• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

6. Penentuan status gizi

Status gizi ditentukan oleh Body Mass Index (BMI) dan persentase lemak tubuh. BMI dihitung dari rumus berat badan (kg)/tinggi badan (m2), sedangkan persentase lemak tubuh dihitung dengan rumus :

- Kepadatan tubuh = 1.0994921 – (0.0009929 x jumlah tebal lipatan kulit trisep, paha dan suprailiac) + (0.0000023 x kuadrat dari jumlah tebal lipatatan kulit trisep, paha, dan suprailiac) – (0.0001392 x usia subyek dalam tahun).

- % Lemak tubuh = (495 / Kepadatan tubuh) – 450. (Otte et al. 2000).

Pengukuran berat badan dilakukan dengan menggunakan timbangan digital, sedangkan pengukuran tinggi badan menggunakan alat pengukur badan (antropometer). Pengukuran tebal lipatan kulit dilakukan dengan menggunakan metode pengukuran skinfold (tebal lipatan kulit).

Analisis Data

Untuk mengetahui usia berapa rata-rata wanita di Kabupaten Cirebon mengalami menopause, penulis melakukan analisis data menggunakan Generalized Linear Model (GLM). GLM adalah generalisasi fleksibel regresi kuadrat terkecil. Respon yang didapat pada penelitian ini merupakan status menopause yang berupa ya/tidak yang mengikuti sebaran binomial (bukan sebaran normal yang diperlukan oleh metode kuadrat terkecil). GLM menganalisis variabel respon melalui fungsi link. Pada penelitian ini penulis menggunakan link probit dalam prosedur probit GLM (Venables & Ripley 1999). Dari wanita yang sudah mengalami menopause ini, penulis mencari usia menarkenya. Rata-rata usia menarke mereka dihitung dengan cara yang sama. Selisih rata-rata usia menarke dengan rata-rata usia menopause merupakan rata-rata jangka reproduksi.

Analisis varian (ANOVA) digunakan untuk menguji signifikasi riwayat reproduksi dengan usia menopause. Riwayat reproduksi meliputi usia melahirkan anak pertama, jangka kehamilan dan paritas.

Tempat pengolahan data dilakukan di bagian Biosistematika dan Ekologi Hewan, Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Pertanian Bogor.

HASIL

Jangka waktu reproduksi wanita akseptor KB non hormonal dan alamiah (tidak menggunakan KB) di Kabupaten Cirebon adalah selama 34.02 tahun. Jangka reproduksi ini didapat dari rata-rata usia menopause 48.53 tahun dikurangi rata-rata usia menarke 14.51 tahun (Gambar 7).

Gambar 7 Jangka reproduksi wanita menopause akseptor KB non hormonal dan alamiah di Kabupaten Cirebon.

Usia menopause dengan usia menarke wanita di Kabupaten Cirebon tidak berkorelasi (Gambar 8). Hasil uji plot menunjukkan bahwa wanita yang menarkenya ketika berusia 14 tahun, usia menopausnya bervariasi dari 36 tahun sampai dengan 63 tahun. Sedangkan wanita yang usia menarkenya 15 tahun dapat bermenopause 36–59 tahun dan wanita yang usia menarkenya 16 tahun bermenopause 35–58 tahun. Umur (Tahun) P e rse n ta se 10 20 30 40 50 60 0% 50% 100% 48.53 14.51 Jangka Reproduksi 34.02 Menarke Menopause

Gambar 8 Plot usia menarke dan menopause wanita akseptor KB non hormonal dan alamiah di Kabupaten Cirebon.

Usia menarke dan usia menopause wanita akseptor KB hormonal dengan wanita akseptor KB non hormonal serta alamiah (tidak ber-KB) tidak jauh berbeda. Hal ini mengakibatkan jangka reproduksi wanita akseptor KB hormonal dan akseptor KB non hormonal serta alamiah hampir sama (Tabel 2).

