• Tidak ada hasil yang ditemukan

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2 Penelitian Tahap Kedua

Penelitian tahap kedua dilakukan dengan melihat proses tingkah laku ikan selama proses pemingsanan, waktu onset pingsan ikan dan tingkat kelulusan hidup ikan bawal air tawar setelah dilakukan proses anestesi.

4.2.1 Pengamatan tingkah laku ikan selama proses pemingsanan

Pengamatan terhadap perubahan tingkah laku ikan selama proses pemingsanan dilakukan setiap 15 menit dengan percobaan trial and run yang dimulai dari menit ke-0 sampai ikan tidak sadar (pingsan). Deret perlakuan yang dilakukan adalah ikan bawal diberi bahan anestesi hati pisang tunas , muda dan tua dengan konsentrasi 5 %, 10 %, dan 15 %. Hasil pengamatan terhadap

16

perubahan tingkah laku ikan pada tiap-tiap perlakuan dapat dilihat pada Tabel 5, 6 dan 7.

Tabel 5 Pengamatan tingkah laku ikan selama proses pemingsanan perlakuan tunas

*Rata-rata waktu pingsan ikan

Hasil pengamatan pada Tabel 5 menunjukkan bahwa perlakuan tunas memberikan pengaruh yang lambat terhadap aktivitas ikan uji. Hal ini dapat terlihat dari lamanya waktu yang dibutuhkan oleh ikan uji hingga mencapai tahap pingsan. Perubahan aktivitas ikan uji mulai terlihat pada menit ke-105 hingga menit ke-120. Pada perlakuan konsentrasi 5 % ikan dimasukkan ke dalam tempat pemingsanan ikan memasuki masa normal, memasuki menit ke 15-60 ikan mulai kehilangan keseimbangan dan memasuki tahap pingsan pada menit ke 135, 150 dan 150. Perlakuan konsentrasi 10 % ikan dimasukkan ke dalam wadah dalam keadaan normal. Ikan mulai kehilangan keseimbangan pada waktu 15-60 menit dan ikan memasuki tahap pingsan pada menit ke 125, 125, dan 140 , sedangkan pada perlakuan konsentrasi 15 % ikan dimasukkan ke dalam wadah dalam keadaan normal. Ikan mulai kehilangan keseimbangan pada menit ke 15-60 dan ikan memasuki tahap pingsan pada menit ke 110, 115, 125. Kandungan kimia pada tunas pisang masih dalam tahap pembentukan sehingga kandungan kimia Waktu

(menit)

5 % 10 % 15 %

0-15 Normal Normal Normal

15-30 Kehilangan keseimbangan Kehilangan keseimbangan Kehilangan keseimbangan 30-45 Kehilangan keseimbangan Kehilangan keseimbangan Kehilangan keseimbangan 45-60 Kehilangan keseimbangan Kehilangan keseimbangan Kehilangan keseimbangan 60-75 Pingsan ringan Pingsan ringan Pingsan ringan 75-90 Pingsan ringan Pingsan ringan Pingsan ringan 90-105 Pingsan ringan Pingsan ringan Pingsan ringan 105-120 Pingsan ringan Pingsan ringan Pingsan (116)* 120-135 Pingsan ringan Pingsan (130)*

17

yang bereaksi pada proses anestesi belum terlalu berpengaruh sehingga menyebabkan waktu pingsan yang lama. Tunas pisang adalah bentuk awal dari pembentukan hati batang pisang dan kandungan kimia yang terkandung belum banyak (Maslukhah 2008). Pada perlakuan hati batang pisang muda juga diamati tingkah laku selama proses pemingsanan. Hasil pengamatan tingkah laku pada perlakuan ekstrak hati batang pisang muda dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6 Pengamatan tingkah laku ikan selama proses pemingsanan perlakuan hati batang pisang muda

