• Tidak ada hasil yang ditemukan

D. Biskuit

IV. METODOLOGI

1. Penentuan Produk dan Kompetitor

Produk yang akan dievaluasi dengan QFD serta kompetitor yang akan dibandingkan dengan PT. Arnott’s Indonesia ditentukan berdasarkan hasil diskusi dengan tim PT. Arnott’s Indonesia (terdiri dari empat hingga enam orang). Diskusi dilakukan dengan cara :

• Menentukan produk PT. Arnott’s Indonesia yang akan dievaluasi

• Mengevaluasi produk PT. Arnott’s Indonesia dan beberapa produk kompetitor dalam hal :

o Karakteristik produk (sensori dan kemasan)

o Posisi di pasar (segmen pasar, harga, tingkat penjualan,

tanggapan konsumen, image poduk, merek, dll.)

o Keunggulan dan kelemahan masing-masing produk

• Menentukan produk kompetitor yang akan digunakan dalam QFD

2. Identifikasi Kepentingan Konsumen

Identifikasi kepentingan konsumen, yaitu menentukan atribut dari produk yang akan dievaluasi tingkat kepentingannya dalam QFD, didapatkan dari :

a. Identifikasi karakteristik produk yang berdasarkan :

o Evaluasi produk dalam hal karakteristik sensori dan kemasan

oleh tim PT. Arnott’s Indonesia (terdiri dari empat hingga enam orang)

o Hasil penelitian terdahulu yang dilakukan oleh PT. Arnott’s

Indonesia

b. Verifikasi atribut kepentingan konsumen, dilakukan dengan melakukan survei konsumen. Survei dilakukan dengan cara menyebarkan kuesioner dan evaluasi produk oleh konsumen. Survei dilakukan di tempat-tempat umum seperti tempat perbelanjaan atau mal, kampus, gedung perkantoran, dan survei dari rumah ke rumah. Dalam survei, dilakukan langkah-langkah sebagai berikut :

1) Penentuan sampel dan penyebaran kuesioner

Teknik pengambilan sampel (sampling) yang digunakan adalah pengambilan sampel nonprobabilitas, dengan cara ini semua elemen populasi belum tentu memiliki peluang yang sama untuk dipilih menjadi anggota sampel (Umar, 2005). Hal ini disebabkan dalam pelaksanaannya terdapat beberapa pertimbangan ataupun syarat-syarat dalam memilih responden. Sedangkan metode pengambilan sampel nonprobabilitas yang dgunakan adalah convenience sampling karena peneliti memiliki kebebasan untuk memilih siapa saja respoden yang ditemui sehingga cukup mudah dan cepat dilakukan.

Populasi dari sampel yang digunakan adalah pria dan wanita dewasa (usia 18 s.d. 40 tahun) di wilayah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi). Responden yang digunakan diseleksi terlebih dahulu dengan menggunakan kuesioner seleksi responden (Lampiran 1). Seleksi responden berdasarkan :

Pernah tidaknya mengikuti survei sejenis dalam enam bulan terakhir

Ada tidaknya keluarga atau teman yang bekerja di industri-industri tertentu

Ada tidaknya alergi atau ketidaksukaan terhadap beberapa jenis makanan tertentu

Umur

Jenis kelamin Kelas ekonomi

Pemegang keputusan dalam membeli biskuit

Konsumsi biskuit dalam satu hingga tiga bulan terakhir Frekuensi mengkonsumsi dan membeli biskuit

Tempat pembelian biskuit

Penentuan jumlah sampel dilakukan dengan menggunakan metode proporsi karena ukuran atau jumlah populasi keseluruhan tidak diketahui. Penentuan jumlah sampel dilakukan melalui perhitungan berikut :

n = ⁄ dimana :

n : jumlah sampel

E : error (tingkat kesalahan)

⁄ : nilai kritik pada taraf signifikansi α/2 α : taraf signifikansi.

Untuk menentukan besarnya sampel dengan menggunakan rumus di atas, harus diketahui besarnya proporsi terlebih dahulu. Oleh karena nilai proporsi belum diketahui maka dicari dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

f(p) = p (1– p) f(p) = p – p2

= 1 – 2p

maksimal jika = 0, maka 0 = 1 – 2p → p = 0.5

Apabila proporsi di dalam populasi yang tersedia tidak diketahui, maka nilai variansi p dan q dapat digani dengan nilai maksimum yaitu 0.5 X 0.5 = 0.25 (Walpole, 1992). Sehingga dengan tingkat kepercayaan 95% dan kesalahan tidak lebih dari 10%, maka jumlah sampel minimal yang diambil :

n = ⁄

n = . .