Tabel 2 Jangka reproduksi wanita akseptor KB non hormonal dan alamiah serta akseptor KB hormonal di Kabupaten Cirebon

Subyek Jumlah (orang) Usia menarke (tahun) Usia menopause (tahun) Jangka reproduksi (tahun) Akseptor KB non hormonal

& alamiah 147 14.51 48.53 34.02

Akseptor KB hormonal 48 14.18 48.31 34.13

Riwayat reproduksi wanita menopause di Kabupaten Cirebon meliputi usia melahirkan anak pertama, jarak antara kehamilan pertama dengan kehamilan terakhir (jangka kehamilan) dan jumlah anak (paritas). Subyek yang usia melahirkan anak pertamanya kurang dari 20 tahun mengalami menopause lebih cepat (46.93 tahun) dibanding subyek yang melahirkan anak pertamanya 20 tahun

35 40 45 50 55 60 12 14 16 18 20

Usia menopause (tahun)

U si a m e n a rke ( ta h u n )

atau lebih (menopause usia 47.36 tahun). Sebanyak 13 orang (9.6%) dari total sampel yang menopause memiliki jangka kehamilan 1–4 tahun, sedangkan subyek yang memiliki jangka kehamilan 5 tahun atau lebih sebanyak 123 orang (90.4%). Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa semakin lama jangka kehamilan, semakin cepat usia menopausenya dan subyek yang memiliki jumlah anak lebih dari dua akan mengalami menopause lebih cepat juga (Tabel 3). Namun hasil uji sidik ragam (ANOVA) menunjukkan bahwa usia melahirkan anak pertama (F=0.0061, P>0.05), jangka kehamilan (F=0.0473, P>0.05) dan paritas (F=0.7081, P>0.05) tidak mempengaruhi kapan usia menopause berlangsung. Hal ini sesuai dengan uji korelasi yang memperlihatkan tidak adanya korelasi antara usia melahirkan anak pertama, jangka kehamilan dan paritas dengan usia menopause (Gambar 9, 10, 11).

Tabel 3 Hubungan antara riwayat reproduksi wanita dengan usia menopause

No. Riwayat reproduksi wanita

Jumlah sampel (orang) Usia menopause (tahun)

Uji Statistik (ANOVA) F value Pr (>F) P

1 Usia melahirkan anak pertama* 0.0061 0.9376 > 0.05

≤ 19 tahun 78 46.93 20 29 tahun 58 47.36 2 Jangka kehamilan* 0.0473 0.8282 > 0.05 1 2 tahun 5 51.80 3 4 tahun 8 49.27 ≥ 5 tahun 123 46.83 3 Paritas 0.7081 0.4016 > 0.05 ≤ 2 anak 27 48.87 > 2 anak 120 46.81

*sebanyak 11 subyek tidak memiliki anak

Subyek yang melahirkan anak pertama pada usia 16 tahun mengalami menopause pada usia 40 tahun sampai 56 tahun. Selain itu subyek yang melahirkan anak pertamanya 18 tahun, menopausnya pada usia 35–56 tahun dan subyek yang melahirkan anak pertamanya 20 tahun, menopause pada usia 40–57 tahun (Gambar 9).

Gambar 9 Plot usia melahirkan anak pertama dan usia menopause wanita di Kabupaten Cirebon.

Jangka kehamilan pertama dan terakhir subyek pada penelitian ini bervariasi dari 0 sampai 29 tahun. Subyek yang jangka kehamilannya 0–2 tahun menopause pada usia 44.5 sampai 56.5 tahun. Sedangkan subyek yang jangka kehamilannya 4 tahun, menopause pada usia 44–63 tahun dan subyek yang jangka kehamilannya 13 tahun, menopause pada usia 35–54 tahun (Gambar 10).

