• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA

2.4 Penelitian Terdahulu

deposit, lalu dengan output yang diukur dalam bentuk kredit pinjaman (loans) dan investasi finansial (financilal investment). Akhirnya pendekatan ini melihat fungsi primer sebuah institusi finansial sebagai pencipta kredit pinjaman (loans).

Konsekuensi dari adanya tiga pendekatan ini, yaitu terdapatnya perbedaan dalam menentukan variabel input dan output, khususnya pada pendekatan produksi dan pendekatan intermediasi dalam memperlakukan simpanan. Dalam pendekatan produksi, simpanan diperlakukan sebagai output, karena simpanan merupakan jasa yang dihasilkan melalui kegiatan bank. Sedangkan dalam pendekatan intermediasi simpanan ditempatkan sebagai input, karena simpanan yang dihimpun bank akan mentransformasikanya ke dalam bentuk aset yang menghasilkan, terutama pinjaman yang diberikan.

2.4 Penelitian Terdahulu

Beberapa peneliti melakukan penelitian tentang efisiensi dan kesehatan bank baik itu bank konvensional maupun bank syariah. Hasil dari beberapa peneliti tersebut akan digunakan sebagai bahan referensi dan perbandingan dalam penelitian ini. Penelitian-penelitian terdahulu tersebut diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Hamim S. Ahmad Mokhtar, Naziruddin Abdullah, Syed M. Al-Habshi (2006)

Penelitian ini meneliti tentang efisiensi bank syariah di Malaysia dengan menggunakan metode Stochastic Frontier Approach. Periode yang

29 diteliti yaitu tahun 1997 sampai 2003. Hasil penelitian menunjukan bahwa rata-rata efisiensi teknis dan biaya bank umum konvensional lebih tinggi dari bank syariah. Namun dari segi tren, menunjukan bahwa rata-rata Efisiensi teknis dan efisiensi biaya bank syariah cenderung meningkat dari tujuh periode. Sedangkan efisiensi bank konvensional tidak banyak berubah selama periode yang sama. Penelitian ini juga meneliti efisiensi berdasarkan tipe bank, hasilnya bank umum syariah secara signifikan lebih efisiensi daripada unit usaha syariah. Serta rata-rata efisiensi bank menurut status kepemilikannya, diketahui bahwa unit usaha syariah asing lebih efisien daripada unit usaha syariah bank domestik.

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumya adalah pada metode yang digunakan dalam mengukur tingkat efisiensi. Pada penelitian sebelumya menggunakan metode Stochastic Frontier Approach (SFA) sedangkan pada penelitian ini menggunakan metode Data Envelopment Analysis (DEA). Selain itu perbedaan juga terdapat pada sampel dan periode penelitian. Pada penelitian ini sampel yang diteliti adalah BPRS diwilayah Jabodetabek dengan periode penelitian tahun 2015-2017. Sedangkan sampel pada penelitian terdahulu adalah bank syariah di Malaysia dan periode yang diteliti adalah 1997-2003. Selain itu penelitian ini juga mengukur tingkat kesehatan BPRS dengan pedekatan CAMEL dan metode yang digunakan adalah Binary Logistic.

30 2. Moh. Sochih (2008)

Penelitian ini mengukur tingkat kesehatan BPRS yang ditinjau dari CAMEL studi kasusnya pada PT BPRS Margi Rizki Bahagia daerah Yogyakarta. Rasio yang digunakan adalah CAR, PPAP, ROA, BOPO, CR dan LDR. Pada penelitiannya dalam perhitungan kesehatan BPRS menggunakan nilai bobot dan nilai kredit untuk BPRS. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa kondisi perusahaan secara keseluruhan dari tahun 1998 sampai dengan tahun 2000 adalah sehat, karena total nila 1 kredit hasil analisis laporan keuangan dan manajemen berdasarkan CAMEL, masing-masing 93, 91.42, dan 97.8. Total nilai tersebut sesuai dengan ketetapan Bank Indonesia, yaitu BPR dikatakan sehat jika nilai kreditnya adalah 81 sampai dengan 100.

