6. Sandang dan Pangan
2.5 Penelitian Terdahulu
Penelitain oleh Ezra Edmud ZR mengenai “ Pemulung dan Kemiskinan Kota “ penelitian ini tentang kemiskinan pemulung diwilayah pekotaan kota yogyakarta, melihat dua hal pokok yang menjadi inti penelitian yakni pertama, faktor penyebab kemiskinan dan kedua strategi yang digunakan untuk bertahan hidup( internal dan eksternal). Dimana yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Faktor apa yang menyebabkan keluarga Ibu Slamet menjadi miskin serta Situasi sosial apa yang membuat keluarga Ibu Slamet tetap bertahan hidup. Kesimpulan dari penelitian ini adalah Kemiskinan yang dialami keluarga ibu Slamet pada dasarnya lebih disebabkan oleh faktor struktural, kultural dan natural. Secara struktural; kemiskinan yang dialami oleh objek penelitian ini merupakan akibat terperangkap dalam kapitalisme kota serta upaya mempertahankan hidup dengan cara pengetatan pengeluaran serta pemanfaatan modal sosial yang ada.
Penelitian oleh Bedriati Ibrahim dan Murni Baheram yang berjudul strategi bertahan hidup keluarga pemulung di desa salo kabupaten kampar menyimpulkan bahwa strategi yang dilakukan oleh keluarga pemulung dengan cara menghemat konsumsi dan meminjam uang pada tetangga . hal ini disebabkan karena dengan menghemat konsumsi mereka menjaga harga diri sebab mereka tidak mau disepelekan orang lain . sedangkan cara bertahan hidup pemulung dengan meminjam kepada tetangga adalah karena mereka merasa mempunyai hubungan sosial yang dekat sehingga mereka berani dan percaya diri untuk meminjam.
Penelitian terdahulu mengenai Eksistensi keluarga pemulung di Kelurahan Legok, Kota Jambi oleh Nisaul Fadillah & Wenny Dastina menyimpulkan bahwa pemulung menjadi fenomena tersendiri sebagai potret kehidupan masyarakat migran yang tidak memiliki keterampilan dan pendidikan yang cukup sehingga kalah bersaing untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih layak. Umumnya alasan utama memilih profesi sebagai pemulung dilatarbelakangi rendahnya tingkat pendidikan dan minimnya keterampilan. Di samping itu, profesi pemulung bisa dilakukan oleh siapa saja dan kapan saja, tanpa terikat aturan dan modal uang. Keluarga pemulung di Kelurahan Legok umumnya adalah pendatang dari luar Provinsi Jambi. Mereka tinggal dalam pemukiman yang eksklusif dengan berkelompok di beberapa wilayah di Kelurahan Legok dalam lingkungan dengan kelas sosial yang homogenya.
Perbedaan penelitian terdahulu dengan penelitian penulis terletak pada objek yang akan diteliti yaitu khususnya pemulung lansia. Peneliti tertarik meneliti tentang faktor yang mempengaruhi lansia tetap bekerja, bagaimana kondisi sosial ekonomi mereka serta strategi bertahan hidup pemulung lansia karena di TPA Kecamatan Medan Marelan masih terdapat beberapa lansia yang bekerja sebagai pemulung untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka maupu keluarga mereka. Kondisi sosial ekonomi mereka yang sangat rendah menyebabkan mereka tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan khususnya kebutuhan hidup mereka sendiri. Masalah sosialyang terdapat dalam penelitian ini adalah para lansia yang berada dilingkungan 1 kelurahan paya pasir belum mendapatkan kebebasan diri mereka karena mereka belum termasuk kelompok lansia yang sejahtera
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah
Kecamatan medan marelan merupakan salah satu dari 21 kecamatan yang terletak di kota Medan. Kecamatan Medan Marelan merupakan satu-satunya Kecamatan yang memiliki Tempat Pengelolaan Akhir (TPA) Sampah terbesar setelah Tempat Pengelolaan Akhir (TPA) Sampah Pancur Batu. Lebih tepatnya Tempat Pengelolaan Akhir (TPA) Kec.Medan Marelan terletak di Kelurahan Terjun. Dimana setiap harinya TPA daerah Terjun ini didatangkan sampah kota baik itu dari sampah rumah tangga, sampah perkantoran, industri kecil, industri besar maupun limbah pabrik perusahaan.
