BAB II URAIAN TEORITIS
2.4.3 Penentuan Kurs Valuta Asing
Faktor-faktor fundamental yang diduga keras paling mempengaruhi kurs valas adalah jumlah uang beredar, pendapatan riil relatif, harga relatif, perbedaan inflasi, perbedaan suku bunga, dan permintaan serta penawaran aset di kedua negara. Faktor- faktor penjelas ini dirangkum dalam tiga teori dalam analisis penentuan kurs valas, yaitu:
a. Pendekatan Neraca Pembayaran (Balance of Payments Approach)
Pendekatan neraca pembayaran menekankan pada konsep aliran (flow consept). Menurut pendekatan ini, kurs valas ditentukan oleh aliran penawaran dan kondisi permintaan dalam pasar valas. Permintaan terhadap valas datang dari individu atau pedagang yang melakukan pembayaran kepada orang asing dalam mata uang asing. Transaksi yang dilakukan dapat berupa impor atau pembelian surat berharga milik asing, yang dilakukan pada kolom debit neraca pembayaran seperti pada Gambar 2.4 berikut ini.
Andriani Syafitri : Analisis Determinan Tunggakan Pembayaran Cicilan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) pada P.T. Bank Tabungan Negara Cabang Medan, 2009.
USU Repository © 2009 S (Rp/$) D S S0 (RP/$) S D 0 $0 $ Gambar 2.4
Penentuan Kurs dalam Pendekatan Neraca Pembayaran
Permintaan valas yang ditunjukkan oleh kurva DD, berlereng negatif karena semakin tinggi kurs valas akan membuat barang dan jasa yang diimpor serta surat berharga menjadi lebih mahal bagi pembeli dalam negeri (karena mereka harus membayar mata uang domestik lebih banyak untuk memperoleh
Andriani Syafitri : Analisis Determinan Tunggakan Pembayaran Cicilan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) pada P.T. Bank Tabungan Negara Cabang Medan, 2009.
USU Repository © 2009
satu unit mata uang asing). Akibatnya, permintaan volume impor, dan pada gilirannya, jumlah valas yang diminta oleh penduduk dalam negeri menjadi berkurang jumlahnya.
Sedangkan penawaran valas berasal dari penerimaan valas yang diperoleh dari ekspor barang dan jasa serta penjualan surat berharga finansial kepada orang asing, yang dicatat pada kolom kredit neraca pembayaran. Secara grafis dalam Gambar 2.5, penawaran valas yang ditunjukkan kurva SS mempunyai lereng negatif. Artinya, semakin tinggi kurs valas, membuat ekspor kita relatif menjadi lebih murah di mata pembeli luar negeri karena setiap unit biaya mata uang domestik menjadi lebih rendah valas. Akibat kurs valas yang lebih tinggi mendorong permintaan volume ekspor kita, dan pada gilirannya meningkatkan suplai valas.
S (Rp/$)
D D1 S
S1 (Rp/$)
S2 (Rp/$)
Andriani Syafitri : Analisis Determinan Tunggakan Pembayaran Cicilan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) pada P.T. Bank Tabungan Negara Cabang Medan, 2009.
USU Repository © 2009
0 $0 $1 $ Gambar 2.5
Dampak Kenaikan Jumlah Valas yang Diminta
Ekuilibrium kurs valas ($0) ditentukan oleh perpotongan kurva permmintaan dan penawarannya. Perubahan dalam harga-harga domestik, pendapatan riil, selera, dan faktor-faktor lain menyebabkan pergeseran kurva permintaan valas. Misalnya, pertumbuhan pendapatan riil domestik yang cepat akan meningkatkan permintaan impor, sehingga menggeser seluruh kurva permintaan ke kanan dan menciptakan kurva DD1. ekuilibrium kurs yang baru di titik S1, menunjukkan adanya depresiasi Rupiah.
Demikian juga perubahan dalam harga-harga, pendapatan riil, dan selera di negara lain dapat mengakibatkan pergeseran kurva penawaran. Misalnya, bila inflasi yang lebih tinggi terjadi di Amerika Serikat, maka inflasi ini akan mendorong penduduk Inggris untuk membeli lebih banyak ekspor kita dan akan menaikkan suplai Dollar AS. Perubahan ini menggeser kurva penawaran SS dan menciptakan kurva penawaran baru yaitu SS1 seperti yang ditunjukkan dalam Gambar 2.6. Akibatnya, Rupiah mengalami apresiasi dan ekuilibrium kurs valas yang baru berada pada titik S2.
S (Rp/$)
D S S1
Andriani Syafitri : Analisis Determinan Tunggakan Pembayaran Cicilan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) pada P.T. Bank Tabungan Negara Cabang Medan, 2009.
USU Repository © 2009 S0 (Rp/$) S1 (Rp/$) S S1 D 0 $0 $1 $ Gambar 2.6
Dampak Kenaikan Jumlah Valas yang Ditawarkan b. Pendekatan Moneter (Monetary Approach)
Pendekatan moneter tidak menekankan aliran perdagangan dan pergerakan modal sebagai faktor kunci penentu kurs valas. Pendekatan moneter berkeyakinan bahwa faktor-faktor moneter, yang melandasi fungsi permintaan dan penawaran uang, merupakan penjelas utama pergerakan kurs valas. Karena itu, ekuilibrium kurs valas akan ditentukan oleh permintaan dan penawaran uang, serta faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan dan penawaran uang, yaitu jumlah uang beredar relatif; pendapatan riil relatif; perbedaan suku bunga dan perbedaan inflasi di kedua negara.