Gambar 10 Plot jangka kehamilan dan usia menopause wanita di Kabupaten Cirebon. 0 5 10 15 20 25 30 35 30 35 40 45 50 55 60

Jangka Kehamilan (tahun)

U si a m e n o p a u se ( ta h u n ) 14 16 18 20 22 24 26 35 40 45 50 55 60

Usia melahirkan anak pertama (tahun)

U si a m e n o p a u se ( ta h u n )

Wanita menopause di Kabupaten Cirebon yang mempunyai dua anak atau kurang bermenopause dari usia 34.5 tahun sampai 62.75 tahun. Sedangkan subyek yang mempunyai anak lebih dari dua orang, bermenopause pada usia 34 sampai 59 tahun (Gambar 11).

Gambar 11 Plot paritas dan usia menopause wanita di Kabupaten Cirebon.

Hasil analisis memperlihatkan bahwa setiap dasa warsa tahun kelahiran subyek terdapat perubahan usia menarke (Tabel 4). Perubahan usia menarke yang terjadi semakin cepat. Kecenderungan sekuler ini akan lebih nyata jika kita bandingkan usia menarke wanita Kabupaten Cirebon saat ini (tahun 2010) dan 34 tahun yang lalu (tahun 1976). Pada tahun 2010 rata-rata usia menarke wanita 12.04 tahun (Gambar 12) sedangkan pada tahun 1976 rata-rata usia menarkenya 14.51 tahun.

Tabel 4 Tahun kelahiran dan usia menarke wanita Kabupaten Cirebon

Tahun Kelahiran Jumlah subyek (orang) Usia menarke (tahun)

19401949 56 15.00 19501959 73 15.00 1960 18 14.00 1998 274 12.04 0 2 4 6 8 10 12 14 35 40 45 50 55 60 Paritas (anak) U si a m e n o p a u se ( ta h u n )

Gambar 12 Grafik usia menarke wanita masa kini di Kabupaten Cirebon.

Jangka reproduksi wanita rural di Kabupaten Cirebon (34.02 tahun) lebih pendek dibanding jangka reproduksi wanita urban di Kabupaten Bandung (35.55 tahun). Usia menarke wanita rural di Kabupaten Cirebon 14.51 tahun (tahun 1976) lebih lambat dibanding usia menarke wanita urban di Kabupaten Bandung yakni 13.98 tahun (tahun 1973), namun usia menopause terjadi sebaliknya (Tabel 5).

Tabel 5 Perbandingan usia menarke, usia menopause dan jangka reproduksi wanita di daerah rural dan urban di Indonesia

Nama Daerah Usia Menarke (tahun) Tahun Menarke Usia Menopause (tahun) Jangka Reproduksi (tahun) Referensi Kab. Bandung (urban) 13.98 1973 49.53 35.55 Sukmaningrasa 2009 Kampung naga (rural) 14.52 1973 50.99 36.47 Vidiawati 2009

Suku Baduy (rural) 14.97 1976 48.64 33.67

Rohmatullayaly 2010

Kab. Cirebon (rural) 14.51 1976 48.53 34.02 Penelitian ini

Usia subjek (tahun)

P ro b a b il it a s 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 0% 25% 50% 75% 100% 10.93 12.04 13.14

Status gizi wanita menopause di Kabupaten Cirebon dapat dilihat dari BMI dan persentase lemak tubuhnya (Tabel 6). Berdasarkan hasil perhitungan BMI subyek termasuk dalam kategori kurus 13.6% (20 orang), normal 57.8% (85 orang), gemuk 22.5% (33 orang) dan gemuk sekali 6.1% (9 orang). Sedangkan jika dilihat dari persentase lemak tubuhnya subyek termasuk dalam kategori kurus 41.5% (61 orang), normal 44.9% (66 orang), gemuk 10.2% (15 orang) dan gemuk sekali 3.4% (5 orang).