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumya adalah pada metode yang digunakan dalam mengukur tingkat Kesehatan. Pada penelitian sebelumya hanya menggunakan nilai bobot dan nilai kredit, sedangkan pada penelitian ini selain menggunakan nilai bobot dan nilai kredit penelitian ini juga menggunakan metode Binary Logistic. Selain itu perbedaan juga terdapat pada sampel, periode dan rasio penelitian. Pada penelitian ini sampel yang diteliti adalah BPRS diwilayah Jabodetabek dengan periode penelitian tahun 2015-2017. Sampel pada penelitian terdahulu adalah 1 BPRS di wilayah Yogyakarta dan periode yang diteliti adalah 1998-2000. Sedangkan rasio yang digunakan pada penelitian ini adalah CAR, NPF, NPM, ROA dan FDR, sedangkan penelitian

31 sebelumnya rasio yang digunakan adalah CAR, PPAP, ROA, BOPO, CR dan LDR. Selain itu penelitian ini juga mengukur tingkat efisiensi BPRS dengan metode Data Envelopment Analysis (DEA).

3. Deni Kusumawardani, Tri Haryanto, dan Wisnu Wibowo (2008)

Penelitian ini mengukur tingkat kesehatan dan efisiensi Bank Perkreditan Rakyat di Jawa Timur. Rasio yang digunakan adalah CAR, PAQ, ROA, BOPO, CR dan LDR. Dalam perhitungan tingkat kesehatannya menggunakan nilai bobot dan nilai kredit untuk BPRS, sedangkan untuk menilai tingkat efisiensi menggunakan DEA. Dari penelitian ini menunjukan bahwa Indikator kinerja keuangan yang menyangkut aspek permodalan, kualitas asset, rentabilitas dan likuiditas, menunjukkan bahwa BPR Jatim termasuk dalam kategori sehat. Demikian juga, capaian kinerja pada kantor cabang BPR Jatim bila dibandingkan dengan standar yang ditetapkan oleh BI menunjukkan performa baik. Analisis menggunakan Model DEA menunjukkan bahwa pada umumnya kantor cabang kurang efisiensi. Untuk meningkatkan tingkat efisiensi, BPR sebagai lembaga intermediasi harus meningkatkan penyaluran dana kepada masyarakat dengan tetap menjaga prinsip kehati-hatian. Hasil pengujian korelasi spearman menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara tingkat kesehatan bank dengan skor efisiensi DEA.

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumya adalah pada metode yang digunakan dalam mengukur tingkat Kesehatan. Pada penelitian sebelumya hanya menggunakan nilai bobot dan nilai kredit,

32 sedangkan pada penelitian ini selain menggunakan nilai bobot dan nilai kredit penelitian ini juga menggunakan metode Binary Logistic. Selain itu perbedaan juga terdapat pada sampel, periode dan rasio penelitian. Pada penelitian ini sampel yang diteliti adalah BPRS diwilayah Jabodetabek dengan periode penelitian tahun 2015-2017. Sampel pada penelitian terdahulu adalah BPRS di wilayah Jawa Timur dan periode yang diteliti adalah 1998-2000. Sedangkan rasio yang digunakan pada penelitian ini adalah CAR, NPF, NPM, ROA dan FDR, sedangkan penelitian sebelumnya rasio yang digunakan adalah CAR, PAQ, ROA, BOPO, CR dan LDR.

4. Diah Arianti, dan Nur Iriawan (2013)

Penelitian ini mengukur tingkat kesehatan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di Indonesia dengan pendekatan model regresi logistik. Penelitian ini melibatkan 8 variabel indikator keuangannya yaitu CAR, KAP, PPAP, ROA, BOPO, CR, LDR, dan Managemen. Hasil penelitian ini menunjukkan pemodelan yang menyatakan bahwa CAR, KAP, BOPO dan CR memiliki pengaruh yang signifikan atas penentuan predikat kesehatan BPR. Dan pemodelan telah menunjukkan adanya pengaruh CAR, KAP dan BOPO yang besar atas kesehatan BPR. Uji ketepatan model prediksi menunjukkan hasil 93,5% akurat.

