BAB II KONSEP, TINJAUAN TEORETIS
2.3. Penelitian Sebelumnya
Banyak hasil penelitian sebelumnya yang relevansi dengan penellitian ini, maka pada sub-bab penelitian sebelumnya penulis hanya mengambil beberapa penelitian pada
bagian ini. Adapun beberapa penelitian sebelumnya, yaitu penelitian mengenai Untaian Kata Leluhur, Kata-kata untuk Bertahan: marjinalitas, emosi, dan kuasa kata-kata magi di kalangan orang Petalangan Riau (Yoonhee Kang, 2005). Penelitian ini ingin menunjukkan subjektivitas dan keragaman marjinalitas dengan mengkaji keterkaitan antara marjinalitas, emosi, dan genre lisan di kalangan orang Petalangan, Riau. Berfokus pada emosi sebagai sarana tafsir dan praktik, kajian ini mengungkap bagaimana wacana kultural khas orang Petalangan mengenai emosi berlaku dalam relasinya dengan marjinalitas melalui praktik bahasa tertentu. Penelian ini juga memperlihatkan, mengapa dan bagaimana orang Petalangan merevitalisasi dan mempergunakan tradisi lisan mereka di tengah perubahan sosial yang terjadi.
Penelitian selanjutnya adalah penelitian yang dilakukan oleh Amanriza, dkk (1989) mengenai Koba Sastra Lisan Orang Riau (dalam Dialek Daerah Rokan Hilir). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesusasteraan Melayu Riau merupakan bagian dari kesusasteraan Nusantara yang tumbuh dan berkemabang di semenanjung Melayu dan di daerah Riau. Sebagai sastra sub-kultur Melayu, maka kesusasteraan Melayu Riau berwujud sebagai sastra lisan atau oral tradition dan tradisi tulis atau written tradition. Tradisi lisan sulit diterka kapan mulainya, barangkali sama tuanya dengan masyarakat Melayu itu sendiri. Tradisi lisan diperkirakan mulai ketika masuknya pengaruh Islam di Semenanjung Melayu sekitar abad ke-7 Masehi. Tardisi tulis mengalami perkembangan pesat dari abad ke-14 sampai abad ke-19 dengan mempergunakan tulisan Arab. Setelah itu tradisi tulis mempergunakan tulisan Latin.
Kesusasteraan Melayu Riau yang berwujud sastra lisan adalah bagian dari tradisi lisan. Dalam kehidupan orang Melayu Riau, tradisi lisan ini diungkapkan dalam tiga
bentuk pengungkapan, yaitu: (1) pengungkapan melalui kata-kata atau bahasa, (2) pengungkapan melalui bunyi dan, (3) pengungkapan melalui gerak atau tari. Adapun jenis-jenis sastra lisan yang mentradisi pada masyarakat Melayu Riau, antara lain: mantera, pantun, syair, ungkapan (pepatah petitih), seni tutur/teater tutur, kayat, nyanyi panjang, koba. Jenis dan bentuk sastra lisan di atas tidak merata dimiliki oleh pesukuan atau puak yang terdapat dalam masyarakat Melayu Riau. Banyak ragam tradisi lisan ini antara lain disebabkan keadaan alam daerah Riau yang sebagian terdiri dari wilayah lautan dan sebagian lainnya merupakan daratan (hutan belantara) serta pulau-pulau (kepulauan).
Penelitian tradisi lisan oleh Syafa’at, dkk (2008) dengan judul penelitian Negara, Masyarakat Adat dan Kearifan Lokal yang bertemakan “Mendayagunakan Kearifan Lokal”, Pergulatan Masyarakat Adat atau Lokal dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam. Hasil penelitian menguraikan secara kritis tentang pengakuan terhadap eksistensi kearifan lokal dan politik, hukum dan hak masyarakat adat terhadap akses sumber daya alam serta memahami posisi dan kapasitas hukum adat dalam politik pembangunan hukum di Indonesia dalam perspektif Antropologi Hukum.
