BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.9 Penelitian Terdahulu yang Relevan
Persamaan Perbedaan Hasil Penelitian Terdahulu
32 nilai efisiensi yang sama yaitu sebesar
33
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Objek dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di Pasar Cikarang Kabupaten Bekasi. Pedagang sayur Pasar Cikarang Kabupaten Bekasi sebagai lokasi penelitian. Sampah organik daun angsana dan sayuran yang terdiri dari sawi dan kulit jagung yang kemudian dibakar dan menghasilkan limbah cair sebagai objek penelitian. Pengambilan sampel sampah organik dilakukan pada tanggal 17 Agustus 2019. Pembakaran sampah dilaksanakan pada tanggal 24 Agustus 2019. Uji Laboratorium dilakukan di PT.
Ecosindo Laboranusa dengan alamat Graha Senta Jl. Siliwangi No. 80 Bekasi pada tanggal 29 Agustus 2019 sampai tanggal 10 September 2019 dan PT. Tuv Nord Indonesia dengan alamat Jl. Science Timur. 1, Sertajaya Kec. Cikarang Timur Kab.
Bekasi pada tanggal 03 September 2019 sampai tanggal 18 September 2019 serta di Laboratorium Lingkungan Universitas Pelita Bangsa.
3.2 Bahan dan Alat Penelitian
Bahan yang digunakan adalah sampah organik yang terdiri dari sawi dan kulit jagung Pasar Cikarang Kabupaten Bekasi dan sebagai variabel pembanding yaitu sampah daun angsana kering dari kawasan industri MM2100 kemudian limbah cair hasil pembakaran dengan alat pembakar sampah tanpa asap.
Alat-alat yang digunakan adalah botol timbangan tertutup, Oven, Nerca Analitik, Eksikator, dan Pembakar Sampah Tanpa Asap “Mini Smokless Incinerator Kapasitas 100 Liter”.
34
Gambar 3.1 Alat Pembakar Sampah Tanpa Asap Sumber : Laporan TTG TL15F1, 2019 Keterangan Alat :
1. Tungku Pembakaran 2. Insinerator
3. Box Air Kotor 4. Kerangka 5. Blower 6. Pompa
3.3 Variabel Penelitian 1. Sampah daun kering, dan ; 2. Sampah basah.
3.4 Metode Penelitian
1. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah dengan cara mengambil sampah organik menggunakan sarung tangan kemudian dimasukan kedalam kantong plastik ukuran 7 Liter, selanjutnya untuk
35
sampah organik basah yaitu sayur sawi dan kulit jagung dilakukan proses penjemuran selama 12 jam dibawah sinar matahari dengan suhu 34 °C - 36
°C. Kemudian sampah organik yang sudah dijemur dilakukan pengujian kadar air. Sampah organik kering yaitu daun angsana yang sudah kering diperoleh dari kawasan industri MM2100.
Gambar 3.2 Diagram Alir Sampah Organik Sebelum Pembakaran.
Sumber : Data Primer
2. Pengujian kadar air dilakukan di Laboratorium Lingkungan Universitas Pelita Bangsa dengan menggunakan metode Oven SNI 01-2891-1992.
Alat :
1. Botol timbang bertutup 2. Eksikator
3. Oven
4. Neraca Analitik Cara Kerja :
1. Timbang dengan seksama 1 g – 2 g cuplikan pada sebuah botol bertutup yang sudah diketahui bobotnya.
2. Keringkan pada oven suhu 105 °C selama 3 jam 3. Dinginkan dalam eksikator
Sampah Organik
36
4. Timbang, ulang pekerjaan hingga diperoleh bobot tetap.
Perhitungan : Kadar Air = 𝑤1−𝑤2
𝑤1 x 100% ...(3.1) Keterangan :
W1 : Bobot sampel awal (g)
W2 : Bobot sampel akhir setelah dikeringkan (g)
3. Pembakaran Sampah Organik
Menggunakan alat Mini Smokless Incinerator Kapasitas 100 Liter untuk mendapatkan hasil pembakaran berupa limbah cair.
