• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dalam penelitian tingkat pengetahuan masyarakat mengenai pemeriksaan radiografi kedokteran gigi dilaksanakan di Kecamatan Medan Perjuangan dengan sampel berjumlah 200 orang. Penelitian ini dilakukann selama bulan februari 2021, dengan kendala ada beberapa responden tidak bersedia untuk mengisi kuesionernya dengan alasan tidak mau, ada juga responden bersedia untuk mengisi kuesioner tapi tidak mau menulisnya dan alhasil responden menyuruh peneliti untuk menuliskan jawabannya. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara menggunakan kuesioner dan melakukan wawancara kepada masyarakat Kecamatan Medan Perjuangan. Berikut didapatkan hasil dari penelitian:

Tabel 4. Pengetahuan masyarakat mengenai apa itu radiografi (foto rontgen)

Jawaban n %

Ya:

- Alasan Benar - Alasan Salah Tidak Menjawab

102 77 21

51,0 38,5 10,5

Total 200 100,0

Tabel 5. Pengetahuan masyarakat mengetahui bahwa dalam kedokteran gigi terdapat

Tabel 6. Pengetahuan masyarakat mengenai bahwa radiografi (foto rontgen) itu penting dalam menunjang perawatan gigi dan mulut

Jawaban n %

Tabel 7. Pengetahuan masyarakat tentang jenis radiografi dalam kedokteran gigi terbagi atas intra oral (dalam mulut) dan ekstra oral (luar mulut)

Jawaban n %

Tabel 8. Apakah pernah melakukan pemeriksaan radiografi (foto rontgen)

Tabel 9. Pengetahuan masyarakat tentang bahwa radiografi (foto rontgen) dapat memberikan efek negatif jika dilakukan tanpa persetujuan dari dokter

Jawaban n %

Tabel 10. Pengetahuan masyarakat tentang pemeriksaan radiografi (foto rontgen) yang dilakukan secara berkala itu baik atau buruk terhadap kesehatan

Jawaban n %

Tabel 11. Pengetahuan masyarakat tentang menegakkan diagnosis penyakit gigi dan mulut perlu untuk dilakukan pemeriksaan radiografi (foto rontgen)

Jawaban n %

Tabel 12. Pengetahuan masyarakat tentang manfaat dari foto rontgen dalam perawatan gigi dan mulut

Tabel 13. Pengetahuan masyarakat tentang bahwa efek sinar radiasi dapat menyebabkan kerusakan pada tubuh

Tabel 14. Pengetahuan masyarakat tentang penggunaan radiografi (foto rontgen) yang tidak perlu dapat menyebabkan hilangnya kepekaan dan pengecapan

Jawaban n %

Tabel 15. Pengetahuan masyarakat tentang penggunaan radiografi (foto rontgen) yang tidak perlu dapat menyebabkan kanker pada rongga mulut

Jawaban n %

Tabel 16. Pengetahuan masyarakat tentang penggunaan radiografi (foto rontgen) yang tidak perlu dapat menyebabkan mulut terasa kering dan terbakar

Jawaban n %

Tabel 17. Pengetahuan masyarakat tentang batas dosis maksimum yang layak di terima selama melakukan radiografi (foto rontgen)

Jawaban n %

Tabel 18. Pengetahuan masyarakat tentang salah satu proteksi pasien saat melakukan radiografi (foto rontgen) dengan menggunakan pakaian pelindung (apron)

Jawaban n %

Hasil dari tingkat pengetahuan masyarakat tentang pemeriksaan radiografi kedokteran gigi di Kecamatan Medan Perjuangan berada pada kategori kurang, yaitu sebanyak 84,0% dan dimasukkan ke dalam grafik seperti dibawah ini.

Grafik 1. Tingkat Pengetahuan Masyarakat Mengenai Pemeriksaan Radiografi Kedokteran Gigi Di Kecamatan Medan Perjuangan.

0 20 40 60 80 100 120 140 160 180

Kurang Cukup Baik

84,0%

14,0%

2,0%

Pengetahuan

BAB 5 PEMBAHASAN

Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan jumlah responden masyarakat Kecamatan Medan Perjuangan sebanyak 200 orang, pada usia 20-60 tahun dengan alasan yang bersangkutan sudah cukup dewasa untuk membuat keputusan dan mau terlibat sebagai responden atau tidak. Pada penelitian ini yang banyak menjawab dominannya umur 20-29 tahun, yaitu sebanyak 139 orang. Untuk memperoleh data responden, dilakukan pengumpulan data dengan penyebaran kuesioner dan wawancara langsung dimana kuesioner diberikan dan diisi secara langsung oleh responden.

