BAB I PENDAHULUAN
D. Penelitian Relevan
Bagian ini memuat uraian secara sistematis mengenai hasil penelitian terdahulu (Prior Research) tentang persoalan yang akan dikaji. Penelitian mengemukakan dan menunjukan dengan tegas bahwa masalah yang akan dibahas belum pernah diteliti sebelumnya. Untuk itu, tinjauan kritis terhadap hasil kajian terdahulu perlu dilakukan dalam bagian ini.11
Di bawah ini ada beberapa hasil penelitian yang terkait diantaranya:
dari penelitian yang dilakukan oleh Ade Putriansyah, STAIN Jurai Siwo Metro dengan judul “Pengembangan Harta Wakaf Sebagai Sarana Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat”. Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan, fokus dari penelitian ini adalah pengembangan harta wakaf sebagai sarana pemberdayaan ekonomi masyarakat. Hasil analisis pengelolaan wakaf produktif yang telah dilakukan pada Yayasan Nurul Huda Ganjar Agung Kota Metro dapat disimpulkan bahwa telah menjalankan fungsinya dengan benar yaitu sebagai lembaga yang berperan dalam mengelola aset wakaf dan telah memberdayakan empat unsur yaitu petani, guru ngaji, pekerja lepas (pemeliharaan masjid), risma dan rismawati.12 Persamaan dengan penelitian ini yaitu sama-sama membahas tentang wakaf dan pengaruhnya terhadap pemberdayaan ekonomi masyarakat. Akan tetapi berbeda pada fokus penelitian ini lebih terfokus pada tingkat keberhasilan pengelolaan wakaf produktif terhadap pemberdayaan masyarakat dalam Islam.
11 Zuhairi dkk, Pedoman Penulisan Skripsi, (Metro: IAIN Metro, 2018), 52.
12 Ade Putriansyah, Pengembangan Harta Wakaf Sebagai Sarana Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat, (STAIN Metro, 2007).
Terdapat pula penelitian yang dilakukan oleh Hasan Basri, STAIN Jurai Siwo Metro dengan judul “Produktivitas Pengelolaan Harta Wakaf (Study Kasus Kelurahan Yosomulyo Metro Pusat Tahun 2010)”. Jenis penelitian ini adalah kualitatif yang menjadi fokus penelitian ini adalah untuk mengetahui produktifitas pengelolaan wakaf yang dilakukan di Kelurahan Yosomulyo Metro Pusat yang menyimpulkan bahwa pengelolaan wakaf di kelurahan Yosomulyo tidak produktif dan tidak sesuai dengan teori produktivitas dan Undang-undang RI Nomor 41 Tahun 2004 Tentang Wakaf.13 Persamaan dengan penelitian ini yaitu sama-sama membahas tentang pengelolaan wakaf. Yang menjadi perbedaan dengan penelitian ini yaitu pada fokus penelitian ini lebih terfokus pada tingkat keberhasilan pengelolaan wakaf produktif terhadap pemberdayaan masyarakat.
Selain itu skripsi Novia Syarifah „Amala, IAIN Metro dengan judul
“Produktifitas Pengelolaan Wakaf Pada Yayasan Al-Muhsin Metro”. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan produktifitas pengelolaan wakaf pada Yayasan Al-Muhsin Metro. Fokus pada penelitian ini yaitu untuk mengetahui produktifitas pengelolaan wakaf di Yayasan Muhsin Metro. Wakaf pada Yayasan Al-Muhsin tergolong wakaf produktif, dimana ciri dari pemberdayaan wakaf telah terlaksana. 14 Persamaan dengan penelitian ini yaitu sama-sama membahas tentang pengelolaan wakaf sedangkan perbedaan dengan penelitian
13 Muhammad Hasan Basri, Produktifitas Pengelolaan Harta Wakaf (Study Kasus Kelurahan Yosomulyo Metro Pusat Tahun 2010), (STAIN Jurai Siwo Metro, 2010).
14 Novia Syarifah „Amala, Produktifitas Pengelolaan Wakaf Pada Yayasan Al-Muhsin Metro, (IAIN, Metro, 2018).
peneliti yaitu pada fokus penelitian ini lebih terfokus pada implementasi wakaf produktif dan tingkat keberhasilan wakaf produktif perspektif pemberdayaan masyarakat dalam Islam.