Metode Prosedur Kerja Mini Smokless Incinerator Kapasitas 100 Liter : Alat :
1. Mini Smokless Incenerator Kapasitas 100 liter.
2. Timbangan kapasitas 50 Kg 3. Korek Api
4. Termokopel Bahan :
1. Sampah Organik Kering 2.020 Kg 2. Sampah Organik Basah 2.025 Kg 3. Air 35 Liter
Prosedur Kerja Mini Smokless Incinerator Kapasitas 100 Liter :
1. Siapkan rak alat, dan pasangkan tangki pembakaran pada tempat tangki.
2. Siapkan bak penampung air, pasangkan pada tempat bak, pasangkan pompa air.
3. Siapkan tabung cyclone, pasangkan tabung merangkap.
4. Pasangkan pipa penyemprot air, sambungkan dengan selang yang disalurkan pada bak penampung air.
5. Pasangkan blower pada ujung pipa saluran asap pembakaran, dan tambahkan pendingin blower.
6. Pasangkan pipa penghubung dari blower ke tabung cyclone.
37
7. Nyalakan aerator, blower, dan pendingin blower.
8. Masukkan sampah yang akan dibakar, kemudian dibakar.
9. Sampah yang dibakar akan habis menjadi abu, sedangkan air bekas penyemprot asap pembakaran sampah akan digunakan kembali hingga menghitam.
Pembakaran sampah organik secara manual sebagai perbandingan untuk menghitung efisiensipembakaran.
Alat : 1. Tong 2. Korek Api
3. Timbangan Kapasitas 50 Kg 4. Termokopel
Bahan:
1. Sampah Organik Kering 2,014 Kg 2. Sampah Organik Basah 2,018 Kg
4. Pengujian limbah cair hasil pembakaran dengan parameter pH, COD, BOD, TSS, N Total, K, dan P.
Gambar 3.3 Diagram Alir Uji Laboratorium.
Sumber : Data Primer
38
Pengujian limbah cair dilakukan dengan menggunakan jasa PT. Ecolab Laboranusa dan PT. Tuv Nord Indonesia. Metode pengujian limbah cair hasil pembakaran sampah organik sesuai parameter pengujian laboratorium adalah sebagai berikut :
Tabel 3. 1 Metode Pengujian Limbah Cair.
No Parameter Pengujian Metode Pengujian
1 Derajat Keasaman (pH) APHA 4500H+ 2012 2 Chemical Oxygen Demand (COD) SNI 6989.2 : 2009 3 Biochemical Oxygen Demand (BOD) APHA 5210 B 2012 4 Total Suspended Solid (TSS) APHA 2540 D 2012
5 Nitrogen Total (N) APHA 4500-N B
6 Fosfor (P) APHA 4500 P
7 Kalium (K) APHA 3120B 2017
Sumber : PT. Ecolab Laboranusa dan PT. Tuv Nord Indonesia, 2019
39
3.5 Diagram Alir Tahapan Penelitian
Gambar 3.4 Diagram Alir Penelitian.
Mulai
Studi Pustaka dan Observasi
Persiapan Alat dan Bahan
Pengambilan Sampel
Uji Kadar Air
Parameter Analisis : pH,
BOD, COD, TSS, N Total,
Fosfor, dan Kalium
Daun Angsana Kering
Sawi & Kulit Jagung
Proses Pembakaran
Penjemuran
Analisis
Pengolahan Data
Penulisan Laporan
Selesai
40
3.6 Rencana Anggaran Biaya Tabel 3.2 Rencana Anggaran Biaya
41
3.7 Jadwal Penelitian
Jadwal pelaksanaan penelitian dimulai pada awal Juli 2019 sampai dengan akhir September 2019.
Tabel 3.3 Jadwal Penelitian.
No Uraian Pekerjaan Juli Agustus September
1 Studi Pustaka
2 Penyusunan Proposal
3 Sidang Proposal
4 Observasi
5 Pengambilan Sampel
6 Penjemuran
7 Pembakaran
8 Uji Laboratorium
9 Analisis Data
10 Penyusunan Laporan
42
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Efisiensi Pembakaran Sampah Organik Menggunakan Alat Pembakar Sampah Tanpa Asap
Dalam proses pembakaran sampah organik menggunakan alat pembakar sampah tanpa asap ini peneliti menggunakan sampah organik kering yaitu daun angsana yang diperoleh dari Kawasan Industri MM2100 dan sampah organik basah yaitu sayuran yang terdiri dari sawi dan kulit jagung yang diperoleh dari Pasar Cikarang Kabupaten Bekasi. Dengan adanya alat pembakar sampah tanpa asap ini diharapkan mampu mereduksi sampah sehingga mampu menjadi teknologi pengolahan sampah organik, menurut Dwi (2017) analisis uji kerja alat yang meliputi pengukuran suhu, laju pembakaran, rendemen arang, rendemen abu dan efisiensi pembakaran.