Penelitian ini juga mendeskripsikan bagaimana pengalaman empiris masyarakat adat dalam mengelola sumber daya alam, hutan, pesisir dan lautan, ruang di atas dan di bawah air secara berkelanjutan dengan menerapkan sistem kearifan lokal. Kemudian mendeskripsikan strategi pengelolaan sumberdaya pesisir dan lautan berdasarkan kearifan lokal terhadap alat penangkapan ikan yang tidak ramah dan cenderung merusak sumber daya pesisir dan lautan.
Penelitian Amri (2011) yang bertajuk Tradisi Lisan Upacara Perkawinan Adat Tapanuli Selatan: Pemahaman Leksikon Remaja di Padangsidimpuan, hasil penelitiannya adalah tradisi lisan pada upacara perkawinan adat Tapanuli Selatan di Padangsidimpuan merupakan suatu kebiasaan yang masih ada di tengah-tengah masyarakat, karena masih kerap terselenggara dengan baik upacara perkawinan adat. Perubahan yang terjadi pada tradisi upacara perkawinan adat, akibat perkembangan zaman, sehingga tradisi masyarakat yang menjadi kebiasaan tersebut sedikit demi sedikit mulai disederhanakan, karena yang sebelumnya tujuh hari dan tiga hari, kini lebih sering satu hari saja. Faktor penyebabnya adalah finansial dan efektifitas waktu, sehingga penyelenggaraan upacara perkawinan adat mulai disederhanakan.
Tradisi lisan pada upacara adat di Padangsidimpuan, setelah dianalisis leksikon yang berasal dari lingkungan sebanyak 264 kata. Penyebab terjadinya penyusutan pemahaman leksikon pada komunitas remaja di Padangsidimpuan, karena faktor internal penyebab terjadinya penyusutan pemahaman leksikon tradisi lisan pada upacara perkawinan adat di Kota Padangsidimpuan, karena remaja tidak memahami upacara perkawinan adat Tapanuli Selatan. Remaja tidak memahami urutan/kronologis upacara perkawinan adat dan remaja tidak memahami jenis-jenis upacara perkawinan adat. Remaja tidak mengetahui apa pengukur besar kecilnya upacara perkawinan adat. Remaja jarang mendengar leksikon pronominal dan tidak memahami leksikon adat dan mereka tidak berusaha untu mencari tahu (bertanya) agar memahami makna leksikon tersebut kepada pelaku adat.
Penelitian Suastika (2011) yang bertajuk Tradisi Lisan (Satua) di Bali Kajian Bentuk, Fungsi, dan Makna. Hasil penelitiannya adalah tradisi lisan di Bali, yang dalam
istilah masyarakat Bali masatua telah lama dikenal. Dalam tradisi masatua ini peranan orang tua, yaitu ayah ibu, kakek nenek sangatlah penting melakukan usaha berupa menyampaikan cerita lisan ini dengan terus menerus sebagai milik bersama di waktu malam ketika akan menidurkan anak-anak dan cucunya. Tradisi masatua di Bali memiliki berbagai fungsi, antara lain untuk hiburan dalam mengisi waktu senggang, menyampaikan berbagai nilai kehidupan lewat tokoh-tokoh dan dialog-dialongya termasuk pula pesan agama dan moral sesuai cara-cara tokohnya menyelesaikan masalah tersebut.
Sebagian masyarakat masih melakukan kegiatan masatua itu, sebagian lagi masyarakat Bali menganggap tradisi itu kurang relevan lagi dalam dunia modern. Ada sebagian pula masyarakatnya menganggap kegiatan masatua tersebut sudah tidak aktual lagi, kemudian menceritakan cerita modern atau wayang, bahkan tokoh-tokoh dari luar negeri yang sedang ngetop di televisi. Kenyataannya tradisi masatua semakin tahun semakin memudar terutama di kota-kota besar.
