• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

E. Penentuan respon dan factorial design

E. Penentuan Respon dan Factorial Design

Respon yang diukur adalah berat kristal yang diperoleh dan kandungan

steviosida dalam kristal.

1. Kandungan steviosida dalam kristal

Kandungan steviosida diperoleh melalui pengukuran luas bercak hasil

KLT (gambar 4) yang diolah menggunakan program ImageJ. Bercak kurva

baku dan sampel dilakukan pada satu lempeng untuk mengendalikan faktor

yang mempengaruhi elusidasi pada plat KLT. Luas bercak tiap totolan pada

Rf 1,00 0,50 2 4 6 8 10 12 14 11 12 b1 b2 a1 a2 ab1 ab2 0,00 seri baku sampel

Gambar 4. KLT seri baku dan sampel Keterangan :

Fase diam : TLC Aluminium Sheets 20×20cm Silica gel GF254 Fase gerak : kloroform : metanol: aquabides (30:20:4)

Deteksi : semprot iodin, kemudian semprot vanilin-asam sulfat dan dipanaskan.

Seri baku : massa 2 µg, 4 µg, 6 µg, 8 µg, 10 µg, 12 µg, 14 µg.

Sampel :

1 : suhu level rendah (20C) dan lama pendinginan level rendah (12 jam)

b : suhu level rendah (20C) dan lama pendinginan level tinggi (24 jam)

a : suhu level tinggi (140C) dan lama pendinginan level rendah (12 jam)

ab: suhu level tinggi (140C) dan lama pendinginan level tinggi (24 jam) : percobaan utama

1

: replikasi 1

2

Tabel II. Hasil luas bercak seri baku menggunakan program ImageJ R

No. Volume totolan (μl) Massa (μg) Luas bercak f

1 2 2 1261,3100 0,79 2 4 4 1567,4576 0,79 3 6 6 2449,3299 0,80 4 8 8 4213,5904 0,81 5 10 10 6381,6295 0,82 6 12 12 8236,6460 0,82 7 14 14 9024,3325 0,82

Dari penelitian diperoleh persamaan kurva baku Y = 724,2811X –

1060,7783. Persamaan kurva baku ini dapat digunakan untuk perhitungan

kandungan steviosida dalam sampel karena memiliki nilai r : 0,9817 yang

melebihi nilai r tabel dengan α : 0,001, yaitu 0,925.

Persamaan kurva baku yang diperoleh kemudian digunakan untuk

perhitungan kandungan steviosida dalam kristal (Tabel III). Kandungan

steviosida dalam kristal ini kemudian digunakan untuk menentukan persamaan

factorial design (Lampiran 4).

Tabel III. Kandungan steviosida dalam kristal

Keterangan : T : suhu pendinginan. Perlakuan % steviosida

(%b/b)

Rata-rata

0

R

No Notasi T ( C) t(jam) f % steviosida SD

Y Y

X1 X2

t : lama pendinginan.

1 : suhu level rendah dan lama pendinginan level rendah. b : suhu level rendah dan lama pendinginan level tinggi. a : suhu level tinggi dan lama pendinginan level rendah. ab : suhu level tinggi dan lama pendinginan level tinggi.

Persamaan factorial design yang diperoleh adalah Y = 72,2798 +

1,1395X1 + 0,5602X2 – 0,0979X1X2. Persamaan ini digunakan untuk membuat

grafik hubungan faktor dengan respon (Gambar 6 dan Gambar 7). 79,5072 0,82 1 1 2 12 78,3581 0,82 78,9327 0,8125 78,1219 0,81 2 a 14 12 78,9059 0,81 78,5139 0,5544 81,7017 0,82 3 b 2 24 84,9113 0,82 83,3065 2,2695 68,6202 0,80 4 ab 14 24 68,9695 0,79 68,7948 0,2470

