BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.8 Penelitian sebelumnya
Sudarmanta (2011) melakukan penelitian tentang variaso rasio gasifying agent โ biomassa terhadap karakterisasi biomassa tongkol jagung pada reaktor downdraft. Hasil penelitian tersebut adalah rasio gasifying agent terbaik adalah 1,05 dengan suhu 960
0C dengan menghasilkan syngas yang flammable, yaitu ditandai dengan nyala api stabil dengan mencapai suhu hingga 667 0C dan efisiensi mencapai hingga 30,44% pada rasio gasifying agent dan biomassa sebesar 1,05.
(a) (b)
Gambar 2.9 (a) Grafik zona gasifikasi terhadap waktu dan suhu (b) Grafik AFR terhadap waktu dan suhu
Yuwono (2015) melakukan serangkaian penelitian tentang gasifikasi downdraft dengan kontrol suhu pada zona partial combustion agar dapat diketahui pengaruh penggunaannya terhadap produktifitas dan kualitas syngas yang dihasilkan serta korelasi penggunaan sistem pengendali suhu gasifikasi dengan kapasitas gasifikasi. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa suhu kerja gasifier dan mengubah parameter kinerja proses gasifikasi, terlihat dengan berbedanya nilai LHV, laju alir massa syngas, dan efisiensi gasifikasi. Efisiensi energi gasifikasi pada proses gasifikasi dengan pengendali suhu juga mengalami
peningkatan sebesar 16% pada perubahan nilai setpoint value suhu dari 500 0C menjadi 750 0C
Gambar 2.10 Grafik perbandingan efisiensi energi, LHV syngas, laju alir massa, dan suhu rata-rata zona partial combustion
terhadap laju alir masa udara
Striugas,dkk (2014) dengan melakukan studi eksperimen untuk mengevaluasi kinerja produksi gas dari reaktor gasifikasi downdraft yang sudah menggunakan pengendalian otomatis dengan biomassa yang berbeda-beda. Pada reaktor gasifikasi untuk penelitian tersebut telah terpasang sistem pengendalian otomatis dengan basis PID untuk mengendalikan temperatur proses, ketinggian biomassa dalam reaktor, dan sistem pembuangan arang, dengan menggunakan variabel termanipulasi yaitu udara untuk gasifikasi, laju pasokan biomassa, gerakan grate dan conveyor.Eksperimen dilakukan dengan beberapa jenis biomassa dengan menggunakan pengaturan proses pada sistem kendali yang tidak berubah. Tujuannya adalah untuk mengetahui perbedaan parameter proses yang terjadi dan untuk mengetahui apakah diperlukan pengaturan ulang untuk setiap penggantian biomassa agar kualitas dan kuantitas syngas tetap stabil.
Hasil dari penelitian tersebut adalah bahwa terjadi perbedaan yang signifikan pada temperatur proses, pressure drop, dan kandungan residu, selain itu jumlah gas yang dihasilkan dan energinya juga bervariasi sesuai dengan biomassa yang digunakan.Walaupun terjadi perbedaan dalam prosesnya dan hasil akhir gas tetapi bermacam-macam biomassa yang digunakan terbukti dapat diproses dengan satu reaktor gasifikasi yang telah mengunakan pengendalian otomatis tanpa mengubah pengaturan proses.
Sivakumar,dkk (2012) melakukan penelitian pada poses gasifikasi briket dengan serpihan kayu dengan binder kotoran sapi pada reaktor gasifikasi downdraft berkapasitas 10 KW yang telah menggunakan pengendali otomatis dengan tujuan untuk meneliti efektivitas dari proses gasifikasinya.Penilian efektivitasnya dilakukan dengan membandingkan kinerja reaktor secara manual dan menggunakan pengendali suhu. Data hasil dari penelitian menunjukkan adanya peningkatan pada komposisi gas pada syngas dan efisiensi pada proses gasifikasi dengan menggunakan pengendali suhu, grafik penelitian dapat dilihat digambar 2.12
Gambar 2.11. Grafik perbandingan komposisi gas pada proses gasifikasi tanpa pengendali suhu dan dengan pengendali suhu
(Sivakumar, 2012)
Halaman ini sengaja dikosongkan
28
Studi Literatur
Identifikasi dan perumusan 1. Parameter Operasional
2. Parameter unjuk kerja
Karakterisasi bahan bakar (analisis ultimate dan proximate)
Validitas data Pengujian
Pengolahan data
Analisa data dan pembahasan Pengambilan data
Uji validasi dan reabilitas data
Kesimpulan dan saran
Selesai Mulai
BAB III METODOLOGI 3.1 Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dalam pelaksanaan penelitian ini sebagian besar data belum ada (dalam arti perlu untuk sengaja ditimbulkan). Oleh karena itu, penelitian ini dilaksanakan dengan metode eksperimental.
