• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

2.1. Tinjauan Pustaka

2.1.5. Penelitian Terdahulu

Penelitian yang dilakukan oleh Abidin (2000) menganalisa dampak liberalisasi perdagangan terhadap keragaan industri gula Indonesia dengan

menggunakan metode Two-Stage Least Square (2SLS). Hasil penelitian

menunjukkan tingkat produksi menjadi faktor utama dalam mengekspor bagi negara eksportir sedangkan harga impor dan tingkat konsumsi merupakan pertimbangan utama dalam mengimpor bagi negara importir, adanya intervensi pasar negara eksportir maupun negara importir akan mempengaruhi gula dunia, kebijakan kemandirian produksi gula domestik pada era liberalisasi perdagangan, dan faktor penentu keberhasilan dalam memperbaiki keragaan industri gula domestik adalah akses kredit, penerapan teknologi serta perluasan areal.

Kajian yang dilakukan oleh Fitriadi (2000) mengenai perkembangan dan prospek gula pasir di Indonesia menunjukkan konsumsi secara agregat cenderung meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk, kesejahteraan masyarakat, serta berkembangnya industri berbahan baku gula pasir. Tingkat konsumsi langsung gula per kapita secara statistik untuk wilayah pedesaan dan perkotaan umumnya dipengaruhi peubah kebalikan pendapatan, tingkat pendapatan, harga gula pasir, harga gula merah, harga kopi, dan jumlah anggota keluarga. Jumlah gula pasir yang dibutuhkan per tahun periode 2000 hingga 2010 berada di atas 3 juta ton per tahun. Semakin tinggi pertumbuhan ekonomi maka jumlah gula pasir yang dibutuhkan semakin besar.

Gumaa (1991), meneliti tentang perkembangan jangka panjang harga gula dunia menggunakan ekonometrika. Penelitian ini menekankan pada pemisahan

faktor-faktor yang kritis dalam penetapan harga yang berubah pada non-regulated

market. Model ini mempertimbangkan harga gula yang tidak diatur dunia yakni harga yang ditentukan secara kompetitif oleh faktor-faktor penawaran dan

permintaan, dan mengoperasikan bermacam-macam bedakala (lags) dan subyek

goncangan (shocks). Adanya goncangan eksogen dari harga gula dunia

menunjukkan beberapa tingkatan daya ramal yang ditentukan oleh kecenderungan penawaran dan permintaan gula.

Mahardhika (2004), menganalisa faktor-faktor yang mempengaruhi produksi dan impor gula Indonesia dengan menggunakan persamaan regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas areal tanaman tebu, produktivitas hablur, dan harga riil gula domestik tahun sebelumnya memberikan pengaruh positif terhadap produksi gula nasional sedangkan impor gula Indonesia dipengaruhi oleh produksi gula domestik tahun sebelumnya, konsumsi gula nasional, harga riil gula internasional dan tarif impor.

Nainggolan (2006), meneliti tentang dampak impor gula terhadap harga gula domestik dan industri gula Indonesia. Analisis ini dilakukan dengan

menggunakan metode Two-Stage Least Square (2SLS). Penelitian ini juga

menganalisa simulasi kebijakan gula dengan indikator validasi statistik adalah

Root Mean Square Error (RMSE), Root Mean Square Percent Error (RMSPE) dan Theil’s Inequality Coefficient (U). Hasil analisis menunjukkan bahwa kebijakan tataniaga impor gula tidak responsif atau bersifat inelastis terhadap

perubahan harga gula eceran domestik dan industri gula Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan tataniaga impor gula hanya mempunyai dampak yang kecil terhadap harga gula eceran domestik dan industri gula Indonesia. Selain itu, salah satu faktor yang mempengaruhi harga gula dalam negeri adalah harga gula impor yang mempunyai hubungan positif terhadap perubahan harga gula eceran dalam negeri. Faktor-faktor lain yang mempengaruhi harga gula

eceran domestik secara nyata adalah impor gula, harga provenue gula, nilai tukar

dan harga gula eceran tahun sebelumnya. Sementara itu, harga gula dunia bersifat elastis terhadap perubahan harga impor gula. Dengan demikian, perubahan harga gula dunia akan diikuti oleh harga gula domestik.

Siagian (1999), meneliti kemampuan industri gula Indonesia dalam menghadapi liberalisasi perdagangan dan upaya pabrik gula dalam

mempertahankan eksistensinya. Penelitian ini menggunakan model translog cost

function dari pendekatan multi-input multi-output dan menduga parameter

menggunakan Seemingly Unrelated Regression (SUR). Hasil penelitian ini

menunjukkan bahwa elastisitas permintaan harga sendiri dan silang adalah inelastis yang berarti bahwa diantara ketiga input tidak tetap, seperti tebu, bahan bakar dan tenaga kerja merupakan input penting dan tidak dapat disubsitusi. Skala

ekonomi gula Indonesia menunjukkan kondisi Increasing return to scale, berarti

bahwa industri gula nasional belum efisien. Dari segi cakupan usaha (economic of

scope) industri gula Indonesia, memproduksi gula dan tetes secara bersama-sama lebih murah dibandingkan dengan hanya membiayai produksi gula atau tetes

(diversifikasi produk). Pabrik gula milik swasta memiliki efisiensi yang tinggi dibandingkan dengan pabrik gula milik BUMN.