Gambar 6. Hubungan suhu pendinginan terhadap kandungan steviosida dalam kristal

Gambar 7. Hubungan lama pendinginan terhadap kandungan steviosida dalam kristal

Koefisien faktor pada persamaan factorial design menujukkan

bahwa suhu merupakan faktor paling menentukan dan meningkatkan

hasil perhitungan efek faktor terhadap respon (Lampiran 4), karena diperoleh

hasil bahwa suhu merupakan faktor dengan efek dominan tetapi suhu bersifat

menurunkan kandungan steviosida dalam kristal. Suhu merupakan faktor

dominan karena memiliki nilai efek paling besar yaitu -14,9304 dibandingkan

efek lama pendinginan (-5,3452) dan efek interaksi (-14,0929). Nilai negatif

pada masing-masing efek faktor dan interaksi ini menunjukkan bahwa faktor

dan interaksi bersifat menurunkan respon. Oleh karena itu, seiring peningkatan

level suhu maka kadar steviosida menurun, sesuai dengan Gambar 6. Analisis

dengan Yate’s treatment dilakukan pada penelitian ini karena faktor yang

benar-benar berpengaruh pada kadar steviosida belum dapat diketahui pasti.

Tabel IV. Hasil Yate’s treatment kandungan steviosida dalam kristal

source of variation df sum of square mean square Fhitung

Replikasi 1 1,2750 Treatments 3 225,0489 75,0163 a 1 111,4584 111,4584 68,1804 b 1 14,2856 14,2856 8,7387 ab 1 99,3049 99,3049 60,7460 1,6348 Experimental error 3 4,9043 Total 7 231,2282

Keterangan : a : suhu pendinginan b: lama pendinginan ab : interaksi

Berdasar perhitungan Yate’s treatment diperoleh bahwa Fhitung faktor

suhu lebih besar dari Ftabel(1,3) dengan taraf kepercayaan 95% yaitu 10, 128

sehingga menunjukkan bahwa Ho dan Ho ditolak. Ho1 3 1 ditolak menunjukkan

bahwa kandungan steviosida level rendah tidak sama dengan level tinggi,

sehingga faktor suhu merupakan faktor yang mempengaruhi kandungan

terlihat pada gambar 6 dan 7. Gambar 6 mengindikasi terdapat interaksi tetapi

interaksi ini tidak berada pada range level suhu pendinginan karena garis level

tinggi dan level rendah tidak sejajar. Pada gambar 7 dapat terlihat adanya

interaksi sehingga mendukung hasil perhitungan Yate’s treatment.

Perpotongan garis level rendah dan level tinggi suhu mengindikasikan terdapat

interaksi. Di sisi lain faktor lama pendinginan tidak mempengaruhi kandungan

steviosida karena memiliki Fhitung faktor suhu lebih kecil dari Ftabel(1,3),

meskipun terjadi perubahan kandungan steviosida terhadap lama pendinginan

tetapi perubahan ini dapat diabaikan.

Proses kristalisasi ditentukan oleh tingkat kelarutan senyawa tersebut

karena kristalisasi terjadi ketika senyawa menjadi tidak larut. Menurut Mullin

(2001) kelarutan senyawa selain dipengaruhi kekuatan pelarut untuk

melarutkan senyawa, juga dipengaruhi oleh suhu. Suhu memiliki pengaruh

pada tingkat kelarutan suatu senyawa di mana semakin turun suhu maka

tingkat kelarutan senyawa menjadi menurun. Berdasar hasil penelitian

diperoleh bahwa kandungan steviosida meningkat seiring dengan peningkatan

suhu, sehingga dapat diketahui bahwa kristal dengan kandungan steviosida

terbesar berada di sekitar suhu pendingan level tinggi.

Selain itu lama pendinginan juga mempengaruhi kristal terbentuk

karena menurut Flint, Y. (1989) kristalisasi membutuhkan waktu hingga kristal

terbentuk. Kandungan senyawa dalam kristal akan meningkat seiring dengan

peningkatan lama pendinginan hingga senyawa tersebut tidak dapat

jam termasuk dalam range waktu yang dibutuhkan steviosida untuk mengristal

meskipun tidak mempengaruhi kandungan steviosida.