Gambar 3.1 Diagram alir penelitian
3.2 Bahan Uji
Bahan baku dalam pengujian ini menggunakan pellet Municipal Solid Waste (MSW) yang dibuat di Laboratorium Teknik Pembakaran Dalam dan Bahan bakar ITS, karakteristik dari MSW yang digunakan yaitu:
1. Komposisi MSW
Pellet yang digunakan memiliki ukuran diameter 6 mm dan rata-rata panjang 5-15 mm. Seluruh proses pembuatan pellet MSW dilakukan di Laboratorium Teknik Pembakaran dan Bahan Bakar Jurusan Teknik Mesin ITS. Setelah dilakukan proses pemelletan, Pellet MSW dijemur untuk mengurangi kandungan air hingga 10% - 15% sebelum digunakan dalam penelitian.
2. Analisa Ultimate
Pada pengujian ini dapat diketahui karakteristik kandungan komposisi dari karbon, hidrogen, nitrogen, belerang, dan oksigen yang dimiliki oleh pellet MSW.
3. Analisa Proximate
Pada pengujian ini dianalisa untuk mengetahui kadar Moisture Content, Volatile Matter, Fixed Carbon, dan Ash yang dimiliki oleh pellet MSW. Analisa Proximate dilakukan di Laboratorium Pusat Studi Energi dan Rekayasa LPPM ITS.
4. Nilai Kalor
Pada pengujian ini dilakukan untuk mengetahui nilai kalor pada pellet MSW yang di uji di Laboratorium Pusat Studi Energi dan Rekayasa LPPM ITS dengan alat Bomb Calorimeter. Nilai yang keluar dari alat tersebut dalam bentuk nilai High Heating Value.
3.2 Skema Penelitian
Gambar 3.2 Skema penelitian
3.4 Skema Pengukuran Umpan Pellet MSW
Skema dari pengukuran pellet digunakan untuk mengetahui seberapa besar atau banyak konsumsi dari biomassa pellet MSW
Keterangan :
1. Hopper 8. Gas Sampling
2. Reaktor tipe downdraft 9. Cyclone
3. Termokouple 10. Water scrubber 4. Pengendali Suhu 11. Pompa air 5. Blower 12. Dry Filter 6. Pitot Tube 13. Pompa Hisap 7. Flare Point 14. Flare Point 15. Pitot Tube
Gambar 3.3 Skema umpan pellet MSW
Untuk mengetahui laju alir massa dari pellet MSW, maka harus diketahui kapasitas volume dari reaktor gasifikasi
V = ๐๐2 x t โฆโฆโฆ...โฆโฆโฆ.(3.1) Dimana :
V = Kapasitas volume reaktor gasifikasi r = Jari โ jari reaktor gasifikasi
t = Tinggi
Laju alir massa dicari dengan melakukan perkalian bulk density dari pellet MSW dengan Kapasitas volume dari reaktor gasifikasi
แน = ๐ ๐ฅ ๐
๐ค๐๐๐ก๐ข โฆโฆโฆ..โฆโฆโฆ.(3.2)
Pengujian dilakukan sebanyak 4 kali percobaan dengan setpoint suhu pada zona partial combustion. 8000C, 8500C, 9000C dan 9500C dengan tujuan untuk mengetahui
pengaruh suhu
terhadap unjuk kerja reaktor gasifikasi yang digunakan pada
penelitian
3.5 Pengendali Suhu
Alat pengendali suhu digunakan untuk mengendalikan suhu agar selalu berada pada set point yang telah ditentukan dengan mengatur putaran motor pada blower sehingga laju alir massa udara yang masuk ke dalam reaktor gasifikasi dapat berubah dan suhu pada reaktor gasifikasi pun dapat dikendalikan sehingga berpengaruh terhadap unjuk kerja reaktor gasifikasi.