LANDASAN TEORI
A. Wakaf Produktif
1. Pengertian Wakaf Produktif
Dalam peristilahan syara’ secara umum, wakaf adalah sejenis pemberian yang pelaksanaannya dilakukan dengan jalan menahan (pemilikan) asal (tashibul ashli), lalu menjadikan manfaatnya berlaku umum. Yang dimaksud tashibul ashli ialah menahan barang yang diwakafkan itu agar tidak diwariskan, dijual, dihibahkan, digadaikan, disewakan dan sejenisnya. Sedangkan cara pemanfaatannya adalah menggunakan sesuai dengan kehendak pemberi wakaf (wakif) tanpa imbalan.1 Dengan definisi ini, maka wakaf dapat diaplikasikan pada suatu benda yang memiliki manfaat serta memiliki nilai secara materi, maka semua itu dapat dikatakan harta baik bersifat abadi maupun sementara.
Menurut Undang-Undang No. 41 tahun 2004 tentang wakaf dan Peraturan Pemerintah No. 42 tahun 2006 dapat disarikan beberapa konsep perwakafan. Wakaf adalah perbuatan hukum wakif untuk memisahkan atau menyerahkan sebagian harta benda miliknya untuk dimanfaatkan selamanya atau untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan kepentingannya guna keperluan ibadah dan/atau kesejahteraan umum menurut syariah.2
1 Departemen Agama RI, Paradigma Baru Wakaf di Indonesia, (Jakarta: Direktorat Pemberdayaan Wakaf Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, 2007), 1.
2 M. Nur Rianto Al Arif, Lembaga Keuangan Syariah; Suatu Kajian Teoretis Praktis, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2012), 408.
Wakaf produktif adalah wakaf yang pokok barangnya digunakan untuk kegiatan produksi dan keuntungannya diberikan sesuai dengan tujuan wakaf. Wakaf produktif memprioritaskan wakaf untuk upaya yang lebih menghasilkan dengan ukuran-ukuran paradigma yang berbeda dengan konsumtif. Wakaf produktif memiliki dua visi sekaligus yakni menghancurkan ketimpangan struktur social dan menyediakan lahan subur untuk menyejahterakan umat. Wakaf produktif sangat berdimensikan social. Ia semata-mata hanya mengabdikan diri pada kemaslahatan umat.
Wakaf jenis ini yang menghadapi masalah kemiskinan, keterbelakangan dan kebodohan. Wakaf produktif, dengan demikian merupakan pengembangan dari penafsiran-penafsiran lama tentang wakaf.3
Pada dasarnya dalam pelaksanaannya, wakaf produktif memiliki dua dimensi yaitu dimensi religi serta dimensi sosial ekonomi. Dimensi religi memiliki arti bahwa wakaf yang dilakukan merupakan suatu bentuk anjuran dari agama Islam yang perlu untuk dilakukan setiap muslim.
Sehingga hal ini merupakan suatu bentuk ketaatan seorang muslim terhadap Tuhan-Nya. Sedangkan dimensi kedua yaitu dimensi sosial ekonomi yaitu suatu kegiatan yang di dalamnya terdapat dua unsur sekaligus dalam praktik wakaf, yaitu unsur sosial dan unsur ekonomi.
Dalam praktik wakaf, seseorang memberikan harta bendanya kepada orang lain untuk membantu kesejahteraan sesamanya.
