Penelitian ini terdiri atas 8 sampel gigi pasca endodonti yang mana masing-masing gigi diberi dua perlakuan yaitu ; perlakuan pertama desin cavosurface margin shoulder pada bagian bukal gigi, dan perlakuan kedua desain cavosurface margin chamfer pada bagian palatal/lingual gigi.
Gambar 23. Gambar sampel penelitian : A. Bukal sampel (shoulder), dan B. Palatal/lingual sampel (chamfer).
Hasil penelitian marginal gap pada kedua kelompok perlakuan terlihat pada tabel 1.
Tabel 1. Data hasil pengukuran marginal gap dengan stereomicroscope
Shoulder Marginal gap (μm) Chamfer Marginal gap (μm) 1 2 3 4 5 6 7 8 75,00 62,50 150,00 50,00 125,00 125,00 125,00 75,00 1 2 3 4 5 6 7 8 125,00 62,50 250,00 75,00 275,00 150,00 125,00 75,00 Rata-rata 98,4375 Rata-rata 142,1875
Dari tabel 1 terlihat ada perbedaan yang terlalu ekstrem baik diantara kedua kelompok perlakuan maupun terhadap sampel dalam satu kelompok perlakuan itu sendiri.
Gambar 24. Gambar marginal gap dengan perbesaran 40x dengan stereomicroscope: A. Pengukuran marginal gap yang terkecil, dan B. Pengukuran marginal gap yang terbesar.
A B
Marginal gap
Data pengukuran marginal gap antara desain cavosurface margin shoulder dan chamfer terlebih dahulu dianalisis dengan Kolmogorov-Smirnov test untuk mengetahui distribusi data yang diperoleh, hasil yang diperoleh menyatakan bahwa distribusi data adalah normal (Shoulder : K-S 0.748 dengan Asymp.Sig 0.631 dan Chamfer : K-S 0.598 dengan Asymp.Sig 0.867). Hasil Kolmogorov-Smirnov ini dapat terlihat pada lampiran 5. Setelah itu data diuji secara statistik menggunakan uji t (t-test) dengan tingkat kemaknaan (α = 0,05).
TABEL 2. Analisis hasil cavosurface margin shoulder dan chamfer dengan menggunakan uji t-test berpasangan
Cavosurface margin Marginal gap (μm) P N x ± SD Shoulder 8 98.4375 ± 36.86213 0,058 Chamfer 8 142.1875 ± 80.43895
Pada tabel 2 menunjukkan rerata marginal gap pada shoulder (98.4375 μm) lebih kecil daripada rerata marginal gap pada chamfer (142.1875 μm). Hal ini juga terlihat secara signifikan pada hasil statistik yang diperoleh dari uji t-test yang mana SD pada shoulder (36.86213) lebih kecil daripada SD pada chamfer (80.43895). Namun, dari hasil analisis t-test di atas memperlihatkan bahwa pada α = 0,05 marginal gap pada shoulder dan chamfer tidak berbeda (p>0.05).
BAB 6 PEMBAHASAN
Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah gigi molar mandibula dan maksila yang telah diekstraksi dikarenakan untuk keperluan prostodonti dan bedah mulut. Waktu yang diperlukan untuk pengumpulan sampel kurang lebih 6 bulan dan sampel direndam pada larutan normal saline sehingga gigi dapat tetap lembab dan tidak mengalami dehidrasi walaupun disimpan dalam jangka waktu yang lama.
