• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.5. Penelitian Terdahulu yang Relevan

Penelitian mengenai permukiman cenderung terfokus pada permasalahan

yang terkait dengan harga lahan permukiman atau faktor-faktor yang

mempengaruhi konsumen dalam memilih lokasi untuk dijadikan tempat tinggal

seperti penelitian yang dilakukan Wahyuningsih (2003). Dalam penelitiannya,

Wahyuningsih berusaha mengetahui pola preferensi konsumen dalam memilih

lokasi rumah tinggal perkotaan dan faktor-faktor yang dimiliki oleh suatu lokasi

dengan menggunakan analisis Kuantifikasi Hayashi II, Analisis Regresi Berganda,

dan Analisis Deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola preferensi

relatif konsumen dalam memilih lokasi rumah tinggal perkotaan di kompleks

perumahan real estate atau sisi permintaan dipengaruhi oleh daerah asal (dengan

nilai korelasi parsial tertinggi yaitu 7,4233), waktu ke Central Business District

pekerjaan, tujuan membeli, pendapatan, harga tanah, dan pendidikan. Faktor

lokasi tanah (sisi penawaran) dipengaruhi oleh luas tanah, fasilitas listrik, saluran

limbah, persampahan, ancaman banjir, sarana ibadah, tempat bermain anak, jarak

terhadap Mesjid raya Baiturrahman, jalan kolektor, angkutan kota, dan

perdagangan serta bangunan dipengaruhi oleh luas, konstruksi, atap, dinding, dan

lantai.

Penelitian tentang kesediaan membayar masyarakat atau Willingness to

Pay (WTP) terhadap perbaikan kualitas lingkungan di suatu permukiman biasanya

hanya ditujukan untuk perbaikan satu aspek atau satu faktor lingkungan saja

seperti penelitian Selan (2003) mengenai WTP masyarakat untuk menurunkan

tingkat kebisingan di perumahan sekitar bandar udara Soekarno-Hatta. Penelitian

ini menggunakan metode deskriptif-kuantitatif. Pendekatan penelitian ini

menggunakan persepsi langsung masyarakat yang diperoleh dari hasil wawancara.

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa faktor sosial ekonomi masyarakat

memiliki kaitan yang sangat erat dengan tingkat WTP mereka untuk mengurangi

tingkat kebisingan. Variabel tingkat penghasilan dan tingkat pendidikan memiliki

koefisien korelasi (r) paling tinggi yaitu sebesar masing-masing 0,886 dan 0,814

menunjukkan bahwa penghasilan dan pendidikan sangat berhubungan erat dengan

tingakat WTP seseorang. Sedangkan variabel perbedaan masa tinggal dan status

kepemilikan rumah berkaitan cukup erat dengan tingkat WTP mereka untuk

mengurangi tingkat kebisingan. Nilai ekonomi dengan menggunakan metode

contingent valuation memperoleh WTP masyarakat dalam menurunkan tingkat

kebisingan di perumahan Bandara Mas sebesar Rp50.000,00 sampai dengan

Penelitian yang terkait dengan lingkungan pemukiman dilakukan oleh

Dimyati (2006) mengenai Willingness to Pay masyarakat terhadap program

pembangunan rumah susun di permukiman Bantaran Sungai Ciliwung, Kelurahan

Kampung Melayu, DKI Jakarta menggunakan pendekatan CVM untuk

memperoleh nilai WTP dan analisis regresi linier berganda untuk melihat

faktor-faktor yang mempengaruhi nilai WTP. Hasil penelitian mengenai persepsi

responden terhadap keadaan lingkungan di kelurahan Kampung Melayu

memperoleh hasil bahwa sebagian besar responden beranggapan bahwa

wilayahnya tergolong kotor. Sebagian besar responden mengetahui dampak

negatif dari kerusakan lingkungan diantaranya banjir. Persepsi responden terhadap

program pembangunan rumah susun dipengaruhi oleh jumlah tanggungan, luas

tempat tinggal, dan rasio sewa dengan pendapatan. Hasil penelitian menggunakan

regresi logit menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kesediaan dan

ketidaksediaan masyarakat terhadap program pembangunan rumah susun adalah

jumlah tanggungan, pendidikan, rasio sewa dengan pendapatan. Sedangkan hasil

penelitian menggunakan CVM didapatkan nilai WTP adalah sebesar

Rp268.750,00,00. Secara agregat nilai WTP (TWTP) adalah sebesar

Rp402.250.000,00. Berdasarkan analisis regresi linier berganda nilai WTP

dipengaruhi oleh rasio sewa dengan pendapatan dan lama tinggal.