Gambar 3.4 Alat pengendali suhu
3.5.1 Komponen Alat Pengendali Suhu
Komponen penyusun alat pengendali suhu diantaranya : 1. Arduino Mega 2560
Arduino Mega 2560 adalah Pengendali mikro single-board yang bersifat open source yang dirancang untuk memudahkan penggunaan elektronik dalam berbagai
bidang.
Gambar 3.5 Arduino Mega 2560 2. Keypad 4 x 4
Keypad adalah bagian penting dari suatu perangkat elektronika yang membutuhkan interaksi manusia. Digunakan untuk menginpukan nilai setpoint yang diinginkan
Gambar 3.6 Keypad 4x4
3. LCD 2 x 16
Berfungsi untuk menampilkan karakter angka, huruf ataupun simbol dengan lebih baik dengan konsumsi arus rendah
Gambar 3.7 LCD 2x16 4. Max 6675
Digunakan sebagai komponen penghubung antara arduino dan termocouple type K.
Gambar 3.8 Max 6675 5. Termocouple tipe K
Alat ukur suhu yang digunakan pada reaktor gasifikasi adalah sensor berupa termocouple stick type K,untuk mengetahui suhu pada zona partial combustion. Range kemampuan thermocouple adalah 0 0C โ 1300 0C
Gambar 3.9 Termocouple tipe K 3.5.2 Mekanisme Kerja Pengendali Suhu
Cara kerja dari pengendali suhu ini adalah dengan mengendalikan suhu pada zona partial combustion agar tidak berubah dan tetap atau berada pada suhu yang telah ditentukan (setpoint value). Nilai dari setpoint tersebut dibaca oleh thermocouple tipe K dan diproses oleh alat pengendali suhu yang didalamnya terdapat max 6675 untuk menghubungkan termocouple type K dengan arduino Mega 2560. Pembacaan suhu dari thermocouple tipe K di ubah menjadi sinyal listrik dan diolah oleh Arduino Mega 2560 yang kemudian akan memberikan perintah kepada actuator berupa pulse wide modulator (PWM) yang akan mengatur duty cycle (voltase) yang digunakan oleh motor listrik sebagai penggerak dari blower Sehingga suhu pada zona partial combustion dapat dikendalikan.
Gambar 3.10 Mekanisme pengendali suhu 3.5.3 Mekanisme Putaran Blower
Putaran motor pada blower dikendalikan oleh pengendali suhu, ketika nilai suhu di bawah nilai set point maka blower diatur untuk berputar maksimal, ketika berada pada setpoint suhu maka blower akan berputar medium untuk mempertahankan kondisi steady apabila suhu turun maka blower akan berputar maksimum kembali untuk mencapai nilai setpoint.
COMBUSTION
BLOWER BERPUTAR M AKSIM UM
APAKAH BERADA PADA SET POINT SUHU?
BLOWER BERPUTAR RENDAH
APAKAH BERADA PADA DILUAR SET POINT SUHU ?
TIDAK YA
YA
TIDAK
Gambar 3.11 Mekanisme putaran blower 3.5.4 Mekanisme Pengambilan Data
Pengambilan data dilakukan ketika grafik waktu terhadap suhu menunjukkan posisi steady dikarenakan pada titik tersebut suhu pada reaktor gasifikasi berada pada kondisi stabil dan tidak mengalami overshoot secara fluktuatif serta memiliki nilai error yang rendah sehingga suhu pada zona partial combustion sesuai dengan setpoint yang diinginkan.
Akan tetapi,pada kenyataannya ketika setpoint
digunakan akan memiliki nilai error sehingga untuk
mengatasinya diberi toleransi overshoot pada setpoint suhu
agar mendapatkan data yang valid.
