BAB 4 ANALISA DAN PEMBAHASAN
4.3.4 Penentuan Prioritas Strategi Mitigasi Sektor
Analisis AHP kegiatan mitigasi penurunan emisi GRK sektor persampahan di Kota Batu ditetapkan tiga level. Level pertama adalah tujuan, yaitu kegiatan yang efektif dan efisien untuk mereduksi emisi GRK sektor persampahan di Kota Batu. Level kedua adalah kriteria yang digunakan untuk menentukan prioritas kegiatan mitigasi penurunan emisi GRK sektor persampahan, dan level ketiga adalah alternatif kegiatan mitigasi penurunan emisi GRK sektor persampahan di Kota Batu.
Kriteria yang digunakan dalam penelitian ini untuk menentukan prioritas kegiatan mitigasi penurunan emisi GRK sektor persampahan di Kota Batu yaitu (Widawati et al., 2014):
1. Sosial
Pertimbangan aspek sosial dalam usulan penerapan teknologi pengolahan sampah penting dilakukan. Pertimbangan tersebut bertujuan agar penerapan teknologi pada masa yang akan datang tidak akan menimbulkan masalah sosial.
2. Ekonomi
Aspek ekonomi perlu dipertimbangkan dalam memberikan usulan teknologi pengolahan sampah. Dalam penentuan teknologi pengolahan sampah, permasalahan mengenai biaya yang akan dikeluarkan tentu menjadi pertimbangan tersendiri.
3. Lingkungan
Kegiatan pengolahan sampah yang tidak benar dapat menimbulkan pencemaran lingkungan. Selain itu, sampah juga merupakan sumber dari berbagai bibit penyakit. Penumpukan sampah yang berlebih juga merusak kelestarian dan keindahan lingkungan sekitarnya.
4. Teknis
Pertimbangan aspek teknis dalam menentukan altenatif teknologi pengolahan sampah adalah untuk menjamin bahwa teknologi tersebut dapat diimplementasikan di lapangan.
Alternatif kegiatan dari strategi mitigasi penurunan emisi GRK sektor persampahan di Kota Batu pada penelitian ini yaitu (Surjandari et al., 2009): 1. Kompos
Pengolahan sampah dengan pengomposan merupakan cara penumpukan sampah pada lubang kecil dalam jangka waktu tertentu untuk menghasilkan pupuk yang alamiah atau proses dekomposisi yang dilakukan oleh mikroorganisme terhadap buangan organik yang biodegradable.
2. Landfill
Pada Landfill sebenarnya sampah tidak dimusnahkan secara langsung, namun dibiarkan membusuk menjadi bahan organik. Metode penumpukan bersifat murah dan sederhana, tetapi menimbulkan beberapa risiko antara lain:
berjangkitnya penyakit menular, menyebabkan pencemaran (terutama bau dan kotoran).
3. Recycle
Pengolahan sampah dengan recycle merupakan salah satu strategi pengelolaan sampah padat yang terdiri atas kegiatan pemilahan, pengumpulan, pemrosesan, pendistribusian dan pembuatan produk/material bekas pakai. Proses recycle dipengaruhi oleh faktor fraksional (persentase) kemampuan memilah, waktu pengiriman dan waktu pengolahan. Sifat dari recycle adalah menunda penumpukan sampah yang sifatnya anorganik, maka lambat laun hasil atau produknya pun akan menjadi sampah kembali.
4. Insenerator
Metode ini dapat dilakukan hanya untuk sampah yang dapat dibakar habis. Harus diusahakan jauh dari pemukiman untuk menghindari pencemaran (asap dan bau) dan kebakaran.
Setelah membuat model hirarki selanjutnya dapat ditentukan nilai pairwise comparison (perbandingan berpasangan) antar kriteria dan antar alternatif untuk setip kategori strategi mitigasi sektor persampahan penurunan emisi GRK di Kota Batu. Nilai pairwise comparison diperoleh dari kuisioner yang disebarkan pada 10 responden expert yang terpilih di Dinas Lingkungan Hidup Kota Batu. Nilai bobot prioritas tiap kategori yang diperoleh berdasrkan nilai pairwise comparison yang akan diperbandingkan untuk mendapatkan nilai bobot prioritas yang akhir.
