• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penerapan Domestic Market Obligation (DMO) Batubara

5.2 Upaya Peningkatan Peran Batubara Dalam Penyediaan Energi Nasional

5.2.1 Penerapan Domestic Market Obligation (DMO) Batubara

Dengan telah disahkannya Undang-Undang 4/2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, mengisyaratkan pemerintah dapat mengoptimalkan pengelolaan batubara melalui pengendalian produksi dan ekspor serta jaminan pasokan dalam negeri. Penegasan tentang jaminan pasokan dalam negeri atau disebut juga dengan Domestic Market Obligation (DMO) semakin tegas seperti dinyatakan dalam pasal 5 ayat (1) UU tersebut bahwa "untuk kepentingan nasional, Pemerintah setelah berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dapat menetapkan kebijakan pengutamaan mineral dan/atau batubara untuk kepentingan dalam negeri". Secara jelas juga ketentuan ini disebutkan dalam pasal 84 ayat (1) PP 23/2010 bahwa "Pemegang IUP Operasi Produksi dan IUPK Operasi Produksi harus mengutamakan kebutuhan mineral dan/atau batubara untuk kepentingan dalam negeri". Untuk perusahaan PKP2B, kewajiban ini bahkan dinyatakan di dalam perjanjian PKP2B tersebut, bahwa PKP2B bisa ekspor setelah kebutuhan domestik terpenuhi.

Selanjutnya dalam Peraturan Menteri (Permen) 34/2009 tentang Pengutamaan Pemasokan Kebutuhan Mineral dan Batubara Untuk Kepentingan Dalam Negeri, pasal 2 (1) disebutkan tentang kewajiban Badan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara untuk mengutamakan pemasokan kebutuhan mineral dan batubara untuk kepentingan dalam negeri, serta pengaturan pelaksanaan kewajiban (Bab V dan Bab VI), pengawasan dan sangsi atas pelaksanaan pengutamaan pemasokan kebutuhan mineral dan batubara untuk kepentingan dalam negeri (Bab VII dan Bab VIII).

Berdasarkan Permen 34/2009 tentang Pengutamaan Pemasokan Kebutuhan Mineral dan Batubara Untuk Kepentingan Dalam Negeri, pelaku yang terlibat dalam kebijakan tersebut adalah Pemerintah, Badan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara (Produsen), serta Pemakai Mineral dan Batubara (Konsumen, end user).

Sumber : DPPMB (2010)

Gambar 5.4 Diagram Alur Penetapan Domestic Market Obligation (DMO)

Sebagaimana yang telah diatur dalam kebijakan DMO, berdasarkan masukan dari pengguna (end user), kebutuhan batubara domestik tahun 2012 ditetapkan sebesar 82,07 juta ton, atau meningkat 3,93% dari tahun 2011 yang ditetapkan sebesar 78,97 juta ton (direvisi menjadi 60,15 juta ton).

Untuk tahun 2011, konsumen batubara DMO didominasi oleh PLTU yang mencapai 83,94%. Besarnya alokasi pasokan untuk PLTU tersebut diperuntukkan PLTU milik PT PLN sebesar 55,82 juta ton dan PLTU Swasta (IPP) sebesar 8,97 juta ton serta PLTU perusahaan tambang sebesar 1,56 juta ton (Tabel 5.1). Sedangkan dari sisi produsen, dari sebanyak 42 PKP2B, 1 BUMN, dan 10 KP direncanakan total produksi 326,65 juta ton. Sehingga kalau dihitung, maka persentase minimal penjualan batubara untuk tahun 2011 sebesar 24,18% (direvisi menjadi 18,41%). Persentase inilah yang menjadi kewajiban perusahasaan batubara untuk mengalokasikan produksinya untuk kepentingan dalam negeri (DMO).

Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil survei hingga kuartal IV (22 Desember 2011) Tahun 2011, terdapat perbedaan antara target dan realisasi DMO batubara, baik dari sisi pemasok (produsen) maupun sisi konsumen (PT PLN) (Tabel 5.2 dan 5.3). Capaian realisasi terhadap target hingga kuartal IV dari sisi pemasok dan konsumen berturut-turut adalah 68,71% dan 85,36%. Perbedaan realisasi ini mengindikasikan pasokan batubara khususnya untuk PLTU PT PLN sebagian dipasok

MENTERI

DIREKTUR JENDERAL

PRODUSEN RKAB Dirjen Mengusulkan yg terdiri dari :

1.Persentase Minimal Penjualan Mineral atau Persentase Minimal Penjualan Batubara

2.Perkiraan Kebutuhan Mineral dan Batubara :

• Daftar pemakai mineral dan pemakai batubara

• Volume

• Spesifikasi kebutuhannya Memuat :

1. Rencana produksi jangka waktu 5 tahun.

2. Dilampirkan perjanjian jual beli

END USER

Dirjen sebagai Pelaksanaan, Perencanaan, dan Penyiapan untuk (1) satu tahun kedepan Menteri menetapkan :

1.Persentase Minimal Penjualan Mineral atau Persentase Minimal Penjualan Batubara

2.Perkiraan Kebutuhan Mineral dan Batubara :

• Daftar pemakai mineral dan pemakai batubara

• Volume

• Spesifikasi kebutuhannya

Perkiraan pengutamaan pemasokan kebutuhan mineral dan batubara dalam negeri untuk 1 (satu) tahun kedepan

oleh perusahaan tambang batubara milik PT PLN dan KP atau trader yang tidak termasuk perusahaan yang diwajibkan DMO. Di sisi produsen, batubara yang dialokasikan untuk DMO, namun kenyataannya diekspor ke luar negeri.

Data persentase realisasi menunjukkan pasokan batubara ke PLTU-PLTU yang dikelola PT. PLN tidak berjalan sesuai dengan yang diinginkan, sedangkan pasokan batubara ke PLTU swasta lebih terjamin, yaitu masing-masing adalah 34,03 juta ton (91,97%) dan 10,39 ton (115,83%).

Tabel 5.1 Kebutuhan batubara domestik tahun 2011 dan 2012

(sesuai Keputusan Menteri ESDM No. 1991 K/30/MEM/2011)

Sumber : DPPMB, 2012

Berdasarkan pengamatan langsung di lapangan, umumnya PLTU Swasta dipasok oleh PKP2B, dengan jumlah stok batubara cukup, juga ditambah stok cadangan (dead stock) yang lebih besar lagi. Sementara itu, kebutuhan batubara untuk PLTU PT. PLN yang jumlahnya banyak dan tersebar, di samping dipasok oleh produsen yang terdaftar dalam DMO, juga dipasok oleh perusahaan tambang batubara (anak perusahaan PT PLN) dan KP/IUP serta trader batubara, yang tidak masuk dalam daftar perusahaan yang terkena DMO. Namun permasalahan khususnya di PLTU belum terselesaikan.

JUTA TON % JUTA TON %

I

PLN 55,82 70,69 57,20 69,70 4.000 - 5.200

IPP 8,97 11,36 10,76 13,11 4.000 - 5.200

PT FREEPORT INDONESIA 0,83 1,05 0,83 1,01 5.650 - 6.150 PT NEWMONT NUSA TENGGARA 0,47 0,60 0,54 0,66 5.200 PT PUSAKA JAYA PALU POWER 0,19 0,24 0,19 0,23 5.000

II METALURGI

PT INCO 0,14 0,17 0,14 0,16 5,900

PT ANTAM 0,20 0,25 0,19 0,23 ≥ 6.000

III

SEMEN 8,86 11,22 8,40 10,24 4.100 - 6.300

TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL *) 1,97 2,49 1,93 2,35 5.000 - 6.500

PUPUK 0,92 1,16 1,30 1,58 4.000 - 5.000

PULP 0,60 0,76 0,60 0,73 4.500 - 5.500

78,97 100,0 82,07 100,0

PERUSAHAAN 2011 2012 GCV (GAR)

PLTU

SEMEN, PUPUK,PULP DAN TEKSTIL

TOTAL NO

Tabel 5.2 Realisasi Alokasi DMO Batubara per Perusahaan Tahun 2011 (Revisi KepMen)

Rencana Realisasi Selisih Rencana Realisasi Selisih Rencana Realisasi Selisih Rencana Realisasi Selisih