Penelitian Yunita (2011) yang bertajuk Analisis Semiotik Tradisi Bermantra Pagar Diri di Desa Ujung Gading Julu, Kabupaten Padang Lawas Utara, Provinsi Sumatera Utara, hasil penelitian menunjukkan bahwa mantra pagar diri merupakan salah satu mantra yang termasuk ke dalam tradisi lisan yang perkembangannya dilakukan secara turun temurun, dari generasi ke generasi. Mantra pagar diri tidak pernah dibukukan, sehingga dalam pelaksanaannya selalu mengalami perbedaan walaupun mereka seketurunan. Kearifan lokal yang terdapat dalam mantra ritual pagar diri dapat dilihat dari kesalinghubungan antara alam semesta dan alam kesadaran manusia yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Kearifan lokal juga terdapat dalam mantra-
mantra, jampi-jampi, nyanyian, pepatah, petuah, kitab-kitab kuno dan sebagainya. Interpretasi mantra yang digunakan dalam ritual pagar diri merupakan semiotik yang terdiri atas mantra itu sendiri sebagai penanda dan suatu persembahan kepada makhluk gaib, semoga pemohon mendapat perlindungan dari segala kejahatan, baik kejahatan yang tampak oleh mata, maupun kejahatan yang kasat mata.
Penelitian Daud (2001), mengenai Mantera Melayu Analisis Pemikiran, menjelaskan bahwa mantera Melayu memang mempunyai banyak fungsi dan digunakan dalam hampir semua aspek hidup individu dan kelompok masyarakat, khususnya untuk kesejahteraan dan keselamatan. Di samping sifatnya yang fungsional, keberkesanan sebuah mantera itu menjamin kedudukan dan pengekalannya dalam masyarakat. Mantera menjadi berkesan karena adanya kuasa magik dan kepadatan serta ketepatan kata dengan suatu maksud, sama ada secara nyata atau simbolik. Ketepatan itu penting untuk memudahkan pengamal berinterakasi dengan Allah, makhluk gaib, roh seseorang dan sebagainya. Mantera sebagai pernyataan sastra memang mempunyai nilai estetik, terutama, apabila dibaca menimbulkan irama yang menarik karena terdapatnya pola rima, aliterasi, asonansi dan perulangan berupa anaphora, epifora, dan lain-lain. Dari segi lain mantera dengan jelas memancarkan world-view dan pemikiran orang Melayu berhubung dengan kosmologi, kepercayaan warisan, ketuhanan, makhluk gaib, hakikat diri dan lain- lain. Sehubungan itu mantera memang boleh diterima sebagai dokumen sosiobudaya dan sukar ditandingi karya-karya lain dalam memberikan gambaran tentang masyarakat Melayu.
Penelitian mengenai mantra oleh Jalil, et al. (2008), menjelaskan bahwa mantra merupakan sastra lisan. Sastra lisan adalah susastra yang perkembangannya secara lisan
atau dari mulut ke mulut. Sastra lisan ini di Nusantara yang paling awal dikenal dan dikembangkan oleh masyarakat tradisional, sebagian pakar lainnya menyebutnya dengan sastra rakyat atau sebagian lainnya mengelompokkan kepada tradisi lisan. Hal tersebut terkait dengan medium pengucapan sastra itu sendiri. Dalam hal demikian, masyarakat tradisional di Nusantara memang terlebih dahulu mendayagunakan bahasa lisan (orality) sebagai medium pengucapan sastra daripada bahasa tulis (literacy) yang baru dikenal dan digunakan kemudian secara intensif sekitar abad ke-19.
Mantra oleh para pakar dan pengamat kebudayaan, dianggap sebagai susastra yang paling awal dikenal oleh manusia. Sastra lisan mantra dapat dikategorikan sebagai sastra lama atau sastra tradisional. Sastra lama dapat berbentuk puisi dan prosa. Jenis sastra yang termasuk jenis puisi ini misalnya, mantra, pantun, syair, dan lain-lain. Masyarakat tradisional bahkan hingga kini, mantra dan segala aspek yang berhubungan dengannya masih berperanan dalam sebagian kegiatan hidup masyarakat.
