Bagan 2.2 Mekanisme Tekanan Darah (Sherwood, 2012)
2.3 Penelitian Terkait
1. Penelitian oleh MacGregor, dkk. (1998) Dalam Paul Elliott and Ian Brown (2007) pada 20 pasien hipertensi, dengan pengurangan asupan garam selama 30 hari dari (11,2 - 6,4 g/hari) menjadi (2,9 g/hari), menunjukkan: Dengan mengonsumsi garam 11,2 g/hari, tekanan darah pasien adalah 163/100 mmHg, Asupan garam 6,4 g/hari tekanan darah menjadi 155/95 mmHg (penurunan dari 8/5 mmHg ), asupan garam 2,9 g/hari tekanan darah turun lagi menjadi 147/91 mmHg. Setelah penelitian selesai, intervensi dilanjutkan pada 19 responden, 16 responden mendapatkan asupan garam 3,2 gram tanpa obat antihipertensi dan menghasilakan tekanan darah rata-rata 142/87 mmHg (MacGregor dkk. 1998).
2. Penelitian Oleh Feng J. He, Norm R. C. Campbell, and Graham A. MacGregor dengan Judul “Reducing salt intake to prevent ypertension and cardiovascular disease” Ada bukti kuat bahwa konsumsi garam berlebih adalah penyebab utama naiknya tekanan darah dan pengurangan asupan garam dari 9-12 g/hari di sebagian besar negara ke tingkat yang direkomendasikan kurang dari 5 g/hari menurunkan tekanan darah. Penurunan lebih lanjut untuk 3-4 g/hari memiliki efek yang lebih besar. Penelitian kohort dan uji coba hasil telah menunjukkan bahwa asupan garam yang lebih rendah berkaitan dengan penurunan risiko penyakit kardiovaskular. Pengurangan garam adalah salah satu yang paling murah (costeffective) untuk meningkatkan kesehatan masyarakat di seluruh dunia. Sumber garam dalam diet sangat bervariasi antara negara maju dan berkembang. Di negara maju, 75 % garam berasal dari makanan olahan,
sedangkan di negara-negara berkembang seperti bagian dari Brazil, 70 % berasal dari garam masakan atau garam meja. Untuk mengurangi asupan garam pada populasi negara berkembang, industri makanan seharusnya mengurangi pengguanaan garam secara bertahap dan berkelanjutan. Di negara berkembang, Promosi kesehatan masyarakat memainkan peran yang lebih penting dalam mendorong konsumen untuk mengurangi konsumsi garam. Banyak negara di Amerika telah memulai program pengurangan garam. Tantangan sekarang adalah upaya melibatkan negara-negara lain guna menerapakan program pengurangan asupan garam. Penurunan asupan garam populasi akan menghasilkan peningkatan kesehatan masyarakat bersama dengan penghematan biaya utama yang berhubungan dengan kesehatan.
3. Penelitian oleh Sukarno, Inka A. T., Sylvia Marunduh J. J. V Rampengan., (2013) dengan judul “Perbandingan Tekanan Darah Antara Penduduk Yang Tinggal Di Dataran Tinggi Dan Dataran Rendah” Pada 160 Responden menunjukkan bahwa jumlah penduduk dengan tekanan darah normal lebih banyak di temukan pada orang yang tinggal di dataran tinggi yaitu 55% orang, dibandingkan dengan dataran rendah hanya 36,25% orang, serta lebih banyak ditemukan hipertensi dengan sistole 45% dan diastole 63,75% di dataran rendah di bandingkan dengan dataran tinggi masing-masing 25% dan 27,5%.