*Rata-rata waktu pingsan ikan

Hasil pengamatan pada Tabel 6 pada perlakuan hati batang pisang yang muda menunjukkan mulai memberikan pengaruh terhadap ikan yang diujikan. Pengaruh yang diberikan tersebut dilihat dari gerakan operkulum yang mulai melemah, sirip punggung yang meregang, sesekali mulut disembulkan ke permukaan serta sebagian ikan memasuki fase pingsan ringan dan pingsan berat. Perubahan aktivitas ikan uji mulai terlihat pada menit ke-60 hingga menit ke-100. Pada perlakuan konsentrasi 5 % ikan dimasukkan dalam wadah dalam keadaan normal. Ikan mulai kehilangan keseimbangan pada waktu 15-60 menit dan memasuki tahap pingsan pada menit ke 125, 145 dan 145. Perlakuan konsentrasi Waktu

(menit)

5 % 10 % 15 %

0-15 Normal Normal Normal

15-30 Kehilangan keseimbangan Kehilangan keseimbangan Kehilangan keseimbangan 30-45 Kehilangan keseimbangan Kehilangan keseimbangan Kehilangan keseimbangan 45-60 Kehilangan keseimbangan

Pingsan ringan Pingsan ringan

60-75 Pingsan ringan Pingsan ringan Pingsan ringan 75-90 Pingsan ringan Pingsan ringan Pingsan ringan 90-105 Pingsan ringan Pingsan (90)* Pingsan (90)* 105-120 Pingsan ringan

120-135 Pingsan ringan 135-150 Pingsan (138)*

18

10 % ikan dimasukkan ke dalam wadah dalam keadaan normal. Ikan mulai kehilangan keseimbangan pada waktu 15-45 menit dan memasuki tahap pingsan pada menit ke 90, 95, dan 95, sedangkan pada perlakuan konsentrasi 15 % ikan dimasukkan ke dalam wadah dalam keadaan normal. Ikan mulai kehilangan keseimbangan pada waktu 15-45 menit dan ikan memasuki tahap pingsan pada menit ke 80, 95, dan 95. Proses pingsan ringan yang terjadi ikan mulai mengalami kehilangan keseimbangan hingga kurangnya reaksi terhadap rangsangan. Menurut Mckelvey dan Wayne (2003) kesadaran mulai hilang namun refleks masih ada, pupil membesar (dilatasi) tetapi akan menyempit (konstriksi) ketika ada cahaya masuk. Tahap kedua atau stadium eksitasi berakhir ketika hewan menunjukkan tanda-tanda otot relaksasi, respirasi menurun dan refleks juga menurun. Pada perlakuan hati batang pisang tua juga diamati tingkah laku selama proses pemingsanan. Hasil pengamatan tingkah laku pada perlakuan ekstrak hati batang pisang tua dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7 Pengamatan tingkah laku ikan selama proses pemingsanan perlakuan hati batang pisang tua

Waktu (menit)

5 % 10 % 15 %

0-15 Normal Normal Normal

15-30 Kehilangan keseimbangan Kehilangan keseimbangan Kehilangan keseimbangan 30-45 Kehilangan keseimbangan Kehilangan keseimbangan Kehilangan keseimbangan 45-60 Kehilangan keseimbangan

Pingsan ringan Pingsan ringan

60-75 Pingsan ringan Pingsan (75)* Pingsan (66)* 75-90 Pingsan ringan

90-105 Pingsan ringan 105-120 Pingsan ringan 120-135 Pingsan (130)* *Rata-rata waktu pingsan ikan

Berdasarkan Tabel 7 pada perlakuan hati batang pisang yang tua menunjukkan mulai memberikan pengaruh terhadap ikan yang diujikann. Pengaruh yang diberikan tersebut dilihat dari gerakan operkulum yang mulai

19

melemah, sirip punggung yang meregang, sesekali mulut disembulkan ke permukaan serta sebagian ikan memasuki fase pingsan ringan dan pingsan berat. Perubahan aktivitas ikan uji mulai terlihat pada menit ke-45 hingga menit ke-60. Pada perlakuan konsentrasi 5 % memasuki tahap pingsan pada menit ke 130, 130 dan 145. Perlakuan konsentrasi 10 % memasuki tahap pingsan pada menit ke 80,75, dan 75, sedangkan pada perlakuan konsentrasi 15 % ikan memasuki tahap pingsan pada menit ke 60, 70, dan 70.