Penelitian Al Faleh dkk (2020), menunjukkan hasil yang sama pada penelitian ini mengenai persepsi masyarakat dan sudut pandang tentang radiografi kedokteran gigi dan keselamatan dokter gigi. Total sampel sebanyak 437, menyelesaikan kuesioner yang berisi pertanyaan seputar praktik kedokteran gigi tentang bahaya dari radiografi kedokteran gigi. Didapatkan hasil 88,6% dari responden yang melakukan foto radiografi kedokteran gigi sebagai perawatan gigi, mayoritas dari mereka mengandalkan dokter gigi untuk memilih jenis radiografi, 40% responden mengatakan bahwa dokter gigi tidak pernah menjelaskan terkait bahaya radiografi kedokteran gigi. Lebih dari separuh responden (55%) tidak pernah atau hampir tidak pernah bertanya tentang keselamatan tindakan sebelum melakukan foto radiografi kedokteran gigi. Kurangnya pengetahuan masyarakat maka dianjurkan untuk meningkatkan kesadaran tentang masalah ini, yaitu tenaga radiographer untuk melakukan edukasi dalam meyakinkan penggunaan yang aman terhadap perlindungan radiasi.24

Penelitian Venkatesh Babu NS dkk (2017), menunjukkan hasil yang sama juga mengenai penilain pengetahuan dan sikap orang tua tentang radiografi gigi anak.

Total sampel 357 kuesioner yang diterima, 54 tidak lengkap dan 3 dikeluarkan, maka analisis dilakukan hanya 300 kuesioner. Lebih dari setengah responden percaya

bahwa radiografi kedokteran gigi aman digunakan, pengetahuan orang tua tentang radiografi kedokteran gigi masih rendah. Lebih lanjutnya 92% orang tua mengatakan bahwa dokter gigi menjelaskan alasan untuk melakukan rontgen gigi, tetapi hanya 8%

yang merasa memiliki risiko terkait yang dijelaskan pada responden mengenai rontgen gigi. Meskipun pengetahuan orang tua tentang radiografi kedokteran gigi kurang, mereka juga memiliki sikap yang positif tentang radiografi kedokterag gigi.25

Hasil penelitian (Tabel 4) menunjukkan persentase pengetahuan masyarakat mengenai apa itu radiografi (foto rontgen), diperoleh data yang menjawab „Ya dengan alasan benar sebanyak 51,0% responden menjawab radiografi adalah pemeriksaan dengan menggunakan sinar-x untuk melihat suatu penyakit dalam tubuh.

Menurut penelitian Susanti NT dkk (2016), radiasi merupakan pelepasan energi menembus ruang atau substansi dalam bentuk gelombang elektromagnetik atau partikel. Radiasi yang ditimbulkan dari tindakan medis misalnya radiasi sinar-x dibidang kedokteran gigi khususnya, radiasi sinar-x terutama digunakan untuk tujuan dental radiodiagnosis, sedangkan untuk tujuan radioterapi sering digunakan untuk pengobatan kanker kepala dan leher.26

Untuk hasil penelitian pada (Tabel 5) menunjukkan persentase pengetahuan masyarakat yang mengetahui bahwa dalam kedokteran gigi terdapat pemeriksaan radiografi (foto rontgen), diperoleh data yang menjawab “Ya dengan alasan benar sebanyak 19,0% responden menjawab radiografi dalam kedokteran gigi adalah pemeriksaan penunjang untuk mengetahui keadaan rongga mulut lebih jelas sebelum melakukan perawatan. Menurut penelitan Supriyadi (2012), pemeriksaan radiografi merupakan pemeriksaan penunjang yang sangat berguna dalam praktek kedokteran gigi dan merupakan sarana yang dibutuhkan dalam penentuan diagnosa dan perawatan khususnya untuk penyakit atau kelainan dalam rongga mulut. Ada dua hal yang penting dalam pemeriksaan radiografi yaitu teknik pembuatan radiograf gigi dan yang juga tidak kalah penting adalah bagaimana menginterpretasikan secara akurat gambaran lesi atau kelainan pada radiografi tersebut.27