3 Suhairi, Wakaf Produktif, (Metro: STAIN Jurai Siwo Metro Lampung, 2014), 39.
2. Dasar Hukum Wakaf Produktif
Dalil yang menjadi dasar diisyaratkannya ibadah wakaf yaitu:
a. Surah Al-Hajj ayat 77:
اَوَاْوُعَكْرااوُنَماَءَ َنيَِ َّلَّاَاَ ُيَُأَي
َُدُ ْسْ
َُْكَُّلَعَلَ َ ْيَْخْلااوُلَعْفاَوَْ ُكَُّبَرَاْوُدُبْعاَو .َ َنوُحِلْفُث َ
Artinya: ”Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapatkan kemenangan”. (QS. Al-Hajj: 77).4
b. Surah Al-Baqarah ayat 261:
Artinya: “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, tiap-tiap butir menumbuhkan seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (Karunianya) Lagi
Artinya: “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya”. (QS. Al-Imran: 92).6
d. Hadis Riwayat Muslim, bahwa Nabi SAW pernah bersabda:
َْنَع
ََلاَقَ؟ِوِبَ ِنّ ُرُمِأث
ra. Memperole sebidang tanah Khaibar, kemudian menghadap kepada Rasulullah untuk memohon petunjuk. Umar berkata: Ya Rasulullah, saya mendapatkan sebidang tanah di Khaibar, saya belum pernah mendapatkan harta sebaik itu, maka apakah yang engkau perintahkan kepadaku? Rasulullah menjawab: Bila kamu suka, kamu tahan (pokoknya) tanah itu, dan kamu sedekahkan (hasilnya). Kemudian Umar melakukan shadaqah, tidak dijual, tidak juga dihibahkan dan juga tidak diwariskan. Berkata Ibnu Umar: Umar menyedekahkannya kepada orang-orang fakir, kaum kerabat, budak belian, sabilillah, ibnu sabil dan tamu. Dan tidak mengapa atau tidak dilarang bagi yang menguasai tanah wakaf (pengurusnya) makan dari hasilnya dengan cara baik (sepantasnya) atau makan dengan cara tidak baik bermaksud menumpuk harta” (HR. Muslim).7Ditinjau dari kekuatan hukum yang dimiliki, ajaran wakaf merupakan ajaran yang bersifat anjuran (sunnah), namun kekuatan yang dimiliki sesungguhnya begitu besar sebagai tonggak menjalankan roda kesejahteraan masyarakat banyak.8
3. Pengelolaan Wakaf Produktif
Wakaf merupakan salah satu sumber daya ekonomi yang terbukti berperan dalam perekonomian. Di Indonesia, pengelolaan wakaf mengalami masa yang cukup panjang. Setidaknya ada tiga periode besar pengelolaan wakaf di Indonesia.9 Pertama yaitu periode tradisional, kedua yaitu semi profesional, dan yang ketiga periode profesional. Pertama,
7 Ibnu Hajar Al-Asqalani, Bulughul Maram, (Jakarta: Darul Falah, 2002), 399.
8 Achmad Djunaidi, Thobieb Al-Asyhar, Menuju Era Wakaf Produktif, (Jakarta: Mumtaz Publishing, 2005), 70.
9 Suhairi, Wakaf Produktif, (Metro: STAIN Jurai Siwo Metro Lampung, 2014), 4.
periode tradisional yaitu dimana pada periode ini wakaf masih ditempatkan sebagai ajaran murni yang dimasukkan dalam kategori ibadah mahdhah.
Kedua, periode semi profesional, yaitu dimana pengelolaan wakaf mulai dikembangkan pola pemberdayaan wakaf secara produktif, meskipun belum maksimal. Sebagai contoh menambah bangunan gedung untuk pertemuan. Ketiga, periode profesional, yaitu periode dimana potensi wakaf di Indonesia sudah mulai dilirik untuk diberdayakan secara professional produktif. Profesionalisme yang dilakukan meliputi benda wakaf bergerak seperti uang, saham dan surat berharga.10
Manajemen pengelolaan wakaf merupakan salah satu aspek penting dalam pengembangan paradigma baru wakaf di Indonesia. Kalau dalam paradigma lama wakaf selama ini lebih menekan pentingnya pelestarian dan keabadian benda wakaf, maka dalam pengembangan paradigma baru wakaf lebih menitikberatkan pada aspek pemanfaatan yang lebih nyata tanpa kehilangan eksistensi benda wakaf itu sendiri.
Untuk meningkatkan dan mengembangkan aspek kemanfaatannya tentu uang sangat berperan sentral adalah sistem manajemen pengelolaan yang diterapkan.11
Pengelolaan wakaf secara produktif untuk kesejahteraa masyarakat menjadi tuntutan yang tidak bisa dihindari lagi. Apalagi disaat negeri kita sedang mengalami krisis ekonomi yang memerlukan antisipasi banyak
10 Ibid,
11 Departemen Agama RI, Paradigma Baru Wakaf di Indonesia, (Jakarta: Direktorat Pemberdayaan Wakaf Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, 2007), 105.