Pada Tabel 5, 6 dan 7 tahap-tahap yang dilalui ikan saat dilakukan anestesi dimulai dari fase normal hinggan fase pingsan. Fase normal yaitu fase ketika ikan masih reaktif terhadap rangsangan luar, pergerakan operculum dan kontraksi otot normal selanjutnya ikan memasuki fase kehilangan keseimbangan. Fase ini ikan mengalami kontraksi otot lemah, berenang tidak teratur memberikan reaksi hanya terhadap rangsangan getaran dan sentuhan yang sangat kuat dan pergerakan operculum cepat. Fase pingsan ringan ikan mulai mengalami reaktifitas terhadap rangsangan luar sedikit menurun, pergerakan operculum melambat, keseimbangan normal (Tidwel et.al 2004). Ikan memasuki fase pingsan ringan saat tidak mengalami reaktivitas terhadap rangsangan luar, kecuali dengan tekanan kuat. Pergerakan operculum lambat, keseimbangan normal. Menurut Pratisari (2010) ikan nila yang mengalami fase pingsan ringan, pingsan berat dan roboh memiliki tingkat respirasi dan metabolisme yang rendah. Dari saat ikan mengalami pingsan ringan sampai pingsan, pengaruh konsentrasi pada perlakuan 10 % dan 15 % tidak menunjukan perbedaan yang nyata secara visual hal ini diduga dosis yang diberikan sudah cukup untuk mempengaruhi sistem syaraf ikan. Pemberian dosis yang berlebih akan menyebabkan kerusakan sistem syaraf dan akan berakibat overdosis atau kematian (Arliansah 2009)

4.2.2 Waktu onset pemingsanan

Waktu onset adalah waktu yang dibutuhkan untuk mencapai suatu keadaan dimana status hewan uji kehilangan kesadaran (Mckelvey dan Wayne 2003). Pencatatan waktu onset pemingsanan ikan bawal dilakukan mulai dari kondisi normal sampai kondisi pingsan. Pencatatan ini bertujuan untuk melihat pengaruh penambahan ekstrak hati hati batang pisang terhadap waktu yang dibutuhkan ikan

20

bawal hingga pingsan. Hasil pengamatan terhadap waktu onset pada penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5 Grafik pengaruh perlakuan terhadap waktu onset

Gambar 5 menunjukkan bahwa pembedaan pemberian ekstrak hati batang pisang tunas, muda dan tua serta perbedaan konsentrasi ekstrak hati batang pisang yang digunakan menyebabkan waktu onset yang berbeda-beda.. Waktu onset paling cepat ditunjukkan oleh perlakuan ekstrak hati atang pisang tua dengan pemberian konsentrasi sebesar 15 %, yaitu selama 66,66 menit. Waktu onset paling lama ditunjukkan oleh perlakuan ekstrak hati batang pisang muda dengan pemberian konsentrasi sebesar 5 %, yaitu selama 145 menit. Perlakuan tunas hati pisang memberikan hasil beda nyata konsentrasi 5 % dan 10 % dengan konsentrasi 15 %. Perlakuan ekstrak hati batang pisang muda memberikan hasil beda nyata konsetrasi 5 % dengan konsentrasi 10 % dan 15 % sedangkan pada perlakuan hati batang pisang tua konsentrasi 5 % memberikan hasil berbeda nyata terhadap konsentrasi lainnya.