Gambar 3.12 Grafik waktu terhadap suhu
(Gandi,2012)
3.6 Peralatan Penelitian1. Reaktor Gasifikasi
Unit reaktor gasifikasi yang digunakan adalah tipe downdraft. Pemilihan reaktor jenis downdraft didasarkan pada rendahnya kandungan tar yang dihasilkan.
Gambar 3.13 Reaktor Downdraft
Steady
2. Blower dan Induced fan
Blower yang digunakan berupa sentrifugal blower yang digerakkan motor listrik arus AC dengan voltase 220 Volt dan 1 A. Blower berfungsi untuk memberikan pasokan udara pada zona partial combustion. Induced fan digunakan sebagai penghisap syngas dari reaktor menuju saluran keluaran syngas.
(a) (b)
Gambar 3.14 (a)Blower (b) Induced fan 3. Cyclone dan Water scrubber
Cyclone yaitu alat yang berfungsi sebagai alat pemisah partikel dengan gas dengan menggunakan prinsip gaya sentrifugal dan tekanan rendah karena adanya putaran. Pada pengujian ini, cyclone digunakan sebagai alat pemisah gas hasil gasifikasi dengan kandungan lainnya seperti tar ,char, dan ash.
Water scrubber digunakan untuk menangkap polutan yang ada pada gas dan mendinginkannya sebelum dimanfaakan sebagai bahan bakar.
Gambar 3.15 Cyclone dan Water scrubber
3.7 Alat Ukur
Untuk mendapatkan data yang dibutuhkan dalam penelitian, maka dibutuhkan beberapa alat untuk mendukung penelitian ini diantaranya:
1. Alat ukur mass flow rate
Alat ukur laju aliran massa media gasifikasi dan syngas yang digunakan adalah pitot tube untuk menghasilkan perbedaan tekanan yang akan digunakan sebagai perangkat masukan dari pengendali suhu otomatis. Pengukuran mass flow rate akan dilakukan pada 2 titik;
1. Titik pertama pengukuran pada pipa inlet reaktor gasifikasi berfungsi untuk pengukuran mass follow rate udara sebagai media gasifikasi.
2. Titik kedua ditempatkan pada pipa outlet water scrubber untuk mengetahui mass flow rate syngas
Untuk mencari laju aliran massa udara maka perlu dilakukan perhitungan karena hasil dari pengukuran pitot tube adalah kecepatan dari suatu titik tertentu dalam aliran sehingga kecepatan pada pitot tube dapat dihitung dengan persamaan :
Gambar 3.16 Pitot tube
Pitot tube with static wall pressure tap dihubungkan dengan inclined manometer untuk mengetahui besarnya perbedaan ketinggian cairan pada manometer yang nantinya digunakan persamaan Bernoulli sebagai berikut :
๐0
๐ +๐022+ ๐๐ง0=๐๐1+๐212+ ๐๐ง1โฆโฆโฆ. โฆโฆโฆ..โฆโฆ..(3.3)
Dimana :
P0= Tekanan stagnasi (pada titik 0) (Pa) P1= Tekanan statis (pada titik 1) (Pa)
๏ฒ
= Massa jenis fluida yang mengalir (kg/m3) V1= Kecepatan di titik 1 (m/s)V0= Kecepatan di titik 0, kecepatan pada titik stagnasi = 0 m/s Dengan mengasumsikan ๏z = 0 maka persamaan menjadi :
๐12
2 =๐0โ๐๐ 1 โฆโฆโฆ.โฆโฆโฆ..โฆโฆโฆ..(3.4) Untuk mencari kecepatan udara yang masuk kedalam ruang bakar dari persamaan diatas menjadi:
๐1 = โ2(๐๐0โ๐1)
๐ข๐๐๐๐ ..โฆโฆโฆ..โฆโฆโฆ.(3.5)
V1 merupakan kecepatan maksimal, terlihat dari profil kecepatan aliran pada internal flow. Hal ini dikarenakan posisi pitot berada pada centerline pipa. Sehingga perlu dirubah menjadi average velocity (๐ฬ ) yang dapat dirumuskan sebagai berikut:
๐ฬ
๐๐๐๐ฅ =(๐+1)(2๐+1)2๐2 โฆโฆโฆโฆ... .(3.6) Dimana:
๐ฬ : Kecepatan rata โ rata (m/s)
Vmax : Kecepatan maksimal dari profil kecepatan aliran.
n : variation of power law exponent.
