• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS

F. Penelitian Terdahulu dan Pengembangan Hipotesis

1. Pengaruh Kompensasi Manajemen eksekutif Terhadap Kinerja

Perusahaan

Penelitian mengenai kebijakan kompensasi manajemen eksekutif telah dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya baik menggunakan kompensasi manajemen eksekutif dalam bentuk kas saja ataupun kompensasi manajemen eksekutif dalam bentuk saham opsi kepemilikan yang biasanya dilakukan di negara maju, maupun menggunakan data total kompensasi yang diterima oleh dewan direksi dan komisaris. Cole & Mehran (1991) membuktikan bahwa kebijakan kompensasi eksekutif dapat memotivasi para manajemen eksekutif dalam pencapaian kinerja perusahaan yang diproksikan dengan Return on Asset (ROA) dan Return on Equity (ROE).

Bartema & Gomes (1998) membuktikan bahwa pengaruh kompensasi eksekutif terhadap kinerja perusahaan lemah dan tidak signifikan secara statistik serta Mathis & Jackson (2002: 191) yang mengemukakan bahwa tujuan sistem kompensasi manajemen eksekutif terkait dengan kinerja perusahaan banyak mendapat kritik, tujuan ini diyakini tidak selalu terpenuhi, sehingga masalah yang muncul dan sering dipertanyakan adalah program kompensasi manajemen eksekutif yang pada umumnya dibayarkan dalam jumlah yang cukup besar oleh perusahaan apakah dapat efektif memotivasi manajemen eksekutif untuk menciptakan dan meningkatkan kinerja perusahaan atau kurang efektif karena dimanfaatkan untuk memperkaya kepentingan pribadi namun tidak sejalan dengan peningkatan kinerja dan keuntungan para pemegang saham.

commit to user

Hayes & Schaefer (1997) melakukan pengujian atas kompensasi kas yang dibayarkan oleh perusahaan kepada dewan manajemen eksekutif terhadap capaian kinerja saham pada tahun t dan kinerja finansial yang akan datang (tahun t+1) dengan hasil pengujian yaitu terdapat pengaruh yang signifikan antara kompensasi kas manajemen eksekutif terhadap kinerja perusahaan yang diproksikan dengan Return on Equity (ROE), sales dan return market.

Kato & Long (2005) telah melakukan penelitian mengenai kompensasi eksekutif dan kinerja perusahaan, hasil penelitian membuktikan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kompensasi yang diterima pihak eksekutif dengan kinerja perusahaan pada periode yang akan datang yaitu pada tahun (t+1) yang diproksikan dengan pertumbuhan pendapatan penjualan (sales growth).

Matolcsy (2007) juga melakukan penelitian serupa namun dengan menggunakan spesifikasi jenis kompensasi kas manajemen eksekutif, hasil penelitian ini membuktikan bahwa kebijakan kompensasi kas manajemen eksekutif memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap kinerja perusahaan pada periode selanjutnya yang diukur dengan delta laba setelah pajak (earning after tax), trading profit over operating asset (TP/OA), earning before interest and tax over total asset (EBIT/TA) serta Return on Equity (ROE). Namun hubungan positif ini tidak dapat diterapkan ketika perusahaan sedang berada dalam kondisi perekonomian yang menurun/buruk.

Hasil penelitian ini didukung pula oleh Balachandran (2009), yang memberikan hasil pengujian bahwa kompensasi direksi memiliki hubungan yang positif dengan pertumbuhan labaperusahaan khususnya pertumbuhan yang dipicu

commit to user

oleh kegiatan manajamen yang berfokus pada peningkatan profitabilitas, karena didalam penelitiannya sumber pertumbuhan laba perusahaan dipisahkan menjadi dua yaitu pertumbuhan laba yang dipicu oleh fokus kegiatan manajemen dalam meningkatkan profitabilitas (profitability driven growth) dan kelompok pertumbuhan labayang dipicu oleh kegiatan investasi (investment driven growth). Atas dasar hasil-hasil penelitian terebut di atas, maka hipotesis penelitian ini dapat dinyatakan seperti berikut.