pihak. Oleh karena itu, sudah selayaknya umat Islam khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya mengapresiasi peraturan perundangan perwakafan secara positif.12
Undang-undang Nomor 41 Tahun 2004 ditetapkan bahwa pihak yang menerima harta benda wakaf dari waqif untuk dikelola dan dikembangkan sesuai dengan peruntukannya dinamakan nazhir atau nazhir, yang merupakan salah satu unsur atau rukun wakaf. Tugas dan kewajiban pokok nazhir tersebut adalah mengelola dan mengembangkan wakaf secara produktif sesuai dengan tujuan, fungsi, dan peruntukannya yang dilaksanakan sesuai prinsip syari‟ah.13
Pengelolaan dan pengembangan benda wakaf secara produktif dimaksud dilakukan antara lain dengan cara pengumpulan, investasi, penanaman modal, produksi, kemitraan, perdagangan, agrobisnis, pertambangan, perindustrian, sarana pendidikan ataupun sarana kesehatan dan usaha-usaha yang tidak bertentangan dengan syari‟ah. Jadi, nazhir adalah pengelola harta benda wakaf yang tugasnya mengelola dan mengembangkan harta wakaf sesuai dengan peruntukannya.
Secara umum terdapat empat hal yang perlu dikaji dalam mewujudkan sebuah kultur berwakaf yang sehat di Indonesia yaitu aspek penghimpunan (fundraising), pengelolaan wakaf, penyaluran wakaf, serta edukasi masyarakat terkait wakaf. Pertama, penghimpunan dalam aset
12 Achmad Djunaidi & Thobieb Al-Asyhar, Menuju Era Wakaf Produktif, (Jakarta:
Mumtaz Publishing, 2005), 90.
13 Faishal Haq, Hukum Perwakafan Di Indonesia, (Sidoarjo: Dwiputra Pustaka Jaya, 2014), 135.
wakaf tersebut merupakan sebuah usaha untuk menghimpun/
mengumpulkan dana wakaf, menghimpun wakif, menghimpun volunteer dan pendukung, membangun citra lembaga wakaf serta memuaskan wakif.
Kedua, pengelolaan wakaf secara produktif berkaitan dengan pengembangan aset wakaf yang ada, yaitu harus sesuai dengan ketentuan wakaf yang berlaku. Ketiga, penyaluran wakaf yang dikelola secara produktif dapat dilakukan melalui pemberdayaan ekonomi.14
4. Strategi Pengelolaan Wakaf Produktif
Wakaf di Indonesia masih sangat sedikit yang produktif. Kunci kelemahannya terletak pada nazhir dan tim manajemennya yang tidak terorganisasi dengan baik. Riset Pusat Bahasa Budaya (PBB) UIN Syahid Jakarta (2005-2006) menyimpulkan bahwa kelemahan lembaga wakaf kita terletak pada aspek manajemennya yang belum modern.15 Karenanya, dalam rangka menumbuhkembangkan wakaf produktif dan mewujudkan kesejahteraan umat, beberapa hal perlu dilakukan.
Saat ini jika dilihat masih terlalu banyak pengelolaan harta wakaf yang dikelola nazhir yang tidak professional, sehingga banyak harta wakaf tidak berfungsi secara maksimal dan tidak memberi manfaat sama sekali sebagaimana yang diharapkan, bahkan banyak harta wakaf yang alih fungsi atau terjual kepada pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab, karena nazhir yang tidak dapat mengelola harta wakaf secara
14 Faizatu Almas Handyantari, Pemberdayaan Wakaf Produktif: Upaya Strategis Untuk Kesejahteraan Ekonomi Masyarakat, Jurnal Midle East and Islamic Studies, Vol V No.1, Januari-Juni 2018, 5.
15 Suhairi, Wakaf Produktif, (Metro: STAIN Jurai Siwo Metro Lampung, 2014), 40.
professional.16 Karena itu diperlukan strategi riil agar wakaf-wakaf yang ada dapat segera diberdayakan untuk kepentingan kesejahteraan masyarakat banyak. Strategi riil dalam pengembangan wakaf produktif adalah kemitraan.