Tabel 6 Status gizi wanita menopause di Kabupaten Cirebon

Karakteristik wanita Jumlah subyek (orang) Persentase (%) Kriteia subyek

Body mass index (BMI) semua usia

Kurus 20 13.6 < 18.5

Normal 85 57.8 18.5 ≤ n < 25

Gemuk (over weight) 33 22.5 25 ≤ n <30

Gemuk sekali (obese) 9 6.1 ≥ 30

Lemak tubuh 2040 th 4060 th 6080 th

Kurus 61 41.5 < 21% < 23% <24%

Normal 66 44.9 2133% 23< 35% 24< 36% Gemuk (over weight) 15 10.2 3339% 3540% 3642% Gemuk sekali (obese) 5 3.4 > 39% > 40% > 42%

PEMBAHASAN

Jangka reproduksi ditentukan oleh usia menarke dan usia menopause. Apabila terjadi perubahan pada usia menarke atau pada usia menopause seseorang, maka akan berubah pula jangka reproduksinya.

Jangka reproduksi wanita di Kabupaten Cirebon selama 34.02 tahun, dengan rata-rata usia menopause 48.53 tahun (jika dibulatkan mendekati 49 tahun). Usia menopause 49 tahun termasuk kategori normal (49–52 tahun). Wanita dikategorikan ke dalam menopause cepat jika usia menopausenya kurang dari 49 tahun dan wanita digolongkan ke dalam menopause lambat jika usia menopausnya 53 tahun atau lebih (Noord et al. 1997). Wanita non kaukasia [Afrika, Afrika Amerika (49.3 tahun), Hispanik mexiko (48.2 tahun)] akan mengalami menopause lebih cepat dibanding wanita kaukasia (51.5 tahun), namun wanita Malaysian (50.7 tahun) dan Jepang (50.4 tahun) usia menopausenya mendekati wanita Eropa. Wanita Bangkok yang kondisi sosial ekonominya menegah ke bawah rata-rata usia menopause 49.5 tahun (Gold et al. 2001).

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi jangka reproduksi wanita (dapat mengubah usia menarke dan menopause) mencakup etnis (Chumlea et al. 2003), tingkat sosial ekonomi (Gold et al. 2001; Ikaraoha et al. 2005; Mokha et al. 2006), gaya hidup/penggunaan alat kontrasepsi (Noord et al. 1997), riwayat reproduksi (Reis et al. 1998), status gizi (Adair & Larsen 2001; Martin et al. 2006). Tingkat sosial ekonomi dan gaya hidup merupakan faktor penentu kecenderungan sekuler.

Wanita yang menjadi subyek penelitian sebagian besar (97.6%, 621 orang) merupakan penduduk asli Kabupaten Cirebon yang terdiri atas suku Jawa dan suku Sunda. Kebudayaan Jawa dan Sunda memiliki banyak persamaan dalam pola perkawinan. Oleh karena itu penulis tidak membedakan etnis dalam kaitannya dengan jangka reproduksi.

Sebagian besar (84.35%, 124 subyek) wanita menopause di Kabupaten Cirebon berpendidikan rendah (SD). Wanita yang berpendidikan rendah pada umumnya akan memiliki pekerjaan yang membutuhkan energi lebih banyak, sehingga mengakibatkan BMI rendah karena asupan gizi yang tidak seimbang

dengan pengeluaran energi. Di samping itu, wanita berpendidikan rendah biasanya memiliki pekerjaan yang beresiko. Pekerjaan yang beresiko dan pendidikan rendah akan meningkatkan kadar stress. Stress akan mempengaruhi kerja hipotalamus dan pituitari, yang mengakibatkan amenorrhea dan disfungsi reproduktif. Oleh karena itu, wanita yang memiliki tingkat pendidikan rendah dan tidak mempunyai pekerjaan tetap akan mengalami menopause lebih cepat (Gold et al. 2001). Dalam penelitian ini, meskipun subyek berpendidikan rendah, namun kondisi ekonomi umumnya cukup baik. Hal ini terbukti dari besarnya pengeluaran dalam keluarga yang dialokasikan untuk makan sudah cukup memenuhi kebutuhan gizi keluarga. Sebanyak 57.14% (84 subyek) keluarga memiliki pengeluaran untuk konsumsi/makan sama atau bahkan diatas standar UMR (Upah Minimum Regional) Kabupaten Cirebon tahun 2010 sebesar Rp 825 000.