Gambar 4.1 Sampah Daun Angsana yang digunakan Sebagai Objek Penelitian.
Sumber : Data Primer
43
a). Hari Ke-1 Proses Pengeringan
b). Hari Ke-2 Proses Pengeringan
Gambar 4.2 Sampah Organik Sayuran yang digunakan Sebagai Objek Penelitian.
Sumber : Data Primer
Sebelum dilakukan proses pembakaran, sampah sawi dan kulit jagung terlebih dahulu dijemur selama 12 jam dengan suhu 34-36 0C. Menurut Lee dan Jin (2007) Pengeringan sampah sebelum dibakar dapat meningkatkan kesempurnaan reaksi pembakaran. Dan Menurut Bagus (2002) Kandungan air merupakan komponen yang selalu terbawa dalam sampah. Pengaruh dari kandungan air adalah terjadinya penurunan nilai kalor dari bahan bakar sampah yang mempengaruhi efisiensi insinerator. Sebelum dibakar peneliti melakukan uji kadar air pada sampah organik basah yaitu sawi dan kulit jagung. Berikut adalah tabel pengujian kadar air sawi dan kulit jagung :
44
Tongkol Jagung 84,222 54,612
Daun Sawi 91,595 43,235
Batang Sawi 98,887 53,426
Sumber : Data Primer
Dari hasil pengujian kadar air pada tabel diatas kandungan air yang terdapat pada sawi yang masih segar mencapai 98,887 % dan kandungan air pada kulit jagung mencapai 84,222 %. Sedangkan kandungan air pada sawi yang sudah dilakukan proses pengeringan dengan cara dijemur yaitu 53,426 % pada bagian batang sawi dan kandungan pada kulit jagung 54,612 % pada bagian tongkol. Dari penelitian yang dilakukan Edy (2016) diketahui bahwa jenis sampah sangat berpengaruh terhadap suhu pembakaran. Seperti sampah kain katun, plastik polietilen, kertas, dan sampah campuran dengan kadar air hingga 40% mampu terbakar dengan sendirinya. Sementara itu, sampah basah dengan kadar air lebih dari 80% tidak dapat terbakar dengan sendirinya. Menurut Caneghem dkk (2012) Kadar air sampah yang tinggi ini dapat menyebabkan turunnya suhu nyala pembakaran. Sedangkan pada penelitian yang dilakukan Rosyadi dkk (2017) Pembakaran sampah organik di insinerator dengan kadar air 58,67% ini masih berlangsung baik walaupun temperatur tidak semaksimal pembakaran dengan kadar air 43,34 %. Dan pada Penelitian yang dilakukan Taskirawati (2000) Kadar air pada serasah Acacia mangium 69 % tidak dapat terbakar. Lebih sedikit kandungan air lebih mudah terbakar. Selain berpengaruh pada mudah tidaknya pembakaran kadar air juga mempunyai pengaruh pada asap yang ditimbulkan. Pada pembakaran yang peneliti lakukan sampah organik yang digunakan memiliki kadar air 43,235 % - 54,612 %. Hal ini bisa menyebabkan terjadinya pembakaran yang tidak sempurna.
Pembakaran yang tidak sempurna akan menghasilkan gas karbon monoksida (CO) dimana jika pembakaran menggunakan alat pembakar asap akan sangat
45
mempengaruhi kualitas limbah cair yang dihasilkan. Tabel Berikut adalah data yang diperoleh dari proses pembakaran :
Tabel 4.2 Data Proses Pembakaran.
Untuk mengetahui efisiensi pembakaran sampah organik peneliti melakukan proses pembakaran menggunakan alat pembakar sampah tanpa asap (Mini Smokless Insinerator Kapasitas 100 Liter) dan pembakaran manual tanpa alat.
4.1.1 Perhitungan Suhu Pembakaran
Pengukuran suhu pada alat pembakar sampah tanpa asap dilakukan langsung oleh peneliti menggunakan Thermocouple. Berikut adalah tabel pengamatan suhu yang diperoleh pada saat proses pembakaran :
Tabel 4.3 Pengamatan Temperatur Sampah Organik Kering.