2. Berat kristal

Berat kristal diperoleh dengan cara penimbangan setelah kristal

mencapai bobot tetap di mana selisih 2 kali penimbangan setiap jam kurang

dari 0,25% (Anonim, 1995). Berat kristal ini dihitung terhadap serbuk daun

stevia yang digunakan pada tiap perlakuan (Tabel V).

Tabel V. Berat kristal Perlakuan Berat kristal (%b/b) Rata-rata berat kristal (%b/b) 0 No Notasi T ( C) t(jam) SD Y X1 X2 1,0371 1 1 2 12 0,9110 0,1783 0,7849 1,1409 2 a 14 12 1,0114 0,1832 0,8818 1,4125 3 b 2 24 1,4545 0,0594 1,4965 1,1641 4 ab 14 24 1,0896 0,1054 1,0150 Keterangan : T : suhu pendinginan t : lama pendinginan

Pada tabel V terlihat bahwa faktor lama pendinginan memiliki

pengaruh lebih besar dibanding faktor suhu tetapi pengaruh ini dapat diketahui

dengan pasti melalui perhitungan Yate’s treatment. Perhitungan efek

(Lampiran 6) menunjukkan bahwa lama pendinginan merupakan efek yang

efek faktor suhu pendinginan (-0,2646) dan interaksi (-0,4653). Hasil

perhitungan ini sesuai dengan persamaan factorial design yang diperoleh yaitu

Y = 0,2732 + 0,0471X + 0,0518 X – 0,0032X X1 2 1 2, yang menunjukkan

koefisien terbesar ialah faktor lama pendinginan yaitu 0,0518. Nilai efek antar

faktor dan koefisien antar faktor memiliki nilai yang serupa, maka perlu

dilakukan perhitungan Yate’s treatment utuk mengetahui faktor yang

benar-benar mempengaruhi berat kristal steviosida.

Tabel VI. Hasil Yate’s treatment berat kristal

Source of variation df sum of squares mean squares Fhitung

1,0042 Replikasi 1 0,3365 0,3365 Treatments 3 a 1 0,0350 0,0350 0,1136 b 1 0,1933 0,1933 0,6273 ab 1 0,1083 0,1083 0,3514 -0,9242 -0,3081 Experimental error 3 Total 7 0,4165

Keterangan : a : suhu pendinginan b: lama pendinginan ab : interaksi

Tabel VI menunjukkan bahwa tidak ada faktor mempengaruhi berat

kristal karena nilai Fhitung baik faktor suhu, faktor lama pendinginan, dan

interaksi memiliki lebih kecil dari pada Ftabel (1,3) dengan taraf kepercayaan

95% yaitu 10,128. Hal ini menunjukkan bahwa tidak faktor dominan yang

mempengaruhi berat kristal. Pernyataan ini tidak sesuai dengan dugaan

sebelumnya yang menyatakan lama pendinginan merupakan faktor dominan.

Hal ini disebabkan oleh selisih berat kristal tiap level, nilai efek, dan koefisien

Hubungan suhu pendinginan terhadap berat kristal dan lama

pendinginan terhadap berat kristal dapat terlihat pada gambar 8 dan 9.

Gambar 8. Hubungan suhu pendinginan terhadap berat kristal

Pada gambar 8 menunjukkan bahwa terdapat interaksi yang dapat

mempengaruhi berat kristal sedangkan gambar 9 menunjukkan bahwa

peningkatan level lama pendinginan dapat menurunkan berat kristal. Gambar 9

juga tidak menunjukkan adanya interaksi pada range level lama pendinginan

karena tidak terdapat perpotongan garis level rendah dan level tinggi lama

pendinginan, tetapi interaksi ini terjadi di luar level lama pendinginan. Akan

tetapi perhitungan Yate’s treatment menyatakan tidak terdapat faktor yang

mempengaruhi berat kristal sehingga perubahan berat kristal yang terlihat pada

gambar 8 dan 9 dapat diabaikan.

Dokumen terkait