BAB III METODE
3.5 Prosedur
3.5.3 Penentuan indeks bias sesuai SNI 06-2387-2006 minyak
pembacaan akan dilakukan. Diatur Suhu kerja dan harus dipertahankan dengan toleransi Β± 0,20C. Sebelum minyak ditaruh di dalam alat, minyak tersebut harus berada pada suhu yang sama dengan suhu dimana pengukuran akan dilakukan.
Kemudian pembacaan dilakukan bila suhu sudah stabil.
3.5.4 Penentuan kelarutan etanol sesuai SNI 06-2387-2006 minyak daun cengkeh
Minyak daun cengkeh diukur 1 ml dengan teliti di dalam gelas ukur yang berukuran 10 ml. Lalu ditambahkan etanol 70%, setetes demi setetes, kocok setelah setiap penambahan sampai diperoleh suatu larutan yang sebening minyak.
3.5.5 Penentuan eugenol total sesuai SNI 06-2387-2006 minyak daun cengkeh
Minyak daun cengkeh dipipet 10 ml ke dalam labu cassia. Ditambahkan larutan KOH 4% hingga 2/3 volume. Lalu dikocok selama 30 menit, dan ditambahkan lagi larutan KOH 4% hingga bagian skala labu cassia. Setelah itu, Labu cassia diketuk-ketuk sampai butiran minyak naik ke leher labu cassia.
Kemudian dibaca lapisan minyak pada leher labu cassia Contoh perhitungan :
Eugenol total = 10βππ
10 π₯π₯ 100%
Keterangan :
v = volume minyak
Universitas Sumatera Utara
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan Keadaan (Warna dan Bau)
Hasil penentuan keadaan warna dan bau daun cengkeh yang beredar di pasaran masing-masing adalah warna coklat tua dan berbau khas cengkeh (tabel 4.1). Hal ini menunjukkan keadaan warna dan bau daun cengkeh yang beredar di pasaran memenuhi persyaratan SNI 06-2387-2006.
Tabel 4.1 Data Pengamatan Keadaan Minyak Daun Cengkeh
No Jenis Uji Hasil
khas minyak cengkeh (tidak terlalu tajam)
Warna hitam kecoklatan (coklat tua) pada minyak daun cengkeh disebabkan oleh adanya ion Mg, Fe, Mn, Pb dan Zn yang berasal dari daun dan alat penyulingan dan juga berubah menjadi coklatkarena terjadikontak dengan udara.Walaupun demikian, minyak ini dapat ditingkatkan kemurniaanya melalui proses penyulingan ulang (redistilasi), adsopsi, dan pengkelatan (Bustaman, 2011; Guenther, 1990).
Dalam minyak daun cengkeh terdapat zat-zat yangsangat sedikit umpamanyametil-n-amil ketonyang berperan dalam menimbulkan karakteristik
sedikitdaripadadariyangterdapatdalamminyak bunga cengkeh atau gagang cengkeh, sehingga minyak daun cengkeh kurang mempunyai baukhas cengkeh (Guenther, 1990).
4.2 Hasil Penentuan Bobot Jenis
Hasil penentuan bobot jenis minyak daun cengkeh yang beredar di pasaran adalah 1,0410 (tabel 4.2). Hal ini menunjukkan bobot jenis minyak daun cengkeh yang beredar di pasaran memenuhi persyaratan SNI 06-2387-2006 yaitu berada di antara 1.025 - 1.049.
Tabel 4.2 Data Penentuan Bobot Jenis Minyak Daun Cengkeh
No. M m1 m2 Bobot Jenis
1. 30,4605 gr 55,1928 gr 56,2096 gr 1,0411 2. 29,1658 gr 38,4976 gr 38,8793 gr 1,0409
Bobot jenis rata-rata 1,0410
Keterangan :
m = massa piknometer kosong (g)
m1 = massa piknometer berisi air pada 20oC (g) m2 = massa piknometer berisi contoh pada 20oC (g)
Bobot jenis minyak atsiri mempengaruhi komponen-komponen penyusun minyak atsiri. Semakin banyak komponen penyusun minyak atsiri, semakin banyak komponen beranti panjang atau senyawa polimer dalam minyak maka akan meningkatkan densitas (bobot jenis) minyak. Semakin lama waktu destilasi maka akan terjadi peningkatan konsentrasi minyak yang disebabkan oleh semakin banyaknya akumulasi komponen-komponen kimia penyusun minyak atsiri, baik itu senyawa yang bertitik didih tinggi atau rendah (Sebayang,2011).
4.3 Hasil Penentuan Indeks Bias
Universitas Sumatera Utara
Indeks bias dari minyak daun cengkeh adalah 1,534. Hal ini menunjukkan indeks bias pada minyak daun cengkeh yang beredar di pasaran memenuhi persyaratan SNI 06-2387-2006 yaitu berada di antara 1,528 - 1,535.
