KAJIAN PUSTAKA
A. Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) 1. Pengertian
Penelitian Tindakan Kelas ( P T K ) adalah mencermati suatu obyek dengan
menggunakan cara dan aturan metodologi tertentu untuk memperoleh data atau
informasi yang bermanfaat dalam meningkatkan mutu yang sengaja dilakukan
dengan tujuan tertentu dalam penelitian berbentuk rangkaian siklus kegiatan
untuk siswa yang dikembangkan di kelas yang terdiri dari guru dan peserta didik
dalam proses pembelajaran.
Penelitian Tindakan Kelas merupakan suatu model penelitian yang
dikembangakan di kelas yang merupakan tindakan studi tentang upaya untuk
memperbaiki praktik pendidikan yang dilaksanakan oleh suatu kelompok .Secara
sederhana bisa diartikan upaya mengujicobakan ide dalam praktik dengan tujuan
memperbaiki atau mengubah sesuatu, mencoba memperoleh pengaruh yang
sebenarnya dalam situasi tersebut ( Suharsimi Arikunto,2006:2)
ada tiga kata inti, yaitu (1) Penelitian, (2) tindakan, (3) kelas, dapat
disimpulkan bahwa penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan
terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan
teijadi dalam suatu kelas secara bersama.
Tindakan tersebut diberikan oleh guru atau dengan arahan dari guru yang
dilakukan oleh siswa. Kesalahan umum yang terdapat dalam penelitian tindakan
memberikan pekeijaan kelompok kepada siswa. Pengutaraan kalimat seperti itu
kurang pas. Seharusnya guru menonjolkan kegiatan yang harus dilakukan oleh
siswa, misalnya siswa mengamati proses mencairnya es yang ditempatkan dipanci
tertutup dan panci terbuka, atau didalam gelas. Siswa juga diminta
membandingkan dan mencatat hasilnya. Denga kata lain, guru melaporkan
berlangsungnya proses belajar yang dialami oleh siswa, perilakunya, perhatian
mereka pada proses yang teijadi, mengamati hasil dari proses, mengadakan
pencatatan hasil, mendiskusikan dengan teman kelompoknya, melaporkan di
depan kelas, dan sebagainya.
Kata kelas yang kemudian membentuk istilah penelitian tindakan kelas
memang berasal dari barat yang dikenal dengan istilah Classroom Action
Research ( CAR ). Di Indonesia disebut penelitian tindakan kelas ( PTK ).
Sebetulnya dalam penulisan karya tulis ilmiah pengertianya tidak sesempit itu.
Oleh karena itu, dalam pembicaraan PTK ini kita pahami bukan penelitian
tindakan kelas, tetapi penelitian tindakan saja. Dengan demikian, tindakan yang
diberikan bukan hanya dapat dilakukan oleh guru tetapi juga oleh kepala sekolah,
pengawas, bahkan siapa saja yang berminat melakukan tindakan dalam rangka
perbaiokan hasil keijanya. Kepala sekolah yang statusnya guru dengan tambahan
tugas, masih mempunyai tugas mengajar sehingga dapat melakukan PTK karena
2. Sejarah Penelitian Tindakan Kelas
Sejarah Penelitian Tindakan Kelas diawali dari perkembangan Penelitian
Tindakan yang dimulai dikenal pada tahun 1946-an. Kurt Lewin sebagai seorang
psikolsosial, menerapkan Penelitian Tindakan dengan mengembangkan program
tindakan sosial untuk menanggapi permasalahan sosial melalui penelitian yang
memadukan pendekatan eksperimental dalam bidang ilmu sosial. Dalam
perkembangan berikutnya, munculnya Penelitian Tindakan Kelas seolah bermula
dari perpaduan dua jenis penelitian, yakni Penelitian Tindakan (action research)
dan Penelitian Kelas (classroom research).