Lembaga-lembaga nazhir harus menjalin usaha dengan pihak-pihak lain yang mempunyai modal dan ketertarikan usaha sesuai dengan posisi strategis yang ada dimana nilai komersialnya cukup tinggi. Jalinan kerjasama ini dalam rangka menggerakan seluruh potensi ekonomi yang dimiliki tersebut. Sekali lagi harus ditekankan bahwa sistem kerja sama dengan pihak ketiga harus tetap mengikuti sistem syari‟ah, baik dengan cara musyarokah maupun mudharabah.
Pihak-pihak ketiga itu adalah sebagai berikut:
a. Lembaga investasi usaha yang berbentuk badan usaha non lembaga jasa keuangan. Lembaga ini bisa berasal dari lembaga lain di luar wakaf, atau lembaga lainnya yang tertarik terhadap pengembangan atas tanah wakaf yang dianggap strategis.
b. Investasi perorangan yang memiliki modal cukup. Modal yang akan ditanam berbentuk saham kepemilikan sesuai dengan kadar nilai yang ada. Investasi perseorangan ini bisa dilakukan lebih dari satu pihak dengan komposisi penyahaman sesuai dengan kadar yang ditanam.17
16 Rachmadi Usman, Hukum Perwakafan di Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafika, 2013), 134.
17 Departemen Agama RI, Panduan Pemberdayaan Tanah Wakaf Produktif Strategis di Indonesia, (Jakarta, 2007), 122.
B. Pemberdayaan Masyarakat Dalam Islam 1. Pengertian Pemberdayaan Masyarakat
Pemberdayaan merupakan suatu kegiatan yang berkesinambungan, dinamis dan secara strategis mendorong keterlibatan semua potensi secara evolutif. Sedangkan pemberdaayaan dalam konteks masyarakat adalah kemampuan anatara individu satu dan individu lainnya dalam upaya membangun keberdayaan masyarakat yang meliputi meningkatkan harkat martabat lapisan masyarakat yang berada pada kondisi tidak mampu, keterbelakangan, atau berada dalam kemiskinan untuk memampukan dan memandirikan dirinya dan kelompoknya.18
Maka pemberdayaan menunjuk pada keadaan atau hasil yang ingin dicapai oleh perubahan sosial, yaitu masyarakat yang berdaya, memiliki kekuasaan atau mempunyai pengetahuan dan kemampuan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya baik yang bersifat fisik, ekonomi maupun sosial seperti memiliki kepercayaan diri, mampu menyampaikan aspirasi, mempunyai mata pencarian, berpartisipasi dalam kegiatan sosial, dan mandiri dalam melaksanakan tugas-tugas kehidupannya.19
2. Pandangan Islam Terhadap Pemberdayaan Masyarakat
Islam memandang masyarakat sebagai sebuah sistem yang individunya saling membutuhkan dan saling mendukung. Antar individu masyarakat mempunyai hubungan yang idealnya saling menguntungkan.
Kesenjangan dalam hal pendapatan ekonomi merupakan sebuah potensi
18 Ibid, 5.
19 Ismail Ruslan, “Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Berbasis Masjid di Pontianak”, Jurnal Khatulistiwa, Vol. 2 No. 1 Maret 2012, 20.
yang dapat dimanfaatkan guna memupuk kerukunan dan silaturahim antar sesama.20
Pemberdayaan dalam pandangan Islam didefiniskan dengan kata tamkin yang dapat diartikan sebagai pemberdayaan yang berkelanjutan.
Individu dikatakan tamkin atau berdaya apabila terpenuhinya unsur maddi (materi) dan unsur ma’nawi (nonmateri). Tujuan pemberdayaan manusia adalah agar tercapainya kesejahteraan bagi dirinya sendiri baik secara fisik maupun rohani. Pemberdayaan tersebut nantinya akan menciptakan khoiru ummah yang mampu melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas sehingga dapat melakukan berbagai upaya untuk mencukupkan kebutuhan dirinya atau kelompok. Hal ini sesuai dengan konsep kesejahteraan dalam pandangan ekonomi Islam didefinisikan sebagai falah.21
Karim menjelaskan bahwa dalam pandangan Islam pemberdayaan berkaitan dengan terpenuhinya kebutuhan, yang mana kebutuhan tersebut ditentukan oleh konsep maslahah. Syatibi mendefinisikan maslahah sebagai kepemilikan atau kekuatan barang atau jasa yang mengandung elemen-elemen dasar dan tujuan kehidupan (darruriyyat), pelengkap (hajiyyat), dan perbaikan (tahsiniyyat). Maslahah atau kesejateraan masyarakat tersebut bergantung pada lima tujuan dasar atau kebutuhan dasar yang harus terpenuhi (maqasid syariah) yang meliputi, agama
20 Ulfi Putra Sany, “Prinsip-Prinsip Pemberdayaan Masyarakat Dalam Perspektif Al-Qur’an”, Jurnal Ilmu Dakwah, Vol. 39 No. 1, 2019, 34.