Indeks bias merupakan perbandingan kecepatan cahaya di udara dengan kecepatan cahaya di dalam suatu medium/zat pada suhu tertentu. Apabila seberkas cahaya merambat dari medium kurang rapat menuju medium yang lebih rapat meka cahaya tersebut akan dibiaskan, maka semakin besar juga nilai sudut biasnya (Sebayang, 2011).
Peningkatan waktu destilasi dapat terjadi karena proses pemanasan yang berlangsung. Pemanasan dapat menyebabkan komponen minyak mengalami polimerisasi. Senyawa polimer dalam minyak akan meningkatkan kerapatan medium sehingga akan meningkatkan nilai indeks bias minyak (Sebayang, 2011).
4.4 Hasil Penentuan Kelarutan dalam Etanol
Kelarutan dalam etanol dari minyak daun cengkeh adalah 1 : 2 jernih. Hal ini menunjukkan kelarutan dalam etanol pada minyak daun cengkeh yang beredar di pasaran memenuhi persyaratan SNI 06-2387-2006.
Kelarutan alkohol dinyatakan sebagai jumlah alkohol yang dibutuhkan untuk melarutkan 1 ml minyak atsiri. Karena banyak minyak atsiri larut dalam alkohol dan jarang yang larut dalam air, maka kelarutannya dapat dengan mudah diketahui dengan menggunakan alkohol pada berbagai tingkat konsentrasi.
Semakin banyak komponen senyawa yang mengandung gugus OH maka semakin tinggi kelarutannya, atau sebaliknya. Kelarutan tersebut dasarkan pada tingkat kepolaran suatu senyawa penyusun minyak tersebut. Kelarutan minyak dalam
alkohol berdasarkan hasil menunjukkan larut dalam perbandingan 1:2, hal ini dikarenakan kandungan eugenol yang tinggi pada minyak daun cengkeh, yang mana eugenol merupakan senyawa kelompok alkohol (Putri, 2014; Sebayang, 2011; Guenther, 1990).
4.5 Hasil Penentuan Eugenol Total
Eugenol total dari minyak daun cengkeh adalah 80%. Hal ini menunjukkan eugenol total pada minyak daun cengkeh yang beredar di pasaran memenuhi persyaratan SNI 06-2387-2006 yaitu melampaui batas minimum 78%.
Eugenol dan non eugenol (non fenolat) merupakan konstituen minyak daun cengkeh. Eugenol yang merupakan komponen paling besar dapat diisolasi (dimurnikan) dengan menggunakan reaktan basa kuat (NaOH atau KOH) yang akan mengikat fenol (eugenol). Fenol yang bersifat sedikit asam kemudian dapat bercampur dengan basa kuat dan mengendapkan kariofilen atau yang disebut lapisan non fenolat. Sehingga, setelah reaksi berlangsung akan diperoleh dua lapisan. Lapisan atas yang merupakan senyawa non fenolat yang tidak larut dalam air dan lapisan bawah yang merupakan senyawa eugenol (Na/K β Eugenol) yang larut dalam air (Putri, 2014; BSN, 2006; Sastrohamidjojo, 2004).
Konsentrasi NaOH atau KOH yang dipergunakan dalam isolasi eugenol dari minyak daun cengkeh berpengaruh nyata terhadap kemurnian eugenol serta berpengaruh sangat nyata terhadap sifat fisiko-kimia dan rendemen eugenol yang diperoleh. Rendemen eugenol yang tertinggi (hasil terbaik) diperoleh dari perlakuan dengan larutan NaOH atau KOH dengan konsentrasi 4% pada suhu 45oC dan waktu pengadukan 30 menit. Pemilihan KOH sebagai reaktan karena sifatnya yang lebih cepat larut di dalam air dan mengikat asam lebih cepat
Universitas Sumatera Utara
dibandingkan NaOH, hal ini dapat mempersingkat proses kemurniaan (Putri, 2014; Sani, 2005).
Kadar eugenol pada daun cengkeh juga ditentukan oleh posisi daun pada ranting. Semakin ke pangkal kedudukan daun pada ranting akan akan kadar eugenol minyak yang dihasilkan akan semakin bagus (Hapsoh dan Hasanah, 2011).
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Penelitian ini menunjukkan karakteristik dari minyak daun cengkeh (syzygium aromaticum) yang beredar di pasaran mempunyai warna coklat tua; bau
khas minyak cengkeh (tidak terlalu tajam); bobot jenis 1,0410; indeks bias 1,534;
kelarutan dalam etanol 70% 1:2 dan kadar eugenol totalnya 80%. Hal ini menunjukkan karakteristik dari minyak daun cengkeh (syzygium aromaticum) yang beredar di pasaran memenuhi persyaratan SNI 06-2387-2006.