Berdasarkan Gambar 5 dapat dilihat bahwa waktu tercepat didapatkan pada konsetrasi 15 % pada perlakuan ekstrak hati batang pisang tua yang disebabkan karena pada hati batang pisang tua memiliki kandungan bahan-bahan yang lebih tinggi daripada hati batang pisang yang tunas dan muda. Menurut Djulkarnain (1998) hati batang pohon pisang dapat dijadikan penghilang rasa sakit. Kandungan bahan-bahan kimia antara lain flavonoid dan saponin. Flavonoid

21

merupakan senyawa polifenol yang merupakan satu golongan fenol alam yang terbesar dan bersifat polar sehingga mudah larut dalam pelarut polar seperti air, etanol, metanol, butanol, aseton, dan sebagainya (Markham 1988). Pengujian terhadap waktu onset akibat pemberian ekstrak hati batang pisang pada penelitian ini dapat disimpulkan kurang memuaskan karena waktu onset yang dibutuhkan ikan hingga pingsan cukup lama. Menurut Gunn (2001), anestesi yang ideal adalah anestesi yang mampu memingsankan ikan kurang dari tiga menit. Lamanya waktu yang dibutuhkan ekstrak hati batang pisang untuk memberikan pengaruh terhadap aktivitas ikan uji diduga karena konsentrasi uji yang diberikan belum cukup untuk mempengaruhi keseimbangan fungsi saraf dan jaringan otak ikan uji.

4.2.3 Tingkat kelulusan hidup (survival rate) ikan

Pengujian terhadap tingkat kelulusan hidup atau survival rate (SR) pada penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui efektivitas dari penggunaan ekstrak hati hati batang pisang sebagai bahan anestesi dan mengetahui konsentrasi optimum yang sebaiknya digunakan pada proses imotilisasi ikan untuk kemudian diterapkan pada sistem transportasi ikan. Pengujian terhadap tingkat kelulusan hidup juga penting dilakukan untuk mengetahui konsentrasi uji mana yang menyebabkan tingginya kematian pada ikan uji. Pengujian terhadap nilai SR dapat dilihat pada Gambar 6.

Gambar 6 Grafik tingkat kelulusan hidup ikan bawal air tawar pada waktu anestesi

22

Gambar 6 menunjukkan bahwa pembedaan pemberian ekstrak hati hati batang pisang tunas, muda dan tua setelah perbedaan konsentrasi ekstrak hati hati batang dengan melihat tingkat kelulusan hidup ikan bawal air tawar setelah diberikan anestesi. Berdasarkan gambar 3 dapat dilihat kandungan ekstrak hati batang pisang tua dengan konsentrasi 15 % didapatkan tingkat kelulusan ikan sebesar 26,67. Konsentrasi 5 % di hati batang tunas dan muda didapatkan kelulusan hidup ikan sebesar 93,33 %. Pada konsentrasi 10 % pada hati batang tunas dan muda didapatkan kelulusan hidup ikan sebesar 86,67 %. Perlakuan tunas hati pisang memberikan hasil berbeda nyata konsentrasi 5 % dan 10 % dengan konsentrasi 15 %. Perlakuan ekstrak hati batang pisang muda memberikan hasil beda nyata konsetrasi 5 % dan 10 % dengan konsentrasi 15 % sedangkan pada perlakuan hati batang pisang tua konsentrasi 5 % memberikan hasil berbeda nyata terhadap konsentrasi lainnya.

Kelulusan hidup ikan bawal air tawar terkecil didapatkan pada ekstrak hati batang tua sebesar 15 %. Saat ikan diberikan anestesi ikan menjadi shock karena perubahan lingkungan sehingga ikan melakukan gerakan yang berlebihan. Pada proses shock teersebut menyebabkan ikan mengalami kematian karena pada kondisi tersebut ikan yang stres akan terjadi peningkatan asam laktat dalam darah (Pratisari 2010). Pada konsentrasi yang tinggi, kandungan bahan kimia di hati batang pisang juga tinggi seperti saponin. Saponin juga bersifat bisa menghancurkan butir darah merah lewat reaksi hemolisis, bersifat racun bagi hewan berdarah dingin, dan banyak diantaranya digunakan sebagai racun ikan (Cheek 2005).

Dokumen terkait