• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.5. Penelitian Terdahulu

Rahayu (2012), telah melakukan penelitian tentang “EvaluasiI Pengadaan benih dan analisis Pendapatan usahatani kentang pada petani di Sabani Farm Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung”, yang menggunakan analisis Evalusai CIPP. Adapun hasil dari penelitian tersebut menyatakan bahwa Bentuk kerjasama yang dijalankan antara Sabani Farm dengan petani adalah sistem bagi hasil, dimana besarnya persentase keuntungan tergantung kesepakatan di awal dan berdasarkan besarnya penyertaan modal yang dikeluarkan oleh kedua belah pihak.

Adapun dalam pelaksanaannya, petani dan Sabani Farm sudah mengetahui hak dan kewajiban masing-masing sehingga tujuan kerjasama dari kedua pihak dapat tercapai. Kerjasama yang dilakukan antara Sabani Farm dan petani sudah efektif dalam pelaksanaannya bila dilihat dari pendekatan context, input, process dan product. Diantara keempat aspek, aspek context merupakan aspek yang memiliki persentase evaluasi terendah yaitu sebesar 7.6 persen. Sedangkan aspek produc merupakan aspek dengan nilai tertinggi. Aspek produck merupakan aspek penentu apakah kerjasama tersebut dapat dilangsungkan atau tidak. Aspek produck ini merupakan akhir dari keputusan petani dalam menjalankan kerjasama atau menentukan penggunaan sistem baru terhadap usaha taninya, untuk itu aspek product merupakan aspek yang sangat penting dalam metode evaluasi.

Claudia (2016), pada penelitiannya “Evaluasi Kinerja Pelaksanaan Penerapan Pola Tanam System Of Rice Intensification (SRI) Pada Petani Padi, (Kasus : Desa Kramat Gajah Kecamatan Galang Kabupaten Deli Serdang)”, yang menggunakan metode evaluasi CIPP. Hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa Hasil penelitian menggunakan model CIPP (Context, Input, Process, Product)

menunjukkan bahwa kinerja pelaksanaan penerapan pola tanam System of Rice Intensification (SRI) oleh petani padi sawah di Desa Kramat Gajah Kecamatan Galang Kabupaten Deli Serdang sudah berjalan dengan cukup baik dengan skor keseluruhan yang diperoleh sebesar 44,02 dari skor yang diharapkan yaitu sebesar 57, dengan persentase ketercapaian sebesar 77,23%. Adapun hasil penilaian dari setiap dimensi evaluasi kinerja pelaksanaan penerapan pola tanam System of Rice Intensification (SRI) komponencontext sangat baik, dan komponen input, process, product cukup baik. Komponen context memiliki indikator yang sangat baik karena inidkator ini merupakan indikator yang paling sesuai dengan kebutuhan petani.

Pada penelitian yang dilakukan oleh Corry (2015), tentang “Evaluasi terhadap Pelaksanaan Kesepakatan Agribisnis Kopi antara PT. Volkopi Indonesia dan Petani (Kasus : Agribisnis Kopi Kecamatan Lintongnihuta dan Kecamatan Paranginan Kabupaten Humbang Hasundutan”, dengan menggunakan metode deskriptif dengan menganalisis evaluasi dengan CIPP. Adapun kesimpulan pada penelitian tersebut menyatakan bahwa kopi yang dihasilkan oleh petani untuk memenuhi kuota ekspornya. Hasil evaluasi dengan menggunakan model evaluasi CIPP, menunjukkan bahwa pelaksanaan kesepakatan agribisnis kopi antara PT.

Volkopi Indonesia dengan petani Kecamatan Lintongnihuta dan Kecamatan Paranginan Kabupaten Humbang Hasundutan sudah berjalan dengan baik dan terdapat beberapa masalah dalam pelaksanaan kesepakatan. Hal ini terlihat dari indikator input dan proses dimana kedua indikator ni menyumbang nilai tertinggi diantara indikator lainnya. Indikator input merupakan indikator yang menjelaskan bagaimana startegi tersebut terbentuk dan inidkator proses menjelaskan sejauh

mana strategi tersebut berhasil. Dari inidkator ini dilihat strategi yang dibuat dan bagaimana stratgei tersebut dijalankan. Dari hasil CIPP diketahui kesepakatan ini berjalan dengan baik.

Pada penelitian yang dilakukan (dewi, 2014) tentang Hubungan Antara Karakteristik Petani Peternak Sapi Dengan Kinerja Penyuluh dengan menggunakan metode deskriptif dengan menganalisis evaluasi dengan CIPP.

Adapun kesimpulan pada penelitian tersebut menyatakan bahwa Perkembangan ternak sapi lima tahun terakhir di daerah penelitian meningkat setiap tahunnya dengan rata-rata peningkatan 26% per tahunnya, Karakteristik peternak di daerah penelitian beragam. Usia rata-rata peternak adalah 42 tahun, dan usia ini masih tergolong dalam usia yang produktif, Hasil penelitian menggunakan CIPP (Context, Input, Process, Product) bahwa pelaksanaan kinerja penyuluhan di daerah penelitian diperoleh sebesar 38,2 dengan persentase ketercapaian sebesar 61,06%. Artinya pelaksanaan kinerja kelompok tani di daerah penelitian kurang baik

Pada penelitian yang dilakukan (febrina, 2014) tentang Persepsi Petani Terhadap Kinerja Kemitraan Kelompok Tani Dengan Perusahaan Eksportir dengan menggunakan metode deskriptif dengan menganalisis evaluasi dengan CIPP. Adapun kesimpulan pada penelitian tersebut menyatakan bahwa kinerja kemitraan antara Kelompok Tani Lau Lengit dengan PD Rama Putra adalah baik.