5.2 Saran
Sebaiknya penelitian selanjutnya agar melakukan pengujian terhadap parameter lainnya menurut standar mutu SNI pada minyak daun cengkeh seperti beta caryophillene dan pada penentuan bobot jenis minyak daun cengkeh dibuat triplo agar hasil lebih akurat.
Universitas Sumatera Utara
DAFTAR PUSTAKA
Agoes, G. H. (2007). Teknologi Bahan Alam. Bandung: ITB. hlm. 118-119.
Agoes, H.A. (2010). Tanaman Obat Indonesia Buku 2. Jakarta: Penerbit Salemba Medika. H
Agusta, Andria. (2000). Minyak Atsiri Tumbuhan Tropika Indonesia. Bandung:
ITB. hlm. 8-9, 17.
Badan Standarisasi Nasional (BSN). (2006). Standar Mutu Minyak Daun Cengkih.
SNI 06-2387-2006.Jakarta : Dewan Standarisasi Nasional.
Bustaman, S. (2011). Potensi Pengembangan Minyak Daun Cengkeh Sebagai Komoditas Ekspor Maluku. Jurnal Litbang Pertanian. 30(4):132-139.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (1979). Farmakope Indonesia. Edisi ketiga. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. hlm. 767, XXX.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (1980). Kodeks Kosmetika Indonesia.
Volume I. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. hlm. 402-403.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (1995). Farmakope Indonesia. Edisi keempat. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. hlm. 372-373.
Guenther, E. (1990). Minyak Atsiri Jilid IV B. Jakarta: Universitas IndonesiaPress.
hlm. 480-493.
Gunawan, D. (2004). Ilmu Obat Alam (Farmakognosi) Jilid I. Jakarta: Penerbit Penebar Swadaya.
Hapsoh dan Hasanah, Y. (2011). Budidaya Tanaman Obat dan Rempah. Medan:
USU Press. hlm. 89-93.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2014). Materia Kosmetika Bahasa Alam Indonesia. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan. hlm. 394.
Lutony, T.L. dan Rahmayati, Y. (2002). Produksi dan Perdagangan Minyak Atsiri. Jakarta : Penebar Swadaya. hlm. 1-4, 67-73.
Martin, A. (1993). Farmasi Fisika : Bagian Larutan dan Sistem Dispersi.
Yogyakarta : Gajah Mada University Press
Putri, dkk. (2014). Pemurnian Eugenol dari Minyak Daun Cengkeh dengan Reaktan Basa Kuat KOH dan Ba(OH)2 (Kajian Konsentrasi Reaktan).
Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri. Vol 3(1):2,4,7-8.
Ruhnayat, A. (2004). Memproduktifkan Cengkeh. Jakarta: Penebar Swadaya. hlm.
12-14.
Sani, dkk. (2005). Pemisahan Eugenol dari Minyak Daun Cengkeh dengan Larutan NaOH. Aplikasi Teknik Kimia Menuju Pengembangan Teknologi Tepat Guna. 1-2
Sastrohamidjojo, H. (2004). Kimia Minyak Atsiri. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. hlm. 1-4, 119-120.
Sebayang, E.P.P. (2011). Minyak sereh wangi (Citronella oil)di UKM Sari Murni.
Tugas Akhir. Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret
Soekarto,ST. (1981).PenilaianOrganoleptik. Bogor:PusbangtepaInstitutPertanian Bogor.
Sudarmadji, Slamet. (1989). Analisis Bahan Makanan dan Pertanian.
Yogyakarta: Penerbit Liberty.
Universitas Sumatera Utara
Lampiran 1. Penentuan Bobot Jenis Minyak Daun Cengkih πππ‘π‘1π‘π‘1 = Pembacaan bobot jenis yang dilakukan pada suhu 20ΒΊC (g)
Diketahui : 38,4976 g β 29,16585 g
= 1,0409
Bobot Jenis Rata-rata = Bobot π½π½π½π½π½π½π½π½π½π½ 1+π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π‘π‘ π½π½π½π½π½π½π½π½π½π½ 2 2
1,0411+1,0409
= 1,0410
Lampiran 2. Penentuan Eugenol Total Minyak Daun Cengkeh Rumus :
Lampiran 3. Pengujian Minyak Daun Cengkeh
Gambar a. Minyak Daun Cengkeh
Gambar c. Piknometer berisi minyak daun cengkeh
Gambar d. Labu cassia berisiminyak daun cengkeh dan KOH 4%
Gambar b. Gelas ukur berisi minyak daun cengkeh dan etanol 70%
Gambar g.Refraktometer
Gambar f. Waterbath yang dilengkapi dengan thermostat
Universitas Sumatera Utara