Penelitian yang terkait dengan lingkungan pemukiman dan dikaji dari

aspek ekonomi dilakukan Yavanica (2009) dengan menganalisis nilai kerusakan

lingkungan dan kesediaan membayar masyarakat terhadap program perbaikan

lingkungan di pemukiman Bantaran Sungai Ciliwung. Metode yang digunakan

total kerugian yang diterima masyarakat ketika terjadi banjir adalah

Rp1.254.097.156,00. Nilai ini mencerminkan total biaya yang dikeluarkan

responden untuk mendapatkan lingkungan yang lebih baik. Pengetahuan

masyarakat terhadap lingkungan masih rendah, namun sebagian besar masyarakat

(81%) menyatakan setuju bila dilakukan perbaikan lingkungan, faktor-faktor yang

mempengaruhinya adalah jumlah tanggungan, lama tinggal, status kependudukan,

dan jenis kelamin. Nilai rataan WTP responden sebesar Rp206.800,00 untuk

setiap orang (KK) yang membayar perbaikan lingkungan dan totalnya adalah

sebesar Rp160.673.400,00. Besarnya nilai WTP ini dipengaruhi oleh faktor

tingkat pendapatan, tingkat pendidikan, dan luas tempat tinggal.

Penelitian yang hampir sejenis dengan penelitian ini adalah penelitian

yang dilakukan oleh Whittington D. dan J. Davis (1994), data yang diperoleh

dikumpulkan dengan menggunakan teknik CVM dan digunakan untuk

memperkirakan sebuah fungsi penilaian, hubungan fungsional antara kemampuan

membayar responden terhadap barang atau jasa dengan karakteristik sosial

ekonomi dan demografi responden. Penelitian ini dilakukan di Lugazi, Uganda

selama bulan Juli 1994. Survei rumah tangga digunakan untuk mendapatkan

informasi tentang penggunaan air dan sanitasi responden saat ini, karakteristik

sosial ekonomi dan demografi, dan kemampuan membayar untuk perbaikan air

dan sanitasi. Penyesuaian masyarakat digunakan untuk mendapatkan persepsi

responden terhadap air dan sanitasi yang sudah ada, dan untuk menyediakan

informasi tentang kemungkinan jenis-jenis perbaikan. Dalam kasus ini perbedaan

antara survei rumah tangga dan penyesuaian masyarakat tidak menghasilkan

kuat bahwa range dari pencarian tiap penilaian pertanyaan adalah kecil, bahkan

dengan adanya pengurangan ukuran contoh yang lebih dari 70%. Penelitian ini

merupakan langkah awal perbandingan pendekatan penelitian participatory yang

berbeda. Penelitian tambahan diperlukan untuk menentukan jika sistematik yang

berbeda sering digunakan, dimana data yang dikumpulkan menggunakan teknik

yang berbeda dan jika pendekatan secara khusus menghasilkan keakuratan dan

informasi yang reliabel bagi peneliti.

Beberapa penelitian terdahulu mengenai lingkungan dan permukiman

biasanya dilakukan di daerah pemukiman kumuh atau bantaran sungai. Padahal

masalah mengenai lingkungan permukiman tidak hanya terjadi di pemukiman

kumuh ataupun bantaran sungai tetapi juga di perumahan besar di perkotaan yang

penduduknya memiliki status ekonomi menengah ke atas dan memiliki tingkat

pendidikan yang cukup tinggi. Pendidikan yang cukup tinggi mengindikasikan

kemampuan mereka untuk memahami pentingnya kualitas lingkungan yang cukup

tinggi pula, sedangkan kemampuan ekonomi membuat masyarakat lebih bersedia

untuk membayar biaya perbaikan lingkungan demi memperoleh kenyamanan

bertempat tinggal yang mereka inginkan. Oleh karena itu, peneliti merasa perlu

melakukan penelitian di suatu perumahan besar di kota Bogor, yang mengalami

permasalahan lingkungan, dengan pemahaman bahwa kenyamanan bertempat

tinggal dipengaruhi oleh lingkungan sekitar dan kemampuan ekonomi serta

tingkat pendidikan yang lebih tinggi akan mempengaruhi penilaian seseorang

terhadap lingkungan maka diharapkan upaya perbaikan lingkungan dapat

III. KERANGKA PEMIKIRAN

Dokumen terkait