4. Penelitian Oleh Rafael Moreira Claro, Hubert Linders, Camila Zancheta Ricardo, Branka Legetic, dan Norm R. C. Campbell dengan Judul “Consumer attitudes, knowledge, and behavior related to salt consumption in sentinel countries of the Americas” Untuk
menggambarkan sikap individu, pengetahuan, dan perilaku tentang asupan garam, sumber makanan, serta label makanan yang berkaitan dengan garam di lima Centinel negara-negara Amerika. Sampel dalam penelitian
ini berjumlah 1992 orang (berusia ≥ 18 tahun) dari Argentina, Kanada,
Chili, Kosta Rika, dan Ekuador (sekitar 400 dari masing-masing negara). Penelitian dilakukan pada bulan September 2010 sampai Februari 2011. Pengumpulan data menggunakan kuesioner yang berisi 33 pertanyaan. Hasil : Hampir 90% dari peserta mengonsumsi garam berlebih, lebih dari 60% mengindikasikan bahwa mereka berusaha untuk mengurangi asupan garam. Hanya 26% peserta mengaku mengetahui batasan nilai maksimum yang disarankan untuk konsumsi garam atau asupan natrium dan 47% dari mereka menyatakan mereka mengetahui isi garam dalam makanan. Lebih dari 80% dari peserta mengatakan bahwa mereka ingin label makanan menunjukkan tinggi, sedang, dan rendah garam atau sodium, dan ingin melihat label peringatan yang jelas pada paket makanan tinggi garam. Dalam penelitian ini Menyimpulkan bahwa Upaya tambahan diperlukan dalam upaya meningkatkan pengetahuan konsumen tentang adanya batas maksimum konsumsi garam dan meningkatkan kapasitas mereka untuk secara akurat memonitor dan mengurangi konsumsi garam pribadi mereka. 5. Penelitian oleh M. E. Corne´ lio, M.-C. B. J. Gallani, G. Godin, R. C. M. Rodrigues, W. Nadruz Jr, dan R. D. R. Mendez tahun 2012. Tentang
“Behavioural Determinants Of Salt Consumption Among Hypertensive Individuals”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor perilaku yang mempengaruhi konsumsi garam pasien hipertensi dengan mengkaji 3 perilaku, yaitu Perilaku 1- menggunakan < 4 g garam per hari selama
memasak, Perilaku 2- menghindari menambahkan garam ke makanan siap saji, dan Perilaku 3- menghindari konsumsi makanan dengan kadar garam yang tinggi. Responden dalam penelitian ini berjumlah 108 orang dengan usia 18 tahun ke atas yang diagnosis hipertensi selama minimal 6 bulan. pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner. Hasil: Perilaku 1 dipengaruhi oleh niat/keinginan/motivasi [odds ratio (OR) = 6,23, 95% confidence interval (CI) = 1,81-21,52], begitujua efektivitas diri dan kebiasaan dipengaruhi oleh niat/keinginan/motivasi. Perilaku 2 menunjukkan rata-rata skor tinggi, diperkirakan dipengaruhi oleh persepsi diri terhadap kualitas diet (OR = 2,56, 95% CI = 1,03-6,36). Perilaku 3 dipengaruhi oleh penentu hedonis (OR = 1,42, 95% CI = 1,01-1,98). Kesimpulan: penelitian menunjukkan bahwa perilaku tentang konsumsi garam dipengaruhi oleh berbagai faktor penentu, diantara faktor-faktor penentu tersebut, pertimbangan khusus harus diberikan kepada aspek motivasi dan hedonis (pengalaman).
6. Penelitian Oleh Donna G Rhodes, Théophile Murayi, John C Clemens, David J Baer, Rhonda S Sebastian, dan Alanna J Moshfegh. (2013).
Tentang “The USDA Automated Multiple-Pass Method acourately assesses population sodium intake” untuk mengetahui cara mengkaji intake natrium. Metode yang digunakan adalah dengan menghitung Intake natrium dalam 24 jam, dan Ekskresi natrium urin (24 jam) pada 465 sampel usia 30-69 tahun. Hasil: rata-rata (95% CI) melaporkan akurasi adalah 0,93 (0.89, 0.97) untuk laki-laki (n = 232) dan 0,90 (0,87, 0,94) untuk perempuan (n= 233).