Stphen Corey (1952 - 1953) pada pertama kalinya menerapkan Penelitian
Tindakan dalam dunia pendidikan. Corey berpandangan bahwa perubahan-
perubahan dalam kegiatan atau praktek pendidikan lebih mungkin dilaksanakan
jika melalui Penelitian Tindakan. Hal ini karena guru, superfisor dan pejabat
administratif akan lebih dapat terlibat dalam mencari jawaban permasalahan dan
aplikasi temuan-temuan yang ada. Dari tulisan Corey, “Action Research to
Improve School Practice” (tahun 1953), mulai dirasakan pengaruhnya dalam
memperkenalkan Penelitian Tindakan ke dalam dunia pendidikan.
Konsep penelitian yang dilakukan oleh guru juga dikemukakan oleh Lawrence
Stenhouse di Inggris tahun 1967 - 1972, yang mengaitkan antara Penelitian
Tindakan (action research) dan konsepnya tentang guru sebagai peneliti. Saat itu,
kegiatan penelitian muncul dalam kerangka suatu proyek yang bernama Schools
C ouncil’s Humanities Curriculum Project (HCP). Proyek ini bertujuan
kurikulum perkembangan sebagai penelitian kurikulum. HCP menekankan
pentingnya refleksi yang cepat atas sikap terhadap pembelajaran sebagai bagian
tugas guru.
John Elliot dan Clem Adelman, pada kisaran tahun 1972 - 1975,
mempopulerkan Penelitian Tindakan sebagai metode guru untuk mengadakan
penelitian di kelas mereka melalui Ford Teaching Project yang melibatkan 40
orang guru SD dan SL. Dalam proyek itu, masing-masing guru membuat hipotesis
tentang pembelajaran yang dilakukannya, kemudian hasilnya dipakai untuk
meningkatkan pembelajaran. Dari sini kemudian muncul berbagai istilah seperti :
penelitian kelas, guru peneliti, penelitian kelas oleh guru. Dalam akhir proyek itu,
Elliot mendirikan Jaringan Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action
Research Network).
Selanjutnya, Stephen Kemmis juga merumuskan konsep Penelitian Tindakan
dan bagaimana penerapannya dalam bidang pendidikan. Berpusat pada Deakin
University di Australia, Kemmis dan koleganya telah menghasilkan suatu seri
publikasi dan materi pelajaran tentang Penelitian Tindakan, Pengembangan
Kurikulum dan Evaluasi. Selanjutnya, artikel mereka tentang Penelitian Tindakan
(Kemmis, 1982, 1983) bermanfaat untuk pengembangan Penelitian Tindakan
dalam bidang pendidikan.
Hopkins dalam Rochiati (2006:29) menyebut penelitian kelas (classroom
research) karena penelitian yang dilakukan dalam kerangka perubahan perbaikan
di ruang kelas. Penelitian kelas ini yang selanjutnya dalam pemikiran Hopkins
kemudian memakai istilah classroom research in action atau educational action
research, dipakai untuk jenis penelitian yang dilakukan untuk menghadapi
berbagai masalah dan isu pendidikan. Jenis penelitian ini yang selanjutnya lazim
disebut Penelitian Tindakan Kelas.
Rochiati mengutip Kasbulah (1998:57) menyebutkan bahwa perkembangan
Penelitian Tindakan yang dilaksanakan di kelas, baru mulai dikembangkan di
tanah air sekitar tahun 1994 - 1995, bersamaan dengan proyek PGSD
memprogramkan penelitian kebijakan dan Penelitian Tindakan Kelas. Baru
kemudian tahun 1996 - 1997, muncul Proyek Penelitian Tindakan Kelas untuk
para Dosen PGSD seluruh Indonesia bekeijasama dengan para guru SD. Selain
proyek PGSD, tahun 1997 juga muncul proyek untuk PGSM yang menggalakkan
kegiatan Penelitian Tindakan Kelas. Pada tahun-tahun berikutnya, berbagai
proyek (seperti : proyek Block Grand dan School Grand) yang antara lain
diterapkan untuk kegiatan Penelitian Tindakan Kelas bagi para guru, baik tingkat
Sekolah Dasar maupun tingkat Menengah dalam upaya perbaikan mutu
pembelajaran melalui kegiatan penelitian.