Pada penelitian ini, subyek yang menggunakan kontrasepsi hormonal mengalami menopause dua bulan lebih cepat dibanding subyek yang menggunakan kontrasepsi non hormonal dan alamiah. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Reis et al. (1998) yang melaporkan bahwa wanita yang menggunakan kontrasepsi oral akan mengalami menopause lebih cepat. Namun selisih dua bulan usia menopause pada penelitian ini dianggap tidak berarti, karena jumlah subyek yang menopause hanya 36.6% (48 orang) dari subyek yang menggunakan KB hormonal, sedangkan jumlah subyek yang menopause dari akseptor KB non hormonal dan alamiah sebanyak 68% (147 orang). Oleh karena itu, penulis menyimpulkan bahwa penggunaan alat kontrasepsi (KB) baik hormonal maupun non hormonal, tidak berpengaruh terhadap usia menopause. Hal ini berbeda dengan hasil peneltian Noord et al. (1997) dan Gold et al. (2001) yang menyatakan bahwa wanita yang menggunakan kontrasepsi oral (hormonal) akan mengalami usia menopause lebih lambat, dikarenakan pengaruh hormon estrogen dan progesteron sintetis yang akan menghambat terjadinya ovulasi.

Riwayat reproduksi wanita menopause di Kabupaten Cirebon tidak berpengaruh terhadap usia menopause. Riwayat reproduksi ini terdiri atas usia melahirkan anak pertama, jarak antara kehamilan pertama dengan kehamilan terakhir (jangka kehamilan) dan jumlah anak (paritas). Pada penelitian ini semakin tua usia melahirkan anak pertama maka semakin lambat usia menopausenya.

Sebanyak 90.4% (123 orang) subyek memiliki jangka kehamilan lima tahun atau lebih. Hal ini disebabkan 81.6% (120 orang) subyek memiliki jumlah anak (paritas) lebih dari dua. Pada umumnya semakin banyak paritas maka semakin panjang jangka kehamilannya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semakin panjang jangka kehamilan dan semakin banyak paritas maka semakin cepat usia menopausnya. Namun demikian, hasil uji sidik ragam (ANOVA) dan plot menunjukkan tidak adanya korelasi antara usia melahirkan anak pertama, jangka kehamilan dan paritas dengan usia menopause. Hal ini berbeda dengan hasil penelitian Reis et al. (1998), Gold et al. (2001) dan Martin et al. (2006) yang menyatakan bahwa semakin banyak paritas maka semakin lambat usia menopausenya. Sedangkan usia melahirkan anak pertama yang tidak berpengaruh terhadap usia menopause pada hasil penelitian ini, berbeda dengan hasil penelitian Reis et al. (1998) dan Martin et al. (2006), yakni semakin tua usia melahirkan anak pertama maka semakin cepat usia menopausenya.

Usia menarke yang berubah semakin cepat terjadi pada wanita di Kabupaten Cirebon, disebabkan oleh kecenderungan sekuler. Kecenderungan sekuler dalam usia menarke terjadi pula pada gadis India yang mengalami penurunan usia menarke rata-rata sekitar 6 bulan per dekade dalam tiga dekade terakhir (Bagga & Kulkarni 2000). Kecenderungan sekuler merupakan perubahan yang dipicu oleh perubahan sosial ekonomi masyarakat pada kurun waktu tertentu. Parent et al. (2003) berpendapat bahwa kecenderungan sekuler berhubungan dengan latar belakang budaya/etnis, geografi dan sosial ekonomi. Selain itu, kondisi lingkungan pergaulan kemungkinan dapat merubah sistem endokrin, sehingga dapat mempercepat terjadinya menarke.