Pada hasil (Tabel 6) menunjukkan persentase pengetahuan masyarakat bahwa radiografi (foto rontgen) penting dalam menunjang perawatan gigi dan mulut yang

menjawab “Ya dengan alasan benar sebanyak 16,5% responden menjawab bahwa radiografi gigi dapat memberikan informasi yang sangat berguna untuk membantu menegakkan suatu penyakit dirongga mulut. Menurut penelitian Ni Kadek AA (2018), mengatakan bahwa sinar-x dalam kedokteran gigi digunakan sebagai pemeriksaan penunjang yang dapat memberikan informasi terhadap objek atau kondisi rongga mulut yang mengalami kelainan baik karena kecelakaan, kelainan bawaan atau kejadian lain yang mungkin menyebabkan kondisi tidak normal.

Informasi yang dapat diberikan oleh pemeriksaan penunjang medis ini merupakan gambaran yang disebut radiograf, dan merupakan cara yang sangat tepat untuk mengetahui kelainan apa yang terjadi sehingga untuk menentukan rencana perawatan gigi dan mulut dengan baik sehingga diperoleh hasil yang sesuai.28,29

Pengetahuan masyarakat tentang jenis radiografi dalam kedokteran gigi yang terbagi atas intra oral (dalam mulut) dan ekstra oral (luar mulut), hasil penelitian pada (Tabel 7) menunjukkan persentase menjawab “Ya dengan alasan benar sebanyak 5,0%. responden menjawab mengetahui bahwa jenis radiografi dalam kedokteran gigi ada yang pemeriksaan dalam mulut dan luar mulut. Menurut penelitian Goenharto S (2016), untuk menegakkan diagnosis dan menentukan rencana perawatan diperlukan beberapa analisis yang membutuhkan data yang berasal dari pemeriksaan langsung, keberadaan fotografi yang berwarna sangat bermanfaat dalam memberi gambaran pada pasien dengan lebih jelas mengenai kondisi giginya. Radiografi yang digunakan dalam bidang kedokteran gigi dikenal 2 jenis foto klinis yaitu, foto intra oral dan foto ekstra oral. Foto intra oral adalah foto yang mencakup rongga mulut pasien dimana dengan meletakkan film didalam rongga mulut pasien, sedangkan foto ekstra oral merupakan foto yang mencakup kepala dan rahang pasien dimana dengan meletakkan film diluar mulut pasien.30

Hasil penelitian (Tabel 8) apakah masyarakat pernah melakukan pemeriksaan radiografi (foto rontgen) sebelumnya ke dokter gigi, yang menjawab “Ya dengan alasan menjawab pernah sebanyak 23,5% responden menjawab sebelumnya pernah datang kedokter gigi untuk melakukan pemeriksaan radiografi karena dianjurkan sebelum memakai behel (pesawat ortho) terlebih dahulu melakukan foto rontgen. Dan

banyak yang menjawab tidak pernah yaitu 67,0%. Menurut penelitian Purmal dkk (2013), menjelaskan bahwa tidak adanya pengalaman tersebut dapat mempengaruhi pengetahuan responden yang rendah mengenai pemeriksaan radiografi kedokteran gigi. Masyarakat dapat mengetahui beberapa hal penting dalam pemeriksaan radiografi kedokteran gigi melalui informasi yang diterima, salah satunya melalui dokter gigi. Responden yang melakukan pemeriksaan radiografi tentu mendapatkan penjelasan yang tepat mengenai pemeriksaan tersebut, dan sebaiknya pasien diberikan edukasi mengenai pemeriksaan radiografi beserta dengan pemaparan hasil pemeriksaan yang telah dilakukan sehingga masyarakat memiliki persepsi yang baik mengenai mengapa pemeriksaan tersebut dilakukan.7