Yang di rumuskan sebagai berikut:
๐ = โ1,7 + 1,8 log ๐ ๐๐๐๐๐ฅโฆโฆโฆ... (3.7) untuk ๐ ๐๐๐๐๐ฅ > 2 ๐ฅ 104 (aliran turbulen).
Sedangkan untuk aliran laminar dapat diperoleh melalui persamaan berikut:
๐๐๐๐ฅ= 2๐ฬ โฆโฆโฆ... (3.8) 2. Gas Chromathography
Gas Cromatography berfungsi untuk mengukur persentase volumetrik suatu senyawa, seperti CO, H2, dan CH4. Pengukuran dengan menggunakan alat ini akan dilakukan Laboraturium Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LPPM).
3.8 Prosedur Pengujian
Berikut ini adalah prosedur pelaksanaan penelitian dan pengambilan data proses gasifikasi:
1.) Tahap Persiapan
Sebelum pelaksanaan proses pengujian terdapat beberapa persiapan yang harus dilakukam agar pengambilan data dapat dilakukan dengan baik.
1. Pengecekan reaktor gasifikasi, blower, id fan dan komponen lainnya telah terpasang dengan baik.
2. Persiapkan alat ukur yang digunakan seperti pitot tube dan termokopel
3. Persiapkan pellet MSW sebagai bahan bakar 4. Pastikan alat pengendali suhu dapat digunakan 2.) Tahap Pengambilan data
1. Catat suhu ruangan sebagai data awal.
2. Lakukan proses penyalaan reaktor gasifikasi dengan langkah sebagai berikut:
a) Masukkan pellet MSW ke dalam reaktor gasifikasi hingga batas bawah pirolisis melalui hopper.
b) Sulut pellet MSW sebagai pemanasan awal.
c) Nyalakan Blower, maka pengendali suhu akan mengatur laju alir massa udara yang telah ditentukan sesuai dengan setpoint suhu yang telah ditentukan.
d) Tunggu bara api terbentuk hingga merata dan stabil
e) Setelah menjadi bara, masukkan pellet hingga batas atas dari reaktor gasifikasi.
3. Lakukan pengambilan data setelah syngas hasil gasifikasi flammable, lakukan pembacaan pada alat pengendali suhu, laju alir syngas pada pitot dalam syngas, dan ambil sampel syngas
4. Ulangi Pengambilan data dengan setpoint suhu 8000C, 8500C, 9000C ,dan 950 0C
5. Ambil data pada setiap variasi dengan menambahkan pellet MSW hingga mencapai batas atas, besaran pellet MSW yang dimasukkan ke dalam reaktor sesuai dengan konsumsi pellet MSW pada variasi sebelumnya.
3.) Tahap Akhir Pengujian
1. Matikan blower dan alat pengendali suhu.
2. Biarkan reaktor gasifikasi sampai api benar-benar padam dan suhu turun.
3. Penelitian berikutnya dilakukan setelah suhu reaktor mencapai suhu ruangan.
3.9 Parameter Rancangan Penelitian
Pada penelitian ini terdapat parameter input dan parameter output yang merupakan variabel-variabel yang akan diteliti dalam rancangan penelitian ini. Parameter input terdiri dari variabel tetap dan variabel berubah, dan parameter output terdiri dari variabel yang diukur saat eksperimen dilakukan dan variabel yang dihitung setelah eksperimen dilakukan. Tabel 3.1 memperlihatkan parameter-parameter pada penelitian ini.