Wanita rural di Kabupaten Cirebon memiliki jangka reproduksi lebih pendek dibanding wanita di daerah urban. Jangka reproduksi yang pendek ini disebabkan oleh usia menarke yang lebih lambat dan usia menopause yang lebih cepat. Hal ini diakibatkan oleh perbedaan kondisi sosial ekonomi, tingkat pendidikan dan status gizi masyarakat di daerah rural dan urban. Kondisi sosial ekonomi dan tingkat pendidikan masyarakat di daerah rural pada umumnya lebih rendah dibanding masyarakat di daerah urban. Gold et al. (2001) menyatakan bahwa kondisi sosial ekonomi dan pendidikan yang rendah akan mempercepat

usia menopause. Status gizi masyarakat di daerah rural pada umumnya lebih rendah dibanding masyarakat di daerah urban. Status gizi yang rendah dinilai dari BMI dan persentase lemak tubuh yang rendah. Wanita yang memiliki BMI dan persentase lemak tubuh yang rendah cenderung kekurangan kalori dan nutrisi, akan mengakibatkan amenorrhea. Sebaliknya wanita yang gemuk dan cukup lemak, maka sel-sel dalam jaringan adiposanya akan memproduksi estron yang akan meningkatkan sirkulasi estrogen dalam tubuh sehingga memperpanjang fungsi reproduktif (Gold et al. 2001).

Jangka reproduksi wanita rural Kabupaten Cirebon hampir sama dengan Baduy, namun berbeda dengan Kampung Naga Kabupaten Tasikmalaya. Perbedaan data yang dihasilkan di Kampung Naga kemungkinan disebabkan jumlah sampel wanita menopause yang diteliti relatif sedikit (22 orang), sehingga data yang didapat kurang representatif.

Wanita di daerah rural akan mengalami menarke lebih lambat dibanding wanita di daerah urban. Hal ini terbukti dari hasil penelitian yang pernah dilakukan di beberapa negara (Tabel 7). Pada tahun 1989 usia menarke gadis di daerah rural Punjab india 13.62 tahun, lebih tua dibanding usia menarke gadis di daerah urban (13.31 tahun). Sama halnya di Nigeria pada tahun 2005 gadis rural mengalami menarke pada usia 14.22 tahun, sedangkan gadis urban menarkenya pada usia 13.19 tahun.

Tabel 7 Perbandingan usia menarke wanita rural dan urban di beberapa negara

Negara Usia Menarke di

Urban (tahun)

Usia Menarke di Rural (tahun)

Tahun

Menarke Referensi

Punjab India 13.31 13.62 1989 Mokha et al. 2006

Cameroon Afrika 13.18 14.27 1997 Pasquet et al. 1999

Nigeria 13.19 14.22 2005 Ikaraoha 2005

Wanita menopause di Kabupaten Cirebon berstatus gizi baik, karena 86.4% (127 subyek) termasuk BMI yang normal dan gemuk dan 58.5% (86 subyek) memiliki lemak tubuh yang cukup. Wanita dengan BMI rendah akan mengalami menopause lebih cepat (Martin et al. 2006). Pengukuran BMI serta lemak tubuh dilakukan pada saat penelitian dan subyek sudah mengalami

menopause sekitar satu sampai dua puluh satu tahun yang lalu, sehingga penulis tidak dapat membahas pengaruh BMI dan lemak tubuh terhadap usia menopause. Pengukuran BMI dan lemak tubuh seharusnya dilakukan terhadap subyek pada saat menopause.

SIMPULAN

Jangka waktu reproduksi wanita di Kabupaten Cirebon Provinsi Jawa Barat adalah selama 34.02 tahun. Jangka reproduksi wanita pada penelitian ini tidak dipengaruhi oleh penggunaan alat kontrasepsi (KB) dan riwayat reproduksi (umur melahirkan anak pertama, jangka kehamilan dan paritas). Kecenderungan sekuler dapat mempercepat usia menarke wanita. Jangka reproduksi di daerah rural lebih pendek dibandingkan dengan jangka reproduksi daerah urban.

Dokumen terkait