7. Penelitian oleh Hyun Ju Kim MSc, Hee Young Paik ScD, Sim Yeol Lee PhD, Jae Eun Shim PhD and Young Sik Kim MD, PhD tahun 2007 tentang “Salt usage behaviors are related to urinary sodium excretion in ormotensive Korean adults” pada 189 responden dengan usia 18 tahun ke atas. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner (15 item pertanyaan) dan kadar natrium dalam urin 24 jam. Penelitian ini bertujun untuk mengetahui hubungan perilaku konsumsi garam dengan ekresi natrium urin. Hasil: Konsumsi natrium orang Korea tinggi, Di antara pertanyaan lima belas, skor tiga pertanyaan pada perilaku penggunaan garam secara signifikan berkorelasi dengan ekskresi natrium urin (r = 0.17 ~ 0.19, p <0,05) dan jumlah skor dari tiga pertanyaan menunjukkan nilai koefisien korelasi yang lebih tinggi (r = 0,26, p <0,001).
8. Review artikel oleh Beverley Bostock-Cox, tahun 2013 tentang “Nurse Prescribing For The Management Of Hypertension” Artikel ini berfokus pada pentingnya membuat diagnosis yang benar dari hipertensi sejalan dengan Institut Nasional untuk Kesehatan dan Perawatan Bimbingan Excellence. Pendekatan berbasis bukti (evidance base) untuk mengelola hipertensi dibahas dengan mengacu pada pengobatan farmakologis dan intervensi gaya hidup. Penting bagi perawat untuk mengetahui bagaimana mengukur tekanan darah dengan benar, terutama karena pemantauan tekanan darah rawat jalan dan di rumah harus memberikan dasar untuk diagnosis dan keputusan yang berkaitan dengan manajemen pasien hipertensi. Berbagai jenis hipertensi (tahap 1, tahap 2, dan hipertensi yang
parah) dijelaskan. Pendekatan evidance base untuk me-manage hipertensi dibahas dengan mengacu pada pengobatan farmakologis dan gaya hidup. 2.3 Kerangka Teori
Kerangka teori dalam penelitian ini merupakan modifikasi antara teori faktor-faktor yang mempengaruhi nafsu makan (Guyton dan Hall, 2007), faktor-faktor yang mempengaruhi tekanan darah (Sherwood, 2012), faktor- faktor yang dapat meningkatkan tekanan darah oleh (Soenardi dan Soetarjo, 2005, Grey, dkk. 2005, Baradero, dkk. 2008), dan fisiologi peningkatan tekanan darah (Corwin, 2009, Sherwood, 2012). Menurut Guyton dan Hall (2007), faktor yang dapat mempengaruhi Nafsu makan seseorang dapat dipengaruhi oleh gangguan proses makan dan pengaruh psikologis. Grey, dkk. (2005) menjelaskan faktor-faktor yang dapat meningkatkan tekanan darah adalah keturunan, usia, jenis kelamin, obesitas, stres, diet konsumsi garam berlebih, diet konsumsi kolestrol, kurang olahraga, merokok, konsumsi alkohol. Baradero, dkk. (2008) menambahkan faktor sekunder yang meliputi penyakit ginjal, masalah kelenjar adrenal, kehamilan, dan trauma kepala. Dalam penelitian ini, peneliti ingin mengetahui gambaran kadar garam dalam masakan dan tekanan darah.
Penelitian epidemiologis, migrasi, dan genetik pada manusia dan hewan, memperlihatkan bukti yang kuat hubungan antara asupan tinggi garam dan peningkatan tekanan darah (Appel dkk. 2001), (Roberts, 2001), (Sacks dkk. 2001), (Hooper dkk. 2002), (Molina dkk. 2003), (Cappuccio dkk. 2006), (Conlin, 2007), (Corwin, 2009), (Erdem dkk. 2010), (He dan MacGregor, 2010).