3. Prinsip Penelitian Tindakan
Agar peneliti memperoleh informasi atau kejelasan yang lebih baik tentang
penelitian tindakan, perlu kiranya dipahami bersama prinsip-prinsip yang harus
dipenuhi apabila berminat dan akan melakukan penelitian tindakan kelas. Dengan
dilakukan dapat berhasil dengan baik. Adapun prinsip-prinsip dimaksud adalah
sebagai b erikut: . ( Suharsimi Arikunto,2006:6)
a. Kegiatan Nyata dalam Situasi Rutin
Penelitian tindakan dilakukan oleh peneliti tanpa mengubah situasi
rutin. Mengapa? Jika penelitian dilakukan dalam situasi lain, hasilnya
tidak dijamin dapat dilaksanakan lagi dalam situasi aslinya, atau dengan
kata lain penelitiannya tidak dalam situasi wajar. Oleh karena itu,
penelitian tindakan tidak perlu mengadakan waktu khusus, tidak
mengubah jadwal yang sudah ada. Dengan demikian, apabila guru akan
melakukan beberapa kali penelitian tindakan, tidak menimbulkan
kerepotan bagi Kepala Sekolah dalam mengelola sekolahnya.
b. Adanya Kesadaran Diri untuk Memperbaiki Kineija
Penelitian tindakan didasarkan atas sebuah filosofi bahwa setiap
manusia tidak suka atas hal-hal yang statis, tetapi selalu menginginkan
sesuatu yang lebih baik. Peningkatan diri untuk hal yang lebih baik ini
dilakukan terus menerus sampai tujuan tercapai, tetapi sifatnya hanya
sementara, karena dilanjutkan lagi dengan keinginan untuk lebih baik yang
datang susul-menyusul. Dengan kata lain, penelitian tindakan dilakukan
bukan karena ada paksaan atau permintaan dari pihak lain, tetapi harus
atas dasar sukarela, dengan senang hati, karena menunggu hasilnya yang
diharapkan lebih baik dari hasil yang lalu, dan dirasakan belum
tindakan karena telah menyadari adanya kekurangan pada dirinya, artinya
pada kineija yang dilakukan, dan sesudah itu tentunya ingin melakukan
perbaikan.
c. SWOT sebagai Dasar Berpijak
Penelitian tindakan harus dimulai dengan melakukan analisis
SWOT, terdiri atas unsur-unsur S-Strengh (kekuatan), W -W eaknesses
(kelemahan), O-Opportunity (kesempatan), T -Threat (ancaman). Empat
hal tersebut dilihat dari sudut guru yang melaksanakan maupun siswa yang
dikenai tindakan. Dengan berpijak pada hal tersebut, penelitian tindakan
dapat dilaksanakan hanya apabila ada kesejalanan antara kondisi yang ada
pada guru dan juga pada siswa. Tentu saja pekerjaan guru sebelum
menentukan jenis tindakan yang akan dicobakan, memerlukan pemikiran
yang matang.
d. Upaya Empiris dan Sistemik
Prinsip keempat ini merupakan penerapan dari prinsip ketiga.
Dengan telah dilakukannya analisis SWOT, tentu saja apabila guru
melakukan penelitian tindakan, berarti sudah mengikuti prinsip empiris
(terkait dengan pengalaman) dan sistemik, berpijak pada unsur-unsur yang
terkait dengan keseluruhan sistem yang terkait dengan objek yang sedang
digarap. Pembelajaran adalah sebuah sistem, yang keterlaksanaannya
cara mengajar baru, harus juga memikirkan tentang sarana pendukung
yang berbeda, mengubah jadwal pelajaran, dan hal-hal lain yang terkait
dengan cara baru yang diusulkan tersebut.
e. Ikuti Prinsip SMART dalam Perencanaan
SMART adalah kata bahasa Inggris yang artinya cerdas. Akan tetapi,
dalam proses perencanaan kegiatan merupakan singkatan dari lima huruf
bermakna. Adapun makna dari masing-masing huruf adalah sebagai berikut.