H1: Terdapat pengaruh kompensasi manajemen eksekutif (COMPEN) pada

tahun t terhadap kinerja perusahaan (TOBINSQ) tahun (t+1).

2. Pengaruh Kompensasi Manajemen eksekutif Terhadap Kinerja

Perusahaan Melalui Kebijakan Dividen Sebagai Variabel Intervening

Beberapa penelitian mengenai hubungan kausalitas kebijakan kompensasi manajemen eksekutif telah dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya baik yang menjadikan kompensasi manajemen eksekutif sebagai variabel independen maupun variabel dependen. Dalam penelitian ini kompensasi manajemen eksekutif ditempatkan sebagai variabel independen.

Chang (1993) telah melakukan penelitian hubungan mengenai kompensasi manajemen eksekutif terhadap dividend payout, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hubungan antara kompensasi dan kebijakan dividen digunakan sebagai suatu alat untuk menghindari kegiatan reinvestasi yang berlebihan atau nilai NPV yang negatif. Atas kegiatan investasi yang buruk seperti itu akan mengakibatkan pendapatan yang buruk pula pada periode selanjutnya dan

commit to user

jumlahnya relatif lebih kecil dibandingkan dengan besarnya dividen yang telah dibagikan pada tahun sebelumnya, sehingga pada tahun selanjutnya perusahaan tidak mampu membayarkan dividen. Para pemegang saham harus mempertimbangkan keyakinan mereka mengenai perkiraan manajemen atas keuntungan reinvestasi relatif dan juga tidak lupa mempertimbangkan probabilitas pembayaran dividen oleh perusahaan.

Manajemen eksekutif dengan penerimaan kompensasi yang besar akan bekerja lebih produktif sehingga membutuhkan jumlah pendanaan yang lebih banyak dan memilih lebih sedikit utang sehingga menetapkan dividen yang rendah (Bhattacharyya, 2007). Pada tahun berikutnya Bhattacharyya et al. (2008) melanjutkan penelitiannya dengan menggunakan model penelitian lain yaitu Tobit’s Analysis, memberikan hasil pengujian yang sama yaitu adanya hubungan yang signifikan antara kompensasi manajemen eksekutif dengan besarnya dividen yang dibagikan dengan menggambarkan bahwa perusahaan yang memiliki kinerja baik adalah manajemen eksekutif yang diberikan kompensasi yang lebih tinggi oleh perusahaannya, dan mereka mengeluarkan kas perusahaan untuk membayar dividen dengan jumlah yang lebih rendah dilihat rasio dividend payout-nya.

DeAngelo et al. (2004) menyatakan bahwa perusahaan membayar dividen untuk mengurangi agency problem, Tirole (2005) menunjukkan bahwa manajer menghadapi trade-off dalam menentukan tingkat pembayaran dividen. Pengaruh langsung pembayaran kompensasi manajerial dapat ditentukan oleh desain skema kompensasi atau dengan selalu mempertimbangkan kesejahteraan para pemegang saham saat ini dan yang akan datang.

commit to user

Arnott & Asness (2001) melakukan pengujian atas pengaruh kebijakan dividen perusahaan terhadap kinerja perusahaan pada tahun-tahun yang akan datang, hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara dividend payout ratio (DPR) dengan kinerja perusahaan yang diukur dengan pertumbuhan earning perusahaan (earning growth).

Seperti yang telah dijelaskan di atas dalam perumusan masalah terkait dengan masalah kemampuan kompensasi manajemen eksekutif mempengaruhi kinerja perusahaan secara langsung dan/atau dapat melalui kebijakan dividen sebagai variabel intervening yang menjembatani hubungan kompensasi manajemen eksekutif dengan kinerja perusahaan. Sehingga dapat dibentuk satu hipotesis penelitian lagi yaitu.

H2: Terdapat pengaruh kompensasi manajemen eksekutif (COMPEN)

tahun t terhadap kinerja perusahaan (TOBINSQ) tahun (t+1) melalui

kebijakan dividen tahun t sebagai variabel intervening.

Dokumen terkait