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumya adalah pada sampel, periode dan rasio penelitian. Pada penelitian ini sampel yang diteliti adalah BPRS diwilayah Jabodetabek dengan periode penelitian

33 tahun 2015-2017. Sampel pada penelitian terdahulu adalah 31 BPR di Indonesia dan periode yang diteliti adalah 2007-2009. Sedangkan rasio yang digunakan pada penelitian ini adalah CAR, NPF, NPM, ROA dan FDR, sedangkan penelitian sebelumnya rasio yang digunakan adalah CAR, KAP, PPAP, ROA, BOPO, CR, LDR, dan Managemen. Selain itu penelitian ini juga mengukur tingkat efisiensi BPRS dengan metode Data Envelopment Analysis (DEA).

5. Syafaat Muhari dan Muhamad Nadratuzzaman Hosen (2014)

Penelitian ini mengukur tingkat efisiensi BPRS di Indonesia dengan membandingankan metode SFA dengan DEA dan hubungannya dengan CAMEL. Objek penelitiannya adalah BPRS yang tercata selama periode Juni 2011-Maret 2013 dengan jumlah 159 BPRS. Secara statistik rata-rata tingkat efisiensi BPRS berdasarkan pendekatan parametric SFA lebih tinggi dari tingkat efisiensi berdasarkan pendekatan non parametrik DEA. Berdasarkan korelasi spearman, bahwa tingkat efisiensi BPRS dengan menggunakan metode SFA tidak mempunyai hubungan yang nyata dengan analisis kesehatan bank CAMEL. Sedangkan tingkat efisiensi BPRS dengan menggunakan metode DEA mempunyai keterkaitan yang lemah dan nyata dengan analisis kesehatan bank CAMEL.

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumya adalah pada metode yang digunakan dalam mengukur tingkat efisiensi. Pada penelitian sebelumya menggunakan metode Stochastic Frontier Approach (SFA) dan Data Envelopment Analysis (DEA), sedangkan pada penelitian ini

34 hanya menggunakan metode Data Envelopment Analysis (DEA). Selain itu perbedaan juga terdapat pada sampel dan periode penelitian. Pada penelitian ini sampel yang diteliti adalah BPRS diwilayah Jabodetabek dengan periode penelitian tahun 2015-2017. Sedangkan sampel pada penelitian terdahulu adalah 159 BPRS dan periode yang diteliti adalah Juni 2011-Maret 2013. Selain itu penelitian ini juga mengukur tingkat kesehatan BPRS dengan pedekatan CAMEL dan metode yang digunakan adalah Binary Logistic.

6. Shafitranata dan Muhamad Nadratuzzaman Hosen (2014)

Penelitian ini mengukur efisiensi teknis pada 3 Bank Syariah yaitu Bank Muamalat Indonesia, Bank Syariah Mandiri dan Bank Mega Syariah selama periode 2007 sampai dengan tahun 2010. Variabel inputnya adalah biaya operasional, biaya tenaga kerja dan jasa bank. Untuk variabel outputya adalah total simpanan dan deposito. Hasil pada penelitian ini menunjukan bahwa rata-rata Bank Syariah yang memiliki tingkat efisiensi yang paling baik adalah Bank Muamalat Indonesia, selanjutnya Bank Syariah Mandiri dan terakhir adalah Bank Mega Syariah.

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumya adalah pada pada sampel dan periode penelitian. Pada penelitian ini sampel yang diteliti adalah BPRS diwilayah Jabodetabek dengan periode penelitian tahun 2015-2017. Sedangkan sampel pada penelitian terdahulu adalah 3 Bank Syriah dan periode yang diteliti adalah 2007-2010. Selain itu

35 penelitian ini juga mengukur tingkat kesehatan BPRS dengan pedekatan CAMEL dan metode yang digunakan adalah Binary Logistic.