1 Adaro Indonesia, PT 50.000.000 2.301.762 2.405.136 (103.374) 4.603.524 5.151.938 (548.414) 6.905.285 7.762.593 (857.308) 9.207.047 10.613.597- (1.406.550) Pemenuhan Sendiri 2 Antang Gunung Meratus, PT 3.000.000 138.106 - 138.106 276.212 - 276.212 414.317 - 414.317 552.423 -- 552.423 Verifikasi Surveyor 3 Arutmin Indonesia, PT 31.550.000 1.452.412 1.086.139 366.273 2.904.824 2.119.108 785.715 4.357.235 3.020.476 1.336.760 5.809.647 4.027.586- 1.782.061 Pemenuhan Sendiri (+) 4 Asmin Koalindo Tuhup, PT 2.111.169 97.188 - 97.188 194.377 - 194.377 291.565 3.504 288.061 388.753 8.137- 380.616

5 Bahari Cakrawala Sebuku, PT 1.847.000 85.027 - 85.027 170.054 - 170.054 255.081 - 255.081 340.108 -- 340.108 Transfer Kuota 6 Bangun Banua Persada Kalimantan, PT 685.000 31.534 - 31.534 63.069 - 63.069 94.603 - 94.603 126.137 -- 126.137 Verifikasi Surveyor 7 Baramarta, PD 4.000.000 184.141 - 184.141 368.282 - 368.282 552.423 - 552.423 736.564 -- 736.564 Verifikasi Surveyor 8 Berau Coal, PT 19.872.100 914.817 1.268.529 (353.712) 1.829.634 1.495.647 333.987 2.744.450 1.835.732 908.719 3.659.267 2.468.013- 1.191.254 Pemenuhan Sendiri 9 Borneo Indobara, PT 1.583.000 72.874 - 72.874 145.748 45.290 100.458 218.621 45.290 173.332 291.495 45.290- 246.205 Proses Transfer Kuota 10 Batualam Selaras, PT 500.000 23.018 - 23.018 46.035 - 46.035 69.053 - 69.053 92.070 -- 92.070

11 Bukit Asam (Tanjung Enim), PT 13.000.000 598.458 2.116.238 (1.517.780) 1.196.916 4.061.170 (2.864.254) 1.795.374 6.457.300 (4.661.926) 2.393.832 8.519.619- (6.125.787) Pemenuhan Sendiri (+++) 12 Firman Ketaun Perkasa, PT 750.000 34.527 - 34.527 69.053 - 69.053 103.580 - 103.580 138.106 -- 138.106 Rencana Transfer Kuota 13 Gunungbayan Pratamacoal, PT 4.037.771 185.880 - 185.880 371.760 - 371.760 557.639 - 557.639 743.519 -- 743.519 Rencana Transfer Kuota 14 Indominco Mandiri, PT 13.780.000 634.366 64.080 570.286 1.268.731 371.806 896.925 1.903.097 959.216 943.881 2.537.462 1.737.624- 799.838 Pemenuhan Sendiri (-) 15 Insani Baraperkasa, PT 3.350.000 154.218 72.750 81.468 308.436 161.540 146.896 462.654 250.628 212.026 616.872 322.721- 294.151 Pemenuhan Sendiri (-) 16 Interex Sacra Raya, PT 110.499 5.087 - 5.087 10.174 - 10.174 15.260 - 15.260 20.347 -- 20.347

17 Intitirta Primasakti, PT 350.000 16.112 - 16.112 32.225 - 32.225 48.337 - 48.337 64.449 -- 64.449

18 Jorong Barutama Greston, PT 2.030.000 93.452 89.349 4.103 186.903 141.563 45.340 280.355 221.764 58.590 373.806 311.776- 62.030 Pemenuhan Sendiri (-) 19 Kadya Caraka Mulia, PT 348.000 16.020 - 16.020 32.041 - 32.041 48.061 - 48.061 64.081 -- 64.081 Verifikasi Surveyor 20 Kalimantan Energi Lestari, PT 60.000 2.762 - 2.762 5.524 - 5.524 8.286 - 8.286 11.048 -- 11.048