Kelurahan Terjun terletak berdampingan dengan Kelurahan Paya Pasir. Keberadaan Tempat Pengelolaan Akhir (TPA) di Kelurahan Terjun memiliki dampak untuk masyarakat sekitar baik yang sudah menetap lama di daerah sekitar TPA maupun masyarakat pendatang. Dampak sebagai respon tiap masyarakat berbeda, ada yang respon negatif dan ada juga respon positif yang ditimbulkan oleh keberadaan Tempat Pengelolaan Akhir (TPA) Kelurahan Terjun. Tetapi bagi para pemulung keberadaan TPA sampah merupakan tempat pengais rezeki untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Semenjak keberadaan Tempat Pengelolaan Akhir (TPA) di Kecamatan Medan Marelan ini, banyak masyarakat yang berdatangan untuk mencari bahan bekas yang dapat mereka jual kembali baik itu plastik, botol bekas maupun barang-barang rosokan lainnya.
laki sebanyak 759 orang dan perempuan 737 orang, berdasarkan jenis pekerjaan dinyatakan sebanyak 21 orang bekerja sebagai petani, 10 orang sebagai nelayan, 2 orang BUMN, 658 orang wiraswasta, 54 orang pedagang dan sebanyak 45 orang bekerja pekerjaan lainnya (Data Demografi Penduduk Tahun 2015).
Pemulung merupakan pekerjaan di sektor informal yang termasuk dalam kategori wiraswasta, karena pekerjaan pemulung ini merupakan pekerjaan yang membuka lapangan kerja sendiri. Sektor informal ini berperan sebagai penampung alternatif bagi peluang kerja dan pencari kerja. masa depan perkembangan sektor informal sangat ditentukan kemampuan sektor tersebut dengan kata lain mampu tidaknya sektor informal bersaing dengan sektor formal atau barang-barang infor , juga tergantung pada beberapa serius dan sifat serta bentuk dari kelemahan-kelemahan yang dimiliki sektor informal. Kelemahan sektor informal tercemin pada kendala-kendala yang dihadapi tersebut, diantaranya yang sering terjadi adalah keterbatasan modal (khusus modal kerja), kesulitan pemasaran, penyediaan bahan baku, keterbatasan sumber daya manusia, pengetahuan minim mengenai bisnis, dan kurangnya penguasaan tekhnologi (BPS,2001).
Pemulung menurut Shalih (dalam jurnal Suhendri:2015) adalah orang yang memungut,mengambil,mengumpulkan dan mencari sampah baik perorangan maupun kelompok. Menjadi pemulung tidak memandang usia, karena jenis pekerjaan memulung bisa dilakukan oleh siapa saja baik itu anak-anak , orang dewasa maupun para lansia. Salah satunya kelompok lansia yang bekerja sebagai pemulung. Kelompok lansia ini berumur dari 55 tahun keatas. Mereka menjadi pemulung karena faktor ekonomi yang mendesak mereka untuk tetap bekerja. Kemunduran fisik tidak menjadi kendala besar para lansia ini untuk bekerja.
Dengan kondisi fisik yang sudah menurun para pemulung lansia ini tetap mau bekerja supaya mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Dengan berbagai cara yang diupayakan untuk memenuhi kebutuhan mereka ada strategi mereka untuk bertahan hidup berupa strategi aktif mereka yaitu dengan memanfaatkan potensi yang mereka miliki sebagai contoh melakukan aktifitas sendiri, memperpanjang jam kerja dan melakukan pekerjaan lain untuk menambah penghasilan. Kedua, strategi pasif berupa meminimalisir pengeluaran keluarga dengan contoh berhemat dalam kebutuhan sandang dan pangan. Ketiga, strategi jaringan yang dilakukan oleh pemulung lansia yang memanfaatkan jaringan sosial dengan contoh menjali relasi baik formal maupunon formal dengan lingkungan sosialnya sehingga pemulung lansia bisa meminta bantuan seperti bantuan hutang kepada sanak sadara, tetangga maupun sektor formal dan informal ketika mereka mengalami kesulitan.
Kondisi sosial pemulung lansia ini sangat memperhatinkan mereka yang bertempat tinggal di area TPA memiliki kesan hidup tidak sehat karena mereka terkena efek negatif langsung dari TPA seperti bau, kabut serta asap-asap akibat truk-truk yang mondar mandir tiap harinya membawa sampah ke TPA. Pemulung lansia yang bertempat tinggal disekitar TPA masih melakukan pekerjaan sebagai pemulung, mereka masih mengumpulkan barang-barang bekas dari pembuangan sampah yang ada di sekitar TPA , menolong anak-anak mereka serta sanak saudara untuk membersihkan plastik-plastik yang sudah dikumpulkan. Dengan adanya keterbatasan fisik yang mereka miliki mereka terus berusaha untuk memenuhi kebutuhan mereka. Pemulung lansia ini tetap gigih bekerja supaya
memenuhi kebutuhan mereka ini. Dengan penghasilan tidak menentu sebesar Rp.15.000,00 sampai dengan Rp.40.000,00 perhari bagi mereka tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Karena, ada saatnya mereka tidak mendapatkan uang seperti sering sakit-sakitan sehingga mereka tidak dapat bekerja mencari barang bekas yang dapat dijual.
