• Tidak ada hasil yang ditemukan

II TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Penelitian Terdahulu

2.3.1 Penelitian Terdahulu Terkait dengan Kelinci

Penelitian terdahulu yang terkait dengan kelinci dalah penelitian yang dilakukan oleh Widagdho (2008) dan Agustian (2011). Penelitian yang dilakukan

oleh Widagdho (2008) menganalisis Kelayakan Usaha peternakan Kelinci Pada Asep Rabbit di Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Jawa Barat. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis aspek-aspek dalam kelayakan usaha secara deskriptif yang meliputi aspek pasar, aspek teknis, aspek manajemen, aspek hukum dan aspek sosial, menganalisis tingkat kelayakan finansial peternakan kelinci, melakukan analisis switching value untuk melihat tingkat kepekaan kelayakan usaha peternakan kelinci Asep Rabbit Project bila terjadi perubahan-perubahan dalam faktor produksi. Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah anlisis kualitatif meliputi analisis aspek pasar, teknis, manajemen, hukum, dan sosial. Sedangkan analisis kuantitatif menggunakan analisis finansial seperti NPV, IRR, R/C, Payback Period dan switching value.

Berdasarkan analisis kelayakan yang meliputi aspek pasar, aspek manajemen, dan aspek teknis maka pengusahaan peternakan kelinci pada perencanaan proyek ketiga pola usaha layak untuk dilaksanakan dan berdasarkan analisis kelayakan finansial pada pengusahaan peternakan kelinci pada ketiga pola usaha layak untuk dilaksanakan. Namun usaha yang paling menguntungkan untuk dilaksanakan sebagai pengembangan usaha Asep’s Rabbit Project yaitu usaha pola usaha I karena memiliki nilai NPV tertinggi dibandingkan kedua pola lainnya serta biaya yang dikeluarkan pada pola I lebih tinggi sehingga pada pola I mendapatkan keuntungan tertinggi dibandingkan kedua pola lainnya. Berdasarkan analisis switching value, penurunan harga output dan penurunan produksi merupakan faktor yang sensitif terhadap perubahan. Peningkatan pada harga indukan dan harga pakan tidak sensitif terhadap perubahan. Hal tersebut dikarenakan biaya pada pengadaan indukan jauh lebih kecil daripada penerimaan yang didapatkan dari pengusahaan peternakan kelinci, walaupun persentase biaya pengeluaran pakan terhadap tolal biaya operasional cukup tinggi.

Penelitian yang dilakukan oleh Agustian (2011) menganalisis persepsi konsumen terhadap daging Kelinci di Kota Bogor, memiliki tujuan yaitu menganalisis karakteristik konsumen daging kelinci di Kota Bogor, mengetahui persepsi konsumen Kota Bogor terhadap daging kelinci, menganalisis variabel apa saja yang mempengaruhi persepsi konsumen terhadap daging kelinci di Kota Bogor, mengetahui konsumen potensial daging kelinci dan memberikan

rekomendasi bauran pemasaran produk daging kelinci di Kota Bogor. Metode analisis menggunakan metode deskriptif dan analisis regresi logistik biner.

Karakteristik konsumen daging kelinci yang ada di Kota Bogor dapat dibagi berdasarkan usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan dan pengeluaran. Berdasarkan usia, mayoritas konsumen berada pada usia produktif yaitu antara 31-40 tahun. Konsumen tersebut mayoritas berjenis kelamin perempuan dengan tingkat pendidikan tinggi yang didominasi oleh sarjana. Adapun pekerjaan sebagian besar dari konsumen daging kelinci adalah pegawai swasta. Untuk tingkat pengeluaran, sebagian besar konsumen berada pada kisaran antara Rp 1.620.000,00 hingga Rp 2.700.000,00.

Persepsi konsumen dari aspek budaya adalah sangat baik ditinjau dari adat istiadat dan agama konsumen. Dari aspek sosial, konsumen memberikan persepsi yang baik terhadap daging kelinci. Untuk aspek psikologis konsumen juga memberikan persepsi yang baik bila ditinjau dari aspek psikologis, artinya bahwa hambatan prikologs tidak menjadi pengaruh yang signifikan bagi konsumen daging kelinci untuk melakukan konsumsi. Untuk persepsi keseluruhan, konsumen memberikan persepsi yang baik terhadap daging kelinci baik itu ditinjau dari aspek budaya, sosial, psikologis dan aspek bauran pemasaran. Variabel yang memiliki pengaruh nyata dalam pembentukan persepsi konsumen terhadap daging kelinci ini adalah variabel jenis kelamin. Konsumen yang berjenis kelamin perempuan cenderung memberikan persepsi yang baik terhadap daging kelinci 8,3 kali dibandingkan konsumen pria.