No Waktu (Menit)
Suhu (0C) Pembakaran
Menggunakan Alat Pembakaran Manual
1. 5 188 175
Dari data diatas didapat waktu habis sampah pembakaran menggunakan alat pembakar sampah tanpa asap selama 25 menit 20 detik. Suhu tertinggi pembakaran sampah mencapai 306 oC pada menit ke 25, dan suhu terendah mencapai 188 oC pada menit ke 5. Sedangkan waktu habis sampah pembakaran manual selama 20
46
menit 35 detik. Suhu tertinggi pembakaran sampah mencapai 269 oC pada menit ke 20, dan suhu terendah mencapai 175 oC pada menit ke 5.
Tabel 4.4 Pengamatan Temperatur Sampah Organik Basah.
No Waktu (Menit)
Suhu (0C) Pembakaran
Menggunakan Alat Pembakaran Manual
1. 5 196 188
Dari data diatas didapat waktu habis sampah pembakaran menggunakan alat pembakar sampah tanpa asap selama 26 menit 20 detik. Suhu tertinggi pembakaran sampah mencapai 291 oC pada menit ke 20, dan suhu terendah mencapai 180 oC pada menit ke 10. Sedangkan waktu habis sampah pembakaran manual selama 22 menit 15 detik. Suhu tertinggi pembakaran sampah mencapai 280 oC pada menit ke 20, dan suhu terendah mencapai 188 oC pada menit ke 5.
Gambar 4.3 Grafik Fluktuasi Suhu Pembakaran Sampah Organik Kering.
Sumber : Data Primer
47
Pada grafik diatas suhu pada pembakaran menggunakan alat pembakar sampah pada menit ke-5 sampai menit ke-15 naik dari 210 oC sampai 262 oC. Pada menit ke-20 suhu mengalami penurunan menjadi 254 oC lalu pada menit ke-25 suhu naik kembali menjadi 306 oC. Sedangkapan pada pembakaran manual tidak terjadi penurunan suhu. Suhu terus naik dari menit ke-5 yaitu 175 oC sampai menit ke-20 yaitu 269 oC. Pada menit ke-25 suhu 0 karena waktu pembakaran manual hanya berlangsung 20 menit.
Gambar 4.4 Grafik Fluktuasi Suhu Pembakaran Sampah Organik Basah.
Sumber : Data Primer
Pada grafik diatas suhu pada pembakaran menggunakan alat pembakar sampah dari menit ke-5 ke menit ke-10 mengalami penurunan suhu yaitu dari 196
oC menjadi 180 oC lalu dari menit ke-10 sampai menit ke-20 suhu terus naik dari 180 oC sampai 291 oC. Pada menit ke-25 suhu mengalami penurunan menjadi 286
oC. Sedangkapan pada pembakaran manual dari menit ke-5 ke menit ke-10 mengalami penurunan suhu yaitu dari 188 oC menjadi 172 oC lalu dari menit ke-10 sampai menit ke-15 suhu terus naik dari 172 oC sampai 239 oC. Pada menit ke-20 suhu mengalami penurunan menjadi 280 oC. Pada menit ke-25 suhu 0 karena waktu pembakaran manual hanya berlangsung 20 menit.
196 180
48
Menurut Nuryono dkk, Sampah yang mempunyai kandungan air yang tinggi menyebabkan temperatur ruang bakar rendah, karena sebagaian energi panas dipakai untuk menguapkan air. Hal ini menyebabkan terjadinya reaksi pembakaran yang tidak sempurna ( incomplate combustion ).
4.1.2 Perhitungan Laju Pembakaran
Laju pembakaran sampah organik dihitung dengan membandingkan banyaknya sampah yang dibakar dengan lamanya waktu proses pembakaran.
Berikut tabel pengujian dengan berat sampah 2 Kg. Hasil Perhitungan laju pembakaran dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.5 Hasil Perhitungan Laju Pembakaran.
Pembakaran Jenis Sampah Waktu Pembakaran (jam)
Dari data pada tabel diatas waktu pembakaran menggunakan pembakaran manual relatif lebih cepat dari pada pembakaran menggunakan alat hal ini disebabkan karena masa dan jenis sampah. Menurut Hiskawati (2018) Bahwa massa dan jenis sampah sangat berpengaruh terhadap lamanya waktu pembakaran.