.

n = 96.04

jadi jumlah sampel yang harus diambil minimal sebanyak 96 responden.

2) Uji validitas kuesioner

Validitas data penelitian ditentukan oleh proses pengukuran yang akurat. Validitas menunjukkan sejauh mana suau alat pengukur itu mengukur apa yang ingin diukur. Uji validitas dilakukan untuk mengetahui sejauh mana data yang ditampung pada suatu kuesioner dapat mengukur apa yang ingin diukur. Uji validitas kuesioner pada tahap ini menggunakan uji validitas konstruk, yaitu kerangka dari suatu konsep (Umar, 2005).

Uji validitas konstruk mengacu pada Umar (2005) dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :

(1) Mendefinisikan konsep yang akan diukur, yaitu dengan cara antara lain :

(a) Mencari definisi dan rumusan konsep yang akan diukur dari literatur yang ditulis para ahli

(b) Jika di dalam literatur tidak dapat diperoleh definisi atau rumusan konsep yang akan diukur, maka dibuat rumusan konsep sendiri dengan bantuan atau diskusi dengan ahli yang berkaitan dengan aspek-aspek konsep yang akan diukur

(c) Menanyakan langsung kepada calon reponden mengenai aspek-aspek konsep yang akan diukur

(2) Melakukan uji coba pengukur pada sejumlah responden (3) Mempersiapkan tabel tabulasi jawaban

(4) Menghitung korelasi antara masing-masing pertanyaan dengan skor total menggunakan rumus teknik korelasi

product moment yang dikemukakan oleh Karl Pearson, yaitu :

rxy =

N ∑XY- ∑X ∑Y

N ∑X2 )-(∑X)2 N ∑Y2 )-(∑Y)2 dimana :

rxy : korelasi product moment antara X dan Y

N : banyaknya responden X : skor butir pertanyaan

ΣX : jumlah X (skor butir pertanyaan)

ΣX2 : jumlah skor butir kuadrat Y : skor total pertanyaan

ΣY : jumlah Y (skor total pertanyaan)

ΣY2 : jumlah skor total kuadrat

ΣXY : jumlah perkalian X dengan Y

Hasil perhitungan kemudian dibandingkan dengan angka kritik pada Tabel Korelasi nilai-r. Jika rxy > rtabel

maka data tersebut valid dan jika rxy < rtabel maka data

tersebut tidak valid.

3) Uji reabilitas kuesioner

Reabilitas adalah suatu angka indeks yang menunjukkan konsistensi suatu alat pengukur dalam mengukur gejala atau aspek yang sama. Uji reabilitas dilakukan untuk menunjukkan sejauh mana suatu hasil pengukuran konsisten dan dapat dipercaya apabila digunakan berulang kali (Umar, 2005).

Teknik yang digunakan pada uji reabilitas ini adalah metode Cronbach’s Alpha (α). Rumus Cronbach’s Alpha (α)

dapat digunakan untuk mencari reabilitas instrumen yang skornya bukan 0-1, tetapi merupakan rentangan antar beberapa nilai, misalnya 0-10 atau 0-100 atau bentuk skala 1-3, 1-5 atau 1-7 dan seterusnya (Umar, 2005). Rumus ini ditulis sebagai berikut : r11 =

1 "

∑ #$ #%

&

dimana : r11 : reabilitas instrumen

k : banyaknya butir pertanyaan

∑ '( : jumlah varians butir ') : varians total

ΣX2 : jumlah skor butir kuadrat dan rumus varians yang digunakan :

σ

(

=

∑ + ∑ , - . dimana : n : jumlah sampel

X : nilai skor butir pertanyaan yang dipilih

Hasil perhitungan kemudian dibandingkan dengan angka kritik pada Tabel-r. Jika r11 > rtabel maka data tersebut reliabel

dan jika r11 < rtabel maka data tersebut tidak reliabel.

3. Analisis Tingkat Kepentingan Konsumen

Penentuan tingkat kepentingan konsumen ini menggunakan skala Likert 5 tingkat, yaitu :

• Sangat tidak penting (1)

• Tidak penting (2)

• Biasa saja (3)

• Penting (4)

Rumus yang digunakan adalah : TKK = ∑ /

0

dimana :

TKK : Tingkat Kepentingan Konsumen

∑ 1 : Total skor kepentingan N : jumlah responden

4. Analisis Tingkat Kepuasan Produk PT. Arnott’s Indonesia dan

Dokumen terkait