Dan persepsi petani terhadap kinerja kemitraan antara Kelompok Tani Lau Lengit dengan PD Rama Putra adalah positif.

Pada penelitian yang dilakukan ( Asni, 2013 ) tentang Sikap Dan Perilaku Nelayan Terhadap Kinerja Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) (Kasus :

Desa Bagan Serdang Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang) dengan menggunakan metode deskriptif dengan menganalisis evaluasi dengan CIPP.

Adapun kesimpulan pada penelitian tersebut menyatakan bahwa kinerja HNSI di daerah penelitian tidak berjalan dengan baik. Sikap nelayan terhadap kinerja HNSI di daerah penelitian adalah negatif. Dari beberapa karakteristik nelayan (umur, tingkat pendidikan, pengalaman melaut, jumlah tanggungan keluarga, dan jumlah pendapatan), hanya karakteristik jumlah pendapatan yang berhubungan dengan sikap nelayan terhadap kinerja HNSI di daerah penelitian. Perilaku nelayan terhadap kinerja HNSI di daerah penelitian adalah tidak mendukung.

Tidak ada karakteristik nelayan (umur, tingkat pendidikan, pengalaman melaut, jumlah tanggungan keluarga, dan jumlah pendapatan) yang berhubungan dengan perilaku nelayan terhadap kinerja HNSI di daerah penelitian.

Pada penelitian yang dilakukan ( sihite, 2013 ) tentang Analisis Hubungan Kinerja Kelompok Tani Dengan Pendapatan Usahatani Petani (Kasus : Desa Sempajaya Kecamatan Berastagi Kabupaten Karo) dengan menggunakan metode deskriptif dengan menganalisis evaluasi dengan CIPP. Adapun kesimpulan pada penelitian tersebut menyatakan bahwa kinerja kelompok tani Kata Ersada terggolong baik, Sangap Encari tergolong kurang baik dan kinerja kelompok tani Juma Deleng tergolong tidak baik. Pendapatan petani anggota kelompok tani Kata Ersada beragam, 6 petani dengan pendapatan tinggi, 5 petani dengan pendapatan sedang dan 3 petani dengan pendapatan rendah. Pendapatan petani anggota kelompok tani Sangap Encari beragam, 4 petani dengan pendapatan tinggi, 11 petani dengan pendapatan sedang dan 2 petani dengan pendapatan rendah.

Pendapatan petani anggota kelompok tani Juma Deleng beragam, 2 petani dengan

pendapatan tinggi, 7 petani dengan pendapatan sedang dan 11 petani dengan pendapatan rendah.

Pada penelitian yang dilakukan ( sasmita, 2014 ) tentang Persepsi Petani Hortikultura Terhadap Kemitraan Agribisnis Dengan PT. Alamanda Sejati Utama (Kasus: Gapoktan Maju Bersama Desa Tiga Panah Kecamatan Tiga Panah Kabupaten Karo) dengan menggunakan metode deskriptif dengan menganalisis evaluasi dengan CIPP. Adapun kesimpulan pada penelitian tersebut menyatakan bahwa kinerja kemitraan agribisnis antara gapoktan Maju Bersama dengan PT.

Alamanda Sejati Utama berjalan cukup baik dengan ketercapaian penilain seluruh komponen indikator CIPP sebesar 66,55%. Mayoritas persepsi petani terhadap kemitraan agribisnis yang sedang berlangsung adalah positif, yaitu sebanyak 31 orang dengan persentase sebesar 58,49% sedangkan petani yang memiliki persepsi negatif adalah sebanyak 22 orang dengan persentasi sebesar 41,51%, artinya persepsi petani hortikultura terhadap kemitraan agribisnis antara Gapoktan Maju Bersama dengan PT. Alamanda Sejati Utama menunjukkan pandangan yang positif.

Pada penelitian yang dilakukan (rahayu,2016) tentang Evaluasi Pengadaan Benih dan Analisis Pendapatan Usahatani Kentang pada Petani di Sabani Farm Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung dengan menggunakan metode deskriptif dengan menganalisis evaluasi dengan CIPP. Adapun kesimpulan pada penelitian tersebut menyatakan bahwa kerjasama yang dilakukan antara kedua belah pihak sudah efektif dalam pelaksanaannnya. Aspek konteks sebagai latar belakang dilakukannya kerjasama memiliki penilaian kinerja yang paling rendah.

Pada penelitian yang dilakukan (hamidah,2014) tentang Evaluasi Kinerja Usaha Agribisnis Kerapu” (Studi Kasus: Desa Pulau Sembilan Kecamatan Pangkalan Susu Kabupaten Langkat) dengan menggunakan metode deskriptif dengan menganalisis evaluasi dengan CIPP. Hasil penelitian dengan menggunakan motode CIPP (Context, Input, Process, Product) yaitu pelaksanaan Kinerja Lembaga Penunjang Agribisnis Kerapu dengan mengambil sampel dari kelompok tani di daearah penelitian diperoleh nilai sebesar 46,52 dengan persentase ketercapaian sebesar 96,91%. Artinya pelaksanaan kinerja lembaga penunjang agribisnis kerapu di daerah penelitian berjalan dengan baik, karena skor yang diperoleh adalah 46,52 telah menempati rentang skor antara 38-48 maka dikatakan kinerja baik. Hal ini didorong oleh indikator input yang memiliki pengaruh paling tinggi. Hal ini karena indikator input meupakan indikator yang mengklasifikasikan sumber yang ada sehingga dapat menentukan strategi untuk mencapai kebutuhan tersebut.

Dokumen terkait