• Tidak ada hasil yang ditemukan

Produksi Cabai Merah

2.3 Penelitian Terdahulu

Tria Rosana Dewi (2009) melakukan penelitian yang berjudul Analisis Permintaan Cabai Merah (Capsicum annuum .L) Di Kota Surakarta. Penelitian bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan cabai merah dan menganalisis elastisitas permintaan cabai merah di Kota Surakarta. Hasil analisis data dengan menggunakan metode regresi linier berganda. Model ini memiliki nilai R2

Lisa lestari (2013) dengan penelitian yang berjudul “Faktor-Faktor Yang sebesar 79,6% yang berarti bahwa besarnya sumbangan variabel harga cabai merah besar, harga cabai merah keriting, jumlah penduduk, dan pendapatan per kapita terhadap variasi permintaan cabai merah besar di Kota Surakarta sebesar 79,6%, sedangkan sisanya 20,4% dipengaruhi oleh variabel-variabel lain diluar variabel yang diteliti.

Utara” menggunakan metode penelitian regresi linear berganda dengan data tahunan periode 2001-2010. Hasil penelitian menunjukan bahwa ketersediaan beras dipengaruhi oleh stok beras, produksi beras, impor beras dan ekspor beras di Sumatera Utara. Ketersediaan cabai dipengaruhi oleh stok cabai, produksi cabai, impor cabai dan ekspor cabai di Sumatera Utara. Konsumsi beras dipengaruhi oleh jumlah penduduk, harga beras dan PDRB di Sumatera Utara. Konsumsi cabai dipengaruhi oleh jumlah penduduk, harga cabai dan PDRB di Sumatera Utara.

Dyah Anjarwani Rosoutami (2012) melakukan penelitian yang berjudul Permintaan Dan Penawaran Cabai Merah (Capsicum annuum L.) Di Kabupaten Jember. Penelitian bertujuan untuk memberikan informasi mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan dan faktor faktor yang mempengaruhi penawaran serta menggambarkan grafik permintaan, penawaran. Penentuan daerah penelitian dilakukan secara sengaja (Purposive Method) di Kabupaten Jember, dengan metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif, metode korelasional, dan metode komparatif. Metode pengumpulan data yakni menggunakan data sekunder, dan metode analisis data yang digunakan adalah regresi linier berganda dan analisa cobweb. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan cabai merah di Kabupaten Jember adalah harga cabai merah, jumlah penduduk, dan pendapatan perkapita, (2) Faktor-faktor yang mempengaruhi penawaraan cabai merah di Kabupaten Jember adalah harga cabai merah waktu t-1, luas area tanam waktu t-1, dan biaya produksi waktu t-1.

Aisyah Arfani (2013) melakukan penelitian yang berjudul Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Sikap Konsumen Dalam Mengkonsumsi Cabai Merah (Studi Kasus: Pasar Brayan, Pasar Denai, Pasar Petisah, Pasar Marelan di Kota Medan).

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sikap konsumen terhadap konsumsi cabai merah, mengetahui pengaruh harga, pendapatan dan jumlah tanggungan terhadap konsumsi cabai merah, dan perkembangan harga dan permintaan konsumen terhadap cabai merah di Kota Medan. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis regresi linier berganda.

Hasil penelitian menunjukkan nilai determinasi (R2

Nathania Palar (2016) melakukan penelian yang berjudul Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Harga Cabai Rawit Di Kota Manado. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi Harga Cabai Rawit di Kota Manado. Teknik analisis menggunakan analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukan bahwa permintaan terhadap cabai berpengaruh terhadap harga cabai, karena permintaan meningkat maka harga juga meningkat begitupun sebaliknya. Harga barang substitusi juga mempengaruhi ketika terjadi penurunan atau kenaikan terhadap barang substitusi maka harga cabai rawit juga mengalami hal yang sama. Harga barang pelengkap juga mempengaruhi harga cabai rawit.