21 Kaltim Prima Coal, PT 55.595.000 2.559.329 1.093.407 1.465.922 5.118.658 2.604.722 2.513.936 7.677.986 3.980.097 3.697.889 10.237.315 5.482.341- 4.754.974 Pemenuhan Sendiri & Proses Transfer Kuota 22 Kideco Jaya Agung, PT 32.000.000 1.473.128 1.472.010 1.118 2.946.255 3.507.354 (561.099) 4.419.383 5.223.759 (804.377) 5.892.510 7.041.454- (1.148.944) Pemenuhan Sendiri 23 Kartika Selabumi Mining, PT 1.500.000 69.053 - 69.053 138.106 - 138.106 207.158 - 207.158 276.211 -- 276.211

24 Lanna Harita Indonesia, PT 1.700.000 78.260 19.576 58.684 156.520 34.663 121.857 234.780 44.629 190.151 313.040 44.629- 268.411 Proses Transfer Kuota 25 Mahakam Sumber Jaya, PT 6.500.000 299.229 23.548 275.681 598.458 58.282 540.176 897.687 70.668 827.019 1.196.916 78.873- 1.118.043 Proses Transfer Kuota 26 Mandiri Inti Perkasa, PT 4.950.000 227.875 - 227.875 455.749 - 455.749 683.624 - 683.624 911.498 -- 911.498

27 Multi Harapan Utama, PT 2.401.104 110.536 - 110.536 221.071 - 221.071 331.607 - 331.607 442.142 -- 442.142 28 Mantimin Coal Mining, PT 1.045.000 48.107 - 48.107 96.214 - 96.214 144.320 - 144.320 192.427 -- 192.427 29 Marunda Graha Mineral, PT 2.000.000 92.071 - 92.071 184.141 - 184.141 276.212 - 276.212 368.282 12.968- 355.314

30 Perkasa Inakakerta, PT 2.900.000 133.502 - 133.502 267.005 - 267.005 400.507 - 400.507 534.009 -- 534.009 Rencana Transfer Kuota 31 Nusantara Thermal Coal, PT 1.520.000 69.974 - 69.974 139.947 - 139.947 209.921 - 209.921 279.894 114.242- 165.652 Verifikasi Surveyor 32 Riau Bara Harum, PT 2.500.000 115.088 - 115.088 230.176 - 230.176 345.264 - 345.264 460.352 -- 460.352 Transfer Kuota 33 Sumber Kurnia Buana, PT 2.000.000 92.071 - 92.071 184.141 - 184.141 276.212 - 276.212 368.282 -- 368.282

34 Senamas Energindo Mulia, PT 83.300 3.835 - 3.835 7.670 - 7.670 11.504 - 11.504 15.339 -- 15.339

35 Tanito Harum, PT 4.450.000 204.857 7.814 197.043 409.714 7.814 401.900 614.570 7.814 606.756 819.427 7.814- 811.613 Proses Transfer Kuota 36 Tanjung Alam Jaya, PT 422.791 19.463 - 19.463 38.927 - 38.927 58.390 - 58.390 77.853 -- 77.853 Verifikasi Surveyor 37 Trubaindo Coal Mining, PT 6.304.740 290.240 - 290.240 580.481 15.430 565.050 870.721 30.888 839.833 1.160.961 30.888- 1.130.073 Rencana Transfer Kuota 38 Teguh Sinar Abadi, PT 1.400.000 64.449 - 64.449 128.899 - 128.899 193.348 - 193.348 257.797 -- 257.797 Rencana Transfer Kuota 39 Wahana Baratama Mining, PT 8.200.000 377.489 - 377.489 754.978 - 754.978 1.132.467 - 1.132.467 1.509.956 -- 1.509.956 Rencana Transfer Kuota 40 Singlurus Pratama, PT 3.000.500 138.129 - 138.129 276.258 - 276.258 414.386 - 414.386 552.515 -- 552.515 Transfer Kuota 41 Multi Tambangjaya Utama, PT 1.200.000 55.242 - 55.242 110.485 - 110.485 165.727 - 165.727 220.969 -- 220.969 Transfer Kuota 42 Santan Batubara, PT 2.000.000 92.071 - 92.071 184.141 - 184.141 276.212 - 276.212 368.282 -- 368.282

