lebih mengutamakan pasien, lebih baik sakit dikaki dari pada sakit di hati, saya mengutamakan kepuasan pasien dengan keramahan dan kesopanan, kalau ini tidak dijaga nanti emage rumah sakit menjadi jelek, bentuk yang biasa saya lakukan dengan banyak senyum, lebih dekat dengan keluarga dan pasien, mengajak guyon tetapi ya harus memperhatikan kesopanan, tidak berarti kalau ramah dan sopan ke pasien saya harus munduk – munduk” CL1.

“Kompetensi yang saya punyai saya kira bagus karena ini merupakan pekerjaan saya dan saya harus professional, untuk mempertahankan kepercayaan klien biasanya saya lebih komunikatif terhadap klien, dengan demikian tingkat kepercayaan klien akan tinggi. Kalau kita lebih banyak komunikasi teraupetik dengan klien biasanya klien akan senang”CL2.

“Dengan cara mengasah ketrampilan kita, dengan kita terampil pasien tidak menjadi trauma, sebagai contoh kalau kita mau memasang infus dengan ditusuk vena pasien beberapa kali pasien menjadi trauma dan tidak mau lagi di rawat oleh perawat tadi. Tidak terlalu kemprungsung, situasional terhadap pasien” CL3.

Bentuk dalam menunjukkan keramahan dan

kesopanan cenderung tidak banyak diam atau sebaliknya tidak over action, jadi kalau lebih ke proposional dan lebih ke memandirikan pasien” CL3 “Saya kira cukup, tetapi saya merasa kalau pembelajaran di kampus itu cenderung berbeda dengan di lapangan, berbeda pada penanganan pasien – pasien tertentu, jadi kalau kita pada pasien dalam kegawatan kalau harus melakukan tindakan sesuai dengan teori nanti keburu pasien tambah gawat atau bahkan keburu meninggal” CL 4.

commit to user 59

“Dengan ngomong sebelum melakukan tindakan dan menjelaskan terlebih dahulu dan dengan melakukan tindakan tidak terlalu cepat – cepat karena kalau cepat – cepat ittu lebih kelihatan kalau kemprungsung” CL4. “Dengan cara berbicara yang enak, tidak marah,

banyak senyum, selalu menyapa setiap mau

melakukan tindakan. Karena stigma perawat pada jaman dahulu itu galak, jadi saya kira itu tidak demikian” CL4.

e. Emphaty

Empaty ( empati ) yaitu caring, perhatian perawat dalam memberikan perawatan pada klien secara individual meliputi komunikasi teraupetik, kemudahan untuk diajak interaksi oleh klien maupun staf lain, penjelasan staf perawat kepada klien dan keinginan dan kemampuan untuk mengerti kondisi pasien. Dari wawancara dengan sejumlah lulusan didapat kesimpulan pada dasarnya para lulusan ini sudah bagus dalam memberikan komunikasi teraupetik, para lulusan melakukan teraupetik sangat bervariasi ada yang mengajak bercanda dengan pasien, pada saat melakukan tindakan ada juga dengan sengaja didatangi untuk memberikan informasi teraupetik. Dalam memberikan rasa empaty terhadap pasien lebih ke situasional, yaitu pada pasien yang memang membutuhkan motivasi.

“Sekali lagi dengan kita dekat dengan pasien dan mengajak guyonan tetapi dengan unsure ada muatan – muatan teraupetik, bisa juga setiap melakuakan tindakan saya selaku berkomunikasi dengan pasien memberi muatan – muatan tentang penyakit yang sedang diderita oleh pasien’ CL1

commit to user 60

“Saya terhitung sudah senior di bangsal teratai, dan saya dalam berinteraksi dengan staf lain, saya lebih menghormati yang senior ataupun unsure pimpinan dan menghargai yunior saya’CL1

“Dengan mendengarkan dan memberi saran dengan baik pada pasien, sebagai contoh jika ada pasien yang meninggal biasanya keluarga menangis keras bahkan ada yang mengamuk, kemudian keluarga pasien tersebut kita dekati bahwa semua orang pasti akan mengalami yang sama, tetapi kita juga harus menghargai pasien – pasien yang lain yang sedang sakit disini, kami juga paham kalau bapak/ibu pada saat ini merasa kehilangan barangkali saya juga akan berbuat hal ynag sama, tetapi mohon kesadaranya, disini bayak pasien yang lain yang mungkin merasa terganggu” CL1.

“Saya termasuk perawat yang biasa dekat dengan klien, saya lebih banyak komunikasi dengan pasien, pada awal saya bekerja saya malah dianggap saya dikira lebih banyak ngobrol dengan klien, padahal saya melakukan komunikasi teraupetik dengan klien,

jadi klien menjadi senang kalau kita bisa

mendengarkan keluhan klien, padahal dengan kita melakukan perhatian dengan klien akan mempercepat proses penyembuhan pasien” CL2.

“Kalau komunikasi ke pasien melihat – lihat situasi, pada situasi tertentu kita tidak perlu melakukan komunikasi treupetik” CL3.

“Pada pasien yang membutuhkan atau memerlukan motivasi tinggi kita perlu dekati dengan mendengarkan keluhan pasien, tetapi saya tidak suka terlalu empati karena kalau saya terlalu empati akan menjadikan saya ikut stress sendiri dan terbawa sampai ke rumah, ini akan merugikan saya, karena mungkin tipe saya yang memang demikian, untuk itu saya agak menjaga dengan pasien kecuali pada pasien yang memang sangat memerlukan motivasi tinggi” CL3.

“Dengan seiring menyapa, kemudian menjelaskan penyakit atau kondisi pasien sampai mudeng, biasanya pasien atau keluarga sering bertanya bagaimana

commit to user 61

kondisi pasien atau saudaranya, dan saya menjelaskan sampai tahu, sering juga saya menjelaskan kondisi pasien sampai berkali – kali masih tidak mengerti – mengerti, kadang keluarga lain juga nyambung ikut bertanya karena di ruang Flamboyan ini kan tingkat pendidikanya rendah dan orang tua – tua karena ruang ini termasuk kelas JPS. Misalnya pada penyakit

Dokumen terkait