7. Suliyanto dan Dian Purnomo jati (2014)

Penelitian ini menguji perbedaan tingkat efisiensi BPR dengan bank umum. Berdasarkan hasil analisis dengan pendekatan Data Envelopment Analysis (DEA) bahwa tingkat efisiensi bank umum maupun BPR belum mencapai efisiensi sempurna (100%), dengan rata-rata tingkat efisiensi bank umum selama periode penelitian (tahun 2009 Sampai dengan 2011) adalah sebesar 86%, sedangkan rata-rata tingkat efisiensi BPR adalah sebesar 87%. Hasil analisis juga menunjukkan bahwa inefisiensi yang dialami bank umum maupun BPR salah satunya disebabkan oleh pengeluaran pada variabel input berupa personal expenses (biaya tenaga kerja) yang berlebihan atau melebihi target optimal. Selain belum optimalnya pengelolaan biaya tenaga kerja, BPR juga mengalami permasalahan terkait iddle fund (dana menganggur). Berdasarkan hasil analisis uji beda rata-rata sampel bebas diperoleh hasil bahwa tidak terdapat perbedaan tingkat efisiensi antara bank umum dengan bank BPR. Hal ini disebabkan karena baik bank umum maupun BPR memiliki problem yang sama, yaitu pengelolaan personal expenses yang belum optimal sehingga bank menjadi belum efisien.

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumya adalah pada pada sampel dan periode penelitian. Pada penelitian ini sampel yang diteliti adalah BPRS diwilayah Jabodetabek dengan periode penelitian

36 tahun 2015-2017. Sedangkan sampel pada penelitian terdahulu adalah BPR dan Bank Umum dan periode yang diteliti adalah 2009-2011. Selain itu penelitian ini juga mengukur tingkat kesehatan BPRS dengan pedekatan CAMEL dan metode yang digunakan adalah Binary Logistic.

8. Fekri Ali Shawtari dan Mohamed Ariff Shaikh Hamzah Abdul Razak (2015)

Penelitian ini menguji efisiensi industri perbankan di Yaman dengan menggunakan Data Envelopment Analysis. Sektor perbankan di Yaman terkena beberapa kendala yang menghambat kemajuan seluruh indsutri, termasuk sirkulasi kas keluar dari sistem moneter salah satunya adalah tingginya kredit macet. Pemerintah atas saran IMF dalam sebuah upaya untuk memperbaiki masalah seperti itu merekomendasikan pengenalan ekonomi reformasi yang sebagian fokus pada sistem keuangan. sistem Ini telah dilakukan untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi sektor perbankan sehingga sesuai dengan standar internasional. Studi ini memberikan bukti bahwa reformasi sektor perbankan tidak berhasil dalam mencapai harapan. Jelaslah bahwa skor efisiensi sangat rendah dan ada kebutuhan mendesak untuk peningkatan skor efisiensi tersebut. Berdasarkan hasil penelitian, bank Islam telah mengungguli bank konvensional. Meskipun relatif stabil, bank konvensional mengalami tingkat efisiensi yang lebih rendah dibandingkan dengan bank-bank Islam. Untuk itu diperlukan langkah dan kebijakan untuk lebih meningkatkan industri perbankan.

37 Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumya adalah pada pada sampel penelitian. Pada penelitian ini sampel yang diteliti adalah BPRS diwilayah Jabodetabek. Sedangkan sampel pada penelitian terdahulu adalah Bank Syraiah dan Bank Konvensional di Yaman. Selain itu penelitian ini juga mengukur tingkat kesehatan BPRS dengan pedekatan CAMEL dan metode yang digunakan adalah Binary Logistic. 9. Yekti Rahajeng (2016)