Pada penelitian ini, semua coping metal dapat di-passen dengan baik pada gigi. Tebal coping yang digunakan adalah 0,5 mm dan pada bagian margin bukal dan palatal/lingual coping dikurangi 0,5 mm, yang disebut dengan collarless. Ketebalan 0,5 mm ini dimaksudkan agar coping tidak terlalu tipis sehingga mengurangi distorsi baik setelah degassing maupun aplikasi porselen, terutama pada perlakuan khusus yaitu build up porselen pada bagian margin yang tidak dilapisi metal. Namun kenyataannya, setelah pembakaran opak pertama, metal mengalami distorsi sehingga jarak collarless menjadi lebih besar dari 0,5 mm. Hal ini mungkin disebabkan oleh jenis metal yang digunakan, yaitu nikel-kromium alloy. Campuran logam ini mempunyai beberapa kelemahan, yaitu sangat sulit dicetak secara akurat, margin dapat lebih pendek dan rapuh dari hasil wax-up, serta bonding dari metal dengan porselen dan warnanya dipengaruhi oleh produksi oksida. Selain itu, mungkin juga disebabkan oleh adanya pemuaian metal selama proses peleburan logam dengan
porselen, perbedaan thermal ekspansi dan kecepatan pendinginan antara logam dan porselen serta adanya penyusutan (shringkage) pada porselen.29
Pada bagian margin restorasi diberi perlakuan khusus, yaitu pemberian lapisan porselen dan margin porselen yang berkali-kali. Hal ini dilakukan berulang kali karena selalu terjadi shringkage setelah pembakaran porselen. Hal mungkin terjadi karena sifat porselen itu sendiri yang selalu mengalami shringkage setelah pembakaran dan karena sulitnya mengaplikasikan porselen pada bagian margin dengan teknik direct liff yang mana porselen tidak dapat dibakar langsung pada master die, tetapi restorasi PFM diangkat dari master die dan diletakkan pada firing tray untuk dibakar,17 sehingga porselen yang telah diaplikasikan pada bagian margin sering tertinggal pada master die. Beberapa peneliti telah meneliti teknik-teknik untuk pembakaran all porcelain margin dengan teknik platinum matrices, refractory dies, separating varnish baik dengan wax atau resin binders.12,17
Salah satu faktor lain yang dapat mempengaruhi adaptasi margin adalah pemeliharaan ketepatan margin overlay PFM saat proses casting, yaitu selama proses pembakaran porselen, hal ini bergantung pada daya tahan restorasi tuang itu sendiri dan proses pemuaian saat pembakaran porselen. Temperatur tinggi dapat membantu menghindari distorsi dari metal dan hal ini dapat dicapai dengan menggunakan logam-logam yang memiliki titik lebur yang lebih tinggi dibandingkan dengan porselen (misalnya, metal 1150oC dan porselen 900oC). Campuran logam yang paling akurat adalah logam campuran emas dengan temperatur pemuaian logam yang lebih mendekati temperatur porselen.29 Porselen memiliki koefisien termal konduktifitas yang rendah, sehingga porselen harus didinginkan secara perlahan untuk menghindari
pembentukan stress yang dapat menyebabkan terjadinya keretakan, sedangkan metal memiliki koefisien termal yang lebih tinggi sehingga metal dingin pada kecepatan yang berbeda dengan porselen. Untuk itu, koefisien termal ekspansi metal dan porselen harus saling mendekati untuk menghindari kontraksi setelah pembakaran. Penambahan sodium oxide merupakan salah satu cara untuk meningkatkan koefisien termal ekspansi porselen.30
Desain coping metal dapat bervariasi sesuai dengan kebutuhan terhadap estetis PFM. Pada penelitian ini PFM menggunakan coping collarless. Walaupun sebenarnya pembuatan desain coping dapat dilakukan sama seperti pembuatan coping metal untuk gigi tiruan mahkota, tetapi ketinggian preparasi desain kavitas overlay yang lebih pendek dari gigi tiruan mahkota menyebabkan sulitnya mengatur ketebalan wax-up terutama dibagian cavosurface margin gigi. Teknik collarless porselen dipilih untuk menghindari bayangan gelap metal pada daerah margin restorasi, sehingga warna yang dihasilkan menyerupai gigi asli. Namun, dari hasil yang diperoleh masih terlihat bayangan hitam di daerah margin restorasi. Hal ini mungkin disebabkan karena tidak digunakannya lapisan enamel dan translusen pada margin overlay PFM yang mana seharusnya pada margin overlay PFM tersebut diberi lapisan opak, dentin, enamel, dan translusen. Selain itu juga karena keterbatasan laboratorium dalam penyediaan warna porselen yang sesuai dengan gigi.
Gambar 25. Gigi-gigi sampel setelah direstorasi overlay PFM
Pada penelitian ini, restorasi PFM collarless tidak disemenkan pada gigi, tetapi restorasi PFM collarless disatukan dengan gigi sampel dengan bantuan bantuan bais pada stereomicroscope. Hal ini sesuai dengan studi yang menyatakan bahwa ketika restorasi tersebut disemenkan pada gigi, maka adaptasi primer restorasi ke gigi akan hilang serta pengaruh jenis semen, viskositas, dan teknik luting menjadi lebih besar.31 Suatu penelitian yang dilakukan oleh Kern et al (1993 cit Boeckler et al 2005) mengenai perbedaan marginal fit restorasi sebelum dan sesudah proses sementasi. Mereka menemukan peningkatan marginal gap 43 μm – 63 μm ketika mahkota disemenkan dengan glass ionomer atau zinc phosphate.27
Marginal gap diuji dengan stereomicroscope yang dibantu dengan lampu penerang dari stereomicroscope disertai dengan pengambilan gambar dengan perbesaran 40x. Perbesaran 40x digunakan agar marginal gap yang kelihatan lebih jelas. Bila tidak disertai dengan lampu penerang maka hasil gambar menjadi kabur
1 2 3 4
dan tidak jelas dan dengan bantuan lampu penerang tersebut diperoleh gambar yang terang dan perbedaan warna antara margin restorasi dan margin gigi menjadi lebih jelas. Pengukuran dilakukan langsung dari stereomicroscope dengan bantuan skala milimeter dari lensa okuler. Hasil pengukuran dibagi 40 karena menggunakan perbesaran 40x.