2.3.2 Penelitian Terdahulu Terkait dengan Tataniaga Komoditi Peternakan Penelitian terdahulu terkait dengan tataniaga seperti yang dilakukan oleh Ratniati (2007) dengan judul Analisis Sistem Pemasaran Ternak Sapi Potong PT Great Giant Livestock Company (GGLC) yang berlokasi di Lampung Tengah yang menganalisis saluran pemasaran, fungsi-fungsi pemasaran, struktur biaya, besar biaya, struktur perilaku dan pelaksanaan pasar, margin pemasaran, R/C ratio dan farmer’s share. Metode pengambilan data untuk analisis lembaga dan saluran pemasaran dilakukan dengan cara penarikan sampel dimana wilayah yang diteliti adalah Jakarta, Bogor dan Lampung. Untuk sampel individu berjumlah 16 responden yang mewakili setiap lembaga yang terlibat yang terdiri dari pedagang

penerima, pedagang pemotong/pengecer, agen dan pedagang pengumpul. Berdasarkan pengamatan, pada wilayah lampung terdapat 8 saluran pemasaran, Bogor terdapat 6 saluran pemasaran dan Jakarta 5 saluran pemasaran. Nilai farmer’s share pada pemasaran sapi potong untuk semua saluran diatas 90 persen. Sistem penentuan harga yang dilakukan oleh PT GGLC berdasarkan pada klasifikasi ternak sapi berdasarkan umur dan jenis kelamin. Dimana harga sapi pejantan lebih tinggi dibandingkan sapi betina.

Penelitian Permadi (2008) mengenai Analisis Tataniaga Kambing Peranakan Ettawa (PE) di Purwarejo Jawa Tengah. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis struktur, perilaku dan keragaan pasar, margin tataniaga dan nilai farmer’s share. Hasil penelitian ini adalah struktur pasar yang dihadapi penjual dan pembeli adalah pasar persaingan tidak sempurna sedangkan pasar yang dihadapi pedagang adalah persaingan monopolistik. Terdapat 4 saluran dalam pemasaran kambing PE dengan sistem penjualan yang dilakukan adalah dengan sistem grading. Grading terbagi menjadi Grade A,B, C dan D. Nilai farmer’s share pada penelitian ini cukup tinggi dengan nilai minimal 80,65 persen.

Penelitian Afrianto (2007) dengan judul analisis Margin Tataniaga dan Keterpaduan Pasar daging Domba yang berlokasi di kabupaten Majalengka Jawa Barat. Tujuan penelitian ini adalah sama dengan yang dilakukan oleh Ratiniati (2007) dan Permadi (2008) yaitu mengidentifikasi pola saluran pemasaran, struktur dan perilaku pasar sera menganalisis marjin tataniaga. Tetapi yang membedakan adalah peneliti juga melakukan analisis keterpaduan pasar antara pemasok dan pasar pengecer daging domba dengan menggunaka data sekunder berupa perkembangan harga rata-rata mingguan daging domba. Pemilihan responden dilakukan dengan metode sensus. Lambaga pemasaran yang terlibat pada penelitian ini adalah 9 orang pedagang pemasok, 18 orang pedagang besar dan 24 pedagang pengecer. Hasil perhitungan pada penelitian ini diketahui bahwa sebaran margin untuk tiap salutan tidak merata.

Penelitian Faisal (2010) dengan judul Analisis Tataniaga Sapi Potong PT Kariyana Gita Utama, Cicurug, Sukabumi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi saluran, lembaga dan fungsi tataniaga sapi potong PT KGU serta menghitung margin tataniaga, farmer’s share, biaya pemasaran, keuntungan dan

struktur pasar tataniaga sapi potong PT KGU. Penelitian ini menggunakan metode Snawball sampling. Berdasarkan penelusuran, didapatkan hasil bahwa saluran pemasaran yang terbentuk berjumlah 6 saluran dengan empat lembaga yang terlibat yaitu pedagang pengumpul, pedagang pemotong, pedagang pengecer dan Rumah Potong Hewan (RPH). Saluran yang paling efisien adalah saluran pemasaran 3 berdasarkan margin terendah yaitu 23,55 persen dengan nilai farmer’s share tertinggi yaitu 76,45 persen. Struktur pasar yang dihadapi hampir seluruh lembaga tataniaga sapi potong PT KGU cenderung bersifat oligopoli. Hal ini dilihat dari kemampuan tataniaga dalam menetuan harga, produk yang diperdagangkan bersifat homogen dan hambatan keluar masuk pasar yang cukup tinggi.