1) S : Specific, khusus, tidak terlalu umum;
2) M : M anagable, dapat dikelola, dilaksanakan;
3) A : Acceptable, dapat diterima lingkungan atau
Achievable, dapat dijangkau, dicapai;
4) R : Realistic, operasional, tidak diluar jangkauan; dan
5) T : Time-bound, diikat oleh waktu, terencana.
4. Langkah langkah Penelitian Tindakan Kelas
Langkah atau tahap dalam penelitian tindakan kelas adalah unsur yang
membentuk sebuah siklus, yaitu satu putaran kegiatan beruntun yang kembali
kelangkah semula. Dealam penelitian terdapat empat tahapan yang lazim dilalui,
yaitu (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi. Adapun
Tahap 1 : Menyusun rancangan tindakan (planning)
Dalam tahap ini peneliti menjelaskan tentang apa, mengapa, kapan, Himana^
oleh siapa, dan bagaimana tindakan tersebut dilakukan. Penelitian tindakan yang
ideal sebetulnya dilakukan secara berpasangan antara pihak yang melakukan
tindakan dan pihak yang mengamati proses jalannya tindakan. Istilah untuk cara
ini adalah penelitian kolaborasi. Cara ini dikatakan ideal karena adanya upaya
untuk mengurangi unsur subjektivitas pengamat serta mutu kecermatan amatan
yang dilakukan. Dengan mudah dapat diterima bahwa pengamatan yang
diarahkan pada diri sendiri biasanya kurang teliti dibanding dengan pengamatan yang dilakukan terhadap hal-hal yang berada di luar diri, karena adanya unsur
pengamatan dilakukan oleh orang lain, pengamatannya lebih cermat dan hasilnya
akan lebih objektif.
Tahap 2 : Pelaksanaan Tindakan (.Acting)
Tahap ke-2 dari penelitian tindakan adalah pelaksanaan yang merupakan
implementasi atau penerapan isi rancangan, yaitu mengenakan tindakan di kelas.
Hal yang perlu diingat adalah bahwa dalam tahap ke-2 ini pelaksanan guru harus
ingat dan berusaha mentaati apa yang sudah dirumuskan dalam rancangan, tetapi
harus pula berlaku wajar, tidak dibuat-buat. Dalam refleksi, keterkaitan antara
pelaksanaan dengan perencanaan perlu diperhatikan secara saksama agar sinkron
dengan maksud semula.
Tahap 3 : Pengamatan (Obseving)
Tahap ke-3 yaitu kegiatan pengamatan yang dilakukan oleh pengamat.
Sebetulnya sedikit kurang tepat kalau pengamatan ini dipisahkan dengan
pelaksanaan tindakan karena seharusnya pengamatan dilakukan pada waktu
tindakan sedang dilakukan. Jadi, keduanya berlangsung dalam waktu yang sama.
Sebutan tahap ke-2 diberikan untuk memberikan peluang kepada guru pelaksana
yang juga berstatus sebagai pengamat. Ketika guru tersebut sedang melakukan
tindakan, karena hatinya menyatu dengan kegiatan, tentu tidak sempat
menganalisis peristiwanya ketika sedang terjadi. Oleh karena itu, kepada guru
pelaksana yang berstatus sebagai pengamat agar melakukan “pengamatan balik”
terhadap apa yang terjadi ketika tindakan berlangsung. Sambil melakukan
pengamatan balik ini, guru pelaksana mencatat sedikit demi sedikit apa yang
Tahap 4 : Refleksi (R eflecting
)
Tahap ke-4 merupakan kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yang
sudah dilakukan. Istilah refleksi berasal dari kata bahasa Inggris reflectio, yang
diterjemahkan dalam bahasa Indonesia pem antulan. Kegiatan refleksi ini sangat
tepat dilakukan ketika guru pelaksana sudah selesai melakukan tindakan,
kemudian berhadapan dengan peneliti untuk mendiskusikan implementasi
rancangan tindakan. Istilah refleksi di sini sama dengan “memantul, seperti halnya
memancar dan menatap kena kaca”. Dalam hal ini, guru pelaksana sedang
memantulkan pengalamannya pada peneliti yang baru saja mengamati
kegiatannya dalam tindakan. Inilah inti dari penelitian tindakan, yaitu ketika guru
pelaku tindakan siap mengatakan kepada peneliti pengamata0tentang hal-hal yang
dirasakan sudah beijalan baik dan bagian mana yang belum. Dengan kata lain,
guru pelaksana sedang melakukan evaluasi diri. Apabila guru pelaksana juga
berstatus sebagai pengamat, yaitu mengamati apa yang ia lakukan, maka refleksi
dilakukan terhadap diri sendiri. Dengan kata lain, guru tersebut melihat dirinya
kembai melakukan “dialog” untuk menemukan hal-hal yang sudah dirasakan
memuaskan hati karena sudah sesuai dengan rancangan dan secara cermat
mengenali hal-hal yang masih perlu diperbaiki.