Tempat tinggal mereka berada disekitar TPA, ada yang tinggal bersama anak-anak mereka dan ada pula yang tinggal dirumah sendirian. Status rumah mereka milik keluarga serta sewa atau ngontrak walaupun ada beberapa lansia yang memiliki rumah pribadi dengan ukuran yang sangat kecil serta bangunannya masih semi permanen. Dengan keadaan sekitar rumah yang banyak sampah, mereka sudah merasa nyaman tinggal dilingkungan sekitar TPA karena terbiasa. Padahal ketika pada masa usia lanjut ini, seseorang membutuhkan rasa ketentraman lahir dan batin, tidak hanya seperti kebutuhan untuk hidup saja seperti makan, minum dll melainkan keselamatan jiwa serta kenyamanan juga merupakan kebutuhan lansia agar dia tetap bertahan
Pada umumnya pemulung lansia yang bekerja di TPA Kecamatan Medan Marelan sebagai pemulung tidak memiliki keahlian yang memadai. Hal ini disebabkan oleh pendidikan mereka yang sangat rendah yaitu umumnya tamatan SD. Pada akhirnya pilihan mereka hanyalah bekerja di sektor informal seperti buruh, pedagang asongan, pemulung dan lain-lainnya seperti yang terjadi oleh pemulung lansia. Di TPA Kelurahan paya pasir Pada tahun 2015 ada sekitar 8 orang pemulung lansia yang dari awal mereka bekerja sebagai pemulung sampai mereka berumur lanjut, sedangkan pada saat ini tahun 2016 hanya ada sekitar 6 orang yang masih bekerja sebagai pemulung. Selain dengan alasan tidak memiliki
keahlian yang memadai mereka para pemulung lansia ini menyatakan bahwa bekerja sebagai pemulung merupakan pekerjaan yang tidak membutuhkan modal banyak sehingga mereka bertahan menjadi pemulung sampai berumur lanjut.
Bekerjanya lansia sebagai pemulung merupakan permasalahan sosial ekonomi. Keterbatasan keahlian yang mereka miliki menyebabkan mereka harus bekerja sampai usia tuanya, bahkan keluarga mereka sendiri juga tidak mampu menghidupi dirinya diakibatkan rendahnya pendapatan keluarga mereka sehingga para lansia ini juga ikut memulung. Pemulung lansia ini sangat sering mengalami kesulitan-kesulitan baik dalam hal sosial maupun ekonomi. Masalah-masalah yang dihadapi oleh pemulung lansia ini sering melibatkan bantuan sanak saudara, tetangga maupun masyarakat sekitar untuk mengurangi permasalahan mereka. Pemulung lansia dapat dikatakan miskin karena Menurut World Bank kemiskinan merupakan kondisi dimana seseorang tidak dapat menikmati segala macam pilihan dan kesempatan dalam pemenuhan kebutuhan dasarnya seperti tidak dapat memenuhi kesehatan, standar hidup layak, kebebasan, harga diri, dan rasa dihormati seperti orang lain atau dengan kata lain kehilangan kesejahteraan (deprivation o well being). Kemiskinan disebabkan ketiadaan akses serta adanya ketidak adilan maupun ketimpangan yang terjadi dalam masyarakat. Pemulung dikatakan miskin ketika mereka tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan mereka, baik itu pangan, sandang, papan yang tidak layak untuk hidup lansia.
Pemulung yang kehidupannya relatif miskin, apalagi pemulung lansia yang mengalami kemunduran fisik, mereka tetap menjalani kehidupannya dari waktu ke waktu. Sebagaimana mereka akan melakukan upaya apa saja untuk
yang sudah diuraikan pada latar belakang diatas, penulis tertarik untuk meneliti lebih dalam bagaimana kondisi sosial ekonomi para pemulung lansia ini yang berkaitkan dengan stategi untuk mempertahankan hidup mereka serta strategi adaptasi mereka dalam menjalani hidup mereka yang kemudian dituangkan pada penelitian dengan judul: “Pemulung Lansia di Kota Medan’’.