Tabel 3.1 Parameter penelitian
Parameter Input Parameter Output
Variabel
3.10 Diagram Alir Pengujian
SELESAI BAHAN BAKAR :
1. PEMBUATAN PELET MSW 2. ANALISA PROXIMATE PELET MSW
MODIFIKASI REAKTOR : 1. PEMASANGAN HOPPER 2, PENAMBAHAN PENGADUK 3. PENAMBAHAN PENYAPU ABU MULAI 1. LAJU ALIR MASSA UDARA 2. SUHU REAKTOR 4 TITIK 3. LAJU ALIR MASSA PELET 4. LAJU ALIR MASSA SYNGAS 5. NILAI KALOR SYNGAS
SELESAI MULAI
NYALAKAN PENGENDALI SUHU
APAKAH SUHU PADA REAKTOR SUDAH BERADA PADA KONDISI STEADY ?
YA
TIDAK LAKUKAN PROSES PENYALAAN API PELET MSW
PADA REAKTOR GASIFIKASI
AMBIL DATA
PENGENDALI SUHU MEMBACA SINYAL LISTRIK INPUT SET POINT
800 0C, 850 0C, 900 0C, 950 0C
PENGENDALI SUHU MENGATUR PWM (DUTY CYCLE)
BLOWER BERPUTAR
LAJU ALIR MASSA UDARA DIBACA SENSOR MAX 6675
Halaman ini sengaja dikosongkan
48
Pada bab ini akan dibahas mengenai unjuk kerja dari reaktor gasifikasi untuk menghasilkan gas mampu bakar (combustible). Untuk mengetahui unjuk kerja dari suatu reaktor digunakan pengendali suhu pada zona partial combustion yang digunakan untuk mengatur laju alir udara yang masuk ke dalam zona partial combustion pada reaktor sesuai dengan nilai setpoint yang divariasikan. Dari variasi nilai setpoint tersebut akan diketahui distribusi suhu pada tiap zona gasifikasi, komposisi hasil syngas, dan cold gas efficiency yang nantinya akan digunakan untuk mengetahui unjuk kerja reaktor gasifikasi yang digunakan pada penelitian ini.
4.1 Analisis Properties Pellet Municipal Solid Waste
Bahan baku biomassa yang digunakan pada penelitian ini adalah pellet MSW yang memiliki diameter 6 mm dan rata โ rata panjang 5-15 mm. Komposisi yang digunakan yaitu 30 % sampah organik tumbuhan, 20 % sampah kayu, 40 % sampah plastik Polypropelene (PP) serta materi pengikat berupa starch (kanji).
Dipilihnya pellet MSW karena selama ini pemanfaaannya masih belum maksimal. Selain itu, ketersediaan pellet MSW sangat berlimpah di lingkungan sekitar.
Sebelum melakukan analisis proses gasifikasi pellet MSW diperlukan pengujian untuk mengetahui properties dari biomassa pellet MSW tersebut. Cara untuk mengetahui karakteristik tersebut dilakukan uji proxymate dan ultimate di Laboratorium Energi ITS.
Hasil proxymate dan ultimate pellet MSW dapat dilihat pada tabel 4.1
Tabel 4.1 Data hasil pengujian kandungan Pellet MSW
4.2 Analisis Penggunaan Pengendali Suhu
Dalam penelitian ini digunakan pengendali suhu pada zona partial combustion dengan memberikan variasi nilai setpoint sehingga perlu dilakukan proses pemrograman pada sistem pengendali suhu agar dapat digunakan sesuai yang diinginkan.
Pada penelitian ini, nilai setpoint yang digunakan adalah 800 0C, 850 0C, 900 0C, dan 950 0C dengan memberikan toleransi atau overshoot sebesar 10 0C yang digunakan untuk menjaga agar pengendali suhu tidak memiliki error yang terlalu besar.
Pada sub bab 2.4.3 dijelaskan bahwa zona partial combustion berada pada suhu 8000C-14000C dengan menggunakan biomassa limbah kayu yang memiliki nilai LHV biomassa yang lebih tinggi dan kandungan moisture content yang lebih rendah dari pellet MSW sehingga dimungkinkan suhu pada zona partial combustion yang dihasilkan lebih tinggi dari pellet MSW pada proses gasifikasi. Begitu pula dengan Yuwono (2015) yang melakukan penelitian dengan biomassa briket MSW menggunakan pengendali suhu pada zona partial combustion dengan variasi nilai setpoint 500 0C dan 750 0C. Hal ini dikarenakan biomassa yang digunakan mimiliki nilai LHV yang lebih rendah dan kandungan
moisture content yang lebih tinggi dari serbuk kayu. Akibatnya suhu pada zona partial combustion yang dihasilkan lebih rendah dari serbuk kayu.