Berdasarkan pengamatan dengan streomicroscope, terlihat bahwa marginal gap di seluruh permukaan margin tidak sama besar. Oleh karena itu, demi keseragaman pengukuran dilakukan pada mid bukal untuk desain cavosurface margin shoulder dan pada mid palatal/lingual untuk desain cavosurface margin chamfer. Pengukuran ini mengikuti penelitian yang dilakukan oleh Limkangwalmongkol et al.12 Ketidakseragaman marginal gap yang terjadi mungkin karena teknik aplikasi porselen yang digunakan yaitu teknik direct liff yang mana teknik ini mempunyai kelemahan yaitu lebih menyebabkan permukaan porselen tidak rata dan heterogen.12 Selain itu, hal ini juga sangat dipengaruhi oleh ketrampilan operator dalam pembuatan PFM collarless.
Beberapa penelitian untuk menguji marginal gap pernah diteliti sebelumnya. Faucher dan Nicholls (1980) membuktikan bahwa tipe flat shoulder dengan atau tanpa bevel (sudut bevel tidak disebutkan) menunjukkan distorsi margin lebih kecil dibandingkan dengan tipe chamfer.17 Dykema (1986) menyatakan bahwa desain cavosurface margin chamfer mengalami distorsi lebih banyak selama siklus pemanasan dan pendinginan porselen daripada desain cavosurface margin shoulder.17 Balkaya et al (2002) mengevaluasi distorsi margin pada tiga desin margin yang berbeda yaitu shoulder, chamfer, dan knife edge. Mereka menyimpulkan bahwa secara signifikan distorsi margin pada shoulder lebih kecil daripada chamfer.32 Demikian pula, Shillingburg et al (2003) meneliti tentang desain margin dan distorsi margin pada restorasi PFM. Mereka menyimpulkan bahwa desain cavosurface margin shoulder dengan atau tanpa bevel secara signifikan menghasilkan distorsi yang lebih kecil daripada desain cavosurface margin chamfer.33 Namun, pengujian marginal gap pada restorasi overlay PFM pada gigi pasca endodonti dengan desain cavosurface margin yang berbeda belum pernah diteliti sebelumnya, sehingga tidak ada data yang dapat dibandingkan pada penelitian ini.
Pada penelitian ini, rerata marginal gap pada desain cavosurface margin shoulder adalah 98,4375 μm dan pada desain cavosurface margin chamfer adalah 142,1875 μm. Terlihat bahwa rerata marginal gap cavosurface margin shoulder yang diperoleh masih berada dalam rentang ukuran marginal gap yang dapat diterima secara klinis yaitu maksimum 120 μm,16
sedangkan cavosurface margin chamfer lebih besar dari rentang tersebut. Hal ini disebabkan karena ruangan yang tersedia pada cavosurface margin chamfer tidak cukup untuk restorasi PFM29 dan cavosurface
margin chamfer mengalami distorsi lebih banyak selama siklus pemanasan dan pendinginan porselen.14,17
Secara statistik hipotesa penelitian ini ditolak (p>0.05), tidak ada perbedaan yang bermakna diantara kedua desain cavosurface margin. Hal ini mungkin disebabkan oleh beberapa hal, antara lain ; Pertama, bentuk cavosurface margin chamfer yang kurang tepat sehingga bentuknya hampir sama dengan bentuk cavosurface margin shoulder. Kedua, kemungkinan variasi sampel yang menyebabkan variasi anatomi gigi yang mana pembuatan margin overlay sesuai dengan bentuk anatomi gigi menyebabkan kesulitan dalam mengaplikasikan porselen pada bagian margin overlay. Ketiga, keterbatasan peneliti dalam mengukur marginal gap. Keempat, kemungkinan besar sampel yang digunakan tidak dapat mewakili perbedaan yang ada. Semakin besar sampel yang dipergunakan akan memberikan hasil penelitian yang lebih representatif.