Penelitian ini menguji tingkat kesehatan bank menggunakan metode CAMELS, sampel penelitiannya adalah Bank Syariah Mandiri, Tbk. Berdasarkan hasil analisis penilaian tingkat kesehatan bank PT BSM, Tbk untuk faktor keuangan dari tahun 2009-2011 mendapatkan peringkat 2 dengan predikat baik. Untuk perkembangan faktor manajemen PT BSM, Tbk mendapat peringkat 1 dengan predikat sangat baik pada tahun 2009-2010. Penilaian tingkat kesehatan bank dengan metode CAMELS yang telah dilakukan, medapatkan hasil bahwa PT BSM, Tbk tahun 2009-2011 mendapatkan nilai tingkat komposit 2, yang mencerminkan tingkat kesehatannya tergolong baik dan mampu mengatasi pengaruh negatif kondisi perekonomian dan industri keuangan namun bank masih memiliki kelemahan-kelemahan minor yang dapat segera diatasi oleh tindakan rutin. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumya adalah pada metode penilaian tingkat kesehatan bank. Pada penelitian sebelunya dalam menilai tingkat kesehatan bank menggunakan nilai komposit sedangkan pada penilitian ini metode yang digunakan adalah Binary Logistic. Selain

38 itu terdapat perbedaan pada sampel, periode dan rasio penelitian. Pada penelitian ini sampel yang diteliti adalah BPRS diwilayah Jabodetabek dengan periode penelitian tahun 2015-2017. Sampel pada penelitian terdahulu adalah Bank Syariah Mandiri, Tbk dan periode yang diteliti adalah 2009-2011. Sedangkan rasio yang digunakan pada penelitian ini adalah CAR, NPF, NPM, ROA dan FDR, sedangkan penelitian sebelumnya rasio yang digunakan adalah CAR, KAP, GCG, NOM, STM (Short Term Mismatch) dan MR (Market Risk). Selain itu penelitian ini juga mengukur tingkat efisiensi BPRS dengan metode Data Envelopment Analysis (DEA).

10. Fakarudin Kamarudin, Zack Hue Chiun, Fadzlan Sufian, Nazratul Aina, Mohamad Anwar (2017)

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui produktivitas bank-bank Islam apakah mengalami kemajuan atau kemunduran. Metode yang digunakan adalah Data Envelopment Analysis (DEA) dan indeks Malmquist untuk mengukur produktivitas. Sampel dalam penelitian ini adalah bank syariah yang beroperasi di Brunei, Indonesi dan Malaysia selama periode 2006 hingga 2014. Temuan empiris menunjukkan bahwa bank syariah domestik dan asing memiliki kemajuan, kedua bank yang dimiliki telah menjadi manajerial yang efisien dalam mengendalikan biaya operasi mereka tetapi telah beroperasi pada skala operasi yang salah. Hasilnya tampak menunjukkan bahwa bank-bank asing memiliki sedikit lebih banyak produktif dibandingkan dengan rekan bank domestik mereka,

39 yang dikaitkan dengan yang lebih tinggi perubahan efisiensinya. Namun, peneliti tidak menemukan perbedaan yang signifikan secara statistik antara efisiensi dan produktivitas bank Islam asing dan domestik yang dimiliki. Oleh karena itu peneliti menyimpulkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan secara statistik antara efisiensi dan produktivitas milik asing dibandingkan dengan bank syariah domestic. Selanjutnya, kapitalisasi, likuiditas dan faktor penentu krisis keuangan dunia secara signifikan mempengaruhi tingkat produktivitas bank syariah yang beroperasi di Brunei, Indonesia dan Malaysia selama periode yang diteliti.

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumya adalah pada penelitian sebelumya menggunakan indeks Malmquist untuk mengukur produktivitas, sedangkan pada penelitian ini tidak mengukur produktivitas melainkan kesehatan bank dengan Binary Logistic. Selain itu perbedaan juga terdapat pada sampel dan periode penelitian. Pada penelitian ini sampel yang diteliti adalah BPRS diwilayah Jabodetabek dengan periode penelitian tahun 2015-2017. Sedangkan sampel pada penelitian terdahulu adalah bank syariah yang beroperasi di Brunei, Indonesi dan Malaysia selama periode 2006 hingga 2014.