21 Faizatu Almas Handyantari, Pemberdayaan Wakaf Produktif: Upaya Strategis Untuk Kesejahteraan Ekonomi Masyarakat, Jurnal Midle East and Islamic Studies, Vol V No.1, Januari-Juni 2018, 6.
dien), hidup atau jiwa (nafs), keluarga atau keturunan (nasl), harta atau kekayaaan (maal), intelek atau akal (aql).22
3. Prinsip-Prinsip Pemberdayaan Masyarakat Dalam Islam a. Prinsip Ukhuwwah
Ukhuwwah dalam bahasa arab berarti persaudaraan. Prinsip ini menegaskan bahwa tiap-tiap muslim saling bersaudara, walaupun tidak ada pertalian darah antara mereka. Rasa persaudaraan menjamin adanya rasa empati dan merekatkan silaturahim dalam masyarakat.
Dalam konteks pemberdayaan, ukhuwwah merupakan motif yang mendasari seluruh upaya pemberdayaan masyarakat. Rasulullah memiliki visi masyarakat muslim yang saling menolong dan saling menanggung kesulitan secara bersama. Islam mendorong pemeluknya untuk meringankan beban saudaranya yang dilanda kesulitan, Islam merupakan agama yang menanamkan kepedulian dalam diri pemeluknya.23
b. Prinsip Ta‟awun
Prinsip ta‟awun atau tolong-menolong ini merupakan prinsip yang utama dalam pelaksanaan pemberdayaan masyarakat. Karena sesungguhnya program pemberdayaan itu adalah sebuah upaya menolong individu dan masyarakat yang membutuhkan bantuan dan bimbingan. Upaya pemberdayaan harus dimulai dari rasa kepedulian dan niat menolong individu dan masyarakat yang membutuhkan. Hal
22 Ibid, 7.
23 Ulfi Putra Sany, “Prinsip-Prinsip Pemberdayaan Masyarakat Dalam Perspektif Al-Qur’an”, Jurnal Ilmu Dakwah, Vol. 39 No. 1, 2019, 35.
ini berasal dari rasa persaudaraan yang tumbuh dari ikatan ukhuwwah.
Prinsip ta‟awun atau tolong-menolong ini juga dapat diartikan sebagai sebuah sinergi antara berbagai pihak yang berkepentingan demi terwujudnya pemberdayaan yang optimal. Pemberdayaan masyarakat adalah proses kolaboratif, maka hendaknya seluruh pihak saling membantu demi terwujudnya tujuan bersama. Pemberdayaan bukanlah tanggung jawab pihak tertentu saja, melainkan tanggung jawab seluruh pihak terkait. Pemerintah tidak akan mampu menyelesaikan masalah sendiri tanpa bersinergi dengan pihak lain. Dengan ta‟awun, pemerintah, lembaga zakat, para ulama, organisasi Islam dan berbagai LSM dapat bahu-membahu memadukan kekuatan finansial, manajemen, sumber daya manusia, metodologi, dan penentuan kebijakan sehingga tercipta sinergi yang efektif dalam melaksanakan pemberdayaan dan mengentaskan kemiskinan.24
c. Prinsip Persamaan
Prinsip persamaan adalah prinsip yang berdiri di atas dasar akidah yang sama sebagai buah dari prinsip keadilan. Islam memandang tiap orang secara individu, bukan secara kolektif sebagai komunitas yang hidup dalam sebuah Negara. Manusia dengan segala perbedaanya semua adalah hamba Allah, tidak ada perbedaan dalam kedudukan sebagai manusia, juga dalam hak dan kewajibannya.