Jika penelitian tindakan dilakukan melalui beberapa siklus, maka dalam
refleksi terakhir, peneliti menyampaikan rencana yang disarankan kepada peneliti
lain apabila dia menghentikan kegiatannya atau kepada diri sendiri apabila akan
sebaiknya rinci sehingga siapapun yang akan melaksanakan dalam kesempatan
lain tidak akan menjumpai kesulitan.
B. Prestasi B elajar Sejarah K ebudayaan Islam (SKI)
1. Prestasi Belajar
a. Pengertian prestasi belajar
Sebelum dijelaskan pengertian mengenai prestasi belajar, terlebih dahulu
akan dikemukakan tentang pengertian prestasi. Prestasi adalah hasil yang telah
dicapai. Dengan demikian bahwa prestasi merupakan hasil yang telah dicapai
oleh seseorang setelah melakukan sesuatu pekeijaan atau aktivitas tertentu.
Jadi prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai dalam proses belajar
oleh karena itu semua individu dengan adanya belajar hasilnya dapat dicapai.
Setiap individu belajar menginginkan hasil yang baik. Oleh karena itu setiap
individu harus belajar dengan sebaik-baiknya supaya prestasinya berhasil
dengan baik. Sedangkan pengertian prestasi juga ada yang mengatakan prestasi
adalah kemampuan. Kemampuan di sini berarti yang dimampui individu dalam
mengeijakan sesuatu. (Abu Ahmadi, 1991:28)
Prestasi belajar yang dicapai seorang individu merupakan hasil interaksi
antara berbagai faktor yang mempengaruhinya baik dari dalam diri (faktor
internal) maupun dari luar diri (faktor eksternal) individu. Pengenalan terhadap
faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar penting sekali artinya dalam
rangka membantu murid dalam mencapai prestasi belajar yang sebaik-baiknya,
b. Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar:
1) Faktor jasmaniah (fisiologis) baik yang bersifat bawaan maupun yang
diperoleh yang termasuk faktor ini misalnya penglihatan, pendengaran,
struktur tubuh.
2) faktor psikologis baik yang bersifat bawaan maupun yang diperoleh yang
terdiri atas:
a) Faktor intelektif yang meliputi:
(1) Faktor potensial yaitu kecerdasan dan bakat.
(2) Faktor kecakapan nyata yaitu prestasi yang telah dimiliki.
b) Faktor non intelektif, yaitu unsur-unsur kepribadian tertentu seperti
sikap, kebiasaan, minat, kebutuhan, motivasi, emosi, penyesuaian diri.
3) Faktor kematangan fisik maupun psikis.
a) Faktor sosial yang terdiri atas:
(1) Lingkungan keluarga;
(2) Lingkungan sekolah;
(3) Lingkungan masyarakat;
(4) Lingkungan kelompok;
b) Faktor budaya seperti adat istiadat, ilmu pengetahuan teknologi,
kesenian.