Hal tersebut terjadi dikarenan semakin besar massa sampah yang dibakar maka semakin lama waktu pembakaran yang diperlukan, sebaliknya jika semakin kecil massa sampah yang dibakar, maka semakin cepat proses pembakaran berlangsung.
Hal ini disebabkan karena massa sampah yang kecil akan mempercepat proses pembakaran sehingga waktu yang diperlukan pula akan semakin cepat. Selain dari pada itu pada proses pembakaran manual sampah dibakar secara terbuka sehingga lebih banyak oksigen dibandingkan menggunakan alat sampah dibakar diruang pembakaran tertutup. Oleh karena itu laju pembakaran secara manual lebih cepat dari pada laju pembakaran menggunakan alat.
49
4.1.3 Perhitungan Rendemen Arang
Rendemen arang yaitu parameter massa arang yang dihasilkan dari proses pembakaran dan massa sampah yang dibakar. Nilai rendemen arang dihitung dengan presentase perbandingan massa arang dan massa sampah. Hasil Perhitungan rendemen arang dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.6 Hasil Perhitungan Rendemen Arang.
Pembakaran Jenis Sampah Sisa Pembakaran (Arang) (Kg)
Dari hasil perhitungan rendemen arang pada tabel diatas jumlah rendemen arang pada pembakaran menggunakan alat lebih banyak dari pada jumlah rendemen arang dari pembakaran secara manual, hal ini berhubungan dengan laju pembakaran yang relatif lama jika menggunakan alat dikarenakan sedikitnya oksigen yang berperan pada proses pembakaran menggunakan alat.
4.1.3 Perhitungan Rendemen Abu
Rendemen abu sampah organik diukur dengan massa abu sisa pembakaran dan massa sampah. Nilai rendemen abu dihitung dengan presentase perbandingan massa abu dibagi massa sampah. Hasil Perhitungan rendemen abu dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.7 Hasil Perhitungan Rendemen Abu.
Pembakaran Jenis Sampah Sisa Pembakaran
(Abu) (Kg) Rendemen Abu (%)
50
Dari hasil perhitungan rendemen abu pada tabel diatas jumlah rendemen abu pada pembakaran manual lebih banyak dari pada jumlah rendemen abu dari pembakaran menggunakan alat, ditinjau dari pengaruh oksigen pada saat proses pembakaran. Pembakaran secara manual menghasilkan abu yang lebih banyak karena proses pembakaaran yang terbuka.
4.1.4 Efisiensi Pembakaran
Efisiensi penggunakan alat pada proses pembakaran dilakukan untuk mengetahui seberapa besar presentase alat untuk mereduksi sampah organik. Hasil Perhitungan Efisiensi pembakaran dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.8 Hasil Pengukuran Efisiensi Pembakaran.
Pembakaran Jenis Sampah Efisiensi (%)
Menggunakan Alat Kering 88,119
Basah 79,012
Manual Kering 90,070
Basah 83,153
Sumber : Data Primer
Dari hasil perhitungan efisiensi pembakaran pada tabel diatas pembakaran secara manual lebih efisien dibandingkan dengan pembakaran menggunakan alat hal ini dikarenakan suhu pada proses pembakaran kurang maksimal hanya mencapai 306 ºC sedangkan menurut Utami dkk (2011) suhu pembakaran insinerator berkisar antara 810 °C -1600 °C. Oleh karena itu mengakibatkan terjadinya laju pembakaran yang lambat yang mempengaruhi jumlah rendemen abu, rendemen arang dan efisiensi pembakaran dibandingkan dengan pembakaran manual yang relatif lebih cepat karena dilakukan diruang terbuka.
4.1.5 Pengamatan Asap Saat Pembakaran
Sebagai bahan perbandingan peneliti melakukan pembakaran dengan menggunakan alat pembakar sampah tanpa asap (Mini Smokless Insinerator Kapasitas 100 Liter) dan pembakaran manual.
51
a. Pembakaran menggunakan b. Pembakaran Manual Alat Pembakar Sampah
Gambar 4.5 Perbandingan Asap Pembakaran.
Sumber : Data Primer
Berdasarkan dari hasil pengamatan yang telah dilakukan asap yang terdapat pada alat pembakar sampah tanpa asap lebih sedikit dibandingkan dengan pembakaran sampah secara manual, dapat diketahui bahwa pembakaran menggunakan alat pembakar sampah lebih baik karena asap yg dikeluarkan lebih sedikit sehingga mampu menggurangi pencemaran udara dari pada pembakaran secara manual yang mengeluarkan asap lebih banyak.