Untuk memeriksa apakah pairwise comparison telah dilakukan dengan konsisten atau tidak dilihat dari nilai inconsistency ratio selengkapnya ditunjukkan pada Lampiran 5. Nilai inconsistency ratio dari pertanyaan kuisioner tentang strategi mitigasi penurunan emisi GRK sektor persampahan di Kota Batu yang diajukan kepada responden tidak terdapat pertanyaan yang memiliki nilai
inconsistency ratio lebih dari 0,1. Pairwise comparison yang telah dilakukan dengan konsisten serta tidak perlu diajukan revisi pendapat kepada responden dan mengajukan pertanyaan ulangan untuk perbaikan.
Tabel 4.48 Hasil Pembobotan Strategi Adaptasi Penurunan Emisi GRK Sektor Persampahan di Kota Batu
Name Normalized
By Cluster Limiting Rank
Kriteria Ekonomi 0.13299 0.066496 4 Kriteria Lingkungan 0.41301 0.206506 1*** Kriteria Sosial 0.31842 0.159210 2 Kriteria Teknis 0.13558 0.067788 3 Alternatif Insenerator 0.09136 0.045679 4 Alternatif Kompos 0.41994 0.209968 1*** Alternatif Landfill 0.23403 0.117016 3 Alternatif Recycle 0.25467 0.127337 2
Hasil pembobotan untuk strategi mitigasi penurunan emisi GRK sektor persampahan di Kota Batu dapat dilihat pada Tabel 4.48. Hasil pembobotan menunjukkan bahwa kriteria yang memiliki bobot terbesar yaitu lingkungan dengan bobot limiting sebesar 0,206506. Terpilihnya kriteria lingkungan sebagai prioritas utama menunjukkan bahwa lingkungan merupakan faktor utama yang perlu diperhatikan untuk strategi mitigasi sektor persampahan penurunan emisi GRK di Kota Batu. Semakin besar dampak lingkungan dari sektor persampahan, maka semakin besar upaya penurunan emisi GRK untuk dilakukan. Oleh karena itu diperlukan dukungan pemerintah untuk menanggulangi dampak lingkungan dengan beberapa alternatif strategi mitigasi sektor persampahan di Kota Batu.
Hasil pembobotan alternatif dapat diketahui bahwa bobot terbesar alternatif pengomposan dengan nilai bobot limiting 0.209968. Pengomposan merupakan alternatif pemecahan masalah manajemen sampah. Pengomposan menggunakan proses biologis dimana bahan organik didegradasi pada kondisi aerobik terkendali. Dekomposisi dan transformasi bahan organik dilakukan oleh bakteri, fungi dan mikroorganisme lainnya. Menurut Suprihatin et al (2012) pada kondisi optimum, pengomposan dapat mereduksi volume bahan baku sebesar 50-70%. Sebagai ilustrasi, 1000 ton sampah dapat dikonversi menjadi 400-500 kompos yang siap untuk digunakan/ dipasarkan.
Sintesis prioritas strategi mitigasi penurunan emisi GRK sektor persampahan di Kota Batu ditunjukkan pada Gambar 4.14. Hasil sintesis menunjukkan bahwa pengomposan adalah alternatif terbaik untuk strategi mitigasi penurunan emisi GRK sektor persampahan di Kota Batu dengan nilai prioritas
ideal yaitu nilai prioritas kolom ideal 1,00, selanjutnya adalah recycle 0,6063,
landfill 0,557, dan insenerator 0,2176. Namun prioritas pengomposan dalam strategi mitigasi penurunan emisi GRK sektor persampahan berdasarkan perhitungan penurunan emisi GRK hanya menyumbang -10,83% pada tahun 2030. Hal ini dikarenakan dalam proses pengomposan pengelolaan sampah hanya pada jenis bahan organik. Oleh karena itu kebijakan pengomposan sebaiknya didukung dan dikombinasikan dengan strategi Recycle yang dapat mengelola bahan anorganik serta dapat menurunakan emisi GRK -25,32% pada tahun 2030.
Gambar 4.14 Prioritas Alternatif Strategi Mitigasi Sektor Penurunan Emisi GRK Sektor Persampahan