Suparno (2004), mengkaji dampak kebijakan tataniaga gula terhadap kesejahteraan petani tebu di Indonesia. Dampak kebijakan pra liberalisasi perdagangan melalui program ektensifikasi tanaman tebu mampu meningkatkan kesejahteraan bersih masyarakat secara umum sebesar Rp 10,48 Triliun, sedangkan dampak kebijakan pasca liberalisasi perdagangan berupa kebijakan pengahapusan tataniaga gula oleh Bulog menurunkan kesejahteraan bersih masyarakat sebesar Rp 3,44 Triliun.

Susila (2005), menganalisa dan merumuskan alternatif kebijakan industri

gula Indonesia dengan menggunakan metode Two-Stage Least Square (2SLS).

Validasi model dilakukan dengan kriteria root mean squares percentage error

(RMSPE). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kebijakan yang langsung

berkaitan dengan harga output seperti harga provenue mempunyai efektivitas

yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan kebijakan input dan distribusi.

Kebijakan harga provenue merupakan instrumen kebijakan pemerintah yang

penting untuk mempengaruhi harga gula eceran dalam negeri. Kebijakan harga

provenue dan kebijakan tataniaga impor tarif mempunyai efektivitas yang memadai dalam hal peningkatan areal, produksi, dan penurunan impor. Penelitian

ini juga menunjukkan bahwa berbagai kombinasi kebijakan harga provenue, tarif

impor, Tariff Rate Quota (TRQ) dan subsidi input merupakan instrumen

mengurangi impor. Tingkat tarif impor yang mengkompromikan kepentingan produsen dan konsumen diestimasi berkisar antara 49 persen hingga 56 persen.

Widowati (2003), meneliti tentang pengaruh tarif impor terhadap industri

gula Indonesia. Metode yang digunakan adalah metode Two-Stage Least Square

(2SLS). Penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan tarif impor sebesar 25 persen memberikan pengaruh yang signifikan terhadap industri gula Indonesia kecuali terhadap konsumsi. Dengan adanya penerapan tarif impor ini meningkatkan harga gula domestik sehingga pendapatan petani meningkat dengan laju 11,6 persen dan mampu menciptakan tambahan lapangan kerja di industri gula adalah 10,97 persen. Namun, adanya kebijakan ini menurunkan surplus konsumen sebesar 15,6 persen.

Widyastutik (2005), menganalisa dampak kebijakan pemerintah terhadap

output (komoditas gula) dan input dengan menggunakan analisis Policy Analysis

Matrix (PAM). Menurut penelitian ini, kebijakan pemerintah pada output berupa tarif impor gula dan penetapan mekanisme lelang dengan harga referensi menyebabkan harga output privat lebih besar dibandingkan harga output pada kondisi harga bayangan, dimana konsumen membayar lebih tinggi dari harga yang seharusnya dibayar. Dampak kebijakan pemerintah terhadap input menunjukkan bahwa terdapat distorsi pada pasar pupuk. Hasil analisis juga menunjukkan bahwa sistem komoditi baik input maupun output terdapat proteksi yaitu kebijakan harga output berupa tarif dan harga lelang serta subsidi input yang melindungi pelaku industri gula agar tetap mau berproduksi dan distorsi pasar yang ada pada industri gula, pelaku industri gula diuntungkan karena pelaku

industri gula memperoleh keuntungan yang positif lebih tinggi dari seharusnya yang bernilai negatif dan adanya kebijakan pemerintah, pelaku industri gula membayar biaya produksi dengan nilai lebih rendah dari biaya imbangan

berproduksinya (opportunity cost).

Wiryastuti (2002), melakukan studi tentang strategi peningkatan daya saing industri gula di Jawa dengan menggunakan metode Proses Hirarki Analitik (PHA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor aktor utama yang berperan dalam meningkatkan daya saing industri di Jawa adalah biaya produksi sedangkan aktor utama yang berperan terhadap peningkatan daya saing industri gula di Jawa adalah manajemen perusahaan dan pemerintah pusat. Penelitian ini juga menghasilkan prioritas strategi utama yang dilakukan untuk meningkatkan daya saing industri gula di Jawa adalah peningkatan efisiensi dan menjalin kemitraan dengan mitra strategis yang menguasai bahan baku, pasar, modal, dan teknologi.

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu adalah penelitian ini menilai dampak yang ditimbulkan dari kebijakan pergulaan nasional dengan menggambarkan sisi positif dan sisi negatif dari informasi yang diberikan dalam menganalisa perkembangan kebijakan pergulaan nasional serta menganalisa faktor-faktor yang mempengaruhi harga gula domestik sehingga dapat mengetahui variabel-variabel yang saling berhubungan dan mengetahui pengaruh kebijakan pergulaan nasional. Dengan demikian, ketiga analisis ini dapat digunakan sebagai informasi dalam membuat rekomendasi kebijakan untuk meningkatkan daya saing gula domestik.

Dokumen terkait