4.2 Kualitas Limbah Cair yang dihasilkan oleh Proses Pembakaran Sampah Organik
Dalam penelitian ini limbah yang dihasilkan dari proses pembakaran sampah organik menggunakan alat pembakar sampah tanpa asap berupa limbah cair. Untuk mengetahui kualitas limbah cair yang dihasilkan maka dilakukan
52
a. Sampah Organik A b. Sampah Organik B
pengujian yang mengacu pada baku mutu air limbah domestik Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 68 Tahun 2016 dengan parameter pH, COD, BOD dan TSS.
\
Gambar 4.6 Limbah Cair dari Hasil Proses Pembakaran.
Sumber : Data Primer
Limbah yang dihasilkan dari proses pembakaran menggunakan alat pembakar sampah tanpa asap pada Gambar 4.3 a. Sampah Organik A merupakan hasil pembakaran sampah daun angsana dan b. Sampah Organik B merupakan hasil dari sampah organik sayuran yang terdiri dari sawi dan kulit jagung.
4.2.1 Analisis Kadar pH
Derajat keasaman (pH) merupakan nilai yang menunjukkan aktivitas ion hidrogen dalam air. Nilai pH dalam limbah dapat mencerminkan keseimbangan antar asam dan basa dalam limbah tersebut. Limbah domestik biasanya mempunyai pH mendekati netral (Jenie et al., 1993).
Setelah dilakukan pengujian menggunakan pH meter dengan metode APHA 4500H+ 2012 dengan menggunakan jasa PT. Ecosindo Laboranusa diperoleh hasil pembacaan sampel A pH yaitu 5,69 mg/L dan B yaitu 6,29 mg/L. Hasil uji dapat dilihat pada tabel berikut :
53
Tabel 4.9 Kadar pH.
Sampel Kadar pH (mg/L) Standar Mutu (mg/L) Kesesuaian
Sampah Organik A 5,69 6 – 9 X sedangkan sampah organik B basah. Suhu dan kelembapan bisa mempengaruhi kadar pH. Sampah organik B yang merupakan sampah organik basah mengandung air lindi yang bisa mempengaruhi kadar pH sehingga pH menjadi basah.
4.2.2 Analisis Kadar BOD
Biological Oxygen Demand (BOD) merupakan sebagai banyaknya oksigen yang dibutuhkan oleh mikroorganisme untuk memecah bahan-bahan organik yang berada di dalam air. Pengujian BOD diperlukan untuk menentukan beban pencemaran akibat air buangan penduduk atau industri, dan untuk mendesain sistem pengolahan biologis bagi air yang tercemar tersebut. Pemecahan bahan organik diartikan bahwa bahan organik ini digunakan oleh organisme sebagai bahan makanan dan energinya diperoleh dari proses oksidasi (Alaerts dan Santika, 1984).
Setelah dilakukan pengujian menggunakan metode APHA 5210 B 2012 dengan menggunakan jasa PT. Ecosindo Laboranusa diperoleh hasil pembacaan sampel sampah organik A kandungan BOD yaitu 268,03 mg/L dan sampah organik B yaitu 652,26 mg/L. Hasil uji dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.10 Kadar BOD.
Sampel Kadar BOD (mg/L) Standar Mutu (mg/L) Kesesuaian Sampah Organik A 268,03
30 X
Sampah Organik B 652,26 Sumber : Data Primer
Pada Tabel 4.10 diatas menunjukan bahwa kadar BOD pada sampah organik A dan sampah organik B melebihi kadar standar baku mutu BOD yaitu 30 mg/L, hal tersebut dipengaruhi oleh faktor suhu pembakaran yang kurang maksimal, yang
54
disebabkan oleh kurangnya suplai oksigen yang menyebabkan tingginya produksi CO2 dan CO. Pembakaran dengan udara atau suplai oksigen yang kurang akan menyebabkan terjadinya perpindahan panas yang berkurang bahkan hilang karena bahan bakar berlebih. Akibat adanya bahan bakar yang tak terbakar menghasilkan zat atau senyawa hasil pembakaran, seperti CO, CO2, uap air, O2, dan N2
(Dalimenthe, 2006).