Selera mempengaruhi harga cabai rawit karena selera masyarakat kota Manado yang pada dasarnya memang penyuka makanan pedas sehingga meskipun harga cabai meningkat tetapi yang membeli tetap banyak.

) sebesar 0,607. Hal ini berarti 60,7% variasi yang terjadi pada variabel harga, pendapatan dan, jumlah tanggungan dapat menjelaskan jumlah konsumsi cabai merah, sedangkan 39,9%

lagi dipengaruhi oleh variabel lain. Secara serempak menunjukkan bahwa dari keseluruhan variabel bebas memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah konsumsi cabai merah. Secara parsial hanya variabel pendapatan berpengaruh nyata terhadap jumlah konsumsi cabai merah.

Mayun Karina Dewi (2016) penelitian yang berjudul Pengaruh Tingkat Produksi, Harga Dan Konsumsi Terhadap Impor Bawang Merah Di Indonesia, metode analisis data yang digunakan adalah regresi linier berganda. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh tingkat produksi, harga, konsumsi, terhadap impor bawang merah secara simultan dan parsial. Selain itu penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui variabel dominan yang mempengaruhi impor bawang merah di Indonesia. Secara simultan tingkat produksi, harga, dan konsumsi berpengaruh terhadap impor bawang merah di Indonesia. Secara parsial tingkat produksi berpengaruh negatif signifikan, sedangkan harga, konsumsi positif signifikan terhadap impor bawang merah di Indonesia. Dalam analisis ini memperlihatkan bahwa variabel yang berpengaruh dominan terhadap impor bawang merah di Indonesia adalah variabel konsumsi.

Susianti (2013) penelitian yang berjudul Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan Usahatani Jagung Manis (Studi Kasus : Di Desa Sidera Kecamatan Sigi Biromaru Kabupaten Sigi) Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya pendapatan dan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan usahatani jagung manis di Desa Sidera Kecamatan Sigi Biromaru Kabupaten Sigi. Alat analisis yang digunakan adalah analisis pendapatan dan analisis regresi berganda. Hasil uji-t menunjukkan bahwa variabel yang dianalisis meliputi luas lahan (LL), harga benih (HrgaBNH), harga pupuk (HrgPP), upah tenaga keja (UTK), harga output/Jagung (HrgJ) berpengaruh nyata terhadap pendapatan usahatani jagung manis dengan nilai signifikan < 0,01 pada taraf α 1% dan untuk variabel umur petani (UP) signifikan < 0,05 pada taraf α 5%, sedangkan untuk variabel harga pestisida (HrgPTS), pendidikan petani (PP)

tidak berpengaruh nyata terhadap pendapatan usahatani jagung manis. Dan berdasarkan hasil analisis dapat diketahui bahwa rata-rata penerimaan setiap responden yaitu sebesar Rp 6.564.444/0,56 ha. Total biaya produksi diperoleh dari

penjumlahan total biaya tetap sebesar Rp 590.689/0,56 ha dengan total biaya variabel sebesar Rp 2.559.500/0,56 ha, sehingga diperoleh total biaya

produksi sebesar Rp 3.150.189/0,56 ha/MT. Pendapatan diperoleh dari rata-rata penerimaan dikurangi total biaya produksi, sehingga diperoleh pendapatan sebesar Rp 3.414.255/0,56 ha/MT.

Michael Novranda Surbakti (2013) penelitian yang Berjudul Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Harga Jagung Pipil Ditingkat Produsen Sumatera Utara Untuk menganalisis kondisi tersebut digunakan data bulanan dari tahun 2009-2012. Data tersebut kemudian diestimasi dengan menggunakan metode regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa harga jagung ditingkat produsen Sumatera Utara dipengaruhi oleh produksi jagung, harga jagung periode sebelunya, harga jagung Indonesia periode sebelumnya dan harga jagung impor. Produksi jagung dan harga jagung pipil Indonesia berpengaruh negatif, sementara harga jagung Sumatera Utara dan harga jagung impor berpengaruh positif.