11. Ahmad Rodoni, M. Arskal Salim, Euis Amalia, Rezki Syahri Rakhmadi (2017)

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efisiensi dan profitabilitas industri perbankan syariah di Indonesia, Malaysia dan Pakistan. Teknik yang dipergunakan dalam penelitian ini ialah Data Envelopment Analysis (DEA) untuk mengukur efisiensi dan indeks

40 Malmquist untuk mengukur produktivitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa industri perbankan syariah di Indonesia cenderung kurang efisien, hal ini diperlihatkan oleh data rata-rata lima tahun terakhir yang tidak mampu mencapai tingkat efisiensi 100%. Tingkat efisiensi Bank Syariah Indonesia berada pada kisaran 75%. Malaysia turut pula menghadapi permasalahan inefisiensi, namun kondisi ini lebih baik dibandingkan Indonesia. Dalam lima tahun terakhir, tingkat efisiensi industri perbankan syariah di Malaysia tidak mencapai tingkat efisiensi 100%. Kondisi efisiensi malaysia terletak dikisaran 90%. Pakistan merupakan salah satu Negara yang hampir mencapai tingkat efisiensi pada industri perbankan syariahnya. Pakistan mendekati tingkat efisiensi rata-rata 100%.

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumya adalah pada penelitian sebelumya menggunakan indeks Malmquist untuk mengukur produktivitas, sedangkan pada penelitian ini tidak mengukur produktivitas melainkan kesehatan bank dengan Binary Logistic. Selain itu perbedaan juga terdapat pada sampel dan periode penelitian. Pada penelitian ini sampel yang diteliti adalah BPRS diwilayah Jabodetabek dengan periode penelitian tahun 2015-2017. Sedangkan sampel pada penelitian terdahulu adalah bank syariah yang beroperasi di Indonesia, Malaysia dan Pakistan dengan periode penelitian 2009-2013.

Penelitian-penelitian terdahulu tersebut di ringkas sebagaimana dalam Tabel 2.4 berikut ini:

41 Tabel 2.5

Ringkasan Penelitian Terdahulu

No Peneliti Judul Penelitian Persamaan Penelitian Perbedaan Penelitian Hasil Temuan 1 Hamim S. Ahmad Mokhtar, Naziruddin Abdullah, Syed M. Al-Habshi (2006) Journal of Economic Cooperation Malaysia 2006 Eficiency of Islamic banking in Malaysia : A Stochastic Frontier Approach Mengukur tingkat efisiensi bank Penelitian ini: Mengukur tingkat kesehatan dan efisiensi Penelitian Terdahulu: Mengukur tingkat efisiensi Sampel: Penelitian ini: mengukur tingkat kesehatan BPRS di wilayah Jabodetabek. Penelitian terdahulu: BUK, BUS dan Unit Usaha di Malaysia. Metode Penelitian Penelitian ini : Efisiensi: DEA Kesehatan: Regresi Logistik Penelitian terdahulu: meneliti efisiensi dengan SFA. Rata-rata efisiensi teknis dan biaya bank umum konvensional lebih tinggi dari bank syariah. Efisiensi tek-nis dan biaya rata-rata untuk bank syariah masing-masing 80,1% dan 86%, sedangkan bank konvensional menunjukan efisiensi teknis dan biaya adalah 83,5% dan 87,6%. Namun dari segi tren, menunjukan bahwa rata-rata Efi-siensi teknis dan efisiensi biaya bank syariah cenderung meningkat dari tujuh periode. Sedangkan efisiensi bank kon-vensional tidak banyak berubah selama pe-riode yang sama. Penelitian ini juga meneliti efisiensi ber-dasarkan tipe bank. Hasilnya bank umum syariah secara signifi-kan lebih efisiensi daripada unit usaha syariah. Serta rata-rata efisiensi bank menurut status kepemilikannya,