4) Faktor lingkungan sepiritual atau keagamaan
Faktor-faktor tersebut berinteraksi secara langsung ataupun tidak
langsung dalam mencapai prestasi belajar. (Slameto,1995:2)
Dari sekian faktor yang mempengaruhi prestasi belajar, dapat di golongkan
menjadi tiga macam yaitu: (Slameto,1995:3)
1) Faktor-faktor stimuli belajar
Segala hal yang di luar undividu itu untuk mengadakan reaksi atau
perbuatan belajar. Yang mencakup material, penguasaan, suasana
lingkungan.
2) Faktor metode belajar
Metode mengajar yang di terapkan oleh guru sangat mempengaruhi
bagi proses belajar yang akan menimbulkan perbedaan yang berarti
bagi proses belajar.
3) Faktor-faktor individual
Kecuali faktor-faktor stimuli dan metode belajar, faktor
individual sangat besar pengaruhnya terhadap belajar seseorang.
2. Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)
a. Pengertian pelajaran SKI
Pendidikan Agama Islam di Madrasah Ibtidaiyah terdiri atas empat mata
pelajaran, yaitu: Al-Qur'an-Hadis, Akidah-Akhlak, Fikih, dan Sejarah
Kebudayaan Islam. Masing-masing mata pelajaran tersebut pada dasarnya saling
terkait, isi mengisi dan melengkapi. Sejarah Kebudayaan Islam di Madrasah
asal-usul, perkembangan, peranan kebudayaan/peradaban Islam dan para tokoh yang
berprestasi dalam sejarah Islam pada masa lampau, mulai dari sejarah masyarakat
Arab pra-Islam, sejarah kelahiran dan kerasulan Nabi Muhammad SAW, sampai
dengan masa Khulafaurrasyidin. Secara substansial, mata pelajaran Sejarah
Kebudayan Islam memiliki kontribusi dalam memberikan motivasi kepada peserta
didik untuk mengenal, memahami, menghayati sejarah kebudayaan Islam, yang
mengandung nilai-nilai kearifan yang dapat digunakan untuk melatih kecerdasan,
membentuk sikap, watak, dan kepribadian peserta didik,(Permenag No 2 th
2008:9).
b. Tujuan pelajaran SKI
Mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di Madrasah Ibtidaiyah bertujuan
agar peserta didik memiliki kemampuan-kemampuan sebagai berikut:
1) . Membangun kesadaran peserta didik tentang pentingnya mempelajari
landasan ajaran, nilai-nilai dan norma-norma Islam yang telah dibangun
oleh Rasulullah SAW dalam rangka mengembangkan kebudayaan dan
peradaban Islam.
2) . Membangun kesadaran peserta didik tentang pentingnya waktu dan tempat
yang merupakan sebuah proses dari masa lampau, masa kini, dan masa depan
3) . Melatih daya kritis peserta didik untuk memahami fakta sejarah secara benar
dengan didasarkan pada pendekatan ilmiah.
4) . Menumbuhkan apresiasi dan penghargaan peserta didik terhadap
peninggalan sejarah Islam sebagai bukti peradaban umat Islam di masa
5), Mengembangkan kemampuan peserta didik dalam mengambil ibrah dari
peristiwa-peristiwa bersejarah (Islam), meneladani tokoh-tokoh berprestasi,
dan mengaitkannya dengan fenomena sosial, budaya, politik, ekonomi, iptek
dan seni, dan lain-lain untuk mengembangkan kebudayaan dan peradaban
Islam. (Permenag No 2 th 2008:10).
c. Ruang lingkup Pelajaran SKI
R uang lingkup Sejarah K ebudayan Islam di M adrasah Ibtidaiyah
m e lip u ti:
1) . Sejarah m asyarakat A rab pra-Islam , sejarah kelahiran dan kerasulan
N abi M uham m ad SAW .
2) . D akw ah N ab i M uham m ad SA W d an para sahabatnya, y an g m eliputi
kegigihan dan ketabahannya dalam berdakw ah, kepribadian N abi
M uham m ad SA W , hijrah N abi M uham m ad SA W ke Thaif, peristiw a
Is r a' M i ’ra j N ab i M uham m ad SAW .
3 ) . Peristiw a hijrah N abi M uham m ad SAW ke Y atsrib, keperw iraan N abi
M uham m ad SA W , peristiw a F a tku M akkah, dan peristiw a akhir hayat
R asulullah SAW .