43 Pesona Khatulistiwa Nusantara, PT 2.515.000 115.779 - 115.779 231.557 - 231.557 347.336 - 347.336 463.114 -- 463.114

44 Jembayan Muarabara, PT 3.000.000 138.106 19.158 118.948 276.212 65.096 211.116 414.317 122.555 291.762 552.423 172.342- 380.081

45 Kemilau Rindang Abadi, PT 3.000.000 138.106 97.259 40.847 276.212 123.496 152.715 414.317 147.737 266.581 552.423 199.957- 352.466

46 Arzara Baraindo, PT 3.000.000 138.106 10.133 127.972 276.212 28.782 247.429 414.317 70.463 343.854 552.423 88.356- 464.067

47 Multi Sarana Avindo, PT 3.000.000 138.106 - 138.106 276.212 - 276.212 414.317 - 414.317 552.423 -- 552.423

48 Bukit Baiduri Energi, PT 2.500.000 115.088 - 115.088 230.176 - 230.176 345.264 - 345.264 460.352 -- 460.352

49 Kaltim Batumanunggal, PT 2.000.000 92.071 - 92.071 184.141 - 184.141 276.212 - 276.212 368.282 -- 368.282

50 Adimitra Baratama Nusantara, PT 3.000.000 138.106 - 138.106 276.212 - 276.212 414.317 - 414.317 552.423 -- 552.423

51 Lamindo Inter Multikon, PT 3.000.000 138.106 - 138.106 276.212 - 276.212 414.317 - 414.317 552.423 -- 552.423

52 Pipit Mutiara Jaya, PT 2.000.000 92.071 - 92.071 184.141 - 184.141 276.212 - 276.212 368.282 -- 368.282

53 Lembuswana, PT 3.000.000 138.106 - 138.106 276.212 - 276.212 414.317 - 414.317 552.423 -- 552.423

326.651.974

15.037.500 9.845.125 5.192.375 30.075.001 19.993.702 10.081.299 45.112.501 30.255.110 14.857.390 60.150.001 41.328.225 18.821.776 s/d Triwulan III

REALISASI DMO PKP2B 2011 (Ton) REALISASI DMO PKP2B 2011 (Ton)

s/d Triwulan IV s/d Triwulan II PERUSAHAAN RENCANA PRODUKSI 2011 Keterangan J U M L A H s/d Triwulan I NO

Tabel 5.3 Realisasi Konsumsi Batubara DMO End User 2011 Sumber : DPPMB, 2012 PLTU 47,46 78,90% 11,87 0,000 PT PLN (Persero), PLTGB, PLTGBB 37,00 61,51% 9,25 2,860 2,968 3,778 3,874 3,276 3,43 0,46 2,44 2,67 2,94 2,85 2,49 34,032 IPP 8,97 14,91% 2,24 0,902 0,854 0,906 0,882 1,213 0,88 0,95 1,52 1,76 0,19 0,15 0,19 10,394 PT Freeport Indonesia 0,83 1,38% 0,21 0,097 0,055 0,101 0,253 PT Newmont Nusa Tenggara 0,47 0,78% 0,12 0,050 0,039 0,042 0,041 0,027 0,03 0,03 0,03 0,04 0,04 0,04 0,04 0,440 PT Pusaka Jaya Palu

Power 0,19 0,32% 0,05 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 Metalurgi 0,34 0,57% 0,09 0,000 PT INCO 0,14 0,23% 0,04 0,014 0,014 0,009 0,0128 0,0137 0,0129 0,0119 0,0137 0,0137 0,0076 0,0070 0,0063 0,136 PT ANTAM Tbk 0,20 0,33% 0,05 0,008 0,022 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,030 0,000 Semen, Tekstil,

Pupuk, & Pulp 12,35 20,53% 3,09 0,000

Semen 8,86 14,73% 2,22 0,539 0,546 0,512 0,411 0,471 0,684 0,415 0,474 0,562 0,528 0,326 0,403 5,873 Tekstile 1,97 3,28% 0,49 0,027 0,024 0,025 0,001 0,001 0,016 0,016 0,016 0,016 0,016 0,016 0,016 0,189 Pulp 0,60 1,00% 0,15 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 Pupuk 0,92 1,53% 0,23 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 Total 60,15 100,00% 15,04 4,50 4,52 5,37 5,222 5,003 5,055 1,88 4,49 5,06 3,72 3,39 3,14 51,347 1 3 Jan Mar 2