2.3.3 Persamaan dan Perbedaan dengan Penelitian Terdahulu

Persamaan antara penelitian ini dengan penelitian terdahulu adalah mengenai objek penelitian yaitu kelinci Widagdho (2008) dan Agustian (2011). Selain persamaan dalam objek penelitian, persamaan dengan penelitian terdahulu juga terdapat pada topik yang diteliti yaitu tentang analisis tataniaga produk peternakan (Ratniati (2007), Permadi (2008), Afrianto (2007) dan Faisal (2010)).

Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu alat analisis kualitatif (saluran tataniaga, fungsi tataniaga, struktur dan perilaku pasar) dan analisis kuantitatif yaitu analisis margin tataniaga, farmer’s share dan rasio keuntungan terhadap biaya. Metode penarikan responden yang digunakan untuk peternak yaitu dengan cara sensus (Afrianto, 2007) dan untuk lembaga pemasaran menggunakan metode snawball (Ratniati (2007), Permadi (2008), Afrianto (2007) dan Faisal (2010)).

Perbedaan antara penelitian ini dengan penelitian terdahulu adalah terdapat pada perbedaan topik penelitian dimana Widagdho (2008) meneliti tentang kelayakan usaha peternakan kelinci, sedangkan Agustian (2011) meneliti tentang presepsi konsumen terhadap daging kelinci di Bogor. Selain perbedaan pada topik penelitian, perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu adalah terdapat pada alat analisis kuantitatif yang dilakukan oleh Afrianto (2010) yang

menganalisis keterpaduan pasar daging domba di Majalengka sedangkan pada penelitian ini tidak menganalisis keterpaduan pasar.

Tabel 5. Penelitian Terdahulu

Penulis Judul Metode Analisis Tujuan

Widaghdo

(2008) Analisis Kelayakan Usaha peternakan Kelinci Pada Asep Rabbit di Kecamatan Lembang Bandung Jawa Barat.

Metode Kualitatif (Aspek teknis, pasar, manajemen, hukum dan lingkungan), metode kuantitatif (NPV,IRR,PP dan Switching Value)

Menganalisis aspek dalam kelayakan usaha meliputi aspek pasar, teknis, manajemen, hukum dan aspek sosial, menganalisis kelayakan finansial dan melakukan analisis switching value

Agustian

(2011) Menganalisis presepsi konsumen terhadap daging Kelinci di Kota Bogor

Metode Kualitatif dan Metode Regresi Logistik Biner.

Menganalisis karakteristik konsumen daging kelinci, mengetahui persepsi konsumen terhadap daging kelinci, menganalisis variabel apa saja yang mempengaruhi persepsi konsumen terhadap daging kelinci. Afrianto

(2007) Analisis Margin Tataniaga dan Keterpaduan Pasar Daging Domba di Majalengka jawa Barat Analisis kualitatif (analisis saluran, struktur, dan perilaku pasar). Analisis kuantitatif ( analisis margin tataniaga dan keterpaduan pasar)

Mengidentifikasi pola saluran pemasaran, struktur dan perilaku pasar, margin tataniaga dan analisis ketrpaduan pasar daging domba.

Ratniati

(2007) Analisis Sistem Pemasaran Ternak Sapi Potong PT. Great Giant Livestock Company (GGLC) di Lampung Tengah Analisis kualitatif yaitu saluran dan fungsi tataniaga. Analisis kuantitatif yaitu struktur dan besar biaya, margin pemasaran, R/C ratio dan farmer’s share.

Mengidentifikasi dan menganalisis saluran, fungsi, struktur dan perilaku pasar , margin tataniaga, farmer’s share dan ratio R/C.

Permadi

(2008) Analisis Tataniaga Kambing PE di Jawa Tengah Analisis kualitatif yaitu struktur,perilaku dan keragaan pasar. Analisis kuantitatif yaitu margin tataniaga dan farmer’s share.

Mengidentifikasi struktur, perilaku dan keragaan pasar serta margin dan farmer’s share.

Faisal

(2010) Analisis Tataniaga Sapi Potong PT. Kariyana Gita Utama, Cicurug Sukabumi Analisis Kualiatatif meliputi : analisis saluran, lembaga, fungsi dan struktur pasar. Analisis kuantitatif meliputi Analisis margin, farmer’s share dan ratio /c.

mengidentifikasi saluran, lembaga dan fungsi tataniaga sapi potong PT.KGU menghitung margin tataniaga, farmer’s share,biaya pemasaran, keuntungan dan struktur pasar tataniaga sapi potong PT. KGU

Dokumen terkait