Pengetahuan masyarakat tentang radiografi (foto rontgen) yang memberikan efek negatif jika dilakukan tanpa persetujuan dari dokter pada (Tabel 9) menunjukkan hasil persentase sebanyak 22,0% menjawab “Ya dengan alasan benar. Responden menjawab bahwa untuk melakukan foto ronsen terlebih dahulu harus memiliki izin dari dokter, dikarenakan bahaya dari sinar radiasinya jika diberikan tidak sesuai anjuran. Menurut penelitian Woroprobosari NR (2016), dosis efektif yang diberikan kepada pasien tiap radiografi adalah dosis rendah, interaksi awal antara radiasi pengion suatu bahan terjadi pada tingkat elektron dalam 10-13 detik pertama setelah paparan. Efek biologis yang dapat terjadi pada manusia dikelompokkan menjadi 2 kategori yaitu, pertama (efek somatik) yang dibagi menjadi efek deterministik berupa kerusakan kulit pada tubuh, kerusakan sistem hematopoietik sumsum tulang, dan lensa mata serta sindrom radiasi. Kemampuan sinar-x menghasilkan gambar mengindikasikan sinar-x dapat menembus kulit, dan jaringan, terdapat hubungan jelas antara derajat keparahan penyakit dan dosis, sehingga dapat diatur dosis radiasi yang aman dari efek deterministik ini. Kedua yaitu efek stokastik, efek stokastik ini dapat terjadi meskipun dalam batas radiasi yang telah direkomendasikan, dan ditentukan oleh efek probabilitas yaitu dosis radiasi minimal yang memiliki efek stokastik dalam meningkatkan potensi tumor dan kerusakan genetik. Oleh sebab itu, tidak ada nilai ambang sejati yang dapat menjamin pajanan sinar-x benar–benar aman. Salah satu contoh efek stokastik yang berbahaya adalah kanker dan kelainan genetik.19,20

Pada hasil persentase (Tabel 10) menunjukkan pengetahuan masyarakat tentang pemeriksaan radiografi (foto rontgen) yang dilakukan secara berkala itu baik atau buruk terhadap kesehatan sebanyak 11,0% menjawab “Ya dengan alasan buruk.

Responden menjawab buruk untuk kesehatan karena memiliki efek samping yang ditimbulkan dari sinar radiasinya jika dilakukan terlalu sering. Menurut Purmal K dkk (2013), mengenai alasan mengapa melakukan pengambilan radiografi gigi, yaitu sebanyak 44 responden mengatakan pernah tidak tahu mengapa melakukan pengambilan foto radiografi, mayoritas percaya bahwa pengambilan foto radiografi gigi untuk melihat kerusakan gigi (31%). Sementara yang lain percaya bahwa pengambilan foto radiografi gigi adalah prosedur rutin untuk mereka (20%).

Beberapa dari mereka (8%) mengatakan bahwa semua alasan itu termasuk prosedur skrining yang rutin. Oleh karena itu, pasien perlu edukasi mengenai radiografi agar tidak digunakan sebagai pemeriksaan secara berkala atau skrining rutin. Karena radiografi memiliki efek samping setiap kali melakukannya secara berkala.7

Hasil pengetahuan masyarakat tentang menegakkan diagnosis penyakit gigi dan mulut perlu melakukan pemeriksaan radiografi (foto rontgen) diperoleh persentasenya (Tabel 11), yaitu 12,0% menjawab “Ya dengan alasan benar.

Responden menjawab salah satu pengumpulan data dan sangat membantu dokter gigi dalam menentukan diagnosa untuk melihat kelainan yang kurang jelas didalam mulut.

Menurut penelitian Kanter dkk pada tahun (2014), bahwa radiografi gigi dapat memberikan informasi diagnostik yang sangat berguna bagi dokter gigi. Perlunya dilakukan penegakan diagnosis untuk menentukan rencana perawatan agar dapat melihat yang tidak terlihat sehingga dapat diketahui secara jelas dan sangat membantu dokter gigi dalam menentukan diagnosis serta rencana perawatan.29

Pengetahuan masyarakat tentang manfaat dari foto rontgen dalam perawatan gigi dan mulut didapatkan hasilnya (Tabel 12) 4,5% menjawab “Ya dengan alasan benar. Responden menjawab bahwa manfaatnya untuk menentukan diagnosa penyakit mulut. Menurut penelitian Ramadhan AZ (2019), pemanfaatan sinar-x yang sering digunakan untuk pencitraan dibidang kedokteran gigi memiliki kemampuan menembus jaringan tubuh manusia. Sinar-x digambarkan sebagai gelombang energi

tinggi dimana setiap simpul sinar terdapat kumpulan foton yang kekuatannya setara sengan satu kuantum energi. Sinar-x dibidang kedokteran gigi digunakan untuk keperluan radiologi diagnostik, hasil pemeriksaan radiografi yang optimal dan dapat memberikan manfaat membantu dalam menentukan diagnosis penyakit, penentuan rencana perawatan dan evaluasi dari hasil perawatan.13