4.2.3 Analisis Kadar COD
Angka COD merupakan ukuran bagi pencemaran air oleh zat-zat organik yang secara alamiah dapat dioksidasi melalui proses mikroorganisme dan mengakibatkan berkurangnya oksigen terlarut didalam air. Nilai COD yang tinggi menunjukkan adanya pencemaran air oleh zat-zat organik yang berasal dari berbagai sumber seperti limbah pabrik, limbah rumah tangga dan sebagainya (Pranoto, 2005).
Setelah dilakukan pengujian menggunakan refluks tertutup secara spektrofotometri dengan metode SNI 6989.2 : 2009 menggunakan jasa PT.
Ecosindo Laboranusa diperoleh hasil pembacaan sampel sampah organik A kandungan COD yaitu 370,67 mg/L dan sampah organik B yaitu 760,67 mg/L.
Hasil uji dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4.11 Kadar COD.
Sampel Kadar COD (mg/L) Standar Mutu (mg/L) Kesesuaian Sampah Organik A 370,67
100 X
Sampah Organik B 760,67 Sumber : Data Primer
Pada Tabel 4.11 menunjukan bahwa kadar COD sampah organik A dan sampah organik B tersebut melebihi standar mutu yaitu 100 mg/L. Tingginya kadar COD disebabkan oleh tingginya kadar BOD, karena segala macam bahan organik, baik yang mudah urai maupun yang kompleks dan sulit urai, akan teroksidasi.
Karbon yang dihasilkan dari asap pembakaran mengakibatkan kadar bakteri tinggi, hal tersebut diketahui dari kadar COD dan BOD yang tinggi.
55
4.2.4 Analisis Kadar Total Suspended Solid (TSS)
Total Suspended Solid (TSS) adalah jumlah berat dalam mg/l kering sludge yang berada didalam air limbah setelah mengalami proses penyaringan dengan membran berukuran 0,45 mikron. Padatan-padatan ini yang menyebabkan kekeruhan air tidak terlarut dan tidak dapat mengendap langsung. Padatan tersuspensi terdiri dari partikel-partikel yang ukuran maupun beratnya lebih kecil dari pada sedimen, seperti bahan-bahan organik tertantu, tanah liat dan lain -lain.
Air buangan selain mengandung padatan tersuspensi dalam jumlah yang bervariasi, juga sering mengandung bahan-bahan yang bersifat koloid. Padatan terendap dan padatan tersuspensi akan mengurangi penetrasi sinar matahari kedalam air, sehingga dapat mempengaruhi regenerasi oksigen secara fotosintesis (Muhajir, 2013).
Setelah dilakukan pengujian menggunakan metode APHA 2540 D 2012 dengan menggunakan jasa PT. Ecosindo Laboranusa diperoleh hasil pembacaan sampel sampah organik A kandungan TSS yaitu 20,00 mg/L dan sampah organik B yaitu 17,00 mg/L. Hasil uji dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.12 Kadar TSS.
Sampel Kadar TSS (mg/L) Standar Mutu (mg/L) Kesesuaian Sampah Organik A 20,00
30 √
Sampah Organik B 17,00 Sumber : Data Primer
Dari hasil pengujian pada tabel 4.12 diatas menunjukan bahwa kadar TSS sampah organik A dan sampah organik B telah memenuhi baku mutu yaitu 30 mg/L.
Kadar TTS sampah organik A lebih besar dari pada sampah organik B dilihat dari limbah cair yang dihasilkan sampah organik A lebih keruh walaupun warnamya putih bening dibandingkan dengan sampah organik B.
4.3 Analisis Limbah Cair yang dihasilkan oleh Proses Pembakaran Sampah Organik Parameter Pupuk Cair Organik
Dari semua jenis unsur hara yang terdapat dalam Keputusan Menteri Pertanian No. 70 Tahun 2011, yang paling banyak dibutuhkan oleh tanah sebagai media tumbuh tanaman adalah Nitrogen (N), Kalium (K) dan Fosfor (P). Pada
56
Penelitian ini dilakukan pengujian Kadar N, P dan K untuk mengetahui apakah limbah yang dihasilkan dari proses pembakaran sampah organik dapat dimanfaatkan sebagai pupuk cair atau tidak.
Penelitian ini dilakukan pengujian Kadar N, P dan K untuk mengetahui apakah limbah yang dihasilkan dari proses pembakaran sampah organik dapat dimanfaatkan sebagai pupuk cair atau tidak.