Chairia (2014) Penelitian yang berjudul Analisis Permintaan Dan Penawaran Cabai Merah Di Provinsi Sumatera Utara Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis berapa besar pengaruh variabel harga cabai merah, jumlah penduduk dan pendapatan terhadap permintaan cabai merah di Provinsi Sumatera Utara.

Hasil penelitian menyimpulkan bahwa variabel yang berpengaruh positif terhadap

Variabel bebas (harga cabai merah, jumlah penduduk dan pendapatan) mampu menjelaskan variabel terikat (permintaan cabai merah) sebesar 87,9%, Variabel yang berpengaruh positif terhadap penawaran cabai merah adalah luas panen cabai merah. Variabel bebas (harga cabai merah, harga pupuk Urea, harga pupuk ZA, harga pupuk SP-36 dan luas panen cabai merah) mampu menjelaskan variabel terikat (penawaran cabai merah) sebesar 94,1%, Penawaran dan permintaan cabai merah di Provinsi Sumatera Utara adalah konvergen (menuju keseimbangan).

Wenny Mahdalena L.G (2014) Penelitian yang berjudul Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Ketersediaan Beras Dan Jagung Di Provinsi Sumatera Utara.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi ketersediaan beras dan jagung di Provinsi Sumatera Utara. Metode analisis data yang digunakan adalah model regresi linear berganda. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa ketersediaan beras dan jagung memiliki trend positif yang berarti ketersediaan beras dan jagung mengalami peningkatan. Ketersediaan beras di Sumatera Utara secara serempak dipengaruhi oleh harga beras domestik, harga beras impor, harga kedelai domestik, luas panen jagung, konsumsi beras, dan jumlah tenaga kerja di sektor pertanian. Ketersediaan beras di Sumatera Utara secara parsial dipengaruhi oleh harga beras domestik, harga kedelai domestik, konsumsi beras, dan jumlah tenaga kerja di sektor pertanian, dan secara parsial tidak dipengaruhi oleh harga beras impor dan luas panen jagung. Ketersediaan jagung di Sumatera Utara secara serempak dipengaruhi oleh luas panen jagung, harga jagung domestik, jumlah penduduk, tenaga kerja di sektor pertanian, dan nilai tukar. Ketersediaan jagung di Sumatera Utara secara parsial dipengaruhi oleh

luas panen dan harga domestik, dan secara parsial tidak dipengaruhi oleh jumlah penduduk, tenaga kerja, dan nilai tukar rupiah.

Selfia Reni Parange Sinaga (2015) Penelitiana yang berjudul Analisis Forecasting Ketersediaan Pangan 2015 Dalam Rangka Pemantapan Ketahanan Pangan Provinsi Sumatera Utara Penyusunan penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana keadaan ketersediaan pangan dan konsumsi pangan pada tahun 2015 di Provinsi Sumatera Utara. Penelitian ini menggunakan data sekunder ketersediaan dan konsumsi pangan Provinsi Sumatera Utara tahun 2000 – 2010. Komoditas yang terdiri dari beras, jagung, ubi kayu, ubi jalar, daging sapi, dan telur ayam.

Metode analisis yang digunakan adalah analisis data kuantitatif untuk forecasting dengan menggunakan metode kuadrat terkecil sehingga dapat dilihat bagaimana trend ketersediaan dan konsumsi yang terjadi sampai tahun 2015. Hasil analisis forecasting menunjukkan bahwa ketersediaan jagung, ubi kayu, ubi jalar, dan daging sapi mengalami trend kenaikan sedangkan ketersediaan beras dan telur ayam mengalami trend penurunan dan konsumsi beras, jagung, ubi kayu, ubi jalar, daging sapi, dan telur ayam mengalami trend kenaikan. Pada tahun 2015 hasil analisis forecasting menunjukkan rasio ketersediaan pangan yang lebih tinggi dari konsumsi pangan dan tersedianya jumlah pangan yang cukup untuk dikonsumsi.

Dokumen terkait