5). Sejarah peijuangan tokoh agam a Islam di daerah m asing-m asing.
(Permenag No 2 th 2008:10).
d. Standar K om petensi SKI K elas III
Kelas III, Semester 1, ( SK KD PAI dan BA, 2008 )
STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR
1. Mengenal sejarah masyarakat Arab pra- Islam
1.1 Menceritakan kondisi alam, sosial, dan
perekonomian masyarakat Arab pra-Islam
1.2 Menjelaskan keadaan adat-istiadat dan kepercayaan masyarakat Arab pra-Islam
.3 Menjelaskan masa remaja atau masa muda Nabi Muhammad SAW
1.4 Mengambil ibrah dari sejarah masyarakat Arab pra-Isiam
Kelas III, Semester 2
STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR
2. Mengenal sejarah kelahiran
Nabi Muhammad SAW
2.1 Menceritakan kejadian luar biasa yang
mengiringi lahirnya Nabi Muhammad
SAW
2.2 Menceritakan sejarah kelahiran dan
silsilah Nabi Muhammad SAW
2.3 Mengambil ibrah dari kenabian dan
kerasulan Muhammad SAW
3. Mengenal peristiwa kerasulan
Muhammad SAW
3.1. Mendiskripsikan peristiwa kerasulan
Muhammad SAW
3.2 Mengambil ibrah peristiwa kerasulan
Muhammad SAW
Dari pengertian, tujuan, dan ruang lingkup pembelajaran Sejarah
Kebudayaan Islam (SKI) diharapkan peserta didik menjadi orang yang beriman
kepada Allah SWT serta taat pada Rasul-NYA dan ulil Amri serta dapat
meneladani tokoh tokoh Islam pada zaman dulu. Seperti firman Allah dalam surat
an-Nisa ayat 59:
jiJal j 1 jiJal 1
j IaI il 1 l$j b
0
J Mj j 0 I J j l 1 j <01 I
f j l1 & J j3 f
( j * ^ p j &j U
j &li
Jj j f U I j d l j
Artinya;
Hai orang orang yang beriman taatilah Allah dan Taatilah Rasul-NYA dan ulil amri diantara kamu, kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah ( Alquran ) serta Rasul- NYA ( Sunahnya), jika kamu benar benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama danm lebih baik akibatnya ( an- Nisa;59)
C. Metode pembelajaran Listening team
1. Pengertian
a. M etode pem belajaran
Metode pembelajaran ialah cara yang berisi prosedur baku untuk
melaksanakan kegiatan kependidikan, khususnya kegiatan penyajian materi
Dalam pemakaian yang umum, metode diartikan sebagai cara
melakukan suatu kegiatan atau cara melakukan pekeijaan dengan
menggunakan fakta dan konsep-konsep secara sistematis dalam dunia
psikologi, metode berarti prosedur sistematis (tata cara yang berurutan) yang
biasa digunakan untuk ipenyelidiki fenomena (gejala-gejala) kejiwaan seperti
metode klinik, metode eksperimen dan sebagainya.
Nampa, beberapa dari strategi mengajar (teaching strategy), metode
mengajar tidak langsung berhubungan dengan hasil belajar ygng dikehendaki.
Artinya, dibandingkan dengan strategi, metode pada umumnya kurang
berorientasi pada tujuan (less goal-oriented) karena metode dianggap konsep
yang lebih luas dari pada strategi. Gagasan ini tidak berarti mengurangi
signifikansi metode mengajar, lantaran strategi mengajar itu ada dan berlaku
dalam kerangka metode mengajar. Dalam menggunakan metode ceramah
misalnya, strategi guru untuk mendapatkan perhatian para siswa mungkin
berupa penyampaian kisah lucu atau kisah sedih yang sekaligus merupakan
contoh yang berfungsi sebagai pelengkap uraian topik yang sedang ia sajikan.
b. Perlunya metode pembelajaran
Sebagai pendidik tentunya menyadari bahwa dalam menyampaikan