Bahkan setiap kebutuhan dasar manusia sudah diatur secara
24 Ibid., 36.
menyeluruh, berikut kemungkinan tiap orang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan sekunder dan tersiernya sesuai dengan kadar kesanggupan. Dalam prinsip persamaan, tidak ada kelebihan sebagian atas yang lain dari segi asal dan penciptaan. Perbedaan hanyalah dari segi kemampuan, bakat, amal dan usaha, dan apa yang menjadi tuntutan pekerjaan dan perbedaan profesi. Islam juga tidak mengukur hierarki status social sebagai perbedaan. Sebab yang membedakan adalah ukuran ketinggian derajat dari ketaqwaannya kepada Allah.
Dengan demikian, semua manusia memiliki kesempatan yang sama untuk dapat berdaya.25
25 Adib Susilo, “Model Pemberdayaan Masyarakat Persperktif Islam”, FALAH: Jurnal Ekonomi Syariah, Vol. 1, No. 2, Agustus 2016, 202.
A. Jenis dan Sifat Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research). Kartini Kartono mengemukakan penelitian lapangan pada hakekatnya merupakan metode untuk menemukan secara khusus dan realistis apa yang tengah terjadi pada suatu saat di tengah masyarakat.1
Penelitian lapangan ini, peneliti berusaha mencari data primer yang diperoleh secara langsung dari kegiatan pelaksanaan wakaf. Untuk mendukung data primer, juga dibutuhkan data dari pustaka yaitu mencari data-data sekunder yang didapat dari menelaah dan mempelajari dokumen-dokumen, buku-buku, hasil penelitian yang berupa laporan-laporan dan lain sebagainya yang berkaitan dengan penelitian.2
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwasannya peneliti berusaha mencari informasi dari para informan untuk mengetahui bagaimana implementasi wakaf produktif yang ada di Kecamatan Paurbolinggo, Lampung Timur dengan mengumpulkan informasi dari wawancara maupun dokumen-dokumen yang berkaitan dengan penelitian.
Adapun sifat dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Seperti yang disebutkan oleh Denzim dan Licoln mendefinisikan kata kualitatif
1 Kartini Kartono, Pengantar Metodologi Riset Sosial, (Bandung: CV Mundur Maju, 1996), 32.
2 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2012), 137.
dengan menyiratkan penekanan pada proses dan makna yang tidak dikaji secara ketat atau tidak diukur dari sisi kuantitasnya. Pendekatan ini lebih kepada pemahaman yang berdasarkan pada metodologi yang menyelidiki suatu fenomena social dan masalah manusia, dan menekankan sifat realistis yang terbangun secara social serta mempunyai hubungan erat antara peneliti dan subyek yang diteliti.3 Menurut Husein Umar deskriptif adalah menggambarkan sifat sesuatu yang berlangsung pada saat penelitian dilakukan dan memeriksa sebab-sebab dari suatu gejala.4 Menggambarkan dari masalah dan sebab-sebab yang ada pada suatu lembaga tersebut.
Berdasarkan uraian di atas penelitian deskriptif dalam penulisan skripsi ini adalah menggambarkan fakta apa adanya dengan cara sistematis dan akurat. Dalam penelitian ini, peneliti berusaha memaparkan atau menguraikan hasil wawancara dengan perbandingan pustaka yang ada.
B. Sumber Data
Sumber data merupakan salah satu yang paling vital dalam penelitian, oleh karena itu peneliti harus mampu memahami sumber data mana yang harus digunakan dalam penelitiannya.5 Menurut Suharsimi Arikunto, yang dimaksud dengan sumber data dalam penelitian adalah subyek dari mana data diperoleh.6 Data merupakan hasil pencatatan peneliti, baik yang berupa fakta
3 Juliansyah Noor, Metode Penelitian Skripsi, Tesis, Desertasi dan Karya Ilmiah, (Jakarta: Kharista Putra Ulama, 2011), 34.
4 Husein Umar, Metodologi Penelitian Untuk Skripsi dan Tesis Bisnis, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2009), 22.
5 Burhan Bungin, Metodologi Penelitian Sosial dan Ekonomi, (Jakarta: PT. Fajar Interpratana Mandiri, 2013), 129.
6 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Yogyakarta:
Rineka Cipta, 2010), 172.
ataupun angka. Jadi, data dapat diartikan segala fakta dan angka yang dapat
ataupun angka. Jadi, data dapat diartikan segala fakta dan angka yang dapat