Sep Okt Nov Des Total (juta ton) Apr May Jun Jul Ags

Feb No End User Plan 2011

Permasalahan PLTU PT PLN antara lain pasokan tidak lancar dan spesifikasi yang tidak sesuai, yang berdampak operasional PLTU tidak optimal dan ujung-ujungnya pemadaman bergilir. Seperti halnya ditemui di PLTU Sektor Ombilin yang terletak di mulut tambang batubara, namun terkadang menurunkan produksi listrik sebagai akibat stok batubara yang menipis, karena pasokan dari KP lokal terbatas dan kesulitan mendapatkan pasokan batubara dari luar (Provinsi Jambi), karena pemasok membatasi kontrak pasokan dengan alasan mempunyai kontak dengan pihak luar negeri (ekspor), bahkan pemasok yang sudah terkait kontrak kerap melakukan pelanggaran terhadap spesifikasi dan jadwal pengiriman yang disepakati.

Seperti halnya ditemui di PLTU "mulut tambang" Ombilin (Sawahlunto-Sumatera Barat) yang semula dirancang dengan menggunakan batubara UPT Ombilin-PTBA, yang sekarang sudah tidak berproduksi, kesulitan mendapatkan pemasok yang mempunyai spesifikasi kualitas tingggi dan jumlah yang dibutuhkan, baik dari KP lokal maupun dari Provinsi Jambi.

Lain halnya di Kalimantan Selatan, bukan semata-mata kurang optimalnya pasokan batubara, tetapi pemadaman bergilir dikarenakan produksi listrik dari pembangkit yang ada relatif kurang pada waktu-waktu pemakaian puncak (peak session). Di sisi lain, PLTU-PLTU yang sangat tergantung oleh satu pemasok, menjadikan PT. PLN berada pada posisi yang lemah dalam kesepakatan harga jual-beli (PLTU Asam-Asam, PLTU Bukit Asam, PLTU Tarahan). Terutama PLTU Asam-Asam di Kalimantan Selatan, di samping terkendala dengan pemasok mulut tambang (PT. Arutmin Indonesia), juga akan terkendala oleh perda yang melarang penggunaan jalan umum untuk pengangkutan batubara dari pemasok lain (bukan mulut tambang).

Sarana dan prasarana di beberapa PLTU ada kendala antara lain dermaga dan alat bongkar (grab) mak 8.000 dwt, padahal kapasitas tongkang hingga 12 ribu ton, sehingga kalaupun dipaksakan, maka proses pembongkaran batubara tidak optimal karena tongkang tersebut harus berbalik arah setelah sebelah sisi muatan batubara dibongkar (PLTU Labuan Angin). Pada kondisi tertentu terjadi antrian tongkang yang mau membongkar batubara. Ada konsekuensi yang harus ditanggung pihak PT. PLN, yaitu membayar biaya tambat atau membongkar dan menyimpan di stockpile di

dermaga pihak lain (Dermaga Cigading dan Dermaga Merak Mas - PT. Indah Kiat), kemudian diangkut dan dibawa/dipindahkan ke stockpile di area PLTU (PLTU Suralaya). Permasalahan terkait dengan penerapan kebijakan DMO, menurut pengamatan survei, jumlah kebutuhan batubara untuk domestik lebih besar dari jumlah kebutuhan batubara DMO, mengingat banyak Industri Kecil-Menengah (IKM) yang tidak tercover oleh kebijakan DMO saat ini. Seperti industri tekstil kebutuhannya lebih besar yaitu 4,9 juta karena lebih banyak perusahaan yang mengadakan batubara secara langsung ke pemasok diluar perusahaan atau trader yang terdaftar dalam kebijakan wajib DMO. Demikian pula Industri semen, seperti PT Semen Baturaja, kebutuhan bahan bakar batubara untuk proses produksinya mengandalkan pemasok dari KP/IUP dari wilayah Kabupaten Muara Enim dan Kabupaten Lahat.

Foto 5.1 Lokasi Tambang dan Stockpile Batubara PT BA dan PLTU "batubara" Bukit Asam, Tanjung Enim

Dokumen terkait