Pemilihan nilai setpoint maksimum pada suhu 950 0C didasarkan pada percobaan dengan menggunakan biomassa pellet MSW tanpa memberikan variasi dan perubahan pada parameter gasifikasi, dari percobaan tersebut diperoleh suhu pada zona partial combustion sebesar 961 0C. Nilai suhu pada zona partial combustion dengan menggunakan pellet MSW lebih rendah dibanding dengan limbah kayu dikarenakan pellet MSW menghasilkan nilai LHV biomassa yang lebih rendah dan kandungan moisture content yang ada pada biomassa lebih tinggi dari limbah kayu sehingga sangat berpengaruh terhadap terjadinya proses gasifikasi.
Berikut merupakan hasil pengendalian dengan menggunakan pengendali suhu pada nilai setpoint 800 0C , 850 0C , 900 0C dan 950 0C dengan toleransi 10 0C
Gambar 4.1 Grafik pengendali suhu pada set point 800 0C
500
0:00:00 0:05:00 0:10:00 0:15:00 0:20:00 0:25:00 0:30:00 0:35:00 0:40:00 0:45:00
Suhu 0C
Waktu
Setpoint Suhu
Gambar 4.2 Grafik pengendali suhu pada set point 850 0C
Gambar 4.3 Grafik pengendali suhu pada set point 900 0C
500
0:00:00 0:05:00 0:10:00 0:15:00 0:20:00 0:25:00 0:30:00 0:35:00 0:40:00 0:45:00 0:50:00
Suhu 0C
0:00:00 0:05:00 0:10:00 0:15:00 0:20:00 0:25:00 0:30:00 0:35:00 0:40:00 0:45:00 0:50:00 0:55:00
Suhu 0C
Waktu
Setpoint Suhu
Gambar 4.4 Grafik pengendali suhu pada set point 950 0C Dapat dilihat bahwa pada gambar 4.1, 4.2, 4.3, dan 4.4 grafik pengendali suhu dimulai pada setpoint 500 0C dikarenakan sebelum dilakukan pengendalian suhu, reaktor dinyalakan dan dipanasi terlebih dahulu hingga suhu mencapai 5000C dengan tujuan agar diperoleh distribusi suhu yang optimal pada tiap zona.
Pada saat awal mula proses penggunaan pengendali suhu, suhu pada zona partial combustion terbaca oleh sensor sebesar 500 0C atau berada di bawah nilai setpoint maka blower akan berputar dengan duty cycle sebesar 30% atau maksimal, hingga mencapai batas atas tiap variasi nilai set point yaitu 800 0C, 8500C, 9000C, dan 9500C. Setelah mencapai batas atas kemudian turun secara perlahan dengan menggunakan duty cycle sebesar 20 % untuk mencapai nilai setpoint serta untuk mempertahankan suhu pada zona partial combustion agar tetap berada pada nilai setpoint tersebut. Waktu tempuh untuk mencapai nilai set point adalah 20 menit, 25 menit, 30 menit, dan 30 menit. Hal ini dikarenakan semakin rendah nilai setpoint maka waktu yang dibutuhkan untuk mencapai nilai tersebut semakin cepat sedangkan semakin tinggi nilai setpoint maka dibutuhkan waktu yang lebih lama untuk
0:00:00 0:05:00 0:10:00 0:15:00 0:20:00 0:25:00 0:30:00 0:35:00 0:40:00 0:45:00 0:50:00 0:55:00
Suhu0C
Waktu
Setpoint Suhu
mencapai nilai tersebut. Pada setpoint 900 0C dan 950 0C waktu yang dibutuhkan untuk mencapai nilai setpoint hampir bersamaan dikarenakan semakin tinggi suhu maka kemungkinan reaksi yang terjadi di dalam reaktor semakin cepat sehingga mempengaruhi waktu yang ditempuh untuk mencapai nilai setpoint tersebut tersebut.