42

diketahui bahwa unit usaha syariah asing lebih efisien daripada unit usaha syariah bank domestik. 2 Moh. Sochih (2008) Jurnal Pendidikan Akuntansi Indonesia Vol. VI. No. 2 – Tahun 2008 Analisis Tingkat Kesehatan Bank Ditinjau Dari CAMELUntuk Mengukur Keberhasilan Manajemen Pada PT BPRS Margirizki , Banguntapan, Bantul, Yogyakarta (Studi Kasus Pada PT BPRS Margi Rizki Bahagia) Mengukur tingkat tingkat kesehatan BPRS. Memakai metode CAMEL. Penelitian ini: Mengukur tingkat kesehatan dan efisiensi Penelitian Terdahulu: Mengukur tingkat kesehatan Sampel: Penelitian ini: mengukur tingkat kesehatan BPRS di wilayah Jabodetabek. Penelitian terdahulu: 1 BPRS wilayah Yogyakarta. Metode Penelitian Penelitian ini : Efisiensi: DEA Kesehatan: Regresi Logistik Penelitian terdahulu: meneliti dengan nilai bobot dan nilai kredit BPRS.

Kondisi perusahaan secara keseluruhan dari tahun 1998 sampai dengan tahun 2000 sehat, karena total nila1 kredit hasil analisis laporan keuangan dan manajemen berdasarkan CAMEL,masing-masing 93, 91.42, dan 97.8. Total nilai tersebut cukup meyakinkan karena ketetapan Bank Indonesia, BPR dikata-kan sehat jika nilai kredit 81 sampai dengan 100. 3 Deni Kusumawardani , Tri Haryanto, dan Wisnu Wibowo(2008) Majalah Ekonomi Tahun XVIII, No. 2 Agustus 2008 Tingkat Kesehatan Dan Efisiensi Bank Perkreditan Rakyat Jawa Timur Mengukur tingkat efisiensi. Mengukur tingkat kesehatan Sampel : Penelitian ini :BPRS Penelitian terdahulu: BPR Metode Penelitian : Penelitian ini: Efisiensi: DEA Kesehatan: Regresi

Indikator kinerja ke-uangan yang me-nyangkut aspek per-modalan, kualitas asset, rentabilitas dan likuiditas, menunjukkan bahwa BPR Jatim termasuk dalam kategori sehat. Demikian juga, capaian kinerja pada

43 Logistik

Penelitian terdahulu: DEA

Nilai Bobot dan Nilai Kredit

kantor cabang BPR Jatim bila dibandingkan dengan standar yang ditetapkan oleh BI menunjukkan performa baik. Analisis meng-gunakan Model DEA menunjukkan bahwa pada umumnya kantor cabang kurang efisiensi. Untuk meningkatkan tingkat efisiensi, BPR sebagai lembaga intermediasi harus me-ningkatkan penyaluran dana kepada masyarakat dengan tetap menjaga prinsip kehati-hatian. Hasil pengujian korelasi spearman menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara tingkat kesehatan bank dengan skor efisiensi DEA. 4 Diah Arianti, dan Nur Iriawan Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi XVII Program Studi MMT-ITS, Surabaya 2 Februari 2013 Early Warning System (Ews) Untuk Prediksi Kesehatan Bank Perkreditan Rakyat (Bpr) Di Indonesia: Pendekatan Model Regresi Logistik Menilai Tingkat Kesehatan BPR dengan CAMEL. Mengukur Pengaruh Rasio-Rasio Keuangan Terhadap Kesehatan Bank Penelitian ini: Mengukur tingkat kesehatan dan Efisiensi BPRS Penelitian terdahulu: Mengukur Pengaruh Rasio-Rasio Keuangan Terhadap Kesehatan Bank Dengan regresi logistik. Sampel: Penelitian ini: BPRS Penelitian terdahulu: BPR Metode Penelitian :

Penelitian ini mengukur kesehatan BPR yang melibatkan 8 variabel indikator keuangannya yaitu CAR, KAP, PPAP, ROA, BOPO, CR, LDR, dan Managemen. Diperoleh hasil per-modelan yang menyata-kan bahwa CAR, KAP, BOPO dan CR memiliki pengaruh yang

Dokumen terkait