Penelitian selanjutnya adalah penelitian yang dilakukan oleh Hamidy (2010) yang berjudul Menumbai: Upacara Mengambil Madu Lebah Dalam Masyarakat Petalangan Kabupaten Kampar Daerah Riau. Hasil penelitiannya membicarakan suatu kegiatan budaya seperti menumbai (upacara mengambil madu lebah) yang merupakan suatu kajian yang mempelajari aspek-aspek manusia atau kelompok masyarakat tertentu dalam hubungannya dengan alam pikiran, perasaan dan cara mereka memandang alam. Penelitian ini mengamati ekspresi manusia dalam bentuk dan arti simbol yang dipergunakan oleh suatu komunikasi tertentu. Penelitian ini juga mencoba membaca dan menafsirkan berbagai simbol dan kiasan yang digunakan dalam kehidupan masyarakat Petalangan.
Upacara menumbai memperlihatkan diri dalam warna kehidupan masyarakat Petalangan sebagai kekuatan kiasan melalui pengucapan halus (mantera). Karena itu menumbai juga memperlihatkan dirinya merupakaan kekuatan batin, yang sering dalam istilah antropologi disebut kekuatan magis. Meskipun demikian, yang lebih penting lagi tentulah makna upacara sebagai budaya manusia Petalangan dalam keseluruhan kegiatan kehidupan mereka.
Kekuatan kiasan yang mempergunakan pengucapan halus berupa pantun-pantun dan mantera dalam menumbai lebah sialang, bisa dilihat dari segi dunia budaya pada sisi esoteriknya, serta yang utama dari segi alam pikiran pesukuan Petalangan dari warisan tradisi lama.
Penelitian selanjutnya yang ada kaitannya dengan penelitian ini, adalah penelitian yang dilakukan oleh Wan Syaifudin (1999) dengan judul penelitian Tarian Lukah atau Jambang Lukah Menari. Hasil penelitiannya membahas mengenai ritual tarian lukah yang di masyarakat Melayu Pesisir Timur tepatnya pada masyarakat Melayu Pesisir Asahan, yang berkaitan dengan teks-teks atau mantera Tarian Lukah atau Jambang Lukah Menari. Selain itu, pada penelitiannya juga membahas mengenai paparan etnografi masyarakat Melayu Pesisir Asahan yang menghubungkan tradisi naratif suatu kebudayaan dalam kegiatan lisan khalayaknya dengan lembaga masyarakat.
Penelitian di atas sangat berhubungan dengan penelitian yang dilakukan penulis. Namun, ada perbedaan antara dua penelitian ini, yaitu pada penelitian sebelumnya melakukan penelitian terhadap teks-teks atau mantera tarian lukah atau jambang lukah menari di masyarakat Melayu Pesisir Asahan. Sedangkan penelitian yang dilakukan penulis adalah Tradisi Mantera Ritual Lukah Gilo pada Masyarakat Suku Bonai
Provinsi Riau. Ruang lingkup penelitian ini adalah membahas paparan etnografi masyarakat Suku Bonai serta menganalisis bentuk semiotik dari peralatan pembuatan LG dan mantera LG.
Hasil penelitian Sinar (2011, 2012) tentang analisis multimodal imaji visual menjelaskan proses Conversion pada teks menemukan bahwa Aktor dan Gol sekaligus sebagai partisipan aktif dan pasif yang menunjukkan efek secara langsung dari suatu imaji. Sementara itu, Setting berfungsi sebagai latar yang menjelaskan keunggulan dan tonjolan yang terlihat dalam imaji. Hubungan Additive dalam teks multimodal menjelaskan berbagai informasi visual melalui teks verbal yang sifatnya saling melengkapi dan hubungan Comparative melalui Setting yang terdapat dalam imaji tersebut. Metafungsi interpersonal teks visual di atas menjelaskan hubungan antara Partisipan dengan masyarakat pembaca. Interaksi antara Partisipan dengan pembaca diwujudkan melalui kontak mata yang berfungsi sebagai Demand. Dalam hal ini, Partisipan sedang mengungkapkan sesuatu mengenai produk yang ditawarkan, yang kemudian dapat diketahui melalui berbagai teks verbal yang menunjukkan kelebihan- kelebihan produk tersebut sekaligus efek yang diberikannya melalui Gol. Salience sebagai komponen utama metafungsi tekstual menunjukkan pesan utama teks melalui Partisipan. Pesan utama yang dijelaskan Partisipan kepada pembaca adalah pesan yang terdapat dalam imaji yang ditampilkan.