4.3 Analisis Distribusi Suhu Pada Reaktor Gasifikasi
Selain pada zona partial combustion yang menggunakan pengendali suhu otomatis, Dalam proses gasifikasi terdapat empat zona yaitu zona drying, pirolisis, partial combustion, dan reduksi.
Distribusi suhu ditampilkan untuk mengetahui pengaruh penggunaan pengendali suhu yang divariasikan ke dalam 4 variasi yaitu 800 0C, 850 0C, 900 0C, dan 950 0C
4.3.1 Distribusi Suhu Reaktor Gasifikasi Pada Setpoint 800 0C Berikut adalah gambar distribusi suhu pada nilai setpoint 800 0C dengan toleransi sebesar ยฑ 10 0C
Gambar 4.5 Distribusi suhu pada setpoint 800 0C
T1
Pada Gambar 4.5 termokopel 1 (T1) diletakkan pada ketinggian 100 cm dari bawah reaktor memiliki suhu sebesar 90
0C. Termokopel 1 menunjukkan bahwa pada posisi tersebut merupakan zona drying karena suhu berada di bawah 150 0C, Dimana pada zona tersebut pellet MSW mengalami proses penguapan untuk menghilangkan kandungan moisture content
Pada termokopel 2 (T2) diletakkan pada ketinggian 90 cm dari bagian bawah reaktor dari bagian bawah reaktor dengan suhu 1270C, Termokopel 3 (T3) diletakkan pada ketinggian 80 cm dengan suhu 1350C . Termokopel 4 (T4) terletak pada ketinggian 63 cm dengan suhu 3350C serta termokopel 5 (T5) dengan ketinggian 49 cm dengan suhu 4290C. Berdasarkan nilai termokopel 2 (T2) sampai dengan termokopel 5 (T5) dimasukkan dalam zona pirolisis karena berada pada range suhu 150 0C โ 700
0C. Dimana pada zona ini biomassa kering hasil dari zona drying akan menguapkan kandungan volatile metter pada biomassa pada suhu tinggi sehingga terbentuk gas ringan berupa (H2, CO, CO2, H2O, dan CH4), tar, dan arang.
Pada termokopel 6 (T6) yang diletakkan pada ketinggian 38 cm memiliki suhu 796 0C merupakan zona partial combustion yang digunakan sebagai tempat masukan udara. Pada zona tersebut dilakukan proses pengendalian suhu dengan alat berupa pengendali suhu dengan nilai setpoint 800 0C yang bertujuan untuk mengendalikan jumlah laju alir massa udara pada zona partial combustion sehingga sesuai dengan nilai setpoint yang ditentukan.
Pada zona partial combustion terjadi proses eksoterm yang menghasilkan panas yang dibutuhkan untuk semua proses gasifikasi. Reaksi yang terjadi diantaranya adalah char combustion, partial oxidation, dan hydrogen combustion.
Sedangkan pada termokopel 7 (T7) pada ketinggian 27 cm mempunyai nilai suhu 4010C. Nilai tersebut mengindikasikan bahwa T7 telah berada pada zona reduksi yang berada pada kisaran suhu 4000C- 8000C dimana proses ini menyerap atau membutuhkan panas (reaksi endoterm). Pada proses ini terjadi beberapa reaksi kimia seperti (Water-Gas Reaction, Boudouard Reaction, Shift
conversion, Methanation), dimana terbentuknya senyawa-senyawa yang berguna untuk menghasilkan flammable gas, seperti H2 dan CO. Sisa 80% dari arang turun ke bawah membentuk lapisan pada daerah reduksi, dimana di bagian ini hampir seluruh karbon akan
conversion, Methanation), dimana terbentuknya senyawa-senyawa yang berguna untuk menghasilkan flammable gas, seperti H2 dan CO. Sisa 80% dari arang turun ke bawah membentuk lapisan pada daerah reduksi, dimana di bagian ini hampir seluruh karbon akan