Ada dua versi pendekatan moneter, yaitu: 1) Versi harga fleksibel
Pada dasarnya menggabungkan teori kuantitas uang dan teori paritas daya beli (purchasing power parity). Diasumsikan bahwa permintaan dan penawaran uang di masing-masing negara ditentukan
Andriani Syafitri : Analisis Determinan Tunggakan Pembayaran Cicilan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) pada P.T. Bank Tabungan Negara Cabang Medan, 2009.
USU Repository © 2009
oleh harganya sendiri; harga di kedua negara ini dihubungkan oleh kurs valas. Pendekatan moneter menganggap bahwa kenaikan suplai uang domestik menyebabkan kenaikan harga domestik secara proposional, dan oleh karena itu lewat paritas daya beli akan mendorong terjadinya depresiasi mata uang domestik. Sementara hubungan antara kurs valas dan pendapatan riil relatif adalah negatif. Alasannya, kenaikan pendapatan riil domestik menyebabkan kelebihan permintaan akan keseimbangan uang, yang tanpa perubahan suplai uang, hanya dapat dipenuhi dengan penurunan harga-harga domestik. Lewat paritas daya beli, penurunan harga akan menyebabkan apresiasi mata uang domestik. Versi ini juga memperediksi bahwa semakin tinggi perbedaan suku bunga akan menyebabkan menurunnya permintaan uang domestik, yang pada gilirannya akan menyebabkan terjadinya depresiasi mata uang domestik. Karena itu koefisien perbedaan suku bunga bertanda positif.
2) Versi ketegaran harga
Versi ketegaran harga yang dikemukakan oleh Keynesian, merevisi dua hal yang dikemukakan pada versi harga fleksibel. Pertama, suplai uang di masing-masing negara adalah bersifat endogen, artinya terdapat hubungan positif antara suplai uang dan suku bunga pasar. Kedua, asumsi harga fleksibel diganti dengan
Andriani Syafitri : Analisis Determinan Tunggakan Pembayaran Cicilan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) pada P.T. Bank Tabungan Negara Cabang Medan, 2009.
USU Repository © 2009
ketegaran harga. Jadi, paritas daya beli hanya dapat dipegang dalam jangka panjang. Bila kurs spot di bawah tingkat ekuilibrium jangka panjang,
c. Pendekatan Keseimbangan Portofolio (Portofolio Balance Approach) Pendekatan keseimbangan portofolio menggarisbawahi peranan stok permintaan dan penawaran aset finansial yang diperdagangkan dalam pasar internasional. Menurut pendekatan ini, kurs valas ditentukan oleh penawaran dan permintaan aset finansial relatif yang dimasukkan dalam portofolio.
Portofolio finansial merupakan total kekayaan, yang terdiri atas tiga jenis aset, yaitu suplai uang domestik; obligasi domestik; dan obligasi luar negeri. Dari waktu ke waktu, stok tiga jenis aset ini relatif tetap, sedangkan suku bunga domestik dan kurs valas selalu disesuaikan sehingga aset tersebut tetap diinginkan oleh para investor. Meskipun demikian, kenyataannya, stok aset finansial dapat berubah setiap saat. Defisit anggaran pemerintah yang dibiayai dengan obligasi akan meningkatkan suplai obligasi domestik yang dikeluarkan oleh pemerintah. Pertumbuhan suplai uang atau monetisasi utang pemerintah akan meningkatkan stok keseimbangan uang. Surplus transaksi berjalan akan meningkatkan pemegangan obligasi luar negeri.
Dampak perubahan stok aset terhadap kurs adalah sebagai berikut: 1) Suatu kebijakan moneter ekspansif, yang menyebabkan kenaikan jumlah uang beredar, akan mengakibatkan naiknya
Andriani Syafitri : Analisis Determinan Tunggakan Pembayaran Cicilan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) pada P.T. Bank Tabungan Negara Cabang Medan, 2009.
USU Repository © 2009
kekayaan. Dampak kekayaan akan mendorong kelebihan permintaan bagi obligasi domestik maupun bagi obligasi luar negeri. Bila suku bunga luar negeri tetap, kelebihan permintaan akan obligasi domestik akan menaikkan harganya dan menurunkan suku bunga domestik. Kelebihan permintaan akan obligasi luar negeri akan meningkatkan permintaan valas, dan pada gilirannya mata uang domestik mengalami depresiasi.
2) Dampak perubahan obligasi domestik terhadap kurs valas adalah ambivalen. Kenaikan obligasi pemerintah domestik, melalui dampak kekayaan, akan meningkatkan kelebihan permintaan terhadap obligasi luar negeri dan valas, sehingga terjadi depresiasi mata uang domestik. Di lain pihak, suku bunga yang lebih tinggi karena kenaikan obligasi pemerintah, akan membuat obligasi luar negeri menjadi kurang menarik. Bila dampak substitusi mendominasi dampak kekayaan, maka mata uang domestik mengalami apresiasi.
3) Kenaikan pemegangan obligasi luar negeri yang didorong oleh surplus transaksi berjalan akan meningkatkan permintaan akan aset domestik melalui dampak kekayaan. Hasilnya akan menurunkan suku bunga domestik dan depresiasi kurs valas.
Andriani Syafitri : Analisis Determinan Tunggakan Pembayaran Cicilan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) pada P.T. Bank Tabungan Negara Cabang Medan, 2009.
USU Repository © 2009