Pengetahuan masyarakat tentang efek sinar radiasi yang dapat menyebabkan kerusakan pada tubuh, didapatkan hasil persentasenya (Tabel 13) 22,0% yang menjawab “Ya dengan alasan benar, responden menjawab bahwa radiografi memiliki pengaruh dari sinar-x yang menyebabkan adanya efek bagi tubuh. Menurut penelitian Ernawidiarti dkk (2017), radiasi pengion merupakan salah satu sumber bahaya yang merupakan tolok ukur kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja.

Radiasi pengion adalah setiap radiasi yang mampu menghasilkan ion oleh interaksi dengan materi seperti sel pada tubuh manusia. Ionisasi adalah proses dimana atom dibuat menjadi ion oleh penghapusan atau penambahan satu atau lebih elektron yang menghasilkan efek, sejumlah komponen biologi akan mengalami perubahan setelah pajanan radiasi, pengaruh sinar-x dapat menyebabkan kerusakan indikator hematopoietik (pembentukan dan perkembangan sel-sel darah).31

Pengetahuan masyarakat jika penggunaan radiografi yang tidak perlu dapat menyebabkan hilangnya kepekaan dan pengecapan didapatkan hasil (Tabel 14) 7,0%

yang menjawab “Ya dengan alasan benar. Responden menjawab bahwa karena efek radiasi yang tidak perlu bagi tubuh jika sering terkena maka akan menyebabkan rasa tidak enak dimulut. Menurut penelitian Yunus B (2009), terapi radiasi pada daerah leher dan kepala untuk perawatan kanker telah terbukti dapat mengakibatkan rusaknya struktur kelenjar saliva dengan berbagai derajat kerusakan pada kelenjar saliva yang terkena terapi radiasi. Hal ini ditunjukkan dengan berkurangnya volume saliva. Jumlah dan keparahan kerusakan jaringan kelenjar saliva tergantung pada dosis dan lamanya penyinaran. Terapi radiasi pada kepala dan leher dapat menyebabkan beberapa efek samping seperti mukositis, disfungsi kelenjar saliva, disfungsi indera pengecap dan hilangnya pendengaran.32

Pada hasil persentase (Tabel 15) pengetahuan responden tentang penggunaan radiografi (foto rontgen) yang tidak perlu dapat menyebabkan kanker pada rongga mulut menunjukkan 6,5% menjawab “Ya dengan alasan benar. Responden menjawab karena efek radiasi yang bersumber dari sinar-x yang dipancarkan rentan menimbulkan kanker rongga mulut. Menurut penelitian Widyanigrum R dkk (2018), rongga mulut merupakan bagian tubuh yang penting dan merupakan pintu masuk sistem pencernaan. Penyakit yang mengenai rongga mulut mempengaruhi kesehatan umum, salah satu penyakit yang masih sulit diatasi hingga saat ini adalah kanker rongga mulut yang dikenal juga dengan istilah kanker oral yang merupakan penyakit dengan letalitas tinggi berupa tumor lokal invasif yang bersifat destruktif pada jaringan orofasial, bermetastase melalui limfonodi servikalis, serta mudah menyebar ke organ tubuh lain. Akibat dari penyakit kanker itu sendiri yang merupakan efek samping dari terapi medis, yaitu radioterapi yang dijalani atau pengobatan pada kanker. Pemeriksaan imejing tumor dan kanker oral umumnya diawali dengan pemeriksaan radiografi konvensional, terutama pada kasus masa jaringan lunak yang letaknya superfisial. Radiografi konvensional yang paling banyak dipergunakan untuk mencitrakan tumor dan kanker oral adalah radiografi intraoral dan radiografi panoramik. Kemampuan radiologi mendeteksi kanker oral dan menentukan tingkat metastase kanker oral pada limfonodi servikalis sangat penting, karena diagnosis yang tepat akan menentukan jenis terapi yang paling efektif bagi pasien. Jika digunakan secara berlebihan, akan menyebabkan kanker pada rongga mulut.33

Hasil persentase (Tabel 16), pengetahuan masyarakat tentang penggunaan radiografi (foto rontgen) yang tidak perlu dapat menyebabkan mulut terasa kering dan terbakar menunjukkan 5,5% menjawab “Ya dengan alasana benar. Responden menjawab sinar radiasi yang dipancarkan menimbulkan rasa panas pada rongga mulut, dan juga ada yang menjawab sebelumnya pernah melakukan foto ronsen kedokteran gigi merasakan hal yang sama yaitu rasa panas dan mulut terasa kering.

Menurut penelitian Murdiastuti K (2011), penggunaan radiasi ionisasi dibidang kesehatan bisa menimbulkan dampak negatif salah satunya adalah xerostomia atau kekeringan rongga mulut. Penurunan sekresi saliva sebagai efek samping dari terapi

radiasi ini menimbulkan keluhan pada rongga mulut pasien seperti rasa sakit, rasa terbakar, sukar bicara, kerusakan jaringan lunak, dan terjadinya pergeseran pertumbuhan mikroflora rongga mulut.34

Pada hasil persentase (Tabel 17) pengetahuan responden tentang batas dosis maksimum yang layak diterima selama melakukan radiografi (foto rontgen) 4,0%

menjawab “Ya dengan alasan benar. Responden menjawab dosis yang layak diterima oleh tubuh adalah 1mSv. Menurut penelitian Yunus B dkk (2020), dosis radiasi yang diterima oleh seseorang dalam menjalankan suatu kegiatan tidak boleh melebihi nilai batas dosis yang telah ditetapkan oleh instansi yang berwenang. Dengan menggunakan program proteksi radiasi yang disusun dan dikelola secara baik, maka semua kegiatan yang berisiko paparan radiasi cukup tinggi dapat ditangani sedemikian rupa sehingga tidak melampaui nilai batas dosis yang telah ditetapkan.

Nilai batas dosis yang diberlakukan di Indonesia dituangkan dalam Surat Keputusan Direktur Jenderal Badan Tenaga Atom Nasional No.PN03/160/DJ/89 tentang ketentuan keselamatan kerja terhadap radiasi. Aturan tersebut lebih banyak mengacu pada publikasi International Commission on Radiological Protection (ICRP) No.26 tahun 1977, dengan nilai batas dosis dalam ketentuan tersebut bukan batas tertinggi.

Meskipun demikian, karena setiap penyinaran memiliki risiko tertentu, penyinaran yang tidak perlu harus dihindari dan dosis harus diusahakan serendah-rendahnya.

NBD di Indonesia yang dituangkan dalam Surat Keputusan Direktur Jenderal Badan Tenaga Atom Nasional, nilai batas dosis untuk anggota masyarakat umum dalam hal penyinaran seluruh tubuh adalah 1 mSv dalam setahunnya.35

Pada hasil persentase (Tabel 18) pengetahuan responden tentang salah satu proteksi saat melakukan radiografi (foto rontgen) dengan menggunakan pakaian pelindung (apron), sebanyak 59,5% menjawab “Ya dengan alasan benar. Responden menjawab bahwa mengetahuinya untuk melakukan foto ronsen harus menggunakan pakain pelindung tersebut sebelum melakukan foto ronsen. Menurut penelitian Kartika Y dkk (2020), keselamatan radiasi atau yang disebut proteksi radiasi merupakan suatu cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari teknik masalah kesehatan manusia maupun lingkungan dan berkaitan pemberian pelindung kepada

seseorang. Pekerja radiasi memiliki tanggung jawab memastikan keselamatan radiasi selama berlangsung tindakan medis menerapkan prosedur radiasi sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan. Salah satu yang ditekankan ialah adanya alat pelindung diri yang digunakan dalam pelaksanaan saat foto ronsen, alat pelindung diri yang umumnya digunakan adalah apron.36

Berdasarkan hasil penelitian ini masih banyak masyarakat kecamatan Medan Perjuangan yang tidak menjawab dengan benar dan mengetahui dengan pasti isi dari pertanyaan pada kuesioner, hal ini kemungkinan karena masyarakat belum memahami betul tentang manfaat dari radiografi dalam kedokteran gigi baik itu pernah atau tidaknya melakukan pemeriksaan sebelumnya dengan menggunakan radiografi kedokteran gigi.

BAB 6

Dokumen terkait